Tag: Paulus Lumintang

  • Bos JFX Jabarkan Dampak Robot Trading ke Bisnis Bursa Berjangka

    Jakarta | Belakangan ini, ramai kasus robot trading ilegal yang ditangani Bareskrim Polri. Masyarakat yang merasa dirugikan oleh robot trading ilegal tersebut terbilang sangat banyak dengan kerugian jumbo.

    Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) atau Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang mengungkapkan, robot trading sangat berpengaruh terhadap bisnis Bursa Berjangka. Sebab menurutnya, jumlah player atau investor dari robot ini sangat banyak, tetapi mereka melakukan kontrak yang seharusnya ada di bursa berjangka.

    “Itu sangat berdampak pada industri kita,” tuturnya kepada wartawan, Kamis, (14/04/2022).

    Paulus menyebut, dampak robot trading dirasakan secara langsung dan tidak langsung terhadap bisnisnya. Dampak langsungnya adalah, porsi masyarakat untuk berinvestasi terbagi. Sedangkan dampak tidak langsung yakni negatif image di bursa Berjangka Jakarta akibat kasus robot trading ilegal yang merugikan masyarakat banyak.

    “Mereka melakukan kontrak-kontak yang seharusnya ada di bursa berjangka. Yang paling besar pengaruhnya di negatif image. Orang jadi enggan bahkan cenderung takut, akan masuk ke dalam perangkap seperti itu,” ungkapnya.

    [irp]

    Meski demikian Bos JFX ini menegaskan bahwa sebenarnya robot itu ada, yakni berupa software yang sebenarnya patut digunakan oleh investor yang sudah paham. Bukan kepada investor yang belum paham.

    “Robot itu not bad juga, tapi digunakan bagi orang yang sudah melek investasinya, sudah paham itu sebagai alat bantu. Jadi dia (Investor) tidak pantengin monitor dari waktu ke waktu. Dia katakan pasang jam berapa, dia masuk market di angka berapa, dia likuidasi di angka berapa. Tapi tergantung trading plan dari masing-masing investor,” jelasnya.

    Namun kehadiran robot trading itu kemudian disalahgunakan dengan adanya penawaran investasi yang memakai skema Ponzi, dan Multi Level Marketing (MLM). Selain itu, kesalahan para investor, menurut Paulus yakni kekurang fahaman dimana investor yakin akan profit terus menggunakan robot tersebut, padahal tidak.

    Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang (Foto: peloporberita.com/Tantri)

    “Dan lebih gilanya adalah fix income berapa persen, itu saya sudah pernah katakan dari dua tahun lalu ada itu seperti itu,” ucapnya.

    “Yang menjadi concern, robot itu ada, banyak (investor) di luar (negeri) pakai, dan ada 1 hal kalau kita beli robot berupa software, itu harusnya robot itu milik kita dong, karena beli kan. Nah ini kita bayar, tapi itu (robot) dipegang si operator, ya untuk apa kita beli,” ujarnya.

    [irp]

    Menurut Paulus, masalah robot trading ilegal utamanya disebabkan oleh kurangnya edukasi mengenai investasi dan tingginya rasa ingin mendapatkan keuntungan secara instan. Untuk itu, Paulus menegaskan pentingnya literasi.

    JFX pun telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi dampak negatif dari kasus robot trading ilegal. Antara lain dengan menggandeng Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas), Kepolisian dan Satgas Waspada Investasi.

    JFX

    Di sisi lain, orang yang melek dan mengerti akan risiko masih tetap memilih berinvestasi di JFX, sehingga di masa pandemi di tahun 2021, bursa berjangka memecahkan rekor tertinggi yang belum pernah tercapai sepanjang berdirinya JFX.

    “2021 kita pencapaian tertinggi 9,6 juta lot selama BBJ beroperasi belum pernah. Mengalahkan tahun 2020 sekitar 9,4 juta lot, tambah sekitar 1,8%,” beber Paulus.

    JFX adalah Bursa Berjangka pertama di Indonesia yang berdiri pada 19 Agustus 1999 dengan landasan untuk membawa manfaat besar bagi komunitas bisnis dan sebagai sarana lindung nilai. JFX memperoleh izin operasi tanggal 21 November 2000 dan memulai perdagangan pertamanya sejak 15 Desember 2000 silam. []

    [irp]

  • Tanggapi Kasus Robot Trading Ilegal, Dirut JFX Tekankan Pentingnya Literasi Investasi

    Jakarta | Kasus investasi bodong seperti robot trading ilegal ternyata tak hanya merugikan konsumen, tetapi juga turut berdampak terhadap bursa perdagangan resmi di Indonesia. Salah satunya adalah Bursa Berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX).

    “Dampak itu baik secara langsung maupun tidak langsung. Dampak yang secara langsung adalah seharusnya porsi masyarakat untuk berinvestasi di industri kita akan meningkat. Dampak tidak langsung adalah negative image, orang jadi enggan, bahkan cenderung takut (berinvestasi),” kata Direktur Utama JFX Stephanus Paulus Lumintang kepada peloporberita.com/ di kantor JFX di Jakarta, Kamis (14/04/2022).

    Meski demikian, Paulus menjelaskan bahwa sebenarnya robot trading itu memang ada dan umumnya digunakan oleh investor yang sudah paham dan melek investasi sebagai alat bantu, sehingga investor tersebut tidak perlu berada di depan layar komputer setiap waktu.

    “Namun yang disalahgunakan adalah mereka pakai ponzi scheme dan MLM (Multi Level Marketing) sehingga akhirnya terjebak, dan kesalahan juga pada investor atau kekurang-pahaman bahwa mereka yakin akan profit terus,” ujarnya.

    Menurut Paulus, masalah robot trading ilegal ini terutama disebabkan oleh kurangnya edukasi mengenai investasi dan tingginya rasa ingin mendapatkan keuntungan secara instan. Terkait hal itu, Paulus menegaskan pentingnya literasi.

    JFX pun telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi dampak negatif dari kasus robot trading ilegal, termasuk dengan menggandeng Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas), Kepolisian dan Satgas Waspada Investasi.

    JFX adalah Bursa Berjangka pertama di Indonesia. JFX berdiri pada 19 Agustus 1999 dengan landasan untuk membawa manfaat besar bagi komunitas bisnis dan sebagai sarana lindung nilai.[]

  • JFX dan KBI Soft Launching perdagangan Pasar Fisik Emas Digital

    peloporberita.com/ – PT Jakarta Futures Exchange (JFX) dan PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) (KBI) mengadakan Soft Launching kontrak perdagangan Pasar Fisik Emas Digital off exchange pada Rabu (2/2/2022) kemarin secara virtual.

    Saat ini ada 3 perusahaan peserta pedagang pasar fisik emas digital yang telah mengajukan sebagai pedagang pasar fisik emas digital di JFX dan KBI. 2 perusahaan diantaranya telah mendapat persetujuan dari Bappebti yaitu PT Sehati Indonesia Sejahtera (Sakumas) dan PT Pluang Emas Sejahtera, sedangkan 1 perusahaan lagi masih dalam proses.

    Pada soft launching ini, telah tercatat 19.972 transaksi perdagangan pasar fisik emas digital di JFX dan KBI.

    Direktur Utama JFX, Stephanus Paulus Lumintang mengatakan, kontrak baru ini akan lebih menyemarakan dan menambah warna dalam dunia investasi perdagangan komoditi pada era digitalisasi saat ini. Kedepannya, JFX akan terus mengembangkan instrumen-instrumen investasi lainnya dengan inovasi serta didukung dengan teknologi terkini.

    “Dalam waktu dekat ini rencananya akan diadakan Grand Launching perdagangan pasar fisik emas digital baik off Exchange dan on Exchange,” tutur Paulus Lumintang berdasarkan keterangan tertulis Kamis, (3/2/2022).

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama KBI Fajar Wibhiyadi menyampaikan, pihaknya sebagai lembaga kliring bertugas mencatat jumlah kepemilikan Emas Pedagang Fisik Emas Digital sesuai dengan Bukti Simpan Emas yang diserahkan oleh Pengelola Tempat Penyimpanan.

    Hal ini, mengacu kepada Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi No 13 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital Di Bursa Berjangka.

    “Pasar Fisik Emas Digital ini kami proyeksikan kedepan akan menjadi trend investasi bagi masyarakat. Untuk itu, kami bersama dengan JFX selain menyelenggarakan perdagangan pasar fisik emas digital, tentunya juga akan menjalankan kegiatan edukasi kepada masyarakat terkait investasi emas digital ini, sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang baik,” tegas Fajar Wibhiyadi.

    Bersamaan dengan acara soft launching ini, JFX dan KBI telah menorehkan pencapaian transaksi multilateral dan bilateral sebanyak 1.110.827 lot yang terdiri dari 137.458 lot untuk transaksi multilateral dan 973.369 lot untuk transaksi bilateral. Sementara untuk transaksi pasar fisik timah sebanyak 1.270 ton.[]

  • Harga Timah di Pasar Fisik BBJ Capai US$ 39.800, Tertinggi Sejak Diperdagangkan

    peloporberita.com/ – Harga timah di Pasar Fisik Timah Murni Batangan yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Futures Exchange (JFX), pada tanggal 19 Oktober 2021 mencapai US$ 39.800 per metrik ton. Ini, merupakan harga tertinggi sejak Timah Murni Batangan mulai diperdagangkan BBJ.

    Harga timah murni batangan di BBJ telah mengalami peningkatan 18,2% pada bulan Oktober 2021, dimana di awal perdagangan tanggal 1 Oktober 2021, harga yang terjadi sebesar US$ 33.670 per metrik ton.

    “Dengan adanya ekspor timah tentunya akan memberikan tambahan devisa bagi negara. Selain itu, pemerintah baik pusat maupun daerah juga akan mendapatkan dana bagi hasil dari royalty.”

    Direktur Utama BBJ, Stephanus Paulus Lumintang mengatakan, kenaikan harga timah di pasar fisik timah murni batangan ini menunjukkan bahwa ada kenaikan permintaan pasar, khususnya untuk ekspor. Harga yang terjadi di BBJ adalah harga pasar yang terbentuk atas dasar permintaan dan penawaran yang terjadi secara murni.

    “Terciptanya harga tertinggi ini tentunya merupakan angin segar bagi ekosistem pasar fisik timah murni batangan yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta. Selain itu, pergerakan ekonomi global yang mulai tumbuh, tentunya juga memberikan stimulus terhadap terjadinya kenaikan transaksi ini,” tuturnya berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Jumat, 21 Oktober 2021.

    Timah JFX

    Pasar Fisik Timah Murni Batangan yang diperdagangkan di BBJ, merupakan perdagangan timah produksi PT Timah Tbk, dan khusus untuk kegiatan ekspor. Hingga Kuartal III 2021, transaksi pasar fisik timah murni batangan di BBJ mencapai 672 Lot dalam 30.108 metrik Ton, dengan total nilai transaksi mencapai USD 892,2 Juta, atau lebih dari Rp12,6 Triliun.

    Adapun pasar fisik timah murni batangan untuk ekspor di BBJ, mulai diperdagangkan sejak pertengahan 2019. Sedangkan untuk Pasar Fisik timah dalam negeri baru mulai berjakan sejak Maret 2021.

    Sementara Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi mengatakan, pertumbuhan harga timah untuk ekspor di BBJ memberikan dampak positif kepada negara. PT Kliring Berjangka Indonesia sendiri, adalah BUMN yang berperan sebagai Lembaga Kliring Penjaminan dan Penyelesaian Transaksi di Pasar Fisik Timah Murni Batangan.

    “Kita tahu, dengan adanya ekspor timah tentunya akan memberikan tambahan devisa bagi negara. Selain itu, pemerintah baik pusat maupun daerah juga akan mendapatkan dana bagi hasil dari royalty atas ekspor timah yang ada,” ungkapnya.

    Fajar Wibhiyadi menjelaskan, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 81 tahun 2019 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara bukan Pajak, disebutkan bahwa Pemerintah akan mendapatkan royalty sebesar 3% dari harga jual.

    Lalu untuk pemerintah daerah, akan ada alokasi dalam bentuk Dana Bagi Hasil. Indonesia sendiri menjadi pemain yang diperhitungkan di pasar timah dunia, yang memiliki cadangan sekitar 17% dari total cadangan timah dunia.[]