Tag: Taipan

  • Biden Incar Konglomerat AS, Usulkan Pajak Minimum 20%

    Jakarta | Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengajukan usulan pajak minimum 20% bagi konglomerat di AS dengan pendapatan lebih dari USD 100 juta. Diperkirakan, Biden akan mengumumkan rencana ini bersamaan dengan rilis anggaran belanja AS tahun 2023.

    Penerapan pajak baru ini diharapkan dapat mendatangkan pendapatan baru bagi AS sekitar USD 360 miliar untuk dekade berikutnya. Angka itu mewakili lebih dari sepertiga pemotongan defisit USD 1 triliun yang diproyeksi White House.

    Biden pun menyebut program ini sebagai Pajak Penghasilan Minimum Miliarder. Pasalnya, ia melihat kenaikan yang cukup signifikan terhadap pendapatan konglomerat AS, di tengah pandemi yang menghantam bisnis kelas kecil dan menengah.

    “Pajak minimum ini akan memastikan bahwa orang Amerika kaya tidak lagi membayar tarif pajak yang lebih rendah dari guru dan petugas pemadam kebakaran,” kata dokumen yang dikutip dari CNBC International.

    Jika para taipan itu sudah membayar 20% dari pendapatan penuhnya, maka mereka tidak akan membayar pajak tambahan berdasarkan proposal tersebut. Namun, jika mereka membayar kurang dari 20%, mereka akan berutang pembayaran isi ulang untuk memenuhi minimum baru.

    Pada tahun fiskal 2021, defisit federal AS hampir mencapai USD 2,8 triliun. Kebanyakan defisit ini lari ke insentif pemerintah dalam menangani pandemi. Meski demikian, dana itu membantu ekonomi AS tumbuh 5,7% pada tahun yang sama.[]

  • Penjualan Rumah Mewah di AS Capai USD 40 Miliar Tahun Lalu

    peloporberita.com/ | Data pialang real estat Compass Inc menunjukkan, total transaksi rumah mewah seharga mulai dari USD 10 juta di Amerika Serikat (AS) pada tahun lalu mencapai USD 40 miliar, dengan volume penjualan sebanyak 2.300 unit.

    Mengutip Bloomberg, angka itu melonjak 112 persen dibanding tahun 2020, dengan penjualan paling banyak terjadi di Los Angeles, Manhattan dan Palm Beach.

    Untuk diketahui, jumlah kekayaan para taipan mengalami kenaikan, seiring dengan booming-nya pasar saham dan era suku bunga rendah selama dua tahun terakhir.

    Pasar rumah mewah pun semakin naik pamornya, lantaran para konglomerat membeli  rumah mewah untuk dijual kembali sekaligus untuk melindungi uang mereka dari kenaikan inflasi.

    Merujuk data Compass, pasar dengan pertumbuhan paling cepat adalah Austin dan pinggiran kota Long Island, dengan peningkatan transaksi lebih dari 400 persen.

    Tahun lalu, pembelian barang mewah di Austin tercatat hampir menembus USD 190 juta.

    Sedangkan untuk tahun ini, Texas diprediksi sangat menjanjikan, terutama properti tepi laut dan peternakan. []

  • Taipan India Mukesh Ambani Beli Saham Mandarin Oriental New York

    peloporberita.com/ | Taipan India Mukesh Ambani mengambil alih saham mayoritas hotel bintang lima di pusat kota Manhattan, Mandarin Oriental New York, sebanyak 73,37 persen secara tidak langsung. Hal itu disampaikan dalam keterbukaan informasi perusahaan, pada Sabtu (8/1/2022), seperti dikutip dari Reuters.

    Mandarin Oriental New York adalah salah satu dari 35 hotel yang dioperasikan oleh Mandarin Oriental Hotel Group di 24 negara di dunia.

    Sedangkan Mukesh Ambani adalah orang terkaya ke-11 di dunia versi Bloomberg Billionaires Index, dengan nilai kekayaan mencapai USD 92,9 miliar. Ambani menguasai sejumlah jaringan bisnis di Mumbai, termasuk bisnis jaringan nirkabel 4G.

    Dalam keterbukaan informasi perusahaan disebutkan bahwa pembelian saham dilakukan melalui anak usahanya, Reliance Industrial Investments and Holdings, dengan nilai transaksi mencapai USD 98,15 miliar.

    Disebutkan juga bahwa pihak Reliance akan membeli seluruh modal saham yang dikeluarkan Columbus Center Corp., sebuah perusahaan yang berbasis di Kepulauan Cayman. Perusahaan itu adalah pemegang saham tidak langsung di hotel Mandarin Oriental New York.

    Tidak hanya itu, Reliance juga menyatakan akan mengakuisisi sisa 26,63 persen dari pemilik saham lain, dengan valuasi harga yang sama. Perusahaan menargetkan transaksi ini bisa selesai pada akhir Maret. []

  • Badai Utang Evergrande Gerus Kekayaan Bos Properti China

    peloporberita.com/ – Taipan properti China yang masuk dalam daftar 500 orang terkaya di dunia, kehilangan lebih dari US$ 46 miliar atau sekitar Rp 611,8 triliun sepanjang tahun ini berdasarkan catatan Bloomberg.

    Penyebabnya, kejatuhan Evergrande yang tidak hanya berimbas ke sektor properti secara keseluruhan di negeri tersebut. Selain bos Evergrande, Hui Ka Yan yang merana karena kehilangan kekayaan, kekayaan sejumlah miliarder Tiongkok yang berbisnis properti melorot drastis.

    Baca juga : Alibaba Targetkan USD 100 Miliar Untuk Pasar e-Commerce Asia Tenggara

    Setidaknya, para taipan real estat China mengalami tahun terburuk mereka sejak tahun 2012. Kala, Pemerintah Xi Jinping mendistribusikan kembali kekayaan rakyat China, untuk membawa kemakmuran bersama.

    Adapun kekayaan Hui, telah berkurang sebesar US$ 17,2 miliar, yang menjadi salah satu penurunan terbesar untuk tahun 2021. Hui, pernah menjadi orang terkaya kedua di kawasan Asia dengan kekayaan US$ 42 miliar, namun sekarang kekayaannya tinggal US$ 6,1 miliar.

    Penurunan ini, setelah harga saham unit kerajaan bisnisnya jatuh. Ditambah dengan sikap pemerintah China yang mendesaknya agar menggunakan kekayaan pribadinya untuk membayar kembali investor.

    Selain Evergrande, gejolak juga melanda salah satu perusahaan yang dianggap sebagai salah satu pemain kuat di properti, Shimao Group Holdings Ltd. Obligasi dan sahamnya jatuh di tengah kekhawatiran krisis arus kas, sementara kesepakatan antara dua unit usahanya menimbulkan kekhawatiran atas tata kelola perusahaannya.

    Kekayaan Pendiri Shimao Group, Hui Wing Mau, yang memulai investasi real estat pada akhir 1980-an, berkurang lebih dari setengahnya pada tahun ini. kekayaannya itu turun US$ 5,2 miliar menjadi US$ 4,4 miliar.

    Sementara taipan yang telah kehilangan gelar sebagai milliader, antara lain pemilik Kaisa Group Holdings Ltd yang telah kehilangan kekayaan hampir 90% tahun ini menjadi sekitar US$ 160 juta, dan Zhang Yuanlin dari Sinic Holdings Group Co yang sahamnya telah anjlok 75%. []