Tag: SD

  • Dokter Penyuntik Vaksin Kosong ke Anak SD Ditetapkan Sebagai Tersangka

    peloporberita.com/ – Dokter berinisial G yang diduga melakukan penyuntikan vaksin kosong terhadap siswa sekolah dasar (SD) dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Medan Labuhan, Sumatera Utara, ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polda Sumatera Utara (Sumut).

    Kapolda Sumut Irjen. Pol. Panca Putra Simanjuntak mengatakan, penetapan tersangka itu setelah penyidik melakukan serangkaian pemeriksaan dan saat ini, proses hukum kasus tersebut sudah sampai pada tingkat penyidikan.

    “Kita sudah tetapkan satu tersangka yakni dokter G,” tuturnya pada Minggu, (30/1/2022).

    Sementara anak SD yang menjadi korban berinisial O, juga telah dilakukan pemeriksaan laboratorium dan hasil sementara tidak ada kandungan vaksin didalam tubuhnya.

    “Kita juga sudah memeriksa sejumlah saksi ahli. Memang tidak ditemukan kandungan vaksin didalam tubuh anak setelah divaksinkan,” ungkap Panca Putra.

    Menurutnya, sampai saat ini masih melakukan penyelidikan terkait vaksin kosong dan mendalami apakah penyuntikan tersebut kelalaian atau kesengajaan.

    “Baru satu tersangka yang ditetapkan yaitu dokter G sementara lainnya masih sebatas saksi. Kasus ini masih terus kita dalami,” tegasnya.

    Sebelumnya viral video yang menunjukkan vaksin kosong disuntikkan ke anak SD di Medan. Polisi pun turun tangan menyelidiki kasus ini. Sementara dokter G, yang melakukan suntikan vaksin kosong ke anak SD, meminta maaf serta mengaku khilaf atas peristiwa tersebut. []

  • Nadiem Makarim: PTM Terbatas Jaga Kesehatan Jiwa Anak

    peloporberita.com/ | Jakarta – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim kembali menegaskan potensi memudarnya capaian belajar (learning loss) dan memburuknya kesehatan psikis anak-anak Indonesia akan semakin besar jika pembelajaran jarak jauh (PJJ) terus berlangsung.

    “Banyak anak-anak kita yang kesepian dan trauma dengan situasi ini. Begitu juga dengan orang tuanya.”

    Untuk itu, pemerintah terus mendorong terselenggaranya pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat dan strategi pengendalian COVID-19 di sekolah.

    “[Anak-anak] kemungkinan besar kehilangan antara 0,8 sampai 1,2 tahun pembelajaran. Jadi seolah-olah satu generasi kehilangan hampir setahun pembelajaran di masa ini,” tutur  Nadiem, dikutip dari laman Kemendikbudristek, Rabu, 29 September 2021.

    Nadiem menambahkan, banyak anak-anak yang terdampak kesehatan jiwanya akibat pandemi.

    “Banyak anak-anak kita yang kesepian dan trauma dengan situasi ini. Begitu juga dengan orang tuanya,” ungkapnya.

    Mendikbudristek memaparkan, sejak 2020 pihaknya terus melakukan advokasi ke berbagai daerah yang telah dapat menggelar PTM terbatas untuk segera menyelenggarakan dengan persiapan yang matang dan sistem pengendalian yang baik.

    “Sudah 40 persen sekolah mulai tatap muka terbatas, tapi ini angkanya masih kecil. Kalau tidak mau makin ketinggalan, kita harus tatap muka dengan protokol kesehatan teraman yang bisa dilakukan,” sebutnya.

    Nadiem menyampaikan bahwa sekolah wajib memahami dan menaati panduan PTM terbatas yang tertuang di dalam Keputusan Bersama (SKB) Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019.

    “Kita harus terus waspada akan penyebaran COVID-19 dan memastikan protokol kesehatan tetap terjaga. Namun, kita juga harus memerhatikan dampak permanen PJJ yang mengkhawatirkan. Kebutuhan PTM sangat besar dan ini harus dimengerti. Sebanyak 80-85 persen murid-murid ingin kembali ke sekolah kembali tatap muka,” pungkasnya.[]

  • Selain Menjadi Tenaga Pendidik, Pratu Siregar Juga Sosialisasikan Prokes di SD Bakul

    peloporberita.com/ | Jakarta  – Pratu Siregar anggota Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 144/JY menjadi tenaga pendidik sambil sosialisasikan protokol kesehatan di SD Bakul Desa Labian Irang, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Hal ini disampaikan Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Letkol Inf Andri Suratman dalam rilis tertulisnya di pos Kotis Badau, Rabu (18/8/2021).

    “Harapannya, anak-anak generasi penerus bangsa bisa menjadi harapan bangsa di kemudian hari di tengah keterbatasan sarana prasarana sekolah serta kondisi yang terjadi saat ini.”

    Selain menjadi tenaga pengajar, Pratu Siregar juga menyosialisasikan protokol kesehatan kepada para siswa agar selalu menggunakan masker, mencuci tangan serta menjaga jarak di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

    “Pendidikan merupakan faktor utama yang sangat penting dalam menunjang kemajuan suatu bangsa, namun hal yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkan prokes di tengah pandemi yang belum berakhir untuk saling menjaga kesehatan, ” katanya.

    Lebih lanjut dikatakan Danyonif, keberadaan Pratu Siregar di sekolah untuk menjadi tenaga pendidik di SD Bakul mengajarkan matematika dan wawasan kebangsaan.

    “Harapannya, anak-anak generasi penerus bangsa bisa menjadi harapan bangsa di kemudian hari di tengah keterbatasan sarana prasarana sekolah serta kondisi yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

    Sementara itu, Pratu Siregar mengatakan keberadaan dirinya di wilayah perbatasan ini tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga warga di sini maupun anak-anak untuk mematuhi protokol kesehatan agar semuanya terhindar dari penyebaran Covid – 19.

    Di tempat terpisah, Kepala Sekolah SD Bakul, Bernande Talin menyatakan rasa terima kasihnya kepada personel Satgas yang bukan saja memberikan siswa-siswanya materi pelajaran dan wawasan kebangsaan, namun juga sosialisasi prokes untuk mendisiplinkan para siswa saling menjaga kesehatan agar terhindar dari Covid – 19.

    “Saya sangat senang dan berterima kasih sekali kepada Bapak Satgas yang telah membantu mengajar di sekolah kami dan memberikan banyak hal positif, termasuk mematuhi prokes, sehingga anak kami bisa bertambah wawasannya dan lebih berdisiplin,” tegas Bernande Talin. []