Tag: Vaksin

  • Malaysia Pangkas Masa Karantina Jadi 5 Hari

    peloporberita.com/ | Pemerintah Malaysia memangkas masa karantina untuk para pelaku perjalanan yang masuk atau berkunjung ke negaranya, dari semula 10 hari, menjadi lima hari.

    Menteri Kesehatan Malaysia Khairy Jamaluddin menjelaskan, hal ini hanya diperbolehkan bagi orang yang telah menerima suntikan vaksin booster dan menjalani tes RT-PCR dua hari sebelum perjalanan. Selain itu, mereka juga akan dites RT-PCR kembali pada saat hari kedatangan di Malaysia.

    Setelah menjalani masa karantina, para pelaku perjalanan tersebut akan dites kembali pada hari keempat, atau dengan rapid test (RTK) pada hari kelima.

    Khairy menambahkan, jika para pelaku perjalanan sudah divaksinasi lengkap, namun belum mendapat vaksin booster, maka harus menjalani masa karantina selama tujuh hari.

    Sedangkan, untuk pelaku perjalanan yang baru satu kali menerima vaksin, atau bahkan belum sama sekali divaksin, wajib menjalani karantina selama 10 hari.

    “Keputusan itu dibuat berdasarkan data, ilmu pengetahuan dan pengalaman negara-negara lain yang telah mengelola pelaku perjalanan internasional,” ujar Khairy, seperti dikutip dari Straits Times.

    Khairy juga menegaskan, semua pelaku perjalanan yang memasuki Malaysia tidak diharuskan memakai gelang pengawasan berwarna merah. Namun, jika mereka yang datang dari negara berisiko telah diizinkan melakukan karantina di rumah, maka akan diwajibkan menggunakan gelang pengawasan digital.

    Berbeda dengan Malaysia, mulai 1 Februari 2022, Thailand kembali membebaskan karantina bagi turis asing yang telah divaksinasi, sebagai tanggapan atas melambatnya penyebaran Covid-19.

    Sebelumnya, skema “Test & Go” ini sempat ditangguhkan sebulan lalu, akibat penyebaran global Covid-19 varian Omicron dan ketidakpastian tentang efektivitas vaksin terhadap Omicron.[]

    Baca juga: Thailand Kembali Bebaskan Karantina bagi Turis yang Sudah Divaksin Covid-19

  • Thailand Kembali Bebaskan Karantina bagi Turis yang Sudah Divaksin Covid-19

    peloporberita.com/ | Mulai 1 Februari 2022, Thailand kembali membebaskan karantina bagi turis asing yang telah divaksinasi. Langkah ini dilakukan sebagai tanggapan atas melambatnya penyebaran Covid-19 dan juga untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata Thailand yang sangat terdampak pandemi.

    Sebelumnya, skema “Test & Go” ini sempat ditangguhkan sebulan lalu, akibat penyebaran global Covid-19 varian Omicron dan ketidakpastian tentang efektivitas vaksin terhadap Omicron, seperti dikutip dari Channelnewsasia.

    Juru Bicara Taweesin Wisanuyothin menjelaskan, kebijakan ini mewajibkan pengunjung diuji pada saat kedatangan dan kembali diuji lima hari kemudian, sambil menyetujui keberadaan mereka dilacak.

    Selain itu, Otoritas Thailand juga memperpanjang jam operasional restoran yang diizinkan menyajikan alkohol, dari sebelumnya hanya sampai pukul 9 malam, menjadi pukul 11 malam. Namun, untuk bar dan klub malam tetap diwajibkan tutup.

    Gugus Tugas Covid Thailand juga setuju memperluas program “Sandbox” yang merupakan pengabaian karantina sejenis, untuk memasukkan tujuan pantai timur yang sangat populer, Pattaya dan Koh Chang.

    Skema tersebut kini beroperasi di Phuket dan Koh Samui. Dalam skema ini, turis yang divaksinasi harus setuju untuk tinggal di satu lokasi selama seminggu.

    Selama pandemi, Thailand tercatat telah melaporkan total 2,3 juta infeksi dan hampir 22.000 kematian akibat virus corona. []

    Baca juga: Start-up Thailand Akan Produksi Vaksin Covid-19 dari Daun Tembakau

  • Sebelum Terima Vaksin Booster, Pastikan 3 Syarat Ini Sudah Dipenuhi

    peloporberita.com/ | Pemerintah telah memulai program vaksin booster di Indonesia sejak 12 Januari 2022, untuk kelompok lanjut usia (lansia) dan penderita autoimun.

    Setelah program vaksin booster untuk lansia dan penderita autoimun selesai, maka selanjutnya vaksin booster akan diberikan pada ibu hamil dan menyusui yang masuk kategori masyarakat umum.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) memastikan bahwa vaksin booster Covid-19 diberikan secara gratis. Namun tetap ada beberapa syarat yang harus diperhatikan.

    Mengutip laman Sekretariat Kabinet RI, berikut syarat penerima vaksin booster:

    1. Calon penerima vaksin menunjukkan NIK dengan membawa KTP/KK atau melalui aplikasi PeduliLindungi;
    2. Berusia 18 tahun ke atas; dan
    3. Telah mendapatkan vaksinasi primer dosis lengkap minimal enam bulan sebelumnya.

    Ada dua mekanisme pemberian vaksin booster. Pertama, menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer. Kedua, dengan jenis vaksin yang berbeda dari vaksin dosis pertama dan kedua.

    Vaksinasi booster sendiri adalah vaksinasi Covid-19 yang diberikan setelah seseorang menerima vaksinasi primer dua dosis. Pemberian vaksin dosis ketiga ini dilakukan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan.

    Saat ini, jenis vaksin yang digunakan di Indonesia adalah Sinovac (Coronavac), AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan Zifivax. []

  • Pfizer Prediksi Covid Terus Merajalela Tahun 2022

    peloporberita.com/ | Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Pfizer Inc, memprediksi pandemi Covid-19 masih bisa meluas sampai tahun depan. Selain itu, menurut eksekutif Pfizer, pandemi akan menjadi endemi di seluruh dunia pada 2024.

    Untuk mengantisipasi hal itu, Pfizer berencana mengembangkan rejimen vaksin covid tiga dosis untuk anak usia 2-16 tahun.

    “Kami telah memutuskan untuk memodifikasi setiap studi pediatrik untuk memasukkan dosis ketiga ke seri dan mencari lisensi untuk seri tiga dosis,” kata pihak Pfizer, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (18/12/2021).

    Pfizer mengeluarkan pernyataan itu setelah muncul penelitian yang memperingatkan bahwa Covid varian Omicron menyebar lebih cepat dan berpotensi menginfeksi lebih banyak orang dibanding varian pendahulunya, Delta.

    Sebelum muncul varian Omicron, seorang dokter di AS, dr. Anthony Fauci memprediksi, pandemi akan berakhir pada 2022 di Negeri Paman Sam. Namun, kemunculan omicron membuat perkiraan itu kemungkinan besar meleset.

    Meski demikian, Pfizer menyatakan pihaknya tidak akan berfokus dibisnis vaksin saja. Untuk memperluas bisnisnya di sektor kesehatan, Pfizer akan mengakuisisi Arena Pharmaceuticals Inc, dengan nilai transaksi sekitar USD 6,7 miliar.

    Rencananya, Pfizer ingin mengembangkan terapi potensial yang membidik penyakit peradangan usus. Selain peradangan, Pfizer menilai, kesepakatan ini akan melengkapi kemampuannya dalam imunologi. Selain itu juga diyakini mampu berkontribusi pada pertumbuhan bisnisnya hingga 2025. []

  • Google Tindak Tegas Pegawai yang Langgar Aturan Vaksinasi

    peloporberita.com/ | Google menegaskan akan menindak pegawainya yang tidak mematuhi aturan vaksinasi Covid-19 yang telah ditentukan oleh manajemen. Tidak main-main, hukuman itu mulai dari cuti paksa hingga pemecatan.

    Melansir CNBC, para pegawai Google diberi waktu hingga 3 Desember untuk menyatakan status vaksinasi dan mengunggah dokumentasi yang menunjukkan bukti vaksinasi.

    Setelah batas waktu berakhir, Google disebut akan mulai menghubungi pegawainya yang belum mengunggah status vaksinasi. Meski demikian, Google juga memberikan hak bagi para pegawainya untuk mengajukan pengecualian atas dasar medis atau kepercayaan.

    Para pegawai yang tidak divaksinasi di luar pengecualian yang disebutkan, juga akan mendapat peringatan dari Google.

    Laporan CNBC mengungkap adanya sejumlah hukuman bagi para pegawai yang masih mangkir hingga 18 Januari mendatang. Hukuman yang dimaksud berupa cuti administratif berbayar selama 30 hari, cuti pribadi yang tidak dibayar atau unpaid leave hingga enam bulan, serta pemutusan hubungan kerja (PHK).

    Sebagai perusahaan besar, Google terbilang sangat memperhatikan aturan mengenai upaya pemberantasan Covid-19.

    Salah satunya adalah Google sepakat menunda rencana kembali bekerja di kantor pada awal bulan ini, sampai batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan itu diambil seiring dengan makin luasnya penyebaran Covid varian Omicron.

    Penundaan itu juga termasuk dipicu oleh masih banyaknya pegawai yang menolak aturan vaksinasi yang ditetapkan perusahaan. []

    Baca juga: Kasus Covid di AS Melonjak, Perusahaan Keuangan Tunda Rencana Kembali ke Kantor

  • Tak Hanya Fokus Vaksin, Pfizer Beli Perusahaan Farmasi Senilai USD 6,7 Miliar

    peloporberita.com/ | Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, Pfizer Inc, akan mengakuisisi Arena Pharmaceuticals Inc, sebagai salah satu upaya memperluas bisnisnya di sektor kesehatan. Seperti diketahui, selama ini Pfizer dikenal sebagai produsen vaksin Covid-19. Nilai transaksi ini diperkirakan mencapai sekitar USD 6,7 miliar.

    Rencananya, Pfizer ingin mengembangkan terapi potensial yang membidik penyakit peradangan usus. Selain peradangan, Pfizer menilai, kesepakatan ini akan melengkapi kemampuannya dalam imunologi. Selain itu juga diyakini mampu berkontribusi pada pertumbuhan bisnisnya hingga 2025.

    Presiden Global dan Manajer Umum Bisnis Peradangan dan Imunologi Pfizer Mike Gladstone mengatakan, pihaknya berencana mempercepat pengembangan klinis etrasimod yang telah menjadi kandidat obat utama bagi Arena.

    “Pfizer melihat etrasimod sebagai penggerak dari kesepakatan ini. Ini adalah produk oral, yang mudah diberikan, dan bisa memiliki efektivitas terbaik di kelasnya,” ujar Gladstone, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/12/2021).

    Di bawah pimpinan Chief Executive Officer (CEO) Albert Bourla, Pfizer kini fokus dengan investasi eksternal pada kandidat obat tahap menengah dan akhir. Arena pun menyatakan siap meraih tonggak penting pada awal tahun depan.

    Ketika hasil uji coba tahap akhir akan diberikan untuk etrasimod, itu bisa memposisikan Pfizer mendekati regulator untuk persetujuan obat pada tahun depan dan membawanya ke pasar pada 2023 mendatang. []

    Baca juga: Perusahaan Australia CSL Akuisisi Vifor Pharma AUD 10 Miliar

  • Kasus Covid di AS Melonjak, Perusahaan Keuangan Tunda Rencana Kembali ke Kantor

    peloporberita.com/ | Sejumlah perusahaan keuangan di Amerika Serikat (AS) membatalkan rencananya kembali bekerja di kantor, seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di AS dan makin meluasnya penyebaran virus Corona varian Omricon.

    Mereka sekarang lebih memilih untuk menunda atau membatalkan pesta liburan, merekomendasikan suntikan booster vaksin, bahkan menyarankan untuk kembali bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

    Mengutip Reuters, beberapa perusahaan keuangan yang dimaksud adalah manajemen aset Fidelity Investments dan bank investasi Wall Street Jefferies.

    Juru Bicara Fidelity mengatakan, pihaknya menghentikan program kembali ke kantor di kantor pusat Boston, serta di Smithfield, Rhode Island dan Merrimack, New Hampshire akibat meningkatnya kasus Covid.

    Sedangkan Jefferies pada pekan lalu mengirim pegawainya ke rumah dan membatalkan pesta klien. Selain itu semua juga dibatalkan kecuali perjalanan penting, setelah perusahaan itu mengalami hampir 40 kasus Covid-19 baru.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan varian Delta memang masih dominan di AS, namun varian Omicron telah terdeteksi di sejumlah negara bagian Amerika, termasuk New York

    Disebutkan juga bahwa pada bulan ini kasus harian di New York City telah melonjak, dan jumlah rawat inap menempati level tertingginya sejak April.

    Melihat kondisi ini, CEO Morgan Stanley memperkirakan, Covid-19 masih akan menjadi masalah hingga tahun depan. []

    Baca juga: Kasus Covid di AS Capai 50 Juta, Didominasi Varian Delta

  • Perusahaan Australia CSL Akuisisi Vifor Pharma AUD 10 Miliar

    peloporberita.com/ | Perusahaan biofarmasi asal Australia, CSL Ltd, menyatakan saat ini sedang dalam penjajakan untuk mengakuisisi produsen obat asal Swiss, Vifor Pharma Ltd. Nilai kesepakatan itu mencapai sekitar AUD 10 miliar, atau sekitar USD 7,2 miliar.

    Negosiasi ini dilakukan ketika perusahaan raksasa Australia itu tengah menghadapi tekanan untuk menghasilkan pertumbuhan di luar bisnis utamanya, yaitu mengumpulkan plasma darah yang diubah menjadi obat untuk penyakit langka dan produksi vaksin.

    Jika berhasil, para analis memprediksi, kesepakatan ini akan menjadi akuisisi CSL yang terbesar. Selain itu juga membuka akses bagi CSL ke lokasi produksi Vifor di Swiss dan Portugal, serta pasar Vifor dalam perawatan kekurangan zat besi, penyakit ginjal dan kardio-ginjal.

    Namun, mereka menyatakan bahwa manfaat untuk CSL mungkin terbatas, lantaran tidak ada penghematan biaya dari bergabungnya dengan Vifor.

    Saat ini, CSL sendiri telah melaporkan lemahnya pasar untuk pengumpulan darah akibat pandemi Covid-19, seperti dikutip dari Reuters, Senin (13/12/2021).

    Selain itu, prospek untuk bisnis vaksinnya juga meredup setelah Australia lebih memilih produk Pfizer/BioNTech sebagai alat inokulasi, dibandingkan dengan AstraZeneca Plc yang diproduksi CSL.

    Padahal, program vaksin itu sempat membantu mendorong saham CSL ke rekor tertingginya pada awal 2020 lalu. []

    Baca juga: Farmasi Global Ramai-ramai Produksi Vaksin Omicron

  • Rusia Klaim Sputnik V Vaksin Covid-19 Paling Aman

    peloporberita.com/ | CEO Russian Direct Investment Fund (RDIF) Kirill Dmitriev mengklaim Sputnik V buatan Rusia sebagai vaksin Covid-19 paling aman di dunia hingga saat ini. Ia juga meyakinkan bahwa Sputnik V adalah vaksin Covid-19 yang paling efektif.

    “Data terakhir menunjukkan itu adalah yang terbaik, vaksin paling efektif dan teraman di dunia,” ujar Dmitriev, seperti dikutip dari TASS.

    Sebagai buktinya, Dmitriev mengutip sebuah penelitian yang dilakukan di Hungaria yang menunjukkan bahwa efikasi Sputnik V adalah 98%, angka tertinggi di antara jenis vaksin Covid-19 lainnya.

    “Artinya, orang yang disuntik Sputnik V terlindungi dari kematian akibat infeksi virus corona hingga 130 kali lebih baik daripada mereka yang tidak divaksinasi,” ucapnya.

    Dmitriev juga menjelaskan, kemanjuran Sputnik V bertahan lebih lama dibandingkan vaksin lain dan memiliki efek samping yang jauh lebih sedikit. Di tengah kemunculan varian Omicron, ia juga yakin vaksin buatan Rusia tersebut sangat efektif melawan mutasi virus corona baru.

    Ia mengklaim sistem Sputnik bisa beradaptasi dengan cepat, sehingga produksi vaksin baru bisa dilakukan dalam 2-3 bulan.

    Sputnik V resmi terdaftar di Rusia pada 20 Agustus 2020. Sejak itu, Sputnik V juga menjadi vaksin Covid-19 pertama yang diakui secara resmi di dunia. Sampai sekarang, vaksin tersebut telah meraih izin penggunaan di 71 negara. []

    Baca juga: BPOM Izinkan Penggunaan Vaksin Covid-19 Sputnik-V

  • Omricon Meradang, China Akan Kirim 1 Miliar Vaksin ke Afrika

    peloporberita.com/ | Presiden China Xi Jinping menyatakan akan mengirim vaksin Covid-19 sebanyak satu miliar dosis ke kawasan Afrika, dalam tiga tahun mendatang. Langkah ini dilakukan seiring dengan kondisi Afrika yang kini sedang menjadi sorotan dunia, akibat kemunculan Covid-19 varian Omicron yang disebut lebih mudah menular disbanding varian-varian sebelumnya.

    Dalam pernyataannya di konferensi Kerja Sama China-Afrika itu, Xi Jinping menjelaskan bahwa 600 juta dari 1 miliar dosis vaksin yang dikirim adalah murni donasi. Sedangkan sisanya disalurkan lewat produksi bersama antara perusahaan China dengan negara-negara Afrika.

    Selain itu disebutkan juga bahwa China akan membuka 10 proyek kesehatan dan mengirim 1.500 ahli kesehatan ke kawasan Afrika, seperti dikutip dari CNN.

    Seperti diketahui, begitu Afrika Selatan (Afsel) mengumumkan temuan varian Omricon, sejumlah negara langsung menutup pintunya bagi pendatang dari Afrika. Menanggapi hal itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pun sontak mengkritik langkah negara-negara tersebut.

    Direktur WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti menyatakan bahwa seharusnya negara-negara lain mengambil keputusan berdasarkan data ilmiah dan regulasi kesehatan internasional. “Larangan perjalanan kemungkinan hanya berdampak sedikit untuk mengurangi penyebaran Covid-19, tapi menyengsarakan kehidupan,” ujar Moeti, seperti dikutip dari Associated Press.

    Moeti pun memuji Afsel yang mengikuti regulasi kesehatan internasional dengan langsung menginformasikan kepada WHO, setelah laboratorium negaranya mengidentifikasi varian Omicron. “WHO mendukung negara-negara Afrika yang punya keberanian untuk memberikan informasi kesehatan publik yang menyelamatkan nyawa,” kata Moeti. []

    Baca juga: Mengenal Virus Corona Baru “Omicron” Asal Afrika dan Kemungkinan Vaksin Booster