Tag: Pengamat Pariwisata

  • Pengamat: Pemerintah Perlu Kaji Ulang Kebijakan Menaikkan Harga Tiket Naik Candi Borobudur

    Oleh : Taufan Rahmadi | National Tourism Strategist

    Jakarta – Pro Kontra terkait rencana pemerintah untuk menaikkan tiket naik ke Candi Borobudur menjadi Rp 750.000 per orang untuk wisata lokal dan US$ 100 (Rp 1,4 juta) untuk wisatawan asing masih berlangsung.

    Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan menjelaskan alasan di dalam menaikkan tarif selain dilakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya nusantara, juga pemerintah sepakat untuk membatasi kuota turis yang berkunjung ke Candi Borobudur menjadi hanya 1.200 orang per hari.

    Sehingga, rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan salah satu situs sejarah nusantara ini bisa terus tumbuh dalam sanubari generasi muda di masa mendatang.

    Tarif ini jika dibandingkan dengan tarif obyek wisata lainnya di dunia seperti misalnya Piramida Mesir hanya mematok harga US$ 25 – 72 US$, Taj Mahal India US$ 21,34 – 29,77 US$, Menara Eiffel 36 Euro – 55 Euro, dan Patung Liberty US$ 29,5 – US$ 79 memang relatif lebih mahal terlebih setelah membandingkan fasilitas yang diberikan oleh masing – masing destinasi kepada wisatawan yang berkunjung.

    Namun alasan kekhawatiran pemerintah untuk menjaga kelestarian Borobudur agar tetap bisa dinikmati oleh generasi masa depan dan tidak menjadi penyesalan di kemudian hari dapat pula dipahami.

    Tapi apakah kebijakan kenaikan tariff bisa menjadi solusi untuk mengatasi persoalan konservasi Borobudur atau malah justru hal ini memicu untuk memunculkan persoalan lain yang lebih komplek ?

    Sebelum menjawab itu, Kebijakan dibidang pariwisata menurut UNWTO haruslah di dasarkan kepada “ Global Code Of Ethic For Tourism “ (GCET) , yang berisi prinsip dasar yang dirancang untuk memandu para stakeholder dalam pengembangan pariwisata.

    Hal ini ditujukan kepada pemerintah, industri perjalanan, komunitas, dan wisatawan, ini bertujuan untuk membantu memaksimalkan manfaat sektor pariwisata sambil meminimalkan potensi dampak negatifnya terhadap lingkungan, warisan budaya, dan masyarakat di seluruh dunia.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/FB TR)

    Adapun prinsip – prinsip dasar dalam membuat kebijakan pariwisata seperti yang tercantum dalam GCET UNWTO tersebut adalah kebijakan yang dikeluarkan harus memenuhi unsur kebersamaan pemahaman terkait pariwisata berkelanjutan dengan memberikan perhatian bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian warisan budaya bagi generasi masa depan.

    [irp]

    Jadi dapat disimpulkan bahwa kebijakan kenaikan tariff masuk di Borobudur dengan pro –kontra yang terjadi perlu untuk dikaji ulang agar dapat memenuhi semua unsur GCET UNWTO sehingga memberikan kebermanfaatan bagi semua pihak.

    Lalu apakah solusi terkait hal ini ?, 2 langkah strategis yang saya sebut dengan Borobudur Inisiatif :

    1. Fokus utama di Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat

    Salah satu cara yang paling kuat dan mampu memberikan dampak di dalam melindungi Borobudur adalah menanamkan pola pikir berwisata bertanggung jawab dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui pemberdayaan masyarakat inilah wisatawan yang mengunjungi Borobudur di edukasi tentang sejarah dan tradisi masyarakat setempat, sehingga diharapkan akan muncul kesadaran, keterikatan dan rasa bangga yang lebih kuat antara penduduk setempat dan wisatawan di dalam bersama menjaga kelestarian Borobudur.

    [irp]

    2. Jadikan Pariwisata sebagai sarana edukasi menjaga Borobudur

    Disaat wisatawan berkunjung ke Borobudur mereka sedari awal sudah dilibatkan dalam kegiatan berwisata yang menjelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan disaat berkunjung, hal ini dijelaskan dengan konsep yang menarik dan kreatif sesuai dengan standar operasional prosedur yang telah disepakati bersama. Ini membutuhkan konsistensi dan sosialisasi yang kuat di dalam melaksanakannya.

    Borobudur sebagai salah satu destinasi pariwisata superprioritas harus dikembangkan berdasarkan rencana strategis jangka panjang berdasarkan analisis yang mencakup semua kemungkinan terkait manfaat ataupun kerusakan dengan prinsip-prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan.

    Pada akhirnya kebijakan apapun terkait Borobudur termasuk kebijakan naiknya harga tiket harus mampu memenuhi kepentingan bersama dari para pelaku pariwisata dan masyarakat setempat dengan dilandaskan pada upaya untuk tetap menjaga kelestarian Borobudur dengan tanpa mematikan pergerakan ekonomi yang saat ini sedang merangkak tumbuh kembali setelah dihajar pandemi. []

    [irp]

  • Indonesia Peringkat Dua Wisata Halal Dunia, Taufan Rahmadi: Tingkatkan Terus Kinerja, Benahi Kekurangan

    Jakarta – Global Muslim Travel Index (GMTI) 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat dua dunia. Ini adalah peningkatan peringkat yang cukup signifikan, setelah pada tahun sebelumnya Indonesia berada pada urutan empat.

    ”Ini artinya kita sangat representatif untuk traveler muslim, dan itu baik,” tutur Taufan Rahmadi, National Tourism Strategist berdasarkan keterangan yang diterima redaksi, Rabu, (01/06/2022).

    Taufan menilai, pelayanan dan fasilitas yang ramah terhadap pelancong muslim menjadi salah satu kunci utama. Ia juga mengingatkan, ceruk pasar wisatawan muslim tidaklah kecil. Market growth-nya diproyeksikan mencapai 230 juta pelancong, dengan perputaran uang hingga US$225 miliar pada 2028.

    ”Data menunjukkan pelancong muslim terus bertambah, dengan perputaran uang yang signifikan. Kita berada di jalur yang tepat saat ini,” ungkapnya.

    Secara akumulatif poin, Indonesia hanya kalah dari Malaysia yang menempati urutan pertama. Namun RI mengungguli negara-negara besar lainnya semisal Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab (UEA), hingga Qatar yang berturut-turut ada di bawah peringkat Indonesia.

    ”Dengan pembenahan serius, saya percaya, mengejar Malaysia bukanlah hal yang mustahil,” tegas Taufan.

    Taufan Rahmadi
    Pemerhati Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Fb Taufan Rahmadi)

    Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia jelas memainkan peranan penting. Bagi Taufan, sangat wajar negara kita kini ada di dua besar dunia.

    ”Selamat mas menteri (Sandiaga Salahudin Uno), tingkatkan terus kinerjanya dan benahi yang masih kurang,” pesannya.

    Penilaian kali ini memotret setidaknya tiga kelompok besar pelancong muslim. Yakni dari kalangan traveler milenial muslim, traveler wanita muslim, dan traveler Gen Z.

    ”Karena mereka adalah ceruk utama, kita harus fokus melihat kebutuhan utama kelompok-kelompok ini,” saran penulis buku Prоtоkоl Dеѕtіnаѕі itu.

    [irp]

    Misalnya untuk pelancong muslimah yang menyumbang 45 persen setara 72 juta orang untuk data 2019. Mereka mengutamakan privasi, fasilitas, hingga keamanan.

    Sedangkan kalangan milenial menyukai hal yang disebut sebagai 3As alias authentic, affordable, and accessible. Khusus Gen Z yang menyumbang angka 20 persen total pelancong muslim, cukup serupa dengan kelompok milenial. Namun dengan tambahan adaptable.

    ”Variabel-variabel penilaian ini harus kita terus pelajari, tingkatkan yang masih kurang, dan pertahankan yang sudah lebih,” imbuhnya.

    Apa pun itu, untuk saat ini penghargaan peringkat dua dunia diyakini akan membawa semakin banyak pelancong muslim ke tanah air.

    [irp]

    ”Mau makanan halal ada, mau ibadah gampang, wisata yang nyaman bebas embel-embel negatif bertebaran, itu kelebihan kita” ucapnya.

    Atas prestasi tersebut, Anggota Tim Akselerasi dan Monitoring Evaluasi Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata ini menyebut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno, sudah membawa Indonesia dalam rel yang tepat.

    Dan yang tak kalah baik menurutnya, Indonesia juga mempertahankan ceruk pasar pariwisata konservatif berdasar World Economic Forum.

    ”Jadi pariwisata halal bisa, pariwisata konservatif juga kita masuk,” sanjungnya.

    Taufan menegaskan, penghargaan kali ini adalah yang ketiga berturut-turut, alias hattrick penghargaan dunia pariwisata Indonesia.

    [irp]

    Pertama, Indonesia, melalui menteri Sandi Uno diundang PBB, bicara soal pariwisata berkelanjutan. Berikutnya, Travel Tourism Development Index (TTDI) Indonesia naik tajam 12 level menjadi ranking 32 dunia, dan nomor dua di Asia Tenggara berdasar World Economic Forum.

    ”Yang ketiga ya soal wisata halal ini, nomor dua dunia,” pungkas Taufan.

    Menurutnya, kala pandangan dunia sedang terus tertuju ke Indonesia, kita perlu semakin berbenah. Pandemi ujarnya relatif sudah dilalui dengan baik. Kini memastikan pemulihannya, bersamaan dengan kebangkitan pariwisata.

    ”Seperti yang selalu saya bilang, pariwisata ini membuka banyak lapangan kerja, memutar banyak uang, ekonomi kita akan semakin kuat,” tutupnya. []

    [irp]

  • Pariwisata RI Naik 12 Level, Taufan Rahmadi: Masih Ada PR yang Perlu Dibenahi

    Jakarta – Peringkat pariwisata Indonesia naik tajam menjadi ranking 32 dunia. Tak tanggung-tanggung, kenaikannya mencapi 12 tingkat dari pemeringkatan sebelumnya.

    “Ini menandakan pembenahan yang kita lakukan berhasil,” kata Taufan Rahmadi, National Tourism Strategist.

    Data ini dirilis world economic forum dengan berbagai variabel sebagai bahan penilaian. Travel Tourism Development Index (TTDI) Indonesia sebelumnya adalah 44.

    “Bayangkan, naik 12 level, berarti kita sudah membuat pembenahan yang luar biasa,” katanya.

    Makin membanggakan, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia melampaui Thailand yang kerap disebut surga pelancong. Termasuk Malaysia yang terus mengiklankan diri sebagai Asia yang sesungguhnya.

    ”Secara sederhana, data ini menunjukkan kalau orang disuruh memilih wisata ke mana antara Thailand, Malaysia, dan Indonesia, maka pilihan pertamanya Indonesia,” sambung ketua Dewan Pengawas IHSA tersebut.

    Di Asia Tenggara, Indonesia hanya kalah dari Singapura. Sedangkan di Asia Pasifik, Indonesia menempati ranking delapan.

    “Kita harus pelajari indikator penilaiannya, kemudian kita perbaiki apa-apa yang masih kurang,” saran Taufan.

    Dia percaya Indonesia bisa belajar dan berbenah cepat tahun ini. Ajang dunia semisal MotoGP adalah lahan untuk terus memperbaiki kekurangan.

    “Dari pagelaran besar seperti ini kita bisa lihat apa yang kurang untuk dibenahi,” imbuh pria berkaca mata itu.

    Ajang lain yang pas untuk mengukur dunia pariwisata negeri ini adalah ajang balap mobil listrik di Jakarta, kemudian G-20 di Bali, dan WSBK di Lombok.

    “Selain itu, seluruh destinasi super prioritas seperti Bali hingga Komodo pasti terus belajar dan berbenah menjadi lebih baik lagi,” ucapnya.

    Secara khusus dia menyebut ada sejumlah PR yang perlu dibenahi. Mulai dari kualitas SDM, hingga infrastruktur bandara, pelabuhan, dan jalan yang memudahkan pelancong.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Fb TR)

    “Dalam indikator penilaian juga diukur keamanan, lingkungan bisnis, kebersihan, hingga infrastruktur penunjang lain,” jabarnya.

    Poin plus Indonesia katanya, terletak pada cultural resouces, natural resorces, hingga harga yang bersaing.

    “Jadi kita ada kelebihan yang harus dipertahankan, ada juga kekurangan yang perlu dibenahi,” sarannya.

    [irp]

    Taufan mengingatkan, ranking 32 ini bukanlah sekadar data statistik di atas kertas. Ini juga menunjukkan kondisi pemulihan ekonomi negara kita. Disaat semua negara berjibaku dengan pandemi, Indonesia sukses naik 12 level.

    “Artinya kita bisa menjaga perputaran uang di dunia pariwisata, memastikan lapangan kerja tersedia, dan dengannya banyak rakyat tercukupi kebutuhannya,” pungkasnya.

    “Pariwisata ini bicara income, pemasukan untuk negara dan masyarakat. Pariwisata bangkit, negara kuat,” sambungnya. [Firman/Melani]

    [irp]

  • Libur Nataru Tempat Wisata Tidak Tutup Tetapi Dibatasi 50%

    peloporberita.com/ – Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat (Kadispar NTB) Yusron Hadi, menyatakan bahwa tempat wisata tidak akan ditutup pada saat libur Natal dan Tahun baru (Nataru) 2021. Hal ini sesuai dengan instruksi Menteri Dalam Negeri (Imendagri) Nomor 62 tahun 2021, dimana di dalamnya tidak ditemukan klausul yang menyatakan tempat wisata harus ditutup.

    “Kami tidak menutup, tetapi pengunjung yang kami batasi hingga 50 persen,” ujar Yusron Hadi, Sabtu 4 Desember 2021.

    Sementara Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyampaikan, kebijakan baru itu bukan berita yang enak didengar bagi industri pariwisata yang sedang mencoba bangkit setelah sekitar dua tahun mati suri.

    “Tadinya akan memanfaatkan momen sebelum pembatasan kegiatan Natal dan Tahun Baru di akhir tahun,” ucapnya.

    Sedangkan Pengamat Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi mempertanyakan bahwa jika tempat pariwisata ditutup terus, lalu kapan waktunya pariwisata bisa hidup berdampingan dengan covid-19.

    Taufan Rahmadi
    Taufan Rahmadi satu mobil dengan Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah untuk mengunjungi Gili Trawangan. (Foto: peloporberita.com/FB TR)

    "Walaupun ada varian baru, kalau ditutup, kapan kita bisa hidup berdampingan dengan pandemi. Kita tidak pungkiri covid-19 masih ada, tapi kan pengunjung kita batasi," tutur penulis buku protokol destinasi ini.

    TR panggilan akrabnya juga menegaskan, bahwa penerapan protokol kesehatan juga tetap menjadi perhatian dan fokusnya.

    Baca juga : 

    “Pariwisata Lombok Sumbawa sedang moncer-moncernya, kalau harus ditutup saat libur natal dan tahun baru, waduh….jangan lah. Pemerintah memang memberlakukan status PPKM level III, tapi kan gak harus tutup. Dibatasi lah….,” pintanya.

    Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyoroti kebijakan penghapusan cuti bersama Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, kebijakan ini juga akan mengurangi potensi orang berlibur di akhir tahun, dan pasti berdampak ke sektor pariwisata. []

  • Taufan Rahmadi: Dana BPUP Rp 1,8 Juta Telat dan Nilainya Tidak Proporsional

    peloporberita.com/ – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memberikan Bantuan Pemerintah bagi Usaha Pariwisata (BPUP) 2021 sebesar Rp1,8 juta per usaha pariwisata. Terkait hal ini, Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi buka suara. Menurutnya BPUP sudah telat dan kehilangan momentum.

    “Sekarang ini lebih baik fokus pada kebijakan pariwisata.”

    Selain itu, besaran BPUP dinilai tidak proporsional dibandingkan dengan upaya yang dilakukan oleh pelaku pariwisata ketika mereka mengejar pencarian dana ini. “Sekarang ini lebih baik fokus pada kebijakan pariwisata,” tuturnya melalui pesan suara Sabtu, 27 November 2021.

    Penulis buku Protokol Destinasi itu, juga memberikan 5 strategi bagi pemulihan Pariwisata Nasional 2022 yaitu:

    1. Ciptakan bubble destination di setiap daerah yang memang dianggap minim covid-19.
    2. Rumuskan formulasi SOP terkait dari bagaimana pariwisata berdampingan dengan covid-19.
    3. Kemenparekraf agar aktif melakukan lobi, promosi ke originasi-originasi dari wisatawan mancanegara atau wisatawan domestik.
    4. Perkuat dan lakukan kampanye terkait berwisata ke dalam negeri. Contohnya dengan slogan “Berwisata di dalam negeri aman, sehat dan murah”.
    5. Sinergikan semua kekuatan pariwisata agar sama-sama memiliki platform bahwa di dalam pandemi ini, semua unsur pentahelix pariwisata memastikan terkait protokol kesehatan berbagi tanggung jawab di dalam melaksanakannya.

    Sementara Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata (ICPI) Azril Azahari mengatakan, seharusnya BPUP juga dapat diberikan kepada usaha pariwisata yang belum memiliki legalitas. Menurutnya hal ini lantaran banyak usaha kecil yang belum memiliki legalitas, padahal mereka yang paling terdampak pandemi covid-19.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi (tengah). (Foto: peloporberita.com/Fb TR)

    Terkait nominal Rp1,8 juta, menurut Azril itu hanya dapat menghidupi pelaku usaha selama dua bulan sehingga tidak berdampak bagi usahanya. Sehingga nantinya perlu dipertimbangkan bantuan stimulus jangka panjang hingga perekonomian mulai membaik.

    Baca juga : 

    BPUP adalah program Kemenparekraf yang diberikan kepada enam jenis usaha yaitu agen perjalanan wisata, biro perjalanan wisata, spa, hotel melati, homestay, dan penyediaan akomodasi lainnya.

    Namun untuk mendapatkan bantuan sebesar Rp1,8 juta, pelaku usaha pariwisata harus memenuhi syarat, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), KTP Penanggung Jawab Usaha (pemilik perusahaan), NPWP atas nama Badan Usaha, SPT Tahunan (1 tahun terakhir).

    Selanjutnya harus membuat Surat Permohonan ke Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi pariwisata, Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) keabsahan data yang disampaikan, dan ditandatangani meterai Rp10.000, Akte Pendirian, Anggaran Dasar serta perubahan terakhir (AD/ART), dan Surat Kuasa penunjukkan pengelolaan rekening. []

  • Pengamat Beberkan Tiga Hal Penting dalam Pemulihan Pariwisata 2022

    peloporberita.com/ – Pengamat Pariwisata Nasaional Taufan Rahmadi menyampaikan bahwa Pariwisata Indonesia saat ini membutuhkan kejernihan hati dalam berfikir dan untuk bisa segera mengimplementasikan apa yang menjadi harapan dan jeritan 30 juta masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

    "Sebentar lagi tahun baru 2022, kebijakan-kebijakan pemerintah diharapkan dapat menghadirkan terobosan-terobosan yang mampu menumbuhkan optimisme dan memberikan nafas panjang untuk bangkitnya pariwisata negeri ini," tutur Taufan berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Rabu, 24 November 2021.

    Taufan Rahmadi dan Ganjar Pranowo

    Mantan Anggota Tim 10 Kemenpar RI Periode 2016-2018 ini, menerangkan bahwa baginya pariwisata seperti air bersih yang muncul dari tanah secara alami, lalu kemudian menjadi sumber air bersih bagi makhluk ciptaan Tuhan yang hidup diatas permukaan bumi.

    “Pariwisata pulih adalah prioritas, Waktunya Fokus-Lurus tuntaskan target pariwisata. Ayo Bergerak Bersama, Salam Pesona Indonesia.” 

    Dan layaknya sebuah sumber Mata Air, untuk selalu bisa menghidupkan harus dijaga kelestariannya, dijaga dari segala gangguan yang mungkin saja bisa menyebabkan airnya tidak mengalir dan tidak jernih lagi, bahkan mungkin berujung pada kekeringan.

    Untuk menjaganya, ada 3 hal penting yang menurut Taufan perlu segera dilakukan yakni:

    1. Kembali fokus tuntaskan pengembangan Pariwisata di 5 Destinasi Pariwisata SuperPrioritas. Hal ini sesuai dengan Instruksi Presiden RI.

    2. Hapus karantina, berlakukan syarat wisman masuk ke Indonesia cukup dengan menunjukkan bukti sudah di vaksinasi lengkap dan hasil negatif Covid-19 melalui test PCR. Ini, sesuai rekomendasi UNWTO agar seluruh masyarakat beradaptasi untuk hidup berdampingan dengan Covid-19.

    Baca juga : 

    3. Penguatan program kebangkitan pariwisata Bali dengan tahap awal menggencarkan program pemasaran dengan meraih kembali pasar wisatawan domestik lalu dilanjutkan dengan wisatawan mancanegara. Pasalnya, pariwisata Bali berkontribusi sebesar 28,9 % terhadap devisa nasional.

    “Pariwisata pulih adalah prioritas, Waktunya Fokus-Lurus tuntaskan target pariwisata. Ayo Bergerak Bersama, Salam Pesona Indonesia,” ungkap Taufan. []

  • Pengamat: Konteks Wisata Halal Ada pada Layanannya, Bukan Mengubah Objek atau Alam Wisatanya

    peloporberita.com/ – Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi menegaskan, Konteks wisata halal ada pada layanannya, bukan mengubah objek atau alam wisata lainnya. Selain itu, Wisata Halal juga bukan sebuah Islamisasi atau jilbabisasi dari sebuah destinasi. Tetapi, murni gaya hidup atau halal lifestyle.

    “Sudah waktunya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang wisata halal yang kerap dipahami sebagai islamisasi dunia pariwisata, padahal bukan seperti itu.”

    Menurut TR panggilan akrabnya, selama ini minimnya pemahaman tentang wisata halal di masyarakat seringkali menimbulkan pro dan kontra terkait penerapannya di dunia pariwisata.

    Pariwisata Bali
    Taufan Rahmadi saat menerima Piala World Best Halal Tourism Destination. (Foto:Pelopor.id/Web TR)

    “Belajar dari kasus Satpol PP dan matinya anjing Canon di Aceh, saya berpendapat sudah waktunya untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang wisata halal yang kerap dipahami sebagai islamisasi dunia pariwisata, padahal bukan seperti itu,” tegasnya kepada peloporberita.com/. Rabu, 27 Oktober 2021.

    Penulis buku Protokol Destinasi ini menjelaskan, wisata halal adalah berbicara tentang gaya hidup, layanan pilihan berwisata bagi wisatawan yang memang membutuhkannya disaat mereka berlibur di destinasi wisata.

    “(Layanan) itu tidak hanya terbatas kepada wisatawan muslim ataupun wisatawan nonmuslim saja. Jadi ini bersifat universal, karena sama-sama kita tahu bahwa halal itu esensinya adalah sehat dan bersih,” ucapnya. []

  • Pariwisata Tidak Diunggulkan Lagi di Bali, Pengamat: Jangan Sampai Mencerminkan Keputusasaan Gubernur Bali Hadapi Pandemi

    peloporberita.com/ – Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi, mengatakan bahwa Pariwisata merupakan sektor unggulan utama di Bali dan negara-negara lain di seluruh dunia tetap mempertahankan sektor tersebut sebagai sumber penghasilan devisanya. Hal ini, diungkapkannya menanggapi pernyataan Gubernur Bali I Wayan Koster yang menaruh pariwisata sebagai kekuatan terakhir perekonomian Bali.

    “Kenapa kok Bali yang sudah kekuatannya ada di pariwisata malah merasa pariwisata itu bukan menjadi unggulannya. Ini jangan sampai mencerminkan keputusasaan dari seorang gubernur Bali menghadapi pandemi ini,”

    “Kita melihat bahwa negara-negara yang akarnya dari pariwisata, justru tetap mempertahankan pariwisata. Malah, sekarang ini trennya bukan lagi bicara oil and gas. United Arab Emirates dulu dia bergantung kepada oil and gas. Tetapi kemudian melakukan transformasi menjadi negara yang sektor unggulannya menjadi pariwisata. Menjadikan Dubai dan lain sebagainya,” tutur Taufan Rahmadi ketika diwawancarai peloporberita.com/, Sabtu, 16 Oktober 2021.

    Penulis buku Protokol Destinasi ini menjelaskan, bahwa Saudi Arabia dulunya juga menggantungkan pemasukan dari sektor oil and gas, namun sekarang transformasinya adalah pariwisata.

    “Nah, kenapa kok Bali yang sudah kekuatannya ada di pariwisata malah merasa pariwisata itu bukan menjadi unggulannya. Ini jangan sampai mencerminkan keputusasaan dari seorang gubernur Bali menghadapi pandemi ini,” tegas TR panggilan akrabnya.

    Taufan Rahmadi

    Taufan meyakini, saat ini Pemerintah pusat sedang berjuang bersama semua masyarakat, pelaku pariwisata dan stakeholder di Bali untuk memulihkan sektor Pariwisata di wilayah tersebut.

    “Jadi saya berharap apa yang disampaikan oleh Gubernur Bali ini mudah-mudahan bukan sesuatu yang dimaksudkan dalam tendensi negatif, mungkin tujuannya bisa memacu kita untuk tetap bersemangat,” tandasnya.

    Menurut Taufan, tidak ada salahnya bila Gubernur Bali mencari solusi dari sektor lain untuk menghidupkan masyarakat Bali saat ini, tetapi bukan berarti meninggalkan pariwisata sebagai pilar utama perekonomian Bali.

    Sebelumnya, belum lama ini kepada sejumlah Anggota Komisi II DPR RI yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Kantornya, Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan, bahwa selama ini pariwisata tidak banyak manfaatnya langsung kepada masyarakat Bali lantaran hanya dinikmati sedikit orang, terutama pemodal dari luar begitu juga, impactnya terhadap masyarakat di Bali tidak banyak.

    Koster juga menyampaikan bahwa pandemi Covid-19 menyadarkannya bahwa pengelolaan ekonomi yang mengandalkan pada pariwisata adalah salah. Sehingga, ia ingin mengganti arah pengelolaan ekonomi Pulau Dewata.

    “Kami sedang menyusun konsep kalau istilah Bappenas, reformasi ekonomi kami di Bali membangun ekonomi dengan kekuatan era baru. Tidak menempatkan pariwisata sebagai satu-satunya kantong kekuatan ekonomi, kami mulai bergeser sesuai potensi dan warisan leluhur kami,” sebutnya. []

  • Pengamat : Pemulihan Pariwisata Ditentukan oleh Pemimpinnya

    peloporberita.com/ | Jakarta – Pengamat sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi mengatakan, kekuatan pemulihan pariwisata ditentukan oleh pemimpinnya. Apakah ia benar-benar berpihak pada pariwisata ataupun sebaliknya.

    “Saya salut dengan pemerintah kabupaten Lombok Barat, bayangin saja Kementerian Pariwisata itu dipotong sampai 80 persen anggarannya dan Lombok Barat mulai menginisiasi dengan keberaniannya dengan 16 ajang yang diselenggarakan.”

    Menurutnya, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) saat ini bisa dikatakan lebih berani mengambil langkah terdepan atau lebih dahulu dibanding daerah lainnya, terutama saat dunia pariwisata masih berkutat dengan pembatasan kegiatan masyarakat dan refocusing anggaran daerah akibat Pandemi Covid-19.

    “Bicara refocusing di mana-mana orang pusing, saya salut dengan pemerintah kabupaten Lombok Barat, bayangin saja Kementerian Pariwisata itu dipotong sampai 80 persen anggarannya dan Lombok Barat mulai menginisiasi dengan keberaniannya dengan 16 ajang yang diselenggarakan,” tuturnya dalam acara Podcast: “Dispar” Diskusi Seputar Pariwisata, Rabu, 30 September 2021.

    Dalam kesempatan itu, TR panggilan akrabnya juga menyampaikan bahwa Festival Pesona Senggigi itu adalah ketika Pemerintah berbagi tanggung jawab terkait bagaimana mengatasi pandemi.

    “Sehingga ringan, masyarakat pun merasa terobati, dia kalau mau pergi ke mari oh… ada Jazz, mau pergi ke mari ada festival yang lain,” ungkapnya.

    Sementara secara value ekonomi, secara value branding, Lombok Barat saat ini adalah Kabupaten yang sudah memposisikan dirinya, tidak hanya siap dari segi protokol kesehatannya, tapi juga bagaimana memulihkan ekonomi dalam perspektif kesejahteraan masyarakatnya. []

  • Taufan Rahmadi, From Zero to Global Tourism Forum

    peloporberita.com/ | Jakarta – Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi belum lama ini terpilih sebagai guest speaker di Global tourism forum. Menjadi salah satu ke speaker di forum kelas dunia ini tidaklah mudah, calon speaker tersebut akan dilihat terlebih dahulu background, portofolio dan lain sebagainya.

    Sebab, di forum tersebut pembicara menyampaikan pandangan dan gagasannya kepada para leader yang telah diakui eksistensinya, khususnya di bidang pariwisata. Pemimpin-pemimpin dunia itu, adalah sosok yang telah menorehkan banyak legacy saat mereka berkiprah di dalam menjalankan tugas-tugasnya.

    “Gagasan itu harus lahir dari Lombok, sebuah pulau yang didalamnya terdapat satu dari 5 destinasi pariwisata prioritas di Indonesia yakni Mandalika.”

    “Bagi saya kesempatan ini bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Ini merupakan suatu kehormatan besar untuk terpilih menjadi guest speaker. Bagi saya Ini adalah sebuah pembuktian bahwa ketika kita fokus dan konsisten, Istiqomah terkait apa yang menjadi perjuangan, Allah akan mendengarkan kita dan membimbing kita ke tempat yang terbaik,” tutur Taufan kepada peloporberita.com/, Minggu,19 September 2021.

    Background TR sendiri (panggilan akrab Taufan Rahmadi), Ia pernah menjabat Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2015. Lalu membawa Lombok dan Indonesia berjaya di ajang World Halal Travel Awards 2015 di Abu Dhabi, dengan memenangkan Lombok sebagai Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia, dan Destinasi Wisata Bulan Madu Halal Terbaik Dunia.

    Kemudian 2016 sampai 2018, ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata RI menjadi anggota Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas RI, sekaligus PIC Mandalika.

    Pada 2020, Ia menerbitkan buku Protokol Destinasi. Lalu sejak 2020 sampai kini, dipercaya sebagai Juru Bicara Bidang Pariwisata Sandiaga Salahudin Uno (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI saat ini).

    Sedangkan tahun 2021 ini, Taufan ditunjuk sebagai team leader Best Tourism Village UNWTO 2021. Selainn itu, Taufan didaulat oleh Bapak Oke Oce sebagai re-present pilar kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, pendidikan, komunitas, masyarakat dan media.

    Pemaparan Pandangan dan Gagasan di Global tourism forum

    Dalam Global tourism forum tersebut, Taufan Rahmadi putra asli Lombok menyampaikan bahwa sektor pariwisata menjadi yang paling terpukul dengan adanya pandemi corona ini. Padahal, pada awal-awal kemunculan virus corona, Lombok baru saja bangkit dari keterpurukan setelah dihantam gempa dahsyat pada agustus 2018.

    “Baru saja berangsur membaik kunjungan wisatawan ke tempat kami, kami harus Kembali memutar otak untuk berfikir bagaimana agar tetap hidup dan bertahan ditengah badai virus corona yang kembali memporak-porandakan berbagai lini, khususnya pariwisata,” tutur Taufan dalam acara tersebut secara virtual.

    Kehadiran Pandemi, membuat Taufan berfikir mengenai strategi agar sektor pariwisata tetap bertahan. Kemudian ia pun membuat terobosan-terobosan untuk diwujudkan secara bersama-sama dengan kolaborasi pentahelix pariwisata.

    “Saya berfikir bahwa gagasan itu harus lahir dari Lombok, sebuah pulau yang didalamnya terdapat satu dari 5 destinasi pariwisata prioritas di Indonesia yakni Mandalika, harus mencetuskan ide dan gagasan yang selanjutnya nanti bisa ditiru dan menjadi rekomendasi-rekomendasi kongkrit di destinasi-destinasi yang ada,” ungkap Taufan dalam forum yang sama.

    Pemikiran untuk mencetuskan ide dan gagasan agar bisa tetap bertahan tersebut, akhirnya memicu Taufan untuk menulis sebuah buku yang berjudul Protokol Destinasi yang ternyata responnya bagus hingga menjadi Best Seller.

    “Saya mendedikasikan buku ini sebagai alat pengetahuan yang berisi tentang strategi kreatif mengelola destinasi di kala Pandemi,” sebutnya.

    Sejak awal Taufan pernah mengatakan, bahwa mau tidak mau kita harus bisa hidup berdampingan dengan covid-19. Pernyataannya ini, mengacu pada pernyataan WHO bahwa belum diketahui dengan pasti kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Bahkan sekarang ini, sudah semakin banyak varian mutasinya.

    Dalam acara Global tourism forum, Taufan menggunakan dua barang tradisional milik Suku Sasak di Lombok. Yang pertama adalah Sapuq sebagai ikat kepala dan Kaing Kembang Komak.

    “Orang Sasak akan selalu mengikatkan sapuknya di bagian depan. Hal ini karena orang Sasak tidak suka menutupi sesuatu. Mereka akan mengungkapkannya secara langsung, tetapi tetap terkendali dan dalam arah yang benar,” tegasnya.

    Sedangkan ‘Kaing Kembang Komak’ adalah salah satu kain tradisional Sasak yang terbuat dari hanya dua benang, hitam dan putih. Artinya, dalam kegelapan selalu ada cahaya dan harapan untuk maju.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

    Strategi Bertahan dan Rebound dari Pandemi

    Berbekal pengalaman yang dimilikinya, kemudian buku yang telah ia terbitkan, Taufan Rahmadi terus melakukan pendampingan kepada pemerintah-pemerintah daerah terkait strategi-strategi kreatif agar sektor pariwisata segera rebound. Berikut Strategi Kreatifnya:

    1. Solidarity on Survival (SOS)

    Dalam hal ini, semua pelaku pariwisata harus memiliki satu semangat bahwa kita semua bersaudara. Kita bersatu padu menghadapi pandemi ini bersama-sama, Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan insentif kepada masyarakat, mengurangi angsuran kredit, menghapus atau mengurangi bunga kredit dan lain-lain.

    Pada fase SOS ini, pemerintah harus benar-benar hadir dengan memastikan insentif kepada masyarakat khususnya pelaku pariwisata agar secepatnya bisa dicairkan, memastikan bantuan berupa hand sanitizer, masker, sabun cuci tangan dan lain-lainnya selalu ada dan tersedia di destinasi.

    Selanjutnya, kecenderungan masyarakat untuk berwisatapun berubah, yakni dengan mengunjungi tempat-tempat terdekat sehingga hal tersebut bisa menjadi trigger untuk desa-desa wisata berbenah dan bangkit dengan menyiapkan tempat wisata yang aman dan nyaman untuk dikunjungi berdasarkan keunikan masing-masing dan tetap dengan protocol Kesehatan yang selalu dijaga.

    2. Healing on Tourism (HOT)

    Healing on Tourism (HOT) adalah fase ketika dilakukannya pemulihan kembali kunjungan wisatawan, mendesign ulang marketing agar bukan hanya wisatawan domestik saja yang datang tetapi juga wistawan mancanegara.

    Pada tahapan ini, pemerintah Kembali harus menjadi yang terdepan dengan mendorong terhadap akomodasi-akomodasi termasuk café dan restaurant, destinasi-destinasi agar memiliki standar CHSE untuk memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan.

    Karena sebaran covid-19 tak menentu, kadang ada yang naik, kadang ada yang turun bahkan tidak ada, maka pemerintah harus membuat zona hijau pariwisata, bubble destination yang memastikan keamanan dan kenyamanan wisatawan dalam berkunjung. Termasuk apabila ada wisatawan yang terpapar covid-19 di destinasi, protocol evakuasinya juga disiapkan.

    Selanjutnya, mempercepat vaksinasi di destinasi wisata termasuk terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar sesegera mungkin mengikuti vaksinasi.

    Gelaran World Superbike pada 12-14 November 2021 mendatang, dan Tes Pramusim MotoGP pada 11-13 Februari 2022 dan Balapan utamanya yang direncanakan pada Maret 2022 mendatang adalah momentum kebangkitan pariwisata Indonesia.

    Taufan Rahmadi
    Pengamat Sekaligus Ahli Strategi Pariwisata Nasional, Taufan Rahmadi. (Foto:Pelopor.id/Global Tourism Forum)

    Untuk itu, demi memastikan 3 event besar tersebut terselenggara, vaksinasi harus terus di gencarkan. Pemerintah baik tingkat nasional dan daerah didukung semua stakeholder pariwisata harus Sprint, inilah saatnya untuk Gercep, Geber, dan Gaspol Bersama-sama.

    Seperti strategi SOS dan HOT, kolaborasi harus dilanjutkan dengan strategi kreatif agar tercipta mementum untuk bangkit seperti pemerintah provinsi NTB yang dalam waktu dekat akan mengeluarkan peraturan gubernur tentang zona hijau pariwisata.

    Pemerintah Lombok Timur dengan Desa Wisata Tete Batu terpilih sebagai wakil Indonesia di ajang World Tourism Village award UNWTO, Pemerintah Lombok Tengah Dengan Desa Wisata Bilebante yang menjadi juara dua nasional pada ajang BCA Desa Wisata Award 2021, kemudian Pemerintah Lombok Barat dengan Kembali ke Senggigi.

    SOS dan HOT dapat dengan mudah diterapkan di destinasi Pariwisata dengan Formula 3S + Halal, kemudian Responsibility as a guest, and responsibility as the host. Selanjutnya, Size the Momentum dimana Tete Batu on UNWTO Tourism Village award 2021, World Superbike pada bulan November and MotoGP pada Februari-Maret 2022

    Namun, untuk mencapai hal ini, semua komponen dan stakeholder pariwisata harus berkolaborasi (Tourism united). []