Tag: Facebook

  • WhatsApp Atur Ulang Status “Last Seen”

    peloporberita.com/ – WhatsApp menyetel ulang pengaturan status “last seen” yang kini bisa disembunyikan secara default dari orang tidak dikenal.

    Artinya, saat ini orang-orang yang dapat melihat status “last seen” hanyalah mereka yang telah masuk ke dalam daftar kontak Anda.

    Sebelumnya, WhatsApp mengatur status “last seen” untuk dapat dilihat oleh semua orang secara default. Status “last seen” di WhatsApp memungkinkan kontak lain tahu kapan Anda terakhir online di aplikasi.

    Meski terlihat tidak berbahaya dan tidak memungkinkan melacak teman atau keluarga, WABetaInfo menunjukkan beberapa aplikasi pihak ketiga mengeksploitasi fitur itu.

    Aplikasi pihak ketiga dapat mengumpulkan informasi status pengguna tertentu yang memungkinkan beberapa orang mengawasi orang lain saat menggunakan WA.

    Mengaktifkan opsi ‘My Contacts’ mencegah aplikasi pihak ketiga mengumpulkan informasi status lantaran aplikasi tak menganggap itu sebagai bagian dari kontak Anda, dan karenanya tidak akan mampu melihat status Anda.

    Langkah ini, bukan satu-satunya perubahan yang dibuat WhatsApp terhadap status ‘last seen’.

    November lalu, WABetaInfo juga menemukan bahwa aplikasi perpesanan milik Meta (induk Facebook) ini juga mulai menguji sebuah opsi yang disebut “My Contacts Except”.

    Opsi ini membuat pengguna menyembunyikan status dari beberapa orang saja dalam kontaknya.

    Selain itu, WhatsApp juga berusaha mempertebal privasi pengguna dengan memperkenalkan opsi untuk membuat fitur pesan menghilangnya menjadi default. []

  • Pengungsi Rohingya Gugat Facebook US$ 150 Miliar

    peloporberita.com/ – Pengungsi Rohingya melayangkan gugatannya kepada perusahaan raksasa jejaring sosial Facebook senilai US$ 150 miliar. Gugatan ini, lantaran platform tersebut dinilai gagal membendung ujaran kebencian sehingga memperburuk kekerasan terhadap minoritas yang rentan.

    Gugatan yang dilayangkan di pengadilan California ini mengatakan, algoritme yang dimiliki Facebook telah membantu mempromosikan disinformasi dan pemikiran ekstremis yang kemudian diterjemahkan menjadi kekerasan di dunia nyata.

    Facebook dinilai seperti robot yang diprogram dengan misi tunggal untuk tumbuh. Namun menurut Rohingya, pertumbuhan Facebook dipicu oleh kebencian, perpecahan, dan kesalahan informasi, yang telah menyebabkan ratusan ribu nyawa saudara-saudari mereka melayang.

    Facebook
    Logo Facebook. (Foto: Pelopor/Wikipedia)

    Kelompok Mayoritas Muslim pun, menghadapi diskriminasi yang meluas di Myanmar, di mana mereka dihina sebagai penyelundup meski telah tinggal di negara tersebut selama beberapa generasi.

    Kampanye yang didukung militer yang menurut PBB merupakan genosida itu, membuat ratusan ribu etnis Rohingya didorong melintasi perbatasan ke Bangladesh pada tahun 2017, di mana mereka sejak saat itu tinggal di kamp-kamp pengungsian.

    Sedangkan bagi mereka yang tetap tinggal di Myanmar, tidak diizinkan memiliki kewarganegaraan dan menjadi sasaran kekerasan komunal, serta diskriminasi resmi oleh militer yang merebut kekuasaan pada Februari 2021.

    Dalam pengaduan tersebut juga disampaikan pendapat bahwa algoritme Facebook mendorong pengguna yang rentan untuk bergabung dengan kelompok yang semakin ekstrem, atau dengan kata lain menciptakan situasi terbuka untuk dieksploitasi oleh politisi dan rezim otokratis.

    Baca juga : 

    Perusahaan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat itu juga disebut gagal mencegah ujaran kebencian meski dikritik. Menurut kritikus, Facebook telah membiarkan berita hoaks berkembang biak sehingga akhirnya berita bohong itu mempengaruhi kehidupan minoritas.

    Sebelumnya, seorang mantan pegawai Facebook membocorkan situasi di perusahaan yang kini bernama Meta itu. Algoritma Facebook disebutnya membiarkan penggunanya berada dalam bahaya. Namun para eksekutif Facebook membiarkan dan memilih pertumbuhan dibanding keamanan penggunanya.

    Namun, kabarnya Facebook tidak menanggapi gugatan Rohingya. Lantaran mereka kini sedang berada di bawah tekanan di Amerika Serikat dan Eropa untuk menekan informasi palsu, terutama mengenai pemilihan umum dan virus corona. []

  • Facebook Mengubah Nama Menjadi Meta

    peloporberita.com/ | Jakarta – CEO Facebook Mark Zuckerberg telah mengumumkan bahwa Facebook berganti nama menjadi Meta. Nama baru yang menaungi induk perusahaan Facebook, WhatsApp, Instagram, yang semula bernama Facebook Inc tersebut kini berganti nama menjadi Meta.

    Perubahan nama itu diumumkan Zuckerberg dalam konferensi tahunan Connect yang digelar pada Kamis, 28 Oktober 2021 waktu Amerika Serikat atau Jumat, 29 Oktober 2021 dini hari waktu Indonesia.

    Perubahan nama itu menurut Zuckerberg dilakukan untuk mencerminkan tujuan besar yang tengah dibangun perusahaan. Diketahui, Facebook saat ini memang tengah gencar menggaungkan istilah Metaverse yang menggabungkan dunia nyata dengan virtual.

    “Untuk mencerminkan siapa kami dan apa yang kami bangun. Seiring berjalannya waktu, saya harap kami terlihat sebagai perusahaan Metaverse,” ujar Zuckerberg.

    Kendati demikian, perubahan nama ini tidak berlaku dan tidak memengaruhi nama produk media sosial yang ada di bawah Meta. Nama Facebook masih akan tetap digunakan untuk jejaring sosial besutannya, begitu pula dengan Instagram, WhatsApp, dkk.

    “Saat ini, merek kami terkait erat dengan satu produk sehingga tidak mungkin mewakili semua yang kami lakukan hari ini, apalagi di masa depan,” kata Zuckerberg.

    Selain itu, Facebook juga memastikan bahwa struktur perusahaan tidak akan berubah dan akan tetap seperti sebelumnya. Sebagai catatan, perubahan nama ini mirip dengan yang dilakukan oleh Google beberapa tahun lalu.

    Kala itu, Google melakukan restrukturisasi dengan mendirikan Alphabet sebagai perusahaan dengan kedudukan yang lebih tinggi dan menjadi induk Google serta perusahaan besar lainnya.[]

    Baca juga: Sejumlah Alasan Facebook Ganti Nama Jadi Meta 

    Baca juga: Facebook Bakal Rekrut 10.000 Pekerja untuk Kembangkan Metaverse

  • Sejumlah Alasan Facebook Ganti Nama Jadi Meta

    peloporberita.com/ | Facebook Inc resmi berubah nama menjadi Meta Platform Inc. Facebook Inc adalah perusahaan yang sudah berdiri selama 17 tahun dan menaungi beberapa media sosial populer, seperti Facebook, Instagram dan WhatsApp.

    Perubahan nama ini diumumkan langsung oleh pendiri sekaligus CEO perusahaan, Mark Zuckerberg, dalam konferensi tahunan Connect yang digelar pada Kamis (28/10/2021). Dalam sesi wawancara bersama outlet media The Verge, Zuckerberg mengungkapkan sejumlah alasan perubahan nama menjadi Meta.

    Zuckerberg menyebutkan, pergantian nama ini sebagai upaya rebranding yang sejalan dengan visi perusahaan, yaitu membangun metaverse. Istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan sebuah dunia virtual baru tempat orang dapat bermain game, bekerja dan berkomunikasi dengan orang lainnya dalam lingkungan virtual, biasanya dengan mengandalkan headset Virtual Reality (VR).

    Baca juga: Facebook Bakal Rekrut 10.000 Pekerja untuk Kembangkan Metaverse

    Menurut Zuckerberg, metaverse akan menjadi platform masa depan dan sekaligus memberikan pengalaman sosial. Bahkan, untuk membangun metaverse, Facebook sudah mengumumkan rencananya menciptakan 10.000 pekerjaan baru di Uni Eropa selama lima tahun ke depan.

    Selain itu, Zuckerberg juga ingin terlepas dari citra perusahaan jejaring sosial. Ia mengaku tidak ingin dikenal hanya sebagai perusahaan jejaring sosial. “Facebook adalah merek media sosial yang ikonik. Dan semakin kami melakukan lebih dari itu, orang-orang menganggap kami sebagai perusahaan media sosial,” katanya, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (29/10/2021).

    Dengan bergantinya nama perusahaan, Mark Zuckerberg pun mengubah informasi jabatan yang ada di halaman resmi Facebook miliknya, dari CEO Facebook menjadi Founder dan CEO Meta. Namun kewenangannya masih tetap sama, karena ia memastikan struktur perusahaan tidak akan berubah.

    Selain mengganti nama perusahaan, Zuckerberg juga memperkenalkan logo Meta yang menyerupai lambang infinite (tidak terbatas) dengan warna biru khas Facebook. []

  • Laba Twitter Q3 Menurun Drastis Setelah Bayar Gugatan

    peloporberita.com/ | Laba raksasa media sosial Twitter menurun hingga USD 537 juta atau sekitar Rp 7,62 triliun (kurs Rp 14.200), sepanjang kuartal III-2021.

    Penurunan ini dialami Twitter setelah membayar USD 809,5 juta atau setara Rp 11,5 triliun, untuk menyelesaikan gugatan yang sudah berjalan sejak lama.

    Sebelumnya pada tahun 2015, Twitter dituduh menyesatkan investor tentang jumlah pengguna aktif bulanan serta seberapa sering mereka melihat linimasa Twitter, seperti dikutip dari BBC, Kamis (28/10/2021).

    Meski demikian, pendapatan Twitter pada kuartal III-2021 berhasil tumbuh hingga 37%. Salah satunya didorong oleh keberhasilan mengatasi dampak dari perubahan privasi Apple yang menghantam rivalnya, seperti Snap dan Facebook. Sentimen itu telah mendorong saham Twitter naik hingga 3%.

    Selama kuartal tersebut, Twitter tercatat meraih untung sebesar US$ 1,14 miliar dalam pendapatan iklan.

    Dalam konferensi dengan para analis, Chief Financial Officer Twitter Ned Segal mengatakan, platform tersebut memperluas bisnis periklanan yang ditargetkan, seperti dengan memperkenalkan topik yang dapat diikuti pengguna di Twitter. []

  • Facebook Bakal Rekrut 10.000 Pekerja untuk Kembangkan Metaverse

    peloporberita.com/ – Perusahaan Raksasa Jejaring sosial Facebook, berencana mempekerjakan 10.000 karyawan di Uni Eropa selama lima tahun kedepan untuk mengembangkan metaverse.

    Metaverse yang dimaksud adalah dunia online di mana orang-orang dapat bermain game, bekerja, maupun berkomunikasi dalam lingkungan virtual.

    Facebook
    Logo Facebook. (Foto: Pelopor/Wikipedia)

    Aktivitas tersebut akan dibantu dengan perangkat virtual reality (VR) seperti dikutip dari Antara. Facebook sendiri sudah banyak berinvestasi di bidang virtual reality (VR) maupun augmented reality (AR).

    Perekrutan tenaga kerja ini, akan menjadi langkah signifikan yang diambil Facebook. Sebelumnya, pada September 2021 Facebook mengalokasikan dana US$ 50 juta untuk membangun metaverse yang telah dirintis oleh Roblox Corp dan pembuat “Fortnite” Epic Games.

    Uji coba aplikasi kerja jarak jauh virtual-reality (VR) juga sudah diluncurkan Facebook, di mana pengguna headset Oculus Quest 2 dapat mengadakan pertemuan versi avatar dari diri mereka sendiri.

    Selain itu, Facebook telah membentuk tim yang mengerjakan metaverse yang akan menjadi bagian dari Facebook Reality Labs pada bulan Juli 2021.

    “Investasi ini adalah mosi percaya pada kekuatan industri teknologi Eropa dan potensinya. Eropa sangat penting bagi Facebook,” sebut manajemen Facebook. []

  • Beberapa Cara Menghindari Kejahatan Phising

    peloporberita.com/ | Kegiatan di dunia maya saat ini semakin aktif, terutama setelah terjadi pandemi. Hal ini pun turut memicu peningkatan phising yaitu kejahatan melalui dunia maya yang dilakukan untuk mencuri akun atau data pribadi korban.

    Phising termasuk kejahatan paling populer di dunia maya. Situs berita teknologi Wired pada 2015 melaporkan bahwa hampir 91 persen serangan maya dimulai dari phising, dengan jumlah kerugian diprediksi mencapai USD 61 juta-USD 3 miliar per tahun.

    Sejauh ini, phising diketahui menggunakan dua teknik. Pertama, menggunakan malware yang disuntikkan ke dalam email. Kedua, berupa email yang berisi tautan menuju web palsu sebuah lembaga atau perusahaan, yang secara kasat mata terlihat seolah-olah resmi.

    Baca juga: Jangan Install 8 Aplikasi Ini di Ponsel Android Kamu

    Bagaimana cara menghindari phising?

    1. Selalu periksa display name dan email yang digunakan
    Jangan mudah percaya jika menerima email yang mengatasnamakan perusahaan terkenal. Periksa alamat email pengirim terlebih dahulu karena perusahaan resmi biasanya menggunakan alamat email yang legitimate.

    2. Periksa link dan gambar yang ditampilkan dengan seksama
    Ketika mengarahkan kursor ke gambar atau tulisan link, Anda akan melihat alternative text yang berisi tentang alamat yang akan diakses. Jika alternative text dan tulisan atau gambarnya tidak sesuai, maka sebaiknya Anda jangan mengklik.

    3. Waspada spelling errors
    Sejumlah perusahaan ternama seperti Apple, Facebook, Twitter dan Instagram, sering dipelesetkan oleh pelaku phising. Jika terdapat huruf yang kurang, misalnya Facebok (seharusnya facebook) atau Twiter (seharusnya twitter), maka bisa dipastikan bahwa pengirimnya adalah pelaku phising.

    4. Abaikan jika pengirim meminta informasi pribadi
    Perusahaan resmi tidak akan menanyakan informasi pribadi melalui email. Pada umumnya, mereka menanyakan hal itu lewat telpon dan setelah melalui beberapa tahapan.

    5. Email darurat palsu
    Beberapa pelaku phising seringkali mengirimkan email yang bernada ‘gawat’ dan meminta sejumlah uang dengan berbagai alasan, seperti nyawa kerabat dekat terancam, atau bahkan kondisi suatu negara sedang butuh bantuan

    6. Periksa email signature
    Sebagian besar email yang dikirim secara resmi selalu mencantumkan identitas yang jelas, seperti nama lengkap, posisi di perusahaan, alamat perusahaan, dan nomor kontak pada bagian bawah email.

    7. Hati-hati dengan file yang dikirimkan
    Pelaku phising akan memancing Anda dengan beragam tipuan, seperti voucher diskon, free trial aplikasi, video gratis, dll. Jangan mudah tergiur karena bisa saja ada malware didalamnya.

    8. Jangan percaya sepenuhnya
    Jangan mudah menyimpulkan isi pesan yang Anda terima. Sebaiknya Anda meluangkan waktu untuk mempelajari email yang diterima karena pelaku phising bisa saja sudah mengetahui kesenangan Anda melalui cookies pada browser Anda. Cookies adalah kumpulan informasi yang berisi rekam jejak dan aktivitas ketika menelusuri sebuah website. []

  • Pengawasan Diperketat, Microsoft Hentikan Layanan LinkedIn di China

    peloporberita.com/ | Microsoft menghentikan layanan LinkedIn di China, setelah tujuh tahun beroperasi di negeri tirai bambu. Keputusan ini diambil seiring dengan makin ketatnya Pemerintah China dalam mengendalikan operasional internet di negaranya.

    Berdasarkan laporan Reuters, LinkedIn menyatakan akan menggantikan platformnya pada akhir tahun ini dengan InJobs, yaitu versi yang hanya fokus pada pekerjaan. Dalam aplikasi InJobs, tidak ada umpan sosial (social feed) ataupun pilihan untuk berbagi, seperti di LinkedIn.

    “Meskipun kami telah menemukan keberhasilan dalam membantu anggota China untuk menemukan pekerjaan dan peluang ekonomi, kami belum menemukan tingkat keberhasilan yang sama dalam aspek sosial yang lebih banyak berbagi dan tetap mendapat informasi,” kata LinkedIn dalam blognya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (16/10/2021).

    Sebelumnya pada bulan Maret, LinkedIn telah menghentikan pendaftaran baru di China, sebagai upaya mematuhi Undang-Undang yang berlaku di negara itu. Dua bulan kemudian, LinkedIn termasuk di antara 105 aplikasi yang dituduh oleh regulator internet China mengumpulkan dan menggunakan informasi pribadi secara ilegal dan diperintahkan untuk melakukan perbaikan.

    Berdasarkan laporan web berita Axios, LinkedIn disebut telah memblokir profil beberapa jurnalis dan akademisi Amerika Serikat (AS) yang berisi informasi yang dianggap sensitif oleh Pemerintah China, dengan mengutip ‘konten terlarang’.

    Tidak hanya LinkedIn, jejaring media sosial barat lainnya juga mengalami nasib serupa di China, sebut saja Twitter, Facebook dan YouTube. Selain itu, Microsoft juga memiliki Bing, satu-satunya mesin pencari asing utama yang dapat diakses dari dalam yang disebut Great Firewall China, yang hasil pencariannya pada topik sensitif disensor. []

  • WhatsApp, Facebook, & Instagram tumbang 6 Jam Mark Zuckerberg Rugi Rp 85 Triliun

    peloporberita.com/ | Jakarta – Facebook, WhatsApp, dan Instagram kompak tumbang sekitar 6 jam pada Senin, malam. Akibatnya, Bos Facebok, Mark Zuckerberg mengalami kerugian hingga 5,9 miliar dollar Amerika atau sekitar Rp85 triliun.

    Saham Facebook yang diperdagangkan pada hari Senin anjlok hingga 4,8 persen. Ini, terjadi setelah aplikasi dan platform berbagi foto Instagram down untuk ribuan pengguna.

    Facebook
    Logo Facebook. (Foto: Pelopor/Wikipedia)

    Kini kekayaan Zuckerberg menjadi 117 miliar dollar amerika dan menjadi orang terkaya keenam di dunia. Ini bukan kali pertamanya Facebook tumbang, pada 2019, jejaring sosial itu juga pernah down selama 14 jam.

    Terkait tumbangnya Facebook, Instagram, dan WhatsApp pada Senin malam Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Co-founder dan CEO Facebook Mark Zuckerberg mrnyampaikan permintaan maaf.

    Permintaan maaf Mark Zuckerberg diunggahan pada akun Facebook resminya Selasa, 5 Oktober 2021 WIB. Selain meminta maaf, ia juga memberitahukan bahwa semua layanan sudah pulih.[]

  • Kemkominfo: PPKM Diperpanjang hingga Hari Kiamat, Disinformasi

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kominikasi dan Informatika (Kemkominfo) menegaskan bahwa sebuah unggahan foto siaran televisi nasional yang menayangkan pengumuman Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diperpanjang hingga hari kiamat adalah berita tidak benar atau disinfomasi.

    Penegasan Kemkominfo ini, didapat berdasarkan keterangan di laman resminya yang dilansir dari liputan6. Kabar tersebut tidak benar sebab PPKM level 4 diperpanjang hingga 2 Agustus 2021. Adapun foto yang tersebar di berbagai media sosial dinyatakan sebagai foto yang telah dimanipulasi.

    Kabar tentang PPKM diperpanjang hingga hari kiamat, mulanya beredar di media sosial yang disebarkan oleh akun Facebook Agust Rafiudin pada 26 Juli 2021 Akun Facebook tersebut mengunggah foto siaran televisi yang menayangkan pengumanan PPKM diperpanjang oleh Presiden Jokowi.

    Kenyataannya, ditemui gambar serupa yang diunggah channel YouTube medcom id. Namun, tidak ada tulisan atau keterangan bahwa PPKM diperpanjang hingga hari kiamat.

    Gambar asli sebelum diedit. (Foto:Pelopor.id/Youtube Medcom.id)

    Adapun dalam Foto yang diunggah akun Facebook Agus Rafiudin, terdapat tulisan sebagai berikut:

    BREAKING NEWS, PPKM DILANJUTKAN HINGGA HARI KIAMAT” “Lanjutkan Pak 👍,” tulis akun Facebook Agust Rafiudin. []