Tag: Radikal

  • Pengamat Intelijen: Waspadai Pergerakan Kelompok Radikal di Masa Arus Mudik dan Arus Balik

    Jakarta – Pengamat intelijen, pertahanan, dan keamanan, Ngasiman Djoyonegoro menilai, pergerakan kelompok radikal pada momentum mudik tinggi lantaran longgarnya pengawasan akibat tingginya intensitas mobilisasi manusia sepanjang arus mudik dan arus balik.

    Menurutnya, fokus Polri tentu lebih diprioritaskan kepada pengamanan perjalanan. Oleh sebab itu, dia mengimbau seluruh jajaran yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan pertahanan nasional untuk tetap waspada dan saling bersinergi.

    Ngasiman menegaskan, bahwa pergerakan kelompok radikal harus juga menjadi prioritas di masa arus mudik dan arus balik, sehingga Polri, TNI, dan Pemerintah daerah harus lebih peduli, waspada, dan menerapkan sistem deteksi dini.

    Selain itu, lanjut Ngasiman, Pemerintah juga harus waspada terhadap potensi lonjakan penyebaran virus covid-19.

    Meski kemungkinannya kecil, sebab potensi masalah tersebut harus tetap dipantau sehingga Pemerintah dapat mengambil tindakan jika ada indikasi lonjakan Covod-19.

    Keberhasilan pengelolaan arus mudik sendiri, menjadi awal kebangkitan bangsa dari dampak pandemi Covid-19, disusul dengan terjadinya inflasi.

    “Saya yakin, ke depan kita akan mampu menghadapi situasi yang berkembang dengan lebih optimis,” tandasnya. []

    Sumber : Tribrata Polri

  • Ciri-Ciri Pencemarah Radikal Menurut BNPT

    peloporberita.com/ – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakhid mengatakan, radikalisme merupakan sebuah proses tahapan menuju terorisme yang selalu memanipulasi dan mempolitisasi agama.

    Nurwakhid menyampaikan, untuk mengetahui penceramah radikal bisa melalui 5 indikator yang bisa dilihat dari isi materi yang disampaikan, bukan dari tampilan si penceramah.

    “Mengenali ciri-ciri penceramah jangan terjebak pada tampilan, tetapi isi ceramah dan cara pandang mereka dalam melihat persoalan keagamaan yang selalu dibenturkan dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan, dan keragaman,” tuturnya Sabtu, (05/03/2022)

    Adapun 5 indikator itu adalah sebagai berikut.

    1. Mengajarkan ajaran yang anti-Pancasila dan pro ideologi khilafah transnasional.

    2. Mengajarkan paham takfiri yang mengkafirkan pihak lain yang berbeda paham maupun berbeda agama.

    3. Menanamkan sikap antipemimpin atau pemerintahan yang sah, dengan sikap membenci dan membangun ketidakpercayaan (distrust) masyarakat terhadap pemerintahan maupun negara melalui propaganda fitnah, adu domba, ujaran kebencian (hate speech), dan sebaran hoaks.

    4. Memiliki sikap eksklusif terhadap lingkungan maupun perubahan serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman (pluralitas).

    5. Biasanya memiliki pandangan antibudaya ataupun antikearifaan lokal keagamaan.

    Nurwakhid juga menerangkan, strategi kelompok radikalisme memang bertujuan untuk menghancurkan Indonesia melalui berbagai strategi yang menanamkan doktrin dan narasi ke tengah masyarakat.

    “Ada tiga strategi yang dilakukan oleh kelompok radikalisme. Pertama, mengaburkan, menghilang bahkan menyesatkan sejarah bangsa. Kedua, menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Ketiga, mengadu domba di antara anak bangsa dengan pandangan intoleransi dan isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan),” tegas Nurwakhid.

    Strategi tersebut, dilakukan dengan mempolitisasi agama yang digunakan untuk membenturkan agama dengan nasionalisme dan agama dengan kebudayaan luhur bangsa. Proses penanamannya dilakukan secara masif di berbagai sektor kehidupan masyarakat, termasuk melalui penceramah radikal tersebut.

    “Inilah yang harus menjadi kewaspadaan kita bersama dan sejak awal untuk memutus penyebaran infiltrasi radikalisme ini salah satunya adalah jangan asal pilih undang penceramah radikal ke ruang-ruang edukasi keagamaan masyarakat,” tandasnya. []