Tag: Lombok Timur

  • Mengintip Kondisi Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu

    peloporberita.com/ | Lombok – Kawasan wisata Tete Batu yang kini dikenal dengan nama Desa Wisata Tete Batu, ternyata sudah menjadi kawasan wisata yang populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara sekitar tahun 1990-an. Tete Batu, dengan mudah saja menarik perhatian lantaran keindahan alamnya yang membuat peancong terkagum-kagum.

    Tete Batu yang terus mendulang kepopuleran, tentu berimbas pada berbagai industri pariwisata yang mendukungnya seperti penginapan (homestay), souvenir industri rumahan dan transportasi, bahkan sebagai motivator berdirinya desa-desa wisata lain di sekitarnya.

    “Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini.”

    Salah satu tempat yang namanya begitu mencuat adalah sebuah penginapan bernama Wisma dr. Soedjono yang memang berlokasi tepat di Tete Batu. Wisma Soedjono, merupakan wisma peninggalan seorang tokoh nasional yang punya peran strategis dalam mengentaskan wabah penyakit kolera di Lombok Timur yakni, dr. Soedjono.

    “Wisma dr Soedjono di Tete Batu ini dibangun oleh dokter pertama yang ada di Lombok Timur, yakni bapak mertua saya, dr. Soedjono,” tutur Hj. Surdini Soeweno yang merupakan istri dari Raden Soeweno, anak dari dr Soedjono dalam wawancara kepada media belum lama ini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Ardi)

    Konon, bangunan wisma berarsitektur Eropa itu awalnya ditempati dr. Soedjono bersama istrinya. Namun sepeninggal beliau, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertamanya dr. Soedjono yakni Raden Soeweno.

    Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya masih banyak kerabatnya yang ingin berkunjung ke wisma tersebut. Mereka pun datang dan menginap di rumah itu sekaligus mengenang kembali masa-masa bersama yang dilewati dengan sang dokter.

    Baca juga :

    Nah, keturunan dr. Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun sekitar tahun 1970-an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesanggrahan sang dokter. Upaya pengembangan kemudian kembali dilakukan sekitar tahun 1980-an.

    Kesaksian Hj. Surdini Soeweno

    Menurut Hj. Surdini Soeweno yang juga sempat menjabat sebagai Kepala Desa Tete Batu ini, sejarah keberadaan Wisma dr. Soedjono ini sudah sama tuanya dengan keberadaan pemerintah Kabupaten Lombok Timur, bahkan mungkin sejak sebelum itu, yakni pada saat Indonesia masih dijajah pemerintah Kolonial Belanda.

    “Cerita singkatnya, pada saat dr. Soedjono bertugas di Kabupaten Lombok Timur, dia membangun sebuah rumah yang berada di kawasan Tete Batu ini sebagai tempat peristirahatan bersama teman-teman dan para tamu dari luar negeri. Rumah yang dibangun di kawasan obyek wisata ini tidak begitu luas, hanya memiliki empat unit kamar, satu ruang tamu, lobby, dan satu ruang makan,” sebut Hj. Surdini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Foto hitam putih di dinding Wisma dr. Soedjono Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Tantri Lestari)

    Oleh sebab itu, ketika kita memasuki bangunan bersejarah yang sekarang telah beralihfungsi menjadi Wisma dr. Soedjono ini, mata kita langsung akan dibawa mengenang ke masa lalu, yaitu pada zaman Belanda. Bagaimana tidak, nyaris seluruh hiasan kamar yang ada dirumah ini, baik foto-foto yang rata-rata berwarna hitam putih, dan benda-benda lainnya adalah peninggalan masa lalu sang tuan rumah.

    "Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini. Beliau bahkan pernah suatu saat memberikan alat musik gamelan kepada beberapa sanggar seni agar kesenian Tete Batu tetap terjaga sekaligus memberikan aktivitas positif kepada anak muda di sini," jelas Hj. Surdini.

    Setelah pendiri Wisma dr. Soedjono meninggal dunia, putranya yang bernama Raden Soeweno datang kembali ke Lombok bersama istrinya, Hj. Surdini Soeweno, yang kemudian melanjutkan serta mewarisi untuk merintis kembali usaha penginapan di Tete Batu.

    Profil Wisma dr. Soedjono

    Berdasarkan pernyataan dari Hj. Surdini, saat ini jumlah kamar yang ada di Wisma dr. Soedjono ada sebanyak 30 kamar, dengan harga masing-masing kamar berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung pada fasilitas dan luas dari kamar itu sendiri.

    Dan jika bicara fasilitas, bahkan Wisma dr. Soedjono ini tak kalah dibanding penginapan modern, karena ternyata juga memiliki kolam renang yang cukup besar dan biasanya digunakan oleh para tamu yang menginap.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Ruangan di dalam Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto:Pelopor.id/Ardi)

    Namun bencana gempa bumi yang sempat melanda Lombok pada tahun 2018 lalu berdampak negatif terhadap bisnis penginapan Wisma dr. Soedjono lantaran ada beberapa bangunan yang rusak sebagai imbas dari goncangan gempa dan hingga saat ini dikarenakan kondisi pandemi yang masih berlarut-larut serta proses perbaikan yang belum berjalan maka Wisma dr. Soedjono belum dibuka lagi untuk masyarakat umum menginap.

    Baca juga : 

    “Karena kondisi bangunan yang rusak karena gempa, ditambah lagi pandemi Covid-19 ini, Wisma dr. Seodjono sementara tutup dulu untuk umum. Sambil anak saya juga sedang mempersiapkan proyek positif untuk Wisma ini nantinya. jadi, sementara kita hanya terbuka untuk menyambut tamu yang ingin melihat wisma dari dekat serta usaha Cafe yang kami jalankan,” sebut Hj. Surdini.

    Semoga kondisi segera membaik dan Wisma dr. Soedjono sebagai landmark pariwisata di Desa Wisata Tete Batu segera mendapatkan perhatian yang selayaknya dari pemerintah daerah sehingga kondisinya bisa pulih kembali, sekaligus bisa berfungsi lagi sebagai penginapan bersejarah yang harus diakui juga menjadi magnet pariwisata di Tete Batu.[]

  • Transformasi Desa Kembang Kuning Lombok Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

    peloporberita.com/ | Lombok – Desa Kembang Kuning terletak di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2017 lalu, Desa Wisata ini dikukuhkan sebagai Desa Wisata Terbaik menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.

    Desa yang terletak di lereng Gunung Rinjani itu memiliki beragam potensi atraksi seni dan budaya, kearifan lokal, serta keramah-tamahan masyarakat. Desa Desa Kembang Kuning, berjarak 85 kilometer arah timur Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB.

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis.”

    Namun, proses beralihnya Desa tersebut menjadi sebuah Desa Wisata tidak mudah. Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip menceritakan bahwa dulu ada keraguan dari masyarakat untuk menerima sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan mereka.

    Baca juga : 

    “Kembang Kuning diawali masyarakat ragu menerima pariwisata karena negatif seperti narkoba dan minuman beralkohol dan lain sebagainya,” tutur Musanip dihadapan wartawan, Senin, (22/11/2021)

    Melanjutkan ceritanya, Musanip mengatakan bahwa 30 tahun yang lalu turis sudah lalu lalang di Desa Kembang Kuning, tetapi untuk menjadikan itu sebagai sebuah sumber penghasilan terjadi baru-baru ini.

    “(Dulu) kalau (Wisatawan) mengunjungi Tetebatu, kami (Desa Kembang Kuning) dilewati saja. Namun setelah 2014, peralihan metode online ke offiline kita mulai go digital mereka datang.” Ungkapnya.

    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip
    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip (Kiri). (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Market pasar Desa Kembang Kuning sendiri adalah wisatawan asal Eropa. Mulai dari 2014 itulah mereka mulai menawarkan produk destinasi atau paket wisata. Musanip menyebut, dengan Metode digital Desa Wisata Kembang Kuning bisa mengikuti ritme perkembangan jaman.

    “Barulah setelah memulai pemasaran secara online 2 sampai 3 bulan (kemudian) hampir setiap harinya ada tamu yang datang,” tegas Musanip.

    Adapun di Desa Kembang Kuning ini terdapat sebanyak 14 homestay dengan tarif bervariasi, yakni berkisar Rp150.000-Rp600.000 perhari.

    Desa Wisata Kembang Kuning

    Kedepannya, Musanip berharap Desa Kembang Kuning bisa menjadi desa terbersih dengan sistem yang memungkinkan produk-produk bisa terkelola dan terorganisir.

    Dia juga ingin, semua produk yang beredar di desa wisata ini memiliki akses satu pintu dan saling bekerjasama sehingga harganya bisa lebih murah. Selain itu, inovasi masalah pengelolaan sampah juga penting dan Desa Kembang Kuning perlu dikuatkan dengan masterplan.

    Baca juga : 

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis. Setiap gubuk dibangun dengan rapi dengan awik-awik. Perkembangan terlalu cepat, apalagi permasalahannya banyak orang luar punya banyak lahan disini,” tandas Musanip.

    NTB PROV

    Tak hanya menawarkan panorama sawah yang menawan di bawah perbukitan Gunung Rinjani, Desa Kembang Kuning juga menawarkan beraneka aktifitas sehari-hari warganya. Seperti proses pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan minyak kelapa.

    Selain itu, wisatawan juga dimanjakan dengan beraneka destinasi air terjun yang letaknya tak jauh dari Desa Kembang Kuning. Seperti Air terjun Ulem – ulem, Air terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. []

  • Jelang World Superbike Lombok Timur capai Herd Immunity

    peloporberita.com/ – Penyelenggaraan World Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika tinggal menghitung hari. Kabupaten Lombok Timur yang merupakan tetangga terdekat Lombok Tengah tempat WSBK berlangsung, pada Senin, (8/11/2021) sukses mencapai 70,21% tingkat vaksikasi covid-19 dosis pertama sehingga Herd Immunity telah tercapai.

    Sekretaris Daerah Lombok Timur, Juani Taufik yang mewakili Bupati Lombok Timur H. Sukiman Azmy menyampaikan bahwa dengan terbentuknya herd Immunity di Kabupaten Lombok Timur ini, maka Para pelancong bisa dengan tenang menyaksikan WSBK sambil berwisata ke desa-desa wisata yang ada di wilayah tersebut.

    “Itu (herd immunity) terjadi manakala 70 persen dari populasi sudah tervaksinasi. Sedangkan di Lotim 70,21% dari target vaksinasi tercapai terhadap populasi di lotim yang sebanyak 952.470 orang.”

    Apalagi salah satu desa wisata Tetebatu yang ada di Lombok Timur merupakan wakil Indonesia dalam ajang Best Tourism Villages yang digelar UNWTO, yang pastinya menarik untuk dikunjungi.

    “Silakan Bapak Ibu jangan ragu berkunjung ke Lombok Timur menikmati destinasi wisata di Lombok Timur ada Sembalun, ada Tetebatu, Ekas dan Pantai Pink, dijamin aman,” tuturnya dalam konferensi Pers di Selong, Lombok Timur.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Pathurrahman menjelaskan bahwa kegiatan vaksinasi di Lombok Timur telah mulai dilakukan dari bulan Februari dan masih terus berlangsung. Adapun sampai jam 12 siang ini (8/11/2021) tingkat vaksinasi sudah berada diangka 70,21 persen dosis 1. Sehingga secara teoritis, herd immunity terlah terjadi di Lombok Timur (lotim).

    “itu (herd immunity) terjadi manakala 70 persen dari populasi sudah tervaksinasi. Sedangkan di Lotim 70,21% dari target vaksinasi tercapai terhadap populasi di lotim yang sebanyak 952.470 orang. Prediksi sebelumnya, capai herd immunity pada akhir Desember tapi bisa berhasil lebih cepat,” sebut Pathurrahman.

    Baca juga :

    Sebelumnya, Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi menerangkan bahwa tersulut event WSBK, wisatawan sudah mulai berdatangan ke Lombok. Ia juga menyebut euforia WSBK 2021 dirasakan hingga ke pedagang kaki lima di wilayah tersebut.

    “Sebenarnya salah satu magnetnya karena acara World Superbike. Ini bisa dirasakan euforianya itu sudah tidak lagi di level para penikmat sport tourism aja, tetapi sampai juga pada level pedagang kaki lima,” sebut Taufan.

    Yang terpenting, menurut Taufan, pelaku industri Pariwisata di NTB sangat “aware” terhadap protokol kesehatan. Sebab, mereka sadar bahwa DNA mereka disini adalah Pariwisata sehingga semua mendukung vaksinasi.

    “Mereka tau dengan semakin banyaknya yang tervaksinasi itu menunjukkan daerah itu siap menerima wisatawan,” tandasnya. []

  • Kapolres Lombok Timur Dukung Investor Kelola Resto Ekas Adventure

    peloporberita.com/ | Kapolres Lombok Timur Herman Suriyono memberi sinyal positif terkait masalah investor dengan oknum karyawannya sekaligus warga sekitar, YE, yang ditunjuk mengelola restoran terapung di kawasan wisata Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

    Setelah melaporkan YE dengan delik kasus penipuan ke Mapolres Lombok Timur, Investor Resto Ekas Adventure Siti Aishah ingin mengelola kembali restoran terapung itu. Apalagi, menjelang parhelatan event World Superbike (WSBK) dan MotoGP di Sirkuit Mandalika.

    “Boleh aja (dikelola walaupun telah dilaporkan berkasus), kan hak dia,” ujar Kapolres Lombok Timur Herman Suriyono, pada Selasa (02/11/2021).

    Baca juga: Sukiman Azmy Turun Tangan, Hambatan Bisnis Panorama Ekas Hilang

    Untuk memperjelas kronologis kasus ini, Herman pun berencana membahasnya dengan Kasat Reskrim Polres Lombok Timur. “Tetapi nanti saya coba tanyakan ke kasatreskrim. Atau kawan-kawan langsung saja. Harusnya sih kalau saya lihat sekilas, kalau memang real seperti itu sebenarnya tidak ada masalah,” lanjut Herman.

    Bahkan, Herman mendukung kawasan Ekas menjadi penunjang event WSBK dan MotoGP. “(Agenda WSBK) deket itu, rumah makan terapung kalau di keluarkan lagi di media, dipromosikan lagi, bagus,” ucapnya.

    Restoran Terapung Ekas Adventure di kawasan wisata Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Foto: Pelopor/Ist.)

    Dihubungi terpisah, Siti Aishah mengaku kesulitan beraktivitas di Ekas Adventure karena di sekitar lokasi ada sejumlah oknum warga (pengikut YE) yang berusaha mencegahnya. “Kami merasa tidak nyaman karena masih ada orang-orangnya mereka yang mengawasi dan terkesan mencegah kami mengelola resto yang menjadi hak kami,” ujar Aishah.

    Ia pun memaparkan kronologis kesepakatan kerja samanya. “Saya bertemu dengan YE, dan dipertemukan suaminya, SA. Pak Alimin adalah real ownernya ruang laut dan resto apung yang lama. Diawal diskusi, YE menyuruh saya buat resto apung saya sendiri di ruang laut yang “dimiliki dia” sebesar 71 hektar, tapi setelah saya cari tahu, ternyata ruang laut itu milik Pak Alimin,” kenang Aishah.

    Baca juga: Pre-Order Tiket Prioritas WSBK Mandalika Dibuka Mulai Harga Rp 600.000-Rp 19,5 Juta

    Setelah resto dibangun, YE coba menguasai penuh resto apung Aishah, sehingga Aishah mempertegas untuk meminta haknya kembali. Namun sampai saat ini terus dipersulit. Perjanjian awal, Aishah seharusnya mengoperasikan restoran terapung itu dan berbagi hasil 50:50 dengan YE, karena menggunakan rumah apung yang dijadikan tempat masak restoran tersebut.

    Setelah Aishah menempuh jalur huķum, YE pun menghilang. Berdasarkan informasi yang diterima Aishah, YE disebut berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). “Kalau benar itu punyanya dia, pasti akan pertahankan, bukan lari ke NTT,” pungkasnya. []

  • Sukiman Azmy Turun Tangan, Hambatan Bisnis Panorama Ekas Hilang

    peloporberita.com/ – Ruth Seran, Pemilik Panorama Cottages Beach Village bisa bernafas lega lantaran ada titik terang perihal rintangan yang selama ini menghambat bisnisnya akan selesai. Kepastian ini, didapat setelah perjuangan panjangnya sejak 2016 untuk mendapat keadilan direspon langsung oleh Bupati Lombok Timur (Lotim), Muhammad Sukiman Azmy.

    Kepada redaksi peloporberita.com/, Ruth Seran menceritakan, pada Selasa, 26 Oktober 2021 pagi, ia berkesempatan menemui Bupati Lotim. Dalam pertemuan itu, Ruth menjelaskan perihal yang mempersulit bisnisnya dengan membawa bukti berupa beberapa dokumen yang berisikan data dan fakta di lapangan.

    “Ruth tolong bantu pemerintah, kita keterbatasan dana. Jadi minta tolong ini dialihkan yang didepan hotelnya Bu Ruth ini tolong bantu dirapikan, ditata yang bagus di buat secantik mungkin untuk pariwisata.”

    Setelah mendengar permasalahan Ruth dan melihat dokumen berisi fakta dilapangan yang ditunjukkan kepadanya, Sukiman Azmy menunjukkan reaksi yang diluar dugaan.

    “Saya salut sama beliau, karena beliau berbesar hati minta maaf,” kata Ruth dalam wawancara dengan peloporberita.com/, Rabu, 27 Oktober 2021.

    "Ibu Ruth, saya minta maaf karena masalah yang dihadapi Panorama ini sudah berlangsung terlalu lama, dan pada periode terakhir ini saya terlalu sibuk dan belum sempat datang dan memeriksa situasi di Ekas," kata Ruth menirukan ucapan Bupati.

    Sukiman Azmy

    “Saya salut sama beliau itu. Ketika saya ceritakan semua, oke saya turun ke lokasi,” sambungnya.

    Kemudian Ruth menyebut, sekitar jam 2 siang Bupati Lotim turun ke Ekas, didampingi sejumlah jajarannya seperti Kadis perhubungan Lotim, Kadis PUPR, Kasatpol PP, tim yang sedang mengerjakan proyek di sebelah utara Panorama, dan masih banyak lagi.

    Dalam kunjungan tersebut, Sukiman Azmy menyampaikan kepada masyarakat dimana area untuk mereka beraktivitas, loading, spesial loading untuk bambu atau untuk kapal. Sedangkan area yang berada di depan panorama ditata untuk pariwisata.

    “Ruth tolong bantu pemerintah, kita keterbatasan dana. Jadi minta tolong ini dialihkan yang didepan hotelnya Bu Ruth ini tolong bantu dirapikan, ditata yang bagus di buat secantik mungkin untuk pariwisata,” ucap Ruth menirukan lagi perkataan Bupati Lotim.

    “Terkait masalah antara Ruth dengan bangunan mantan kades Ekas buana itu : tidak ada. Itu adalah masalahnya Pemkab lotim dengan Mantan kades Ekas buana. Pol PP tugasnya untuk membongkar” sambung Ruth dalam keterangannya.

    Sukiman Azmy
    Bupati Lombok Timur (Lotim), Muhammad Sukiman Azmy saat mengunjungi Ekas. (Foto:Pelopor.id)

    Sukiman Azmy menegaskan, bahwa area dengan luas lebih dari 200 meter adalah untuk masyarakat yang bisa digunakan untuk parkir, menjemur rumput laut, menjemur ikan dan lain sebagainya.

    “Ya pokoknya semua aktivitas masyarakat semua disatukan di sebelah utara ya Panorama. Sementara khusus untuk pariwisata terkait pantai di depan hotel panorama itu kan kurang lebih 100 meter panjangnya, kita dikasih mandat dan Kita dikasih wejangan untuk dipapah, dibuat secantik mungkin, untuk menyambut WSBK (World Superbike) dan MotoGP ini,” tegas Ruth. []

  • Rinjani Geopark Sport Tourism Festival Digelar 24 Oktober-7 November 2021

    peloporberita.com/ | Setelah HK Endurance Challenge sukses terlaksana, giliran Rinjani Geopark Sport Tourism (RGST) Festival ’21 memberi bukti pariwisata Lombok-Sumbawa bisa hidup berdampingan dengan Covid-19.

    “Rinjani Geopark sport tourism festival 2021 ini bisa menjadi upaya pemulihan kepariwisataan di NTB setelah pekan lalu HK Enduranve Challenge sukses di gelar,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) Yusron Hadi, dalam pembukaan RGST Festival di Sembalun, Lombok Timur, Minggu (24/10/2021).

    “Kolaborasi event HK Endurance Challenge, Rinjani Geopark Sport Tourism Festival dan WSBK nanti, bisa menjadi bukti NTB berhasil berdamai dengan pandemi. Dan kolaborasi event-event ini bisa terselenggara dengan baik dan lancar,” kata Yusron penuh harap.

    Adapun, agenda side event jelang World Superbike (WSBK) yang merupakan acara di luar WSBK dan MotoGP, akan berakhir pada 7 November mendatang. Yusron pun optimis, acara-acara ini berdampak positif bagi sektor kepariwisataan NTB. Menurut Yusron, Dispar NTB akan mendorong setiap kabupaten menyiapkan satu event unggulan atau event kolaborasi dengan kabupaten lain pada tahun depan.

    Baca juga: Pre-Order Tiket Prioritas WSBK Mandalika Dibuka Mulai Harga Rp 600.000-Rp 19,5 Juta

    RGST Festival sendiri disebut-sebut sebagai sport tourism pertama di pulau Lombok. Acara yang berlangsung di Pusat Informasi Geopark Rinjani-Sembalun ini, diinisiasi Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark (RL-UGGp).

    RGST Festival menggelar tiga acara utama dengan enam acara tambahan yang dibatasi maksimal 20 team dari dalam dan luar NTB. Peserta yang sudah mendaftar adalah 300 orang untuk kelas atlet dan adventure yang berasal dari dalam dan luar negeri.

    Direktur Event dan GM Geopark Rinjani Mohammad Farid Zaini mengatakan, tiga kegiatan utama terdiri dari,

    • Rinjani Geopark Sembalun 7 Summits (25-28 Oktober 2021)
    • Sembalun Paragliding (30-31 Oktober 2021)
    • Rinjani Geopark International Enduro (5-7 November 2021).

    Sedangkan kegiatan tambahan adalah,

    • Rinjani Art Camp (6-7 November 2021)
    • Bazar UMKM (24-28 Oktober dan 4-7 November 2021)
    • Eksibisi Panahan (24-28 Oktober dan 4-7 November 2021)
    • Eksebisi permainan tradisional Egrang dan Begasingan (24-28 Oktober dan 4-7 November 2021)
    • Eksebisi Mini Catur (5-7 November 2021). []

    Baca juga: Sambut WSBK, Mandalika Grand Prix Association Luncurkan Logo Baru

  • Profil Yusron Hadi, Kadispar NTB yang Asli Putra Lombok

    peloporberita.com/ | Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), baru saja menjalankan ritual Mandi Safar pada Rabu (06/10/2021). Mandi Safar adalah ritual yang dikenal dengan istilah ‘Rebo Bontong’ yang dilaksanakan rutin setiap tahun dibulan Safar (perhitungan kalender Islam). Ritual ini dipercaya akan membangkitkan pariwisata Lombok-Sumbawa, yang sebelumnya mati suri akibat pandemi Covid-19.

    Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno. Ia menilai tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Budaya ini, jika dikemas menarik bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB.

    Profil Yusron Hadi

    Mari kita mengenal sosok Yusron Hadi, Putra Lombok yang membesarkan pariwisata NTB.

    Yusron Hadi lahir di Lombok Timur, NTB, pada 11 Juni 1970. Ia memiliki seorang istri bernama Hj. Nurul Amalia dan seorang anak bernama Salsabila Rifda Afiya.

    Yusron meraih gelar Sarjana Tehnik (ST) Perencanaan Wilayah dan Kota di Malang pada 1995. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan S2 dan mendapatkan gelar Master of Urban Management (MUM) University of Canberra, Australia, pada tahun 2001.

    Tidak hanya pendidikan formal, Yusron sebagai seorang pengawai negeri sipil (PNS) juga menempuh pendidikan struktural, yaitu Diklat Pimpinan tingkat IV (2003), Diklat Pimpinan tingkat III (2011) dan Diklat Pimpinan tingkat II (2017).

    Yusron Hadi
    Kadispar NTB Yusron Hadi. (Foto :peloporberita.com/Dispar NTB)

    Sebelum menjadi Kepala Dinas Pariwisata NTB, ia menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB (2019-2021), setelah menjadi Kepala Biro Organisasi Setda NTB ( 2017-2019).

    Selama Yusron mengabdi sebagai PNS, cukup banyak pencapaian yang sudah ia raih, antara lain menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB 2010-2030, memfasilitasi Juara 3 Nasional Anugerah Perencanaan Pembangunan Daerah bagi Provinsi skala menengah pada tahun 2013-2014, memfasilitasi Golden Award bagi Pemerintah Provinsi NTB dalam Pelayanan Publik dari Ombudsman RI 2018, dan memfasilitasi pembangunan Samsat Kapal Perikanan Provinsi NTB 2020.

    Yusron Hadi juga aktif mengikuti pelatihan di luar negeri, beberapa di antaranya The Optimal Site for Kobold Turbine (ICS Unido Trieste Italy, 2007), Port Management and Planning (Bremen-Germany 2009), Global Geopark Network Conference (Torkey UK, 2016) dan Study visit Ningxia Province (China, 2017). []

  • Doa Sandiaga Uno untuk Bupati Lombok Timur Sukiman Azmy

    peloporberita.com/ | Jakarta – Hari ini Selasa, 31 Agustus 2021, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-126. Upacara peringatan kali ini dilaksanakan dengan sederhana di Kantor Bupati Lotim dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

    Kado istimewa pada perayaan HUT Lotim ke-126 antara lain, terpilihnya TeteBatu mewakili Indonesia di ajang penghargaan Desa Wisata kelas dunia, serta keberhasilan Bupati Lotim H.Sukiman Azmy melenyapkan status Desa tertinggal dari wilayah yang dipimpinnya.

    “Kelak ke Lombok Timur lagi, kami akan berikan gelar Tuan Guru kepada Bapak.”

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno, turut mengikuti acara tersebut secara virtual. Selain mengucapkan selamat hari jadi untuk Kabupaten Lombok Timur, Pencetus program Oke Oce ini memanjatkan doa tulus untuk Bupati Sukiman Azmy yang disebutnya “Pak Ustadz Jenderal”.

    “Mudah-mudahan Pak Ustadz Jenderal (M. Sukiman Azmy) bisa sehat Walafiat dan amanah memimpin masyarakat Lombok Timur, Amiin Allahummamiin,” ucap sandi dengan tulus mendoakan Bupati Lotim seperti dikutip dari video yang diterima peloporberita.com/, Selasa, 31 Agustus 2021.

    HUT ke-126 Kabupaten Lombok Timur
    Acara Peringatan HUT ke-126 Kabupaten Lombok Timur, Selasa, 31 Agustus 2021. (Foto: peloporberita.com/Pemkab Lotim)

    Kemudian, Menparekraf juga menyapa Taufan Rahmadi yang merupakan Pengamat Pariwisata Nasional. Dalam acara itu, Taufan Rahmadi tampak duduk di samping Bupati Lotim M. Sukiman Azmy.

    “Yang saya hormati Bapak senior Taufan Rahmadi yang selalu mendampingi masyarakat Lombok tanpa pamrih,” sebut Sandiaga.

    Lebih Lanjut, Menparekraf juga mengucapkan dirgahayu hari jadi ke-126 untuk Kabupaten Lombok Timur dan selamat atas terpilihnya desa wisata Tetebatu untuk mewakili Indonesia Raya dalam ajang best tourism Village 2021 oleh UNWTO

    “Satu kebanggaan bagi kita,” tegasnya.

    Sandiaga Uno

    Setelah itu, Pantun Sasak dikumandangkan oleh Menparekraf, “ Lalo Ngupi Jok Tetebatu, Engat Rinjani Solah Gati. Kadu masker pacu Pacu, Brembe Kabar Side Selapuq.” Artinya, “Pergi ngopi ke Tetebatu, lihat Rinjani indah sekali. Pakai masker benar-benar, Bagaimana kabar saudaraku semua.”

    Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lotim H.Sukiman Azmy mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan gelar khusus kepada Menparekraf.

    “Kelak ke Lombok Timur lagi, kami akan berikan gelar Tuan Guru kepada Bapak,” kata Bupati yang dipanggil Ustadz Jenderal itu.

    Tuan Guru sendiri, merupakan gelar yang diberikan secara khusus untuk Tokoh Masyarakat yang paham agama dan dinilai dekat dengan masyarakat setempat. []

  • Kabupaten Lombok Timur dapat Ucapan Spesial dari Menparekraf di Ultah ke-126

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kabupaten Lombok Timur berulang tahun setiap 31 Agustus sesuai dengan Perda No. 1 tahun 2013. Momen bersejarah tersebut, penting sebagai titik awal pemerintahan dan pembangunan di daerah yang berdiri tahun 1895 itu.

    Ada yang spesial dari peringatan ulang tahun Lombok Timur ke-126 di tahun 2021 ini, yakni ucapan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno. Selain itu, pencetus program Oke Oce ini juga memberikan selamat atas terpilihnya Desa Tetebatu dari Lombok Timur sebagai wakil Indonesia di ajang penghargaan Internasional Best Tourism Villages 2021 UNWTO.

    “Saya Sandiaga salahudin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, mengucapkan selamat hari jadi ke-126 untuk Kabupaten Lombok Timur. Di kesempatan kali ini, saya juga ingin mengucapkan selamat atas terpilihnya desa Tetebatu Kabupaten Lombok Timur yang mewakili Indonesia dalam ajang Best Tourism Villages 2021 UNWTO,” tutur Menparekraf dalam video yang diterima peloporberita.com/, Minggu, 29 Agustus 2021.

    “Semoga dengan bertambahnya usia yang lebih dari satu abad ini, Kabupaten Lombok Timur semakin melesat maju, makin menginspirasi daerah lain menjadi Kabupaten atau Desa yg semakin unggul dan berkontribusi dalam kebangkitan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Bangkit disaat sulit, menang melawan Covid, together Lombok Timur yes we can do it,” sambungnya.

    Sepanjang berdirinya Kabupaten Lombok Timur, baru kali ini tepatnya di bawah kepemimpinan H. Sukiman Azmy, wilayah tersebut menjadi booming dan diperbincangkan para Netizen. Khususnya saat Desa Tetebatu yang ada di wilayah Lombok Timur, resmi menjadi wakil Indonesia di ajang bergengsi tingkat Internasional “Best Tourism Villages 2021” yang diselenggarakan UNWTO (Organisasi Pariwisata dunia PBB).

    Sebelumnya dibawah komando Gubernur H. Gatot Suherman (Alm), NTB berhasil mendapat penghargaan dari FAO (Organisasi pangan Dunia dibawah naungan PBB ) karena keberhasilan Swasembada Pangan sehingga daerah itu dijuluki “Bumi Gora”.

    Lombok Timur, juga kini banyak disebut sebagai Surganya Desa Wisata. Hal ini seiring ditetapkannya 63 desa di Lombok Timur sebagai Desa Wisata. Bahkan, salah satunya yakni Desa Kembang Kuning, berhasil dianugerahi penghargaan sebagai Desa Wisata terbaik Nasional Kualifikasi Desa Wisata Berkembang.

    Apalagi, pandemi Covid-19 di tanah Air diprediksi akan menjadi Endemi. Terkait hal ini, Menparekraf Sandiaga Uno menyebut, kondisi peralihan dari Pandemi ke Endemi akan menimbulkan serangan pariwisata (Revenge Tourism). Dimana masyarakat yang selama ini berada dalam masa Pembatasan pergerakan, akan menghilangkan penatnya dengan berwisata. Nah, Lombok Timur sebagai Surganya Desa Wisata bisa menjadi pilihan.

    “Saya Sandiaga salahudin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, mengucapkan selamat hari jadi ke-126 untuk Kabupaten Lombok Timur.”

    Revenge Tourism tentunya akan memulihkan perekonomian Kabupaten Lombok Timur. Sebab, para wisatawan pastinya tak hanya sekadar menikmati keindahan alam di Desa Wisata, tetapi juga akan membelanjakan uangnya untuk membeli oleh-oleh, cinderamata, kerajinan tangan lokal setempat, juga memakan makanan khas dari daerah tersebut.

    Sehingga bangkitlah perekonomian di Lombok Timur sesuai dengan yang dicita-citakan Bupati Sukiman Azmy. “Dirgahayu ke-126 Lombok Timur, 2021 Kembali Mendunia”. []

  • Hebat, Tidak Ada Lagi Desa Tertinggal di Kabupaten Lombok Timur

    peloporberita.com/ | Jakarta – Bupati Kabupaten Lombok Timur H.Sukiman Azmy, berhasil melenyapkan status desa tertinggal di wilayahnya. Keberhasilan ini seiring dengan Indeks Desa Membangun (IDM) yang diperoleh dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) pada Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD).

    “Hanya Desa yang majulah yang dapat mengantarkan Kabupatennya maju.”

    “Ukuran keberhasilan pembangunan yang paling nyata itu ada di Desa, karena sebagian besar (atau) 90 persen penduduk Lotim tinggal di Desa,” tutur Sukiman Azmy berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Kamis, 26 Agustus 2021.

    “Hanya Desa yang majulah yang dapat mengantarkan Kabupatennya maju,” sambungnya.

    Pernyataan ini disampaikan Sukiman Azmy terkait Lombok Timur yang berhasil mendapatkan IDM tertinggi dari seluruh Kabupaten yang ada di Nusa Tenggara Barat (NTB). IDM sendiri merupakan indeks Komposit yang dibentuk berdasarkan 3 indeks, yaitu indeks ketahanan sosial, indeks ketahanan ekonomi dan indeks ketahanan ekologi atau lingkungan.

    Lombok Timur memiliki 239 desa, dimana 19 desa diantaranya merupakan desa mandiri, 129 merupakan desa maju, sebanyak 91 desa berkembang dan hebatnya memiliki zero desa tertinggal alias sudah tidak ada lagi kategori desa tertinggal.

    Lalu apa saja yang telah dilakukan Bupati Sukiman Azmy untuk memberantas desa tertinggal dari wilayahnya: Yakni, dengan mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) Pengelolaan APBDes yang berpihak pada Pelayanan Dasar dan SDGs.

    Sustainable Development Goals atau SDGs sendiri, adalah upaya terpadu mewujudkan Desa tanpa kemiskinan dan kelaparan, Desa ekonomi tumbuh merata, Desa peduli kesehatan, Desa peduli lingkungan, Desa peduli pendidikan, Desa ramah perempuan, Desa berjejaring, dan Desa tanggap budaya untuk percepatan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

    Kemudian Sukiman Azmy memastikan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten In-line dengan RPJM Desa. Selain itu, juga dilakukan pembinaan secara berjenjang terhadap desa.

    Lebih lanjut, Bupati Lotim juga tidak segan-segan memberikan reward kepada Kepala Desa (Kades) yang berprestasi. Reward tersebut, misalnya dengan memberangkatkan Umroh 25 Kades pada tahun 2019 yang berhasil membuat Peraturan Desa (Perdes) soal Penundaan Usia Perkawinan.

    Selanjutnya, pada medium 2021, sebanyak 239 desa (seluruh desa di Lotim)) sudah berhasil menetapkan Perdes Penundaan Usia Perkawinan.

    Tak hanya itu, Sukiman Azmy juga berhasil merubah seluruh Posyandu Konvensional yang ada diwilayahnya sebanyak 2.093 menjadi Posyandu Keluarga. Hal ini, mendorong Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI memberikan Apresiasi Kepada Pemda Lotim.[]

    Kabupaten Lombok Timur