Tag: surplus

  • Neraca Perdagangan Indonesia Mei 2022 Lanjutkan Tren Surplus 25 Bulan Berturut-turut

    Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2022 kembali mencatatkan surplus sebesar USD 2,9 miliar atau meningkat dibandingkan Mei 2021 yang tercatat USD 2,7 miliar. Nilai tersebut terdiri dari surplus neraca non-migas USD 4,75 miliar dan defisit neraca migas USD 1,86 miliar. Kondisi ini, melanjutkan tren surplus selama 25 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

    “Surplus neraca perdagangan Indonesia Mei 2022 didorong surplus perdagangan dengan beberapa negara mitra dagang. India menyumbangkan surplus terbesar senilai USD 1,35 miliar, disusul Amerika Serikat USD 0,99 miliar, dan Filipina USD 0,83 miliar,” tutur Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) di Jakarta, Jumat (17/06/2022).

    Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus USD 19,79 miliar selama Januari-Mei 2022. Angka itu, jauh lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat surplus USD 10,51 miliar.

    Surplus perdagangan Januari-Mei 2022 ditopang surplus sektor nonmigas USD 29,35 miliar dan defisit sektor migas USD 9,56 miliar. Menurut Mendag, surplus perdagangan yang tinggi akan berdampak semakin positif bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di triwulan II 2022.

    “Bila dibandingkan dengan tahun lalu, neraca perdagangan tahun ini diperkirakan jauh lebih baik,” ungkapnya.

    Ekspor Seluruh Sektor Meningkat Ekspor Indonesia pada Mei 2022 tercatat sebesar USD 21,51 miliar atau tumbuh 27 persen dibanding Mei 2021 (year-on-year/yoy). Ekspor migas dan nonmigas sama-sama mengalami pertumbuhan yang tinggi, masing-masing 54,49 persen (yoy) dan 25,34 persen (yoy).

    [irp]

    Nilai ekspor menguat seiring peningkatan permintaan akibat kekhawatiran pasokan dunia terganggu pasca-invasi Rusia ke Ukraina dan peningkatan harga komoditas ekspor unggulan dibanding Mei 2021.

    Selain itu, ekspor seluruh sektor pada Mei 2022 juga menguat jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sektor pertambangan menjadi sektor andalan dengan tingkat pertumbuhan tertinggi sebesar 114,2 persen (yoy), disusul sektor migas 54,5 persen (yoy), dan sektor pertanian 20,32 persen (yoy). Kualitas ekspor Indonesia juga membaik.

    Hal ini terlihat dari semakin membaiknya pertumbuhan ekspor industri pengolahan sebesar 7,78 persen (yoy). Perbaikan ekspor ini ditopang produk-produk yang bernilai tambah tinggi, seperti kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89); nikel dan produknya (HS 75); serta bahan kimia anorganik (HS 28).

    Zulkifli Hasan
    Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. (Foto:Pelopor.id/Humas Kemendag)

    “Untuk memacu ekspor bernilai tambah tinggi, Kementerian Perdagangan terus berupaya mengakselerasi program transformasi perdagangan yang berfokus pada peningkatan ekspor non-komoditas dan digitalisasi perdagangan,” tegas Zulhas.

    Pada Mei 2022, ekspor nonmigas Indonesia menunjukkan penguatan pada sebagian besar negara mitra dagang utama. Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi secara tahunan (yoy) terjadi ke Senegal yang mencapai 880,35 persen, kemudian ke India (166 persen).

    Selanjutnya Polandia (106,02 persen), Belgia (88,83 persen), dan Korea Selatan (67,6 persen). Ditinjau dari kawasan, kenaikan ekspor terbesar terjadi pada ekspor ke Asia Tengah yang tumbuh 332,6 persen, diikuti Asia Selatan (79,59 persen), dan Afrika Barat (77,02 persen).

    [irp]

    “Jalinan kerja sama perdagangan dengan negara-negara dan kawasan yang sedang bertumbuh serta pemanfaatan momentum Presidensi G20 merupakan upaya Indonesia dalam mendiversifikasi dan memperluas akses pasar bagi Indonesia,” sebut Mendag.

    Secara kumulatif, ekspor Januari-Mei 2022 mencapai USD 114,97 miliar atau naik 36,34 persen dari tahun lalu. Kenaikan nilai ekspor tersebut didorong kenaikan ekspor migas sebesar 35,94 persen dan nonmigas 36,36 persen. Nilai Impor Mei 2022 Naik Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Mei 2022 tercatat USD 18,61 miliar atau tumbuh 30,74 persen (yoy).

    Secara tahunan, impor migas dan nonmigas masih tumbuh pesat sebesar 62,65 persen dan 25,33 persen pada Mei 2022. Berdasarkan penggunaannya, komposisi utama impor pada Mei 2022 masih didominasi impor bahan baku/penolong dengan pangsa 78,77 persen yang meningkat 33,95 persen (yoy).

    [irp]

    Diikuti impor barang modal dengan porsi mencapai 13,09 persen yang mengalami pertumbuhan 29,19 persen (yoy). Selain itu, impor barang konsumsi tercatat hanya mencapai 8,14 persen dari total impor dengan pertumbuhan 7,83 persen (yoy).

    Dominasi dan kenaikan impor bahan baku menunjukkan impor Indonesia ditujukan untuk aktivitas produktif guna mendorong produksi nasional, sementara kenaikan pada barang modal menunjukkan perusahaan manufaktur terus mendorong ekspansi usaha.

    Peningkatan impor barang konsumsi mengindikasikan pulihnya daya beli masyarakat seiring dengan membaiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tumbuh dari 104,4 pada Mei 2021 menjadi 128,9 di Mei 2022.

    [irp]

    Di tengah pembatasan ekspor pupuk oleh sejumlah negara seperti Rusia, Tiongkok, Vietnam, dan Kirgistan, impor pupuk (HS 31) Indonesia pada Mei 2022 masih mengalami kenaikan 93,55 persen (yoy).

    Selain pupuk, produk dengan kenaikan impor terbesar di antaranya perhiasan (HS 71) naik 153,27 persen (yoy), daging hewan (HS 02) 93,55 persen (yoy), gula dan kembang gula (HS 17) 83,38 persen (yoy), serta batu bara (HS 27) 76,95 persen (yoy).

    “Mencermati ketidakpastian geopolitik akibat konflik Rusia-Ukraina, tekanan harga komoditas pangan maupun energi, dan gangguan rantai pasok global, Kementerian Perdagangan akan terus berkoordinasi dengan kementerian/lembaga pemerintahan (K/L) terkait. Langkah itu dilakukan guna menjaga ketersediaan pasokan pangan nasional dan stabilitas harga di dalam negeri serta menjaga inflasi di tingkat wajar,” tandas Zulhas. []

    [irp]

  • Neraca Perdagangan Mei 2022 Surplus US$ 2,89 Miliar

    Jakarta – Neraca perdagangan Indonesia terus melanjutkan tren surplus pada Mei 2022 dengan nilai mencapai US$2,89 miliar. Tren surplus ini, telah dialami sejak Mei 2020 atau tepatnya selama 25 bulan secara berturut-turut.

    “Kinerja neraca perdagangan yang kembali mencatatkan nilai surplus perlu disyukuri. Ini menjadi modal dan amunisi yang ampuh dalam menopang ketahanan sektor eksternal di tengah pemulihan ekonomi yang masih berlangsung,” tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Jakarta dikutip Kamis, (16/06/2022).

    Menurut Menko Airlangga, salah satu langkah mempertahankan surplus neraca perdagangan dengan terus berupaya mendorong ekspansi pasar ekspor ke berbagai negara. Adapun pada Mei 2022, negara tujuan ekspor Indonesia yang terbesar adalah Tiongkok dengan nilai US$4,59 miliar atau 22,95% dari total ekspor, diikuti India sebesar US$2,26 miliar (11,27%), dan Amerika Serikat sebesar US$2,05 miliar (10,26%).

    “Jalinan kerja sama bilateral maupun multilateral akan terus diperkuat Pemerintah untuk memperluas akses pasar produk-produk berkualitas hasil karya anak negeri. Termasuk Forum G20 dan berbagai forum kerja sama internasional lainnya akan menjadi media yang terus dioptimalkan untuk mencapai tujuan tersebut,” ungkap Menko Airlangga.

    Surplus neraca perdagangan yang terus terjaga tentunya didukung kinerja ekspor yang semakin tangguh. Pada Mei 2022, nilai ekspor Indonesia mencapai US$21,51 miliar atau tumbuh double digit sebesar 27,00% (yoy). Seluruh sektor non migas juga menguat jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, seperti sektor pertambangan dengan kenaikan sebesar 114,20% (yoy), pertanian meningkat sebesar 20,32% (yoy), dan industri pengolahan dengan pertumbuhan sebesar 7,78% (yoy).

    Bahkan nilai ekspor Indonesia secara kumulatif selama periode Januari hingga Mei 2022 telah mencapai US$114,97 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 36,34% (ctc). Di samping itu, struktur ekspor Indonesia yang didominasi oleh sektor industri sebesar 65,73% juga mengindikasikan prospek yang sehat pada kinerja perdagangan ke depan dengan nilai tambah tinggi.

    [irp]

    “Untuk memacu nilai tambah ekspor, akselerasi program hilirisasi komoditas unggulan akan terus dipercepat. Program ini nantinya tidak hanya akan mendorong output nasional namun juga akan menyerap tenaga kerja sebesar-besarnya,” tegas Menko Airlangga.

    Sejalan dengan itu, posisi PMI Manufaktur Indonesia yang menunjukkan prospek output produksi sektor industri juga berada di level ekspansif pada Mei 2022 dengan nilai 50,8 atau melanjutkan level ekspansif selama sembilan bulan berturut-turut. Level PMI Indonesia tersebut juga masih berada di atas level PMI negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (50,1) dan Myanmar (49,9).

    Airlangga Hartarto
    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenko Ekon)

    Hasil survei PMI Manufaktur yang diterbitkan oleh S&P Global ini juga menunjukkan bahwa responden manufaktur Indonesia berekspektasi positif terhadap kinerja perekonomian selama 12 bulan ke depan, sehingga akan terus menambah kapasitas produksi mereka.
    Beralih dari nilai ekspor, sisi impor Mei 2022 tercatat sebesar US$18,61 miliar. Jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya, nilai impor telah meningkat sebesar 30,74% (yoy).

    Sokongan utama impor berasal dari kelompok bahan baku/penolong dengan porsi 78,77% dari total impor, disusul barang modal (13,09%), dan barang konsumsi (8,14%). Kondisi ini menunjukkan geliat produksi nasional semakin bertumbuh sehingga membutuhkan input bahan baku lebih besar.

    [irp]

    Mencermati dinamika global yang masih akan penuh tantangan di masa depan, bersinergi dengan Bank Indonesia, Pemerintah akan mengoptimalkan pemanfaatan Local Currency Settlement (LCS) sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko eksternal.

    Untuk merealisasikan upaya tersebut, pada hari ini Bank Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan, KADIN, APINDO, dan Asosiasi Bank ACCD telah melaksanakan launching Task Force Nasional LCS sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi dalam mengakselerasi pengembangan LCS. []

    [irp]

    INAYA UMPAN PANCING

  • Neraca Perdagangan RI Surplus USD 35,34 Miliar, Tertinggi Dalam 15 Tahun

    peloporberita.com/ | Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar USD 35,34 miliar sepanjang 2021. Angka ini menjadi rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir, atau sejak 2006 yang saat itu surplus mencapai USD 39,37 miliar.

    “Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dikutip dari laman Kemenko Ekon, Selasa (18/01/2022).

    Airlangga optimistis kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga makin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut pada tahun ini.

    Kinerja surplus tahun 2021 ditopang dari nilai ekspor yang mencapai USD 231,54 miliar, atau tumbuh 41,88 persen secara year-on-year (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan, seperti turunan produk crude palm oil (CPO), berhasil mendorong performa ekspor Indonesia.

    Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia, dengan pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) sebesar 58,89 persen (yoy) menjadi USD 1,28 miliar.

    Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada 2021 juga meningkat 38,59 persen (yoy), menjadi USD 196,20 miliar. Pencapaian itu antara lain disumbang oleh impor golongan bahan baku dan penolong, serta impor barang modal dan barang konsumsi.

    “Kinerja positif di 2021 ini akan terus dipertahankan pemerintah dengan mengoptimalkan berbagai kebijakan, terutama dalam mendorong semakin banyaknya ekspor komoditas bernilai tambah,” kata Airlangga. []

    Baca juga: Tertinggi Sepanjang Sejarah, Surplus Neraca Perdagangan Oktober 2021 Cetak Rekor Baru

  • Tertinggi Sepanjang Sejarah, Surplus Neraca Perdagangan Oktober 2021 Cetak Rekor Baru

    peloporberita.com/ -Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan, Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada Oktober 2021 sebesar 5,73 miliar Dolar Amerika Serikat (AS). Surplus tersebut ditopang surplus neraca nonmigas sebesar 6,61 miliar Dolar AS dan defisit neraca migas sebesar 0,87 miliar Dolar AS.

    Secara akumulatif lanjut Mendag, surplus neraca perdagangan periode Januari hingga Oktober 2021 mencapai 30,81 miliar Dolar AS. Nilai ini jauh lebih besar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan terbesar sejak 2012 atau sepanjang 10 tahun terakhir.

    “Jika surplus perdagangan terus konsisten pada triwulan IV-2021, maka tahun ini Indonesia akan mendapatkan surplus terbesar pertama kali dalam sejarah.”

    “Surplus perdagangan Oktober 2021 ini melanjutkan tren surplus secara beruntun sejak Mei 2020 dan merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Penguatan neraca tersebut ditopang pertumbuhan ekspor yang tinggi, bahkan ekspor bulanan tertinggi sepanjang sejarah,” tuturnya Kamis (18/11/2021).

    Tiongkok, AS, dan Filipina merupakan negara mitra dagang Indonesia yang menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar dengan jumlah mencapai 3,67 miliar Dolar AS. Sementara negara mitra penyumbang defisit perdagangan terbesar yakni Australia, Singapura, dan Thailand dengan jumlah sebesar 1,13 miliar AS.

    Baca juga :

    “Jika surplus perdagangan terus konsisten pada triwulan IV-2021, maka tahun ini Indonesia akan mendapatkan surplus terbesar pertama kali dalam sejarah. Sepanjang Januari hingga Oktober 2021 surplus perdagangan sudah mencapai 30,81 miliar Dolar AS,” ungkap Mendag.

    Surplus perdagangan tersebut, secara kumulatif ditopang neraca nonmigas 40,08 miliar Dolar AS dan defisit migas 9,28 miliar Dolar AS. Adapun surplus perdagangan Januari-Oktober 2021 berdasarkan negara kontributornya, berasal dari AS dengan nilai 11,52 miliar Dolar AS, Filipina 5,86 miliar Dolar AS, dan India 4,76 miliar Dolar AS. []