Tag: Facebook

  • Mark Zuckerberg Rilis Facebook Reels Secara Global Hari ini

    peloporberita.com/ – Meta Platform akhirnya memperluas ketersediaan fitur video pendek Reels di Facebook. Kabar ini disampaikan langsung oleh CEO Meta Mark Zuckerberg dalam sebuah unggahan di akun Facebook pribadinya.

    Fitur Facebook Reels, sebelum dirilis secara global telah terlebih dulu dirilis untuk pengguna Facebook di Amerika Serikat pada akhir September 2021. Fitur ini, pertama kali dirilis di Instagram pada 2020.

    Meta juga menambahkan tools editing serta fitur monetisasi konten baru di Facebook Reels. Facebook Reels sudah tersedia untuk pengguna Facebook secara global di 150 negara mulai hari ini, termasuk Indonesia.

    Dengan fitur editing tersebut, pengguna Reel Facebook bisa me-remix video orang lain untuk berduet dengan mereka dan mengunggah klip berdurasi hingga 60 detik, seperti Reels di Instagram. Pengguna juga dapat menyimpannya sebagai draft.

    The Verge pada Rabu (23/2/2022) melaporkan, bahwa Meta akan menambahkan alat kliping video baru dalam beberapa bulan mendatang. Alat kliping ini, nantinya akan memudahkan pembuat konten yang menerbitkan video rekaman langsung atau berdurasi panjang untuk menguji format berbeda. []

  • Mark Zuckerberg Beri Karyawan Facebook Julukan Baru

    peloporberita.com/ – CEO Meta Mark Zuckerberg memberikan sebutan baru bagi karyawan Facebook. Jika sebelumnya mereka dikenal dengan julukan ‘Facebookers’, kini berubah menjadi ‘Metamates’ seiring dengan perubahan perusahaan menjadi ‘Meta”

    Urutan kepentingan di perusahaan tersebut juga turut diubah dimana karyawan harus mengutamakan perusahaan (Meta), lalu rekan kerja (metamates), dan kemudian individu (me).

    “Ini tentang rasa tanggung jawab yang kita miliki untuk kesuksesan kolektif kita dan satu sama lain sebagai rekan satu tim,” tulis Zuckerberg di halaman Facebook-nya dilansir dari The New York Post, Sabtu (19/2/2022).

    Zuckerberg juga menjelaskan, bila kini slogan perusahaan adalah ‘Move fast together’ dari sebelumnya ‘Move fast and break things’ sebelum diganti menjadi ‘Move fast’.

    “Kini adalah waktu yang tepat untuk memperbarui nilai dan budaya sistem operasional kami,” ungkapnya.

    Terkait hal ini, Chief Technology Officer (CTO) Facebook Andrew Bosworth menjelaskan, ucapan ‘Meta. Metamates. Me’ merujuk pada istilah angkatan laut yang juga digunakan oleh Instagram. Adapun istilah yang digunakan Instagram adalah ‘Ship, Shipmates, Self.’

    Bosworth dalam cuitannya mengatakan, istilah metamates diciptakan oleh penulis Douglas Hofstadter setelah seorang karyawan menghubunginya untuk mencari ide. []

  • Bitcoin dan Ethereum Menguat Seiring Para Spekulan Menunggu Data Inflasi AS

    peloporberita.com/ | Mata uang kripto berkapitalisasi pasar utama, seperti Bitcoin dan Ethereum, mengalami penguatan pada perdagangan hari ini, Selasa (08/02/2022).

    Dalam keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, hal itu salah satunya didorong oleh likuidasi beberapa posisi short yang telah terakumulasi dalam tren turun tiga bulan terakhir di mata uang virtual. Selain itu, para spekulan juga menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis akhir pekan ini.

    Pulihnya nilai mata uang kripto terjadi di tengah anjloknya harga saham induk Facebook, yaitu Meta Platform, yang masih terjadi hingga penutupan perdagangan Senin waktu AS.

    Berdasarkan laporan manajer aset digital CoinShares, pasar crypto telah memasuki mode pemulihan dalam beberapa sesi terakhir, memposting arus masuk institusional sebesar USD 85 juta minggu lalu, menandai minggu ketiga arus masuk sebesar USD 133 juta.

    Sementara itu, menurut perusahaan penyedia data Blockchain, Glassnode, grafik Bitcoin menunjukkan adanya posisi short ketika harganya mengalami tekanan pada pekan lalu, cenderung ke arah likuidasi sisi pendek.

    Dalam perdagangan sore ini pukul 15.00 WIB, Bitcoin menguat 4,32 persen di level USD 44.589.60, dengan volume transaksi sebesar USD 31,52 miliar. Sedangkan untuk perdagangan besok, Bitcoin diprediksi dibuka fluktuatif, namun menguat di kisaran USD 44.500.50 – USD 46.900.50. []

  • Waduh, Saham Meta Platforms Anjlok 20 Persen

    peloporberita.com/ – Harga saham Meta Platforms Inc, Perusahaan induk Facebook anjlok sebesar 20 persen setelah mereka melaporkan pendapatan yang mengecewakan.

    Kinerja yang buruk ini, disebut terkait keputusan Apple untuk melakukan perubahan aturan privasi operating systemnya, iOS.

    Meta Platform
    Ilustrasi Meta Platform

    Chief Financial Officer (CFO) Meta Dave Wehner mengatakan, dampak dari perubahan privasi Apple bisa mempengaruhi bisnis Meta sekitar US$ 10 miliar untuk tahun 2022.

    Pasalnya, perubahan tersebut akan mencegah aplikasi melacak aktivitas online untuk iklan. Ini juga mempersulit pengiklan yang mengandalkan data untuk mengembangkan produk baru dan mengetahui pasar.

    Total pendapatan Meta memang naik menjadi US$ 33,67 miliar pada kuartal keempat 2021 yang mayoritas disumbang dari penjualan iklan, dari US$ 28,07 miliar pada 2020. Tetapi angka tersebut lebih rendah dari proyeksi para analis sebesar US$ 33,40 miliar.

    Setelah laporan itu diumumkan, saham Facebook langsung menukik tajam dan membuat perusahaan yang digawangi Mark Zuckerberg itu harus kehilangan US$ 200 miliar dari nilai pasar.

    Selain itu, Meta juga menuding penurunan terjadi akibat masalah ekonomi makro seperti gangguan rantai pasokan juga persaingan ketat dalam periklanan dengan TikTok dan YouTube. []

  • Facebook Setop Proyek Mata Uang Digital Libra?

    peloporberita.com/ – Induk usaha Facebook, Meta Platform Incorporated, akan menghentikan proyek penerbitan mata uang digitalnya, Libra yang kemudian berubah nama menjadi Diem.

    Kondisi itu tercermin melalui kesepakatan penjualan aset teknologi pembayarannya tersebut, kepada Bank Silvergate Capital Corporation yang berbasis di California, dengan nilai sekitar 200 juta dolar Amerika.

    Facebook
    Logo Facebook. (Foto: Pelopor/Wikipedia)

    Tercatat, proyek mata uang digital Libra di rilis perdana pada tahun 2019 lalu, namun pada perjalanannya berulang kali tersandung masalah dengan regulator keuangan Amerika Serikat.

    Di awal keberadaan proyek ini, Facebook membentuk Libra Association, sebuah konsorsium berisi 27 anggota dari perusahaan penyedia layanan digital, termasuk PayPal Holdings, Visa , dan Stripe Incorporated.

    Libra Association awalnya ingin merilis mata uang kripto (cryptocurrency) yang nilainya berdasarkan beberapa mata uang. Nantinya, Libra dapat digunakan untuk membeli barang atau mengirim uang ke sesama pengguna, tanpa dipungut biaya.

    Libra, juga bisa ditukar ke mata uang asli secara online atau melalui toko-toko offline. Pengguna bisa menyimpannya ke dompet digital yang bakal dibuat sendiri oleh Facebook bernama “Calibra”. Layanan ini akan tersedia di WhatsApp, Messenger, dan Facebook.

    Namun, hal ini ternyata mengundang kekhawatiran bank-bank sentral dan para regulator. Proyek tersebut dikhawatirkan membuat Facebook memonopoli ekonomi. []

  • Serangan Omicron Bikin Meta Platform Tunda Pembukaan Kantor di AS

    peloporberita.com/ – Induk Facebook, Meta Platform kembali menunda jadwal pembukaan kembali kantor Amerika dan meminta karyawannya melakukan vaksinasi booster Covid-19 di tengah lonjakan kasus Omicron.

    Tanggal pembukaan kembali yang semula dijadwalkan pada 31 Januari 2022 ditunda hingga 28 Maret 2022. Meta mengatakan, semua karyawan yang ingin bekerja di kantor harus menunjukkan bukti telah mendapat vaksinasi booster.

    Karyawan diberi waktu hingga 14 Maret untuk memutuskan apakah akan kembali bekerja di kantor, bekerja dari jarak jauh secara penuh, atau bekerja dari rumah untuk sementara.

    “Karyawan yang tidak mengambil tindakan dapat menghadapi tindakan disipliner, termasuk pemutusan hubungan kerja. Jelas, ini akan menjadi pilihan terakhir,” tutur juru bicara Meta melalui email yang dikutip dari Reuters.

    Sejatinya, Perusahaan Amerika telah menggandakan mandat vaksinasi dan menunda rencana back-to-office akibat serangan Omicron yang meningkatkan rekor infeksi ke seluruh negeri.

    Sebelumnya, pada pekan lalu, Citigroup juga mengatakan bahwa staf mereka di AS yang belum divaksinasi Covid-19 pada 14 Januari 2022 akan ditempatkan pada cuti yang tidak dibayar dan dipecat pada akhir bulan. Sedangkan di bulan Desember 2021, perusahaan induk Facebook, Instagram dan WhatsApp telah menawarkan opsi untuk menunda kembali ke kantor. []

  • Trump Dikabarkan Rilis Aplikasi Media Sosialnya pada Februari 2022

    peloporberita.com/ | Presiden Amerika Serikat (AS) ke-45 Donald Trump berencana meluncurkan aplikasi media sosial Truth Social pada 21 Februari 2022, menurut daftar App Store milik Apple Inc.

    Berdasarkan foto demo, aplikasi ini terlihat mirip dengan Twitter yang menawarkan fitur untuk mengikuti orang lain dan topik yang sedang tren. Kemudian pesannya yang setara dengan cuitan atau tweet, akan dijuluki dengan sebutan kebenaran atau truth.

    Trump meluncurkan aplikasi media sosialnya sendiri setelah mendapat blokir dari Facebook dan Twitter sejak tahun lalu. Pasalnya, Trump dianggap mendorong para pendukungnya berpartisipasi dalam serangan 6 Januari di Capitol AS, dengan klaim tidak berdasar tentang penipuan yang meluas dalam pemilihan presiden 2020.

    Peluncuran ini diprediksi menjadi yang pertama dari tiga tahap pengembangan TMTG. Menurut situs resmi perusahaan, yang kedua adalah layanan video-on-demand berlangganan yang disebut TMTG+ dengan hiburan, podcast dan berita.

    TRUTH Social yang merupakan alternatif Trump Media & Technology Group (TMTG) dan Apple tidak berkomentar mengenai peluncuran ini. Namun sumber yang mengetahui masalah tersebut mengkonfirmasi bahwa 21 Februari adalah tanggal peluncuran aplikasi media social yang direncanakan. []

    Baca juga: Perusahaan Media Sosial Trump Dapat Investasi USD 1 Miliar

  • Gagal Hapus Konten Ilegal, Rusia Denda Google dan Meta

    peloporberita.com/ – Pengadilan Moskow, Rusia, menjatuhkan denda kepada Google dan Meta Platforms Inc lantaran telah melakukan kegagalan berulang dalam menghapus konten yang dianggap ilegal di negara tersebut.

    Dilansir dari Reuters, Sabtu, (25/12/2021) Google di denda 7,2 miliar rubel, sedangkan Meta Platforms, yang sebelumnya bernama Facebook Inc, di denda 2 miliar rubel.

    Regulator komunikasi Rusia, Roskomnadzor memaparkan, Google gagal menghapus 2.600 konten ilegal, sedangkan Facebook dan Instagram gagal menghapus dua ribuan konten yang melanggar aturan di negara tersebut.

    Terkait hal ini, Google menyatakan akan mempelajari putusan pengadilan sebelum mengambil langkah selanjutnya, sementara Meta Platforms tidak berkomentar.

    Besaran denda yang dikenakan, dihitung dengan persentase pendapatan perusahaan masing-masing di Rusia. Meski Pengadilan tidak merinci berapa persen pendapatannya, berdasarkan penghitungan Reuters, besaran denda kepada Googlse setara dengan 8 persen.

    Seperti diketahui, sebelumnya Rusia telah meminta platform media sosial untuk menghapus konten yang berisi penyalahgunaan obat-obatan, hiburan yang berbahaya, senjata dan peledak rakitan, dan kelompok yang menyatakan sebagai teroris atau ekstremis.

    Selain itu, Rusia juga meminta 13 perusahaan teknologi asing yang kebanyakan asal Amerika Serikat, untuk memiliki perwakilan resmi di sana pada 1 Januari 2022. Jika tidak, mereka akan melarang perusahaan tersebut.[]

  • Kebijakan Xi Jinping Buat Tencent Terdepak dari Daftar 10 Perusahaan Teknologi Terbesar

    peloporberita.com/ | Tencent Holdings dan Alibaba Group Holding keluar dari daftar 10 perusahaan teratas global berdasarkan kapitalisasi pasar. Beberapa penyebab hal itu adalah kebijakan keras Presiden Xi Jinping terhadap perusahaan teknologi dan juga ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).

    Seperti diketahui, Pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah meningkatkan tekanan pada bisnis Tiongkok. Ia mengumumkan sanksi terhadap pembuat pesawat tak berawak DJI dan lusinan entitas Tiongkok lainnya, yang dituduh mengambil bagian dalam pelanggaran hak asasi manusia atau pengembangan militer.

    Padahal dibulan Februari lalu, Tencent sempat berada di urutan keenam, sebelum kapitalisasi pasarnya anjlok lebih dari 40 persen, berdasarkan data Quick FactSet. Kini, Tencent harus menerima nasib berada di peringkat ke-11, seperti dilansir dari Nikkei Asia.

    Daftar terbaru itu kini didominasi oleh raksasa teknologi AS, seperti Apple di posisi pertama, diikuti Microsoft, dan Alphabet yang merupakan induk usaha Google. Kemudian Saudi Aramco berada di urutan keempat, disusul Amazon.com, Tesla dan Meta yang merupakan operator Facebook Group.

    Sementara itu, peringkat delapan diduduki oleh perancang chip Nvidia dan Berkshire Hathaway milik Warren Buffet berada di urutan ke-9. Hal ini membuat Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. sebagai perusahaan Asia paling berharga di dunia pada posisi ke-10. []

    Baca juga: China Denda Perusahaan Teknologi Hingga Miliaran Rupiah

  • Menyerah di Bisnis Iklan, AT&T Jual Xandr ke Microsoft

    peloporberita.com/ | Perusahaan telekomunikasi, AT&T Inc.,  sepakat menjual divisi Xandr miliknya ke Microsoft Corp., dengan nilai sekitar USD 1 miliar.

    AT&T memang telah mencari pembeli Xandr selama lebih dari setahun, setelah menyerah pada mimpinya menjadi pemain utama dalam iklan online, area yang telah didominasi oleh perusahaan teknologi seperti Google dan Facebook.

    Penjualan ini juga sebagai bagian dari perombakan portofolio bisnis, setelah AT&T mengalihkan operasional DirecTV ke usaha patungan dengan TPG. Kemudian, unit WarnerMedia miliknya dijadwalkan bergabung dengan Discovery Inc. dan menjadi perusahaan independen baru.

    “Penjualan Xandr tunduk pada tinjauan peraturan,” ujar pihak AT&T dilansir dari Bloomberg, Rabu (22/12/2021). Transaksi ini memungkinkan pelanggan di properti Microsoft, seperti MSN, mendapat akses ke pasar Xandr untuk iklan online otomatis.

    Xandr sendiri dibentuk pada 2018 dari bisnis iklan AT&T, termasuk AppNexus dan AdWorks. Saat itu, mereka berharap bisnis iklannya akan bernilai miliaran dolar.

    Namun, bisnis periklanan digital telah terguncang lantaran Apple dan Google berencana menghapus cookie pelacakan, sehingga mempersulit pemasar mengikuti aktivitas online pengguna dan menyesuaikan iklan dengan mereka. []