Tag: NTB

  • Kemendag dan Astra International Lepas Ekspor Olahan Sorgum NTB

    peloporberita.com/ – Kementerian Perdagangan bersama PT. Astra International melepas ekspor sepuluh jenis produk olahan sorgum bernilai Rp700 juta ke Timor Leste dan Malaysia pada Sabtu (22/1/2022) di Dusun Lokok Sutrang, Desa Santong Mulia, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Pelepasan ekspor tersebut berlangsung bersamaan dengan panen raya sorgum di lokasi yang sama. Produk-produk yang diekspor kali ini, diproduksi oleh CV. Yant Sorghum yang membina petani sorgum di Desa Sejahtera Astra (DSA) Lombok, NTB.

    Kesepuluh produk olahan sorgum yang dilepas ekspornya adalah keripik tempe sorgum, roll sorgum, puff sorgum, keciput sorgum, stik bawang sorgum, beras sorgum, tepung sorgum, biskuit sorgum, gula cair sorgum kemasan botol dan saset, serta sendok dan garpu berbahan sorgum yang bisa dimakan (edible sorghum spoon and fork).

    Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Didi Sumedi, menyambut positif panen raya sorgum untuk ekspor itu. Ia berharap desa binaan Astra mampu mencetak eksportir yang dapat mengekspor produk-produk mereka secara berkesinambungan.

    “Kegiatan hari ini merupakan salah satu implementasi Kerja Sama Pengembangan Ekspor Produk Unggulan Desa dengan PT. Astra International Tbk yang bertujuan meningkatkan kapasitas ekspor desa ke pasar global, salah satunya adalah produk olahan sorgum. Sejak diformalkan pada 28 Juli 2021, Kemendag dan Astra berkomitmen bahwa dari sekitar 900 desa binaan Astra, minimal 100 desa harus mampu ekspor secara mandiri dan mendapatkan repeat order dalam kurun waktu dua tahun, yaitu pada 2023 mendatang,” tutur Didi.

    Kemendag dan Astra International Lepas Ekspor Olahan Sorgum NTB
    Kemendag dan Astra International Lepas Ekspor Olahan Sorgum NTB. (Foto:Pelopor.id/Kemendag)

    Kegiatan pelepasan ekspor ini turut dihadiri Bupati Lombok Utara Djohan Sjamsu, Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Kemendag Ni Made Ayu Marthini, Head of CSR Communication PT. Astra International Tbk Bima Krida Pamungkas, pemilik CV. Yant Sorghum Nur Rahmi Yanti, dan perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT).

    Dalam kesempatan itu, Ni Made Ayu Marthini menyampaikan komitmen Kemendag untuk mendukung produk-produk bernilai tambah yang inovatif, seperti hasil olahan sorgum ini. Menurutnya, sorgum bisa menjadi sumber pangan alternatif menggantikan gandum, padi, atau jagung, yang dapat dikreasikan menjadi berbagai bentuk makanan dan minuman olahan. Hal yang menarik adalah inovasi sendok dan garpu dari sorgum.

    “Hal ini yang ingin kami dorong promosinya, sekaligus mengedukasi buyers bahwa produk ini sustainable karena bersifat bebas sampah (zero waste). Kami akan berkoordinasi dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri untuk membukakan akses pasar di 46 kota yang menjadi akreditasi dari Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center,” ungkap Made.

    Sorgum sendiri merupakan tanaman bersifat zero waste product. Biji, batang, dan daun dapat diolah menjadi sejumlah produk. Biji sorgum dapat diolah menjadi tepung, pakan ternak, nasi, dan biskuit. Batangnya dapat diolah menjadi gula, pakan sapi, kompos, dan permen. Sedangkan daunnya dapat diolah menjadi kompos, pewarna alami, dan keripik.

    Program DSA sorgum Lombok mampu mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencoba bangkit dari dampak gempa bumi 2018 dan pandemi Covid-19. Program yang dimulai 5 tahun lalu dengan dua desa binaan, saat ini jumlahnya meningkat menjadi 22 desa dan melibatkan lebih dari seribu petani di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Lombok Selatan dengan konsep korporasi petani.

    Berkembangnya DSA sorgum ini, turut berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, khususnya ibu rumah tangga yang terlibat dalam proses pengolahan menjadi berbagai aneka makanan dan minuman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor olahan serealia Indonesia selama lima tahun terakhir (2016–2020) tumbuh dengan tren sebesar 12,16 persen per tahun.

    Pada periode Januari sampai November 2021, nilainya tercatat sebesar USD 4,6 juta atau turun 10,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020. Pasar ekspor utama olahan serealia Indonesia adalah Korea, Turki, India, Hong Kong, Taiwan, Timor Leste, Malaysia, Australia, Kanada, dan Arab Saudi. []

  • Presiden Jokowi Luncurkan Holding BUMN Pariwisata “Injourney”

    peloporberita.com/ – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung, pada Kamis (13/01/2022). Peluncuran induk usaha yang diberi nama Injourney ini dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kuta Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Injourney, Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung pada hari ini di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat,” tutur Presiden dalam sambutannya.

    Pembentukan holding ini adalah upaya mengonsolidasikan dan mengintegrasi BUMN-BUMN yang bergerak di bidang pariwisata dan pendukungnya.

    “Saya melihat penataan BUMN pariwisata ini adalah keharusan. Karena selama ini saya melihat BUMN dengan anak yang banyak, dengan cucu-cucu yang banyak, bergerak di sektor pariwisata dan pendukungnya yang jumlahnya juga sangat banyak, bergerak dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.

    Menurut Kepala Negara, BUMN-BUMN beserta anak dan cucunya tersebut selama ini berjalan sendiri-sendiri sehingga menjadi lemah. Oleh sebab itu, dengan adanya holding, Presiden mengharapkan akan membentuk sebuah kekuatan besar.

    Holding ini akan mengonsolidasikan BUMN sektor pariwisata dan pendukungnya mulai dari penerbangan, pelayanan bandar udara, hotel, atraksi, manajemen kawasan destinasi wisata, retail, dan lain-lainnya.

    “Dengan membentuk Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung, pengelolaan pariwisata kita akan insyaallah akan bisa dilakukan secara efisien, terintegrasi dari hulu sampai hilir,” sebut Presiden.

    “Mulai penataan rute penerbangan, konten promosi, event, atraksi, kuliner, akomodasi sampai ke penjualan retail-retail suvenir dari para perajin-perajin kita yang tentu saja juga sudah terseleksi dengan baik,” sambungnya.

    Selain itu, Kepala Negara menekankan bahwa restrukturisasi harus membuat holding BUMN pariwisata menjadi gesit dan lincah serta profesional.

    “Kunci ini, membuat tata kelola menjadi lebih efisien dan lebih simpel dan sederhana. Jangan sampai justru muncul keribetan-keribetan baru, atau memindahkan persoalan-persoalan lama ke bentuk persoalan-persoalan baru,” pungkasnya. []

  • Sandiaga Uno Yakin MotoGP Mandalika Geliatkan UMKM NTB

    peloporberita.com/ – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Baparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno yakin, ajang MotoGP Indonesia 2022 akan bermanfaat bagi kebangkitan ekonomi terutama dalam mendongkrak kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    “MotoGP sangat bermanfaat bagi ekonomi masyarakat setempat terutama UMKM. Ini yang dipastikan, dan pemerintah memberikan perhatian khusus,” tutur Sandiaga dalam Rapat Sinkronisasi Panitia Nasional Pendukung Penyelenggaraan MotoGP Tahun 2022 di Novotel Mandalika, NTB dikutip Rabu, (12/1/2022).

    MotoGP
    Ilustrasi MotoGP. (Foto:pelopor.id/IG Sirkuit mandalika)

    Menurut Menparekraf, para pelaku UMKM akan mendapat berkah ekonomi yang menjanjikan lantaran ajang balap internasional ini diprediksi akan dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai negara dan tanah air.

    “Kami terus siapkan penyelenggaraan MotoGP Indonesia 2022 agar pelaksanaannya nanti pada Maret bisa berjalan dengan lancar. Dari sembilan isu utama, ada progres yang signifikan. Rencananya Presiden Joko Widodo akan meninjau langsung persiapan MotoGP yang menjadi simbol kebangkitan ekonomi,” ungkapnya.

    Terkait UMKM, Kemenparekraf sudah berbagi tugas dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM). Tak hanya itu, Sandiaga uno juga akan menggandeng berbagai pihak untuk memberikan keleluasaan kepada sektor parekraf dalam ajang promosi.

    “Kemenparekraf akan menangani dari sisi digital dan promosi, sementara Kementerian Koperasi dan UKM menangani fisik, dan dibantu serta dikurasi oleh Bank Indonesia. Nantinya kita fasilitasi UMKM yang ada di NTB, UMKM yang berada di 5 DSP (Destinasi Super Prioritas) dan UMKM lainnya yang ada di Indonesia, ” tegasnya.

    Berdasarkan kalender MotoGP, pelaksanaan Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika akan berlangsung bulan Maret mendatang. Sebelumnya pada Februari dijadwalkan tes resmi MotoGP di sirkuit tersebut. []

  • Sukses Selenggarakan Event Internasional, Yusron Hadi: Sektor Pariwisata NTB Siap Bangkit dan Pulih

    peloporberita.com/ – Kepala Dinas Pariwisata Nusa tenggara Barat (Kadispar NTB), Yusron Hadi menyebut sektor pariwisata di wilayahnya siap untuk bangkit dan pulih. Pernyataan ini, sesuai dengan kenyataan bahwa sebelumnya NTB telah sukses menyelenggarakan event berbasis Internasional dengan sukses tanpa adanya laporan peningkatan jumlah kasus Covid-19.

    “Ini membuktikan NTB baik-baik saja dan siap untuk pulih sehingga dapat menyelenggarakan event-event internasional lainnya.”

    Event Internasional yang sukses dibawah kepemimpinan Yusron Hadi sebagai Kadispar seperti Hutama Karya (HK) Endurance Challenge, Idemitsu Asia Talent Cup (IATC), dan World Superbike (WSBK)

    “Ini membuktikan NTB baik-baik saja dan siap untuk pulih sehingga dapat menyelenggarakan event-event internasional lainnya,” tuturnya dalam Webinar “Pemulihan Pariwisata Indonesia Melalui Optimalisasi Pemanfaatan Platfom Online dilansir dari Instagram lomboksumbawago, Sabtu,(11/12/2021).

    Yusron Hadi juga menjelaskan, bahwa di tengah Covid-19 yang masih melanda saat ini, platfom-platfom digital memiliki peran penting dalam membantu promosi khususnya di bidang pariwisata.

    Baca juga :

    Sehingga, meskipun wisatawan masih dibatasi dalam beraktifitas, mereka bisa dapat mendapatkan informasi seputar pariwisata melalui media online.

    “Melalui pemanfaatan platfom menjadi pilihan yang tepat, sehingga kegiatan-kegiatan yang harusnya dilakukan secara langsung bisa dilaksanakan secara virtual dengan tepat,” tandasnya.

    Yusron Hadi, merupakan Putra asli Lombok yang meraih gelar Sarjana Tehnik (ST) Perencanaan Wilayah dan Kota di Malang pada tahun 1995. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan S2 dan mendapatkan gelar Master of Urban Management (MUM) di University of Canberra, Australia, pada tahun 2001.

    Sebelum diangkat sebagai Kepala Dinas Pariwisata NTB, ia menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB pada 2019-2021, Ia juga menjadi Kepala Biro Organisasi Setda NTB pada tahun 2017-2019.

    Selama Yusron mengabdi sebagai PNS, cukup banyak pencapaian yang sudah ia raih, antara lain menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB 2010-2030, memfasilitasi Juara 3 Nasional Anugerah Perencanaan Pembangunan Daerah bagi Provinsi skala menengah pada tahun 2013-2014.

    Tak hanya itu, Yusron Hadi juga memfasilitasi Golden Award bagi Pemerintah Provinsi NTB dalam Pelayanan Publik dari Ombudsman RI 2018, serta memfasilitasi pembangunan Samsat Kapal Perikanan Provinsi NTB pada tahun 2020. []

  • Mengenal Gendang Beleq, Musik Tradisional Lombok Penyambut Pasukan Perang

    peloporberita.com/ – Gendang Beleq, pasti sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Lombok. Yakni, salah satu musik tradisional yang sudah digunakan secara turun temurun dan diwariskan oleh orang terdahulu yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Gendang Beleq, merupakan sekelompok penabuh gendang yang terdiri dari belasan personel yang kerap tampil sebagai penghibur pada saat hajatan seperti pengiring tradisi nyongkolan, pelaksaan khitanan dan kegiatan tradisi lain yang ada di Lombok.

    Baca juga : Mengenal Ritual Mandi Safar dan Manfaatnya Bagi Pariwisata NTB

    Gendang Beleq berasal dari Suku Sasak (Suku yang mendiami Pulau Lombok). Gendang berasal dari bunyi gendang itu sendiri, yaitu deng atau dung. Sedangkan Beleq berasal dari bahasa Sasak yang berarti besar. Sehingga Gendang Beleq berarti gendang besar.

    Jauh sebelum gendang beleq di fungsikan sebagai pengiring hiburan tepatnya pada abad ke-14 Masehi atau zaman kedatuan, gendang beleq sering digunakan sebagai penyemangat kepada pasukan perang ketika hendak dan pulang dari perang.

    Gendang Beleq
    Gendang Beleq, Musik Tradisional Lombok. (Foto:Pelopor.id/Ist)

    Namun seiring perkembangan zaman, gendang beleq mengalami pergeseran fungsi yang dulunya digunakan untuk menyambut pasukan perang, kini digunakan sebagai musik penyambutan kedatangan para tamu, hingga acara-acara kebudayaan.

    Gendang Beleq dimainkan secara berkelompok dengan membentuk semacam orkestra yang terdiri dari dua Gendang Beleq yang disebut mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika.

    Baca juga : Mengungkap Potensi Besar Ekspor Ikan Arwana

    Selain itu, juga terdiri atas sebuah Gendang Kodeq (gendang kecil), perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong dan dua buah reog, yakni reog nina dan reog mama sebagai pembawa melodi. Pemain Gendang Beleq memainkan Gendang Beleq sambil menari. Biasanya, pemain Gendang beleq terdiri dari 13 sampai 17 orang.

    Gendang Beleq selain memiliki nilai filosofis juga disakralkan oleh masyarakat Suku Sasak. Mereka menilai, Gendang Beleq memiliki nilai keindahan, ketekunan, kesabaran, kebijakan, ketelitian, dan kepahlawanan. Nilai-nilai inilah yang selalu diharapkan menyatu dengan hati masyarakat Suku Sasak. []

  • Astindo Minta Gubernur NTB Standarisasi Harga Hotel dan Transportasi Jelang MotoGP 2022

    peloporberita.com/ – Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) mencium aksi pemilik modal besar ingin ‘menguasai’ lini transportasi, hotel dan sistem ticketing sebagai sentral bisnis dalam perhelatan World Superbike (WSBK) November lalu. Sehingga mereka meminta Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah turun tangan menentukan standarisasi harga alias batas harga bawah dan atas jelang MotoGP Mandalika Maret 2022.

    “Terutama soal hotel karena kenaikan harga kamar naik sampai 300 persen,” tutur Ketua Astindo NTB, Sahlan M. Saleh dalam jumpa pers di sekretariat Astindo NTB, Minggu sore(5/122021).

    Menurut Sahlan, eforia WSBK dimanfaatkan sebagai ‘aji mumpung’ kalangan tertentu di luar NTB untuk meraup keuntungan besar. Sementara pelaku dan asosiasi pariwisata lokal hanya mendapatkan sebagian kecil saja.

    “Kami terbuka untuk berdiskusi dan komunikasi. Pak Gubernur dan Bupati, tolong fasilitasi kami.”

    Soal tiket, Sahlan menyampaikan bahwa pihaknya ingin diberi kuota 2-5 ribu tiket dalam ajang tersebut. Selain itu, Astindo juga berharap diberi hak login ke Xplorin (agen resmi penjualan tiket WSBK dan MotoGP) sesuai reserpasi yang diberikan ke Astindo. Dan tidak dijual dadakan seperti perhelatan WSBK November 2021.

    “Astindo meminta ITDC merilis tiket MotoGP lebih awal, setidaknya bulan Desember ini sudah keluar. Tidak seperti WSBK kemarin. Kami hanya diberi waktu tiga minggu. Kami kewalahan menjual paket. Kami sulit cari transportasi dan kamar hotel,” ungkapnya.

    Sahlan menjelaskan, hal tersebut membuat banyak pihak akhirnya main-main dengan harga. Sementara Astindo tidak ingin MotoGP menjadi preseden buruk bagi NTB lantaran harga yang terlalu tinggi.

    Astindo
    Astindo Minta Gubernur NTB Standarisasi Harga Hotel dan Transportasi Jelang MotoGP 2022. (Foto:Pelopor.id/Hasan)

    Sahlan juga menyayangkan sikap owner hotel di Lombok khususnya, lantaran mereka menjual langsung kamar hotelnya ke pengusaha besar di luar Lombok Sumbawa. Harga jualnya pun cukup tinggi. Langkah itu justru akan ‘mematikan’ usaha asosiasi lokal.

    “Ini namanya tidak ada keberpihakan terhadap kearifan lokal. Perihal kamar hotel ini, kami juga minta diberi jatah kuota 50 persen dari ketersediaan kamar. Kalangan kapital booking sendiri kamar hotel. Kalau begini caranya habis kita…habis kita pak. Modal kami tak seberapa tapi kalau dikuasai kapital hancur kami….hancur..,” ucapnya mengungkapkan kekecewaan.

    Selanjutnya Astindo memohon kepada Pemerintah daerah, Gubernur dan para Bupati agar segera turun tangan. Menertibkan dan segera memberlakukan sistem standarisasi harga, hotel dan transportasi. Kebijakan ini, dinilai perlu untuk memberi rasa prinsip berkeadilan dan berpihak kepada kearifan lokal.

    “Kami terbuka untuk berdiskusi dan komunikasi. Pak Gubernur dan Bupati, tolong fasilitasi kami,” tegas Sahlan.

    Sekretaris Astindo NTB, Abdul Haris dalam kesempatan yang sama menambahkan, bahwa pemerintah harus berpihak kepada pengusaha lokal.

    “Mau tidak mau, suka tidak suka event ini ada di NTB, jadi wajar kalau pengusaha lokal diutamakan. Bagi teman-teman hotel, dalam kesempatan ini jangan ‘balik punggung’. Hanya beri kesempatan pengusaha luar. Ingat loh kami ini mitra, ketika lagi tidak ada event seperti ini kami yang banyak membantu. Selepas dari event ini mereka kan berafiliasi dengan kami juga,” tandas Haris. []

  • Kemenparekraf Gelar Konferensi Infinity Experience of Nature and Sport Tourism

    peloporberita.com/ – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar Internasional Conference Mandalika “Infinity Experience of Nature and Sport Tourism”, yang dilangsungkan secara hybrid di Raja Hotel Kuta Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Konferensi internasional ini, merupakan kolaborasi antara Kemenparekraf/Baparekraf dengan Kompas untuk menggali penguatan produk wisata di Mandalika agar bertaraf internasional dengan potensinya yang menawarkan pengalaman tak terbatas terkait alam dan olahraga.

    “Kita bersyukur Mandalika yang termasuk dalam cagar biosfer Rinjani telah mendapat pengakuan dunia melalui UNESCO. Kesuksesan berbagai event olahraga internasional yang digelar di destinasi Mandalika juga telah menunjukkan daya saingnya di mata dunia,” tutur Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, saat membuka konferensi internasional Infinity Experience of Nature and Sport Tourism secara daring, Rabu (1/12/2021).

    “Melalui pelaksanaan gelaran event internasional ini diharapkan mampu menggerakkan kembali perekonomian di Mandalika dan memberikan dampak kesejahteraan bagi masyarakat lokal,” sambungnya

    Konferensi internasional Mandalika menghadirkan berbagai pembicara yang terbagi ke dalam dua sesi. Pada sesi pertama Sesi I hadir dengan tema: “Menggali Kesiapan Kawasan Wisata Olahraga Mandalika”, dengan pembicara Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kemenkomarves Odo RM Manuhutu.

    Baca juga :

    Serta, Country Manager VITO Perancis  & Founder House of Indonesia di Paris, Ekawati Moncarre; Akademisi Universitas Mataram, Dr. M. Firmansyah; Budayawan Sasak Lombok, Lalu Putria serta Wartawan Senior Harian Kompas, Adi Prinantyo.

    Pada sesi II hadir dengan tema: “Kunci Pengembangan Wisata Olahraga dan Ekonomi Kreatif Kawasan Mandalika”, dengan pembicara Founder of Javara, Helianti Hilman; Presiden Direktur Dyandra Promosindo, Hendra Noor Saleh; Event Director Rinjani Geopark Sport Tourism Festival, Mohammad Farid Zaini dan Race Director L’Etape Indonesia by Tour de France, Zacky Badrudin.

    “Besar harapan saya kegiatan ini dapat menciptakan inovasi dan terobosan baru dalam pengembangan destinasi super prioritas Mandalika sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Untuk itu, kita harus ‘gercep’ gerak cepat, ‘geber’ gerak bersama, dan ‘gaspol’ garap semua potensi agar lapangan kerja terbuka seluas-luasnya,” ungkap Menparekraf. []

  • Polda NTB Terima Catatan dari Dorna Sport Terkait WSBK 2021

    peloporberita.com/ – Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB), Irjen Pol Muhammad Iqbal, menerangkan pihaknya menerima catatan yang diberikan oleh Dorna Sport terkait pengamanan selama ajang Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) dan World Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika yang berakhir pekan lalu.

    Catatan tersebut berkaitan dengan hasil evaluasi yang harus dipersiapkan lebih baik lagi untuk pengamanan MotoGP bulan Februari dan Maret 2022 mendatang. Menurut Kapolda NTB, list dari pihak Dorna Sport itu akan didiskusikan bersama MGPA dan ITDC sebagai pemilik sirkuit.

    Selain itu, Polda NTB juga akan berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memperkuat pengamanan MotoGP mendatang. Pertimbangan jumlah pengunjung MotoGP yang diprediksi lebih banyak dari event IATC dan WSBK 2021, menjadi dasar peningkatan pengamanan.

    Baca juga :

    “Semua nanti akan dikonsolidasikan, strategi apa yang harus kita kuatkan saat MotoGP khususnya pada ring 1 dan ring 2,” tutur Muhammad Iqbal dikutip dari Tribratanews  Selasa, 30 November 2021.

    Di ajang IATC dan WSBK 2021, aparat TNI-Polri melakukan pengamanan hingga ke ring (lapisan pengamanan) 2. Mulai dari pagar luar sirkuit hingga areal paddock pembalap.

    Berdasarkan aturan pengamanan sirkuit kelas internasional, ring 2 seharusnya menjadi tanggung jawab penyelenggara. Sedangkan untuk aparat keamanan dari pihak pemerintah, hanya ada di lapisan pengamanan 3, terbatas hingga pagar luar sirkuit.

    Tetapi, karena pihak penyelenggara dari Dorna Sports dan MGPA kewalahan mengatasi penonton yang masuk ke gerbang areal sirkuit dan areal hiburan di ring 1 yang berada di tengah areal balap, TNI-Polri terpaksa masuk membantu pengamanan.

    “Saya telah membicarakannya kepada pihak penyelenggara, Dorna Sports dan MGPA. Memang ini penting bagi penyelenggara dan secara terpisah saya sudah berbicara dengan Dorna,” tegasnya.

    Adapun catatan lainnya, pertama manajemen transportasi penonton, berikutnya manajemen ticketing, selanjutnya mengenai manajemen parkir, penerangan di lokasi-lokasi parkir, menajemen stand kuliner, UMKM dan merchandise.

    Selain itu Kapolda ingin sign board di perbanyak, penyempurnaan drainase untuk mengantisipasi hujan lebat, penyempurnaan kenyamanan grand stand tempat penonton, manajemen pengamanan tier 1, manajemen pengamanan paddock area, antisipasi hujan lebat oleh penyelenggara race.

    Selanjutnya, Iqbal ingin masalah sosialiasi lebih maksimal baik dari segi pengamanan seperti pengamanan event, prokes, transportasi bus dan tiket parkir. []

  • Mengintip Kondisi Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu

    peloporberita.com/ | Lombok – Kawasan wisata Tete Batu yang kini dikenal dengan nama Desa Wisata Tete Batu, ternyata sudah menjadi kawasan wisata yang populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara sekitar tahun 1990-an. Tete Batu, dengan mudah saja menarik perhatian lantaran keindahan alamnya yang membuat peancong terkagum-kagum.

    Tete Batu yang terus mendulang kepopuleran, tentu berimbas pada berbagai industri pariwisata yang mendukungnya seperti penginapan (homestay), souvenir industri rumahan dan transportasi, bahkan sebagai motivator berdirinya desa-desa wisata lain di sekitarnya.

    “Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini.”

    Salah satu tempat yang namanya begitu mencuat adalah sebuah penginapan bernama Wisma dr. Soedjono yang memang berlokasi tepat di Tete Batu. Wisma Soedjono, merupakan wisma peninggalan seorang tokoh nasional yang punya peran strategis dalam mengentaskan wabah penyakit kolera di Lombok Timur yakni, dr. Soedjono.

    “Wisma dr Soedjono di Tete Batu ini dibangun oleh dokter pertama yang ada di Lombok Timur, yakni bapak mertua saya, dr. Soedjono,” tutur Hj. Surdini Soeweno yang merupakan istri dari Raden Soeweno, anak dari dr Soedjono dalam wawancara kepada media belum lama ini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Ardi)

    Konon, bangunan wisma berarsitektur Eropa itu awalnya ditempati dr. Soedjono bersama istrinya. Namun sepeninggal beliau, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertamanya dr. Soedjono yakni Raden Soeweno.

    Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya masih banyak kerabatnya yang ingin berkunjung ke wisma tersebut. Mereka pun datang dan menginap di rumah itu sekaligus mengenang kembali masa-masa bersama yang dilewati dengan sang dokter.

    Baca juga :

    Nah, keturunan dr. Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun sekitar tahun 1970-an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesanggrahan sang dokter. Upaya pengembangan kemudian kembali dilakukan sekitar tahun 1980-an.

    Kesaksian Hj. Surdini Soeweno

    Menurut Hj. Surdini Soeweno yang juga sempat menjabat sebagai Kepala Desa Tete Batu ini, sejarah keberadaan Wisma dr. Soedjono ini sudah sama tuanya dengan keberadaan pemerintah Kabupaten Lombok Timur, bahkan mungkin sejak sebelum itu, yakni pada saat Indonesia masih dijajah pemerintah Kolonial Belanda.

    “Cerita singkatnya, pada saat dr. Soedjono bertugas di Kabupaten Lombok Timur, dia membangun sebuah rumah yang berada di kawasan Tete Batu ini sebagai tempat peristirahatan bersama teman-teman dan para tamu dari luar negeri. Rumah yang dibangun di kawasan obyek wisata ini tidak begitu luas, hanya memiliki empat unit kamar, satu ruang tamu, lobby, dan satu ruang makan,” sebut Hj. Surdini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Foto hitam putih di dinding Wisma dr. Soedjono Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Tantri Lestari)

    Oleh sebab itu, ketika kita memasuki bangunan bersejarah yang sekarang telah beralihfungsi menjadi Wisma dr. Soedjono ini, mata kita langsung akan dibawa mengenang ke masa lalu, yaitu pada zaman Belanda. Bagaimana tidak, nyaris seluruh hiasan kamar yang ada dirumah ini, baik foto-foto yang rata-rata berwarna hitam putih, dan benda-benda lainnya adalah peninggalan masa lalu sang tuan rumah.

    "Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini. Beliau bahkan pernah suatu saat memberikan alat musik gamelan kepada beberapa sanggar seni agar kesenian Tete Batu tetap terjaga sekaligus memberikan aktivitas positif kepada anak muda di sini," jelas Hj. Surdini.

    Setelah pendiri Wisma dr. Soedjono meninggal dunia, putranya yang bernama Raden Soeweno datang kembali ke Lombok bersama istrinya, Hj. Surdini Soeweno, yang kemudian melanjutkan serta mewarisi untuk merintis kembali usaha penginapan di Tete Batu.

    Profil Wisma dr. Soedjono

    Berdasarkan pernyataan dari Hj. Surdini, saat ini jumlah kamar yang ada di Wisma dr. Soedjono ada sebanyak 30 kamar, dengan harga masing-masing kamar berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung pada fasilitas dan luas dari kamar itu sendiri.

    Dan jika bicara fasilitas, bahkan Wisma dr. Soedjono ini tak kalah dibanding penginapan modern, karena ternyata juga memiliki kolam renang yang cukup besar dan biasanya digunakan oleh para tamu yang menginap.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Ruangan di dalam Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto:Pelopor.id/Ardi)

    Namun bencana gempa bumi yang sempat melanda Lombok pada tahun 2018 lalu berdampak negatif terhadap bisnis penginapan Wisma dr. Soedjono lantaran ada beberapa bangunan yang rusak sebagai imbas dari goncangan gempa dan hingga saat ini dikarenakan kondisi pandemi yang masih berlarut-larut serta proses perbaikan yang belum berjalan maka Wisma dr. Soedjono belum dibuka lagi untuk masyarakat umum menginap.

    Baca juga : 

    “Karena kondisi bangunan yang rusak karena gempa, ditambah lagi pandemi Covid-19 ini, Wisma dr. Seodjono sementara tutup dulu untuk umum. Sambil anak saya juga sedang mempersiapkan proyek positif untuk Wisma ini nantinya. jadi, sementara kita hanya terbuka untuk menyambut tamu yang ingin melihat wisma dari dekat serta usaha Cafe yang kami jalankan,” sebut Hj. Surdini.

    Semoga kondisi segera membaik dan Wisma dr. Soedjono sebagai landmark pariwisata di Desa Wisata Tete Batu segera mendapatkan perhatian yang selayaknya dari pemerintah daerah sehingga kondisinya bisa pulih kembali, sekaligus bisa berfungsi lagi sebagai penginapan bersejarah yang harus diakui juga menjadi magnet pariwisata di Tete Batu.[]

  • Transformasi Desa Kembang Kuning Lombok Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

    peloporberita.com/ | Lombok – Desa Kembang Kuning terletak di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2017 lalu, Desa Wisata ini dikukuhkan sebagai Desa Wisata Terbaik menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.

    Desa yang terletak di lereng Gunung Rinjani itu memiliki beragam potensi atraksi seni dan budaya, kearifan lokal, serta keramah-tamahan masyarakat. Desa Desa Kembang Kuning, berjarak 85 kilometer arah timur Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB.

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis.”

    Namun, proses beralihnya Desa tersebut menjadi sebuah Desa Wisata tidak mudah. Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip menceritakan bahwa dulu ada keraguan dari masyarakat untuk menerima sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan mereka.

    Baca juga : 

    “Kembang Kuning diawali masyarakat ragu menerima pariwisata karena negatif seperti narkoba dan minuman beralkohol dan lain sebagainya,” tutur Musanip dihadapan wartawan, Senin, (22/11/2021)

    Melanjutkan ceritanya, Musanip mengatakan bahwa 30 tahun yang lalu turis sudah lalu lalang di Desa Kembang Kuning, tetapi untuk menjadikan itu sebagai sebuah sumber penghasilan terjadi baru-baru ini.

    “(Dulu) kalau (Wisatawan) mengunjungi Tetebatu, kami (Desa Kembang Kuning) dilewati saja. Namun setelah 2014, peralihan metode online ke offiline kita mulai go digital mereka datang.” Ungkapnya.

    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip
    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip (Kiri). (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Market pasar Desa Kembang Kuning sendiri adalah wisatawan asal Eropa. Mulai dari 2014 itulah mereka mulai menawarkan produk destinasi atau paket wisata. Musanip menyebut, dengan Metode digital Desa Wisata Kembang Kuning bisa mengikuti ritme perkembangan jaman.

    “Barulah setelah memulai pemasaran secara online 2 sampai 3 bulan (kemudian) hampir setiap harinya ada tamu yang datang,” tegas Musanip.

    Adapun di Desa Kembang Kuning ini terdapat sebanyak 14 homestay dengan tarif bervariasi, yakni berkisar Rp150.000-Rp600.000 perhari.

    Desa Wisata Kembang Kuning

    Kedepannya, Musanip berharap Desa Kembang Kuning bisa menjadi desa terbersih dengan sistem yang memungkinkan produk-produk bisa terkelola dan terorganisir.

    Dia juga ingin, semua produk yang beredar di desa wisata ini memiliki akses satu pintu dan saling bekerjasama sehingga harganya bisa lebih murah. Selain itu, inovasi masalah pengelolaan sampah juga penting dan Desa Kembang Kuning perlu dikuatkan dengan masterplan.

    Baca juga : 

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis. Setiap gubuk dibangun dengan rapi dengan awik-awik. Perkembangan terlalu cepat, apalagi permasalahannya banyak orang luar punya banyak lahan disini,” tandas Musanip.

    NTB PROV

    Tak hanya menawarkan panorama sawah yang menawan di bawah perbukitan Gunung Rinjani, Desa Kembang Kuning juga menawarkan beraneka aktifitas sehari-hari warganya. Seperti proses pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan minyak kelapa.

    Selain itu, wisatawan juga dimanjakan dengan beraneka destinasi air terjun yang letaknya tak jauh dari Desa Kembang Kuning. Seperti Air terjun Ulem – ulem, Air terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. []