Tag: Mobil Listrik

  • Honda Siapkan Dana Triliunan untuk Proyek EV

    Jakarta | Perusahaan otomotif Jepang, Honda Motor menganggarkan dana senilai 8 triliun yen atau sekitar Rp 914,3 triliun untuk penelitian dan pengembangan selama 10 tahun ke depan. Sebagian dari dana itu akan difokuskan untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

    Melalui strategi itu, Honda ingin meluncurkan lebih dari 30 model EV secara global pada tahun 2030 mendatang. Langkah ini dilakukan Honda untuk mengantisipasi ketertinggalan dari mobil konvensional pesaingnya dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) serta produsen EV lain seperti Tesla Inc.

    Selain itu, Honda juga berencana memproduksi sekitar 2 juta kendaraan listrik per tahun pada tahun 2030. Mengutip Reuters, sebagian besar investasi Honda akan berada di elektrifikasi dan teknologi perangkat lunak.

    Honda sebelumnya sempat menyatakan akan sepenuhnya berhenti menjual mobil berbahan bakar bensin pada 2040. Pernyataan itu menjadikan Honda sebagai produsen otomotif pertama di Jepang yang berani beralih total ke EV.

    Tak lama kemudian, Chief Executive Officer (CEO) Honda Toshihiro Mibe ingin mempercepat transisi ke segmen listrik yang semakin kompetitif.

    “Waktu adalah esensi dan saya akan memilih untuk menggunakan aliansi dan wawasan eksternal untuk mempercepat peralihan kami,” kata Mibe dalam konferensi pers pertamanya pada Februari lalu yang dilansir dari Bloomberg.

    Awal bulan ini, Honda juga mengumumkan rencana kolaborasinya dengan General Motors (GM) dalam mengembangkan EV dengan harga terjangkau untuk pasar Amerika utara, Amerika selatan dan Tiongkok.[]

  • VW Prediksi Masalah Cip Mungkin Baru Teratasi Tahun 2024

    Jakarta | Perusahaan otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW) menilai, pasokan cip semikonduktor yang ada saat ini, tidak akan cukup untuk memenuhi permintaan kendaraan yang melonjak hingga tahun 2024.

    Menurut Chief Financial Officer (CFO) VW Arno Antlitz, kelangkaan cip mungkin bisa mulai reda menjelang akhir tahun ini, kemudian tingkat produksi tahun depan kembali normal.

    “Kekurangan pasokan struktural kemungkinan baru akan teratasi pada tahun 2024,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters.

    Selain itu, lanjut Antlitz, kurangnya wire harness dari Ukraina juga menyebabkan beberapa shift dibatalkan, bahkan ketika VW berupaya membangun hubungan dengan pemasok baru untuk mendapatkan komponen dari negara lain.

    Sebelumnya, VW menyatakan akan membangun fasilitas produksi baru untuk mobil listrik Trinity, di dekat pabrik utamanya di Wolfsburg, Jerman, pada awal musim semi 2023. Pabrik Trinity yang menelan investasi 2 miliar euro atau sekitar Rp 31 triliun itu adalah komponen kunci dari program modernisasi terbesar dalam sejarah lokasi utama VW.

    VW berharap pembangunan pabrik baru ini dapat membuatnya mengalahkan dominasi Tesla di pasar kendaraan listrik dunia. Selain membangun pabrik baru di Jerman, VW juga fokus memperluas penjualan kendaraan listrik di Tiongkok dan menargetkan penjualan satu juta mobil listrik pada 2023.[]

  • Bangun Pabrik di AS, VinFast Incar Pinjaman dari Pemerintah

    Jakarta | VinFast, produsen mobil asal Vietnam, tengah berusaha mendapatkan pembiayaan dari pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mendukung rencana pembangunan pabriknya di North Carolina. Di pabrik itu, VinFast akan memproduksi SUV VF8 dan VF9 bertenaga baterai.

    “Ini juga merupakan salah satu opsi pembiayaan kami, tetapi kami perlu membuktikan kepada mereka bahwa kami memenuhi syarat,” kata Ketua Vingroup Pham Nhat Vuong seperti dilansir dari Reuters.

    Unit usaha Vingroup tersebut ingin segera memulai pembangunan pabrik setelah menerima izin, agar produksi bisa dimulai pada tahun 2024.

    Selain itu, VinFast juga menyebutkan bahwa perusahaan induknya yang berbasis di Singapura telah mengajukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa AS.

    “Kami sendiri bertekad untuk mendorong dan berkomitmen untuk IPO ini, tetapi target tertinggi untuk IPO bukanlah pembiayaan, tetapi untuk menyiapkan VinFast di pasar global,” ujar Vuong.

    VinFast telah beroperasi sejak 2019. Perusahaan ini berharap dapat menyaingi produsen mobil dan perusahaan rintisan di AS, dengan mengandalkan dua SUV listrik dan model sewa baterai miliknya, yang akan mengurangi harga pembelian. VinFast berencana mulai mengekspor dua kendaraan listriknya dari Vietnam ke pasar AS, mulai akhir tahun ini.[]

  • Thailand Perluas Insentif untuk Kendaraan Listrik

    Jakarta | Pemerintah Thailand memperluas insentif untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Dewan Investasi atau The Board of Investment (BoI) mengatakan, keputusan itu ditempuh lantaran Thailand berupaya mempertahankan statusnya sebagai pusat produksi mobil utama di Asia Tenggara.

    Selain itu, Thailand juga mendorong konsumen beralih ke EV, dengan tujuan memastikan 30% dari total output produksi mobilnya adalah EV pada tahun 2030.

    “Stasiun pengisian yang lebih kecil sekarang akan memenuhi syarat untuk manfaat pajak tiga tahun,” ujar Sekretaris Jenderal BoI Duangjai Asawachintachit yang dikutip dari Reuters.

    Tak hanya itu, insentif tambahan di atas pembebasan pajak penghasilan perusahaan lima tahun yang tersedia untuk investasi di stasiun pengisian dengan setidaknya 40 pengisi daya. Pemerintah Thailand juga menghapus kondisi yang melarang investor menerima manfaat tambahan dari lembaga lain dan persyaratan untuk sertifikasi ISO.

    Duangjai pada Kamis (07/04/2022) menyebutkan bahwa selama periode Januari-Maret, aplikasi investasi asing dan Thailand secara keseluruhan, termasuk untuk industri otomotif, bernilai 110,7 miliar baht. Angka itu turun 6% dari tahun sebelumnya akibat tantangan geopolitik dan ekonomi global.

    Namun, komitmen investasi asing saja naik 29% menjadi 77,3 miliar baht pada periode Januari-Maret, dengan tiga investor teratas adalah Taiwan, Jepang dan Tiongkok. Di antara industri yang ditargetkan, sektor otomotif menduduki puncak daftar dengan nilai investasi 41,6 miliar baht, diikuti sektor pertanian dan pengolahan makanan serta elektronik.[]

  • GM Gandeng Honda Kembangkan EV Terjangkau

    Jakarta | General Motors Co. (GM) dan Honda Motor Co. berencana kolaborasi dalam mengembangkan lini kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dengan harga yang terjangkau untuk pasar Amerika utara, Amerika selatan dan Tiongkok.

    Mengutip The Wall Street Journal, mereka akan membagi biaya pengembangan dan bekerja sama untuk mengurangi biaya baterai, yang merupakan komponen EV paling mahal. Hal itu akan memungkinkan mereka menurunkan harga.

    Proyek GM-Honda memperluas kerja sama antar perusahaan di area lain, termasuk mobil tanpa pengemudi. Harga yang relatif tinggi untuk mobil listrik tetap menjadi rintangan utama untuk adopsi yang lebih luas.

    Rata-rata harga kendaraan listrik di Amerika Serikat (AS) adalah sekitar USD 60.000 atau setara Rp 861,6 juta, cukup mahal jika dibandingkan dengan kendaraan konvensional yang rata-rata USD 45.000, menurut situs web penelitian Edmunds.com.

    Penguasa pasar EV, Tesla Inc. pernah menyatakan ingin memperkenalkan model dengan harga lebih rendah untuk memperluas adopsi EV. Pada 2020, CEO Tesla Elon Musk mengatakan Tesla berencana membuat EV dengan harga sekitar USD 25.000, namun awal tahun ini Musk mengatakan bahwa proyek tersebut ditangguhkan untuk sementara.

    EV dengan harga rendah saat ini sebagian besar terbatas di Tiongkok, di mana merek lokal dan produsen mobil besar menawarkan mobil plug-in kecil tanpa tulang dengan jarak mengemudi yang terbatas. Merek Wuling misalnya, telah sukses menjual EV murah, Hongguang Mini, dengan harga sekitar USD 5.000. []

  • Rivian Automotive Yakin Target Produksi Tahun Ini Dapat Terpenuhi

    Jakarta | Startup yang memproduksi kendaraan listrik, Rivian Automotive Inc. optimistis bisa memenuhi target produksi 25.000 unit kendaraan tahun ini.

    Sebelumnya pada bulan lalu, Rivian mengatakan bahwa masalah rantai pasokan yang masih membayangi dapat memangkas produksi tahun ini dari yang direncanakan semula hingga setengahnya, menjadi 25.000 unit kendaraan.

    Optimisme itu salah satunya didukung oleh keberhasilan Rivian sepanjang kuartal pertama tahun ini yang telah memproduksi 2.553 unit dan mengirimkan 1.227 mobil kepada pelanggannya.

    Mengutip Reuters, perusahaan rintisan ini memiliki pabrik di Normal, Illinois, yang saat ini memproduksi kendaraan sport R1S, truk pikap R1T dan van pengiriman untuk investor dan pelanggan Amazon.com Inc.

    Total kapasitas produksi tahunan pabrik Rivian saat ini mencapai 150.000 unit dan ditargetkan bertambah menjadi 200.000 unit pada tahun depan. Peningkatan kapasitas produksi itu dilakukan lantaran Rivian akan menambah kendaraan baru.

    Pada akhir tahun lalu, Rivian baru saja dipinang oleh Soros Fund Management, perusahaan milik taipan George Soros. Berdasarkan dokumen pengajuan kepada Securities and Exchange Commision (SEC) yang dikutip dari Reuters, nilai transaksi itu mencapai USD 2 miliar.

    Pembelian itu menjadikan Soros sebagai investor paling terkemuka dalam Rivian, sedangkan pemegang saham lainnya adalah Amazon dengan kepemilikan 20%.[]

  • Hertz Global Bakal Beli 65.000 Kendaraan Listrik dari Polestar

    Jakarta | Perusahaan penyewaan mobil, Hertz Global Holdings Inc. akan membeli hingga 65.000 kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) selama lima tahun dari produsen mobil Swedia, Polestar. Langkah ini sebagai bagian dari tujuan Hertz memperluas penawaran plug-in miliknya.

    Chief Executive Officer (CEO) Hertz Stephen Scherr mengatakan, harga gas yang lebih tinggi mendorong sejumlah pelanggan memilih sewa mobil model listrik. Menurut Scherr, hampir setengah dari EV yang ditawarkan di jajaran Hertz memiliki rentang baterai yang cukup, sehingga pengemudi tidak perlu mengisi daya selama reservasi mereka.

    Sedangkan CEO Polestar Thomas Ingenlath mengatakan bahwa membawa pelanggan ke kendaraan listrik dalam pengaturan sewa adalah cara berisiko rendah bagi mereka untuk menguji teknologi baru. Selain itu juga mampu mendorong beberapa orang mempertimbangkan peralihan untuk pengemudi harian mereka.

    Hertz berharap kendaraan Polestar akan tersedia mulai musim semi tahun ini di Eropa dan akhir tahun di Amerika Utara dan Australia. Melansir The Wall Street Journal, awalnya Hertz akan memesan Polestar 2, model produksi utama pembuat EV, yang dipasarkan sebagai pesaing Model 3 Tesla Inc.

    Polestar, yang dimiliki oleh produsen mobil Tiongkok, Zhejiang Geely Holding Group Co., berfokus pada mobil listrik berperforma tinggi. Sepanjang tahun lalu, Polestar telah memproduksi 29.000 kendaraan.

    Hertz mengatakan biaya pembelian kendaraan Polestar akan dipenuhi lewat sekuritisasi yang didukung aset, sebuah struktur yang memungkinkannya mengumpulkan dana pada tingkat yang lebih rendah, dibanding menerbitkan utangnya sendiri sebagai entitas perusahaan.[]

  • General Motors Bakal Dapat Dukungan Investasi dari Pemerintah Kanada

    Jakarta | Pemerintah Kanada akan memberikan dukungan untuk investasi General Motors Co. (GM) di dua pabrik, termasuk satu yang akan memproduksi kendaraan komersial listrik atau electric vehicle (EV).

    Berdasarkan sumber Reuters, pemerintah federal dan pemerintah provinsi Ontario akan berinvestasi di dua pabrik GM di Ingersoll dan Oshawa. Namun tidak disebutkan lebih rinci, termasuk tentang besaran investasinya.

    Saat ini, Kanada memang tengah berusaha menjaga masa depan pusat manufaktur di Ontario, seiring upaya dunia mengurangi emisi dengan berinvestasi dalam rantai pasokan EV.

    Wakil Presiden GM Global Chevrolet Scott Bell, Menteri Perindustrian federal Kanada Francois-Philippe Champagne dan Perdana Menteri Ontario Doug Ford akan mengumumkan tentang investasi tersebut pada Senin (04/04/2022) waktu setempat di jalur uji kendaraan GM di Oshawa.

    Sebelumnya awal tahun lalu, pihak GM mengatakan akan menginvestasikan C$ 1 miliar (USD 799 juta) untuk mengubah Pabrik Perakitan CAMI di Ingersoll, Ontario, untuk memproduksi van pengiriman komersial BrightDrop EV600.

    Kemudian jelang akhir 2021, GM membuka kembali pabriknya di Oshawa, setelah ditutup selama dua tahun, untuk memproduksi pikap Chevrolet Silverado.

    Tak hanya itu, pada bulan lalu, GM bersama POSCO Chemical Korea Selatan juga telah menyatakan akan membangun fasilitas senilai USD 400 juta, untuk memproduksi bahan baterai di Kanada. Strategi ini ditempuh lantaran GM ingin meningkatkan produksi EV di masa depan.[]

  • Tesla Kirim 310.048 Mobil Ditengah Masalah Rantai Pasok Global

    Jakarta – Pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla berhasil mengirimkan 310.048 mobil pada kuartal I-2022, meski CEO Tesla Elon Musk menyebutnya sebagai “kuartal yang sangat sulit,” akibat masalah rantai pasokan global dan penutupan singkat di pabrik Tesla di Shanghai, China.

    “Ini adalah kuartal yang sangat sulit karena gangguan rantai pasokan dan kebijakan China zero Covid. Pekerjaan luar biasa oleh tim Tesla dan pemasok utama yang telah berhasil melewati ini,” tutur Musk dilansir dari TechCrunch, Minggu (03/04/2022).

    Dalam siaran persnya, Tesla menyampaikan bahwa dalam pengiriman tersebut, Mobil Listrik Model 3 dan Y berhasil terkirim 295.324 unit, sementara untuk Model S dan X mencapai 14.724 unit. Pengiriman kuartal I-2022 sedikit meningkat dari 308.600 pada pengiriman kuartal sebelumnya.

    Juga melampaui 184.800 pengiriman yang dilakukan Tesla pada kuartal pertama 2021, atau meningkat 68 persen dari tahun ke tahun. Sementara di sisi produksi, Tesla berhasil membangun total 305.407 kendaraan.

    Elon Musk
    CEO Tesla Elon Musk. (Foto:Pelopor.id/AFP/Brendan Smialowski)

    Adapun pada Februari lalu, Tesla menutup pabriknya di Shanghai selama dua hari di tengah lonjakan kasus Covid-19, dan kembali menutup pabrik pada pekan lalu lantaran Shanghai sedang diberlakukan penguncian seluruh kota.

    Pabrik di Shanghai itu, adalah yang terbesar memproduksi Model 3 dan Model Y. Selain itu, Tesla baru-baru ini juga membuka Gigafactory atau pabrik Eropa pertamanya di Berlin, Jerman yang diharapkan dapat membantu mengimbangi masalah produksi yang disebabkan oleh penguncian terkait Covid-19 di Shanghai. []

  • Tesla Berencana Memecah Saham untuk Tarik Investor Baru

    Jakarta | Produsen mobil listrik asal Amerika Serikat (AS), Tesla akan meminta persetujuan pemegang saham untuk meningkatkan jumlah sahamnya, agar memungkinkan pemecahan saham. Strategi ini sebagai salah satu upaya menarik lebih banyak investor.

    Mengutip Reuters, saham Tesla adalah yang paling banyak diperdagangkan di antara pelanggan broker online Fidelity pada hari Senin (28/03/2022), dengan pesanan beli dan jual hampir terbagi rata, menunjukkan investor ritel memang berhati-hati.

    Jika disetujui, pemecahan saham oleh Tesla akan menjadi yang kedua bagi produsen mobil listrik sejak 2020, dan akan mengikuti langkah perusahaan besar AS lainnya yang memecah saham mereka dalam beberapa tahun terakhir.

    Dalam dua tahun belakangan ini, Apple, Nvidia dan Tesla telah membagi saham mereka, sedangkan Amazon dan Alphabet yang merupakan induk Google, baru-baru ini mengumumkan pembagian saham yang akan datang.

    Perusahaan membagi saham mereka untuk membuat harga saham mereka tampak lebih murah dan menarik lebih banyak investor. Namun, pemecahan saham tidak mempengaruhi fundamental yang mendasarinya.

    Catatan penelitian BofA Global Research menunjukkan bahwa pemecahan saham secara historis adalah bullish untuk perusahaan yang memberlakukannya, dengan saham mereka menandai pengembalian rata-rata 25% setahun kemudian, dibanding 9% untuk pasar secara keseluruhan.[]