Tag: Ekspor

  • Mendag Lutfi: Pemerintah Fasilitasi UKM untuk Go Global

    peloporberita.com/ | Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menegaskan, sikap pemerintah untuk memfasilitasi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) agar dapat memperluas pangsa pasarnya ke pasar global.

    Hal ini disampaikannya saat berdialog dengan enam UKM eksportir dalam “Dialog 45 Menit bersama Mendag” dengan tema “Jelang Expo 2020 Dubai: UKM Indonesia Ekspor ke Timur Tengah” yang dilaksanakan secara virtual hari Jumat, 1 Oktober 2021 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).

    “Terkait tarif pengiriman ekspor jalur laut yang meningkat, kami memberikan usulan kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara.”

    Enam eksportir yang hadir secara virtual yaitu PT Bio Takara, Palemcraft, Nudira SDI (Sumber Daya Indonesia), Sinar Prima Grup, Legong Bali Nusantara, dan Solusi Mandiri Agro. Turut hadir sebagai pembicara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid. Dialog tersebut dimoderatori Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Didi Sumedi.

    “UKM adalah pilar dari perekonomian Indonesia. Selain sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembukaan Paviliun Indonesia di Expo 2020 Dubai, sesi dialog ini juga merupakan wadah berbagi pengalaman dan masukan para UKM dan pemerintah, sehingga kita dapat mencari solusi untuk bersama-sama meningkatkan kinerja ekspor nasional, khususnya di wilayah Timur Tengah,” ungkap Mendag Lutfi berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi peloporberita.com/, Minggu, 3 Oktober 2021.

    Mendag Lutfi menjelaskan, permintaan ekspor produk-produk Indonesia kini semakin meningkat akibat adanya perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Selain itu, Indonesia juga kebanjiran permintaan produk untuk diekspor ke luar negeri. Ini merupakan peluang yang luar biasa untuk mendorong ekspor nasional.

    Adapun saat ini, tarif pengiriman barang ekspor melalui jalur laut mengalami peningkatan lima hingga 10 kali lipat dari sebelumnya, yaitu menjadi US$10.000-US$20.000 per kontainer.

    “Terkait tarif pengiriman ekspor jalur laut yang meningkat, kami memberikan usulan kepada para pelaku UKM, khususnya UKM yang mengekspor produk berukuran kecil atau ringan untuk beralih dari pengiriman jalur laut ke jalur udara. Hal ini mengingat adanya penurunan angka penumpang pesawat yang mengharuskan perusahaan penerbangan untuk tetap terbang dengan membawa muatan kargo,” ungkap Mendag.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menyampaikan bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan (stakeholder) terkait untuk bersama mencari solusi terkait tantangan dan hambatan yang dialami para pelaku usaha.

    Arsjad juga mengatakan, kadin terus berupaya mendorong ekspor nasional dengan memprioritaskan ekspor ke negara-negara yang memiliki comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan Indonesia, antara lain UEA, Australia, Swiss, Hongkong, Uni Eropa, Turki, dan Korea Selatan. CEPA merupakan perjanjian kerja sama antar negara yang dapat dioptimalkan guna meningkatkan perdagangan internasional.

    “Kadin juga berupaya membuat ekosistem yang dapat menghubungkan UKM dengan para calon buyers. Hal itu dilakukan untuk mempermudah ekspor ke negara-negara tujuan. Rencananya, proyek ini akan dilakukan di Australia, Swiss, serta akan memanfaatkan perhelatan Expo 2020 Dubai untuk mengembangkan proyek di UEA,” tegas Arsjad.

    Partisipasi Indonesia dalam Expo 2020 Dubai merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kinerja ekspor nasional, khususnya dalam kondisi pascapandemi Covid-19. Paviliun Indonesia akan mengenalkan lebih dari 300 UKM Indonesia siap ekspor ke pasar Timur Tengah dan dunia selama enam bulan dari 1 Oktober 2021 sampai 31 Maret 2022. []

  • Singapura Buru Produk Udang, Cumi hingga Olahan Ikan Indonesia

    peloporberita.com/ | Jakarta – Indonesia terus mempererat hubungan dagang dengan Singapura, salah satunya melalui ekspor komoditas kelautan dan perikanan.

    Dalam pertemuan virtual antara Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mewakili Pemerintah Indonesia dengan Singapore Food Agency (SFA), pada Rabu (29/09/2021), terungkap bahwa pelaku usaha Singapura sangat meminati udang (black tiger shrimp and white shrimp), cumi dan sotong, tuna, marlin, swordfish, mahi-mahi, surimi hingga fillet ikan ekor kuning asal Indonesia.

    “Kami melihat bahwa acara temu bisnis virtual yang telah dilangsungkan menjadi salah satu platform alternatif di tengah pembatasan selama situasi pandemi Covid-19 ini,” kata Direktur Jenderal PDSPKP Artati Widiarti di Jakarta, Kamis (30/09/2021).

    Baca juga: Klaster Tambak KKP di Cidaun Kembali Panen Udang Vaname

    Artati menyampaikan bahwa ekspor produk kelautan dan perikanan tetap tumbuh di masa pandemi, terlihat dari data tahun lalu, Indonesia mengekspor sebanyak 1,3 juta ton atau setara dengan USD 5,2 miliar. Angka itu meningkat, baik dari sisi nilai sebesar 5,5% maupun volume sebesar 6,6%, dibandingkan  tahun 2019.

    “Terdapat lima tujuan pasar utama produk perikanan Indonesia yaitu Amerika Serikat (40,3%), Tiongkok (15,7%), ASEAN (11,8%), Jepang (11,7%), dan Uni Eropa (5,6%),” kata Artati.

    Khusus untuk pasar Singapura, sepanjang tahun 2020, Indonesia mengekspor produk kelautan dan perikanan sebanyak 29.660 ton dengan nilai USD 88,9 juta. Produk perikanan yang diekspor ke Singapura antara lain ikan laut lainnya, udang, kepiting-rajungan, cumi-sotong-gurita dan tuna.

    Baca juga: KKP Kecewa Warga Konsumsi Hiu Paus Terdampar di Cianjur

    Artati menegaskan, nilai ekspor ini sangat mungkin untuk terus ditingkatkan, mengingat kedekatan kedua negara serta kemudahan akses maupun fasilitas ekspornya. Selain itu, bagi Singapura juga sebagai diversifikasi pemasok, selain dari negara-negara produsen ikan lainnya. 

    “Oleh karena itu, saya sangat mendukung kedua negara melakukan temu bisnis dan kegiatan lainnya dalam kerangka kerja sama Indonesia-Singapore Agribusiness Working Group (IS AWG). Hal ini tentunya untuk meningkatkan perdagangan produk perikanan antara kedua negara,” ujar Artati.

    Di kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP Machmud menyebutkan, sebanyak 9 eksportir perikanan Indonesia telah bergabung dalam acara tersebut. Dia pun mendorong para pelaku usaha untuk melakukan kontak dan berbisnis dengan pembeli dari Singapura, usai acara virtual temu bisnis. “Semoga kegiatan ini berkelanjutan dan membuahkan hasil hingga berdampak bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat kita,” harapnya.

    Baca juga: KKP Tangkap Kapal Trawl Asal Malaysia di Selat Malaka

    Sebagai informasi, 9 eksportir Indonesia yang mengikuti forum tersebut ialah PT Perikanan Indonesia, PT Bumi Nayla Nusantara, PT Cakrawala Samudera Mandiri, PT Naga Laut Bersinar, PT Bandar Bahari Sukses, PT Anugerah Laut Indonesia, PT. Aruna Jaya Nuswantara (Aruna), PT Multidaya Teknologi Nusantara (eFishery) dan PT Koperasi Santo Alvin Pratama.

    Sementara dari Singapura dihadiri oleh perwakilan 3 asosiasi perikanan utama di Singapura antara lain Singapore Fish Merchant General Association (SFMGA), Seafood Industries Association Singapore (SIAS), dan Punggol Fish Merchant Association (PFMA), serta beberapa anggota diantaranya Hai Sia Seafood Pte Ltd., High Tide Frozen Food Pte. Ltd., Pan Seas Enterprises Pte. Ltd., Thia Piah Seng, Seawaves, FISH Group. []

  • Ekspor Furnitur Januari-Agustus 2021 Naik 30%

    peloporberita.com/ | Jakarta – Industri furniture nasional mampu menunjukkan performa cemerlang di tengah pandemi Covid-19. Hal ini, tercermin dari nilai ekspor industri furnitur pada tahun 2020 sebesar USD2,19 miliar atau naik 12,2% dibanding capaian 2019. 

    “Sementara itu, pada periode Januari-Agustus tahun 2021, kinerja ekspor industri furnitur tetap memberikan kabar baik, dengan kenaikan sebesar 30,8% dibanding periode yang sama tahun 2020,” tutur Plt. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Minggu, 26 September 2021.

    “Program restrukturisasi ini dalam bentuk pemberian potongan harga (reimburse) terhadap IKM yang telah membeli mesin dan/atau peralatan dalam jangka waktu tertentu untuk menunjang proses produksi.”

    Adapun, beberapa negara tujuan utama ekspor produk furnitur dari Indonesia, antara lain ke Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Jerman, dan Inggris. 

    “Ini menandakan bahwa produk furnitur kita sudah kompetitif di kancah global. Apalagi, produk furnitur kita dinilai unik dan inovatif karena terobosan-terobosan yang dilakukan para pelaku industri agar bisa berdaya saing,” ungkapnya.

    Oleh sebab itu, Kemenperin bertekad untuk terus mengembangkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor furniture. Salah satu strateginya adalah menerapkan pola kemitraan antara IKM dengan industri besar atau industri menengah sebagai bagian membangun ekosistem rantai pasok sehingga dapat meningkatkan efisiensi dalam proses produksi. 

    “Untuk meningkatkan kemampuan industri kecil dalam memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan oleh industri besar atau industri menengah sebagai offtaker, kami di Direktorat Jenderal IKMA memiliki program pendampingan yang diberikan kepada pelaku industri kecil yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk,” jelas Reni.

    Guna mendukung sektor IKM furniture dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya, sehingga memacu perluasan pasar ekspor, Kemenperin memiliki program restrukturisasi mesin dan peralatan produksi. Upaya ini sejalan untuk mendorong para pelaku IKM memanfaatkan teknologi terkini.

    “Program restrukturisasi ini dalam bentuk pemberian potongan harga (reimburse) terhadap IKM yang telah membeli mesin dan/atau peralatan dalam jangka waktu tertentu untuk menunjang proses produksi,” tegas Reni. 

    Potongan harga yang diberikan, yaitu sebesar 25% dari harga pembelian untuk mesin dan/atau peralatan buatan luar negeri (impor), dan sebesar 40% dari harga pembelian untuk mesin dan/atau peralatan buatan dalam negeri. 

    “Program ini dapat diikuti oleh seluruh IKM yang berada di wilayah Indonesia dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Perindustrian yang telah ditetapkan. Diharapkan program ini dapat menjadi pemicu peningkatan teknologi produksi pada IKM melalui peremajaan mesin dan/atau peralatan sehingga ke depannya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas produk IKM,” sebutnya. []

  • Syahrul Yasin Limpo Tinjau Pengolahan Sarang Burung Walet di Kalimantan Barat

    peloporberita.com/ | Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) meninjau salah satu tempat pengolahan sarang burung walet di Pontianak, Kalimantan Barat, bersama Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji. “Sore ini Pak Gubernur (Kalbar) dengan unit kerja yang ada disini menunjukkan kepada saya bagaimana processing rumah walet, rumah processing walet yang ada untuk menampung semua hasil rumah walet yang tersebar di Kalimantan Barat yang begitu banyak,” ujar Mentan Syahrul Yasin Limpo di tengah kunjungannya.

    Sarang burung walet (SBW) menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan dari subsektor peternakan, dan setiap tahun ekspor SBW terus bertumbuh. Menurut data BPS, sejak tahun 2016, nilai ekspor SBW Indonesia terus tumbuh hingga mencapai USD 540 juta di tahun 2020, dengan Tiongkok menjadi negara tujuan ekspor utama yang berkontribusi hampir 78%.

    Baca juga: Syahrul Yasin Limpo Dorong Hutan Sagu Papua Barat Jadi Lahan Agrowisata

    Mentan SYL berharap pengembangan SBW bisa maksimal. “Komoditas sarang burung walet yang bapak presiden dorong untuk kita jadikan komoditi andalan baru kita di Kalimantan Barat (diharapkan) bisa maksimal, terlebih lagi disini terlihat bahwa anak-anak muda mengambil peranan,” ucap SYL.

    Gulam Mohamad Sharon, selaku Owner PT. Borneo Walet Lestari, mengatakan bahwa beberapa negara telah melakukan negosiasi untuk ekspor sarang burung walet ini. Selain itu, dari negara Taiwan juga sudah melakukan pemesanan. Menurut pria berusia 39 tahun ini, sejak didirikan tahun 2019, perusahaan terus meningkatkan kapasitas produksi dari tahun ke tahun dan juga terus meningkatkan kualitas agar memenuhi kualifikasi produk ekspor sarang burung walet sesuai arahan dari Kementerian Pertanian.

    Baca juga: Syahrul Yasin Limpo Dorong Papua Cetak SDM Pertanian Muda

    Beberapa langkah strategis yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian di Kalimantan Barat yakni dengan melakukan optimalisasi lahan eksisting, pengembangan komoditas-komoditas yang menjadi kelebihan masing-masing kabupaten, serta pengambangan produk berorientasi ekspor seperti sarang burung walet ini.

    “Kita tentu saja mendukung dengan mempersiapkan berbagai bentuk program dengan maksimal dengan baik, diawali dengan perencanaan dengan baik antara pemerintah daerah dan kementan kedepannya akan merumuskan. Kemudian lahan eksisting untuk ketahanan pangan diangkat lagi mulai dari varietas, budidaya sampai percepatan pengolahan, dibarengi dengan pengembangan komoditas di kabupaten-kabupaten yang memiliki kelebihan yang berbeda-beda, tentunya komoditas terkait ekspor juga akan kita bicarakan,” kata SYL.[]

  • Profil Luhut Binsar Pandjaitan yang Diserbu Komplain Negara Asing

    peloporberita.com/ | Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan baru saja diserbu komplain dari negara-negara asing, karena banyak barang dari luar negeri tak lagi dipakai di Indonesia. Luhut pun menegaskan, Indonesia memang sedang fokus mengembangkan produk dalam negeri dan mau kurangi impor.

    Apalagi, ini merupakan perintah dan arahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi), karena Jokowi ingin produk dalam negeri berjaya di negeri sendiri dan bisa bersaing di kancah global. 

    Baca juga: Menko Luhut: Kembangkan Ekosistem Logistik Nasional Perlu Kerja Sama Semua Pihak

    “Beberapa negara asing hari ini komplain dan bertanya mengapa Indonesia terkesan menjauhi produk luar negeri di dalam e-katalognya hari ini? Saya tegaskan bahwa ke depan kami akan fokus untuk pengembangan produk dalam negeri,” tulis Luhut dalam unggahannya di akun Instagram @luhut.pandjaitan, dikutip Sabtu (28/08/2021).

    Dalam unggahan itu, Luhut juga mengatakan salah satu fokus penggunaan produk dalam negeri adalah pada industri kesehatan. Bahkan, produk dalam negeri berupa alat suntik baru saja diekspor. UNICEF meminta 1,2 miliar unit alat suntik pabrikan Indonesia untuk digunakan di Ukraina. Sebanyak 200 kontainer akan diekspor hingga tahun depan oleh PT Oneject Indonesia.

    Baca juga: Kemenko Marves Kawal Pembangunan Kampus UIII Depok

    Profil Luhut Binsar Pandjaitan

    Sebelum menjadi menkomarves, Luhut Binsar Pandjaitan pernah menjadi Menko Kemaritiman, Menko Politik, Hukum dan Keamanan, dan juga Menteri Perdagangan. Ia dijuluki menteri segala bidang karena pernah menduduki jabatan di berbagai bidang berlainan, meskipun berangkat dari militer.

    Luhut lahir di Simanggala, Tapanuli, Sumatera Utara, pada 28 September 1947. Ia mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga saat dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian ia diangkat menjadi menteri dan dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.

    Baca juga: Luhut Pandjaitan: Perketat Prokes di Kawasan Industri!

    Suami dari Devi Simatupang ini juga pernah menjadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri di Bandung. Kemudian saat menjabat sebagai Komandan Korem di Madiun, Luhut Pandjaitan meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik. Di masa mudanya, ia aktif sebagai atlet renang, karate, judo dan terjun payung, bahkan pernah menjadi atlet renang dari Provinsi Riau dan juga pernah meraih medali di PON di Bandung. 

    Sebelum menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan reformasi, Luhut Pandjaitan juga aktif sebagai seorang pengusaha. Ia mendirikan sekolah Politeknik DEL di Balige, Sumatera Utara. Pada awal mendirikan sekolah ini, Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat, seperti Duta Besar Amerika, Australia dan Singapura untuk melihat Politeknik DEL. []

  • Nilai Ekspor Produk Perikanan Indonesia Tahun 2020 Tumbuh 5,7%

    peloporberita.com/ | Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis ITC Trademap, nilai ekspor produk perikanan Indonesia tahun 2020 mencapai USD 5,2 miliar atau tumbuh positif 5,7% dibandingkan tahun 2019. Berbanding terbalik dengan Indonesia, sebagian besar negara eksportir utama produk perikanan dunia mengalami penurunan cukup signifikan dibanding 2019, seperti Tiongkok turun 7,8%, Norwegia turun 7,5%, Vietnam turun 2,1%, India turun 15,1%, Thailand turun 2,2%, dan Ekuador turun 1,5%.

    Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Artati Widiarti mengatakan, peningkatan peringkat eksportir Indonesia ini adalah pencapaian yang luar biasa hasil kolaborasi intensif antara eksportir, pemerintah dan seluruh stakeholders yang terlibat. 

    “Indonesia yang memiliki sumber daya perikanan melimpah telah bergerak untuk menyuplai produk perikanan bergizi yang sangat diperlukan masyarakat global di masa pandemi Covid-19. Kenaikan peringkat Indonesia sebagai eksportir utama dunia merupakan kerja keras antara eksportir, pemerintah dan seluruh stakeholders yang terlibat yang saling bahu membahu untuk bangkit di masa pandemi ini,” kata Artati saat menyampaikan perkembangan ekspor produk perikanan Indonesia di Jakarta, Minggu (15/08/2021).

    Baca juga: KKP Tetapkan Pengakuan dan Perlindungan 22 Masyarakat Hukum Adat dalam 5 Tahun

    Pada kesempatan yang sama, Artati juga menjelaskan Amerika Serikat (AS), Jepang dan Tiongkok, masih menjadi tujuan utama ekspor produk perikanan dunia, dengan rata-rata nilai ekspor tahun 2016-2020 masing-masing sebesar USD 23,08 miliar, USD 15,26 miliar dan USD 13,80 miliar. 

    Dalam kurun waktu tersebut, trend impor AS dan Tiongkok cenderung positif dengan peningkatan masing-masing sebesar 2,5% dan 15,5%, sedangkan impor Jepang menurun 1,4%. Adapun pangsa pasar produk perikanan Indonesia di ketiga pasar itu mengalami peningkatan masing-masing sebesar 4,6%, 1,3% dan 6,2%.

    Baca juga: KKP Tanam Ribuan Bibit Vegetasi Pantai Untuk Antisipasi Dampak Tsunami

    Jika dilihat berdasarkan komoditasnya berdasarkan data ITC Trademap, Udang masih menjadi komoditas unggulan, disusul Tuna – Cakalang (TCT), Cumi – Sotong – Gurita (CSG), Rajungan – Kepiting dan Rumput Laut. 

    Selama tahun 2020, nilai ekspor Udang Indonesia mencapai USD 2,04 miliar atau 8,8% terhadap nilai impor total Udang dunia. Sedangkan, TCT sebesar USD 724 juta (5,0%), CSG sebesar USD 509 juta (6,0 %), Rajungan – Kepiting sebesar USD 368 juta (6,8 %) dan Rumput Laut sebesar USD 280 juta (11,4 %). 

    Baca juga: KKP Menangkan Gugatan Ekspor Benih Bening Lobster

    Hingga kini, KKP melalui Ditjen PDSPKP terus berkomitmen mendorong peningkatan ekspor produk perikanan, salah satunya dengan aktif dalam berbagai perundingan penurunan hambatan tarif dan non tarif dalam forum bilateral, regional maupun multilateral. 

    “Berbagai perundingan diantaranya cross cutting issues Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), ketentuan Marine Mammal Protection Act (MMPA) Komoditas Tuna dan Rajungan, Joint Feasibility Study Group (JFSG) Free Trade Agreement dan sebagainya,” ujar Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP Machmud.

    Upaya lainnya adalah memperkuat branding produk perikanan Indonesia di pasar global dengan tagline “Indonesia Seafood: Naturally, Diverse, Safe and Sustainable”. “Branding produk ini yang kita bawa dalam berbagai promosi produk perikanan di pasar luar negeri, seperti Eastfood Indonesia Expo-Virtual Seafood Show 2021, World Expo 2020 Dubai,” kata Machmud. []

  • Syahrul Yasin Limpo Gaungkan Merdeka Ekspor Pertanian, Maksudnya?

    peloporberita.com/ | Jakarta – Presiden Joko Widodo melepas ekspor dalam kegiatan “Merdeka Ekspor Pertanian”. Hal ini, memberikan optimisme baru bagi para petani dan pelaku usaha pertanian. Setidaknya, dalam rangka “Merdeka Ekspor Pertanian”, lebih dari 7 triliun rupiah nilai ekspor untuk 7 hari dilepas dari 17 bandara dan pelabuhan utama.

    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, “Merdeka Ekspor” merupakan ekspose kinerja Kementerian Pertanian selama 2 tahun, khususnya di masa pandemi sekaligus memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-76.

    “Ekspor yang kita lakukan adalah ekspor yang akan menyentuh harkat dan martabat sebagai anak bangsa.”

    Menurut Mentan Syahrul, hari kemerdekaan ke-76 ini adalah hari kebanggan bagi sebuah bangsa besar yaitu Indonesia yang merupakan negara ke-4 terbesar di dunia.

    "Perayaan kemerdekaan adalah perayaan sebuah kebanggaan anak bangsa. Kebetulan hari ini kita yang menjalankan amanah sebagai gubernur, bupati dan ini adalah keterpanggilan kita di tengah suasana dunia, nasional yang tengah menghadapi sebuah turbulensi yang luar biasa, yaitu covid-19," ungkapnya berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Minggu, 15 Agustus 2021.

    Mentan mengungkapkan, bahwa Covid-19 merupakan tantangan yang tidak ringan yang dihadapi oleh hampir semua negara.

    “Bukan hanya negara besar yang sedang berjuang melawan Covid ini, tapi negara-negara kecil dan menengah pun bersama-sama menghadapinya. Dan kita belum punya obat yang mujarab menghadapi Covid ini,” sebutnya.

    Dalam perhelatan Merdeka Ekspor tersebut, Mentan menegaskan bahwa Merdeka Ekspor bukan seperti ekspor yang biasa dilakukan sebagaimana rutinitas yang dilakukan.

    “Ekspor yang kita lakukan adalah ekspor yang akan menyentuh harkat dan martabat sebagai anak bangsa. Menyoal psikologi nasionalisme kita, sekaligus menjadi bagian untuk menghadirkan optimisme bangsa besar Indonesia di dalam menghadapi turbulensi dunia,” ucapnya.

    Berdasarkan data BPS, nilai ekspor pertanian tahun 2020 mencapai Rp. 451,8 triliun atau meningkat 15,54% dibandingkan periode sama tahun 2019 yang hanya mencapai Rp. 390,16 triliun. Adapun struktur produk ekspor masing-masing adalah 89% hasil olahan dan 11% berupa produk segar.

    Sementara itu, hingga semester-I yakni Januari – Juni 2021, nilai ekspor mencapai Rp. 277,95 triliun atau meningkat 40,29% dibandingkan periode sama tahun 2020 yang hanya mencapai Rp. 198,13 triliun. Dengan struktur produk ekspor masing-masing adalah 91,75% hasil olahan dan 8,29 % berupa produk segar.

    Merdeka Ekspor sendiri telah di launching oleh Presiden Joko Widodo dari Istana Bogor secara serentak dilakukan dari 17 pintu ekspor yaitu, Pelabuhan Laut Tanjung Priok Bandar Udara Soekarno Hatta, Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Pelabuhan Laut Tanjung Mas dan Pelabuhan Laut Belawan.

    Kemudian juga Pelabuhan Laut Makassar New Port, Pelabuhan Laut Jetty Balikpapan, Pelabuhan Laut Dumai, Pelabuhan Laut Panjang, Pelabuhan Sungai Boom Baru, Bandar Udara Hang Nadim, Pelabuhan Laut Trikora, Pelabuhan Laut Talang Duku, Pelabuhan Laut Dwikora, dan Pelabuhan Laut Bitung.

    “Pertanian adalah satu kekuatan dan pilar akan hadirnya kekuatan negara, pertanian adalah penyangga utama, ayo kita hadirkan optimisme dalam Merdeka Ekspor ini,” ujarnya. []

  • KKP Menangkan Gugatan Ekspor Benih Bening Lobster

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memenangkan gugatan terkait ekspor Benih Bening Lobster (BBL), berdasarkan putusan sela Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atas gugatan yang diajukan oleh Direktur PT. Teladan Cipta Samudra, Raditya Nursasongko.

    Keputusan dibacakan oleh Majelis Hakim PN Jakarta Pusat dalam sidang terbuka pada Rabu 4 Agustus 2021. Proses sidang sudah berlangsung sebanyak 17 kali terdiri dari pemeriksaan legal standing para pihak, mediasi, pembacaan gugatan, jawaban, replik, duplik, dan bukti surat yang diajukan oleh para pihak.

    “Alhamdulillah Majelis Hakim telah membacakan putusan sela, para pihak mengikuti semua prosedur dan proses sidang. Kita sampaikan jawaban, duplik, dan bukti surat awal kepada Majelis Hakim selama sidang,” tutur Sekjen KKP Antam Novambar dalam siaran resmi KKP di Jakarta, Kamis, 5 Agustus 2021.

    “Selanjutnya kami dalilkan juga dalam persidangan bahwa KKP tidak pernah meminta kepada penggugat untuk melakukan pengurusan SKWP melalui Tergugat II.”

    Putusan Majelis Hakim ini, diantaranya mengabulkan eksepsi yang disampaikan KKP terkait kewenangan mengadili/kompetensi absolut yakni yang berwenang mengadili kasus tersebut adalah Pengadilan Tata Usaha Negara bukan wewenang Pengadilan Negeri.

    Keputusan lainnya, menyatakan bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang mengadili perkara a quo, dan menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp1.290.000,00,-.

    Kasus hukum terkait ekspor bening bening lobster bermula dari laporan Direktur PT Teladan Cipta Samudra Raditya Nursasangko atas Perkara Nomor 696/Pdt.G/2020/PN.Jkt.Pst pada tanggal 25 November 2020.

    Raditya mengaku, mengalami kerugian materiil Rp700 juta dan immateriil Rp10 miliar akibat tidak diterbitkannya Surat Keterangan Waktu Pengeluaran (SKWP) untuk rencana ekspor atau pengeluaran BBL pada tanggal 27 Oktober 2020.

    Benih bening lobster
    Benih bening lobster (BBL). (Foto:Pelopor.id/KKP)

    Pihak tergugat meliputi KKP cq. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap selaku Tergugat I; Dibagus Aryoseto selaku Tergugat II; Presiden Republik Indonesia selaku Turut Tergugat I; dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) selaku Turut Tergugat II.

    Kepala Biro Hukum KKP Tini Martini menjelaskan, dalam persidangan disampaikan bahwa KKP tidak pernah menerima permohonan SKWP dari Penggugat sehingga tidak dapat melakukan proses penerbitan SKWP, mengingat permohonan tersebut hanya ditujukan kepada Tergugat II melalui pesan WhatsApp. Fakta lainnya yakni Tergugat II bukan merupakan pegawai KKP yang bertanggung jawab dalam pengurusan SKWP.

    “Selanjutnya kami dalilkan juga dalam persidangan bahwa KKP tidak pernah meminta kepada penggugat untuk melakukan pengurusan SKWP melalui Tergugat II. Permohonan penerbitan SKWP prosedurnya dapat disampaikan kepada Ditjen Perikanan Tangkap untuk diproses lebih lanjut,” ungkap Tini Martini.

    Sementara itu, KKP saat ini sudah resmi melarang ekspor benih bening lobster berdasarkan Permen KP Nomor 17 Tahun 2021. Pelarangan ini untuk mendorong tumbuhnya budidaya lobster nasional, menjaga biota laut tersebut tetap lestari, serta untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pembudidaya. []

  • BCA dan LPEI Jalin Kerja Sama Pendanaan Ekspor Rp 3 Triliun

    peloporberita.com/ | Jakarta – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank kembali mendapatkan dukungan pendanaan dari perbankan dalam negeri. Kali ini dukungan diberikan oleh PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) dalam bentuk time loan facility senilai Rp3 triliun dengan tenor 2 tahun.

    Fasilitas tersebut, terdiri dari time loan non-revolving 1 Rp1,5 triliun dan time loan non-revolving 2 Rp500 miliar dengan tenor 2 tahun dan tambahan time loan non-revolving 3 senilai Rp1 triliun dengan tenor 2 tahun. Dukungan pendanaan ini diharapkan akan memperkuat strategi bisnis LPEI dalam melaksanakan mandat undang-undang untuk mengakselerasi ekspor.

    “BCA kembali meneruskan kerja sama dengan memberikan penambahan fasilitas time loan senilai Rp1 Triliun. Kita sama-sama berharap fasilitas ini dapat mendukung pertumbuhan ekspor nasional.”

    Penandatanganan dilaksanakan secara virtual oleh Direktur Pelaksana III LPEI Agus Windiarto, Direktur Pelaksana I LPEI Dikdik Yustandi, Direktur BCA Subur Tan, Direktur BCA Rudy Susanto, serta disaksikan oleh Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif LPEI Daniel James Rompas dan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, pada Selasa (22/6/2021).

    Agus Windiarto menyampaikan, dukungan pembiayaan dari BCA tersebut akan digunakan untuk mendukung keperluan pembiayaan dan kegiatan bisnis LPEI seperti pembiayaan, penjaminan dan asuransi.

    “Dalam rangka mengakselerasi pertumbuhan ekonomi LPEI terus bersinergi dengan perbankan di dalam negeri. Penandatanganan kerja sama ini juga membuktikan bahwa LPEI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan terus mendapatkan kepercayaan dan dukungan penuh dari lembaga keuangan di dalam negeri untuk menjalankan mandat guna mendorong kinerja ekspor nasional,” ungkapnya.

    LPEI dan BCA
    LPEI kembali mendapatkan dukungan pendanaan dari BCA dalam bentuk time loan facility senilai Rp3 triliun dengan tenor 2 tahun. (Foto:Pelopor/Kemenkeu)

    Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyampaikan bahwa pihaknya menyambut baik perpanjangan kerjasama ini.

    “Kebersamaan yang telah terjalin sejak tahun 2016 antara BCA dengan LPEI merupakan kesempatan yang istimewa. Sepanjang perjalanan tersebut, kami mencermati adanya dampak positif yang dirasakan. Hari ini, BCA kembali meneruskan kerja sama dengan memberikan penambahan fasilitas time loan senilai Rp1 Triliun. Kita sama-sama berharap fasilitas ini dapat mendukung pertumbuhan ekspor nasional dan percepatan program Pemulihan Ekonomi Nasional,” tegas Jahja.

    Kerja sama pendanaan LPEI dan BCA diharapkan akan membantu percepatan pertumbuhan ekspor nasional melalui penyaluran pembiayaan, penjaminan dan asuransi kepada pelaku usaha berorientasi ekspor.

    Dukungan likuiditas dari BCA juga diyakini akan memberikan ruang bagi LPEI untuk menyalurkan pembiayaan dengan lebih baik kepada para pengusaha di dalam negeri ditengah pandemi Covid-19. []