Tag: Omicron

  • WHO Minta Negara Kaya Sumbang USD 16 Miliar untuk Mengatasi Covid

    peloporberita.com/ | Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) meminta negara-negara kaya menyumbangkan USD 16 miliar untuk mengatasi Covid-19 tahun ini.

    Dana itu bisa didonasikan lewat Access to Covid Tools Accelerator (ACT-A). Rencananya, WHO melalui ACT-A akan mengembangkan, memproduksi dan mendistribusikan alat berupa vaksin, tes, perawatan dan alat pelindung diri (APD).

    ACT-A telah melahirkan fasilitas Covax yang dirancang agar negara-negara miskin dapat mengakses vaksin Covid. Namun, untuk menjalankan program tersebut, ACT-A membutuhkan total USD 23,4 miliar.

    Kebutuhan dana itu dibutuhkan untuk pelaksanaan program pada periode Oktober 2021-September 2022. Hingga kini, WHO baru berhasil mengumpulkan USD 800 juta, seperti dikutip dari AFP.

    “Ini untuk menutup kesenjangan pembiayaan langsung. Sisanya didanai sendiri oleh negara-negara berpenghasilan menengah,” kata pihak WHO.

    Selain itu, Director-General WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menegaskan bahwa masifnya kasus Omicron membuat kebutuhan akan alat tes, perawatan dan vaksin semakin mendesak dan harus didistribusikan secara adil.

    Sebelumnya WHO menyebutkan, setidaknya ada 500.000 kasus kematian akibat Covid-19, sejak munculnya varian Omicron pada akhir tahun lalu.[]

  • Uber Eats Raih Keuntungan Pertama Kalinya

    peloporberita.com/ | Perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Uber Technologies Inc membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar USD 86 juta pada kuartal keempat tahun lalu. Angka itu jauh melebihi perkiraan analis yang hanya USD 62 juta.

    Mengutip Reuters, kinerja positif Uber terdorong oleh tingginya permintaan layanan ride-hailing yang mendekati tingkat pra-pandemi dan bisnis pengiriman makanannya, Uber Eats. Ini juga menjadi pertama kalinya Uber Eats mendatangkan keuntungan bagi perusahaan tersebut.

    Chief Executive Officer (CEO) Uber Dara Khosrowshahi mengatakan, diversifikasi benar-benar berperan. Ia pun optimis mampu meraih pelanggan baru untuk platform Eats melalui bisnis ride-hailing, sejak perusahaan menggabungkan layanannya menjadi satu aplikasi.

    Salah satu strategi Khosrowshahi adalah meningkatkan basis restorannya di pinggiran AS, untuk menyaingi pengiriman DoorDash yang lebih besar.

    Sementara, pemulihan bisnis perjalanan Uber pada kuartal keempat lalu juga didorong oleh tingginya permintaan untuk perjalanan bandara, yang meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

    Untuk kuartal pertama tahun ini, Uber memprediksi labanya lebih rendah dari ekspektasi, seiring berkurangnya permintaan perjalanan akibat varian Omicron.

    Uber memperkirakan EBITDA untuk kuartal pertama berkisar USD 100 juta-USD 130 juta, sedangkan ramalan analis adalah USD 150 juta. []

  • Bisnis Manajemen Aset Dongkrak Pendapatan Manulife dan Sun Life

    peloporberita.com/ | Stimulus pemerintah dan penghematan pandemi selama setahun terakhir telah memicu ledakan bisnis manajemen kekayaan dan aset perusahaan asuransi Kanada, termasuk Manulife Financial dan Sun Life Financial.

    Melansir Reuters, dalam tiga bulan terakhir hingga Desember lalu, Manulife membukukan pendapatan inti sebesar C$ 84 sen per saham, naik 13,5% secara year-on-year (yoy).

    Demikian juga pendapatan manajemen aset Manulife tumbuh 27% pada periode yang sama. Capaian itu membantu mengimbangi penurunan laba di Asia, Kanada dan Amerika Serikat (AS).

    Sedangkan kompetitornya, Sun Life juga membukukan kenaikan sebesar 15% pada unit manajemen asetnya, menjadi C$ 382 juta.

    Capaian itu dikombinasikan dengan peningkatan laba di Kanada dan Asia, membantu mengimbangi penurunan 51% dalam bisnis AS dan mengangkat pendapatan keseluruhan sebanyak 4%.

    Pada periode yang sama, Sun Life membukukan laba kuartalan dasar sebesar C$ 898 juta, tumbuh 4,2% secara yoy.

    Meski begitu, Sun Life memperingatkan bahwa penyebaran varian Omicron akan berdampak pada pendapatan kuartal pertama.

    “Jumlah infeksi yang tinggi, yang menjadi jumlah rawat inap dan kematian yang lebih tinggi,” ujar Chief Executive Officer Sun Life Kevin Strain.[]

  • Disney Dapat Cuan dari Layanan Streaming Video

    peloporberita.com/ | Layanan streaming video telah memberikan dampak yang sangat positif bagi Walt Disney Co.

    Pada kuartal yang berakhir 1 Januari 2022, jumlah pelanggan Disney+ tercatat bertambah sekitar 11,8 juta, menjadi total 129,8 juta pelanggan. Angka ini bahkan melampaui perkiraan Factset yang sebesar 129,2 juta.

    Tak hanya jumlah pelanggan, Disney juga membukukan kenaikan pendapatan keseluruhan hingga 34% menjadi USD 21,82 miliar pada kuartal tersebut. Mengutip Reuters, capaian itu lebih besar dari proyeksi analis yang sebesar USD 20,91 miliar.

    Chief Executive Officer (CEO) Disney Bob Chapek optimistis, pada tahun 2024, layanan streamingnya bisa meraih 230-260 juta pelanggan.

    Disney sendiri telah menghabiskan miliaran dolar untuk menciptakan program baru guna merebut pangsa pasar streaming video yang didominasi Netflix Inc. Bahkan, pada November lalu, perusahaan tersebut telah mengumumkan akan menawarkan bundel dari tiga layanan streaming seharga USD 13,99 per bulan, yang terdiri dari Disney+, Hulu dan ESPN+.

    Sementara itu, bisnis taman dan resor Disney di Amerika Serikat (AS) menghasilkan pendapatan di atas tingkat pra-pandemi. Meski begitu, perusahaan memprediksi taman internasional masih akan terkena dampak Corona selama beberapa waktu ke depan.

    Disney mencatat, pendapatan di segmen taman hiburan dan produk meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi USD 7,23 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

    Adanya pelonggaran pembatasan dari pemerintah AS telah mendorong jumlah kunjungan di taman hiburan domestik, seiring mulai surutnya kekhawatiran akibat Omicron. []

  • Keterbatasan Sumber Daya, Korsel Hentikan Tes dan Tracing Covid Besar-besaran

    peloporberita.com/ | Pemerintah Korea Selatan memutuskan menghentikan program tes dan tracing Covid-19 besar-besaran setelah ledakan kasus varian Omicron belakangan ini. Keputusan itu diambil akibat keterbatasan sumber daya dan memakan biaya sosial dan ekonomi yang terlalu tinggi.

    Keputusan itu diungkapkan oleh Pejabat Senior Kesehatan Korsel Sohn Young-rae, seperti dilansir dari AFP.

    Kini, Pemerintah Korsel mengubah arah kebijakan pencegahan Covid-19 dengan fokus ke kelompok yang paling rentan. Adapun tes diutamakan bagi kelompok lanjut usia (lansia), kemudian diagnosis dan perawatan diutamakan untuk kelompok berisiko tinggi.

    Sebelumnya, warga Korsel yang dites dan hasilnya positif harus karantina di fasilitas yang disediakan pemerintah. Namun kini, pasien tanpa gejala diminta untuk isolasi mandiri (isoman) di rumah.

    Setelah kemunculan varian Omicron, Korsel tercatat memecahkan rekor dengan 49.567 kasus Covid pada Selasa (08/02/2022), naik dua kali lipat dalam waktu kurang dari sepekan.

    Pejabat Kesehatan Korsel memprediksi, kasus harian di negaranya bisa mencapai 170 ribu kasus pada akhir bulan ini akibat varian Omicron.

    Varian Omicron memang disebut-sebut lebih cepat menular. Namun, gejala yang ditimbulkan rata-rata lebih ringan dibanding varian-varian sebelumnya.

    Sebelum aturan baru ini diterapkan, Korsel dipuji lantaran terus melakukan tes dan tracing kasus Covid-19 dengan ketat, sehingga penyebaran tak terlalu luas.

    Selama pandemi, total kasus Covid di Korsel mencapai 1,13 juta, dengan angka kasus kematian mencapai 6.943. []

  • WHO: Setidaknya Ada 500.000 Kematian Sejak Omicron Terdeteksi

    peloporberita.com/ | Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menyebutkan, setidaknya ada 500.000 kasus kematian akibat Covid-19, sejak munculnya varian Omicron pada akhir tahun lalu.

    “Pada era vaksin efektif, setengah juta orang meninggal, itu benar-benar sesuatu. Sementara orang-orang mengatakan Omicron lebih ringan, mereka melewatkan hal bahwa setengah juta orang meninggal sejak varian ini terdeteksi,” kata Manajer Insiden WHO Abdi Mahamud, seperti dikutip dari AFP.

    Selain jumlah kematian, WHO juga menyebutkan bahwa ada lebih dari 130 juta kasus Covid yang tercatat di dunia, sejak varian Omicron ditetapkan sebagai ‘variant of concern’.

    Secara terpisah, Pimpinan Teknis WHO untuk Covid-19 Maria Van Kerkhove mengatakan bahwa jumlah kasus Covid varian Omicron ini mungkin saja jauh lebih tinggi.

    Hal itu wajar, mengingat banyak hasil rapid test dan tes mandiri di rumah yang tidak dilaporkan secara resmi. Selain itu banyak juga kasus orang tanpa gejala, sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka sudah terinfeksi.

    Dalam pembaruan mingguan epidemiologi Covid-19, WHO menyebutkan hampir 68.000 kematian dilaporkan sepekan lalu, naik tujuh persen dari pekan sebelumnya.

    Laporan WHO juga menyebutkan bahwa varian Omicron kini terdeteksi di hampir semua negara.

    WHO menyebutkan bahwa varian Omicron menyumbang 96,7 persen dari sampel yang dikumpulkan dalam 30 hari terakhir, sedangkan varian Delta hanya menyumbang 3,3 persen sampel pada periode yang sama. []

  • Ibas Minta Pemerintah Ambil Langkah Cepat Lawan Omicron

    peloporberita.com/ | Indonesia memasuki gelombang ketiga pandemi Covid-19. Seperti diketahui, saat ini angka kasus Covid varian Omicron tengah melonjak drastis. Melihat hal itu, Anggota Komisi VI DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono meminta pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah yang cepat, tegas dan terukur.

    Pria yang akrab disapa Ibas ini juga mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam membuat kebijakan memotong rantai penyebaran Covid-19 dan menekan kurva penularan.

    “Hati-hati! Pemerintah pusat dan daerah mesti ambil langkah cepat, tegas, dan terukur untuk putus rantai penyebaran,” kata Ibas dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari Parlementaria.

    Ibas juga meminta agar pemerintah mengevaluasi kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), mengingat banyak anak-anak yang terpapar Covid. Demikian juga dengan tempat wisata dan pusat keramaian yang harus benar-benar diperhatikan secara ketat.

    Lebih lanjut, politikus Partai Demokrat ini menegaskan agar program vaksinasi Covid-19 terus berjalan secara cepat dan merata. Pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan obat serta fasilitas alat tes Covid yang terjangkau oleh masyarakat, baik dari sisi harga maupun jumlahnya.

    Tak hanya ke pemerintah, Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini juga mengajak masyarakat kembali disipilin mematuhi protokol kesehatan, sebagai upaya mengurangi risiko penularan Covid. Masyarakat diminta dengan sangat untuk disiplin memakai masker, menjaga jarak dan menerapkan pola hidup sehat. []

  • Komisi VI Apresiasi Kehadiran Aplikasi Telemedisin di Indonesia

    peloporberita.com/ | Anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun mengapresiasi kehadiran aplikasi telemedisin di Indonesia, lantaran telah banyak memberikan manfaat dan edukasi kepada masyarakat.

    Rudi menyampaikan hal itu dalam rapat dengar pendapat umum Komisi VI DPR RI dengan Direktur PT Alodokter Teknologi Solusi, Managing Director PT Good Dokter Teknologi Indonesia, Chief Executive Officer PT Media Dokter Invastama, Chief Executive Officer PT Media Komunika Teknologi dan Direktur PT Sehat Harsana Emedika di Gedung Nusantara I, Jakarta, hari ini (07/02/2022).

    Dalam pertemuan itu, mereka membahas tentang kesiapan layanan telemedis menghadapi ancaman kenaikan Covid-19 varian Omicron.

    Menurut politikus NasDem itu, keberadaan telemedisin membuat masyarakat memiliki referensi bacaan mengenai penyakit dan obatnya. Dengan demikian, masyarakat memiliki pemahaman yang baik terhadap pengobatan suatu penyakit dengan dibantu dokter-dokter secara virtual.

    “Jadi dengan adanya dokter digital ini terbantu, saya juga terbantu ketika saya bilang saya sakit begini, diresepkan antibiotiknya ini, kirim obatnya melalui jasa kurir, melalui apotik mitra telemedisin,” kata Rudi seperti dikutip dari Parlementaria.

    Selain itu, ia juga menyoroti tentang kualitas pelayanan dokter di aplikasi telemedisin. Menurutnya, dokter-dokter tersebut perlu diberikan pengarahan dan pendidikan tentang bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

    “Jadi saya pernah mengalami sendiri hanya (sakit) ringan, saya pakai jasa Halodoc, jadi melalui aplikasi saya harus bayar (jasa) dokternya Rp 50 ribu, Rp 100 ribu tergantung lah itu. Lalu melalui WA (WhatsApp), tersambunglah kepada dokter tersebut, tapi dokter ini ada yang kurang kooperatif. Harusnya dididik lagi, jangan pakai dokter yang kualitas (pelayanannya) seperti itu,” ujarnya.

    Terakhir, legislator dapil Sumatera Utara III ini meminta agar aplikasi telemedisin di Indonesia dapat memperluas pelayanannya hingga ke desa-desa, serta meningkatkan pelayanan dengan memberikan layanan konsultasi dokter yang tersedia selama 24 jam. []

  • Menag Terbitkan Panduan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan di Masa Pandemi

    peloporberita.com/ – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 04 Tahun 2022 tentang Pelaksanaan Kegiatan Peribadatan/Keagamaan di Tempat Ibadah pada Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3, 2, dan 1.

    Menag menjelaskan, SE yang ditandatangani pada 4 Februari 2022 itu, diterbitkan dalam rangka mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang saat ini mengalami peningkatan dengan munculnya varian Omicron. Edaran juga untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dalam melaksanakan kegiatan peribadatan dengan menerapkan protokol kesehatan 5M pada masa PPKM.

    SE ini, ditujukan kepada Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Pimpinan Tinggi Pratama Pusat, Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota dan Kepala Madrasah/Kepala Satuan Pendidikan Keagamaan.

    Serta Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan, Penghulu dan Penyuluh Agama, Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag, Pimpinan Organisasi Kemasyarakatan Keagamaan, Pengurus dan Pengelola Tempat Ibadah, serta Umat Beragama di Seluruh Indonesia.

    “Edaran diterbitkan dengan tujuan memberikan panduan bagi pemangku kepentingan dan umat beragama dalam melaksanakan kegiatan peribadatan/keagamaan dan penerapan protokol kesehatan 5M di tempat ibadah pada masa PPKM,” tuturnya dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Senin (07/02/2022).

    Ketentuan dalam SE tersebut memuat 4 hal, yaitu: tempat ibadah, pengurus dan pengelola tempat ibadah, jemaah, serta skema sosialisasi dan monitoring dengan perincian sebagai berikut:

    Tempat Ibadah

    A. Tempat ibadah di kabupaten/kota wilayah Jawa dan Bali:

    1. Level 3, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama PPKM dengan jemaah maksimal 50 persen dari kapasitas dan paling banyak 50 orang jemaah dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.
    2. Level 2, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama PPKM dengan jumlah jemaah maksimal 75 persen dari kapasitas dan paling banyak 75 jemaah dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.
    3. Level 1, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama PPKM dengan jumlah jemaah maksimal 75 persen dari kapasitas dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.

    B. Tempat ibadah di kabupaten/kota wilayah Sumatra, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua:

    1. Level 3, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama masa PPKM dengan jumlah jemaah maksimal 50 persen dari kapasitas dan paling banyak 50 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.
    2. Level 2, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama masa PPKM dengan jumlah jemaah maksimal 75 persen dari kapasitas dan paling banyak 75 orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.
    3. Level 1, dapat mengadakan kegiatan peribadatan berjemaah selama masa PPKM dengan jumlah jemaah maksimal 75 persen dari kapasitas dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat.

    Pengurus dan Pengelola Tempat Ibadah

    A. Pengurus dan pengelola tempat ibadah wajib:

    1. Menyediakan petugas untuk menginformasikan serta mengawasi pelaksanaan protokol kesehatan 5M.
    2. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh untuk setiap jamaah menggunakan alat pengukur suhu tubuh (thermogun).
    3. Menyediakan hand sanitizer dan sarana mencuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir.
    4. Menyediakan cadangan masker medis.
    5. Melarang jemaah dengan kondisi tidak sehat mengikuti pelaksanaan kegiatan peribadatan.

    6. Mengatur jarak antarjemaah paling dekat satu meter dengan memberikan tanda khusus pada lantai, halaman, atau kursi;
    7. Tidak menjalankan/mengedarkan kotak amal, infak, kantong kolekte, atau dana punia ke jemaah.
    8. Memastikan tidak ada kerumunan sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan dengan mengatur akses keluar dan masuk jemaah.
    9. Melakukan disinfeksi ruangan pelaksanaan kegiatan peribadatan/keagamaan secara rutin.
    10. Memastikan tempat ibadah memiliki ventilasi udara yang baik dan sinar matahari dapat masuk serta apabila menggunakan air conditioner (AC) wajib dibersihkan secara berkala.
    11. Melaksanakan kegiatan peribadatan/keagamaan paling lama 1 jam.
    12. Memastikan pelaksanaan khotbah, ceramah, atau tausiyah wajib memenuhi ketentuan.

    • Khatib, penceramah, pendeta, pastur, pandita, pedanda, atau rohaniwan memakai masker dan pelindung wajah (faceshield) dengan baik dan benar.
    • Khatib, penceramah, pendeta, pastur, pandita, pedanda, atau rohaniwan menyampaikan khotbah dengan durasi paling lama 15 menit.
    • Khatib, penceramah, pendeta, pastur, pandita, pedanda, atau rohaniwan mengingatkan jemaah untuk selalu menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan.

    B. Pengurus dan pengelola tempat ibadah menyiapkan, menyosialisasikan, dan mensimulasikan penggunaan aplikasi PeduliLindungi.

    3. Jemaah

    1. Menggunakan masker dengan baik dan benar.
    2. Menjaga kebersihan tangan.
    3. Menjaga jarak dengan jemaah lain paling dekat satu meter.
    4. Dalam kondisi sehat (suhu badan di bawah 37 derajat celcius).
    5. Tidak sedang menjalani isolasi mandiri.
    6. Membawa perlengkapan peribadatan/keagamaan masing-masing (sajadah, mukena, dan sebagainya).
    7. Menghindari kontak fisik atau bersalaman.
    8. Tidak baru kembali dari perjalanan luar daerah.
    9. Yang berusia 60 tahun ke atas dan ibu hamil/menyusui disarankan untuk beribadah di rumah.

    Sosialisasi, Pemantauan, Koordinasi, dan Pelaporan

    Bagi Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Pusat, Rektor/Ketua PTKN, Kepala Kakanwil Provinsi, Kepala Kankemenag Kabupaten/Kota, Kepala Madrasah/Kepala Satuan Pendidikan Keagamaan, Kepala KUA Kecamatan, Penghulu, dan Penyuluh Agama, serta Pegawai ASN pada Kemenag agar melakukan sebagai berikut:

    1. melanjutkan secara intensif sosialisasi Instruksi Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peningkatan Disiplin Penerapan Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 pada Kementerian Agama.
    2. melakukan sosialisasi dan pemantauan pelaksanaan Surat Edaran ini.
    3. dalam melaksanakan pemantauan, berkoordinasi dengan Pimpinan Satuan Kerja, Pimpinan Pemerintahan, Satuan Tugas Penanganan COVID-19, dan aparat keamanan.
    4. melaporkan pelaksanaan sosialisasi, pemantauan, dan koordinasi sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c kepada Pimpinan Satuan Kerja atau Unit Kerja secara berjenjang. []

  • Kemenkes: Gejala Omicorn Muncul Setelah 2-5 Hari Terpapar

    peloporberita.com/ – Plt Direktur Surveilance dan Karantina Kementerian Kesehatan dr Prima Yosephine mengatakan, gejala Omicorn biasanya muncul setelah 2-5 hari terpapar seperti demam, kelelahan atau nyeri tubuh, hidung tersumbat, tenggorokan sakit, sakit kepala dan batuk. Varian Omicron, tampaknya lebih menginfeksi saluran pernapasan atas, dibanding varian Delta atau varian lainnya.

    Hal ini, disampaikanya dalam Webinar Covid-19 Varian Omicron secara virtual dengan tema, “Omicron, Gejala dan Cara Penanganannya yang dilaksanakan pada Jumat (4/2/2022) bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar.

    “Risiko rawat inap varian Omicron lebih rendah dibandingkan varian Delta, namun tetap bisa menyebabkan gejala berat dan kematian terutama pada orang yang rentan seperti lansia, memiliki penyakit penyerta dan orang yang belum divaksin.”

    Prima menjelaskan, omicron adalah salah satu varian/turunan jenis baru dari virus Covid-19 dan memiliki lebih dari 30 mutasi pada protein spike. Hingga 21 Januari 2022 terdapat 171 negara yang telah melaporkan kasus varian Omicron.

    Di Indonesia, terdapat peningkatan positivity rate di Pulau Jawa, utamanya DKI Jakarta dan Banten. Namun didominasi dengan Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN) yang diikuti oleh transmisi lokal.

    “Varian Omicron lebih menular dibandingkan varian lainnya. Risiko rawat inap varian Omicron lebih rendah dibandingkan varian Delta, namun tetap bisa menyebabkan gejala berat dan kematian terutama pada orang yang rentan seperti lansia, memiliki penyakit penyerta dan orang yang belum divaksin,” tutur Prima.

    Sedangkan strategi penanganan yang dilakukan, lanjut Prima, yakni  dengan 3T yaitu Testing, Tracing, dan Treatment. Kemudian Percepatan vaksinasi COVID-19 Dosis 1 dan Dosis 2, Vaksinasi Anak 6-11 tahun, Vaksinasi Lanjutan (Booster) yang dimulai tanggal 12 Januari 2022 dan implementasi PPKM.

    Adapun untuk kasus konfirmasi Covid-19 tanpa gejala (asimptomatik) dan gejala ringan dapat melakukan Isolasi Mandiri, jika memenuhi syarat klinis dan perilaku seperti usia kurang dari 45 tahun; tidak memiliki komorbid; dapat mengakses telemedisin atau layanan kesehatan lainnya dan berkomitmen untuk tetap diisolasi sebelum diizinkan keluar.

    “Pasien penuhi syarat rumah dan peralatan pendukung lainnya yaitu dapat tinggal di kamar terpisah, lebih baik lagi jika lantai terpisah; ada kamar mandi di dalam rumah terpisah untuk penghuni rumah lainnya dan dapat mengakses pulse oksimeter,” tegas Prima. []