Tag: Pesawat

  • Kembali Bermasalah, Boeing 737 MAX Hampir Celaka di India

    peloporberita.com/ | Otoritas Penerbangan India saat ini sedang melakukan investigasi terhadap masalah pesawat Boeing 737 MAX, yang hampir mengalami kecelakaan setelah mengudara.

    Pesawat tersebut dioperasikan oleh maskapai SpiceJet, dengan rute saat itu adalah Mumbai-Kolkata dan nomor penerbangan 467. Akibat mengalami masalah teknis, pilot SpiceJet harus mematikan salah satu mesinnya hingga pesawat Boeing 737 MAX bisa mendarat dengan selamat.

    “Laporan menyebutkan adanya lampu indikator filter oli yang terus menyala di kokpit,” ujar Direktur Jenderal Otoritas Penerbangan India Arun Kumar, seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (13/12/2021).

    Menurut data Bloomberg, mesin pesawat Boeing 737 MAX diproduksi oleh CFM International, yang merupakan joint venture antara General Electric dan perusahaan Prancis, Safran. Otoritas Penerbangan India juga telah meminta informasi tambahan dari Boeing dan CFM International terkait insiden tersebut.

    Diduga, insiden yang dialami pesawat ini tidak berkaitan dengan software otomatis Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) yang sempat bermasalah dan mengakibatkan jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines beberapa tahun lalu.

    Maskapai SpiceJet sendiri diketahui memiliki 13 armada Boeing 737 MAX dan masih akan memesan 205 unit lagi di masa depan. []

    Baca juga: Boeing 737 Max Kantongi Izin Terbang Kembali dari China

  • Boeing 737 Max Kantongi Izin Terbang Kembali dari China

    peloporberita.com/ | Otoritas Penerbangan Sipil China atau Civil Aviation Administration of China (CAAC) telah mengeluarkan izin terbang kembali untuk armada Boeing 737 Max mulai tahun 2022. Izin tersebut diberikan setelah Boeing melakukan pembaruan, termasuk piranti lunak baru untuk mengatasi kekurangan dan memperbarui manual penerbangan.

    Terbitnya izin itu juga menjadi jalan untuk pengiriman lebih dari 100 armada MAX ke sejumlah maskapai China yang diproduksi selama dua tahun terakhir. Keputusan ini pun membuat harga saham Boeing melonjak 7,5 persen ke US$202,38 pada hari perdagangan kemarin waktu setempat.

    Sebelumnya, Boeing dan pihak otoritas China telah melakukan negosiasi selama berbulan-bulan untuk mendapatkan izin tersebut, seperti dikutip dari AFP, Jumat (03/12/2021).

    Dengan keluarnya izin dari China, maka sudah ada lebih dari 180 negara yang memberikan izin terbang bagi pesawat Boeing 737 Max, termasuk Amerika Serikat.

    Sebagai informasi, pesawat Boeing 737 MAX dilarang terbang sejak Maret 2019, setelah terjadi dua insiden fatal yang melibatkan dua maskapai dalam waktu kurang dari lima bulan.

    Pada Oktober 2018, pesawat Lion Air JT 610 yang menggunakan Boeing 737 MAX 8, jatuh di Tanjung Pakis, Karawang, dan menewaskan 189 orang. Kemudian, pada Maret 2019, pesawat Ethiopian Airlines ET 302 jatuh di dekat Kota Bishoftu, hanya enam menit setelah lepas landas dari Bandara Addis Ababa dan menewaskan 157 orang. []

    Baca juga: Maskapai Baru Super Air Jet Segera Terbang Perdana ke 6 Destinasi Favorit Indonesia

  • Pramugarinya Ditonjok Penumpang, Pesawat Amerika Airlines Mendarat Darurat

    peloporberita.com/ – Seorang penumpang pria di pesawat American Airlines menonjok pramugari hingga hidungnya patah. Sehingga pesawat yang terbang dari Queens, New York City menuju California itu harus mendarat darurat di Bandara Denver, Colorado, Amerika Serikat.

    “Penumpang itu tidak akan pernah diizinkan untuk bepergian dengan American Airlines lagi, tetapi kami tidak puas sampai dia dituntut secara hukum sepenuhnya.”

    Pesawat dengan nomor penerbangan 976 itu, berangkat pada Rabu malam dari Bandara Kennedy menuju Bandara John Wayne di Santa Ana, pada Rabu malam sekitar jam 17.00.  Pesawat kemudian mendarat darurat di Denver pukul 18.43 waktu setempat, karena dalam penerbangan ada penumpang menyerang pramugari. Tersangka langsung ditangkap polisi ketika pesawat mendarat.

    “Penumpang itu tidak akan pernah diizinkan untuk bepergian dengan American Airlines lagi, tetapi kami tidak puas sampai dia dituntut secara hukum sepenuhnya. Kami bersama pramugari yang terluka dan memastikan dia serta rekan-rekannya mendapat dukungan yang dibutuhkan saat ini,” tutur pihak maskapai dikutip dari New York Post, Sabtu, 30 Oktober 2021.

    Bukan kali ini saja, penyerangan brutal terjadi terhadap pramugari di pesawat. Mei 2021 lalu, seorang awak kabin maskapai Southwest Airlines juga diserang oleh penumpang hingga mengalami luka di wajah dan kehilangan dua giginya.

    Pelakunya Vyvianna Quinonez langsung ditangkap dan dituntut hukuman pidana. Selama Pandemi Covid-19 Insiden kekerasan dan penumpang nakal dalam penerbangan dilaporkan meningkat selama pandemi COVID-19. Paling banyak adalah terkait pelanggaran aturan memakai masker. []

  • Harga Tes PCR Jadi Rp 300 Ribu, ASITA: Kalau Bisa Lebih Rendah Lagi

    peloporberita.com/ | Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan kepada para menterinya supaya harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu dan berlaku selama 3×24 jam untuk perjalanan pesawat.

    Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Artha Hanif mengapresiasi hal tersebut. “Ya itu bagus, pemerintah mesti selalu hadir disetiap persoalan rakyat ini. Bahkan kalau bisa lebih rendah lagi (harga tes PCR),” katanya dalam wawancara lewat telepon bersama peloporberita.com/, Selasa (26/10/2021).

    Sejatinya, ia mengaku bingung mengapa tes PCR harus menjadi salah satu syarat bagi calon penumpang pesawat. Menurut Artha, selama calon penumpang sudah menerima vaksin Covid-19 sebanyak dua dosis, semestinya sudah dianggap aman.

    Baca juga: Luhut Pandjaitan: Presiden Minta Harga PCR Turun Jadi Rp 300 Ribu

    “Apa sih bedanya, misalnya seorang yang lengkap (menerima vaksin Covid-19) dan kemudian datang ke suatu kementerian untuk rapat, apalagi rapatnya juga cukup padat, dan mereka hanya melalui satu proses tahapan dibaca barcodenya (dalam aplikasi PeduliLindungi), dianggap sudah cukup, termasuk kita datang ke beberapa tempat lain, termasuk mal, prosesnya begitu. Tapi kenapa untuk pesawat harus pakai PCR?” ujar Artha.

    Artha juga mempertanyakan sebenarnya berapa biaya yang dibutuhkan dalam melakukan tes PCR. Mengingat, harga tes PCR di Indonesia sempat terbilang sangat tinggi, yaitu berkisar Rp 900 ribu – Rp 1,2 juta sejak awal pandemi Maret 2020 dan terus turun hingga sekarang berkisar Rp 500 ribu.

    “Kalau melihat begitu dinamisnya harga PCR itu, saya malah berpikir ini ada apa? Jadi, sebenarnya sejak dulu sampai sekarang biaya yang real PCR itu berapa sih? Itu satu persoalan,” tanya Artha.

    Baca juga: Trubus Rahadiansyah Menduga Ada Pihak yang Diuntungkan dari Kebijakan Naik Pesawat Wajib PCR

    Artha juga yakin ada pihak-pihak tertentu yang mendapatkan manfaat dari kebijakan ini, bukan maksudnya diuntungkan, tapi pasti mendapatkan manfaat. “Dalam keadaan tsunami saja ada yang masih jualan, atau apalagi jadi ada bansos, sehingga sembako jadi laku, jadi pastilah segala sesuatunya pasti ada manfaatnya,” pungkasnya.

    Meski demikian, Artha mengajak masyarakat untuk tetap berpikir positif bahwa semua ini dilakukan demi mengutamakan kesehatan masyarakat. []

    Baca juga: Test PCR Mahal, Pengamat Gaungkan “No Vaksin No Holiday”

  • Luhut Pandjaitan: Presiden Minta Harga PCR Turun Jadi Rp 300 Ribu

    peloporberita.com/ | Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengarahkan kepada para menterinya supaya harga tes PCR dapat diturunkan menjadi Rp 300 ribu dan berlaku selama 3×24 jam untuk perjalanan pesawat.

    Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) sekaligus Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Luhut Binsar Pandjaitan dalam keterangan pers menteri terkait hasil rapat terbatas “Evaluasi PPKM” di Jakarta, Senin (25/10/2021).

    Seperti diketahui, aturan pemerintah yang mewajibkan hasil tes PCR negatif sebagai syarat perjalanan pesawat, menuai kritik dan penolakan dari masyarakat karena harga tesnya dianggap terlalu mahal. Aturan itu sendiri disebut pemerintah sebagai skrining ketat menyaring kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

    Luhut Pandjaitan menjelaskan, “kebijakan PCR ini diterapkan karena pihaknya melihat resiko penyebaran yang semakin meningkat, seiring pesatnya mobilitas penduduk dalam beberapa minggu terakhir. Peningkatan mobilitas diprediksi akan terjadi pada masa Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).”

    Berdasarkan survey Balitbang Kementerian Perhubungan untuk Wilayah Jawa-Bali, ada sekitar 19,9 juta orang yang diprediksi akan melakukan perjalanan, sedangkan Jabodetabek 4,45 juta orang. Luhut mengatakan, peningkatan pergerakan penduduk ini jika tanpa pengaturan protokol kesehatan yang ketat, akan meningkatkan resiko penyebaran kasus.

    “Meskipun kasus kita saat ini sudah rendah, belajar dari pengalaman negara lain kita tetap harus memperkuat 3T dan 3M, supaya kasus tidak kembali meningkat, terutama menghadapi periode libur Nataru. Secara bertahap, penggunaan tes PCR akan juga diterapkan pada transportasi lainnya selama dalam mengantisipasi periode Nataru,” ujar Luhut Pandjaitan.

    Pemerintah juga terus memohon kepada masyarakat agar tidak beruforia, yang pada akhirnya mengabaikan segala bentuk protokol kesehatan yang ada. Menurunnya kasus Covid-19 di Indonesia bukanlah bentuk euforia yang harus dirayakan, karena kelengahan sekecil apapun akan berujung peningkatan kasus yang pastinya akan mengulang pengetatan semua aktivitas. []

  • Trubus Rahadiansyah Menduga Ada Pihak yang Diuntungkan dari Kebijakan Naik Pesawat Wajib PCR

    peloporberita.com/ – Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah menduga, kebijakan Pemerintah yang mewajibkan penumpang pesawat untuk melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) menguntungkan pihak tertentu.

    “Menurut saya kebijakan yang memberatkan konsumen, jadi kebijakan diskriminatif itu, kenapa harus pakai PCR? karena dengan PCR itu mahal, berarti kebijakan itu kelihatannya ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan dengan kebijakan itu,” tuturnya dalam wawancara dengan peloporberita.com/, Kamis, 21 Oktober 2021.

    “PCR itu mahal. Lebih baik tetap saja tes antigen. Berarti ini kebijakan kontra produktif.”

    Ia juga menyampaikan mewajibkan penumpang Pesawat melakukan PCR merupakan kebijakan yang kontraproduktif lantaran biayanya saat ini masih mahal.

    “Dulunya kan pakai test antigen, kenapa harus dirubah PCR. Dasarnya apa? Ini sebenarnya kan ga ada urgensinya harus pakai PCR segala kalo naik pesawat. Karena PCR itu mahal. Lebih baik tetap saja tes antigen. Berarti ini kebijakan kontra produktif,” tegas Trubus.

    Lebih lanjut, Trubus menyampaikan bahwa seharusnya masyarakat bisa lebih mudah bermobilitas dengan menurunnya angka covid-19 di Indonesia. Tetapi kemudian ada kewajiban test PCR yang memberatkan masyarakat.

    “Itu kebijakan kontraproduktif, karena kita sudah membuka kelonggaran-kelonggaran seperti di tempat wisata Bali, WNA juga yang sebelumnya 8 hari karantina menjadi 5 hari. Berartikan niatnya pemerintah ini sebenarnya menghidupkan pariwisata yang selama ini sudah mati suri,” tandasnya.

    “Ini kelihatan free rider, penunggang-penunggang bebas yang mencoba mencari keuntungan di tengah kelonggaran-kelonggaran itu,” sambungnya.

    Sementara Juru bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kewajiban PCR bagi calon penumpang pesawat, untuk mengantisipasi kasus negatif palsu dalam tes usap antigen. Hal ini, lantaran sensitivitas tes antigen tidak mendekati kondisi sebenarnya dibandingkan dengan tes PCR. []