Tag: tsunami

  • Mengenal PUMMA, Si Pendeteksi Tsunami

    peloporberita.com/ – Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA) atau Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) belum lama ini mendeteksi tsunami di wilayah Indonesia meskipun skalanya kecil dan tidak memicu kerusakan, dengan ketinggian amplitudo gelombang sejengkal (maksimum 40 cm).

    Tsunami tersebut akibat erupsi Gunung Tonga di Polinesia, Samudra Pasifik. Sedangkan PUMMA dipasang di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dan pantai barat Pulau Sumatera.

    Peneliti Tsunami, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Semeidi Husrin menjelaskan, PUMMA dilengkapi dengan sistem peringatan otomatis.

    “Sehingga saat terjadi anomali muka air dan berhasil mendeteksi gelombang tsunami di Pelabuhan Perikanan Prigi (Jawa Timur) pada 15 Januari 2022 pukul 13.13 UTC (pukul 20.14 WIB) atau kurang dari 9 jam pasca letusan pulau gunung api di Tonga, persisnya 8 jam 47 menit,” ungkapnya baru-baru ini.

    Semeidi memperkirakan, kecepatan dari shock waves ini mencapai kurang lebih 300 meter per detik artinya gelombang ini dapat mencapai Indonesia (8.000 km) dalam kurun waktu 7 jam.

    Hal ini lah yang menyebabkan gelombang tsunami pertama (meteo-tsunami) tercatat oleh PUMMA kurang dari 9 jam pasca letusan gunung api.

    “Seiring waktu, beberapa tsunami yang biasa pun akhirnya tiba di Indonesia dan terdeteksi oleh PUMMA. Hal ini menjelaskan mengapa peringatan tsunami dikeluarkan hingga 36 kali oleh PUMMA,” ungkap Semeidi.

    Gelombang tsunami yang terekam jaringan PUMMA di Indonesia, lanjut Semeidi ternyata bukanlah tsunami biasa yang selama ini dipahami oleh masyarakat awam maupun oleh sebagian kalangan saintis, terutama mereka yang tidak pernah belajar mengenai fenomena tsunami yang dibangkitkan oleh aktivitas gunung api.

    Ia menerangkan, Gelombang tsunami ini walaupun hanya memiliki ketinggian amplitudo sejengkal, namun dengan sangat jelas terdeteksi oleh perangkat PUMMA yang terpasang di Prigi Trenggalek yang telah mengirimkan sinyal ALERT sebanyak 36 kali secara otomatis pada peristiwa ini.

    Analisa lebih jauh, ungkap Semeidi memperlihatkan bahwa tsunami yang terekam PUMMA akibat letusan Pulau Gunung Api Tonga terdiri dari dua tipe gelombang tsunami yaitu ‘meteo-tsunami’ akibat adanya gelombang kejut (shockwave) dari letusan gunung api yang menjalar di atmosfer dan berinteraksi dengan permukaan laut.

    “Dan tsunami ‘biasa’ yang menjalar dari sumbernya secara hidrodinamika akibat proses terganggunya muka air di lokasi letusan gunung api tersebut,” ucapnya.

    IDSL/PUMMA sendiri, telah terpasang di 8 lokasi yaitu Pulau Sebesi, Marina Jambu, Pangandaran, Pelabuhan Sadeng, Pelabuhan Prigi, Palabuhan Ratu, PPS Bungus, dan TPI Tua Pejat Mentawai.

    IDSL merupakan hasil kerja sama antara Pusat Riset Kelautan BRSDMKP KKP dengan JRC the European Commission, Badan Informasi Geospatial (BIG), Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATsI) dan institusi-institusi lainnya di Indonesia.

    Data dan sistem peringatan IDSL sudah masuk ke jaringan BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia.

    “Beroperasinya IDSL selama tiga tahun dan keberhasilannya dalam mendeteksi tsunami Tonga serta kejadian-kejadian sebelumnya membuktikan kinerja yang sangat baik sebagai alternatif penguatan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia,” tandas Semeidi.

    Selain itu, IDSL juga memiliki kelebihan yaitu harga yang murah, mudah dibuat, mudah dipasang, murah dan mudah dalam perawatan, memanfaatkan jaringan infrastruktur eksisting, melibatkan masyarakat dan dapat diproduksi di Indonesia dan didukung secara internasional.

    “Untuk saat ini, IDSL sebagian besar dipasang di fasilitas milik KKP dalam hal ini pelabuhan perikanan yang faktanya berada di garis terdepan dalam mendeteksi fenomena tsunami,” pungkas Semeidi. []

  • Tsunami Terjang Tonga dan Jepang Akibat Erupsi Gunung Api Bawah Laut

    peloporberita.com/ – Erupsi gunung api bawah laut di Tonga memicu tsunami mulai dari pantai barat Amerika Serikat hingga Jepang. AFP pada Minggu (16/1/2022) melaporkan, gambaran satelit terlihat erupsi gunung Hunga Tonga-Hunga Ha’apai menyemburkan gas dan asap ke udara sejauh beberapa kilometer.

    Bahkan suara gemuruhnya terdengar sejauh 10.000 kilometer (6.000 mil) jauhnya di Alaska. Sementara survei Geologi AS mencatat erupsi pada Sabtu (15/1/2022) itu setara dengan gempa berkekuatan 5,8 magnitudo. Meski demikian belum diketahui jelas tingkat kerusakan di Tonga lantaran jalur komunikasi terputus.

    Di pulau Tonga yang berada dekat dengan letusan gunung berapi bawah laut, gelombang tsunami menerjang pantai. Letusan tersebut juga memutus internet ke Tonga, membuat warga tidak mudah untuk dihubungi untuk mencari tahu apakah ada cedera dan tingkat kerusakan.

    Bahkan situs web pemerintah setempat dan sumber resmi lainnya tetap tanpa pembaruan informasi. Associated Press pada minggu pagi melaporkan, abu tebal dan asap terus memengaruhi atau mencemari kondisi udara dan air di Tonga, sehingga membuat pihak berwenang meminta orang-orang di sana untuk memakai masker dan minum air kemasan.

    Sementara koordinator peringatan tsunami untuk Pusat Peringatan Tsunami Nasional di Palmer, Alaska, Dave Snider mengatakan bahwa letusan gunung berapi sangat tidak biasa untuk memengaruhi seluruh cekungan laut.

    Gelombang tsunami ini, juga terpantau menyebabkan kerusakan pada perahu-perahu sejauh Selandia Baru dan Santa Cruz, California, tetapi tampaknya tidak menyebabkan kerusakan yang meluas.

    Sementara sebelumnya, Badan Meteorologi Jepang mengatakan, tsunami setinggi 1,2 meter mencapai pulau selatan terpencil Jepang, Amami Oshima, pada Sabtu malam waktu setempat. Setelah itu, tsunami yang lebih kecil mencapai daerah lain di sepanjang pantai Pasifik Jepang.

    Pantai timur Hokkaido serta wilayah barat daya Kochi dan Wakayama juga dilanda tsunami setinggi 0,9 meter. Kala itu, Pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan tsunami dan penyiar NHK berseru kepada penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. []

  • Berpotensi Tsunami, BNPB Terima Laporan Kerusakan Akibat Gempa Larantuka

    peloporberita.com/ – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima laporan kerusakan akibat gempa Larantuka bermagnitudo 7,4 pada Selasa, (14/12/2021) pukul 10.20 WIB di Selayar dan Takabonerate, Sulawesi Selatan.

    “Kami menerima kiriman visual kerusakan akibat gempa di Selayar dan Takabonerate,” tutur Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

    Menurut Abdul, saat ini tim BPBD sedang turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan dan pendataan dampak.

    Sebelumnya, berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan tsunami terdeteksi di beberapa wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan ketinggian 0,07 meter atau 7 sentimeter setelah Laut Flores diguncang gempa magnitudo 7,4.

    BMKG menjelaskan, tsunami telah terdeteksi di Marapokot, Kabupaten Nagekeo di NTT pada pukul 10.36 WIB, serta Reo di Kabupaten Manggarai pada pukul 10.39 WIB.

    Berdasarkan pengamatan BMKG, tinggi tsunami di kedua lokasi itu adalah 0,07 meter atau sekitar 7 sentimeter. Gempa magnitudo 7,4 terjadi di Laur Flores dengan kedalaman 10 kilometer pada Selasa, pukul 10.20 WIB. Lokasi gempa adalah 112 kilometer barat laut Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT.

    BMKG pun telah mengeluarkan status siaga tsunami untuk wilayah Pulau Ende, Flores Timur bagian utara, Pulau Sikka, Sikka bagian utara, Ende bagian utara, Pulau Lembata, Pulau Adonara, Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, dan Alor bagian utara di NTT.

    Status siaga juga berlaku Buton dan Bombana di Sulawesi Tenggara.
    Sementara status waspada berlaku untuk Manggarai Barat di NTB, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Bima dan Dompu bagian utara di Nusa Tenggara Barat, dan Pulau Wetar di Maluku.

    Kemdian, Gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 5,5 terjadi di titik 129 kilometer barat laut Maumere pada pukul 10.47 WIB. BMKG memastikan, gempa susulan itu tidak berpotensi tsunami. []

  • Kunjungi Pacitan, Mensos Saksikan Simulasi Evakuasi Masyarakat Hadapi Gempa Bumi dan Tsunami

    peloporberita.com/ | Jakarta  – Menteri Sosial Tri Rismaharini mengunjungi Kabupaten Pacitan, Sabtu (11/09/2021) yang dipusatkan di Pelabuhan Ikan Tamperan. Dalam kunjungan ini, Mensos dan jajaran akan menyaksikan simulasi evakuasi masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami.

    Dalam kegiatan ini, disimulasikan pada hari Sabtu, 11 September 2021 jam 11.00 WIB terjadi gempa bumi dengan magnitudo 8,7, epicenter 300 km Tenggara Pacitan dan kedalaman 19 km.

    Gempa bumi menimbulkan tsunami yang berdampak pada seluruh pesisir Jawa Timur termasuk wilayah Pacitan dengan ketinggian gelombang tsunami 25-28 m dari muka air laut di tepi pantai.

    Waktu kedatangan gelombang tsunami 26 menit setelah goncangan gempa bumi. Diperlukan waktu maksimal 5 menit untuk penyebarluasan peringatan dini, sehingga golden time (waktu tersisa untuk evakuasi) 22 menit.

    Gelombang tsunami masuk maksimal 6 km ke Kota Pacitan, mencapai beberapa tempat strategis dan vital. Ketinggian air bervariasi mulai dari 22 m di wilayah pantai/pesisir, 11-17 m di wilayah bantaran sungai, 6-11 m di wilayah tengah (termasuk Alun-Alun), dan 10-12 m di Bantaran Sungai Grindulu.

    Kegiatan simulasi evakuasi menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Pacitan tersebut merupakan bagian dari langkah mitigasi bencana. Upaya mitigasi bencana dilakukan dengan memperhatikan hasil studi Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG).

    Dalam beberapa kesempatan, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan hasil kajian dan mitigasi gempa bumi dan tsunami di Jawa Timur. Berdasarkan penelitian dan pemodelan BMKG, wilayah selatan Jawa Timur menyimpan potensi bencana gempa bumi yang cukup besar.

    Daerah yang diprediksi terdampak tersebut adalah Pacitan, Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Malang Selatan, Lumajang, dan Banyuwangi.

    Meskipun belum ditemukan alat yang dapat memprediksi secara tepat kapan bencana terjadi, namun Mensos menekankan, perlu upaya serius, terencana dan terorganisasi untuk meningkatkan kesiap-siagaan masyarakat dan pemerintah menghadapi kemungkinan terjadi bencana.

    Simulasi evakuasi masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami pada hari ini merupakan bentuk langkah nyata dan serius menghadapi bencana. Upaya serius Kemensos lainnya adalah kebijakan Mensos Risma untuk secara periodik dan terencana melakukan sosialisasi mitigasi bencana di kawasan tersebut.

    Kemensos dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah, membentuk Kawasan Siaga Bencana (KSB) di beberapa daerah di Selatan Jawa. Di Pacitan telah dibetuk KSB Putra Samudera. Simulasi dilakukan secara berkala dengan melibatkan kelompok rentan yakni perempuan, orang tua dan anak-anak.

    Pembentukan KSB berbasis kawasan di Kabupaten Pacitan dimaksudkan untuk melatih masyarakat melakukan evakuasi mandiri sebelum datang pertolongan ketika terjadi bencana. []

  • KKP Tanam 6 Ribu Bibit Cemara Laut untuk Antisipasi Dampak Tsunami

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) belum lama ini menanam 6.000 bibit vegetasi pantai jenis cemara laut untuk mengantisipasi dampak tsunami. Penanaman cemara laut dilakukan di lahan seluas 9,6 hektare di wilayah pesisir pantai Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

    “Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat pesisir apabila terjadi bencana tsunami,” tutur Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Pamuji Lestari berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip peloporberita.com/, Senin, 30 Agustus 2021.

    “Tahun 2021 KKP telah melakukan penanaman vegetasi pantai jenis cemara laut. Cemara laut dipilih dengan pertimbangan tumbuhan tersebut mendominasi di lokasi target penanaman.”

    Pamuji Lestari menjelaskan, permasalahan bencana khususnya di wilayah pesisir menjadi perhatian pemerintah, karenanya penanaman vegetasi pantai diharapkan dapat memperkuat ketangguhan di wilayah pesisir.

    Adapun, Vegetasi pantai yang ditanam oleh KKP berfungsi sebagai buffer untuk mengurangi energi dan dampak tsunami terhadap infrastruktur pantai. Selain itu vegetasi pantai juga bermanfaat dalam membangkitkan ekonomi masyarakat melalui mata pencaharian alternatif yang muncul dari adanya kawasan hutan pantai.

    Sementara Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Muhammad Yusuf menerangkan Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah yang rawan gempa bumi dan tsunami. Berdasarkan riwayat bencana yang terjadi pada tahun 2006, 2009 dan 2017 telah terjadi gempa dengan kekuatan magnitudo 6,8-7,3.

    KKP Tanam 6 Ribu Bibit Cemara Laut untuk Antisipasi Dampak Tsunami
    KKP Tanam 6 Ribu Bibit Cemara Laut untuk Antisipasi Dampak Tsunami. (Foto:Pelopor.id/KKP)

    Menurutnya, program bantuan penanaman vegetasi pantai yang dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya merupakan gerakan nyata dalam upaya mencegah kerusakan yang besar dampak bencana, terutama tsunami.

    “Tahun 2021 KKP telah melakukan penanaman vegetasi pantai jenis cemara laut. Cemara laut dipilih dengan pertimbangan tumbuhan tersebut mendominasi di lokasi target penanaman,” sebut Yusuf.

    “Sebanyak 6.000 bibit cemara laut ditanam pada area seluas 9,6 hektare yang terbagi di empat lokasi pesisir Kabupaten Tasikmalaya, yaitu Desa Ciheras, Desa Mandala Jaya, Desa Cidadap dan Desa Cimanuk,” sambungnya.

    Yusuf pun menyebutkan demi menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan, telah ditetapkan empat kelompok penerima bantuan kegiatan penanaman vegetasi pantai yang akan memelihara, memanfaatkan dan mengelola bantuan.

    “Kelompok-kelompok penerima bantuan tersebut sebelumnya telah dilakukan verifikasi oleh Tim KKP. Kelompok tersebut juga telah terdaftar dalam kartu KUSUKA (Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan) serta telah menyanggupi untuk menjaga bantuan yang diberikan. Adapun kelompok tersebut yaitu POKMASWAS Nusa Manuk; Mandalajaya; Ciheras; dan Cidadap,” papar Yusuf.

    Di tahun 2020, KKP juga telah melakukan hal serupa yang dilakukan di Kota Palu pasca terjadinya peristiwa bencana tsumami yang menerjang wilayah pesisir Kota Palu.

    Program penanaman vegetasi pantai ini dilakukan sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir, salah satunya melalui berbagai upaya-upaya pengurangan risiko bencana.[]

  • Tsunami Akibat Gempa Megathrust Selat Sunda Bisa Sampai Jakarta dalam 3 Jam

    peloporberita.com/ | Jakarta – Tsunami di Selat Sunda dapat dipicu oleh erupsi gunung api dan gempa tektonik yang bersumber di zona megathrust. Hal ini, disampaikan Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Sabtu, 21 Agustus 2021.

    Daryono menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah, tsunami akibat erupsi Gunung Krakatau pada 1883 mampu menjangkau Pantai Jakarta karena tinggi tsunami di sumbernya lebih dari 30 meter. Sedangkan tsunami akibat runtuhnya lereng Gunung Anak Krakatau pada 2018 lalu lebih kecil sehingga tidak sampai di Pantai Jakarta.

    “Waktunya sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 meter di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol-Tanjung Priok.”

    Untuk mengetahui apakah tsunami akibat gempa megathrust Selat Sunda dapat mencapai Jakarta, maka diperlukan pemodelan tsunami. Pemodelan tsunami akibat gempa magnitudo 8,7 yang bersumber di zona megathrust Selat Sunda yang dilakukan BMKG menujukkan bahwa tsunami dapat sampai di Pantai Jakarta.

    “Waktunya sekitar 3 jam setelah gempa, dengan tinggi 0,5 meter di Kapuk Muara-Kamal Muara dan 0,6 meter di Ancol-Tanjung Priok,” tuturnya.

    Gunung Api di Pulau Krakatau
    Ilustrasi letusan Gunung Api di Pulau Krakatau, Agustus 1883. (Foto:Pelopor.id/Deagostini/Getty Images/Dea Picture Library)

    Pemodelan tsunami diukur dari muka air laut rata-rata (mean sea level). Dalam kasus terburuk, jika tsunami terjadi saat pasang, maka tinggi tsunami dapat bertambah. Selain itu, ketinggian tsunami juga dapat bertambah jika pesisir Jakarta sudah mengalami penurunan permukaan (subsiden).

    Pemodelan tsunami memang memiliki ketidakpastian (uncertainty) yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena persamaan pemodelan sangat sensitif dengan data dan sumber pembangkit gempa yang digunakan.

    Beda data yang digunakan maka akan beda hasilnya, bahkan jika sumber tsunaminya digeser sedikit saja, maka hasilnya juga akan berbeda. Inilah sebabnya maka selalu ada perbedaan hasil di antara pembuat model tsunami.

    Dalam mendukung upaya mitigasi konkret, BMKG menyusun peta bahaya tsunami di seluruh pantai rawan tsunami di Indonesia. Untuk Pulau Jawa, peta bahaya tsunami yang sudah dibuat sebanyak 41 peta, dengan rincian: 5 peta di Banten, 5 peta di Jawa Barat, 17 peta di Jawa Tengah, 3 peta di Yogyakarta, dan 11 peta di Jawa Timur. Pembuatan peta bahaya tsunami ini masih terus berjalan untuk wilayah lain di Indonesia.

    Peta bahaya tsunami memberi informasi tinggi tsunami, jauhnya landaan, dan waktu tiba tsunami di pantai. Peta ini juga bermanfaat untuk perencanaan tata ruang pantai yang aman tsunami, acuan membuat jalur evakuasi, menentukan lokasi titik kumpul, lokasi tempat evakuasi sementara, serta acuan dalam berlatih evakuasi (tsunami drill).

    Atas dasar beberapa hal tersebut maka BMKG membuat skenario model terburuk untuk acuan mitigasi tsunami bagi pemerintah daerah, masyarakat, dan relawan kebencanaan. []

  • Sejarah Tsunami Batavia 1883

    peloporberita.com/ | Jakarta – Tsunami, pernah melanda pantai Jakarta akibat erupsi katastropik Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 27 Agustus 1883 silam. Erupsi katastropik ini, menyebabkan runtuhnya badan Gunung Krakatau ke laut serta terjadinya kontak material erupsi yang panas dengan air laut sehingga memicu tsunami lebih dari 30 meter.

    Dahsyatnya tsunami, mampu menimbulkan kerusakan di Pulau Onrust yang merupakan bagian gugus pulau di Kepulauan Seribu. Sejak tahun 1848, Pulau Onrust dan sekitarnya difungsikan pemerintah Kolonial Belanda sebagai Pangkalan Angkatan Laut, namun sarana ini rusak berat diterjang tsunami tahun 1883.

    Selain menerjang Pulau Onrust, saat itu tsunami juga menerjang Pantai Batavia. Gambaran Pantai Batavia dan Tanjung Priok yang dilanda tsunami sangat jelas dilaporkan Bataviaasch Handelsblad yang terbit pada 28 Agustus 1883.

    Bataviaasch Handelsblad melaporkan bahwa tsunami membanjiri daratan dan menghempaskan perahu-perahu di pantai. Suasana sangat kacau di perkampungan China yang umumnya terletak di pinggir sungai, ketika air mendadak naik setelah tengah hari.

    Sementara di daerah Pintu Kecil dimana banyak orang Eropa tinggal dengan rumah membelakangi sungai, terus dilanda luapan air laut sehingga harus menaikkan barang-barang mereka ke perahu untuk mengungsi.

    Di daerah Kali Besar, air bercampur lumpur berwarna hitam juga naik secara mendadak ke permukaan, menyebarkan bau asin yang tidak enak. Tak lama kemudian sekitar pukul 2 siang, air kembali mengalir deras dengan kekuatan yang luar biasa membuat Pasar Ikan kebanjiran untuk kedua kalinya.

    Lebih lanjut, tsunami juga menimbulkan kekacauan di Pelabuhan Tanjung Priok. Dimana kapal uap Wilhelmina yang sedang menurunkan muatan dihantam terjangan tsunami hingga harus melepaskan jangkar.

    Sebuah kapal uap yang ditarik tongkang dari Merak menuju Priok juga diterjang tsunami hingga keduanya hilang tenggelam. Selain itu, Tsunami juga merusak beberapa jembatan dekat muara sungai di Batavia. []

    Sumber: Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

  • KKP Tanam Ribuan Bibit Vegetasi Pantai Untuk Antisipasi Dampak Tsunami

    peloporberita.com/ | Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menanam 6.300 bibit vegetasi pantai pada 5 titik di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dengan luas areal penanaman 9,2 hektar. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketangguhan kawasan pesisir yang rawan terhadap bencana tsunami.

    Pelaksana Harian Plt. Dirjen PRL Suharyanto menyebutkan, sebagian pesisir Indonesia rawan bencana, terutama bencana tsunami, di wilayah pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa, Selatan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, hingga sebagian Sulawesi, bahkan Papua yang pantainya didominasi oleh pasir dengan energi gelombang laut cukup tinggi. Terkait hal itu, vegetasi non mangrove seperti cemara laut, kelapa, ketapang lebih cocok dijadikan struktur alami.

    Baca juga: Menteri Trenggono Pastikan Laut Indonesia Bebas Cantrang

    “Permasalahan bencana di wilayah pesisir ini memang harus menjadi atensi pemerintah agar risiko bencana dapat ditekan khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Maka dari itu KKP melakukan penanaman vegetasi pantai di Kabupaten Pesisir Selatan,” kata Suharyanto.

    Baca juga: KKP Menangkan Gugatan Ekspor Benih Bening Lobster

    Vegetasi pantai beserta kelengkapannya bersifat multifungsi, yaitu sebagai buffer untuk mengurangi energi dan dampak bencana terhadap infrastruktur pantai, dan juga berperan dalam membangkitkan ekonomi masyarakat pesisir melalui mata pencaharian alternatif yang muncul dari adanya kawasan hutan pantai. 

    Program ini dilakukan sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat pesisir, salah satunya melalui berbagai upaya pengurangan risiko bencana. []