Tag: Google

  • Waduh, Perusahaan Global Berikut Gagal Penuhi Target Perubahan Iklim

    peloporberita.com/ – Organisasi nirlaba New Climate Institute dan Carbon Market Watch melaporkan bahwa Google, Amazon, Ikea, Apple, dan Nestle masuk di antara perusahaan yang gagal memenuhi target dalam mengatasi perubahan iklim, utamanya untuk mencapai nol emisi karbon.

    Laporan ini, berdasarkan penelitian mereka yang bertajuk Corporate Climate Responsibility Monitor (CCRM) atau Pemantau Tanggung Jawab Iklim Perusahaan yang meneliti setidaknya 25 perusahaan, seperti dikutip dari BBC, Selasa (8/2/2022).

    Menurut lembaga peneliti penelitian asal Jerman ini, 25 perusahaan besar dunia tersebut, sebelumnya sudah berjanji memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, hanya 3 perusahaan yang memenuhi syarat dengan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga lebih dari 90 persen sampai waktu yang ditargetkan.

    Adapun studi tersebut memberi setiap perusahaan peringkat integritas. Dimana ditemukan bahwa beberapa bekerja relatif baik dalam mengurangi emisi tapi tidak ada yang diberi peringkat integritas tinggi.

    Pemeringkatan tersebut, dinilai dari berbagai faktor seperti pengungkapan emisi setiap tahun, memberikan perincian sumber emisi, dan mengungkapkan informasi dengan cara yang dapat dimengerti.

    Perusahaan-perusahaan global itu, disebut salah dalam melaporkan kemajuan mereka untuk berubah cukup cepat. Perusahaan yang dianalisis, menyumbang 5 persen dari emisi gas rumah kaca global. Artinya, meski mereka memiliki jejak karbon besar, mereka memiliki potensi besar memimpin dalam upaya membatasi perubahan iklim. []

  • Nvidia Tak Jadi Membeli Arm dari Softbank Group

    peloporberita.com/ | Produsen chip Nvidia Corp membatalkan pembelian Arm Ltd dari SoftBank Group Corp.

    Sebelumnya, Nvidia mengumumkan rencana akuisisi senilai USD 40 miliar pada September 2020. Melalui akuisisi ini, Nvidia ingin mengendalikan teknologi chip dalam segala hal, mulai dari smartphone hingga peralatan pabrik.

    Namun, transaksi itu menghadapi sejumlah tantangan, termasuk sikap pelanggan Arm yang mencibir gagasan itu. Sejumlah pelanggan Arm adalah Apple, AWS Amazon.com dan Google Alphabet, bersama dengan produsen chip yang bersaing langsung dengan Nvidia, seperti Intel dan Qualcomm.

    Ditambah lagi dengan langkah Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (AS) yang menggugat untuk memblokirnya pada Desember lalu. Pasalnya, Nvidia dianggap akan mendapatkan terlalu banyak kendali atas desain chip yang digunakan oleh perusahaan teknologi terbesar di dunia.

    Padahal, jika pembelian ini terwujud, akan menjadi kesepakatan terbesar di industri chip global.

    Dengan batalnya akuisisi ini, maka SoftBank kini berencana melanjutkan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) Arm, sebagai pengganti kesepakatan. Melansir Bloomberg, IPO itu ditargetkan terealisasi pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2023.

    SoftBank dan Arm berhak mempertahankan USD 2 miliar yang dibayar Nvidia saat penandatanganan, termasuk biaya perpisahan senilai USD 1,25 miliar.

    Seperti diketahui, desain dan teknologi Arm adalah dasar dari hampir semua smartphone di dunia. Mereka juga membuat kemajuan dalam komputasi pribadi, mobil dan pusat data. []

  • Bisnis Infrastruktur Cloud Dunia Tumbuh Signifikan Tahun Lalu

    peloporberita.com/ | Data Synergy Research menunjukkan, bisnis infrastruktur cloud sepanjang tahun lalu mencapai USD 178 miliar secara global. Angka itu bertambah sekitar USD 50 miliar atau setara 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau secara year-on-year (yoy).

    Tiga besar raksasa teknologi, yaitu Amazon, Microsoft dan Google terus mengalami pertumbuhan pesat selama periode itu. Amazon misalnya, mencetak pertumbuhan 40 persen, sedangkan Microsoft dan Google masing-masing 45 persen.

    Adapun angka pendapatan kuartalan mencapai sekitar USD 17 miliar untuk Amazon, kemudian Microsoft senilai USD 10 miliar dan Google sebesar USD 5 miliar.

    Pangsa pasar Google dan Microsoft terus tumbuh dari waktu ke waktu, sedangkan Amazon tetap stabil selama beberapa tahun. Meski demikian, pasar terus berkembang dan pendapatan Amazon terus bertumbuh pada tingkat yang layak.

    Data Canalys pun menunjukkan hasil yang hampir senada dengan Synergy, yaitu terjadi pertumbuhan sebesar USD 53 miliar pada bisnis infrastruktur cloud secara global, selama periode tersebut.

    Melansir Techcruch, Canalys tahun ini mematok angka USD 191,7 miliar, atau meningkat 35 persen dari tahun 2020.

    Sejumlah analis melihat bahwa ada banyak ruang untuk pertumbuhan di bisnis cloud. Selain itu fakta juga menunjukkan pasar terus tumbuh dengan kecepatan tinggi.

    Bahkan di bagian bawah pasar, masih ada banyak uang yang bisa dihasilkan. Meskipun mungkin tidak memenuhi level Microsoft, Amazon atau Google, itu masih dapat menambah bisnis bernilai miliaran dolar. []

    Baca juga: Alphabet Induk Google Raih Penjualan USD 75,3 Miliar

  • Bisnis Periklanan Amazon Tumbuh 32%

    peloporberita.com/ | Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Amazon.com Inc mencetak pendapatan dari bisnis iklannya sebesar USD 9,7 miliar pada kuartal keempat, tumbuh 32 persen secara year-on-year.

    Adapun total sepanjang tahun lalu, Amazon meraih USD 31 miliar dari bisnis iklan. Angka itu lebih besar dari pendapatan iklan YouTube yang senilai USD 28,8 miliar, seperti dikutip dari Reuters.

    Analis Benedict Evans menyebut, hal itu membuat pendapatan iklan Amazon serupa dengan ukuran seluruh industri surat kabar global

    Amazon menayangkan iklan di situs webnya dan layar pengaktifan sejumlah tabletnya, menggunakan kueri penelusuran oleh pelanggannya untuk membantu menargetkan iklan. Iklan tersebut sering dilakukan oleh perusahaan yang menjual di pasarnya.

    “Menjual ruang tambahan digital adalah penghasil uang tunai yang bagus untuk dimiliki di saat ketidakpastian,” kata Analis Ekuitas Hargreaves Lansdown Sophie Lund-Yates.

    Lund-Yates melihat bisnis iklan Amazon lebih sejalan dengan induk Google, Alphabet, yang juga memiliki data sendiri tentang pelanggan dari sistem pencariannya.

    Amazon.com adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia yang fokus dibidang perdagangan berbasis online.

    Awalnya, perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos ini hanya menjual buku, kemudian makin bervariasi hingga merambah yang lainnya seperti streaming video, software, video game, elektronik, kebutuhan sehari-hari, furnitur dan perhiasan. []

    Baca juga: Starbucks Hadirkan Kafe Tanpa Kasir Bersama Amazon Go

  • Alphabet Induk Google Raih Penjualan USD 75,3 Miliar

    peloporberita.com/ | Alphabet Inc yang merupakan induk usaha Google, memecahkan rekor penjualan kuartalannya, yang didorong oleh lonjakan bisnis periklanan internet. Selain itu ditambah juga dengan pengiklan yang menambah anggaran pemasarannya.

    Pada kuartal keempat tahun 2021, penjualan Alphabet tercatat mencapai USD 75,3 miliar atau tumbuh 32 persen. Melansir Reuters, ini adalah rekor penjualan kuartalan ketiga berturut-turut dan juga melampaui perkiraan rata-rata analis yang sekitar USD 72 miliar.

    Secara total untuk tahun 2021, laba Alphabet meningkat 89 persen menjadi USD 76 miliar. Melihat pencapaian ini, sejumlah analis menilai pertumbuhan Google akan melambung tinggi di masa mendatang.

    “Konsumen terjun ke pencarian Google untuk mencari pakaian dan barang-barang hobi, sementara pengiklan ritel, keuangan, hiburan dan perjalanan menaikkan anggaran pemasaran,” kata Senior Vice President sekaligus Chief Business Officer Google Philipp Schindler.

    Bisnis sekunder Google, termasuk Cloud, juga mencetak kenaikan pendapatan kuartalan sebesar 45 persen menjadi USD 5,5 miliar, melampaui perkiraan USD 5,4 miliar. Salah satu klien Google Cloud adalah pembuat software belanja online Shopify Inc.

    Chief Executive Officer Alphabet Sundar Pichai mengatakan kepada para analis bahwa Cloud sedang menjajaki bagaimana mendukung klien yang ingin menggunakan blockchain, salah satu dari sejumlah teknologi baru yang dianggap penting untuk memulai era baru inovasi online.

    Meski demikian, Alphabet masih harus menghadapi tantangan besar dari berbagai tuntutan hukum yang menuduh Google melakukan tindakan anti persaingan di pasar periklanan dan toko aplikasi seluler. []

    Baca juga: Google Suntik Dana US$ 1 Miliar ke Operator Seluler Terbesar Kedua di India

  • Google Suntik Dana US$ 1 Miliar ke Operator Seluler Terbesar Kedua di India

    peloporberita.com/ – Perusahaan mesin pencari Google, akan menginvestasikan dana hingga US$ 1 miliar di perusahaan operator seluler terbesar kedua di India, Airtel. Investasi ini, merupakan bagian dari rencana Google yang diumumkan dua tahun lalu.

    Google, akan membeli saham senilai US$ 700 juta dengan harga 734 rupee (US$ 9,77) per saham di Bharti Airtel milik miliarder Sunil Mittal. Total kepemilikan Google mencapai 1,28%.

    Sebelumnya memang Google telah berencana menanamkan US$ 10 miliar di India melalui dana digitalisasinya selama lima hingga tujuh tahun, melalui kesepakatan dan ikatan ekuitas. Dari total dana tersebut, sebesar US$ 300 juta lebih akan diinvestasikan untuk mengimplementasikan perjanjian komersial selama lima tahun ke depan.

    Kedua perusahaan, juga akan menjajaki peluang meruntuhkan hambatan untuk memiliki ponsel pintar, di pasar India yang sangat mempertimbangkan harga. Salah investasinya adalah dalam memperluas produk dan layanan Airtel.

    “Kami bangga bermitra dalam visi bersama untuk memperluas konektivitas dan memastikan akses yang adil ke internet untuk lebih banyak orang India,” tutur CEO induk Google, Alphabet, Sundar Pichai pada Jumat, (28/1/2022).

    Sejatinya, Google juga telah memegang 7,7% saham Reliance Jio, perusahaan yang memimpin pasar India. Perusahaan itu, dimiliki Mukesh Ambani yang merupakan orang terkaya di Asia, menyusul investasi senilai US$ 4,5 miliar pada 2020.

    Kedua perusahaan, berkolaborasi memproduksi ponsel pintar murah berkemampuan 4G yang diluncurkan pada November 2021. Reliance Jio terkunci dalam persaingan sengit dengan Airtel dan unit lokal raksasa telekomunikasi Inggris Vodafone, Vi.

    Persaingan di negeri Bollywood berlangsung sejak perang harga dimulai pada 2016, dengan menawarkan internet murah dan panggilan gratis. Airtel, sebagai operator terbesar kedua di India, mengatakan akan menaikkan harga secara bertahap. Perusahaan ini, mengumpulkan hingga 210 miliar rupee pada tahun lalu untuk memotong utang dan mendorong pertumbuhan. []

  • Google Hentikan YouTube Originals yang Dibentuknya Sejak 2016

    peloporberita.com/ | Google secara resmi telah menghentikan program YouTube Originals yang dibentuknya sejak 2016. Sebelumnya, Google menugaskan divisi tersebut untuk menghasilkan konten video eksklusif, seperti video edukasi, serial, konten musik dan selebriti untuk para pelanggan YouTube Premium.

    Selama beroperasi, YouTube Originals sempat beberapa kali berubah haluan. Awalnya, di bawah pimpinan Susanne Daniels, mereka membuat konten scripted yang berpusat pada kreator seperti serial ‘Scare PewDiePie’. Kemudian mereka juga pernah merambah konten ala Hollywood, dengan merilis serial seperti ‘Cobra Kai’ yang akhirnya pindah ke Netflix.

    Lalu, YouTube Originals beralih ke konten yang memuat iklan dan dibintangi oleh sejumlah selebriti, seperti Katy Perry dan Kevin Hart, untuk ditayangkan gratis ke seluruh pengguna yang sekalipun tidak berlangganan YouTube Premium.

    Pengumuman ditutupnya YouTube Originals disampaikan oleh Chief Business Officer YouTube Robert Kyncl, melalui akun Twitternya, seperti dikutip dari The Verge. Setelah program ini dihentikan, perusahaan tersebut akan fokus mendanai program untuk YouTube Kids dan Black Voices.

    Selain mengumumkan penghentian program, Kyncl juga menyebutkan bahwa Daniels akan meninggalkan YouTube pada Maret mendatang, keputusan yang turut memicu kematian YouTube Originals.

    Padahal beberapa bulan lalu, YouTube Originals telah mengumumkan sejumlah program baru yang akan tayang tahun ini, termasuk serial yang dibintangi Will Smith dan Alicia Keys. []

    Baca juga: Alasan Youtube Hentikan Video Rewind

  • Google Kena Denda Rp 1,3 Triliun di Rusia Akibat Konten Ilegal

    peloporberita.com/ | Google kembali terjerat masalah hukum. Kali ini, Pengadilan Rusia memvonis Google hukuman denda senilai 7,2 miliar Rubel atau sekitar Rp 1,38 triliun, akibat dinilai telah gagal menghapus 2.600 konten yang termasuk dalam kategori ilegal di Rusia.

    Sejumlah contoh konten ilegal yang dimaksud seperti propaganda narkoba dan homoseksual. Selain itu juga unggahan yang bersifat ekstremis atau mengandung unsur terorisme, termasuk topik yang menyinggung pemimpin pihak oposisi, Alexei Navalny, seperti dilansir dari Engadget.

    Menanggapi denda tersebut, Google menyatakan akan meninjau kembali dokumen pengadilan, sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Perusahaan itu tercatat memiliki waktu sekitar 10 hari untuk mengajukan banding ke pengadilan Rusia.

    Sepanjang 2021, Rusia telah menjatuhkan denda kepada sejumlah perusahaan teknologi yang tidak membatasi konten terlarang. Namun dari daftar perusahaan yang didenda itu, Google adalah perusahaan pertama yang menerima penalti berdasarkan pendapatan tahunannya. Jumlah denda yang ditanggung Google setara dengan 8 persen pendapatannya di Rusia.

    Ini bukan pertama kalinya Google menerima hukuman denda. Sebelumnya, Google juga telah didenda hingga dua kali oleh pengawas persaingan usaha Perancis masing-masing sebesar 500 juta euro.

    Denda pertama terjadi pada Juni lalu lantaran Google dianggap telah melanggar regulasi persaingan usaha yang berkaitan dengan iklan online di Eropa. Kemudian denda kedua pada Juli lalu, akibat gagal mematuhi perintah sementara dari regulator Prancis. []

    Baca juga: Italia Denda Apple dan Google Jutaan Dolar

  • Gagal Hapus Konten Ilegal, Rusia Denda Google dan Meta

    peloporberita.com/ – Pengadilan Moskow, Rusia, menjatuhkan denda kepada Google dan Meta Platforms Inc lantaran telah melakukan kegagalan berulang dalam menghapus konten yang dianggap ilegal di negara tersebut.

    Dilansir dari Reuters, Sabtu, (25/12/2021) Google di denda 7,2 miliar rubel, sedangkan Meta Platforms, yang sebelumnya bernama Facebook Inc, di denda 2 miliar rubel.

    Regulator komunikasi Rusia, Roskomnadzor memaparkan, Google gagal menghapus 2.600 konten ilegal, sedangkan Facebook dan Instagram gagal menghapus dua ribuan konten yang melanggar aturan di negara tersebut.

    Terkait hal ini, Google menyatakan akan mempelajari putusan pengadilan sebelum mengambil langkah selanjutnya, sementara Meta Platforms tidak berkomentar.

    Besaran denda yang dikenakan, dihitung dengan persentase pendapatan perusahaan masing-masing di Rusia. Meski Pengadilan tidak merinci berapa persen pendapatannya, berdasarkan penghitungan Reuters, besaran denda kepada Googlse setara dengan 8 persen.

    Seperti diketahui, sebelumnya Rusia telah meminta platform media sosial untuk menghapus konten yang berisi penyalahgunaan obat-obatan, hiburan yang berbahaya, senjata dan peledak rakitan, dan kelompok yang menyatakan sebagai teroris atau ekstremis.

    Selain itu, Rusia juga meminta 13 perusahaan teknologi asing yang kebanyakan asal Amerika Serikat, untuk memiliki perwakilan resmi di sana pada 1 Januari 2022. Jika tidak, mereka akan melarang perusahaan tersebut.[]

  • Kebijakan Xi Jinping Buat Tencent Terdepak dari Daftar 10 Perusahaan Teknologi Terbesar

    peloporberita.com/ | Tencent Holdings dan Alibaba Group Holding keluar dari daftar 10 perusahaan teratas global berdasarkan kapitalisasi pasar. Beberapa penyebab hal itu adalah kebijakan keras Presiden Xi Jinping terhadap perusahaan teknologi dan juga ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

    Seperti diketahui, Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah meningkatkan tekanan pada bisnis Tiongkok. Ia mengumumkan sanksi terhadap pembuat pesawat tak berawak DJI dan lusinan entitas Tiongkok lainnya, yang dituduh mengambil bagian dalam pelanggaran hak asasi manusia atau pengembangan militer.

    Padahal dibulan Februari lalu, Tencent sempat berada di urutan keenam, sebelum kapitalisasi pasarnya anjlok lebih dari 40 persen, berdasarkan data Quick FactSet. Kini, Tencent harus menerima nasib berada di peringkat ke-11, seperti dilansir dari Nikkei Asia.

    Daftar terbaru itu kini didominasi oleh raksasa teknologi AS, seperti Apple di posisi pertama, diikuti Microsoft, dan Alphabet yang merupakan induk usaha Google. Kemudian Saudi Aramco berada di urutan keempat, disusul Amazon.com, Tesla dan Meta yang merupakan operator Facebook Group.

    Sementara itu, peringkat delapan diduduki oleh perancang chip Nvidia dan Berkshire Hathaway milik Warren Buffet berada di urutan ke-9. Hal ini membuat Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. sebagai perusahaan Asia paling berharga di dunia pada posisi ke-10. []

    Baca juga: China Denda Perusahaan Teknologi Hingga Miliaran Rupiah