Tag: WTO

  • WTO: Para Mendag Dunia Berkumpul untuk Bahas Keamanan Pangan

    Jakarta | Kepala Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menyuarakan optimisme hati-hati pada Minggu (12/06/2022), ketika para menteri perdagangan global berkumpul untuk mengatasi keamanan pangan yang terancam oleh invasi perang Rusia-Ukraina, penangkapan ikan yang berlebihan dan akses yang adil ke vaksin Covid-19.

    WTO menghadapi tekanan untuk meningkatkan kesepakatan perdagangan yang telah lama dicari tentang berbagai masalah dan menunjukkan persatuan di tengah pandemi yang masih berkecamuk dan krisis kelaparan global yang akan datang.

    Agenda utama dalam pertemuan tingkat menteri WTO adalah kerugian akibat perang Rusia di Ukraina, yang secara tradisional merupakan lumbung pangan bagi ratusan juta orang, terhadap ketahanan pangan.

    Juru bicara WTO Dan Pruzin mengatakan bahwa ketegangan memuncak selama sesi tertutup, di mana sejumlah delegasi turun ke lantai untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina, termasuk utusan Kyiv, yang disambut dengan tepuk tangan meriah.

    Kemudian, lanjutnya, tepat sebelum Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia Maxim Reshetnikov berbicara, sekitar tiga lusin delegasi “berjalan keluar”.

    Bahkan sebelum konferensi dimulai, Uni Eropa mengumpulkan perwakilan dari 57 negara untuk menunjukkan solidaritas dengan Ukraina, dengan komisaris perdagangan UE Valdis Dombrovskis mengecam “agresi ilegal dan barbar” Rusia.

    Terlepas dari suasana perdebatan, para menteri diharapkan menyepakati deklarasi bersama tentang penguatan ketahanan pangan, di mana mereka akan berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah konkret untuk memfasilitasi perdagangan dan meningkatkan fungsi dan ketahanan jangka panjang pasar pangan dan pertanian global.

    “Saya harap Anda secara kolektif akan melakukan hal yang benar,” kata Ngozi kepada para delegasi seperti dikutip dari AFP.

    WTO berharap untuk menjaga kritik terhadap perang Rusia di Ukraina hingga hari pertama pembicaraan, memungkinkan para menteri fokus pada hari-hari berikutnya untuk mencapai kesepakatan perdagangan, setelah hampir satu dekade tanpa kesepakatan besar.

    Ada beberapa optimisme bahwa negara-negara akhirnya dapat menyetujui pelarangan subsidi yang berkontribusi pada penangkapan ikan ilegal dan tidak diatur, setelah lebih dari dua dekade negosiasi.[]

  • Mendag Lutfi: Negara Maju Terapkan Standar Ganda, WTO Tidak Berkutik

    Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa menjadi solusi nyata bagi perekonomian dunia yang tengah dilanda inflasi tinggi saat ini.

    Kondisi tersebut khususnya diakibatkan oleh hambatan perdagangan dunia yang disebabkan proteksionisme dan perang dagang, serta tidak berfungsinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagaimana mestinya.

    “Ketika negara-negara yang sudah maju menerapkan standar ganda, WTO justru tidak berkutik,” ucap Mendag Lutfi mengejutkan panelis lainnya.

    Adapun standar ganda yang dimaksud Mendag Lutfi adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia, ketika mereka kurang diuntungkan posisi dagangnya terhadap suatu negara tertentu, misalnya Tiongkok.

    RCEP sendiri, berpotensi memperbaiki tata niaga perdagangan dunia. Dari yang sebelumnya berbasis akumulasi dan konsentrasi kemakmuran, menuju tata niaga baru yang meratakan kemakmuran dan menciptakan kesejahteraan bersama.

    Hal ini disampaikan Mendag dalam panel diskusi World Economic Forum bertema “The Biggest Trade Deal in the World” dikutip Sabtu, (28/05/2022). Menurut Mendag Lutfi, bila dievaluasi secara jujur, kondisi tersebut akibat dari kompetisi atau persaingan bebas yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro.

    “Oleh karena itulah tata niaga dunia yang baru harus berbasis kolaborasi yang bermanfaat tanpa adanya diskriminasi atau bersifat inklusif. Bila seluruh dunia sibuk berkolaborasi maka tidak ada ruang untuk kompetisi yang sering kali berujung kepada konflik antarnegara,” tuturnya.

    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi
    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam panel diskusi “The Biggest Trade Deal in the World” di Davos, 26 Mei 2022. (Foto:Pelopor.id/Kemendag)

    RCEP sebagai perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia diikuti oleh kesepuluh negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. RCEP adalah kerja sama perekonomian pertama di dunia yang memiliki Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sama-sama menjadi anggota.

    “Perdagangan bebas tidak harus berdasarkan persaingan bebas. Melainkan bisa juga dicapai melalui kolaborasi yang nondiskriminatif atau inklusif. Sudah ada bukti keberhasilannya yaitu ASEAN,” tandas Mendag Lutfi.

    Ia menjelaskan, model komunitas ekonomi bersama yang inklusif dan kolaboratif sudah dibuktikan keberhasilannya oleh ASEAN yang saat ini merupakan perekonomian terbesar kelima di dunia dengan total produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 3,3 triliun dan total populasi masyarakatnya 630 juta orang.

    [irp]

    Padahal kesepuluh negara ASEAN memiliki latar belakang, bentuk pemerintahan, bahkan sistem perekonomian yang sangat beragam.

    “Di belahan dunia lain justru menciptakan pertentangan bahkan perang dingin, di ASEAN kami merajutnya menjadi persatuan, kesejahteraan bersama, dan kolaborasi untuk berperan lebih bagi perekonomian dunia,” sebut Mendag Lutfi.

    Sepuluh negara ASEAN tersebut, terdiri atas satu kerajaan (absolute monarchy), dua pemerintahan junta militer, dua negara komunis, dan lima demokrasi dengan rasa lokal yang kuat.

    “Lewat RCEP, kami berharap struktur dan model ASEAN yang terbukti relevan dan berhasil akan menjadi contoh yang diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia,” pungkas Mendag Lutfi. []

    [irp]