Tag: Berita Utama

  • Pemkot Yogyakarta Gencarkan Vaksinasi di Gereja Katolik

    peloporberita.com/ | Jakarta – Pemerintahan Kota (Pemkot) Yogyakarta terus melakukan tindakan preventif untuk mencegah kenaikan kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggencarkan sosialisasi protokol kesehatan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

    Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, salah satu cara sosialisasi protokol kesehatan (prokes) tersebut dengan menggunakan kendaraan roda empat yang sudah disediakan dan berputar di arah kota, untuk mengingatkan warga mengimplementasikan prokes.

    Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga terus menggencarkan vaksinasi, dan kali ini yang menjadi sasaran adalah pengurus pastoral Gereja Katolik yang ada di Kota Yogyakarta, dengan total 1215 peserta.

    “Melalui sentra tersebut nanti warga bisa langsung datang, didaftarkan di situ juga dan langsung divaksin saat itu juga sepanjang sesuai persyaratan.”

    “Pemkot melalui Satgas penanganan Covid-19 tidak henti-hentinya mempromosikan vaksin sehingga masyarakat siap untuk divaksin, khususnya bagi mereka yang masuk di usia pra-lansia dan lansia,” kata Haryadi saat meninjau vaksinasi di Gembira Loka Zoo (GL Zoo), Jumat, (18/6/2021).

    Ia mengapresiasi GL Zoo karena telah menyediakan tempat, dan berpesan agar metode kerja sama vaksinasi antar instansi atau institusi, baik pemerintah maupun BUMN atau swasta seperti GL Zoo, juga dapat diterapkan di tempat lain.

    “Ini adalah contoh kerja sama yang baik. Jadi kalau ada yang berinisiatif seperti ini, mau menyediakan tempat, silahkan bilang ke Pemkot Yogyakarta. Kita siap datang bawa vaksin dan petugas, syukur-syukur kalau vaksinatornya juga disediakan,” katanya.

    Hingga saat ini, sudah ada 32 fasilitas layanan kesehatan di Kota Yogyakarta yang melayani vaksinasi Covid-19, seperti puskesmas, rumah sakit dan klinik.

    Wali Kota menegaskan, Pemkot Yogyakarta akan terus menambah fasilitas layanan kesehatan untuk melayani vaksinasi Covid-19.



    Pemkot Yogya juga berencana membentuk sentra vaksin di berbagai lokasi, untuk mendukung percepatan vaksinasi yang menyasar masyarakat umum, salah satunya akan didirikan di kompleks Balaikota Yogya. 

    “Beberapa lokasi juga kita siapkan seperti di Lippo Mal serta lokasi lain. Kalau nanti segala sesuatunya sudah siap akan langsung kita sosialisasikan,” katanya.

    Keberadaan sentra vaksin adalah untuk memudahkan dan mempercepat teknis vaksinasi bagi masyarakat, sehingga warga tidak perlu bingung dalam menghadapi pendataan pra vaksin.

    “Melalui sentra tersebut nanti warga bisa langsung datang, didaftarkan di situ juga dan langsung divaksin saat itu juga sepanjang sesuai persyaratan. Itu upaya kita agar ada percepatan,” kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti. []

  • Pemkot Yogyakarta Luncurkan Jogja Smart Service (JSS) Versi 3

    Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta terus berkomitmen mewujudkan Yogyakarta sebagai Smart City. Salah satu upaya yang dilakukan adalah serius mengembangkan aplikasi milik Pemkot Yogyakarta, yaitu Jogja Smart Service (JSS), yang hingga kini sudah memasuki versi 3. 

    Selain tampilan lebih menarik, jumlah layanan dalam JSS versi 3 juga semakin banyak. Bahkan, mampu merepresentasikan balaikota di dunia maya.

    Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta Tri Hastono menjelaskan, JSS adalah aplikasi layanan publik terpadu terintegrasi yang awalnya berbasis website dan Android, namun kini sudah dapat diunduh melalui sistem operasi iOS pada perangkat Apple.

    “Sampai saat ini total fitur yang dapat diakses mencapai 172, dari semula release versi 1 yang dilaunching pada tanggal 7 Juni 2018 lalu hanya memiliki 28 fitur layanan,” kata Tri Hastono saat launching JSS versi 3 di Taman Wifi Gajah Wong Edupark RW 08 Pandeyan Umbulharjo, Rabu (16/6/2021).

    Dalam JSS versi 3 juga terdapat fitur menarik seperti, update berita terakhir di masyarakat, Pariwisata dan Budaya sebagai media promosi pariwisata dan acara menarik di Kota Yogyakarta, serta Kampung Wisata, untuk mengekspos potensi kampung wisata.

    Selain itu ada juga produk Jogja sebagai media promosi keunggulan UKM Kota Yogyakarta, kemudian update informasi mengenai kegiatan Pemkot Yogyakarta, dan yang terakhir adalah pengaduan, yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan hal-hal atau kejadian yang wajib ditanggapi oleh OPD Pemkot Yogyakarta.

    Tri Hastono optimis aplikasi JSS dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif, efisien, akuntabel, dan praktis kepada masyarakat.

    “Selain itu dengan adanya aplikasi ini juga akan memberikan keamanan kepada masyarakat karena dapat meminimalisir adanya tatap muka sehubungan dengan pandemi Covid-19, namun dengan tetap memberikan pelayanan prima serta memberikan solusi yang memecahkan masalah bagi masyarakat,” katanya.

    Selain meluncurkan tampilan baru JSS, Pemkot Yogyakarta juga meluncurkan gerakan penguatan ekosistem digital berbasis wilayah. Keberadaan JSS dan wifi publik diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekosistem digital di tiap perkampungan di Kota Yogyakarta.

    Untuk mengupayakan hal tersebut, Pemkot Yogyakarta secara simultan terus melakukan pelatihan ekosistem digital di tiap kampung. “Keberadaan wifi publik ini harus mampu diberdayakan secara produktif. Target kami, tiap RW yang kini berjumlah 617 RW dapat terlayani wifi publik, sampai saat ini sudah 501 titik wifi publik yang tersebar di seluruh penjuru Kota Yogya” kata Tri.

    Tri Hastono menjelaskan, aktivitas yang bisa digunakan dengan layanan wifi publik tersebut, antara lain pembelajaran jarak jauh, pengembangan usaha dengan konsep digital marketing, dan edukasi teknik pengemasan video foto untuk promosi produk. Selain itu juga dapat untuk pengembangan ekosistem digital berbasis kewilayahan, yang dibangun dengan cara melakukan edukasi penggunaan gawai secara sehat, dan memanfaatkannya dalam rangka pemulihan ekonomi di masa pandemi.

    Hal ini disambut baik oleh Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti, yang menilai dengan adanya momentum tersebut tak hanya menjadi bukti keseriusan Pemkot Yogyakarta memberikan pelayanan terbaik, namun juga menjadi milestone telah melangkah lebih jauh dari sebelumnya, khususnya dalam hal pemanfaatan teknologi informasi untuk pelayanan kepada masyarakat.

    Ia juga mengungkapkan upaya tersebut mampu mendukung Gerakan Menuju 100 Smart City, mempercepat dan meningkatkan pelayanan publik.

    “Dan juga dapat mengoptimalkan pemanfaatan wifi publik untuk aktivitas kreatif masyarakat, mendukung akseptasi layanan digital di masyarakat, serta dapat mendukung pemulihan ekonomi, terutama selama Pandemi Covid-19 ini,” katanya. []

  • Pemprov Banten Sambut Kapal Baru Basarnas KN SAR 247 Tetuka

    peloporberita.com/ | Pemerintah Provinsi Banten menyambut positif Badan SAR Nasional (Basarnas), atas Peresmian Kapal Negara (KN) SAR 247 Tetuka di wilayah perairan Banten. 

    “Bencana dan musibah tentu tidak kita harapkan, namun kehadiran KN SAR 247 Tetuka, saya yakini akan mengoptimalkan operasi kemanusiaan dalam pencarian dan pertolongan khususnya di wilayah perairan Banten,” kata Asisten Daerah Pemerintahan dan Kesra Pemprov Banten Septo Kalnadi, yang membacakan sambutan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy di Pelabuhan Peti Kemas, PT Indah Kiat, Merak, Kota Cilegon, Senin (14/06/2021). 

    Kapal baru bernama KN SAR Tetuka itu diresmikan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi, dan dihadiri anggota DPR RI Dapil Banten TB Haerul Jaman, Ketua DPRD Kota Cilegon Isro Mir’aj, Sekda Kota Cilegon Maman Maulidin, dan sejumlah pejabat lainnya.

    Septo menyebutkan, luas perairan di wilayah Provinsi Banten mencapai 11.486,72 km2 atau 54 persen dari total luas wilayah, dan meliputi 61 pulau. Provinsi Banten memiliki garis pantai sepanjang mencapai 499,62 km yang terbentang mulai dari Kabupaten Tangerang hingga Kabupaten Lebak. 

    Berdasarkan data-data itu, Pemerintah Provinsi Banten berharap kehadiran KN SAR 247 Tetuka dapat menjangkau seluruh wilayah perairan di Provinsi Banten, terutama dalam hal pelayanan pencarian dan pertolongan. 

    “Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terima kasih kepada BASARNAS selalu berupaya untuk meningkatkan kemampuan operasional dalam penyelenggaraan operasi SAR dengan sarana Kapal Negara SAR yang dimiliki disetiap Kantor SAR khususnya di wilayah Provinsi Banten,” kata Septo.

    Acara pemotongan pita Pemprov Banten dan Basarnas Banten. (Foto: Pelopor/Pemprov Banten)

    Dalam kesempatan itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi menjelaskan, kapal yang dibeli melalui kontrak tahun 2020 ini dilengkapi dengan ruang perawatan dan sonar yang mampu menjangkau hingga kedalaman 300 meter.

    Kapal buatan PT Palindo Marine dari Batam ini juga memiliki kecepatan 29 not, mampu memberikan pertolongan pemadaman kebakaran apabila terjadi kebakaran kapal, dan semua menggunakan peralatan yang terkini.

    “Semuanya digital dan memudahkan juga untuk mencari, menemukan korban musibah. Dengan cukup memberikan data koordinat di permukaan laut, kita bisa langsung mengarahkan kapal menuju ke sana. Tentu banyak lagi di dalamnya, ada perlengkapan penyelaman. Kalau Anda lihat di belakang sini, ada kapal speed boatnya untuk memberikan pengevakuasian orang yang terjatuh di kapal,” papar Henri.

    Henri berharap, dengan disiapkannya alat ini, Basarnas Banten semakin siap dan optimis dalam memberikan bantuan pertolongan dan pencarian di Provinsi Banten, khususnya jika terjadi musibah di atas permukaan air.

    Basarnas Banten mendapatkan tambahan fasilitas kapal pertolongan dan pencarian senilai Rp 50 miliar. Kapal tersebut mampu menampung 50 korban dengan jumlah Anak Buah Kapal (ABK) sebanyak 15 orang. []

  • Kapolri Ingin Kampung Tangguh Narkoba Ada di Seluruh Indonesia

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, memerintahkan seluruh Kapolda untuk membentuk Kampung Tangguh Narkoba di seluruh Indonesia.

    “Saya minta untuk Kampung Tangguh Narkoba diciptakan di seluruh Indonesia untuk menekan peredaran narkoba,” tutur Kapolri berdasarkan keterangan resmi Senin, 14 Juni 2021.

    Kapolri menjelaskan, Kampung Tangguh Narkoba dibentuk oleh jajaran Kepolisian dengan menggandeng Pemerintah Daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat serta stekholder terkait. Kapolri berharap setiap Kampung Tangguh Narkoba memiliki daya cegah dan daya tangkal terhadap ancaman narkoba.

    Berantas Peredaran Narkoba di Indonesia, Kapolri Instruksikan Polda Jajaran Bentuk Kampung Tangguh Narkoba

    “Terhadap peredaran yang ada segera bisa diinformasikan sehingga kemudian kita bisa tangkap, dengan harapan itu maka kita memiliki daya cegah dan daya tangkal,” ungkapnya.

    Kapolri juga menyerukan kepada anggota untuk perang melawan narkoba dan menuntaskan permasalahan narkoba dari mulai hulu sampai hilir. Mantan Kapolda Banten itu, menekankan perlunya membangun kerja sama dengan seluruh stakeholder yang ada seperti BNN, Bea Cukai dan Ditjen PAS.

    Saya minta untuk Kampung Tangguh Narkoba diciptakan di seluruh Indonesia untuk menekan peredaran narkoba.

    “Pemberantasan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Kita bisa bekerja maksimal dengan melibatkan seluruh stakeholder yang ada. Narkoba adalah ancaman kita bersama. Maka kita harus melenyapkan narkoba dari Indonesia. Ini butuh kerja keras serta kerjasama dari seluruh elemen, stakeholder dan masyarakat,” tanda Kapolri. []

  • Polri Ungkap Kasus 1,129 Ton Sabu Jaringan Timur Tengah-Indonesia

    Pelopor | Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo memberikan ucapan selamat kepada seluruh jajaran Polri khususnya Polda Metro Jaya dan Polres Jakarta Pusat yang telah bahu membahu mengungkap jaringan sindikat Timur Tengah-Indonesia dengan barang bukti yang fantastis yakni narkotika Jenis Sabu 1,129 Ton.

    Menurut Kapolri, pengungkapan kasus ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam memberantas Transnational Organized Crime (TOC). Sebelumnya, Polri juga telah berhasil mengungkap jaringan serupa yaitu dari Timur Tengah, sejak Januari hingga April 2021 dengan barang bukti seberat 2,5 ton sabu.

    Dalam konferensi pers Senin, 14 Juni 2021 Kapolri menjelaskan bahwa seluruh barang bukti yang digelar ini diperoleh dari empat TKP yang berbeda. Adapun rangkaian pengungkapan ini dilaksanakan sepanjang bulan Mei-Juni 2021.

    Polri Kasus Sabu
    Polri Ungkap Kasus 1,129 Ton Sabu Jaringan Timur Tengah-Indonesia. (Foto: Pelopor/BNN)

    Di TKP pertama yaitu di Gunung Sindur Bogor, petugas menyita barang bukti sabu seberat 393 kg dari tersangka berinisial NR dan HA. TKP kedua yaitu di Ruko Pasar Modern Bekasi, petugas menyita sabu seberat 511 kg dari tersangka berinisial NW, CSN (WNA Nigeria), dan UCN (WNA Nigeria).

    Sedangkan di TKP ketiga, yaitu di Apartemen Basura, petugas menyita sabu seberat 50 kg dari tersangka berinisial AK. Di TKP keempat, yaitu di Apartemen Green Pramuka, petugas menyita sabu seberat 175 kg, dengan tersangka H (DPO).

    Dengan penyitaan barang bukti yang sangat besar ini, Kapolri mengatakan prihatin karena di tengah situasi pandemi Covid-19, namun laju peredaran narkoba masih sangat tinggi. Oleh Kapolri menekankan pentingnya peningkatan kerja sama dengan BNN, Bea Cukai dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

    Dalam konteks upaya penanggulangan narkoba, Kapolri juga menggarisbawahi pentingnya pelibatan unsur masyarakat dengan membangun kampung tangguh narkoba.

    Kapolri mengungkapkan, pengungkapan kasus ini bernilai sangat penting, lantaran dengan penyitaan 1,129 ton sabu, Polri telah menyelamatkan sekitar 5,6 juta jiwa dari potensi penyalahgunaan narkoba.

    Sementara itu, Kabareskrim Polri, Agus Andrianto, mengatakan bahwa tingginya angka pengungkapan peredaran narkotika merupakan bukti bahwa jajaran kepolisian telah melaksanakan Instruksi Kapolri untuk terus menindak kejahatan transnational dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa dari penyalahgunaan narkoba. []

  • Polda Banten Luncurkan Vaksinasi Langsung ke Rumah “Go-Vaksin”

    peloporberita.com/ | Serang – Polda Banten meluncurkan program Go-vaksin sebagai layanan vaksinasi langsung ke rumah-rumah (vaksin dijajapekeun ka bumi) bagi warga berusia di atas 50 tahun.

    “Selain itu, layanan jemput bola ini juga diperuntukkan bagi mereka yang berprofesi pendidik dan yang bekerja di pelayanan publik. Mereka boleh aktif meminta vaksinasi lewat nomor telepon gratis 110,” tutur Kapolda Banten, Irjen Pol. Rudy Heriyanto Adi Nugroho dalam sosialisasi melalui media mulai hari Minggu (13/6/21).

    Vaksinasi bertujuan untuk membangkitkan imun (kekebalan) tubuh, membentuk “herd imunity” (kekebalan kelompok), dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan vaksinasi “jemput bola” ke rumah-rumah, Kapolda Banten berharap target nasional vaksinasi bagi warga dapat tercapai lebih cepat dan kekebalan setiap warga terhadap Covid-19 lebih cepat meningkat.

    Mereka boleh aktif meminta vaksinasi lewat nomor telepon gratis 110.

    Namun, Kapolda mengingatkan kembali masyarakat, meski sudah dua kali vaksinasi tetap harus konsisten menerapkan protokol kesehatan.

    “Tetap harus gunakan masker, rajin cuci tangan, asupan makanan bergizi dan jaga jaga jarak perorangan agar tidak menciptakan kerumunan manusia,” tegas Kapolda.

    Sementara Kabid Humas Kombes Pol. Edy Sumardi Priadinata mengatakan, masyarakat dapat meminta vaksinasi layanan ke rumah melalui telepon gratis nomor 110 yang bisa dimanfaatkan untuk Go Vaksin bagi warga usia di atas 50 tahun, pendidik, dan pekerja di bidang pelayanan publik.

    Dalam memberikan pelayanan vaksinasi tersebut, Polda bekerja sama dengan TNI tenaga kesehatan (nakes) Pemerintah Daerah setempat. Saat ini, Polda Banten sudah menerima sebanyak 129.798 dosis vaksin untuk warga penerima vaksinasi.

    Selain itu, Kabidhumas juga menambahkan, bhabinkamtibmas sebagai tracer terus dikerahkan bekerja sama dengan Babinsa dan Kepala Desa untuk melakukan penelufsuran (tracing) bagi warga yang belum diivaksinasi di daerah tugas masing-masing. []

  • Minta Jokowi Tutup Toba Pulp Lestari, 3 Aktivis Mulai Aksi Jalan Kaki Porsea-Jakarta

    peloporberita.com/ | Jakarta, 14 Juni 2021 – Tiga aktivis lingkungan yaitu Togu Simorangkir, Anita Hutagalung dan Irwandi Sirait, hari ini Senin (14/06/2021) memulai aksi jalan kaki dari Porsea, Sumatera Utara ke Jakarta, untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

    Mereka ingin meminta PT Toba Pulp Lestari Tbk. (TPL) ditutup, karena diduga telah merusak lingkungan dan ekosistem Danau Toba.

    Para aktivis itu akan mulai berjalan kaki dari makam Raja Sisingamangaraja. Mereka dikawal oleh 11 orang dan dua mobil logistik.

    Aktivis lingkungan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memintanya menutup PT Toba Pulp Lestari Tbk. (Foto:Pelopor/Fb Togu Simorangkir)

    Togu Simorangkir memastikan, aksi ini tidak untuk menggalang dana dan diperkirakan akan memakan waktu selama 50-60 hari, dengan asumsi setiap hari berjalan kaki sejauh 40 kilometer.

    Aksi jalan kaki ini berawal dari tragedi di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, pada 18 Mei 2021 lalu, ketika terjadi bentrokan antara masyarakat setempat dengan PT TPL karena masyarakat tidak mau lahan mereka ditanami eucalyptus. Tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, namun puluhan orang disebut mengalami luka-luka.

    PT Toba Pulp Lestari Tbk. sudah berdiri sejak tahun 1989, dengan nama semula PT Inti Indorayon Utama, milik konglomerat Sukanto Tanoto.

    Berdasarkan informasi di Wikipedia, sejak awal keberadaan pabrik pulp (bubur kertas) pertama di Indonesia ini memang sering mendapat protes dari aktivis lingkungan dan masyarakat setempat, karena dianggap telah mencemari daerah tersebut, melakukan deforestasi besar-besaran dan ketidakadilan perampasan tanah. []

    Penulis: Cory

  • This Week in Fiction: Petina Gappah on the Insular World of Boarding School

    Last Wednesday, several hundred people gathered on the third floor of Chicago’s Harold Washington Public Library for the opening of “Working in America,” a multimedia exhibition exploring how Americans find meaning in work and define themselves through their jobs. Twenty-four men and women were profiled for the exhibit, including a waitress, a police officer, a custodian, an escort, and a farmer.

    “This is a tribute to the legacy of Studs”

    A master of oral history, Terkel published a number of as-told-to books, including, in 1974, “Working: People Talk About What They Do All Day and How They Feel About What They Do,” the book that inspired the new exhibit. “Working” featured interviews with more than a hundred workers from all walks of life. The book, Terkel writes in the introduction, is about the search “for daily meaning as well as daily bread, for recognition as well as cash, for astonishment rather than torpor; in short, for a sort of life, rather than a Monday through Friday sort of dying.”

    Welder binding metal

    It became a best-seller—and, a few years later, a musical—thanks, in large part, to the intimacy and depth Terkel elicited from people who are not usually the subject of books.

    One of those people, Gary Bryner, is in the new exhibit, too. “I picked Studs up at the Youngstown airport,” Bryner told me, recounting the time Terkel spent with him for the book. “He didn’t even have a hotel reservation. He said he just wanted to stay in a mom-and-pop place and all he needed was a phone.” This was 1972, and Bryner was president of U.A.W. Local 1112 at the Lordstown, Ohio, General Motors plant, where a twenty-two-day strike had captured national attention.

    “I’d been interviewed by every major magazine and newspaper. I was on ‘60 Minutes.’ But Studs was different”

    Terkel followed Bryner, who’s now in his seventies, for two days. “He had a glint in his eye. He wanted to know how this worked, how that worked. He couldn’t stop.

    Saks sought a wide variety of subjects—some of them she knew of personally, and others she found through research. Roque Sanchez, a twenty-one-year-old custodian featured in the new exhibit, said he had never heard of Terkel before Saks contacted him. A formerly undocumented immigrant from Mexico, Sanchez works at a downtown Chicago office building.

    Woman building a broomstick

    “It’s definitely not the worst job,” he said. “But I like working. It’s essential to make something with my life.” Ava St. Claire, who is in her late twenties, didn’t know Terkel’s work before, either. St. Claire works as an escort in Orlando. “I love my job. It’s the best I’ve ever had,” she said. “I can’t imagine doing anything else.”

    Saks is a lifelong Chicagoan and the president and artistic director of Project&, a Chicago-based arts organization. “I really wanted to do something on economic inequality,” she explained, as she introduced a panel discussion earlier that night, in the library’s Cindy Pritzker Auditorium. “It’s one of the greatest conflicts of our time.” Once she had decided to focus on the subject, she instinctively turned to Terkel. “My dad and Studs were friends,” she told me.

    “As a kid, I’d sit in the back seat as they drove around the city. My dad smoking his pipe and Studs his cigar. They were like a pair from Jewish central casting”

    Saks’s intention with “Working in America” is not to mimic Terkel’s masterpiece, she said, but to continue the conversations he started. “Everyone has a relationship with work,” she added. “Even those who don’t have a job.”

    The exhibit, which will run until January 31st, is free and open to the public, and it includes two additional components: a weeklong radio series that kicks off on September 25th, on NPR’s “Weekend Edition,” and a Web site where people can upload photos and share their own stories.

    Chef preparing a dish
    Chef preparing a dish

    Saks hopes that by the end of January she’ll have raised enough money from private foundations and individual donors to take “Working in America” to libraries throughout the country. Bryner, meanwhile, told me that he was pleased by how things had turned out, and encouraged by the attention. “I thought it was interesting people still cared,” he said.

  • Carla Hayden Takes Charge of the World’s Largest Library

    Last Wednesday, several hundred people gathered on the third floor of Chicago’s Harold Washington Public Library for the opening of “Working in America,” a multimedia exhibition exploring how Americans find meaning in work and define themselves through their jobs. Twenty-four men and women were profiled for the exhibit, including a waitress, a police officer, a custodian, an escort, and a farmer.

    “This is a tribute to the legacy of Studs”

    A master of oral history, Terkel published a number of as-told-to books, including, in 1974, “Working: People Talk About What They Do All Day and How They Feel About What They Do,” the book that inspired the new exhibit. “Working” featured interviews with more than a hundred workers from all walks of life. The book, Terkel writes in the introduction, is about the search “for daily meaning as well as daily bread, for recognition as well as cash, for astonishment rather than torpor; in short, for a sort of life, rather than a Monday through Friday sort of dying.”

    Welder binding metal

    It became a best-seller—and, a few years later, a musical—thanks, in large part, to the intimacy and depth Terkel elicited from people who are not usually the subject of books.

    One of those people, Gary Bryner, is in the new exhibit, too. “I picked Studs up at the Youngstown airport,” Bryner told me, recounting the time Terkel spent with him for the book. “He didn’t even have a hotel reservation. He said he just wanted to stay in a mom-and-pop place and all he needed was a phone.” This was 1972, and Bryner was president of U.A.W. Local 1112 at the Lordstown, Ohio, General Motors plant, where a twenty-two-day strike had captured national attention.

    “I’d been interviewed by every major magazine and newspaper. I was on ‘60 Minutes.’ But Studs was different”

    Terkel followed Bryner, who’s now in his seventies, for two days. “He had a glint in his eye. He wanted to know how this worked, how that worked. He couldn’t stop.

    Saks sought a wide variety of subjects—some of them she knew of personally, and others she found through research. Roque Sanchez, a twenty-one-year-old custodian featured in the new exhibit, said he had never heard of Terkel before Saks contacted him. A formerly undocumented immigrant from Mexico, Sanchez works at a downtown Chicago office building.

    Woman building a broomstick

    “It’s definitely not the worst job,” he said. “But I like working. It’s essential to make something with my life.” Ava St. Claire, who is in her late twenties, didn’t know Terkel’s work before, either. St. Claire works as an escort in Orlando. “I love my job. It’s the best I’ve ever had,” she said. “I can’t imagine doing anything else.”

    Saks is a lifelong Chicagoan and the president and artistic director of Project&, a Chicago-based arts organization. “I really wanted to do something on economic inequality,” she explained, as she introduced a panel discussion earlier that night, in the library’s Cindy Pritzker Auditorium. “It’s one of the greatest conflicts of our time.” Once she had decided to focus on the subject, she instinctively turned to Terkel. “My dad and Studs were friends,” she told me.

    “As a kid, I’d sit in the back seat as they drove around the city. My dad smoking his pipe and Studs his cigar. They were like a pair from Jewish central casting”

    Saks’s intention with “Working in America” is not to mimic Terkel’s masterpiece, she said, but to continue the conversations he started. “Everyone has a relationship with work,” she added. “Even those who don’t have a job.”

    The exhibit, which will run until January 31st, is free and open to the public, and it includes two additional components: a weeklong radio series that kicks off on September 25th, on NPR’s “Weekend Edition,” and a Web site where people can upload photos and share their own stories.

    Chef preparing a dish
    Chef preparing a dish

    Saks hopes that by the end of January she’ll have raised enough money from private foundations and individual donors to take “Working in America” to libraries throughout the country. Bryner, meanwhile, told me that he was pleased by how things had turned out, and encouraged by the attention. “I thought it was interesting people still cared,” he said.

  • The National Book Awards Longlist: Poetry

    Last Wednesday, several hundred people gathered on the third floor of Chicago’s Harold Washington Public Library for the opening of “Working in America,” a multimedia exhibition exploring how Americans find meaning in work and define themselves through their jobs. Twenty-four men and women were profiled for the exhibit, including a waitress, a police officer, a custodian, an escort, and a farmer.

    “This is a tribute to the legacy of Studs”

    A master of oral history, Terkel published a number of as-told-to books, including, in 1974, “Working: People Talk About What They Do All Day and How They Feel About What They Do,” the book that inspired the new exhibit. “Working” featured interviews with more than a hundred workers from all walks of life. The book, Terkel writes in the introduction, is about the search “for daily meaning as well as daily bread, for recognition as well as cash, for astonishment rather than torpor; in short, for a sort of life, rather than a Monday through Friday sort of dying.”

    Welder binding metal

    It became a best-seller—and, a few years later, a musical—thanks, in large part, to the intimacy and depth Terkel elicited from people who are not usually the subject of books.

    One of those people, Gary Bryner, is in the new exhibit, too. “I picked Studs up at the Youngstown airport,” Bryner told me, recounting the time Terkel spent with him for the book. “He didn’t even have a hotel reservation. He said he just wanted to stay in a mom-and-pop place and all he needed was a phone.” This was 1972, and Bryner was president of U.A.W. Local 1112 at the Lordstown, Ohio, General Motors plant, where a twenty-two-day strike had captured national attention.

    “I’d been interviewed by every major magazine and newspaper. I was on ‘60 Minutes.’ But Studs was different”

    Terkel followed Bryner, who’s now in his seventies, for two days. “He had a glint in his eye. He wanted to know how this worked, how that worked. He couldn’t stop.

    Saks sought a wide variety of subjects—some of them she knew of personally, and others she found through research. Roque Sanchez, a twenty-one-year-old custodian featured in the new exhibit, said he had never heard of Terkel before Saks contacted him. A formerly undocumented immigrant from Mexico, Sanchez works at a downtown Chicago office building.

    Woman building a broomstick

    “It’s definitely not the worst job,” he said. “But I like working. It’s essential to make something with my life.” Ava St. Claire, who is in her late twenties, didn’t know Terkel’s work before, either. St. Claire works as an escort in Orlando. “I love my job. It’s the best I’ve ever had,” she said. “I can’t imagine doing anything else.”

    Saks is a lifelong Chicagoan and the president and artistic director of Project&, a Chicago-based arts organization. “I really wanted to do something on economic inequality,” she explained, as she introduced a panel discussion earlier that night, in the library’s Cindy Pritzker Auditorium. “It’s one of the greatest conflicts of our time.” Once she had decided to focus on the subject, she instinctively turned to Terkel. “My dad and Studs were friends,” she told me.

    “As a kid, I’d sit in the back seat as they drove around the city. My dad smoking his pipe and Studs his cigar. They were like a pair from Jewish central casting”

    Saks’s intention with “Working in America” is not to mimic Terkel’s masterpiece, she said, but to continue the conversations he started. “Everyone has a relationship with work,” she added. “Even those who don’t have a job.”

    The exhibit, which will run until January 31st, is free and open to the public, and it includes two additional components: a weeklong radio series that kicks off on September 25th, on NPR’s “Weekend Edition,” and a Web site where people can upload photos and share their own stories.

    Chef preparing a dish
    Chef preparing a dish

    Saks hopes that by the end of January she’ll have raised enough money from private foundations and individual donors to take “Working in America” to libraries throughout the country. Bryner, meanwhile, told me that he was pleased by how things had turned out, and encouraged by the attention. “I thought it was interesting people still cared,” he said.