Tag: YouTube

  • YouTube Shorts Berhasil Raup 1,5 Miliar Penonton Tiap Bulan

    Jakarta | YouTube mengklaim lebih dari 1,5 miliar orang setiap bulan mendengarkan layanan video Shorts miliknya, yang bersaing dengan sensasi global TikTok. YouTube Shorts ditayangkan kurang dari dua tahun yang lalu, menambahkan video tidak lebih dari 60 detik ke berbagai penawaran di platform.

    YouTube yang merupakan milik Alphabet, dan Meta sebagai induk Facebook, keduanya menambahkan format berbagi video berdurasi pendek ke layanan mereka, setelah TikTok menjadi populer. TikTok sendiri menyebut akhir tahun lalu memiliki satu miliar pengguna.

    “Kami tahu produk ini akan terus menjadi bagian integral dari pengalaman YouTube di masa mendatang,” kata kepala produk YouTube Neal Mohan seperti dikutip dari AFP.

    YouTube tahun lalu meluncurkan dana USD 100 juta untuk “menghadiahi pencipta” yang klip videonya menarik penonton ke panggung online.

    YouTube juga telah menggunakan keterampilan periklanan raksasa teknologi Silicon Valley untuk membantu kreator konten menghasilkan pendapatan dari konten di platform, yang menghasilkan pendapatan miliaran dolar pada tahun 2021.

    Wakil Presiden Americas Tara Walpert Levy mengatakan bahwa kreator konten memanfaatkan podcast, film pendek dan streaming langsung di YouTube dalam “pendekatan multi-platform”.

    “Pendekatan ini memberikan hasil yang nyata; saluran yang mengunggah konten berdurasi pendek dan panjang memiliki waktu tonton dan pertumbuhan pelanggan yang lebih baik secara keseluruhan daripada saluran yang hanya mengunggah satu format,” kata Levy.

    Dia menyebut YouTube sebagai toko serba ada bagi orang-orang untuk “melenturkan otot kreatif mereka.”[]

  • TikTok Memungkinkan Pembuat Konten Tarik Biaya Langganan

    Jakarta | TikTok akan mulai mengizinkan sejumlah akun populer di video-snippet streaming star menagih langganan untuk streaming langsung. Hal serupa telah berlaku di rivalnya, seperti Instagram dan Facebook, lantaran platform media sosial bersaing untuk kepribadian online yang menarik penonton.

    “LIVE Subscription adalah perpanjangan dari upaya kami untuk membangun peluang monetisasi kreator yang beragam yang sesuai dengan berbagai kebutuhan kreator,” kata TikTok dalam unggahan blog seperti dikutip dari AFP.

    TikTok menjelaskan, fitur berlangganan yang diperkenalkan pekan ini hanya akan tersedia untuk pembuat konten melalui undangan untuk tahap awal, namun akan diperluas secara global dalam beberapa bulan mendatang. Meski begitu, TikTok tidak menyebutkan nominalnya.

    “Pembuat konten akan dapat beralih ke mode obrolan eksklusif untuk pelanggan, meningkatkan koneksi yang lebih pribadi antara pembuat dan pemirsa,” kata perusahaan itu.

    TikTok juga menegaskan bahwa untuk mengakses fitur Langganan LANGSUNG, pembuat konten harus berusia minimal 18 tahun, sementara pengguna setidaknya harus berusia sama untuk berlangganan.

    Tunjangan pelanggan akan mencakup lencana digital dan, dalam beberapa kasus, kemampuan untuk mengendalikan sudut kamera selama sesi streaming. Sebelumnya pada awal bulan ini, TikTok juga telah mengumumkan program bagi hasil iklan dengan pencipta platform media sosial yang paling menonjol.

    Aplikasi format video pendek telah menjadi sangat populer dalam beberapa tahun terakhir, dengan lebih dari satu miliar pengguna aktif di seluruh dunia, namun menuai kritikan karena tidak menyediakan cara bagi pembuat konten untuk memonetisasi secara efektif.

    Di bawah program TikTok Pulse yang akan diluncurkan di Amerika Serikat (AS) bulan depan, perusahaan dapat menempatkan iklan mereka di sebelah konten pengguna dalam kategori tertentu dan pembuat konten akan mendapatkan potongan.

    Jejaring sosial besar lainnya yang berfokus pada video, seperti YouTube, Instagram dan Snapchat, sudah lebih dulu menerapkan sistem bagi hasil.[]

  • Rusia Desak Google Hentikan Iklan YouTube yang Mengancam Warganya

    peloporberita.com/ – Pemerintah Rusia, mendesak Google Alphabet menghentikan tayangan iklan di YouTube yang berisi ancaman terhadap warganya terkait invasi ke Ukraina. Langkah ini, buntut dari kebijakan Meta Platform, yang membolehkan pengguna melontarkan ujaran kebencian dan kekerasan terhadap pasukan Rusia dan Presiden Vladimir Putin.

    Rusia pun telah memblokir akses Facebook. Twitter dan pada awal pekan ini (14/03/2022), Rusia resmi memblokir Instagram sehingga menutup akses bagi 80 juta pengguna di negara tersebut.

    Roskomnadzor, regulator komunikasi negeri beruang merah menyatakan terdapat akun YouTube yang membuat iklan ancaman terhadap warga Rusia dan sempat tayang di jaringan sistem komunikasi kereta Rusia dan Belarusia.

    Menurut mereka, tayangan itu merupakan bukti bahwa perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) tersebut anti-Rusia. Namun tidak disebutkan nama akun yang menayangkan video tersebut.

    “Tindakan YouTube ini bersifat teroris dan mengancam nyawa dan kesehatan warga Rusia. Roskomnadzor dengan tegas menentang kampanye iklan seperti itu dan mendesak agar Google berhenti menyiarkan video anti-Rusia sesegera mungkin,” sebut regulator dilansir AFP dari kantor berita Interfax.

    Berdasarkan keterangan seorang sumber di Google, video tersebut telah dihapus perusahaan, namun tidak dibeberkan penjelasan lebih lanjut. YouTube, sebelumnya juga telah memblokir akun milik media yang didanai pemerintah Rusia secara global. []

  • Google Tutup Paksa YouTube Vanced, Aplikasi Pemblokir Iklan Populer

    peloporberita.com/ – Pembuat YouTube Vanced mengumumkan, bahwa layanan aplikasi tanpa iklannya resmi dihentikan dalam beberapa hari mendatang dan tautan unduhan pun akan dihapus. Langkah ini diambil, setelah mereka mendapat ancaman hukum dari Google selaku pemilik YouTube.

    “Vanced akan dihentikan. Dalam beberapa hari ke depan, link download di situs web akan dihapus. Kami tahu ini bukan sesuatu yang ingin anda dengar tapi ini adalah sesuatu yang mesti kami lakukan,” Cuit YouTube Vanced dalam akun Twitternya dikutip dari The Verge, Kamis (17/03/2022).

    Aplikasi, memang akan terus berfungsi untuk siapa saja yang sudah menginstalnya di Android, tetapi tanpa ada pembaruan ke depannya maka aplikasi kemungkinan segera berhenti berfungsi.

    Pemilik Vanced mengatakan, Google telah mengirim surat penyetopan operasi baru-baru ini ke pengembang Vanced, yang memaksa mereka berhenti mendistribusikan dan mengembangkan aplikasi.

    “Kami diminta untuk menghapus semua referensi ke ‘YouTube’, mengubah logo, dan menghapus semua tautan yang terkait produk YouTube,” ucap Vanced.

    YouTube Vanced, yang dibuat pada tahun 2017, merupakan aplikasi YouTube pihak ketiga untuk Android, memungkinkan pengguna YouTube memblokir semua iklan video di YouTube tanpa berlangganan Premium.

    Berdasarkan laporan Arstechnika, Hal ini, pelanggaran hak cipta dari pendistribusian ulang kode kepemilikan Google dan pelanggaran merek dagang YouTube. Dengan kata lain, yang dilakukan YouTube Vanced merupakan bentuk pembajakan lantaran penggunanya bisa mengaktifkan fitur YouTube Premium senilai US$12 per bulan secara gratis.

    Vanced tidak hanya memblokir iklan, tetapi menambahkan banyak fitur seperti tema gelap yang lebih gelap, integrasi SponsorBlock, dan preferensi kualitas video. Selain itu, Vanced mengaktifkan kembali tombol “Tidak Suka” YouTube yang telah dihapus serta menghapus UI YouTube Shorts.

    Sebelum Vanced, Google telah terlebih dahulu memaksa penghentian fitur dua bot musik di aplikasi Discord tahun lalu. Bot musik Rythm dan Groovy di Discord ini sering dipakai pengguna untuk mendengarkan musik langsung di aplikasi juga mampu menghindari iklan di YouTube. []

  • TikTok Perpanjang Durasi Video Sampai 10 menit, Saingi YouTube?

    peloporberita.com/ – TikTok pada Senin (28/02/2022) mengumumkan akan memperluas durasi maksimum upload video bagi para penggunanya menjadi 10 menit dari sebelumnya memiliki fitur video yang berdurasi 3 menit saja.

    Pembaruan tersebut merupakan peningkatan terbesar dan akan diluncurkan secara global. Pada bulan Juli 2021 lalu, TikTok memperkenalkan video panjang yang memberi pengguna lebih banyak waktu untuk membuat dan terhibur di TikTok.

    “Kami selalu memikirkan cara-cara baru untuk membawa nilai bagi komunitas kami dan memperkaya pengalaman TikTok,” tutur juru bicara perusahaan dalam sebuah pernyataan yang diberikan kepada The Verge, Senin (28/02/2022)

    Setelah melihat reaksi itu, TikTok kemudian memutuskan untuk meluncurkan video berdurasi 10 menit. TikTok berharap fitur ini akan membuka lebih banyak peluang kreatif bagi kreator di seluruh dunia.

    Video yang lebih panjang memungkinkan TikTok bersaing dengan YouTube dan menangkap pengguna yang lebih tua serta meningkatkan waktu keterlibatan secara keseluruhan di aplikasi.

    Pada saat yang sama, peralihan ke konten yang lebih panjang dapat merugikan perusahaan. Sebab dalam hal ini, jumlah data yang dapat dikumpulkan dari kebiasaan menonton pengguna menjadi terbatas, yang memungkinkan perusahaan menyesuaikan algoritme yang digunakan untuk menarik pengguna.

    Atau dengan kata lain mendapatkan panjang konten yang tepat adalah tindakan penyeimbang.

    Konsultan media sosial Matt Navarra mengatakan dalam sebuah cuitan di Twitter, bahwa TikTok mulai masuk ke teritorial YouTube. Lantaran sekarang bisa mengupload video hingga sepanjang 10 menit.

    Lebih lanjut, dengan penambahan durasi ini , TikTok juga bisa menggapai penonton yang lebih tua dan meningkatkan engagement time secara keseluruhan di aplikasi. []

  • Google Hukum Rusia dengan Blokir Monetisasi Konten Youtube

    peloporberita.com/ – Google memblokir media yang didanai Rusia, yakni RT (Rusia Today) agar tidak bisa mendapatkan penghasilan dari iklan. Langkah menyusul penerapan langkah serupa yang telah dilakukan oleh Meta Platforms Inc, pemilik Facebook. Larangan dan pemblokiran Google ini, berlaku untuk produk-produk Google lainnya, seperti YouTube.

    “Mengingat keadaan luar biasa di Ukraina, kami menghentikan sejumlah kemampuan channel itu untuk memonetisasi di YouTube, termasuk beberapa channel Rusia yang berafiliasi dengan sanksi baru-baru ini,” sebut YouTube, yang dijalankan oleh Google Alphabet Inc, dalam sebuah pernyataan Minggu, (27/02/2022).

    Video dari media-media yang diblokir itu, akan jarang muncul dari rekomendasi. Berdasarkan permintaan pemerintah Ukraina, konten dari Rusia Today dan media lainnya yang dilarang, juga tidak bisa diakses dari Ukraina.

    YouTube mencatat, selama beberapa hari terakhir telah menghapus ratusan saluran, termasuk beberapa saluran yang mereka sebut sebagai “praktik penipuan terkoordinasi,” yakni istilah yang digunakan perusahaan untuk konten yang isinya disinformasi.

    Lebih lanjut, Google juga melarang media-media tersebut menggunakan teknologinya untuk menghasilkan uang dari situs dan aplikasi. Media Rusia, tidak lagi bisa membeli iklan lewat Google Tools atau memasang iklan di layanan Google, termasuk Google Search dan Gmail.

    Sebelumnya, TikTok juga telah memblokir akun kantor berita Rusia RIA Novosti pada Jumat (25/02/2022) malam dan menghapus alamat video Kepala Republik Rakyat Donetsk (DPR), Denis Pushilin yang memproklamirkan diri ‘merdeka dari Ukraina’ terkait upaya pengevakuasian warganya.

    Sementara Uni Eropa, beberapa hari lalu mengenakan sanksi terhadap individu, yaitu pemimpin redaksi RT Margarita Simonyan, yang dijuluki tokoh penting dalam propaganda Rusia.

    Sementara hingga hari keempat sejak Rusia menginvansi negara tersebut Kamis (24/02/2022), Situasi di Ukraina, Minggu (27/02/2022) terus memanas. Ledakan besar masih terdengat di kota Vasylkiv dan seorang bocah berusia 6 tahun tewas akibat pertempuran di Kiev.

    Terakhir kali Pemerintah Ukraina memberikan perkembangan terbaru atas jumlah korban tewas akibat serangan Rusia adalah pada Kamis (24/02/2022), yakni sebanyak 137 warga Ukraina meninggal dunia. []

  • YouTube Bakal Garap NFT dan Metaverse Tahun ini

    peloporberita.com/ – Aplikasi berbagi video milik Google, YouTube, mengumumkan rencana untuk menggarap proyek blockchain dan metaverse pada tahun 2022 ini. Youtube mengatakan, nantinya pengguna dapat memanfaatkan teknologi terbaru untuk mengurangi penipuan di pasar digital art yang sedang tumbuh pesat, sekaligus menawarkan pengalaman menonton yang lebih baik.

    Ekspansi itu dilakukan YouTube, untuk berkompetisi dengan pesaingnya TikTok milik Bytedance dan Instagram milik Meta Platform. Sebelumnya Youtube juga telah menjajaki penggunaan teknologi Web3 seperti NFT atau non-fungible token berupa klip video, seni, atau aset digital lainnya melalui blockchain sebagai teknologi pencatatan.

    Penjualan NFT melonjak mulai tahun lalu, namuan kritikus banyak mengatakan, NFT hanya sebuah penipuan, pencurian hak cipta, dan perilaku predator lainnya.

    “Kamu memberikan cara yang dapat diverifikasi bagi penggemar untuk memiliki video, foto, seni, dan bahkan pengalaman unik dari pembuat konten favorit mereka, dapat menjadi prospek yang menarik bagi pembuat konten dan audiens mereka,” sebut YouTube dalam pengumumannya.

    Metaverse juga bakal jadi prioritas bagi YouTube, yakni sebuah elemen dari gerakan Web3 yang menggambarkan dunia virtual, di mana orang biasanya berinteraksi melalui avatar. Selain itu, ada kemungkinan pengguna dapat menonton video bersama dalam metaverse.

    Meski demikian, secara umum untuk saat ini YouTube hanya akan fokus pada video yang terkait dengan game. Dimana mereka bekerja untuk menghadirkan lebih banyak interaksi ke permainan dan membuatnya terasa lebih hidup. []

  • Bisnis Periklanan Amazon Tumbuh 32%

    peloporberita.com/ | Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Amazon.com Inc mencetak pendapatan dari bisnis iklannya sebesar USD 9,7 miliar pada kuartal keempat, tumbuh 32 persen secara year-on-year.

    Adapun total sepanjang tahun lalu, Amazon meraih USD 31 miliar dari bisnis iklan. Angka itu lebih besar dari pendapatan iklan YouTube yang senilai USD 28,8 miliar, seperti dikutip dari Reuters.

    Analis Benedict Evans menyebut, hal itu membuat pendapatan iklan Amazon serupa dengan ukuran seluruh industri surat kabar global

    Amazon menayangkan iklan di situs webnya dan layar pengaktifan sejumlah tabletnya, menggunakan kueri penelusuran oleh pelanggannya untuk membantu menargetkan iklan. Iklan tersebut sering dilakukan oleh perusahaan yang menjual di pasarnya.

    “Menjual ruang tambahan digital adalah penghasil uang tunai yang bagus untuk dimiliki di saat ketidakpastian,” kata Analis Ekuitas Hargreaves Lansdown Sophie Lund-Yates.

    Lund-Yates melihat bisnis iklan Amazon lebih sejalan dengan induk Google, Alphabet, yang juga memiliki data sendiri tentang pelanggan dari sistem pencariannya.

    Amazon.com adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia yang fokus dibidang perdagangan berbasis online.

    Awalnya, perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos ini hanya menjual buku, kemudian makin bervariasi hingga merambah yang lainnya seperti streaming video, software, video game, elektronik, kebutuhan sehari-hari, furnitur dan perhiasan. []

    Baca juga: Starbucks Hadirkan Kafe Tanpa Kasir Bersama Amazon Go

  • Google Hentikan YouTube Originals yang Dibentuknya Sejak 2016

    peloporberita.com/ | Google secara resmi telah menghentikan program YouTube Originals yang dibentuknya sejak 2016. Sebelumnya, Google menugaskan divisi tersebut untuk menghasilkan konten video eksklusif, seperti video edukasi, serial, konten musik dan selebriti untuk para pelanggan YouTube Premium.

    Selama beroperasi, YouTube Originals sempat beberapa kali berubah haluan. Awalnya, di bawah pimpinan Susanne Daniels, mereka membuat konten scripted yang berpusat pada kreator seperti serial ‘Scare PewDiePie’. Kemudian mereka juga pernah merambah konten ala Hollywood, dengan merilis serial seperti ‘Cobra Kai’ yang akhirnya pindah ke Netflix.

    Lalu, YouTube Originals beralih ke konten yang memuat iklan dan dibintangi oleh sejumlah selebriti, seperti Katy Perry dan Kevin Hart, untuk ditayangkan gratis ke seluruh pengguna yang sekalipun tidak berlangganan YouTube Premium.

    Pengumuman ditutupnya YouTube Originals disampaikan oleh Chief Business Officer YouTube Robert Kyncl, melalui akun Twitternya, seperti dikutip dari The Verge. Setelah program ini dihentikan, perusahaan tersebut akan fokus mendanai program untuk YouTube Kids dan Black Voices.

    Selain mengumumkan penghentian program, Kyncl juga menyebutkan bahwa Daniels akan meninggalkan YouTube pada Maret mendatang, keputusan yang turut memicu kematian YouTube Originals.

    Padahal beberapa bulan lalu, YouTube Originals telah mengumumkan sejumlah program baru yang akan tayang tahun ini, termasuk serial yang dibintangi Will Smith dan Alicia Keys. []

    Baca juga: Alasan Youtube Hentikan Video Rewind

  • Pengawasan Diperketat, Microsoft Hentikan Layanan LinkedIn di China

    peloporberita.com/ | Microsoft menghentikan layanan LinkedIn di China, setelah tujuh tahun beroperasi di negeri tirai bambu. Keputusan ini diambil seiring dengan makin ketatnya Pemerintah China dalam mengendalikan operasional internet di negaranya.

    Berdasarkan laporan Reuters, LinkedIn menyatakan akan menggantikan platformnya pada akhir tahun ini dengan InJobs, yaitu versi yang hanya fokus pada pekerjaan. Dalam aplikasi InJobs, tidak ada umpan sosial (social feed) ataupun pilihan untuk berbagi, seperti di LinkedIn.

    “Meskipun kami telah menemukan keberhasilan dalam membantu anggota China untuk menemukan pekerjaan dan peluang ekonomi, kami belum menemukan tingkat keberhasilan yang sama dalam aspek sosial yang lebih banyak berbagi dan tetap mendapat informasi,” kata LinkedIn dalam blognya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (16/10/2021).

    Sebelumnya pada bulan Maret, LinkedIn telah menghentikan pendaftaran baru di China, sebagai upaya mematuhi Undang-Undang yang berlaku di negara itu. Dua bulan kemudian, LinkedIn termasuk di antara 105 aplikasi yang dituduh oleh regulator internet China mengumpulkan dan menggunakan informasi pribadi secara ilegal dan diperintahkan untuk melakukan perbaikan.

    Berdasarkan laporan web berita Axios, LinkedIn disebut telah memblokir profil beberapa jurnalis dan akademisi Amerika Serikat (AS) yang berisi informasi yang dianggap sensitif oleh Pemerintah China, dengan mengutip ‘konten terlarang’.

    Tidak hanya LinkedIn, jejaring media sosial barat lainnya juga mengalami nasib serupa di China, sebut saja Twitter, Facebook dan YouTube. Selain itu, Microsoft juga memiliki Bing, satu-satunya mesin pencari asing utama yang dapat diakses dari dalam yang disebut Great Firewall China, yang hasil pencariannya pada topik sensitif disensor. []