Jakarta – Kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali melonjak menjadi diatas seribuan kasus. Berdasarkan data Satgas Covid-19 kasus positif bertambah 1.200 pada Jumat, (18/06/2022) menjadi total 6.065.644. Sedangkan jumlah pasien yang sembuh sebanyak 556 orang menjadi 5.901.639. Sementara pasien yang meninggal mencapai 6 orang menjadi 156.679.
Menanggapi hal ini, Presiden Joko Widodo menegaskan, meski positivity rate Indonesia masih di bawah standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tetapi pemerintah dan masyarakat harus tetap waspada menghadapi pandemi Covid-19.
“Sejak awal meskipun belum naik, dulu kan saya sudah ngomong, enggak sekali, dua kali, tiga kali, waspada, waspada, waspada, baik oleh yang Omicron maupun yang BA.4, BA.5,” tuturnya usai menghadiri acara Silaturahmi dengan Alumni Penerima Kartu Prakerja di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jumat, (17/06/2022)
Jokowi berharap tidak ada kenaikan kasus Covid-19 dalam kurun waktu ke depan. Untuk itu, Kepala Negara terus mendorong masyarakat untuk segera mendapatkan suntikan ketiga vaksin Covid-19 atau booster sebagai salah satu langkah antisipasi.
“Kita berharap tidak ada kenaikan, tapi saya kira antisipasi kita sudah saya sampaikan juga sebulan, dua bulan yang lalu booster semuanya booster,” harap Presiden.
[irp]
Jokowi juga menerangkan bahwa pemerintah telah menyediakan vaksin Covid-19 dalam jumlah yang banyak sehingga masyarakat bisa segera mendapatkan suntikan vaksin ketiga Covid-19 atau booster.
“Vaksinnya ada, masih ada puluhan juta. Itu segera, minta semuanya. Sekarang ini kita ingin melakukan booster mencari pesertanya itu yang kesulitan,” tegasnya. []
Jakarta | Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memprediksi saat ini sudah lebih dari dua pertiga populasi dunia memiliki tingkat antibodi Covid-19 yang signifikan, yang berarti mereka telah terinfeksi atau divaksinasi.
Dalam ringkasan studi dari seluruh dunia, WHO menyebut tingkat seroprevalensi melonjak, dari 16% pada Februari 2021, menjadi 67% pada Oktober. Mengingat, munculnya varian omicron yang menyebar cepat, angkanya mungkin lebih tinggi sekarang.
Mengutip Bloomberg, rangkuman WHO menawarkan gambaran tentang seberapa baik dunia meningkatkan resistensi terhadap pandemi.
Sementara vaksin hanya memberikan perlindungan sederhana terhadap infeksi dari omicron, WHO masih mendesak negara-negara untuk meningkatkan tingkat vaksinasi, terutama bagi orang-orang dalam kelompok berisiko tinggi, lantaran imunisasi memberikan tingkat perlindungan yang lebih tinggi terhadap penyakit parah daripada infeksi Covid sebelumnya.
WHO juga menyebutkan, sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa orang yang telah terinfeksi Covid dan divaksinasi memiliki perlindungan terbaik terhadap hasil yang parah, meskipun tidak jelas apakah itu benar dengan varian baru.
Data WHO menunjukkan tingkat seroprevalensi yang lebih rendah pada anak-anak berusia 9 tahun ke bawah dan pada orang di atas 60 tahun dibandingkan dengan mereka yang berusia 20-an. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kebanyakan seroprevalensi menunjukkan infeksi masa lalu daripada vaksinasi.
Kehadiran antibodi umumnya berkurang dari waktu ke waktu, kemudian tingkat dan kegigihan kekebalan tergantung pada sejumlah faktor. WHO juga menyatakan pihaknya masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan seberapa cepat perlindungan berkurang.[]
Jakarta | Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO) menyesalkan mereka tidak memiliki akses ke data tentang wabah Covid-19 Korea Utara, namun menganggap krisis itu semakin dalam, bertentangan dengan laporan “kemajuan” yang disebutkan pemerintah Korea Utara.
Korea Utara, yang mengumumkan kasus virus Covid-19 pertamanya pada 12 Mei 2022, pekan lalu mengatakan bahwa wabah Covid telah dikendalikan, dengan media pemerintah melaporkan penurunan beban kasus. Namun direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mempertanyakan klaim itu.
“Saat ini kami tidak dalam posisi untuk membuat penilaian risiko yang memadai dari situasi di lapangan, sangat, sangat sulit untuk memberikan analisis yang tepat kepada dunia ketika kami tidak memiliki akses ke data yang diperlukan,” kata Ryan seperti dikutip dari AFP.
Pimpinan WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan, Korea Utara telah mendaftarkan lebih dari tiga juta kasus dugaan Covid, meskipun akun resmi hanya menyebutkan kasus “demam”.
Kantor Berita Pusat Korea yang dikelola pemerintah atau The state-run Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan, Kamis pagi sekitar 96.600 “kasus demam” dalam 24 jam, dengan total 3,8 juta kasus sejak akhir April. Tidak ada kematian baru yang diumumkan, dengan 69 kematian pada akhir pekan lalu.
Ini adalah penghitungan harian ketiga berturut-turut kurang dari 100.000, turun dari tertinggi 390.000 kasus harian pada pertengahan Mei, menurut laporan kantor berita Korea Selatan Yonhap.
Korea Utara juga telah menolak suntikan yang ditawarkan oleh WHO dan tidak memvaksinasi salah satu dari sekitar 25 juta orangnya. Ryan menekankan pentingnya mengekang wabah di negara miskin itu.
“Kami telah menawarkan bantuan pada beberapa kesempatan. Kami telah menawarkan vaksin pada tiga kesempatan terpisah. Kami terus menawarkan,” katanya.
WHO telah berulang kali memperingatkan agar tidak membiarkan virus Corona menyebar tanpa terkendali, antara lain karena kemungkinan besar akan bermutasi dan menghasilkan varian baru yang berpotensi lebih berbahaya. []
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menyampaikan, Pemerintah Indonesia telah mendorong upaya membangun ketangguhan bangsa melalui pemulihan sektor sosial-ekonomi dari pandemi COVID-19. Hal ini, sejalan dengan tema pada Global Platform for Disaster Risk Reduction atau GPDRR 2022.
“Salah satunya, kita melakukan vaksinasi COVID-19. Hingga 23 Mei 2022 vaksinasi telah mencapai 61,38% populasi atau setara dengan 165 juta orang,” tuturnya pada pertemuan Bilateral bersama Presiden Majelis Umum PBB Abdulla Shahib di BNDCC Bali, Rabu (25/05/2022).
Selain itu, Indonesia juga aktif membangun kerjasama internasional, di mana salah satunya bersama negara-negara anggota WHO mendorong penguatan Preparedness and Response System melalui Pandemic Treaty.
Sementara menghadapi potensi ancaman dan kerentanan pandemi global dimasa mendatang, Indonesia berkomitmen membangun ketahanan kesehatan (health resiliencies) untuk menciptakan populasi sehat yang mampu secara kolektif mencegah dan menghadapi krisis tanpa meninggalkan siapapun.
“Indonesia berkomitmen besar terhadap pemberdayaan perempuan serta kesetaraan gender sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia berdasarkan prinsip keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan,” tegas Menko PMK.
Ia juga memaparkan bahwa sampai tahun 2021, 10 dari 100 perempuan berusia 15 tahun ke atas di Indonesia berhasil meraih ijazah perguruan tinggi.
Peran Majelis Umum PBB sendiri, sangat penting dalam memperkuat resolusi pada Hak Asasi Manusia dan dukungan Kemanusiaan secara global, khususnya dalam mendorong upaya pemulihan COVID-19 untuk memastikan masyarakat global aman melalui Pandemic Treaty.
“Pemerintah Indonesia terbuka untuk peluang kolaborasi global untuk pengurangan risiko bencana, pemulihan dari COVID-19, serta program dalam pemberdayaan perempuan dan pemuda,” ucap Menko PMK.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Majelis Umum PBB Abdulla Shahib mengatakan, pemulihan dari pandemi adalah prioritas pertama dan utama bagi PBB.
[irp]
“Tujuan kami adalah untuk mencapai vaksinasi universal, sebagai satu-satunya jeda kami dari COVID-19 karena tidak ada yang aman sampai semua orang aman,” kata Abdulla.
Abdulla juga turut mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang sudah tanggap terhadap bencana terutama Covid-19.
“Saya terkesan dengan upaya Indonesia dalam menghadapi pandemi dan pentingnya pemerataan vaksin sebagai solusi akhir untuk mengakhiri pandemi. Ini terbukti dengan tingginya persentase dari total populasi Indonesia yang sekarang sudah divaksinasi lengkap,” sebut Abdulla.
[irp]
Menurut Abdulla, diselenggarakannya GPDRR ke-7 di Bali merupakan bukti komitmen dan kepemimpinan Indonesia dalam isu pengurangan risiko bencana.
“Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada Bapak Muhadjir, sebagai Ketua Panitia Nasional GPDRR, atas persiapan dan pengaturan pertemuan yang sangat baik. Saya yakin bahwa di bawah bimbingan Anda yang mampu, GPDRR akan menghasilkan hasil yang sukses,” tandasnya. []
Jakarta – Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril mengatakan, bahwa hingga kini belum ada laporan kasus cacar monyet (monkeypox) di Indonesia. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan sejumlah kewaspadaan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tersebut di Indonesia.
“Hingga saat ini belum ada kasus (cacar monyet) yang dilaporkan dari Indonesia,” tuturnya pada konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (24/05/2022).
Kewaspadaan yang dilakukan Kemenkes yakni dengan tetap melakukan pembaharuan situasi dan frekuensi question (FAQ) terkait monkeypox yang dapat diunduh melalui https://infeksiemerging.kemkes.go.id/.
Mohammad Syahril juga menyampaikan, selain pembaharuan situasi, Kemenkes juga menyiapkan surat edaran untuk meningkatkan kewaspadaan di setiap wilayah melalui dinas kesehatan, kantor kesehatan pelabuhan, dan rumah sakit.
Revisi pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet menurut Syahril, dilakukan untuk menyesuaikan situasi dan informasi baru dari WHO, khususnya mengenai surveilans, tatalaksana klinis, komunikasi risiko, dan pengelolaan laboratorium.
Mohammad Syahril menjelaskan, cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis. Virus tersebut, ditemukan pertama kali pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970.
[irp]
Penularannya, melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus. “Penularan dapat melalui darah, air liur, cairan tubuh, Lesi kulit atau cairan pada cacar, kemudian droplet pernapasan,” ungkap Syahril.
Adapun masa inkubasi cacar monyet biasanya terjadi pada 6 sampai 16 hari tetapi dapat mencapai 5 sampai 21 hari. Fase awal gejala yang terjadi pada 1 sampai 3 hari yaitu demam tinggi, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas.
Pada fase erupsi atau fase paling infeksius terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok.
“Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok,” jelas Syahril.
Ia mengimbau kepada masyarakat, jika mengalami gejala demam dan ruam harap memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Selain itu, masyarakat juga diimbau mematuhi protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.
Organisasi Kesehatan dunia WHO saat ini, telah menetapkan cacar monyet menjadi penyakit yang memerlukan perhatian masyarakat global. Sebab sebagian besar kasus dilaporkan dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemis.
“Sebagian kasus berhubungan dengan adanya keikutsertaan pada pertemuan besar yang dapat meningkatkan risiko kontak baik melalui lesi, cairan tubuh, droplet, dan benda yang terkontaminasi,” tegas Syahril. []
Jakarta | Penyakit hepatitis akut yang sedang melanda dunia diduga telah masuk ke Indonesia setelah tiga anak dilaporkan meninggal akibat terinfeksi penyakit tersebut. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan melakukan tindakan pencegahan, salah satuya dengan menjaga kebersihan diri.
“Virus ini menularnya lewat asupan makanan yang lewat mulut, jadi kalau bisa rajin cuci tangan saja supaya kita pastikan yang masuk ke anak-anak kita, kan ini menyerang banyak di bawah 16 tahun lebih banyak lagi di bawah 5 tahun,” kata Budi seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet.
Secara umum, gejala awal penyakit hepatitis akut adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Kemudian, gejala akan semakin berat, seperti air kencing berwarna pekat dan buang air besar berwarna putih pucat.
“Kalau dia buang air besar dan kemudian mulai ada demam, nah itu dicek SGPT- SGOT-nya. Kalau sudah di atas 100, lebih baik di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat. SGPT-SGOT normalnya di level 30-an, kalau sudah naik agak tinggi sebaiknya di-refer ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.
Budi mengatakan, saat ini tercatat 15 kasus dugaan atau suspek hepatitis akut. Tiga kasus pertama di Indonesia dilaporkan pada 27 April, beberapa hari setelah Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengumumkan adanya kejadian luar biasa atau outbreak penyakit ini di Eropa.
Kementerian Kesehatan RI menindaklanjuti kejadian ini dengan membuat Surat Edaran (SE) tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology).
“Tanggal 27 April itu kita sudah langsung mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan melakukan surveillance monitoring terhadap kasus ini,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Kementerian Kesehatan RI juga telah berkomunikasi dengan Centers for Disease Control and Prevention Amerika Serikat dan Pemerintah Inggris untuk memperoleh informasi mengenai penyakit hepatitis akut.[]
Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, hampir 300 kemungkinan kasus anak-anak dengan hepatitis berat telah terdeteksi di 20 negara di seluruh dunia, dengan beberapa diantaranya ada di Asia Tenggara.
Pejabat kesehatan di seluruh dunia pun, kini sedang menyelidiki peningkatan misterius kasus infeksi hati yang pertama kali terlihat di Inggris tersebut. Virus yang disebut adenovirus itu, mengalami lonjakan kasus ketika dunia dalam masa pemulihan akibat pandemi Covid-19.
Pada 1 Mei, sebagian besar kasus anak-anak dengan hepatitis telah terdeteksi di Eropa dengan jumlah kecil juga dilaporkan di Amerika, Pasifik barat dan Asia Tenggara.
Kasus pertama hepatitis yang tidak biasa ini, terlihat di Skotlandia pada anak-anak di bawah usia 10 tahun. Lebih dari 140 kasus sekarang sedang diselidiki di Inggris.
Sebagian besar anak-anak Inggris memiliki bentuk peradangan hati ringan, meskipun 10 anak-anak membutuhkan transplantasi hati. Mereka memiliki gejala awal muntah dan diare diikuti oleh menguningnya kulit atau putih mata, yang disebut penyakit kuning.
Virus hepatitis yang biasanya menyebabkan kondisi (virus A, B, C, D dan E) tidak terdeteksi pada salah satu anak-anak. Negara-negara di seluruh dunia mulai mencari kondisi hati yang tidak dapat dijelaskan ‘yang tidak diketahui asalnya’ pada anak-anak setelah disorot oleh pejabat kesehatan Inggris. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa kondisi langka itu sendiri menyebar ke seluruh dunia.
Foto: Freepik
Sementara WHO mengatakan, belum jelas apakah telah terjadi peningkatan kasus hepatitis, atau peningkatan kesadaran akan kondisi yang biasanya tidak terdeteksi. Para ilmuwan sendiri percaya bahwa virus umum yang telah pulih sejak pandemi dapat memainkan peran. Ini telah beredar pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari biasanya baru-baru ini.
Adenovirus adalah patogen yang paling umum terdeteksi pada sekitar tiga perempat anak-anak Inggris dengan hepatitis dikonfirmasi yang diuji. Dan jenis adenovirus tertentu, yang disebut F41, ditemukan dalam seperempat darah anak-anak itu. Adenovirus yang sama juga dilaporkan telah ditemukan pada sembilan anak dengan hepatitis di Amerika Serikat.
[irp]
Pejabat kesehatan Inggris percaya anak-anak kecil, yang tidak terpapar virus umum selama pandemi Covid karena berkurangnya pencampuran sosial, sekarang terinfeksi ketika mereka tidak memiliki perlindungan sebelumnya.
Ada 50 jenis adenovirus dan mereka umumnya menyebabkan pilek, dan kadang-kadang penyakit dan diare. Mereka jarang menyebabkan hepatitis pada anak-anak yang sehat.
Para ahli kesehatan juga menyelidiki penyebab lain, seperti munculnya strain baru adenovirus, infeksi Covid sebelumnya atau keduanya terjadi pada saat yang sama.
“Sementara adenovirus adalah hipotesis yang mungkin, penyelidikan sedang berlangsung untuk agen penyebab,” sebut WHO. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia yang belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.
Terkait hal itu, Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr.Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.
Ketiga pasien tersebut, rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Adapun gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran.
Kementerian Kesehatan sendiri, saat ini tengah berupaya untuk melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut ini melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta juga sedang melakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut.
“Selama masa investigasi, kami menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tetap tenang,” tutur Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi dalam keterangan resmi yang dikutip Senin, (02/04/2022).
“Lakukan tindakan pencegahan seperti mencuci tangan, memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak bergantian alat makan, menghindari kontak dengan orang sakit serta tetap melaksanakan protokol kesehatan,” sambungnya.
Foto: Freepik
Nadia menyampaikan, Jika anak-anak memiliki gejala kuning, sakit perut, muntah-muntah dan diare mendadak, buang air kecil berwarna teh tua, buang air besar berwarna pucat, kejang, penurunan kesadaran agar segera memeriksakan anak ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.
Menurut Nadia, sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara.
WHO sendiri, lanjut Nadia, pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.
[irp]
Kisaran kasusnya, terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya atau sebesar 10 persen memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal.
Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice (Penyakit Kuning) akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.
Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium diluar negeri telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut.
[irp]
Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus dil luar negeri yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus.
Kementerian Kesehatan melalui Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, kemudian mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 Tentang Kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology) tertanggal 27 April 2022.
Surat Edaran itu, maksudnya untuk meningkatkan dukungan Pemerintah Daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, sumber daya manusia (SDM) kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya.
[irp]
Lebih lanjut, Kemenkes meminta Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Rumah Sakit untuk antara lain memantau dan melaporkan kasus sindrom Penyakit Kuning akut di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
Gejala nya, ditandai dengan kulit dan sklera berwarna ikterik atau kuning dan urin berwarna gelap yang timbul secara mendadak dan memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat serta upaya pencegahannya melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Kemenkes juga meminta pihak terkait untuk menginformasikan kepada masyarakat untuk segera mengunjungi Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat apabila mengalami sindrom Penyakit Kuning, dan membangun dan memperkuat jejaring kerja surveilans dengan lintas program dan lintas sektor.
“Tentunya kami lakukan penguatan surveilans melalui lintas program dan lintas sektor, agar dapat segera dilakukan tindakan apabila ditemukan kasus sindrom jaundice akut maupun yang memiliki ciri-ciri seperti gejala hepatitis” tegas Nadia.
Bagi Dinas Kesehatan, KKP, dan Rumah Sakit juga diminta segera memberikan notifikasi/laporan apabila terjadi peningkatan kasus sindrom jaundice akut maupun menemukan kasus sesuai definisi operasional kepada Dirjen P2P melalui Public Health Emergency Operation Centre (PHEOC) melalui Telp./ WhatsApp 0877-7759-1097 atau e-mail: poskoklb@yahoo.com. []
Jakarta | Organisasi Kesehatan Dunia atau The World Health Organization (WHO), pada Jumat (22/04/2022), menyatakan sangat merekomendasikan pil antivirus Pfizer Covid-19 Paxlovid, untuk pasien dengan bentuk penyakit yang lebih ringan yang masih berisiko tinggi dirawat di rumah sakit.
Mengutip AFP, WHO merekomendasikan Paxlovid ketimbang remdesivir, serta lebih dari pil molnupiravir Merck dan antibodi monoklonal.
Rekomendasi baru ini didasarkan pada temuan dari dua percobaan yang melibatkan hampir 3.100 pasien yang menunjukkan bahwa Paxlovid mengurangi risiko masuk rumah sakit hingga 85 persen.
Percobaan juga menunjukkan tidak ada perbedaan penting dalam kematian dan sedikit atau tidak ada risiko efek samping yang mengarah pada penghentian obat.
Rekomendasi ini berlaku untuk orang yang berusia di atas 18 tahun, tetapi tidak untuk wanita hamil atau menyusui. Ini juga tidak berlaku untuk pasien dengan risiko komplikasi penyakit yang rendah lantaran manfaatnya akan minimal.
Namun, WHO memperingatkan sangat prihatin bahwa ketidaksetaraan dalam akses yang terlihat dengan vaksin Covid akan kembali membuat negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah didorong ke ujung antrian.
Dalam jurnal medis BMJ, para ahli WHO mengatakan bahwa kombinasi nirmatrelvir dan ritonavir dari produsen farmasi Amerika Serikat (AS) Pfizer adalah pilihan unggul pengobatan untuk orang yang tidak divaksinasi, lanjut usia, atau orang yang kekebalannya terganggu dengan Covid.
Untuk pasien yang sama, WHO juga membuat rekomendasi bersyarat (lemah) dari obat antivirus remdesivir yang dibuat oleh perusahaan biotek AS, Gilead, yang sebelumnya telah direkomendasikan untuk ditentang.[]
Jakarta | Kasus Covid-19 di Asia telah menembus angka 100 juta pada Rabu (30/03/2022) yang didominasi oleh sub-varian BA.2 Omicron. Menurut data Reuters, dengan lebih dari setengah populasi dunia, Asia menyumbang 21% dari total kasus Covid-19 yang dilaporkan.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), BA.2 sekarang mewakili hampir 86% dari semua kasus berurutan.
Vaksin dianggap kurang efektif terhadap subvarian BA.2 dibandingkan pendahulunya. Penelitian menunjukkan Omicron dapat menginfeksi kembali orang yang sebelumnya didiagnosis dengan varian virus corona yang berbeda.
Sub-varian Omicron BA.2 yang sangat menular tetapi kurang mematikan telah mendorong angka tersebut ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir di negara-negara seperti Korea Selatan, Tiongkok dan Vietnam.
Tiongkok berusaha menjinakkan wabah terburuknya sejak pandemi dimulai. Peningkatan kasus Covid di Shanghai yang didorong oleh substrain BA.2, telah memaksa wilayah tersebut kembali lockdown.
Selain tiga negara tadi, India juga tercatat sebagai negara dengan angka Covid yang sangat tinggi, yaitu mencapai 43 juta kasus. Angka itu lebih banyak dari total tiga negara Asia yang paling parah dilanda Covid, yaitu Jepang, Korea Selatan dan Vietnam.
India telah melaporkan kurang dari 2.000 kasus harian selama 11 hari terakhir dibandingkan dengan puncaknya tahun ini pada Januari, dengan rata-rata lebih dari 300.000 kasus per hari.[]