Kategori: Sehat

  • Perhatian! Aktivitas ini Bisa Picu Ambeien

    Jakarta – Ambeien atau Wasir adalah suatu kondisi terjadinya pelebaran pembuluh darah vena pada rektum bagian bawah (ambeien internal) atau di bawah kulit yang mengelilingi anus (ambeien eksternal). Gangguan ini, kerap terjadi di usia 50 tahun ke atas.

    Tetapi, justru insidensi tertinggi penderitanya malah terjadi pada umur 20-50 tahun. Selain itu, teori lain dari kondisi ambeien atau Wasir adalah terjadinya kelainan pada katup vena, adanya hiperplasia vaskuler, dan degenerasi jaringan penyokong pada sekitar dinding anus.

    Adapun aktivitas yang bisa memicu terjadinya penyakit ambeien antara lain:
    1. Mengejan keras saat buang air besar
    2. Terlalu lama duduk
    3. Mengangkat beban yang terlalu berat
    4. Kurang konsumsi serat

    Pemicu diatas, menyebabkan gangguan backflow sehingga pembuluh darah di anus mengalami pembengkakan. Sehingga terjadi penurunan fungsi menutup dari katup vena, pelebaran dan menonjol, prolaps, dan menimbulkan pendarahan.

    Kehamilan, juga sering dikaitkan dengan penyebab ambeien. Dalam hal ini, rahim yang membesar dapat menekan pembuluh darah. Demikian juga pada ibu hamil yang mengejan saat proses melahirkan.

    Studi terbaru menunjukkan, pasien dengan ambeien cenderung memiliki otot polos saluran anus yang lebih kencang bahkan ketika tidak mengejan. Tapi, sembelit memperparah kondisi ini, lantaran kondisi mengejan saat buang air besar meningkatkan tekanan di saluran anus dan mendorong wasir melawan otot sfingter.

    [irp]

    Akhirnya, jaringan ikat yang menopang dan menahan wasir melemah seiring bertambahnya usia, yang selanjutnya menyebabkan wasir menonjol dan timbul prolaps (kondisi ketika rahim turun hingga menonjol keluar vagina).

    Dalam pemeriksaan ambeien secara fisik, dokter akan memeriksa area anus guna mengecek apakah ada pembengkakan atau benjolan, kebocoran tinja atau lendir, dan iritasi kulit atau tanda perdarahan.

    Selain itu, dokter juga mungkin akan melakukan prosedur anaskopi, yaitu memeriksa saluran anus dengan alat bernama anoskop, tabung plastik pendek yang dimasukkan ke dalam anus hingga rektum. Saat menjalani prosedur ini biasanya pasien tidak membutuhkan bius.

    [irp]

    Adapun kondisi ambeien yang masih tahap awal masih bisa sembuh dengan sendirinya. Penyembuhannya bisa dipercepat dengan beberapa cara seperti berikut:

    1. Memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat
    2. Minum air putih dengan cukup setiap hari
    3. Duduk di baskom/bath tub yang berisi air hangat selama +/- 10 menit beberapa kali dalam sehari
    4. Menjaga area anus tetap bersih
    5. Rutin berolahraga
    6. Hindari menggunakan kertas pembersih toilet kering (Gunakan handuk kecil lembab atau kertas pembersih toilet basah tanpa kandungan parfum atau alkohol)
    7. Kompres dingin anus menggunakan kantong es guna mengurangi pembengkakan.

    Ambeien yang telah terdeteksi sejak dini, dapat diatasi dengan perubahan pola hidup dan pola makan. Selain itu, beberapa obat maupun salep dapat diberikan untuk mengurangi gejala-gejala yang muncul pada ambeien.

    Namun, untuk menghilangkan benjolan yang muncul akibat ambeien, Anda perlu menjalani prosedur medis, baik secara operasi maupun tidak. []

    [irp]

  • One Health, Konsep Baru Penyakit Hewan Pindah ke Manusia

    Jakarta – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, One Health menjadi salah satu upaya mencegah terjadinya outbreak di masa mendatang.

    “One Health menjadi salah satu perhatian kita semua supaya tidak terjadi outbreak di masa datang dan tidak menjadi penyakit baru di masa yang akan datang,” tuturnya pada konferensi pers usai Side Event One Health di Lombok, Rabu (08/06/2022).

    One Health, adalah salah satu konsep baru bagaimana penyakit pada hewan berpindah ke manusia. oleh sebab itu, Wamenkes menegaskan bahwa One Health bukan mengatasi penyakit yang sebelumnya ada dalam manusia, tetapi ada dalam hewan yang pindah ke manusia.

    “Untuk itu kita terus berbenah diri, melakukan evaluasi, dan melakukan implementasi untuk membuat one health ini menjadi isu yang penting di tiap-tiap negara, terutama negara-negara yang kaya dengan keanekaragaman hewani dan hayati seperti Indonesia,” ungkap dr. Dante.

    Sementara tantangan dalam implementasi one health adalah kolaborasi dan finansial. Menurut Wamenkes, kolaborasi penting supaya lintas departemen dan lembaga lebih memperhatikan one health. Sehingga one health, menjadi isu prioritas di beberapa tempat yang memang menunjukkan fluktuasi peningkatan kasus tinggi yang disebabkan oleh hewan.

    Terkait masalah finansial, dr. Dante menjelaskan saat ini hal tersebut masih menjadi pembahasan di beberapa tempat atau pertemuan.

    “Jadi memang ini harus dikolaborasikan untuk one health,” tegas dr. Dante.

    [irp]

    Namun yang perlu diperhatikan, lanjutnya, adalah penularan penyakit dari hewan liar ke hewan yang ada di pemukiman manusia. Hal ini, menjadi bahaya ketika menular ke manusia. Yang paling penting menurut Wamenkes, adalah penguatan surveilans. Sistem surveilans untuk penyakit-penyakit yang berasal dari hewan ini menjadi salah satu indikator kuat yang harus diperbaiki.

    “Kalau nanti di tingkat pusat sudah teridentifikasi penyakit berdasarkan surveilans yang kuat, maka kebijakan one health bisa diimplementasikan ke tingkat desa,” tandasnya. []

    [irp]

  • Segudang Manfaat Ikan Lele yang Perlu Kamu Ketahui

    Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan ikan lele. Sebab, selain harganya yang murah dan mudah ditemui, komoditas air tawar ini memiliki gizi yang tinggi dan bermanfaat untuk kelancaran peredaran darah, sistem integumen (kulit, rambut, kuku), sistem reproduksi, sistem saraf dan otak, kekuatan tulang, sistem ekskresi (karena keseimbangan asam dan basa) serta kekebalan tubuh.

    Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dalam 100 gram ikan lele mengandung protein (18 gr), lemak (2,9 gr), Natrium (50 mg), Vit. B12 (121% dari Nilai Harian), Selenium (26% dari Nilai Harian), Fosfor (24% dari Nilai Harian), dan Tiamin (15% dari Nilai Harian).

    “Harganya murah tapi tinggi gizi, jadi tidak perlu gengsi makan lele karena ini ikan yang menyehatkan,” tutur Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Artati Widiarti berdasarkan keterangan, Selasa (07/06/2022).

    Artati menyampaikan fakta dan data bahwa masyarakat di Jawa Timur, khususnya Mojokerto dan Madiun, memiliki preferensi yang tinggi dalam mengkonsumsi ikan lele. Hasilnya, Kota Mojokerto sudah berhasil menurunkan angka stunting menjadi sebesar 6,9% berdasarkan hasil riset kesehatan daerah 2021. Sama halnya Madiun yang berhasil menurunkan angka stunting menjadi sebesar 12,4%.

    “Dalam rangka menjaga tren ini, kita ingatkan dan terus mengajak masyarakat untuk bangga mengkonsumsi ikan lele,” ungkapnya.

    Hal serupa disampaikan Direktur Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen PDSPKP Widya Rusyanto mengungkapkan bahwa KKP melalui Gemarikan membagikan 1.000 paket ikan olahan lele di dua wilayah tersebut beberapa waktu lalu.

    Segudang Manfaat Ikan Lele yang Perlu Kamu Ketahui

    Produk-produk tersebut, berasal dari UMKM setempat guna menumbuhkan minat masyarakat terhadap olahan ikan lele sekaligus mengedukasi bahwa menikmati ikan lele tidak harus dilakukan dengan cara konvensional seperti menggoreng atau dibakar.

    “Ada banyak produk olahan lele. Melalui Gemarikan, kami ingin menunjukkan ragam produk tersebut. Bahkan lele sekarang sudah bisa dijadikan camilan,” tegas Rusyanto.

    ia berharap, dengan menikmati olahan lele, masyarakat semakin bangga dengan UMKM lokal. Dengan begitu roda ekonomi masyarakat perikanan tetap berputar dan anak-anak semakin doyan makan ikan.

    [irp]

    “Di tiap Safari Gemarikan, kita sampaikan ke ibu-ibu muda, ibu hamil, atau perempuan baru menikah dan anak-anak kalau makan ikan itu bisa dengan banyak cara. Ngemil olahan ikan misalnya,” tandas Rusyanto.

    KKP sendiri terus menggaungkan Gemarikan ke sejumlah daerah di Tanah Air. Sepanjang April sampai Mei 2022, total 15.000 paket Gemarikan telah dibagikan ke 28 kabupaten/kota di 16 provinsi. Gemarikan sendiri merupakan kampanye berkelanjutan untuk mengajak masyarakat makan ikan sekaligus #BanggaBuatanIndonesia.

    Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengingatkan pentingnya makan ikan. Sebagai pangan kaya protein dan omega 3, ikan berperan penting untuk meningkatkan kecerdasan dan imunitas anak. []

    [irp]

  • Jubir Kemenkes Ungkap 6 Dugaan Penyebab Hepatitis Akut

    Jakarta – Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, Mohammad Syahril mengungkapkan 6 dugaan penyebab kasus hepatitis akut. Dugaan penyebab hepatitis akut itu berdasarkan data UK Health Security Agency, 19 Mei 2022 antara lain :

    1. Adenovirus biasa
    2. Adenovirus varian baru
    3. Sindrom post-infeksi SARS-CoV-2
    4. Paparan obat, lingkungan atau toksin
    5. Patogen baru
    6. Varian baru SARS-CoV-2.

    “Ini hipotesis-hipotesis, atau kemungkinan-kemungkinan, atau dugaan-dugaan sebagai penyebab hepatitis akut,” tutur Syahril pada konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (24/05/2022).

    Syahril juga menjelaskan, hipotesis tersebut terjadi di Inggris terutama dan Amerika. Sementara kondisi di Indonesia, tinggal menunggu informasi terbaru hasil penelitian dugaan penyebab hepatitis akut tersebut.

    Hepatitis Akut

    “Nanti kita ikuti saja karena ini baru hipotesis, kita akan mengarah ke 6 hipotesis itu yang menjadi dugaan kuat oleh para ahli atau para ilmuwan,” ungkapnya.

    Adapun per tanggal 23 Mei 2022 pukul 16.00 WIB, situasi nasional hepatitis di Indonesia kasus kumulatif dugaan hepatitis akut sebanyak 35 kasus. 19 kasus di antaranya discarded, dan ada 16 kasus probable serta pending classification. 16 kasus itu, tersebar di 10 provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Barat, Banten, DIY, dan Sulawesi Selatan. []

    [irp]

  • Meski Belum Ada Laporan Kasus Cacar Monyet di Indonesia, Kemenkes Tetap Waspada

    Jakarta – Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Mohammad Syahril mengatakan, bahwa hingga kini belum ada laporan kasus cacar monyet (monkeypox) di Indonesia. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan sejumlah kewaspadaan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tersebut di Indonesia.

    “Hingga saat ini belum ada kasus (cacar monyet) yang dilaporkan dari Indonesia,” tuturnya pada konferensi pers secara virtual di Jakarta, Selasa (24/05/2022).

    Kewaspadaan yang dilakukan Kemenkes yakni dengan tetap melakukan pembaharuan situasi dan frekuensi question (FAQ) terkait monkeypox yang dapat diunduh melalui https://infeksiemerging.kemkes.go.id/.

    Mohammad Syahril juga menyampaikan, selain pembaharuan situasi, Kemenkes juga menyiapkan surat edaran untuk meningkatkan kewaspadaan di setiap wilayah melalui dinas kesehatan, kantor kesehatan pelabuhan, dan rumah sakit.

    Revisi pedoman pencegahan dan pengendalian cacar monyet menurut Syahril, dilakukan untuk menyesuaikan situasi dan informasi baru dari WHO, khususnya mengenai surveilans, tatalaksana klinis, komunikasi risiko, dan pengelolaan laboratorium.

    Mohammad Syahril menjelaskan, cacar monyet disebabkan oleh virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis. Virus tersebut, ditemukan pertama kali pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970.

    [irp]

    Penularannya, melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus. “Penularan dapat melalui darah, air liur, cairan tubuh, Lesi kulit atau cairan pada cacar, kemudian droplet pernapasan,” ungkap Syahril.

    Adapun masa inkubasi cacar monyet biasanya terjadi pada 6 sampai 16 hari tetapi dapat mencapai 5 sampai 21 hari. Fase awal gejala yang terjadi pada 1 sampai 3 hari yaitu demam tinggi, sakit kepala hebat, limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan lemas.

    Pada fase erupsi atau fase paling infeksius terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Secara bertahap mulai dari bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule), kemudian mengeras atau keropeng lalu rontok.

    Cacar Monyet
    Ilustrasi Cacar Monyet. (Foto:Pelopor.id/Padtirto)

    “Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai periode lesi tersebut menghilang dan rontok,” jelas Syahril.

    Ia mengimbau kepada masyarakat, jika mengalami gejala demam dan ruam harap memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat. Selain itu, masyarakat juga diimbau mematuhi protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan, mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

    Organisasi Kesehatan dunia WHO saat ini, telah menetapkan cacar monyet menjadi penyakit yang memerlukan perhatian masyarakat global. Sebab sebagian besar kasus dilaporkan dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemis.

    “Sebagian kasus berhubungan dengan adanya keikutsertaan pada pertemuan besar yang dapat meningkatkan risiko kontak baik melalui lesi, cairan tubuh, droplet, dan benda yang terkontaminasi,” tegas Syahril. []

    [irp]

  • Kemenkes Temukan Dugaan 18 Orang Terjangkit Hepatitis Akut

    Jakarta – Kementerian Kesehatan melaporkan, menemukan dugaan 18 orang terjangkit kasus Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya. Kasus tersebut, berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan di DKI Jakarta dengan jumlah paling banyak yakni 12 kasus. Adapun status dari 18 kasus tersebut adalah sebagai berikut:

    • 9 kasus masuk status pending classification
    • 7 kasus berstatus discarded
    • 1 Kasus dalam proses verifikasi
    • 1 Kasus berstatus probable

    Dalam 7 kasus yang berstatus discarded, 1 orang positif Hepatitis A, 1 orang positif Hepatitis B, 1 orang positif Tifoid, 2 orang demam berdarah dengue dan 2 orang lainnya berusia lebih dari 16 tahun. Selain itu, berdasrakan hasil investigasi kontak tidak ditemukan adanya penularan langsung dari manusia ke manusia.

    “7 dari 18 pasien diduga Hepatitis Akut dinyatakan meninggal, namun saat ini masih belum dipastikan apakah meninggal karena penyakit Hipertensi Akut atau ada faktor lainnya,” tutur Juru Bicara Kementerian Kesehatan sekaligus Direktur Utama RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Mohammad Syahril dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (13/05/2022).

    Mohammad Syahril menjelaskan, pasien yang diduga Hepatitis Akut ini memiliki rentang usia 0-20 tahun dengan perincian sebagai berikut:

    • 5-9 tahun 6 orang
    • 0-4 tahun 4 orang
    • 10-14 tahun 4 orang
    • Diatas 15-20 tahun 4 orang

    Adapun gejala yang ditemukan pada pasien dugaan Hepatitis Akut ini adalah:

    • Demam
    • Mual
    • Muntah
    • Hilang nafsu makan
    • Diare akut
    • Lemah
    • Nyeri bagian perut
    • Nyeri pada otot dan sendi
    • Kuning di mata dan kulit
    • Gatal-gatal
    • Urine seperti air teh

    “Meski gejala yang ditemukan mengarah pada Hepatitis Akut namun belum bisa dipastikan pasien menderita Hepatitis Akut, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut,” tegas Mohammad Syahril.

    Kementerian Kesehatan bersama pihak terkait pun terus melakukan upaya investigasi dengan melakukan analisis pathogen menggunakan Whole Genome Sequencing (WGS) maupun penyelidikan epidemiologi lebih lanjut untuk memastikan penyebab dari kejadian Hepatitis Akut ini. []

    [irp]

  • Menkes: Imunisasi Anak Akan Tersimpan di Aplikasi PeduliLindungi

    Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bakal mendigitalisasi data imunisasi anak di Indonesia. Nantinya, sistem pendataan imunisasi anak, tidak lagi dilakukan manual melainkan langsung tersimpan di aplikasi PeduliLindungi seperti vaksinasi Covid-19.

    “Terkait dengan imunisasi, kami akan melakukan digitalisasi penuh, sehingga semua anak-anak yang nanti kita lakukan imunisasi akan terekam individunya,” tutur Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan pers yang diakses di kanal YouTube Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jumat (13/05/2022).

    Menurutnya, digitalisasi data imunisasi ini akan memudahkan orang tua untuk mengakses data imunisasi anak setiap saat. Bahkan, sampai belasan tahun ke depan tanpa perlu khawatir hilang, tercecer ataupun rusak, seperti kartu atau buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang selama ini digunakan untuk mencatat data imunisasi anak.

    “Setiap anak akan memiliki sertifikat elektronik yang disimpan secara digital, jadi kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, baik 15 tahun lagi atau 20 tahun lagi, data itu tetap tersimpan dengan aman di Kementerian Kesehatan,” ungkapnya.

    Untuk merealisasikan rencana ini, Menkes mengaku, pihaknya tengah melakukan sejumlah persiapan.

    “Sekarang dalam persiapan, diharapkan sebentar lagi sudah siap dan bisa digunakan untuk mendukung peningkatan cakupan program imunisasi rutin pada anak,” tegasnya.

    PeduliLindungi
    Aplikasi PeduliLindungi. (Foto:Pelopor.id/Ist)

    Adapun sekitar 1,7 juta anak Indonesia dilaporkan belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap pada 2019-2021. Jumlah yang semakin banyak ini, dikhawatirkan akan berdampak pada peningkatan jumlah kasus PD3I dan terjadinya Kejadian Luar Biasa atau KLB PD3I seperti campak, rubela dan difteri di beberapa wilayah.

    Untuk menutup kesenjangan imunitas di masyarakat, Kemenkes berupaya mengharmoniskan kegiatan imunisasi tambahan dan imunisasi kejar dengan melaksanakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) yang dilakukan secara bertahap.

    Tahap pertama dilaksanakan mulai bulan Mei tahun 2022 bagi seluruh provinsi di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, sedangkan tahap kedua dilaksanakan mulai bulan Agustus tahun 2022 bagi provinsi di pulau Jawa dan provinsi Bali.

    Untuk menyukseskan program ini, Kemenkes menjalin kerjasama dengan Kemendagri dan Pemda untuk saling bahu membahu mendorong orang tua membawa anaknya ke fasyankes untuk mendapatkan imunisasi selama pelaksanaan BIAN. []

    Baca berita lainnya dari peloporberita.com/ di Google News

    [irp]

  • Wagub DKI Beberkan 21 Orang Diduga Terjangkit Hepatitis Akut Misterius

    Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyampaikan, terkait wabah hepatitis akut, Pemprov DKI Jakarta mencatat 21 orang diduga terjangkit penyakit misterius tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 14 pasien merupakan anak usia di bawah 16 tahun yang masih dalam proses pemeriksaan.

    “Dari 21 kasus, 14 orang termasuk tiga yang meninggal berusia kurang dari 16 tahun,” tuturnya kepada wartawan, Kamis (12/05/2022).

    Riza menerangkan, tujuh orang lainnya berusia di atas 16 tahun. Dan menurutnya jenis pemeriksaan hepatitis A-E belum lengkap semua. Sehingga kasus ini masih berstatus ‘pending classification’.

    “Sedangkan tujuh orang lain berusia 16 tahun lebih, sehingga tidak masuk kriteria WHO sebagai kewaspadaan hepatitis akut berat yang belum diketahui penyebabnya,” ungkapnya.

    Sebelumnya, Riza menegaskan bahwa penyakit tersebut tidak hanya menjangkit anak-anak, tapi juga orang dewasa. Oleh sebab itu, ia mewanti-wanti agar masyarakat tidak abai terhadap protokol kesehatan (prokes) untuk memutus mata rantai penularan.

    “Kita minta khususnya anak-anak yang mudah terjangkit untuk ditunda dulu bermain di tempat-tempat umum, seperti kolam renang bersama. Kegiatan anak-anak kan suka bermain di tempat-tempat indoor segala macam, termasuk seperti juga kami sampaikan umpamanya menggunakan megang railing, itu kan dipakai orang,” tegas Riza.

    “Tempat-tempat atau benda-benda yang digunakan bersama itu tolong dihindari, termasuk makan ke tempat makan bersama juga dihindari,” tambahnya.

    [irp]

    hepatitis
    ilustrasi hepatitis. (Foto:Ist)

    Pemprov DKI Jakarta juga membuka opsi pembelajaran tatap muka (PTM) kembali digelar secara daring seiring semakin banyaknya dugaan kasus hepatitis akut misterius pada anak.

    “PTM ini masih kami pelajari, apakah akan kembali ke online, kami akan lihat,” sebut Riza Rabu (11/05/2022).

    Terlebih, saat ini, organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah menetapkan penyakit hepatitis akut misterius ini sebagai kejadian luar biasa (KLB).

    “Menurut WHO sudah menjadi KLB, Kejadian Luar Biasa, itu sudah dari WHO,” ucap Riza.

    Pemprov DKI Jakarta sendiri, akan menunggu kebijakan dari pemerintah pusat terkait dengan pelaksanaan PTM. []

    [irp]

  • Gejala Awal Hepatitis Akut Pada Anak dan Cara Mencegahnya

    Jakarta – Kementerian Kesehatan masih melakukan investigasi kasus Penyakit Hepatitis akut yang sedang melanda dunia dan diduga telah masuk ke Indonesia setelah tiga anak dilaporkan meninggal dunia akibat terinfeksi penyakit misterius ini.

    Investigasi tersebut dilakukan melalui pemeriksaan panel virus lengkap dan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui lebih lanjut penyebab dari penyakit ini.

    Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi RSCM FK UI, Hanifah Oswari mengatakan, dugaan awal kasus tersebut disebabkan oleh Adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV dll. Virus tersebut utamanya menyerang saluran cerna dan saluran pernafasan.

    Untuk mencegah risiko infeksi, Hanifah menyarankan agar orang tua meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan tindakan pencegahan sebagai berikut:

    1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
    2. Mencuci tangan dengan sabun
    3. Pastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi matang
    4. Tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain 5. Menghindari anak-anak kontak dengan orang yang sakit.

    Lebih lanjut, untuk mencegah penularan Hepatitis Akut melalui saluran pernafasan dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 seperti memakai masker, menjaga jarak dan mengurangi mobilitas.

    Selain itu, upaya lainnya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegah penularan Hepatitis Akut adalah pemahaman orang tua terhadap gejala awal penyakit Hepatitis Akut.

    Hanifah menyebutkan secara umum gejala awal penyakit Hepatitis Akut adalah sebagai berikut:
    1. Mual
    2. Muntah
    3. Sakit perut
    4. Diare
    5. Demam ringan

    Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti:
    1. Air kencing berwarna pekat seperti teh
    2. BAB berwarna putih pucat

    [irp]

    Hanifah menegaskan, anak yang mengalami gejala-gejala tersebut, agar segera dibawa orang tua ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal. Jangan menunggu hingga muncul gejala kuning bahkan sampai penurunan kesadaran.

    Karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi Hepatitis sudah sangat berat. Jika terlambat mendapatkan penanganan medis, maka momentum dokter untuk menolong pasien sangat kecil.

    “Bawalah anak-anak kita ke fasyankes terdekat untuk mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan. Jangan menunggu sampai gejalanya lebih berat, karena kalau berat kita kehilangan momentum untuk bisa menolong lebih cepat. Apalagi kalau sampai sudah terjadi penurunan kesadaran, maka kesempatan untuk menyelematkannya sangat kecil,” tegas Hanifah.

    Oleh sebab itu, perlu adanya kerja sama yang solid antara orang tua, tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan agar bisa menemukan gejala Hepatitis Akut sedini mungkin agar anak segera mendapatkan pertolongan medis. []

    [irp]

    Sumber: Kemenkes

  • WHO: Hepatitis Berat Terdeteksi pada 300 Anak di 20 Negara di Seluruh Dunia

    Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, hampir 300 kemungkinan kasus anak-anak dengan hepatitis berat telah terdeteksi di 20 negara di seluruh dunia, dengan beberapa diantaranya ada di Asia Tenggara.

    Pejabat kesehatan di seluruh dunia pun, kini sedang menyelidiki peningkatan misterius kasus infeksi hati yang pertama kali terlihat di Inggris tersebut. Virus yang disebut adenovirus itu, mengalami lonjakan kasus ketika dunia dalam masa pemulihan akibat pandemi Covid-19.

    Pada 1 Mei, sebagian besar kasus anak-anak dengan hepatitis telah terdeteksi di Eropa dengan jumlah kecil juga dilaporkan di Amerika, Pasifik barat dan Asia Tenggara.

    Kasus pertama hepatitis yang tidak biasa ini, terlihat di Skotlandia pada anak-anak di bawah usia 10 tahun. Lebih dari 140 kasus sekarang sedang diselidiki di Inggris.

    Sebagian besar anak-anak Inggris memiliki bentuk peradangan hati ringan, meskipun 10 anak-anak membutuhkan transplantasi hati. Mereka memiliki gejala awal muntah dan diare diikuti oleh menguningnya kulit atau putih mata, yang disebut penyakit kuning.

    Virus hepatitis yang biasanya menyebabkan kondisi (virus A, B, C, D dan E) tidak terdeteksi pada salah satu anak-anak. Negara-negara di seluruh dunia mulai mencari kondisi hati yang tidak dapat dijelaskan ‘yang tidak diketahui asalnya’ pada anak-anak setelah disorot oleh pejabat kesehatan Inggris. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa kondisi langka itu sendiri menyebar ke seluruh dunia.

    Foto: Freepik

    Sementara WHO mengatakan, belum jelas apakah telah terjadi peningkatan kasus hepatitis, atau peningkatan kesadaran akan kondisi yang biasanya tidak terdeteksi. Para ilmuwan sendiri percaya bahwa virus umum yang telah pulih sejak pandemi dapat memainkan peran. Ini telah beredar pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari biasanya baru-baru ini.

    Adenovirus adalah patogen yang paling umum terdeteksi pada sekitar tiga perempat anak-anak Inggris dengan hepatitis dikonfirmasi yang diuji. Dan jenis adenovirus tertentu, yang disebut F41, ditemukan dalam seperempat darah anak-anak itu. Adenovirus yang sama juga dilaporkan telah ditemukan pada sembilan anak dengan hepatitis di Amerika Serikat.

    [irp]

    Pejabat kesehatan Inggris percaya anak-anak kecil, yang tidak terpapar virus umum selama pandemi Covid karena berkurangnya pencampuran sosial, sekarang terinfeksi ketika mereka tidak memiliki perlindungan sebelumnya.

    Ada 50 jenis adenovirus dan mereka umumnya menyebabkan pilek, dan kadang-kadang penyakit dan diare. Mereka jarang menyebabkan hepatitis pada anak-anak yang sehat.

    Para ahli kesehatan juga menyelidiki penyebab lain, seperti munculnya strain baru adenovirus, infeksi Covid sebelumnya atau keduanya terjadi pada saat yang sama.

    “Sementara adenovirus adalah hipotesis yang mungkin, penyelidikan sedang berlangsung untuk agen penyebab,” sebut WHO. []

    [irp]

    Sumber BBC