Kategori: Daerah

  • Mengintip Kondisi Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu

    peloporberita.com/ | Lombok – Kawasan wisata Tete Batu yang kini dikenal dengan nama Desa Wisata Tete Batu, ternyata sudah menjadi kawasan wisata yang populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara sekitar tahun 1990-an. Tete Batu, dengan mudah saja menarik perhatian lantaran keindahan alamnya yang membuat peancong terkagum-kagum.

    Tete Batu yang terus mendulang kepopuleran, tentu berimbas pada berbagai industri pariwisata yang mendukungnya seperti penginapan (homestay), souvenir industri rumahan dan transportasi, bahkan sebagai motivator berdirinya desa-desa wisata lain di sekitarnya.

    “Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini.”

    Salah satu tempat yang namanya begitu mencuat adalah sebuah penginapan bernama Wisma dr. Soedjono yang memang berlokasi tepat di Tete Batu. Wisma Soedjono, merupakan wisma peninggalan seorang tokoh nasional yang punya peran strategis dalam mengentaskan wabah penyakit kolera di Lombok Timur yakni, dr. Soedjono.

    “Wisma dr Soedjono di Tete Batu ini dibangun oleh dokter pertama yang ada di Lombok Timur, yakni bapak mertua saya, dr. Soedjono,” tutur Hj. Surdini Soeweno yang merupakan istri dari Raden Soeweno, anak dari dr Soedjono dalam wawancara kepada media belum lama ini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Ardi)

    Konon, bangunan wisma berarsitektur Eropa itu awalnya ditempati dr. Soedjono bersama istrinya. Namun sepeninggal beliau, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertamanya dr. Soedjono yakni Raden Soeweno.

    Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya masih banyak kerabatnya yang ingin berkunjung ke wisma tersebut. Mereka pun datang dan menginap di rumah itu sekaligus mengenang kembali masa-masa bersama yang dilewati dengan sang dokter.

    Baca juga :

    Nah, keturunan dr. Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun sekitar tahun 1970-an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesanggrahan sang dokter. Upaya pengembangan kemudian kembali dilakukan sekitar tahun 1980-an.

    Kesaksian Hj. Surdini Soeweno

    Menurut Hj. Surdini Soeweno yang juga sempat menjabat sebagai Kepala Desa Tete Batu ini, sejarah keberadaan Wisma dr. Soedjono ini sudah sama tuanya dengan keberadaan pemerintah Kabupaten Lombok Timur, bahkan mungkin sejak sebelum itu, yakni pada saat Indonesia masih dijajah pemerintah Kolonial Belanda.

    “Cerita singkatnya, pada saat dr. Soedjono bertugas di Kabupaten Lombok Timur, dia membangun sebuah rumah yang berada di kawasan Tete Batu ini sebagai tempat peristirahatan bersama teman-teman dan para tamu dari luar negeri. Rumah yang dibangun di kawasan obyek wisata ini tidak begitu luas, hanya memiliki empat unit kamar, satu ruang tamu, lobby, dan satu ruang makan,” sebut Hj. Surdini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Foto hitam putih di dinding Wisma dr. Soedjono Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Tantri Lestari)

    Oleh sebab itu, ketika kita memasuki bangunan bersejarah yang sekarang telah beralihfungsi menjadi Wisma dr. Soedjono ini, mata kita langsung akan dibawa mengenang ke masa lalu, yaitu pada zaman Belanda. Bagaimana tidak, nyaris seluruh hiasan kamar yang ada dirumah ini, baik foto-foto yang rata-rata berwarna hitam putih, dan benda-benda lainnya adalah peninggalan masa lalu sang tuan rumah.

    "Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini. Beliau bahkan pernah suatu saat memberikan alat musik gamelan kepada beberapa sanggar seni agar kesenian Tete Batu tetap terjaga sekaligus memberikan aktivitas positif kepada anak muda di sini," jelas Hj. Surdini.

    Setelah pendiri Wisma dr. Soedjono meninggal dunia, putranya yang bernama Raden Soeweno datang kembali ke Lombok bersama istrinya, Hj. Surdini Soeweno, yang kemudian melanjutkan serta mewarisi untuk merintis kembali usaha penginapan di Tete Batu.

    Profil Wisma dr. Soedjono

    Berdasarkan pernyataan dari Hj. Surdini, saat ini jumlah kamar yang ada di Wisma dr. Soedjono ada sebanyak 30 kamar, dengan harga masing-masing kamar berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung pada fasilitas dan luas dari kamar itu sendiri.

    Dan jika bicara fasilitas, bahkan Wisma dr. Soedjono ini tak kalah dibanding penginapan modern, karena ternyata juga memiliki kolam renang yang cukup besar dan biasanya digunakan oleh para tamu yang menginap.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Ruangan di dalam Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto:Pelopor.id/Ardi)

    Namun bencana gempa bumi yang sempat melanda Lombok pada tahun 2018 lalu berdampak negatif terhadap bisnis penginapan Wisma dr. Soedjono lantaran ada beberapa bangunan yang rusak sebagai imbas dari goncangan gempa dan hingga saat ini dikarenakan kondisi pandemi yang masih berlarut-larut serta proses perbaikan yang belum berjalan maka Wisma dr. Soedjono belum dibuka lagi untuk masyarakat umum menginap.

    Baca juga : 

    “Karena kondisi bangunan yang rusak karena gempa, ditambah lagi pandemi Covid-19 ini, Wisma dr. Seodjono sementara tutup dulu untuk umum. Sambil anak saya juga sedang mempersiapkan proyek positif untuk Wisma ini nantinya. jadi, sementara kita hanya terbuka untuk menyambut tamu yang ingin melihat wisma dari dekat serta usaha Cafe yang kami jalankan,” sebut Hj. Surdini.

    Semoga kondisi segera membaik dan Wisma dr. Soedjono sebagai landmark pariwisata di Desa Wisata Tete Batu segera mendapatkan perhatian yang selayaknya dari pemerintah daerah sehingga kondisinya bisa pulih kembali, sekaligus bisa berfungsi lagi sebagai penginapan bersejarah yang harus diakui juga menjadi magnet pariwisata di Tete Batu.[]

  • Transformasi Desa Kembang Kuning Lombok Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

    peloporberita.com/ | Lombok – Desa Kembang Kuning terletak di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2017 lalu, Desa Wisata ini dikukuhkan sebagai Desa Wisata Terbaik menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.

    Desa yang terletak di lereng Gunung Rinjani itu memiliki beragam potensi atraksi seni dan budaya, kearifan lokal, serta keramah-tamahan masyarakat. Desa Desa Kembang Kuning, berjarak 85 kilometer arah timur Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB.

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis.”

    Namun, proses beralihnya Desa tersebut menjadi sebuah Desa Wisata tidak mudah. Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip menceritakan bahwa dulu ada keraguan dari masyarakat untuk menerima sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan mereka.

    Baca juga : 

    “Kembang Kuning diawali masyarakat ragu menerima pariwisata karena negatif seperti narkoba dan minuman beralkohol dan lain sebagainya,” tutur Musanip dihadapan wartawan, Senin, (22/11/2021)

    Melanjutkan ceritanya, Musanip mengatakan bahwa 30 tahun yang lalu turis sudah lalu lalang di Desa Kembang Kuning, tetapi untuk menjadikan itu sebagai sebuah sumber penghasilan terjadi baru-baru ini.

    “(Dulu) kalau (Wisatawan) mengunjungi Tetebatu, kami (Desa Kembang Kuning) dilewati saja. Namun setelah 2014, peralihan metode online ke offiline kita mulai go digital mereka datang.” Ungkapnya.

    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip
    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip (Kiri). (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Market pasar Desa Kembang Kuning sendiri adalah wisatawan asal Eropa. Mulai dari 2014 itulah mereka mulai menawarkan produk destinasi atau paket wisata. Musanip menyebut, dengan Metode digital Desa Wisata Kembang Kuning bisa mengikuti ritme perkembangan jaman.

    “Barulah setelah memulai pemasaran secara online 2 sampai 3 bulan (kemudian) hampir setiap harinya ada tamu yang datang,” tegas Musanip.

    Adapun di Desa Kembang Kuning ini terdapat sebanyak 14 homestay dengan tarif bervariasi, yakni berkisar Rp150.000-Rp600.000 perhari.

    Desa Wisata Kembang Kuning

    Kedepannya, Musanip berharap Desa Kembang Kuning bisa menjadi desa terbersih dengan sistem yang memungkinkan produk-produk bisa terkelola dan terorganisir.

    Dia juga ingin, semua produk yang beredar di desa wisata ini memiliki akses satu pintu dan saling bekerjasama sehingga harganya bisa lebih murah. Selain itu, inovasi masalah pengelolaan sampah juga penting dan Desa Kembang Kuning perlu dikuatkan dengan masterplan.

    Baca juga : 

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis. Setiap gubuk dibangun dengan rapi dengan awik-awik. Perkembangan terlalu cepat, apalagi permasalahannya banyak orang luar punya banyak lahan disini,” tandas Musanip.

    NTB PROV

    Tak hanya menawarkan panorama sawah yang menawan di bawah perbukitan Gunung Rinjani, Desa Kembang Kuning juga menawarkan beraneka aktifitas sehari-hari warganya. Seperti proses pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan minyak kelapa.

    Selain itu, wisatawan juga dimanjakan dengan beraneka destinasi air terjun yang letaknya tak jauh dari Desa Kembang Kuning. Seperti Air terjun Ulem – ulem, Air terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. []

  • Mengenal Ombak Food, Salah Satu UKM di Desa Wisata Bonjeruk

    peloporberita.com/ – Lombok | Usaha Kecil Menengah (UKM) Ombak Food berdiri sejak 2017, yang berawal dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, Bonjeruk telah bertransformasi menjadi sebuah desa wisata yang unik dan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

    Pendiri Ombak Food Yosi Eka Kurniawati mengatakan bahwa usahanya berjalan dengan penuh perjuangan sejak awal berdiri pada 2017, karena setahun kemudian terjadi gempa bumi di Lombok. “2018 sudah mulai dikenal waktu itu, terus gempa, terus stop dulu, habis itu bangkit lagi pelan-pelan saya ikut kompetisi, dari situ mulai dikenal, mulai berkembang, terus pandemi lagi awal 2020,” ujarnya kepada wartawan di Desa Wisata Bonjeruk, Lombok, Senin (22/11/2021).

    Kemudian, Yosi mencoba inovasi produk saat pandemi dengan tujuan membuat orang penasaran, salah satunya adalah stik plecing kangkung. Ia pun memasarkannya lewat WhatsApp Group, serta media sosial Instagram @ombakfood dan Facebook Ombak Food. Strategi ini diakuinya berhasil membuat Ombak Food semakin dikenal, bahkan sampai di luar NTB, seperti Bali, Lampung dan Batam.

    Selain stik plecing kangkung, beberapa produk andalan Ombak Food adalah Jaje Ragi, Stik Daun Kelor, Stik Duri Ikan, Stik Buah Naga dan masih banyak lagi. Harga jualnya berkisar Rp 7.500 – Rp 30.000.

    Ombak Food juga ikut berpartisipasi dalam NTB Expo 2021 di ajang balap motor World Superbike (WSBK) 2021 yang berlangsung pada 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika. Yosi mengatakan, tidak ada satu pun produknya yang terjual pada hari pertama. “Terus saya coba untuk gimana caranya supaya ada daya tariknya pembeli mau datang. Akhirnya saya jual es, jual nasi, kopi untuk pelengkapnya. Karena setelah itu kan orang maunya nyemil gitu,” lanjutnya.

    Tidak hanya itu, ia juga memutuskan untuk berjualan lebih pagi, sehingga para panitia dan pekerja di WSBK bisa sarapan di stand Ombak Food sebelum acara dimulai. Strategi itu pun berhasil membuat stand Ombak Food semakin ramai dihari kedua dan ketiga WSBK. []

    Baca juga: Nikmatnya Nasi Ayam Merangkat, Kuliner Khas Desa Wisata Bonjeruk Lombok

  • Nikmatnya Nasi Ayam Merangkat, Kuliner Khas Desa Wisata Bonjeruk Lombok

    peloporberita.com/ – Lombok | Sektor pariwisata nasional perlahan mulai bangkit setelah mati suri akibat pandemi, termasuk di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain keindahan alam, kuliner tradisional juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan ke Lombok. Seperti halnya yang dilakukan Desa Wisata Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, yang menawarkan kuliner Nasi Ayam Merangkat.

    Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bonjeruk Usman mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada wilayah lain yang memasarkan Nasi Ayam Merangkat. “Di Lombok baru hanya ada di dua tempat di Bonjeruk (yang memasarkan Nasi Ayam Merangkat),” ujarnya kepada awak media, Senin (22/11/2021).

    Usman menjelaskan, merangkat adalah upacara prosesi di malam hari untuk menyambut kedatangan calon pengantin wanita yang baru saja tiba setelah “dilarikan” oleh calon pengantin pria. Makanan ini khusus disajikan kepada pengantin. Sedangkan masyarakat yang hadir akan mendapat dalam bentuk porsi. Biasanya ada telur yang dipecahkan sebagai tanda makan merangkat sudah bisa dimulai.

    “Prinsip kami adalah kami ingin memperkenalkan kuliner khas Bonjeruk yang tidak hanya didapat pada saat upacara merangkat, tapi bisa didapat setiap harinya di Pasar Bambu Desa Wisata Bonjeruk,” kata Usman.

    Ia mengingatkan bahwa ayam yang dipakai dalam masakan ini harus ayam kampung dan berusia tiga bulan supaya tulangnya lunak. “Bumbunya yang membedakan dengan kuliner Lombok lainnya adalah semuanya serba mentah dan ada daun limau. Kemudian menggunakan minyak kelapa, bukan minyak goreng,” tambahnya.

    Selain itu, Usman juga mengatakan, Nasi Ayam Merangkat harus pedas, untuk mengantisipasi ketika ayamnya sedikit tapi masyarakatnya banyak yang datang. Bagi yang tidak kuat makan pedas, maka bisa dinetralisir dengan sayur bening kelor.

    Mengingat Bonjeruk adalah desa wisata, Usman mengatakan saat ini tim pengelola Pasar Bambu Bonjeruk mengkombinasikan Nasi Ayam Merangkat dengan makanan khas Lombok lainnya, seperti beberok dan dendeng. Pokdarwis Bonjeruk memasarkan paket Nasi Ayam Merangkat dengan harga Rp 130.000 yang bisa disantap untuk tiga orang. []

    Baca juga: Berkah World Superbike Sampai ke Desa Wisata Bon Jeruk

  • Berkah World Superbike Sampai ke Desa Wisata Bonjeruk

    peloporberita.com/ – Ketua pokdarwis Bonjeruk Bapak usman menyebutkan, kehadiran sirkuit Mandalika menyemarakkan Pariwisata NTB. Desa Wisata Bonjeruk pun kebagian berkah dengan peningkatan jumlah pengunjung seiring Event World Superbike di sirkuit Mandalika.

    Bapak Usman menerangkan, hal tersebut tidak terlepas dari potensi desa wisata Bonjeruk antara lain, alamnya dengan lembah dan sungai, serta sawah yang bagus untuk bersepeda dan rumput bambu.

    “Ketertarikan anak muda terhadap budaya desa wisata Bonjeruk juga tinggi.”

    Selain itu, Desa Wisata Bonjeruk memiliki sejarah dan budaya yang menarik, yakni dimulai masa Belanda sekitar tahun 1886-1933. Selanjutnya ada kawasan dibawah Mandalika. Juga warisan budaya seperti Wayang, gendang Beleq, Gamelan presean, dan baca lontar.

    Ketua pokdarwis Bonjeruk Bapak usman
    Ketua pokdarwis Bonjeruk Bapak usman. (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Menurut Bapak Usman, antusias anak muda di desa Bonjeruk terhadap budaya mereka juga sangat tinggi.Menurut Bapak Usman, antusias anak muda di desa yang terletak di Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terhadap budaya mereka juga sangat tinggi.

    “Ketertarikan anak muda terhadap budaya desa wisata Bonjeruk juga tinggi, tetapi memang wadahnya tidak ada atau kurang,” sebutnya.

    Lebih lanjut, ketua Pokdarwis Bonjeruk juga menyampaikan bahwa diwilayahnya ada satu hal yang paling menarik yaitu, tebing purba batu yang baru dikunjungi sejak 100 thn lalu atau 4 generasi.

    “Namun, berdasarkan hasil penelitian tebing purba tersebut sudah ada sekitar 7 juta tahun lalu,” tegasnya.

    Namun sayang, belum ada Homestay di desa wisata Bonjeruk. Saat ini, 10 anggota masyarakat siap mendirikan homestay, namun belum ada fasilitas pendukungnya.

    Fasilitas tersebut antara berupa toilet yang memadai dan lain sebagainya. Meski demikian pengelola belum mengharap bantuan modal dari investor.

    “Bertahap saja (dana) dengan masyarakat karena Bonjeruk itu baru tiga tahun,” sebut Usman.

    Baca juga : 

    Kedepannya, Usman berharap agar masyarakat Bonjeruk melestarikan alam dan budayanya. Pemerintah Desa, Kabupaten, Provinsi, pun diminta untuk memberikan perhatian khusus.

    Serta, dengan adanya mandalika, hendaknya promosi desa wisata lebih ditingkatkan dan lebih di bina dan berkesinambungan. []

  • Astindo: Terima Kasih Pemerintah Sudah Membangun Sirkuit Mandalika

    peloporberita.com/ | Lombok – Event berskala internasional, World Superbike (WSBK) 2021 telah berlangsung sejak 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Acara ini bagaikan pembangkit bagi sektor pariwisita di Lombok, setelah mengalami puasa panjang akibat gempa bumi yang memporak-porandakan Lombok pada 2018 dan pandemi Covid-19 sejak 2020.

    “Terima kasih kepada pemerintah karena sudah membangun Sirkuit Mandalika,” kata Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) wilayah NTB Sahlan M. Saleh kepada awak media, Sabtu (20/11/2021).

    Sahlan mengakui event ini terasa sedikit dipaksakan diadakan November ini, namun menurutnya acara ini bisa membangkitkan asa para pelaku usaha pariwisata. “Asa kita itu tumbuh. Hidup kita kelihatan. Tadinya karyawan saya sudah tidur-tiduran,” tambah Sahlan.

    Selama pandemi, menurut Sahlan, tidak sampai 10 anggota Astindo NTB yang berhasil bertahan, dari total 68 anggota. Ia mengatakan ada beberapa anggota yang tidak yakin bahwa WSBK akan memberikan perubahan terhadap sektor pariwisata di Lombok.

    Namun kenyataannya sejak WSBK, tingkat kunjungan wisatawan di Lombok meningkat beberapa ratus persen dibanding bulan lalu saat pemerintah menerapkan pembatasan perjalanan akibat pandemi.

    Sahlan pun optimistis keadaan akan semakin membaik, ketika ajang Moto GP berlangsung pada Maret 2022. []

  • World Superbike Bikin Denyut Ekonomi Lombok-Sumbawa Berdegub Kencang

    peloporberita.com/ | Lombok – Event world superbike (WSBK) memicu denyut perekonomian Lombok-NTB. Dampak perhelatan WSBK, tidak hanya dirasakan pelaku industri pariwisata di level atas. Pelaku usaha di level menengah ke bawah juga ikut tersenyum melihat kondisi ekonomi warga mulai membaik.

    Perhelatan event WSBK di sirkuit Mandalika sepekan terakhir membuat denyut perekonomian masyarakat Lombok Sumbawa berdegub kencang. Dampak pertumbuhan ekonomi, tidak saja dirasakan pelaku usaha di level menengah ke atas. Masyarakat di level bawah pun, mulai sumringah menyambut dampak perhelatan motor sport internasional ini.

    “Bila perlu, waktu pagelaran world superbike ini ditambah hingga beberapa hari ke depan. Biar ekonomi Lombok ini tumbuh subur,” kata seorang pengusaha kuliner, Rini, Minggu (21/11/2021).

    “Hotel penuh, restaurant panen, semoga toko souvenir dan destinasi wisata juga banyak dikunjungi wisatawan menonton WSBK.”

    Rini mengumpamakan, seperti musim kemarau merindukan hujan, begitulah kondisi ekonomi Lombok kini. Hampir dua tahun ekonomi terpuruk akibat pandemi, sekarang diguyur dan tumbuh subur.

    “Tentu kami sangat bersyukur, dan semoga ini menjadi pertanda ekonomi NTB akan menjadi lebih baik ke depan,” sebutnya.

    Hal yang sama diungkapkan Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Sahlan M. Saleh. Menurutnya, Pemulihan pariwisata yang berdampak langsung ke pertumbuhan ekonomi warga kian terasa.

    “Perhelatan WSBK ini menjadi trigger pemulihan pariwisata Lombok Sumbawa. Saya cukup merasakan perbaikan dan dampak cukup signifikan di perusahaan saya. Ini menjadi pertanda baik pertumbuhan ekonomi Lombok Sumbawa kian membaik,” tegas di depan awak media.

    Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi pun mengkonfirmasi perihal pemulihan pariwisata NTB yang dimulai Oktober lalu. Denyut pertumbuhan dan pemulihan pariwisata Lombok Sumbawa kian terasa setelah event WSBK digelar.

    “Hotel penuh, restaurant panen, semoga toko souvenir dan destinasi wisata juga banyak dikunjungi wisatawan menonton WSBK,” sebut Yusron. []

  • Euforia WSBK, Astindo: Pariwisata NTB Sudah Mendekati Normal

    peloporberita.com/ | Lombok – Tidak diragukan lagi, penyelenggaraan event berskala Internasional World Superbike Mandalika yang berlangsung 19-21 November 2021, merangsang kembali bisnis Pariwisata di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sebelumnya mati suri akibat gempa Lombok dan Pandemi Covid-19.

    “Sejauh ini dengan adanya sirkuit Mandalika menjadi trigger untuk pemulihan pariwisata. Dari perusahaan saya sendiri juga ternyata peningkatannya cukup signifikan dilihat dari kedatangan tamu kita,” tutur Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Sahlan M. Saleh kepada wartawan saat diwawancarai Sabtu, 21 November 2021.

    “Sudah mendekati normal,”

    Bahkan untuk memenuhi kebutuhan minibus para wisatawan di event WSBK, Astindo sampai meminta bantuan dari pelaku bisnis travel di Bali.

    “Dalam event WSBK ini, kita hampir kesulitan mencari minibus seperti Avanza, Innova dan Alphard. Bahkan kami minta teman-teman di Bali untuk dibawa kesini,” ungkapnya.

    Sahlan juga menyebutkan dengan adanya WSBK, tingkat kunjungan wisatawan di Lombok meningkat beberapa ratus persen dibanding bulan lalu saat Pemerintah menerapkan pembatasan perjalanan lantaran pandemi Covid-19. Sedangkan jika dibanding periode yang sama dengan tahun sebelum gempa, peningkatannya 100%.

    “Sudah mendekati normal,” ucapnya menjelaskan kondisi pariwisata di NTB.

    Baca juga :

    Meski demikian, kedepannya Sahlan berharap agar harga tiket bisa ditetapkan dari jauh-jauh hari sebelum acara. Ia juga menginginkan tiket untuk warga Indonesia diberi harga khusus, terlebih untuk warga lokal. Selain itu, promosi juga perlu ditingkatkan dan management pengaturan tiket harus diperbaiki.

    “Kami (Astindo), mempunyai waktu satu bulan untuk membuat produk ketika harga itu sudah rilis. Sangat mepet, kurang dari sebulan atau (hanya) 3 minggu,” tandasnya.

    Sementara Kepala Dinas Pariwisata NTB, Yusron Hadi, mengkonfirmasi perihal pemulihan pariwisata NTB mulai Oktober lalu. Denyut pertumbuhan dan pemulihan pariwisata Lombok Sumbawa kian terasa setelah event WSBK digelar.

    “Hotel penuh, restaurant panen, semoga toko souvenir dan destinasi wisata juga banyak dikunjungi wisatawan penonton WSBK,” tandas Yusron penuh harap. []

  • Gubernur NTB: Feedback Positif WSBK, Penerbangan ke Lombok dan Hotel Penuh

    peloporberita.com/ – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zulkieflimansyah menginformasikan, jelang gelaran Pelaksanaan seri terakhir World Superbike Championship (WSBK) 2021 di Sirkuit Internasional Jalan Raya Mandalika pada 19-21 November, penerbangan ke Lombok dan hotel di wilayah tersebut sudah terisi penuh.

    “Kami informasikan penerbangan ke Lombok sekarang penuh semua dan hotel sudah penuh semua, tidak hanya di Mandalika. WSBK ini akan menjadi feedback yang positif untuk Lombok, Indonesia, dan dunia,” tuturnya dalam acara Forum Merdeka Barat 9 Selasa (16/11/2021).

    Baca Juga :

    Pria yang akrab disapa Bang Zul ini yakin, WSBK Mandalika bisa menjadi candradimuka dan sebagai jalan agar olahraga balap di Indonesia kian mendunia.

    “Ini menggembirakan, seperti mimpi yang jadi kenyataan. Meski MotoGP masih tahun depan, tapi getarannya sudah terasa. Gairahnya sangat terasa. Ini luar biasa,” ungkap Bang Zul.

    Sebelumnya, Indonesia tercatat telah empat kali menggelar WSBK. Penyelenggaraan pertama berlangsung pada tahun 1994, dilanjutkan pada tahun 1995, 1996, dan 1997 jadi edisi terakhir. Sedangkan untuk MotoGP, sudah dilaksanakan dua kali di Indonesia, yaitu pada musim 1996 dan 1997. []

  • Personel Nakes Satgas Yonmek 403/WP Terima Vaksin Moderna

    peloporberita.com/ | Personel tenaga kesehatan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 403/Wirasada Pratista mulai melaksanakan suntik vaksin Covid-19 tahap ketiga jenis Moderna di Kantor Dinas Kesehatan Keerom Kampung Wor Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua.

    Kegiatan vaksinasi tahap ketiga jenis Moderna ini diharapkan dapat menambah imun atau daya tahan tubuh petugas kesehatan Satgas TNI, sehingga dapat terus berkontribusi dalam mendukung program pemerintah melaksanakan program vaksinasi di wilayah perbatasan RI-PNG.

    “Semoga semua unsur pemerintahan baik TNI-Polri, dan instansi kesehatan pemerintah terkait lainnya di Provinsi Papua ini dapat selalu bersinergi demi menyukseskan kegiatan program vaksinasi Covid-19 ini untuk menuju Indonesia bebas Covid-19,” ungkap Dansatgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 403/Wirasada Pratista Letkol Inf Ade Pribadi Siregar, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, (14/11/2021).

    Baca juga: Papua Mulai Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

    Sementara itu, Dokter Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Mekanis 403/Wirasada Pratista Lettu Ckm dr. Kristia Yudha Bayu mengatakan bahwa tim kesehatan pos jajaran selalu siap mendukung program pemerintah dengan ikut menyukseskan dan mengawal proses vaksinasi Covid-19, terutama di wilayah Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

    “Dengan vaksin ini, kita berharap akan mendukung dalam pelaksanaan tugas, sehingga dapat lebih maksimal dalam membantu kesulitan masyarakat dan menjaga kesehatan masyarakat di wilayah perbatasan,” tutur Bayu. []