Tag: Google

  • Negosiator Uni Eropa Setujui UU Penting untuk Kekang Big Tech

    Jakarta | Negosiator dari Parlemen Eropa dan negara-negara anggota Uni Eropa (UE) pada Kamis (24/03/2022) waktu setempat, menyetujui undang-undang untuk mengekang dominasi pasar raksasa teknologi besar Amerika Serikat (AS) atau US Big Tech, seperti Google, Meta, Amazon dan Apple.

    Dalam pertemuan yang berlangsung di Brussel itu, para pembuat undang-undang menetapkan daftar panjang yang wajib dan tidak boleh dilakukan yang akan memilih raksasa web paling ikonik di dunia sebagai “penjaga gerbang” internet yang tunduk pada aturan khusus.

    “Digital Markets Act” (DMA) telah mempercepat prosedur legislatif blok tersebut dan dirancang untuk melindungi konsumen dan memberi saingan kesempatan yang lebih baik untuk bertahan melawan raksasa teknologi yang kuat di dunia.

    DMA membebankan banyak sekali kewajiban pada Big Tech, termasuk memaksa Apple untuk membuka App Store-nya ke sistem pembayaran alternatif, sebuah permintaan yang ditentang keras oleh pembuat iPhone, terutama dalam perseteruannya dengan Epic games, pembuat Fortnite.

    Apple juga dipaksa melonggarkan cengkeramannya pada iPhone, dengan pengguna diizinkan mencopot pemasangan browser web Safari dan aplikasi lain yang dibuat perusahaan yang saat ini tidak dapat dihapus oleh pengguna.

    Sedangkan Google akan diminta menawarkan alternatif smartphone yang dijalankan Android kepada pengguna mesin pencarinya, aplikasi Google Maps atau browser Chrome-nya.

    “Perjanjian tersebut mengantarkan era baru regulasi teknologi di seluruh dunia,” kata anggota parlemen Jerman Andreas Schwab, yang memimpin negosiasi untuk Parlemen Eropa, seperti dikutip dari AFP.

    Poin utama dari undang-undang itu adalah untuk menghindari prosedur bertahun-tahun dan pertempuran pengadilan yang diperlukan untuk menghukum perilaku monopoli Big Tech, di mana kasus dapat berakhir dengan denda besar namun sedikit perubahan dalam cara berbisnis.

    Setelah diterapkan, undang-undang tersebut akan memberi Brussels otoritas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengawasi keputusan Big Tech, terutama ketika mereka membeli perusahaan rintisan yang menjanjikan.[]

  • Australia Perketat Pengawasan Terhadap Perusahaan Internet

    Jakarta | Australia mengeluarkan aturan baru untuk mengawasi perusahaan internet di negaranya dalam menangani penyebaran berita palsu atau hoax.

    Dalam aturan terbaru itu, Otoritas Komunikasi dan Media Australia atau The Autralian Communication and Media Autority (ACMA) mewajibkan perusahaan internet membuka data internalnya dan akan memberikan kode industri internet bagi yang menolak bekerja sama.

    Melansir Bloomberg, langkah ini sebagai tindak lanjut pemerintah Australia atas temuan ACMA bahwa empat per lima dari orang dewasa di negara itu telah menerima informasi yang salah terkait Covid-19.

    Upaya yang dilakukan Australia juga sejalan dengan negara-negara di Eropa yang mulai akhir tahun ini akan membatasi konten negatif di internet. Bahkan, Uni Eropa mengupayakan tindakan tegas untuk menghentikan disinformasi, mengingat sejumlah klaim yang dilakukan media Rusia selama invasi ke  Ukraina.

    Laporan ACMA menyebutkan, narasi palsu biasanya dimulai dengan unggahan yang sangat emosional dan menarik. Kemudian kelompok konspirasi sering mendesak orang bergabung dengan platform yang lebih kecil namun kebijakan moderasi lebih longgar, seperti Telegram.

    DIGI, badan industri Australia yang mewakili Facebook, Google, Twitter dan TikTok menyatakan mendukung rekomendasi ACMA. Bahkan, DIGI telah menyiapkan sistem untuk memproses keluhan tentang informasi yang salah.[]

  • Rusia Desak Google Hentikan Iklan YouTube yang Mengancam Warganya

    peloporberita.com/ – Pemerintah Rusia, mendesak Google Alphabet menghentikan tayangan iklan di YouTube yang berisi ancaman terhadap warganya terkait invasi ke Ukraina. Langkah ini, buntut dari kebijakan Meta Platform, yang membolehkan pengguna melontarkan ujaran kebencian dan kekerasan terhadap pasukan Rusia dan Presiden Vladimir Putin.

    Rusia pun telah memblokir akses Facebook. Twitter dan pada awal pekan ini (14/03/2022), Rusia resmi memblokir Instagram sehingga menutup akses bagi 80 juta pengguna di negara tersebut.

    Roskomnadzor, regulator komunikasi negeri beruang merah menyatakan terdapat akun YouTube yang membuat iklan ancaman terhadap warga Rusia dan sempat tayang di jaringan sistem komunikasi kereta Rusia dan Belarusia.

    Menurut mereka, tayangan itu merupakan bukti bahwa perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) tersebut anti-Rusia. Namun tidak disebutkan nama akun yang menayangkan video tersebut.

    “Tindakan YouTube ini bersifat teroris dan mengancam nyawa dan kesehatan warga Rusia. Roskomnadzor dengan tegas menentang kampanye iklan seperti itu dan mendesak agar Google berhenti menyiarkan video anti-Rusia sesegera mungkin,” sebut regulator dilansir AFP dari kantor berita Interfax.

    Berdasarkan keterangan seorang sumber di Google, video tersebut telah dihapus perusahaan, namun tidak dibeberkan penjelasan lebih lanjut. YouTube, sebelumnya juga telah memblokir akun milik media yang didanai pemerintah Rusia secara global. []

  • Google Tutup Paksa YouTube Vanced, Aplikasi Pemblokir Iklan Populer

    peloporberita.com/ – Pembuat YouTube Vanced mengumumkan, bahwa layanan aplikasi tanpa iklannya resmi dihentikan dalam beberapa hari mendatang dan tautan unduhan pun akan dihapus. Langkah ini diambil, setelah mereka mendapat ancaman hukum dari Google selaku pemilik YouTube.

    “Vanced akan dihentikan. Dalam beberapa hari ke depan, link download di situs web akan dihapus. Kami tahu ini bukan sesuatu yang ingin anda dengar tapi ini adalah sesuatu yang mesti kami lakukan,” Cuit YouTube Vanced dalam akun Twitternya dikutip dari The Verge, Kamis (17/03/2022).

    Aplikasi, memang akan terus berfungsi untuk siapa saja yang sudah menginstalnya di Android, tetapi tanpa ada pembaruan ke depannya maka aplikasi kemungkinan segera berhenti berfungsi.

    Pemilik Vanced mengatakan, Google telah mengirim surat penyetopan operasi baru-baru ini ke pengembang Vanced, yang memaksa mereka berhenti mendistribusikan dan mengembangkan aplikasi.

    “Kami diminta untuk menghapus semua referensi ke ‘YouTube’, mengubah logo, dan menghapus semua tautan yang terkait produk YouTube,” ucap Vanced.

    YouTube Vanced, yang dibuat pada tahun 2017, merupakan aplikasi YouTube pihak ketiga untuk Android, memungkinkan pengguna YouTube memblokir semua iklan video di YouTube tanpa berlangganan Premium.

    Berdasarkan laporan Arstechnika, Hal ini, pelanggaran hak cipta dari pendistribusian ulang kode kepemilikan Google dan pelanggaran merek dagang YouTube. Dengan kata lain, yang dilakukan YouTube Vanced merupakan bentuk pembajakan lantaran penggunanya bisa mengaktifkan fitur YouTube Premium senilai US$12 per bulan secara gratis.

    Vanced tidak hanya memblokir iklan, tetapi menambahkan banyak fitur seperti tema gelap yang lebih gelap, integrasi SponsorBlock, dan preferensi kualitas video. Selain itu, Vanced mengaktifkan kembali tombol “Tidak Suka” YouTube yang telah dihapus serta menghapus UI YouTube Shorts.

    Sebelum Vanced, Google telah terlebih dahulu memaksa penghentian fitur dua bot musik di aplikasi Discord tahun lalu. Bot musik Rythm dan Groovy di Discord ini sering dipakai pengguna untuk mendengarkan musik langsung di aplikasi juga mampu menghindari iklan di YouTube. []

  • Perkuat Keamanan Cloud, Google Akuisisi Mandiant USD 5,4 Miliar

    peloporberita.com/ | Google menggelontorkan dana USD 5,4 miliar untuk mengakuisisi perusahaan keamanan siber, Mandiant Inc. Strategi ini dilakukan untuk memperkuat kualitas produk keamanan internet yang akan mendukung divisi cloud atau bisnis komputasi awan milik Google.

    Selain itu, aksi ini juga dilakukan untuk meningkatkan daya saing Google terhadap competitor utamanya, Amazon Web Services dan Microsoft Corp.

    Rencananya, Google akan membayar USD 23 per saham dalam kesepakatan tunai. Melansir Bloomberg, setelah proses akuisisi rampung pada akhir tahun ini, Mandiant akan bergerak di bawah bisnis cloud Google.

    Membangun bisnis cloud adalah salah satu upaya Google melakukan diversifikasi dari iklan digital, yang telah berkontribusi besar terhadap pendapatan dan keuntungannya. Sejak 2019, Thomas Kurian sebagai pemimpin divisi cloud Google, memang telah gencar mengejar bisnis baru.

    Chief Executive Officer (CEO) Mandiant Kevin Mandia pun berharap kerja sama dengan Google akan memperluas jangkauan dan mengotomatisasi keahlian.

    “Yang membuat Mandiant bersemangat tentang kemitraan ini dengan Google adalah kami dapat meningkatkan keahlian dan intel kami di skala Google untuk mengamankan cloud, dan kami juga dapat mengotomatiskan keahlian kami,” kata Mandia.

    Hingga saat ini, Mandiant telah memiliki lebih dari 600 konsultan keamanan untuk membantu klien dan 300 analis intelijen.

    Sebelumnya, Mandiant dikuasai oleh FireEye Inc sejak 2013. Kemudian, FireEye melepas Mandiant pada tahun lalu kepada sebuah konsorsium yang dipimpin Symphony Technology Group, dengan nilai transaksi sebesar USD 1,2 miliar.[]

  • Tak Sanggup Bayar Utang, Google Ala Rusia ‘Yandex’ Terancam Bangkrut

    peloporberita.com/ – Perusahaan mesin pencarian internet terbesar di Rusia Yandex, terancam bangkrut dan tak sanggup membayar utang karena kehancuran pasar keuangan Rusia akibat sanksi ekonomi dari sejumlah negara di dunia kepada Rusia akibat invasinya ke Ukraina.

    “Grup Yandex secara keseluruhan saat ini tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menebus notes (surat utang jangka pendek) secara penuh,” tutur perusahaan tersebut dilansir dari CNN Business, Senin (07/03/2022).

    Perusahaan mesin pencari mirip Google ini, memiliki pangsa pasar sekitar 60 persen lalu lintas pencarian internet di Rusia. Yandex sendiri berbasis di Belanda, tetapi sahamnya terdaftar di Nasdaq dan bursa saham Rusia. Perdagangan mereka telah ditangguhkan pekan ini lantaran nilai aset Rusia runtuh di Moskow dan di seluruh dunia setelah invasi.

    Sementara Investor yang memegang US$1,25 miliar dalam catatan konversi Yandex memiliki hak untuk menuntut pembayaran penuh, ditambah bunga, jika perdagangan sahamnya ditangguh Nasdaq selama lebih dari lima hari, namun hingga kini perusahaan belum dikenakan sanksi. Di sisi lain, Yandex juga tengah berjuang untuk memindahkan uangnya dari bisnis operasi utama di Rusia untuk menyelamatkan perusahaan induk mereka di Negeri Kincir Angin.

    “Jika kami dicegah untuk mendistribusikan dana tambahan dari anak perusahaan Rusia kami ke perusahaan induk di Belanda, maka Yandex tidak akan memiliki sumber daya yang cukup untuk menebus sebagian besar notes. Kami saat ini sedang melakukan perencanaan kontinjensi untuk menentukan langkah apa yang akan kami ambil dalam hal ini dan sumber pembiayaan lain apa yang akan tersedia bagi kami,” ungkap Yandex.

    Yandex yang memiliki nilai pasar sekitar USD 17,4 miliar pada awal Februari 2022, melaporkan pendapatannya pada tahun 2021 lalu mencapai 356 miliar rubel, atau sekitar US$3 miliar setelah jatuhnya mata uang Rusia. []

  • Google Hukum Rusia dengan Blokir Monetisasi Konten Youtube

    peloporberita.com/ – Google memblokir media yang didanai Rusia, yakni RT (Rusia Today) agar tidak bisa mendapatkan penghasilan dari iklan. Langkah menyusul penerapan langkah serupa yang telah dilakukan oleh Meta Platforms Inc, pemilik Facebook. Larangan dan pemblokiran Google ini, berlaku untuk produk-produk Google lainnya, seperti YouTube.

    “Mengingat keadaan luar biasa di Ukraina, kami menghentikan sejumlah kemampuan channel itu untuk memonetisasi di YouTube, termasuk beberapa channel Rusia yang berafiliasi dengan sanksi baru-baru ini,” sebut YouTube, yang dijalankan oleh Google Alphabet Inc, dalam sebuah pernyataan Minggu, (27/02/2022).

    Video dari media-media yang diblokir itu, akan jarang muncul dari rekomendasi. Berdasarkan permintaan pemerintah Ukraina, konten dari Rusia Today dan media lainnya yang dilarang, juga tidak bisa diakses dari Ukraina.

    YouTube mencatat, selama beberapa hari terakhir telah menghapus ratusan saluran, termasuk beberapa saluran yang mereka sebut sebagai “praktik penipuan terkoordinasi,” yakni istilah yang digunakan perusahaan untuk konten yang isinya disinformasi.

    Lebih lanjut, Google juga melarang media-media tersebut menggunakan teknologinya untuk menghasilkan uang dari situs dan aplikasi. Media Rusia, tidak lagi bisa membeli iklan lewat Google Tools atau memasang iklan di layanan Google, termasuk Google Search dan Gmail.

    Sebelumnya, TikTok juga telah memblokir akun kantor berita Rusia RIA Novosti pada Jumat (25/02/2022) malam dan menghapus alamat video Kepala Republik Rakyat Donetsk (DPR), Denis Pushilin yang memproklamirkan diri ‘merdeka dari Ukraina’ terkait upaya pengevakuasian warganya.

    Sementara Uni Eropa, beberapa hari lalu mengenakan sanksi terhadap individu, yaitu pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan, yang dijuluki tokoh penting dalam propaganda Rusia.

    Sementara hingga hari keempat sejak Rusia menginvansi negara tersebut Kamis (24/02/2022), Situasi di Ukraina, Minggu (27/02/2022) terus memanas. Ledakan besar masih terdengat di kota Vasylkiv dan seorang bocah berusia 6 tahun tewas akibat pertempuran di Kiev.

    Terakhir kali Pemerintah Ukraina memberikan perkembangan terbaru atas jumlah korban tewas akibat serangan Rusia adalah pada Kamis (24/02/2022), yakni sebanyak 137 warga Ukraina meninggal dunia. []

  • Google Chrome Masih Jadi Browser Terlaris di Dunia

    peloporberita.com/ | Data statistik StatsCounter menunjukkan bahwa hingga saat ini Chrome buatan Google masih mendominasi kancah browser di dunia.

    Chrome tercatat menguasai pangsa pasar lebih dari 65,3% di platform desktop, yang disusul browser Safari milik Apple di peringkat kedua. Safari bersaing sangat ketat dengan Edge, browser milik Microsoft, yang juga dibayangi oleh browser Firefox.

    Mengutip StatsCounter, Edge memang dianggap bisa menjadi ancaman serius bagi Safari, lantaran Microsoft sangat gencar mengembangkan browsernya itu.

    Salah satunya terlihat dari kencangnya pergerakan Edge yang dalam dua tahun sudah bisa menyalip Firefox. Sejumlah analis memprediksi kemungkinan Edge menggeser posisi Safari dalam beberapa tahun ke depan, apalagi didukung dengan meningkatnya adopsi Windows 11.

    Demikian juga di platform mobile, Chrome tetap menguasai posisi pertama, dengan pangsa pasar 63,06%. Kemudian posisi kedua ditempati Safari, dengan pangsa pasar 26,7%.

    Hal ini terbilang wajar, mengingat banyaknya pengguna Android serta iPhone dan iPad yang menyematkan browser bawaan sistem operasinya.

    Sedangkan peringkat ketiga ditempati Samsung Internet dengan penguasaan 5,2%, lantaran ponsel Galaxy menggunakan browser ini secara default. Sementara posisi empat dan lima masing-masing diduduki Opera dan UC Browser.[]

  • Mantan Petinggi Google: 5G Tiongkok Jauh Lebih Unggul dari AS

    peloporberita.com/ | Eric Schmidt melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait perkembangan jaringan komunikasi 5G. Mantan petinggi Google itu menilai, pemerintah AS telah abai sehingga tertinggal jauh dari negara-negara lain, termasuk Tiongkok.

    Padahal, menurut Schmidt, 5G akan sangat krusial dalam industri dan militer. Terkait hal itu, dalam tulisannya di Wall Street Journal bersama Profesor Harvard Graham Allison, mereka menyarankan agar pemerintah AS menempatkan 5G sebagai prioritas utama.

    “Aplikasi-aplikasi yang didukung 5G akan memberikan manfaat bagi lembaga intelijen negara ini dan meningkatkan kapabilitas militer,” tulis mereka seperti dikutip dari Independent.

    Dalam tulisan itu juga disebutkan bahwa kecepatan 5G di Tiongkok telah melampaui AS cukup signifikan, yaitu 299 Mbps dibandingkan dengan 93,73 Mbps.

    “Performa menyedihkan AS dalam lomba 5G adalah pertanda kegagalan lebih besar negara ini untuk menghadapi Tiongkok dalam teknologi penting dan strategis,” kata Schmidt.

    Tak hanya itu, Tiongkok juga disebut telah melampaui AS di manufaktur teknologi tinggi, energi hijau dan sejumlah aplikasi kecerdasan buatan. Schmidt menegaskan, hal ini seharusnya menjadi kecemasan tersendiri.

    Eric Schmidt adalah orang yang berjasa besar dalam membentuk Google menjadi perusahaan teknologi paling dipandang di dunia. Mengutip sumber CNBC, Schmidt keluar dari Google untuk bergabung dengan proyek pemerintah AS.[]

  • Google Bakal Batasi Pembagian Data Pengguna Android

    peloporberita.com/ – Perusahaan mesin pencari, Google mengumumkan rencananya untuk membatasi pelacakan dan pembagian data pengguna sistem operasi Android. Sistem tersebut telah digunakan oleh lebih dari 2 setengah miliar orang di dunia.

    Rencana itu muncul, setelah Google mengalami peningkatan tekanan terkait perlindungan privasi dengan membatasi pelacakan. Serta terkait pengumuman Apple pada tahun lalu, yang telah memungkinkan penggunanya untuk memutuskan, apakah mereka ingin dilacak atau tidak.

    Sebelumnya, Google telah memiliki fasilitas yang memungkinkan pengiklan untuk menargetkan para pengguna Android berdasarkan minat dan aktivitas onlinenya.

    Kemudian Google menyadari platform lain telah mengambil pendekatan berbeda terhadap privasi iklan dan dengan tegas membatasi teknologi yang digunakan oleh pengembang dan pengiklan.

    Sehingga mereka menawarkan solusi dengan mengembangkan Privacy Sandbox di Android, teknologi Google yang mengizinkan iklan tanpa melacak data pengguna.

    Privacy sandbox sudah tersedia sebagai sebuah fitur pada Chrome. Fungsinya adalah membatasi pelacakan di seluruh situs web. Nantinya konsep utama akan diterapkan ke perangkat Android.

    “Sementara kami merancang, membangun, dan menguji solusi baru ini, kami berencana untuk mendukung fitur platform iklan yang ada setidaknya selama dua tahun. Kami bermaksud untuk memberikan pemberitahuan substansial sebelum perubahan di masa mendatang,” ungkap Google.

    Adapun pada kuartal keempat tahun 2021, berdasarkan laporan The Washington Post, Google meraup US$61 miliar dalam pendapatan iklan.[]