Tag: Apple

  • Apple Luncurkan Fitur Paylater Tanpa Pihak Ketiga

    Jakarta | Apple Inc. meluncurkan fitur paylater dan tidak menggunakan mitra pihak ketiga. Melalui anak usahanya, Apple Financing LLC, raksasa teknologi itu akan sepenuhnya mengawasi pemeriksaan kredit dan memutuskan persetujuan pinjaman untuk layanan paylater.

    “Bisnis Apple Financing LLC memiliki lisensi pinjaman negara yang diperlukan untuk menawarkan fitur tersebut,” ungkap pihak manajemen Apple seperti dilansir dari Bloomberg.

    Meski demikian, Apple tidak akan mengambil risiko terlalu besar. Transaksi Apple Pay Later akan dibatasi, tergantung pada riwayat kredit pengguna, dengan memungkinkan membagi biaya transaksi Apple Pay dalam empat kali cicilan selama enam minggu.

    Sebelumnya, layanan keuangan Apple memang telah didukung oleh pemroses kredit pihak ketiga dan bank. Salah satunya adalah Apple Card yang bergantung pada Goldman Sachs untuk pinjaman dan penilaian kredit.

    Selain mengambil pinjaman, pemeriksaan kredit, dan pengambilan keputusan, Apple sedang mengerjakan mesin pemrosesan pembayarannya sendiri yang pada akhirnya dapat menggantikan CoreCard Corp.

    Sumber daya Apple untuk proyek ini bisa dinilai cukup meyakinkan. Pasalnya, produsen iPhone ini memiliki hampir USD 200 miliar dalam bentuk tunai dan surat berharga, dan mencetak laba hampir USD 95 miliar selama tahun fiskal terakhir.[]

  • UE Setujui Standar Pengisi Daya Tunggal untuk Perangkat Portabel

    Jakarta | Pejabat Eropa telah menyetujui teks undang-undang Uni Eropa (UE) yang diusulkan menerapkan pengisi daya standar untuk smartphone, tablet dan laptop yang dijual di blok tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengurangi limbah elektronik, namun di sisi lain merupakan pukulan telak bagi Apple.

    Negosiator mengatakan, untuk sebagian besar perangkat portabel, persyaratan mengisi daya melalui port USB Type-C akan berlaku mulai akhir 2024, sedangkan laptop akan diberikan lebih banyak waktu. Aturan USB-C juga akan berlaku untuk kamera digital, headphone, headset, speaker portabel dan E-reader.

    Keputusan tersebut akan secara resmi diratifikasi oleh Parlemen Eropa dan di antara negara-negara anggota UE akhir tahun ini sebelum mulai berlaku.

    Serikat 27 negara ini adalah rumah bagi 450 juta orang, beberapa konsumen terkaya di dunia, dan penerapan USB-C sebagai standar dapat mempengaruhi seluruh pasar global.

    “Ini adalah aturan yang akan berlaku untuk semua orang,” kata MEP Alex Agius Saliba, yang memimpin negosiasi untuk Parlemen Eropa, seperti dikutip dari AFP.

    “Jika Apple atau siapa pun yang ingin memasarkan produk mereka, menjual produk mereka di pasar internal kami, mereka harus mematuhi aturan kami dan perangkat mereka harus USB-C,” lanjutnya.

    Aturan tersebut juga akan memberi opsi bagi pembeli untuk tidak menerima kabel pengisi daya baru saat membeli perangkat elektronik.

    Sementara itu, Apple yang sudah menggunakan konektor USB-C di beberapa iPad dan komputer laptopnya, bersikeras bahwa undang-undang apa pun untuk memaksa pengisi daya universal untuk semua ponsel di Uni Eropa tidak beralasan.

    “Usulan itu sangat tidak proporsional dengan masalah yang dirasakan,” tanggapan perusahaan itu kepada komisi ketika undang-undang itu sedang disusun.

    Menurut Apple, memaksakan standar pengisi daya akan menghambat inovasi dan mengurangi pilihan konsumen Eropa dengan menghapus model lama yang lebih terjangkau dari pasar.[]

  • IDC: Pasar Smartphone Tiongkok Turun 11,5% Tahun Ini

    Jakarta | Aktivitas ekonomi Tiongkok yang menurun diduga telah menghambat pengiriman smartphone secara global tahun ini. Seperti diketahui, Tiongkok telah melakukan penguncian atau lockdown terkait kebijakan nol Covid dalam dua bulan terakhir.

    Menurut data IDC yang dikutip dari Bloomberg, tahun ini penjualan smartphone di Tiongkok diprediksi hanya 38 juta unit, anjlok 11,5% dari tahun lalu. Angka itu menyumbang sekitar empat perlima dari penurunan pengiriman global.

    “Apple Inc tampaknya menjadi pemasok yang paling sedikit terkena dampak, karena memiliki kontrol lebih besar atas rantai pasokannya, dan karena sebagian besar pelanggannya di segmen harga tinggi tidak terlalu terpengaruh oleh masalah ekonomi makro, seperti inflasi,” ujar Direktur Riset IDC Nabila Popal.

    Meski demikian, Apple diprediksi akan menetapkan target stagnan terhadap produksi iPhone-nya tahun ini seiring dengan makin ketatnya persaingan pasar. Padahal sebelumnya, Apple sempat berniat menambah produksi demi mencapai generasi iPhone 14 yang ditingkatkan secara signifikan.

    Secara global, IDC meramal pasar smartphone akan menurun hingga 3,5%, berbanding terbalik dari sebelumnya yang memproyeksikan pertumbuhan 1,6%. Namun, IDC melihat hambatan di industri smartphone akan berkurang pada semester kedua tahun ini dan memperkirakan pertumbuhan 5% pada tahun depan.[]

  • Apple Naikkan Upah Pekerja Ritel di Amerika Hingga 10%

    Jakarta | Apple Inc. menaikkan gaji pekerja ritelnya di Amerika Serikat (AS) sekitar 10% dari sebelumnya minimum USD 20 per jam, menjadi setidaknya USD 22 per jam. Apple menempuh kebijakan ini di tengah kekhawatiran inflasi.

    Tak hanya itu, melansir Bloomberg, Apple juga menaikkan anggaran kompensasi perusahaan secara global lantaran menghadapi ketatnya pasar tenaga kerja dan upaya serikat pekerja.

    Apple mengatakan perubahan untuk pekerja per jam mewakili peningkatan 45% dalam tarif awal sejak 2018, dan mencerminkan rasa terima kasih atas kinerja positif anggota tim. Kenaikan ini akan mulai berlaku pada Juli, sekitar tiga bulan lebih cepat dari biasanya Apple mengeluarkan kenaikan tahunan.

    Saat ini, Apple sedang menghadapi kecemasan dari sejumlah karyawan atas jatuhnya harga saham. Apple mengalami kekurangan bakat setelah banyak karyawan memilih opsi fleksibel atau meninggalkan angkatan kerja selama pandemi.

    Sementara pesaingnya seperti Microsoft Corp. dan Meta Platforms Inc. mencoba memburu staf dengan paket kompensasi yang kuat.

    Apple memiliki sekitar 170.000 karyawan, termasuk pekerja ritel, staf dukungan teknis AppleCare dan tenaga kerja korporatnya. Upah ritel awal perusahaan berada di atas minimum nasional AS, yaitu USD 7,25 sejak 2009.

    Untuk memperbaiki kondisi kerja, Apple tak hanya menaikkan gaji karyawan, melainkan juga memperluas tunjangan liburan, cuti sakit, dan penitipan anak untuk karyawan ritel penuh waktu dan paruh waktu.[]

  • Netflix Lakukan Efisiensi, Pecat Ratusan Karyawan

    Jakarta | Raksasa streaming film Netflix melakukan efisiensi dengan memotong pengeluaran untuk kontraktor dan juga memberhentikan 150 karyawan, sebagian besar di Amerika Serikat (AS).

    Keputusan itu dilakukan Netflix salah satunya akibat berkurangnya jumlah pelanggan. NDTV melaporkan, Netflix mengakhiri kuartal pertama tahun ini dengan 221,6 juta pelanggan, menurun sekitar 200.000 pelanggan dari kuartal terakhir tahun lalu.

    Hal itu antara lain dipicu oleh penangguhan layanan Netflix di Rusia setelah negara itu menginvasi Ukraina.

    Tak hanya itu, Netflix juga menduga faktor penghambat lainnya adalah pelanggan yang berbagi akun dengan orang-orang yang tidak tinggal serumah.

    Menurut Netflix, meski memiliki hampir 222 juta pelanggan berbayar, akun dibagikan dengan lebih dari 100 juta rumah tangga lain yang tidak membayar biaya berlangganan. Kini, Netflix sedang berusaha mencari cara untuk menarik biaya dari orang-orang yang berbagi akun tapi tak serumah.

    Ditambah lagi dengan ketatnya persaingan dari layanan serupa, seperti Disney Hotstar, HBO Go, Hulu, Prime Video dan Apple TV+.

    “Perubahan ini terutama didorong oleh kebutuhan bisnis daripada kinerja individu, yang membuatnya sangat sulit,” kata juru bicara seperti dilansir NDTV.

    Perusahaan yang berbasis di California itu juga memperbarui memo untuk karyawannya bulan ini. Dalam memo itu, Netflix memperingatkan bahwa layanan streaming mungkin bukan tempat terbaik bagi mereka yang tidak dapat mengerjakan konten yang tidak mereka setujui.[]

  • Saudi Aramco Berhasil Jadi Perusahaan Paling Berharga di Dunia

    Jakarta | Saudi Aramco berhasil menggeser Apple sebagai perusahaan paling berharga di dunia, akibat lonjakan harga minyak mendorong kemerosotan saham teknologi.

    Perusahaan minyak dan gas alam nasional Arab Saudi, yang disebut-sebut sebagai penghasil minyak terbesar di dunia, bernilai USD 2,42 triliun berdasarkan harga sahamnya pada penutupan pasar hari perdagangan Rabu (11/05/2022) waktu setempat.

    Sedangkan Apple bernilai USD 2,37 triliun, setelah harga sahamnya terus menurun selama  sebulan terakhir, meski Apple melaporkan laba yang lebih baik dari perkiraan dalam tiga bulan pertama tahun ini, di tengah menguatnya permintaan konsumen.

    Melansir AFP, raksasa minyak Saudi Aramco baru-baru ini melaporkan lonjakan laba bersih 124 persen untuk tahun lalu, beberapa jam setelah pemberontak Yaman menyerang fasilitasnya yang menyebabkan penurunan “sementara” dalam produksi.

    Ketika ekonomi dunia mulai pulih dari pandemi Covid-19, laba bersih Aramco pada 2021 meningkat 124 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi USD 110 miliar.

    Kerajaan Saudi, salah satu pengekspor minyak mentah utama dunia, telah berada di bawah tekanan untuk meningkatkan produksi, lantaran invasi Rusia ke Ukraina dan sanksi berikutnya terhadap Moskow telah mengguncang pasar energi global.

    Presiden dan CEO Aramco Amin Nasser memperingatkan bahwa prospek perusahaan tetap tidak pasti, sebagian akibat faktor geopolitik.

    “Kami terus membuat kemajuan dalam meningkatkan kapasitas produksi minyak mentah kami, melaksanakan program ekspansi gas kami dan meningkatkan kapasitas cairan ke bahan kimia kami,” kata Nasser. []

  • Apple Bakal Hentikan Produksi iPod Selamanya

    Jakarta | Apple bakal menghentikan produksi iPod setelah sukses memimpin pasar perangkat pemutar musik sejak diluncurkan pada tahun 2001 lalu. Meski demikian, Apple masih akan menjual seri iPod Touch hingga stoknya habis.

    Selama bertahun-tahun, Apple telah merilis berbagai model iPod, seperti iPod Nano dan iPod Shuffle. Seri iPod Touch yang dirilis pada 2007 adalah model terakhir yang akan dihentikan produksinya saat ini.

    Melansir Reuters, Apple juga telah berhenti melaporkan penjualan iPod sejak 2015. Namun Apple masih memberikan pembaruan terakhir untuk produk tersebut pada 2019.

    Awal diluncurkan, iPod dipromosikan mampu menyimpan hingga 1.000 lagu. Kemudian peran iPod mulai tergantikan sejak smartphone menyediakan pemutar musik yang lebih baik, ditambah lagi dengan munculnya layanan streaming musik seperti, Apple Music, Spotify dan Joox.

    Ada sejumlah rumor yang beredar bahwa Apple kemungkinan akan meluncurkan perangkat pemutar musik baru setelah menghentikan produksi iPod. Bahkan, mengutip BBC, Apple telah menyebarkan undangan peluncuran produk rahasia dengan pesan “Petunjuk: Ini bukan Mac.” []

  • Inggris Tetapkan Rencana untuk Kendalikan Google, Facebook, dan Perusahaan Big Tech Lainnya

    Jakarta – Pemerintah Inggris akan mengenakan denda yang besar kepada perusahaan teknologi besar seperti Google dan Facebook bila mereka tidak mematuhi aturan persaingan usaha baru di negara tersebut.

    Hal ini, sesuai dengan kabar bahwa Unit Pasar Digital (DMU) yang baru akan diberi kekuatan untuk menekan “praktik predator” dari beberapa perusahaan seperti dilansir dari BBC Jumat, (06/05/2022).

    Regulator juga akan memiliki kekuatan untuk mendenda hingga 10% dari omset global perusahaan jika mereka gagal mematuhinya.

    Selain meningkatkan persaingan di antara perusahaan teknologi, aturan tersebut juga bertujuan untuk memberi pengguna kontrol lebih besar atas data mereka.

    Departemen Digital, Budaya, Media dan Olahraga (DCMS) mengatakan selain denda besar, perusahaan teknologi dapat diberikan hukuman tambahan 5% dari omset global harian untuk setiap hari pelanggaran berlanjut. Untuk perusahaan seperti Apple itu bisa berarti puluhan miliar dollar Amerika Serikat (AS).

    Logo raksasa teknologi Google. (Foto: Pelopor/Unsplash)

    Bahkan, Manajer senior akan menghadapi hukuman perdata jika perusahaan mereka gagal untuk terlibat dengan benar dengan permintaan informasi. Namun, belum diketahui kapan tepatnya perubahan akan mulai berlaku.

    Eropa, menyetujui undang-undang baru untuk mengekang dominasi Big Tech. Menurut Menteri Digital Chris Philp, hal ini lantaran pemerintah ingin menyamakan aturan main industri teknologi.

    Di mana beberapa perusahaan Amerika telah dituduh menyalahgunakan dominasi pasar mereka. Sehingga Dominasi beberapa raksasa teknologi dinilai menekan persaingan dan menghambat inovasi. []

    [irp]

  • Apple Masih Terus Tertekan Kendala Rantai Pasokan

    Jakarta | Perusahaan teknologi yang berbasis di Cupertino, Apple Inc, memprediksi pendapatannya pada kuartal ini akan tertekan oleh kendala rantai pasokan yang menghabiskan biaya sekitar USD 4 miliar hingga USD8 miliar.

    Sebelumnya, Apple sempat mengatakan bahwa kinerja kuartal I-2022 akan menjadi rekor, meski tingkat pertumbuhannya akan melambat untuk keseluruhan bisnis dan segmen layanannya.

    Namun, aturan pembatasan Covid yang ketat di Tiongkok telah berdampak terhadap permintaan akan produk Apple di negara itu. Ditambah lagi dengan tingginya inflasi dan perang Rusia-Ukraina.

    “Kami tidak kebal terhadap tantangan ini, tetapi kami memiliki kepercayaan diri yang besar pada tim kami, dan produk serta layanan kami dan pada strategi kami,” kata CEO Apple Tim Cook seperti dilansir dari Bloomberg.

    Sejumlah analis memproyeksikan rata-rata Apple meraih USD 94 miliar. Laba masuk pada USD 1,52 per saham, dibandingkan dengan prediksi USD 1,42, yang mendorong kenaikan saham Apple pada akhir perdagangan.

    Penjualan dan laba fiskal kuartal pertama telah melampaui prediksi analis, yang salah satunya didorong oleh kuatnya permintaan iPhone dan layanan digital. Selain itu, Apple juga mengumumkan pembelian kembali saham baru senilai USD 90 miliar.[]

  • Saham Netflix Anjlok Seiring Menurunnya Jumlah Pelanggan

    Jakarta | Saham Netflix anjlok pada perdagangan hari Selasa (19/04/2022), setelah layanan streaming film itu mengungkapkan penurunan jumlah pelanggan pada kuartal pertama tahun ini. Netflix mengakhiri kuartal pertama tahun ini dengan 221,6 juta pelanggan, lebih rendah dari kuartal terakhir tahun lalu.

    Ini adalah pertama kalinya dalam satu dekade Netflix kehilangan pelanggan, yang salah satunya dipicu oleh penangguhan layanan di Rusia akibat invasi ke Ukraina. Selain itu, Netflix juga yakin bahwa pelanggan yang berbagi akun dengan orang yang tidak tinggal serumah turut menghambat pertumbuhannya.

    Netflix saat ini tengah menguji cara untuk menghasilkan uang dari para pelanggan yang berbagi akun, seperti dengan menambahkan fitur yang memungkinkan pelanggan membayar sedikit lebih banyak untuk menambah rumah tangga lain.

    “Kami tidak mencoba untuk menghentikan pembagian itu, tetapi kami akan meminta Anda membayar sedikit lebih banyak untuk dapat berbagi dengannya,” ujar Chief Product Officer Greg Peters yang dikutip dari AFP, Rabu (20/04/2022).

    Faktor lain yang turut menghambat pertumbuhan Netflix adalah persaingan ketat dengan raksasa streaming lainnya, seperti Apple dan Disney.

    “Dengan inflasi yang menguasai, orang mulai memperhatikan uang mereka. Anda mendapatkan situasi di mana orang memikirkan langganan yang mereka miliki dan langganan yang mereka simpan,” kata analis Rob Enderle dari Enderle Group.

    Netflix baru-baru ini mengumumkan kenaikan harga langganan di Amerika Serikat, dengan opsi dasar sekarang berharga USD 9,99, dan yang paling mahal naik menjadi USD 19.99. Perusahaan itu juga sedang mempertimbangkan kemungkinan menambahkan tingkat berlangganan dengan harga lebih rendah yang disubsidi oleh iklan.[]