Tag: Wisata Halal

  • Pariwisata Indonesia Naik ke Peringkat 2 dalam Global Travel Muslim Index

    Jakarta – Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat dua dunia. Ini adalah peningkatan peringkat yang cukup signifikan, setelah tahun sebelumnya Indonesia berada pada urutan empat.

    “Indonesia naik peringkat ke ranking kedua setelah tahun sebelumnya di peringkat keempat,” tutur Founder, CEO Crescentrating and Halaltrip, Fazal Bahardeen, dalam “Halal in Travel Global Summit 2022” di Singapura Rabu (01/06/2022).

    Indonesia mengalahkan posisi Arab Saudi di peringkat ketiga, Turki posisi keempat, dan Uni Emirates Arab di posisi kelima. Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang menempati posisi pertama.

    Dalam kesempatan itu, Fazal Bahardeen juga menyerahkan secara langsung penghargaan “Halal Travel Personality of The Year” dari Crescentrating & Halaltrip Tahun 2022″ kepada Menparekraf Sandiaga Uno.

    Fazal Bahardeen mengungkapkan, Sandiaga Uno terpilih atas penghargaan tersebut lantaran Sandi dianggap menjadi sosok penggerak dalam pengembangan wisata halal di Indonesia. Besarnya perhatian Sandiaga Uno juga mempengaruhi kesadaran global atas besarnya pasar muslim dunia.

    “Sejak Sandiaga mengambil alih Kementerian dan berada di garis depan dalam meningkatkan kesadaran pasar pariwisata halal, kebijakan dan kontribusinya telah membantu para pemangku kepentingan perjalanan di Indonesia untuk lebih memahami dan merangkul segmen pasar ini,” tegas Fazal Bahardeen.

    [irp]

    Sementara Menparekraf Sandiaga Uno dalam pidatonya di forum tersebut, memaparkan potensi wisata halal di Indonesia sekaligus menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diterimanya. Sandiaga berharap, penghargaan tersebut mampu mendorong upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) serta pembuka lapangan kerja.

    “Kami berharap penghargaan ini akan membawa pemulihan, membuka lapangan kerja dan Insya Allah memulihkan ekonomi lewat halal tourism,” tandas Sandiaga Uno.

    Optimisme tersebut disampaikan Sandiaga Uno merujuk besarnya potensi pasar wisata halal. Data menunjukkan pada 2019, umat Islam di seluruh dunia menghabiskan total 2,02 triliun dolar AS untuk belanja makanan, kosmetik farmasi, fesyen, travel, dan rekreasi.

    [irp]

    Pasar muslim global sendiri, diperkirakan akan tumbuh hingga 2,4 triliun dolar AS pada tahun 2024. Sejumlah pengeluaran terbesar bagi konsumen muslim adalah pada makanan dan minuman halal.

    “Menurut saya kita harus menciptakan peluang-peluang usaha berbasis halal tourism. Ada beberapa destinasi (wisata) yang kita unggulkan seperti Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, Lombok, dan Kalimantan Selatan sebagai destinasi unggulan,” tandas Sandiaga Uno. []

    [irp]

  • Indonesia Peringkat Dua Wisata Halal Dunia, Taufan Rahmadi: Tingkatkan Terus Kinerja, Benahi Kekurangan

    Jakarta – Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat dua dunia. Ini adalah peningkatan peringkat yang cukup signifikan, setelah pada tahun sebelumnya Indonesia berada pada urutan empat.

    ”Ini artinya kita sangat representatif untuk traveler muslim, dan itu baik,” tutur Taufan Rahmadi, National Tourism Strategist berdasarkan keterangan yang diterima redaksi, Rabu, (01/06/2022).

    Taufan menilai, pelayanan dan fasilitas yang ramah terhadap pelancong muslim menjadi salah satu kunci utama. Ia juga mengingatkan, ceruk pasar wisatawan muslim tidaklah kecil. Market growth-nya diproyeksikan mencapai 230 juta pelancong, dengan perputaran uang hingga US$225 miliar pada 2028.

    ”Data menunjukkan pelancong muslim terus bertambah, dengan perputaran uang yang signifikan. Kita berada di jalur yang tepat saat ini,” ungkapnya.

    Secara akumulatif poin, Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang menempati urutan pertama. Namun RI mengungguli negara-negara besar lainnya semisal Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Qatar yang berturut-turut ada di bawah peringkat Indonesia.

    ”Dengan pembenahan serius, saya percaya, mengejar Malaysia bukanlah hal yang mustahil,” tegas Taufan.

    Taufan Rahmadi
    Pemerhati Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Fb Taufan Rahmadi)

    Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia jelas memainkan peranan penting. Bagi Taufan, sangat wajar negara kita kini ada di dua besar dunia.

    ”Selamat mas menteri (Sandiaga Salahudin Uno), tingkatkan terus kinerjanya dan benahi yang masih kurang,” pesannya.

    Penilaian kali ini memotret setidaknya tiga kelompok besar pelancong muslim. Yakni dari kalangan traveler milenial muslim, traveler wanita muslim, dan traveler Gen Z.

    ”Karena mereka adalah ceruk utama, kita harus fokus melihat kebutuhan utama kelompok-kelompok ini,” saran penulis buku Prоtоkоl Dеѕtіnаѕі itu.

    [irp]

    Misalnya untuk pelancong muslimah yang menyumbang 45 persen setara 72 juta orang untuk data 2019. Mereka mengutamakan privasi, fasilitas, hingga keamanan.

    Sedangkan kalangan milenial menyukai hal yang disebut sebagai 3As alias authentic, affordable, and accessible. Khusus Gen Z yang menyumbang angka 20 persen total pelancong muslim, cukup serupa dengan kelompok milenial. Namun dengan tambahan adaptable.

    ”Variabel-variabel penilaian ini harus kita terus pelajari, tingkatkan yang masih kurang, dan pertahankan yang sudah lebih,” imbuhnya.

    Apa pun itu, untuk saat ini penghargaan peringkat dua dunia diyakini akan membawa semakin banyak pelancong muslim ke tanah air.

    [irp]

    ”Mau makanan halal ada, mau ibadah gampang, wisata yang nyaman bebas embel-embel negatif bertebaran, itu kelebihan kita” ucapnya.

    Atas prestasi tersebut, Anggota Tim Akselerasi dan Monitoring Evaluasi Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata ini menyebut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno, sudah membawa Indonesia dalam rel yang tepat.

    Dan yang tak kalah baik menurutnya, Indonesia juga mempertahankan ceruk pasar pariwisata konservatif berdasar World Economic Forum.

    ”Jadi pariwisata halal bisa, pariwisata konservatif juga kita masuk,” sanjungnya.

    Taufan menegaskan, penghargaan kali ini adalah yang ketiga berturut-turut, alias hattrick penghargaan dunia pariwisata Indonesia.

    [irp]

    Pertama, Indonesia, melalui menteri Sandi Uno diundang PBB, bicara soal pariwisata berkelanjutan. Berikutnya, Travel Tourism Development Index (TTDI) Indonesia naik tajam 12 level menjadi ranking 32 dunia, dan nomor dua di Asia Tenggara berdasar World Economic Forum.

    ”Yang ketiga ya soal wisata halal ini, nomor dua dunia,” pungkas Taufan.

    Menurutnya, kala pandangan dunia sedang terus tertuju ke Indonesia, kita perlu semakin berbenah. Pandemi ujarnya relatif sudah dilalui dengan baik. Kini memastikan pemulihannya, bersamaan dengan kebangkitan pariwisata.

    ”Seperti yang selalu saya bilang, pariwisata ini membuka banyak lapangan kerja, memutar banyak uang, ekonomi kita akan semakin kuat,” tutupnya. []

    [irp]

  • Sandiaga Uno Sebut Tiga Layanan ini Harus Ada dalam Wisata Halal

    Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menyampaikan, bahwa konsep wisata halal berfokus pada extension of service dengan mengusung tiga konsep, yaitu Need to have, Good to have, Nice to Have. Hal ini disampaikannya saat berdiskusi dengan civitas akademika dan pelaku parekraf di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Bangkalan, Jawa Timur.

    “Wisata halal adalah tambahan layanan atau extended services ada tiga kategori layanan yang pertama yang harus ada adalah makanan halal, tempat ibadah, water friendly washroom, dan no islamaphobia. Kemudian, Good to have dan Nice to Have,” tutur Sandiaga Jumat, (01/04/2022).

    Selanjutnya, konsep tersebut dijabarkan pada lima komponen, antara lain hotel halal, transportasi halal, makanan halal, paket tur halal, dan keuangan halal. Dalam kesempatan ini Menparekraf juga mengucapkan terima kasih kepada UTM yang telah menggelar diskusi tentang pariwisata halal yang akan dikembangkan di Bangkalan.

    “Bangkalan sendiri sudah punya modal infrastruktur pendukung secara holistik seperti nanti akan dibangun Islamic Science Park. Kami yakin pariwisata halal ini akan membangkitkan ekonomi di Madura Raya, dan membuka peluang usaha di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” tegasnya.

    Menurut Sandiaga Uno, wisata halal juga telah menarik devisa dari moslem traveler dengan optimal. Data State of The Global Islamic Economy Report 2019 menyebutkan, jumlah pengeluaran wisatawan muslim dunia sebesar US$200,3 miliar atau 12% dari total pengeluaran wisatawan global sebesar US$1,66 triliun.

    “Dengan demikian, Indonesia berada di urutan ke-5 dari “TOP 5 Negara Muslim Traveler” dengan pengeluaran terbesar setelah Saudi Arabia, UAE, Qatar, dan Kuwait,” tegas Menparekraf. []

  • Respon Sapta Nirwandar Soal Wisata Halal Dikaitkan dengan Kematian Anjing

    peloporberita.com/ – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar menyampaikan, Pemerintah perlu lebih giat lagi mensosialisasikan Wisata Halal kepada masyarakat agar kematian seekor anjing tidak lagi dikaitkan dengan Wisata Halal.

    “Masalah sosialisasi mengenai apa dan bagaimana wisata halal, tentunya pemerintah. Karena pemerintah kan memerintah dan memberikan regulasi dan sekaligus memberikan keterangan. Tapi kan ga cukup, pemerintah juga harus kerjasama dengan ulama, sama pelaku bisnis pariwisata dan akademisi sehingga menjadi kesadaran kolektif,” tuturnya kepada peloporberita.com/, Rabu, 28 Oktober 2021.

    “Jadi jangan cuma kasus anjing dengan Satpol PP trus jadi persoalan se Indonesia. Logis nggak? kan ga logis,”

    Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) itu juga menegaskan, bahwa wisata halal disepakati sebagai tambahan pelayanan seperti ketersediaan fasilitas buat muslim traveller atau wisman-wisman (wisatawan mancanegara) muslim, bukan membuat halal destinasinya.

    “Kontennya udah jelas, Pak Ma’ruf Amin juga sebagai ketua MUI dulu dan Pak Bambang Brodjonegoro dulu termasuk Pak Perry (Warjiyo), kita sepakat bahwa Wisata Halal itu adalah tambahan pelayanan bagi masyarakat Muslim yang jalan-jalan atau berwisata. Bukan menghalalkan atau membuat halal destinasi alias atraksinya,” tegas pria yang biasa disapa Prof Sapta ini.

    Menurutnya, di negara-negara lain tidak pernah ada persoalan soal wisata halal. Contohnya di Malaysia dimana wisatawan yang datang untuk menikmati wisata halal di negara tersebut lebih besar jumlahnya, begitu pula di Thailand.

    “Jadi jangan cuma kasus anjing dengan Satpol PP trus jadi persoalan se Indonesia. Logis nggak? kan ga logis,” tandas Sapta.[]

  • Pengamat: Konteks Wisata Halal Ada pada Layanannya, Bukan Mengubah Objek atau Alam Wisatanya

    peloporberita.com/ – Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi menegaskan, Konteks wisata halal ada pada layanannya, bukan mengubah objek atau alam wisata lainnya. Selain itu, Wisata Halal juga bukan sebuah Islamisasi atau jilbabisasi dari sebuah destinasi. Tetapi, murni gaya hidup atau halal lifestyle.

    “Sudah waktunya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang wisata halal yang kerap dipahami sebagai islamisasi dunia pariwisata, padahal bukan seperti itu.”

    Menurut TR panggilan akrabnya, selama ini minimnya pemahaman tentang wisata halal di masyarakat seringkali menimbulkan pro dan kontra terkait penerapannya di dunia pariwisata.

    Pariwisata Bali
    Taufan Rahmadi saat menerima Piala World Best Halal Tourism Destination. (Foto:Pelopor.id/Web TR)

    “Belajar dari kasus Satpol PP dan matinya anjing Canon di Aceh, saya berpendapat sudah waktunya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang wisata halal yang kerap dipahami sebagai islamisasi dunia pariwisata, padahal bukan seperti itu,” tegasnya kepada peloporberita.com/. Rabu, 27 Oktober 2021.

    Penulis buku Protokol Destinasi ini menjelaskan, wisata halal adalah berbicara tentang gaya hidup, layanan pilihan berwisata bagi wisatawan yang memang membutuhkannya disaat mereka berlibur di destinasi wisata.

    “(Layanan) itu tidak hanya terbatas kepada wisatawan muslim ataupun wisatawan nonmuslim saja. Jadi ini bersifat universal, karena sama-sama kita tahu bahwa halal itu esensinya adalah sehat dan bersih,” ucapnya. []

  • Kematian Anjing Canon Dikaitkan dengan Wisata Halal, Menparekraf Angkat Bicara

    peloporberita.com/ – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno menegaskan bahwa tidak ada kekerasan dalam ekosistem wisata halal. Pernyataan ini, untuk menanggapi kejadian viral di media sosial belakangan ini soal tewasnya anjing Canon.

    “Semua bentuk kekerasan terhadap hewan bukanlah bagian dari wisata halal,” tulis Menparekraf melalui laman Instagramnya, Rabu, 27 Oktober 2021.

    “Kita perlu memastikan bahwa pernyataan yang keluar dari konferensi ini adalah semua kekejaman terhadap hewan bukanlah bagian dari wisata halal.”

    Melalui video singkat dengan bahasa Inggris, Sandiaga Uno menceritakan bahwa sekitar 1 minggu terakhir media sosial didominasi oleh kasus di Aceh dimana seekor anjing (Canon) ditemukan mati akibat penanganan yang buruk karena beberapa aparat setempat berusaha membersihkan situs wisata halal.

    “Ini benar-benar sesuatu yang anda tahu menyentuh hati saya. Saya ingin Pak Riyanto Sofyan (Ketua Umum Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia/ PPHI) dan timnya benar-benar memastikan bahwa kita mengedukasi dan mensosialisasikan wisata halal ini. (Sebab) pariwisata halal tidak seharusnya menyakiti siapa pun,” tegas Menparekraf.

    Sandiaga Uno juga kembali meluruskan bahwa wisata halal adalah sebuah bentuk extension of services atau suatu kemudahan bagi wisata berbasis muslim friendly. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pengunjung/wisatawan yang beragama muslim, dimana potensi ini bisa dimanfaatkan untuk membuka lapangan kerja lebih luas lagi.

    “Saya pikir kita perlu bangkit di masa-masa sulit ini (masa pandemi covid-19) untuk membuktikan bahwa pariwisata halal adalah jalannya dan kita perlu memastikan bahwa pernyataan yang keluar dari konferensi ini adalah semua kekejaman terhadap hewan bukanlah bagian dari wisata halal,” tandasnya. []

     

    View this post on Instagram

     

    A post shared by Sandiaga Salahuddin Uno (@sandiuno)

  • Jawaban Menparekraf Soal Kedirjenan Wisata Halal

    peloporberita.com/ | Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahudin Uno mengatakan, untuk membentuk Kedirjenan Wisata Halal harus dibahas secara utuh, menyeluruh dan tidak terpecah-belah meski telah ada dorongan dari DPR dan stakeholder.

    “Mengenai kedirjenan ini menurut saya harus dibahas secara holistik, karena ada juga dorongan dari temen-temen baik di komisi X, maupun dari stakeholder pemangku kepentingan industri,” tuturnya dalam acara Weekly Press Briefing yang diselenggarakan secara virtual Senin, 20 September 2021.

    “Kepariwisataan yang diatur di Undang-undang sebelumnya adalah secara umum dan tidak mengatur pariwisata halal.”

    Sandiaga juga menyampaikan bahwa sektor pariwisata secara totalitas sudah berubah, sedangkan Undang-undang nomor 10 tahun 2009 tentang pariwisata sudah berumur lebih dari 10 tahun sehingga harus diperbaharui.

    “Kepariwisataan yang diatur di Undang-undang sebelumnya adalah secara umum dan tidak mengatur pariwisata halal,” sebutnya.

    Selain itu, Indonesia juga memiliki Undang-undang no.33 tahun 2014 yang mengatur tentang jaminan produk halal.

    Weekly Press Briefing
    Weekly Press Briefing yang diselenggarakan secara virtual Senin, 20 September 2021. (Foto:Pelopor.id/ tangkapan layar Zoom)

    “Jadi bagaimana kita bisa mengintegrasikan dalam sesuatu regulasi yang akan mampu mengidentifikasi potensi serta menggerakkan potensi ini menjadi peluang-peluang besar dan juga meningkatkan kunjungan wisatawan-wisatawan nusantara ataupun mancanegara dan membuka lapangan kerja,” tegas Menparekraf.

    Lebih lanjut Sandiaga mengungkapkan bahwa intinya Kemenparekraf sedang mereview secara menyeluruh tentang pariwisata halal atau friendly moeslem tourism. Sebab pariwisata halal memiliki potensi yang sangat besar dan tentunya kita menyelaraskan dengan kebutuhan wisata halal yang ternyata pasar terbesarnya berasal dari negara kita sendiri atau dari wisatawan nusantara.

    “Jadi penyediaan extention of service, seperti musolla, restoran halal maupun tempat-tempat halal di destinasi wisata, pada saatnya nanti akan kita tingkatkan, dan Bapak Wakil Presiden Ma’ruf Amin sendiri secara khusus sudah meminta kepada kita agar ini ditata dengan baik,” tandas Bapak Oke Oce itu.

    Menparekraf juga mengakui sebelumnya memang ada miskonsepsi mengenai Wisata Halal dan hal tersebut sudah diverifikasi dan diluruskan agar tidak terpecah belah akan isu ini.

    Di sisi lain, Indonesia adalah satu pengimpor produk-produk halal terbesar. dan ini sangat ironis lantaran seharusnya kita yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri, untuk itulah Kemenparekraf akan terus dorong produk-produk ekonomi kreatif lokal. []

  • Taufan Rahmadi Dorong Kemenparekraf Bentuk Kedirjenan Khusus Wisata Halal

    peloporberita.com/ | Jakarta – Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif (Kemenperekraf) untuk segera mempersiapkan dan membentuk kedeputian khusus untuk menangani wisata halal.

    Menurut pria yang berhasil membawa Lombok meraih penghargaan prestisius dunia World Best Halal Tourism Destination ini, negara tetangga seperti Malaysia sudah terlebih dahulu memiliki struktur kedirjenan terkait wisata halal.

    “(Layanan) itu tidak hanya terbatas kepada wisatawan muslim ataupun wisatawan nonmuslim saja. Jadi ini bersifat universal, karena sama-sama kita tahu bahwa halal itu esensinya adalah sehat dan bersih.”

    “Jadi kalau kita ingin serius ingin membentuk wisata halal, bentuklah kedeputian wisata halal dengan segera yang khusus menggarap wisatawan atau segmentasi wisata halal ini,” tutur Taufan berdasarkan keterangan yang diterima peloporberita.com/, Rabu, 15 September 2021.

    TR, panggilan akrab Taufan Rahmadi juga menyampaikan bahwa sebagai Quick win dari pada pengembangan wisata halal di Indonesia. Pihaknya mendorong adanya tambahan pasal di dalam Undang-undang Kepariwisataan yang khusus membahas tentang wisata halal ini.

    “Saya ulangi sekali lagi, penting untuk segera diinisiasi agar tentang wisata halal ini ada di undang-undang kepariwisataan kita,” tegas team leader Tetebatu di ajang Best Tourism Village UNWTO 2021 ini.

    Tak lupa TR menekankan bahwa wisata halal bukanlah sebuah Islamisasi atau jilbabisasi dari sebuah destinasi tetapi murni gaya hidup atau halal lifestyle dan yang terpenting menurutnya, wisata halal tidak akan membunuh wisata konvensional yang sudah ada.

    “(Layanan) itu tidak hanya terbatas kepada wisatawan muslim ataupun wisatawan nonmuslim saja. Jadi ini bersifat universal, karena sama-sama kita tahu bahwa halal itu esensinya adalah sehat dan bersih,” tandas Taufan. []

  • Sapta Nirwandar: Wisata Halal akan Dibahas dalam Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia 2021

    peloporberita.com/ | Jakarta – Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar mengungkapkan, Event Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia akan diselenggarakan secara hybrid di Hotel Raffles, Jakarta tanggal 15-16 September 2021. ITF sendiri, merupakan organisasi yang terafiliasi dengan World Tourism Forum Institute (WTFI) yang diketuai oleh Bulut Bagci.

    Dalam acara yang dijadwalkan akan dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin itu, akan dibahas Global Halal Tourism pada hari kedua penyelenggaraan dengan narasumber dari DinarStandard yakni perusahaan penelitian strategi pertumbuhan dan advisory yang mengkhususkan diri dalam ekonomi Islam global, juga narasumber dari Kanada dan Korea Selatan.

    “Kegiatan secara hybrid di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September 2021 ini pada hari kedua jam 09.00- 10.00 WIB adalah sesi khusus mengenai Global Halal Tourism,” tutur Sapta Nirwandar dikutip dari bisniswisata Selasa, 7 September 2021.

    Selain akan dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Event Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia juga akan dihadiri oleh sejumlah tokoh Seperti Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno, Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pengembangan Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria dan lainnya.

    Menurutnya, pandemi global Covid-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan gaya hidup (lifestyle) halal sehingga Indonesia bisa belajar dari negara-negara yang telah mengembangkan Halal Tourism meskipun mereka bukan negara dengan penduduk mayoritas Muslim.

    ”Global Halal Tourism narasumbernya tingkat dunia karena perkembangan halal tourism bukan hanya dibutuhkan di Indonesia tetapi jadi trend global,” ungkap Sapta Nirwandar yang sekaligus menjabat sebagai Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC).

    Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia
    Pembicara Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia. (Foto: peloporberita.com/Ist)

    Sapta Nirwandar menjelaskan, secara umum wisata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanannya pun merujuk pada aturan-aturan Islam. Kehadiran wisata halal, mengacu pada aturan hidup ummat Islam, baik di sisi adab mengadakan perjalanan, menentukan tujuan wisata, akomodasi, hingga makanan.

    “Halal tourism identik dengan kuliner sehat dan halal, waktu sholat yang terjaga dan bukan urusan indonesia saja tapi urusan global sehingga dengan para pembicara internasional ini kita bisa saling berbagi informasi ” ucapnya.


    Sapta Nirwandar juga menyampaikan, jika berbicara mengenai wisata halal, maka sebelumnya Wakil Presiden KH.Ma’ruf Amin pernah menegaskan bahwa yang dihalalkan bukanlah destinasi atau tempat tujuan wisatanya, melainkan pelayanannya. Termasuk di dalamnya hotel, restoran dan spa pun harus syariah.

    Adapun pengeluaran Muslim di sektor perjalanan pada 2019 atau sebelum Covid, naik 2,7% dari US$189 milar menjadi US$194 miliar. Meski demikian, DinarStandar memprediksi kondisi ini akan pulih ke tingkat 2019 tahun 2023 dan berada di angka US$195 miliar.

    “Apalagi perusahaan perjalanan dunia memanfaatkan jeda waktu akibat pandemi dengan kegiatan untuk meningkatkan tekhnologi terutama dengan kecerdasan buatan (AI) sehingga lebih memudahkan konsumen dalam melakukan transaksi dan perjalanan terutama ke negara-negara Muslim Friendly,” tegas Sapta.

    Sapta Nirwandar
    Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar.(Foto:Pelopor.id/Ist)

    Tekhnologi AI tersebut, menurut Sapta, sudah dikembangkan oleh online HalalTravels yang berbasis di London dan HalalBooking.com yang mengembangkan tekhnologi pemetaan data lewat kemitraan dengan Expedia.

    Selanjutnya, ia berharap Reem El Shafaki, Partner/Lead of Travel & Tourism Sector DinarStandar, Dr Hamid Slimi, Conference Advisory Chairman Halal Expo Canada serta Dr James Noh, Co-founder & Direcfor General of the Korea Institute of Halal Industry (KIHI) dapat memberikan pencerahan bagi peserta event hybrid yang melibatkan 101 pembicara nasional dan internasional.

    “Sehingga dengan demikian kita dapat mengembalikan kunjungan wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia,” tandas Sapta. []