peloporberita.com/ – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar menyampaikan, Pemerintah perlu lebih giat lagi mensosialisasikan Wisata Halal kepada masyarakat agar kematian seekor anjing tidak lagi dikaitkan dengan Wisata Halal.
“Masalah sosialisasi mengenai apa dan bagaimana wisata halal, tentunya pemerintah. Karena pemerintah kan memerintah dan memberikan regulasi dan sekaligus memberikan keterangan. Tapi kan ga cukup, pemerintah juga harus kerjasama dengan ulama, sama pelaku bisnis pariwisata dan akademisi sehingga menjadi kesadaran kolektif,” tuturnya kepada peloporberita.com/, Rabu, 28 Oktober 2021.
“Jadi jangan cuma kasus anjing dengan Satpol PP trus jadi persoalan se Indonesia. Logis nggak? kan ga logis,”
Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) itu juga menegaskan, bahwa wisata halal disepakati sebagai tambahan pelayanan seperti ketersediaan fasilitas buat muslim traveller atau wisman-wisman (wisatawan mancanegara) muslim, bukan membuat halal destinasinya.
“Kontennya udah jelas, Pak Ma’ruf Amin juga sebagai ketua MUI dulu dan Pak Bambang Brodjonegoro dulu termasuk Pak Perry (Warjiyo), kita sepakat bahwa Wisata Halal itu adalah tambahan pelayanan bagi masyarakat Muslim yang jalan-jalan atau berwisata. Bukan menghalalkan atau membuat halal destinasi alias atraksinya,” tegas pria yang biasa disapa Prof Sapta ini.
Menurutnya, di negara-negara lain tidak pernah ada persoalan soal wisata halal. Contohnya di Malaysia dimana wisatawan yang datang untuk menikmati wisata halal di negara tersebut lebih besar jumlahnya, begitu pula di Thailand.
“Jadi jangan cuma kasus anjing dengan Satpol PP trus jadi persoalan se Indonesia. Logis nggak? kan ga logis,” tandas Sapta.[]
peloporberita.com/ | Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), baru saja menjalankan ritual Mandi Safar pada Rabu (06/10/2021). Mandi Safar adalah ritual yang dikenal dengan istilah ‘Rebo Bontong’ yang dilaksanakan rutin setiap tahun dibulan Safar (perhitungan kalender Islam). Ritual ini dipercaya akan membangkitkan pariwisata Lombok-Sumbawa, yang sebelumnya mati suri akibat pandemi Covid-19.
Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi ikut serta dalam ritual tradisi Rebo Bontong di Gili Meno. Ia menilai tradisi Rebo Bontong merupakan aset budaya masyarakat Lombok. Budaya ini, jika dikemas menarik bisa menjadi atraksi unik yang layak jual selama masa pemulihan pariwisata NTB.
Profil Yusron Hadi
Mari kita mengenal sosok Yusron Hadi, Putra Lombok yang membesarkan pariwisata NTB.
Yusron Hadi lahir di Lombok Timur, NTB, pada 11 Juni 1970. Ia memiliki seorang istri bernama Hj. Nurul Amalia dan seorang anak bernama Salsabila Rifda Afiya.
Yusron meraih gelar Sarjana Tehnik (ST) Perencanaan Wilayah dan Kota di Malang pada 1995. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan S2 dan mendapatkan gelar Master of Urban Management (MUM) University of Canberra, Australia, pada tahun 2001.
Tidak hanya pendidikan formal, Yusron sebagai seorang pengawai negeri sipil (PNS) juga menempuh pendidikan struktural, yaitu Diklat Pimpinan tingkat IV (2003), Diklat Pimpinan tingkat III (2011) dan Diklat Pimpinan tingkat II (2017).
Sebelum menjadi Kepala Dinas Pariwisata NTB, ia menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB (2019-2021), setelah menjadi Kepala Biro Organisasi Setda NTB ( 2017-2019).
Selama Yusron mengabdi sebagai PNS, cukup banyak pencapaian yang sudah ia raih, antara lain menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi NTB 2010-2030, memfasilitasi Juara 3 Nasional Anugerah Perencanaan Pembangunan Daerah bagi Provinsi skala menengah pada tahun 2013-2014, memfasilitasi Golden Award bagi Pemerintah Provinsi NTB dalam Pelayanan Publik dari Ombudsman RI 2018, dan memfasilitasi pembangunan Samsat Kapal Perikanan Provinsi NTB 2020.
Yusron Hadi juga aktif mengikuti pelatihan di luar negeri, beberapa di antaranya The Optimal Site for Kobold Turbine (ICS Unido Trieste Italy, 2007), Port Management and Planning (Bremen-Germany 2009), Global Geopark Network Conference (Torkey UK, 2016) dan Study visit Ningxia Province (China, 2017). []
peloporberita.com/ – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno akan segera melakukan konferensi Pers untuk mempromosikan Desa Wisata Tetebatu dalam ajang Best Tourism Village UNWTO.
Langkah ini merupakan saran dari Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) Sapta Nirwandar yang diungkapkan kepada peloporberita.com/, Rabu, 6 Oktober 2021.
“Desa wisata kita punya keunikan dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality.”
Dalam kesempatan itu, Sapta Nirwandar juga mengingatkan bahwa waktu yang dimiliki untuk mempromosikan Tetebatu tidak banyak, sebab pemenang dalam ajang internasional itu akan diumumkan antara tanggal 12 sampai 15 Oktober 2021 di Sidang Umum PBB.
Kolase foto Sapta Nirwandar dan Sandiaga Uno. (Foto:Pelopor.id/Ist)
Sapta Sendiri mengungkapkan bahwa desa-desa wisata di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Inilah yang bisa ditonjolkan agar bisa menang dalam lomba tersebut.
“Desa wisata kita punya keunikan dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality,” puji Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014.
Saat dihubungi peloporberita.com/ melalui pesan singkat terkait saran Sapta Nirwandar ini, Menparekraf menjawab “setuju”, dengan demikian tidak akan lama lagi akan diselenggarakan Konferensi Pers untuk mempromosikan desa wisata Tetebatu.
Tetebatu merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tetebatu dikenal pertama kali oleh masyarakat dunia berkat salah seorang wisatawan asal Belanda pada tahun 1965.
Bangunan tempat tinggal wisatawan Belanda itu di Tetebatu kemudian menjadi tonggak berdirinya puluhan homestay lainnya di sekitar desa tersebut,
Tempat tinggal yang disebut Pondok Soejono itu, menjadi motivasi pertama masyarakat desa mengembangkan Tetebatu menjadi desa wisata. Tetebatu, juga kini menjadi pusat akomodasi wisatawan asing yang singgah di Lombok Timur. []
Pelopor,id – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Sapta Nirwandar, menyarankan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno untuk membuat Pers Conference untuk mempromosikan desa-desa wisata yang mengikuti World Best Tourism Villages UNWTO. Salah satu desa wisata yang mewakili Indonesia dalam ajang itu adalah Tetebatu di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Jadi pariwisata itu bisa memberikan kebanggaan kepada masyarakat. Disamping kita bangga juga kalo ke desa Tetebatu itu, oh….. indah banget, oh….. keren.”
Pasalnya waktu yang dimiliki untuk mempromosikan Tetebatu tidak banyak, sebab pemenang dalam ajang internasional itu akan diumumkan antara tanggal 12 sampai 15 Oktober 2021 di Sidang Umum PBB.
Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar.(Foto:Pelopor.id/Ist)
Saran ini dikemukakan Sapta lantaran menurutnya desa wisata Indonesia punya keunikan yang bisa menang dalam lomba tersebut.
“Desa wisata kita punya ke ungkap dan kekhasan. Karena campuran alam, budaya, dan juga hospitality,” tutur Sapta Nirwandar dalam wawancara dengan peloporberita.com/, Rabu, 6 Oktober 2021.
Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) ini, juga mengungkapkan bahwa sebelumnya Banyuwangi pernah memenangkan penghargaan sejenis yang diselenggarakan oleh UNWTO. Kala itu Banyuwangi menyabet gelar sebagai “The Winner of Re-Inventing Government in Tourism” dalam kategori UNWTO Awards for Innovation in Public Policy Governance atau Inovasi Kebijakan Publik dan Tata Kelola Pemerintahan.
“Banyuwangi dulu menang, dapat award dan dapat uang untuk promosi,” sebutnya.
Sapta Nirwandar juga menegaskan, dengan mengikuti lomba global desa wisata dapat memberikan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat, apalagi apabila Tetebatu bisa keluar sebagai pemenangnya.
“Jadi pariwisata itu bisa memberikan kebanggaan kepada masyarakat. Disamping kita bangga juga kalo ke desa Tetebatu itu, oh….. indah banget, oh….. keren,” tandas Sapta. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar mengatakan, aturan wajib karantina selama 8 hari bagi wisatawan mancanegara akan mengurangi minat masyarakat Internasional untuk menonton event World Superbike (WSBK) yang hanya berlangsung 3 hari mulai 19 sampai 21 November 2021 di Sirkuit Mandalika-Lombok Tengah.
“Siapa yang mau acaranya 3 hari di karantina 8 hari apalagi dengan biaya sendiri,” tuturnya saat diwawancarai, peloporberita.com/ Rabu, 6 Oktober 2021.
“Terus ada yang kayak Turki, itu yang penting sudah PCR, sudah vaksin ya masuk. Kecuali kalau di tes dia positif ya di karantina.”
Menurut Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), aturan karantina selama 8 hari memang yang menjadi tantangan.
“Indonesia kenapa ngambil 8 hari, alasannya supaya aman, tapi memang betul setiap orang yang conference 3 hari kan nggak mungkin dia karantina 8 hari. Kan berarti dia harus stay 11 hari,” ungkapnya.
Meski demikian, Sapta mengakui bahwa dirinya bukan dokter dan tidak memiliki kompetensi di bidang kesehatan. Tetapi, bila dibandingkan dengan beberapa negara memang waktu 8 hari agak lama. Adapun di sejumlah negara, karantina hanya dilakukan selama 3 hari seperti Kanada apabila yang bersangkutan sudah divaksin serta di tes PCR.
“Kalau vaksinnya jenis tertentu, itu ga pakai karantina. Terus ada yang kayak Turki, itu yang penting sudah PCR, sudah vaksin ya masuk. Kecuali kalau di tes dia positif ya di karantina.
Sapta berpendapat, aturan karantina selama 8 hari ini menghambat atau mengurangi wisatawan datang ke Indonesia. Apalagi kalau setelah mereka pulang harus dikenakan lagi karantina yang sama di negaranya seperti Australia.
“Tapi kalo pragmatic seperti Turki, Kanada, Amerika Serikat bahkan juga ada beberapa negara itu relatif pendek dan kedua dia kalo sudah vaksin dan PCR dia bebasin,” pungkasnya.
Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)
Sementara dalam wawancara terpisah, Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi menilai, aturan karantina 8 hari yang diberlakukan pemerintah untuk wisatawan internasional tidak relevan. Sebab pelaksanaan event World Superbike WSBK hanya berlangsung 3 hari saja.
“Dengan adanya PCR, saya rasa itu sudah menjadi jaminan bahwa protokol kesehatan itu sudah dilaksanakan. Kembali, ketentuan tentang karantina 8 hari harus ditinjau ulang,” sebut TR panggilan akrabnya.
Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi. (Foto:Pelopor.id/Tribun)
Harapan yang sama juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata NTB Yusron Hadi. Ia berharap kebijakan itu bisa ditinjau kembali. Karena pada prinsipnya, tingkat vaksinasi oleh Pemerintah Provinsi TNI-Polri dan sebagainya sudah menunjukkan hasil yang bagus.
“Vaksin pada hari ini di Lombok Tengah sudah 70% lebih. Kemudian Mataram sudah 80%,” sebut Yusron. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Chairman of Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar mengungkapkan, kepercayaan masyarakat internasional terhadap Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman menjadi dasar terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah Annual Meeting Global Tourism Forum (GTF) 2021. Ia pun berharap, pergelaran acara ini dapat memulihkan perekonomian, khususnya sektor parekraf Indonesia.
“Kita harap event ini bisa menghidupkan MICE meski hybrid. MICE ini penting karena dampak ekonominya cukup besar.”
Global Tourism Forum – Leaders Summit Asia 2021, diselenggarakan di Hotel Raffles Jakarta, pada 15-16 September 2021 dengan menghadirkan 49 pembicara internasional dan 22 pembicara dari Indonesia.
“Kita harap event ini bisa menghidupkan MICE meski hybrid. MICE ini penting karena dampak ekonominya cukup besar. Mudah-mudahan ini juga menjadi komitmen bangkitkan pariwisata Indonesia,” ungkap Sapta dalam Virtual Press Conference Global Tourism Forum – Leaders’ Summit Asia, Selasa, 14 September 2021.
Global Tourism Forum (GTF), merupakan brand dari World Tourism Forum Institute (WTFI) sekaligus kolaborasi platform yang difokuskan pada tantangan-tantangan yang dihadapi industri pariwisata dan perjalanan.
Global Tourism Forum, memainkan peranan penting dalam menarik investasi langsung ke dalam negeri. Karena itu, gelaran ini dinilai penting terutama dalam masa sulit seperti pandemi COVID-19 saat ini yang memberikan dampak besar terhadap sektor pariwisata.
Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia, akan dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin. Event ini juga akan dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno,
Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pengembangan Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria dan lainnya.
Pembicara Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia. (Foto: peloporberita.com/Ist)
Menparekraf Sandiaga Uno dalam kesempatan yang sama mengatakan, pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan tidak lepas dari peran kolaborasi antara Indonesia Tourism Forum (ITF) dan World Tourism Institute.
“Selamat kepada Pak Sapta Nirwandar (Chairman Indonesia Tourism Forum) dan tim untuk pencapaiannya dalam menyelenggarakan acara ini sekalipun saat ini kita tengah berada dalam situasi pandemi,” sebut Menparekraf.
“Semoga Global Tourism Forum dapat memberikan efek positif bagi perekonomian indonesia dengan tetap mematuhi protokol CHSE (Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan),” tambahnya. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar mengungkapkan, Event Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia akan diselenggarakan secara hybrid di Hotel Raffles, Jakarta tanggal 15-16 September 2021. ITF sendiri, merupakan organisasi yang terafiliasi dengan World Tourism Forum Institute (WTFI) yang diketuai oleh Bulut Bagci.
Dalam acara yang dijadwalkan akan dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin itu, akan dibahas Global Halal Tourism pada hari kedua penyelenggaraan dengan narasumber dari DinarStandard yakni perusahaan penelitian strategi pertumbuhan dan advisory yang mengkhususkan diri dalam ekonomi Islam global, juga narasumber dari Kanada dan Korea Selatan.
“Kegiatan secara hybrid di Hotel Raffles, Jakarta 15-16 September 2021 ini pada hari kedua jam 09.00- 10.00 WIB adalah sesi khusus mengenai Global Halal Tourism,” tutur Sapta Nirwandar dikutip dari bisniswisata Selasa, 7 September 2021.
Selain akan dibuka oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Event Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia juga akan dihadiri oleh sejumlah tokoh Seperti Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno, Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pengembangan Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria dan lainnya.
Menurutnya, pandemi global Covid-19 telah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan gaya hidup (lifestyle) halal sehingga Indonesia bisa belajar dari negara-negara yang telah mengembangkan Halal Tourism meskipun mereka bukan negara dengan penduduk mayoritas Muslim.
”Global Halal Tourism narasumbernya tingkat dunia karena perkembangan halal tourism bukan hanya dibutuhkan di Indonesia tetapi jadi trend global,” ungkap Sapta Nirwandar yang sekaligus menjabat sebagai Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC).
Pembicara Global Tourism Forum, Leaders Summit Asia. (Foto: peloporberita.com/Ist)
Sapta Nirwandar menjelaskan, secara umum wisata halal adalah bagian dari industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanannya pun merujuk pada aturan-aturan Islam. Kehadiran wisata halal, mengacu pada aturan hidup ummat Islam, baik di sisi adab mengadakan perjalanan, menentukan tujuan wisata, akomodasi, hingga makanan.
“Halal tourism identik dengan kuliner sehat dan halal, waktu sholat yang terjaga dan bukan urusan indonesia saja tapi urusan global sehingga dengan para pembicara internasional ini kita bisa saling berbagi informasi ” ucapnya.
Sapta Nirwandar juga menyampaikan, jika berbicara mengenai wisata halal, maka sebelumnya Wakil Presiden KH.Ma’ruf Amin pernah menegaskan bahwa yang dihalalkan bukanlah destinasi atau tempat tujuan wisatanya, melainkan pelayanannya. Termasuk di dalamnya hotel, restoran dan spa pun harus syariah.
Adapun pengeluaran Muslim di sektor perjalanan pada 2019 atau sebelum Covid, naik 2,7% dari US$189 milar menjadi US$194 miliar. Meski demikian, DinarStandar memprediksi kondisi ini akan pulih ke tingkat 2019 tahun 2023 dan berada di angka US$195 miliar.
“Apalagi perusahaan perjalanan dunia memanfaatkan jeda waktu akibat pandemi dengan kegiatan untuk meningkatkan tekhnologi terutama dengan kecerdasan buatan (AI) sehingga lebih memudahkan konsumen dalam melakukan transaksi dan perjalanan terutama ke negara-negara Muslim Friendly,” tegas Sapta.
Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF), Sapta Nirwandar.(Foto:Pelopor.id/Ist)
Tekhnologi AI tersebut, menurut Sapta, sudah dikembangkan oleh online HalalTravels yang berbasis di London dan HalalBooking.com yang mengembangkan tekhnologi pemetaan data lewat kemitraan dengan Expedia.
Selanjutnya, ia berharap Reem El Shafaki, Partner/Lead of Travel & Tourism Sector DinarStandar, Dr Hamid Slimi, Conference Advisory Chairman Halal Expo Canada serta Dr James Noh, Co-founder & Direcfor General of the Korea Institute of Halal Industry (KIHI) dapat memberikan pencerahan bagi peserta event hybrid yang melibatkan 101 pembicara nasional dan internasional.
“Sehingga dengan demikian kita dapat mengembalikan kunjungan wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia,” tandas Sapta. []