Tag: WHO

  • Jumlah Perokok di Dunia Turun, WHO Tetap Desak Pengendalian Tembakau

    peloporberita.com/ | Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan, dalam beberapa tahun terakhir, jumlah perokok di dunia terus menurun. Pada 2020, WHO mencatat ada sekitar 1,30 miliar perokok di dunia, turun sekitar 2% dari data dua tahun sebelumnya.

    WHO pun memprediksi jumlah itu akan terus berkurang menjadi 1,27 miliar pada 2025. Namun, data WHO ini tidak termasuk dengan pengguna rokok elektrik.

    Meski demikian, WHO mendesak negara-negara untuk meningkatkan langkah pengendalian lebih lanjut untuk menghentikan kecanduan tembakau.

    Baca juga: Menghilangkan Bau Rokok di dalam Mobil Bisa dengan Bumbu Dapur

    “Sangat menggembirakan melihat lebih sedikit orang yang menggunakan tembakau setiap tahun,” ujar Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari AFP.

    Menurut WHO, lebih dari delapan juta orang meninggal akibat rokok setiap tahunnya. Dari angka itu, sekitar 1,2 juta orang adalah perokok pasif atau orang yang tidak merokok tapi terpapar asap rokok.

    Terkait hal itu, WHO memperingatkan bahwa jumlah kematian tahunan akan terus meningkat bahkan ketika penggunaan tembakau terbilang menurun, lantaran tembakau membunuh penggunanya dan orang-orang yang terpapar emisinya secara perlahan. []

  • Indonesia Juara 1 Indeks Pemulihan Covid-19 di ASEAN

    peloporberita.com/ | Indonesia menduduki posisi pertama dalam daftar terbaru indeks pemulihan Covid-19 untuk wilayah Asia Tenggara, yang dirilis media asal Jepang, Nikkei Asia, pada 6 Oktober 2021.

    Berdasarkan data yang dikumpulkan sampai 30 September 2021, Indonesia ada di peringkat ke-54 dari 121 negara yang diteliti di seluruh dunia, dengan total skor 54,5 dari skala 0-90. Posisi Indonesia mengalami kenaikan dari peringkat 92 di edisi sebelumnya per tanggal 31 Agustus.

    Skor yang diperoleh terdiri dari tiga kategori yang kemudian diakumulasi, yaitu manajemen infeksi, program vaksinasi dan mobilitas.

    Baca juga: DPR Berharap Santunan untuk Anak-anak Terdampak Covid Bisa Berlanjut

    Hal ini memang menggambarkan kondisi penanganan pandemi di Indonesia terus membaik, seiring dengan jumlah kasus harian yang terus menurun. Namun, bukan berarti pandemi sudah benar-benar berakhir.

    Angka vaksinasi yang masih jauh dari target, terlebih lonjakan kasus Covid-19 pada Juli lalu, harus menjadi pengingat bahwa kita harus tetap disiplin dalam protokol kesehatan meskipun pemerintah sudah mulai melonggarkan Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

    Baca juga: Penyintas Covid Bisa Divaksin Sebulan Setelah Sembuh

    Seperti diketahui, pada PPKM 5-18 Oktober 2021 di Pulau Jawa-Bali, sudah tidak ada kabupaten/kota yang menerapkan PPKM Level 4. Namun untuk PPKM di Jawa dan Bali yang Level 3 masih ada 107 kabupaten/kota dan untuk Level 2 ada 20 kabupaten/kota.

    Kota Blitar menjadi satu-satunya kota yang menerapkan PPKM Level 1 karena telah memenuhi syarat indikator WHO. Selain itu, target cakupan vaksinasi dosis pertama di Blitar sudah mencapai 70 persen dan dosis pertama lansia sebesar 60 persen. []

  • WHO Peringatkan Virus Marburg Bisa Menyebar Luas dan Menular

    peloporberita.com/ | Jakarta – World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia memberikan peringatan bahwa virus Marburg berpotensi menyebar luas dan dapat menginfeksi banyak orang di seluruh dunia. Virus Marburg masuk dalam kategori penyakit sangat menular, demikian kata WHO.

    WHO menyebutkan bahwa disampaikan setelah seorang lelaki di Guinea, Afrika Barat tewas setelah terkonfirmasi tertular virus tersebut. Temuan ini juga menandai pertama kalinya virus Marburg terdeteksi di Guinea.

    Dikutip dari Insider, Kamis, 12 Agustus 2021, WHO mengatakan virus Marburg bisa menularkan ke manusia melalui kelelawar buah, dan ditularkan dari satu orang ke orang lain lewat kulit dan cairan tubuh.

    8 Gejala Terinfeksi Virus Marburg

    Sejauh ini, virus Marburg dapat menginfeksi manusia, gejala yang dialami meliputi demam tinggi dan sakit kepala yang tiba-tiba.

    Virus Marburg salah satu virus yang berasal drai keluarga Filovirus, yang mana sama seperti virus Ebola. Bedanya, kedua penyakit ini disebabkan oleh virus yang berbeda.

    Kendati demikiian, virus Marburg memiliki gejala yang hampir serupa dengan virus Ebola. Berikut ini dilansir dari Express, beberapa gejala virus Marburg.

    1. Demam
    2. Sakit kepala
    3. Kelelahan
    4. Sakit dan nyeri otot
    5. Diare berair yang parah
    6. Sakit perut dan kram
    7. Mual dan muntah
    8. Ruam

    Pada awalnya virus Marburg dan virus Ebola akan menimbulkan gejala seperti flu. Kemudian, gejala ini akan berkembang cepat menjadi parah yang seringkali merupakan gejala hemoragik (pendarahan).

    Virus Marburg maupun virus Ebola juga bisa menyebabkan demam berdarah, yang artinya kedua virus ini mengakibatkan pendarahan pada organ dalam tubuh. Pada kasus yang lebih buruk, darah pasien mungkin mulai merembes dari lubang atau tempat suntikan.

    Infeksi ini juga bisa menyebabkan pendarahan internal parah di dalam tubuh selama tujuh hari. Adapun risiko kematiannya mencapai 24 hingga 88 persen.

    “Kami mengapresiasi kewaspadaan dan tindakan investigasi cepat oleh petugas kesehatan Guinea,” ujar Matshidiso Moeti, Direktur Regional WHO di Afrika.

    WHO akhirnya bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat untuk merespon dengan cepat, berdasarkan pengalaman ahli saat menangani wabah Ebola, yang penularannya dengan cara yang sama.

    Sebanyak 155 orang diidentifikasi sudah melakukan kontak dekat lelaki yang meninggal dunia itu. Selanjutnya orang-orang ini akan diobservasi selama tiga minggu lamanya.

    “Ini adalah pengawasan dan pelacakan aktif. Orang yang melakukan kontak di rumah, diisolasi dan dipisahkan dengan anggota keluarga lainnya. Mereka kemudian diperiksa setiap harinya untuk melihat gejala yang berpotensi bahaya,” ujar Georges Ki Zerbo, Kepala WHO di Guinea.

    Selanjutnya, upaya memerangi virus Marburg tidak akan jauh berbeda seperti melawan virus Ebola, karena kedua virus ini masih berasal dari satu keturunan yang sama dengan tingkat kematian 50 persen.

    Diketahui, virus Ebola pada 2014 menginfeksi 28.600 orang, dan menyebabkan 11.300 kematian di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

    Sedangkan lokasi lelaki yang meninggal karena virus Marburg berada di daerah yang sama saat wabah Ebola muncul pada tahun 2021 di Guinea.[]

    Baca juga: Suntik Dosis Kedua Terlambat, Tidak Pengaruhi Efektivitas Vaksin

    Baca juga: Setelah Disuntik Vaksin, Antibodi Turun? Begini Penjelasan Ahli

  • Hari Donor Darah Sedunia Diperingati Setiap 14 Juni, Begini Asal Mulanya

    Jakarta – Awalnya, Hari Donor Darah dirayakan untuk memperingati ulang tahun Karl Landsteiner, seorang ilmuwan yang memenangkan Hadiah Nobel, akan penemuannya terhadap sistem golongan darah A,B,O, pada 14 Juni 1868.

    Sebelum Karl menemukan golongan darah, transfusi darah sering dilakukan tanpa mengetahui golongan darah seseorang. Pada tahun 1930, Karl memenangkan Hadiah Nobel karena penemuannya tersebut.

    Donasi darah telah menyelamatkan jutaan hidup orang setiap tahunnya

    Pada Mei 2005, para Menteri Kesehatan dari seluruh dunia membuat deklarasi komitmen dan dukungan pada donor darah sukarela dalam Majelis Kesehatan Dunia Ke-58, dan menetapkan Hari Donor Darah Sedunia sebagai acara tahunan yang dirayakan setiap 14 Juni.

    Tiap tahunnya, negara yang ditunjuk menjadi tuan rumah, terpilih untuk merayakan Hari Donor Darah Nasional. Namun, akibat adanya pandemi sejak 2020, maka Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan kampanye virtual global.

    Apa saja syarat untuk donor darah?

    Menurut laman WHO, mayoritas orang dapat melakukan donor darah, dengan batas usia 18-65 tahun. Namun, ada beberapa negara yang menerapkan batas lebih rendah, atau lebih tinggi.

    Mengenai berat badan, menurut WHO, minimal yang dapat mendonorkan darahnya adalah orang dengan berat 50 kg. Meski ada juga negara-negara yang menetapkan minimal 45 kg.

    Syarat wajib donor darah adalah dalam keadaan sehat, tidak boleh sakit flu, sakit tenggorokan, sakit perut, atau infeksi lainnya. Jika orang tersebut baru saja membuat tato atau tindik badan, maka tidak dapat menyumbangkan darahnya selama 6 bulan sejak pembuatan tato atau tindik.

    Syarat wajib donor darah adalah dalam keadaan sehat, tidak boleh sakit flu, sakit tenggorokan, sakit perut, atau infeksi lainnya.

    Selain itu, jika Anda baru mengunjungi dokter untuk prosedur minor, maka harus menunggu selama 24 jam sebelum donor darah. Sedangkan untuk prosedur mayor, harus tunggu hingga satu bulan.

    Orang tidak boleh mendonorkan darah, jika tidak memenuhi kadar hemoglobin minimum untuk donor darah. Sebelum donor darah, wajib dites terlebih dahulu untuk itu. Di banyak negara, tingkat hemoglobin tidak kurang dari 12 g/dl untuk perempuan, dan tidak kurang dari 13 g/dl untuk laki-laki. []