Tag: Pabrik

  • MenKopUKM: Pembangunan Pabrik Minyak Makan Merah oleh Koperasi Harus Dipercepat

    Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan, pembangunan pabrik minyak makan merah oleh koperasi sangat mendesak untuk segera dilakukan sehingga perlu dipercepat demi merespons kebutuhan akan minyak goreng di samping minyak makan merah yang potensial memberikan nilai tambah bagi petani sawit. Hal ini disampaikannya saat melakukan kunjungan Kerja Bersama Stakeholder Kelapa Sawit di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan, Sumatera Utara.

    “Minyak makan merah ini lebih sehat dan punya banyak manfaat. Dengan adanya ini juga dapat memecahkan permasalahan pasokan minyak goreng dan dapat menghadirkan minyak goreng yang terjangkau bagi rakyat,” tutur Teten Kamis (09/06/2022).

    Menteri Teten menjelaskan, pilot project pengembangan minyak makan merah oleh koperasi juga mulai diinisiasi di Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah. Terkait teknologinya, Ia sudah melihat langsung pembuatan minyak makan merah oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Menurut Teten, teknologi tersebut akan sangat mudah diterapkan kepada koperasi dan UMKM.

    “Saya lihat teknologi untuk hasilkan minyak makan merah sudah ada di PPKS. Skala ekonomis dari teknologi ini bahkan dapat menghasilkan 500 kg minyak makan merah per jam. Saya akan bicara dengan Menteri BUMN agar memproduksi alat ini lebih banyak, supaya ketika piloting kita dapat dukungan teknologi dari PPKS,” ungkap MenKopUKM.

    Produk minyak makan merah. (Foto:Pelopor.id/KemenKopUKM)
    Produk minyak makan merah. (Foto:Pelopor.id/KemenKopUKM)

    Sementara Kepala Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) M. Edwin Syahputra Lubis dalam kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa pihaknya telah menghasilkan inovasi yang diharapkan dapat pengentasan stunting sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui koperasi agar usahanya mampu naik kelas.

    Inovasi yang dimaksud adalah minyak makan merah yang merupakan produk turunan dari minyak kelapa sawit dengan nutrisi berupa fitonutrien (karoten dan vitamin E) yang tinggi serta kualitas asam lemak yang sangat baik bagi kesehatan.

    “Minyak makan merah juga dapat menjadi jawaban untuk pengentasan stunting karena minyak makan merah memiliki asupan vitamin yang unggul dibandingkan dengan minyak goreng biasa,” sebut Edwin.

    [irp]

    Direktur Riset Perkebunan Nusantara Teguh Wahyudi menambahkan, dari 14,59 juta hektare luas perkebunan sawit di Indonesia, 6,04 juta hektare atau 41% di antaranya dikelola oleh petani swadaya dan dari total produksi sebanyak 44,8 juta ton, 35% di antaranya adalah hasil dari sawit rakyat.

    Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi turut menyampaikan, bahwa dengan inovasi minyak makan merah, TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit dari petani tidak perlu lagi bergantung kepada pabrik minyak goreng.

    “TBS yang ada di rakyat kan dibawa ke pabrik biasanya dan ditambah potongan sampai 7%. Kalau begitu caranya, TBS mereka kita kumpulin dan tak usah kita bawa ke pabrik. Artinya kalau kita siapkan ini dengan alat yang sederhana, saya rasa kita mampu membuat minyak merah ini. Sehingga kepusingan pemerintah karena minyak goreng ini bisa teratasi,” tegas Edy. []

    [irp]

  • Nestlé Buka Pabrik Purina PetCare Senilai Rp 2,1 Triliun

    Jakarta | Produsen barang konsumen Nestlé membuka pabrik Nestlé Purina PetCare di kawasan industri Amata, Rayong, Thailand. Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik baru itu mencapai 5 miliar baht atau sekitar Rp 2,1 triliun.

    Peresmian pabrik ini menandai tonggak sejarah bagi Nestlé dalam memproduksi makanan hewan peliharaan basah berkualitas tinggi untuk pasar domestik dan internasional. Ekspansi ini juga mengikuti tren global yang telah melihat lebih banyak keluarga memiliki hewan peliharaan, sehingga terjadi peningkatan permintaan makanan hewan peliharaan premium.

    “Rayong adalah lokasi strategis yang ideal. Thailand menawarkan akses mudah ke bahan baku berkualitas tinggi dan secara logistik nyaman untuk memasok produk di seluruh AOA (Asia, Oseania dan Afrika), terutama kawasan Asean,” kata ketua dan kepala eksekutif Nestlé Indochina Victor Seah, seperti dikutip dari Bangkok Post.

    “Dengan investasi 5 miliar baht, pabrik Purina yang baru memperkuat komitmen jangka panjang Nestlé untuk melakukan bisnis di Thailand sekaligus menciptakan peluang kerja yang berkualitas bagi masyarakat setempat,” lanjutnya.

    Pabrik Rayong yang baru akan meningkatkan kehadiran Nestlé Purina PetCare di segmen produk makanan kucing basah satu porsi, kategori prioritas bagi perusahaan.

    Rencananya, Nestlé akan menjadikan pabrik baru ini sebagai fondasi untuk lini produk makanan sekali saji kucing basah, baik untuk pasar Thailand maupun di seluruh pasar utama di AOA, termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru.

    “Negara pertama yang kami fokuskan untuk ekspor adalah Jepang, pasar utama yang sangat terkenal dengan standar tinggi dan persyaratan untuk kualitas produk terbaik,” kata chief executive Nestlé Purina PetCare Asia, Oceania and Africa Jean Grunenwald.

    Sebelumnya, Nestlé telah membuka pabrik Purina PetCare pertama di kawasan industri Amata pada 2010, yang memproduksi makanan anjing dan kucing kering.[]

  • KemenKopUKM Perkuat Koperasi Petani untuk Bangun Pabrik Minyak Sawit Merah

    Jakarta – Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki mengatakan, sudah saatnya petani sawit berkoperasi agar bisa mengakselerasi hilirisasi dan memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri.

    Hal ini, disampaikan Teten saat menerima audiensi Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi). Audiensi ini, sekaligus sebagai tindak lanjut pertemuan Fortasbi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Maret 2022.

    “Salah satu pesannya (Presiden Jokowi) adalah, supaya asosiasi petani bisa membangun pabrik minyak sawit merah atau minyak makan merah,” tutur MenKopUKM Teten Masduki di Kantor KemenKopUKM, Jakarta, Selasa (24/05/2022).

    Selain itu, Presiden juga berpesan agar inisiatif Kelompok Petani Sawit Swadaya berperan dalam tata produksi minyak sawit dan minyak goreng melalui organisasi koperasi.

    Menteri Teten juga mengungkapkan, akan ada piloting pembangunan pabrik pengolahan minyak sawit merah di sejumlah lokasi, antara lain Kalimantan Tengah, Riau, dan Jambi.

    Termasuk membentuk gugus tugas pembangunan pabrik minyak sawit merah yang melibatkan KemenKopUKM, LPDB-KUMKM, BPDPKS, serta asosiasi dan organisasi petani.

    [irp]

    Tujuannya adalah untuk mewujudkan keinginan petani sawit menjadi bagian supply chain minyak goreng di dalam negeri sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

    “Jadi para petani tak harus pusing lagi di mana menjual buah tandan segar (TBS) sawit,” ungkap MenKopUKM.

    Nah dalam piloting tersebut, MenKopUKM memfokuskan isu kelembagaan, pembiayaan, maupun perluasan pasar petani sawit secara swadaya.

    [irp]

    KemenKopUKM juga akan menyiapkan ekosistem serta membangun korporatisasi petani yang terhubung dengan market, pembiayaan, dan teknologi pengolahan yang modern.

    “Dari sisi pembiayaan, kita juga akan mengkombinasikan pembiayaan swadaya petani dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), LPDB, dan perbankan,” ucap Teten.

    MenKopUKM optimistis, upaya pembangunan pabrik minyak sawit merah oleh koperasi ini akan mampu memenuhi kebutuhan minyak goreng dalam negeri. Sebab saat ini tercatat sebesar 42 persen atau sebesar 6,7 juta hektare lahan sawit dikelola oleh petani sawit swadaya.

    “Jika semua petani dalam koperasi ini bergabung, setidaknya 35 persen dari produksi CPO nasional bisa disediakan oleh petani sawit. Jika Presiden memberikan arahan bahwa suplai minyak goreng di dalam negeri bisa dari mereka, ini sangat bisa,” tandas MenKopUKM.

    Agar tak terjadi simpang siur terkait minyak sawit merah ini, Menteri Teten menjelaskan, minyak sawit merah ini merupakan standar baru dari minyak sawit yang ada selama ini. Sebenarnya minyak sawit ini memiliki warna kuning kemerahan. Minyak sawit merah sudah ada dan diproduksi di negara lain.

    [irp]

    “Justru minyak sawit merah ini lebih sehat dari kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan vitamin A. Dari sisi produksi pun pengolahan minya sawit merah ini sangat efisien dan kompetitif dari sisi harga. Kami sudah ada FGD dan standarisasi dengan BSN, tidak mengubah standar tetapi kami ingin standar baru,” pungkas Teten.

    Dalam kesempatan yang sama, Senior Advisor Fortasbi Rukaiyah Rafik memastikan, koperasi yang tergabung dalam asosiasinya merupakan koperasi yang telah memiliki standar internasional.

    Yaitu berupa sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Sehingga bisa dipastikan standar dan kualitas minyak makan sawit ini berkualitas tinggi.

    [irp]

    “Pembangunan pabrik ini menjadi kabar baik bagi petani sawit swadaya di Indonesia dengan harga sawit yang tidak stabil. Mengingat sebelumnya terjadi penurunan ekspor yang sangat besar akibat larangan ekspor CPO,” ucap Rukaiyah.

    Ke depannya, petani diharapkan tidak hanya memproduksi TBS saja, tapi juga melalui koperasi petani bisa berdagang.

    “Kami juga membutuhkan dukungan MenKopUKM, sehingga petani swadaya berpikir dengan kelembagaan, koperasi merupakan jalan terbaik, dalam membangun posisi tawar di pemerintah maupun pihak lain,” sebutnya.

    Salah satu koperasi yang telah menyatakan kesiapannya membangun pabrik minyak sawit merah ini adalah Ketua KUD (Koperasi Unit Desa) Tani Subur, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah Sutiyana.

    [irp]

    Menurut Rukaiyah, pembentukan koperasi sekunder ini dalam hal pasokan bahan baku sudah sangat siap.

    “Lahan kami ada sekitar 7.300 hektare. Kami sangat siap memproduksi 30 ton per jam. Saat ini kami sudah menentukan lokasi pendirian pabrik itu sendiri. Insya Allah kami menjadi koperasi yang pertama di Indonesia yang punya pabrik minyak sawit di Indonesia,” papar Sutiyana.

    Dari sisi investasi, Sutiyana mengungkapkan akan mendapat bantuan dari BPDPKS sekitar Rp120 miliar per pabrik. Jika kurang akan ditambah dari pinjaman dana bergulir LPDB.

    “Dan kami siap mengembalikan dana bergulir yang diberikan,” tandasnya. []

    [irp]

  • Analisa Media Asing: Indonesia Bisa Dapat Investasi Tesla Sekaligus SpaceX

    Jakarta – Media asing, ramai menyorot pertemuan Presiden RI Joko Widodo dengan CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk beberapa waktu lalu. Mereka membicarakan, kemungkinan Indonesia bisa dapat investasi dari dua perusahaan yang dikendalikan Elon Musk tersebut.

    Elon Musik sendiri usai bertemu dengan Jokowi mengatakan, bahwa Indonesia memiliki potensi besar dan pihaknya siap mencoba beberapa kerja sama lewat Tesla dan SpaceX.

    “Saya rasa Indonesia memiliki potensi yang besar, dan saya rasa kita melalui Tesla dan SpaceX akan mencoba beberapa kerja sama dengan Indonesia,” tutur Elon Musk kala itu.

    “Kita akan melihat dari dekat bentuk kerja sama di banyak hal, karena Indonesia memiliki banyak potensi. Apalagi Indonesia memiliki jumlah populasi dan terus berkembang. Ini bagus karena kita membutuhkan banyak orang di masa depan,” sambungnya.

    Media Asing yang berbasis di New York, Amerika Serikat, TheStreet menganalisa, Produsen Mobil Listrik, Tesla butuh meningkatkan volume produksinya menjadi 20 juta unit per tahun. Selain itu, mereka perlu mengamankan bahan mentah baterai listrik.

    Elon Musk
    CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk. (Foto:Pelopor.id/Pixabay)

    Sedangkan Pabrik Tesla di Austin, Texas; Freemont, California; Berlin, Jerman; dan Shanghai, China, dinilai belum cukup untuk memenuhi target produksi itu.

    Sebelumnya, CEO Tesla, Elon Musk pada pada kuartal 1 2022 sudah mengatakan akan mengumumkan lokasi pabrik baru di akhir 2022.

    Kemudian, terjadi pertemuan antara Elon Musk dengan Presiden Jokowi yanh berlangsung pada 14 Mei 2022 di Boca Chica, markas SpaceX.

    [irp]

    Ilustrasi mobil Tesla. (Foto: peloporberita.com/Unsplash)

    Indonesia merupakan produsen utama nikel, pemerintah Jokowi sedang berupaya memperluas pertambangan dan pemurnian. Salah satu caranya, dengan memberlakukan larangan ekspor nikel untuk memaksa perusahaan untuk menetap, mendirikan pabrik sehingga dapat menciptakan lapangan kerja.

    Indonesia pun sebelumnya telah sukses menandatangani perjanjian senilai US$9,8 miliar dengan grup Korea Selatan LG untuk memproduksi baterai lithium, yang ditujukan untuk kendaraan listrik. Seperti diketahui Baterai lithium membutuhkan nikel.

    Sementara pembicaraan Indonesia dengan Tesla sudah dimulai tahun 2020 lalu. Deal Tesla dengan Indonesia, bisa berarti Elon Musk mengamankan pasokan nikel dan baterai untuk Tesla.

     

    Di samping itu, ada juga pembicaraan Indonesia dengan SpaceX yang menawarkan Papua Barat untuk tempat peluncuran baru perusahaan tersebut.

    Prediksi TheStreet, dalam skenario terbaik, Indonesia bisa mendapatkan keduanya (Tesla dan SpaceX) sekaligus. Mereka juga menebak, pengumuman bakal dilakukan bersamaan dengan agenda pertemuan G20 di Indonesia.

    "Jika ada persetujuan antara Indonesia dan Tesla dan SpaceX, itu bisa ditandatangani bulan November karena Indonesia akan mengadakan B20 Summit dengan pemimpin bisnis di pertengahan November, sebelum G20," tulis TheStreet.

    Kebetulan, Elon Musk sebelumnya diberitakan berencana datang ke Indonesia pada November 2022. []

    [irp]

  • Agar Koperasi Miliki Pabrik Minyak Goreng, Berikut Rekomendasi KemenKopUKM

    Jakarta – Deputi Bidang Perkoperasian, Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Zabadi menyampaikan, agar koperasi memiliki pabrik minyak Goreng, pihaknya memiliki 6 rekomendasi yang dihasilkan melalui acara Focus Group Discussion (FGD).

    Adapun 6 rekomendasi yang dihasilkan dalam FGD bertema Pengolahan Minyak Goreng Oleh Koperasi: Tantangan dan Peluang yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, (17/05/2022) adalah sebagai berikut:

    1. Pengembangan minyak makan merah (Red Palm Oil) dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah dan isu ketersediaan dan harga minyak goreng yang terjadi di Indonesia saat ini.
    2. Produksi dan pengolahan minyak makan merah akan menciptakan nilai tambah yang tinggi bagi petani melalui skema korporatisasi pangan berbasis koperasi.
    3. Minyak makan merah memiliki kandungan nutrisi/vitamin tinggi, yang sehat dan dapat digunakan sebagai solusi atas gizi buruk/stunting dan penyediaan nutrisi bagi masyarakat umum.
    4. Lahan sawit rakyat tersebar di berbagai provinsi Indonesia yang perlu dikonsolidasi dan dioptimalisasi bagi kepentingan petani serta peningkatan produk lokal.
    5. Pengembangan minyak makan merah menggunakan teknologi tepat guna sehingga dapat dikembangkan dan dikelola berbasis komunitas dengan skala investasi yang terjangkau dan dapat didesentralisasi di berbagai wilayah/regional.
    6. pengembangan minyak makan merah membutuhkan skema standarisasi tertentu, di luar standar SNI minyak goreng pabrik.

    Atas rekomendasi ini, Deputi Zabadi menegaskan bahwa stakeholder yang hadir bersepakat atas beberapa hal:

    1. Mengarusutamakan pengembangan, pengolahan dan penggunaan minyak makan merah bagi koperasi dan UMKM di Indonesia.
    2. Membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Pengolahan Minyak Makan Merah oleh Koperasi.
    3. Membangun agenda aksi bersama untuk mengimplementasikan pengolahan minyak makan merah oleh koperasi dalam skala komersial.
    4. Membuat pilot project di beberapa wilayah di Indonesia sampai akhir tahun 2022.

    Deputi Zabadi juga menekankan bahwa Perkebunan Sawit Rakyat yang masih dikelola petani swadaya kecil dengan kepemilikan lahan sekitar 2-4 hektar, dapat berkelompok membentuk kelompok tani, hingga akhirnya dapat mendirikan koperasi sebagai wadah konsolidasi lahan dan petani.

    “Itu harus segera dipetakan. Kemudian, kita dampingi. Sehingga kemandirian para petani sawit untuk memiliki bargaining position dalam industri sawit skala kecil dapat diwujudkan,” tutur Zabadi.

    Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM (Online Data System/ODS), ada sekitar 454 koperasi sawit di Indonesia dan mayoritas ada di provinsi Riau, yang memang dari presentasi luasan lahan dan kapasitas produksi terbesar, yaitu sekitar 23,57% dari total areal lahan sawit di Indonesia.

    Misalnya, salah satu koperasi di provinsi Riau yang secara mandiri telah mengelola kebun sawit seluas 1.562 hektar bersama sekitar 781 petani anggotanya, yaitu KUD Sumber Makmur di Kabupaten Pelalawan, Riau. Selain itu, juga ada KSPPS BMT UGT Sidogiri yang akan mendirikan koperasi sawit di Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

    “Untuk itu, dua koperasi tersebut dapat dijadikan pilot project pembangunan industri sawit rakyat,” tegas Zabadi.

    Deputi Zabadi pun berharap, untuk selanjutnya Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang ada di 22 provinsi dan Serikat Petani Indonesia (SPI) dapat ikut mengkonsolidasikan para petani sawit untuk memperkuat kelembagaan ekonominya melalui koperasi.

    [irp]

    Ia juga menjelaskan, secara umum, kapasitas produksi Crude Palm Oil (CPO) dari TBS untuk 1-5 ton per jam termasuk skala mini, kapasitas rata-rata 5-20 ton per jam masuk skala menengah, dan kapasitas 30 sampai 60 ton per jam adalah skala besar. Dari produksi CPO ini masih diperlukan proses fraksinasi dan proses lainnya sehingga dapat dihasilkan minyak goreng.

    Minyak goreng yang dikenal di pasaran adalah yang berwarna kuning jernih dengan SNI 7709-2019 dengan kandungan Vitamin A mencapai 45 IU/gram. Sementara, minyak sawit merah (Red Palm Oil) atau minyak makan merah dapat menghasilkan kandungan vitamin A cukup tinggi, yaitu sekitar 666 IU/gram.

    “Penelitian dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan Riset Perkebunan Nusantara (RPN) ini yang perlu kita implementasikan untuk kemudian kita menemukan skala keekonomian dari produksi minyak goreng oleh koperasi,” ungkap Deputi Zabadi.

    Bagi Zabadi, kehadiran Badan Standarisasi Nasional (BSN) juga diharapkan dapat secara khusus mengawal proses standarisasi minyak goreng skala koperasi dan UMKM ini. Sehingga, masyarakat bisa mendapatkan pilihan yang rasional dalam memenuhi kebutuhan minyak goreng yang sehat dan terjangkau.

    Untuk mewujudkan piloting ini, Zabadi berharap dukungan pembiayaan baik di sisi onfarm, yaitu dengan KUR Perbankan dan dari kelembagaan koperasinya melalui LPDB-KUMKM, baik untuk kebutuhan modal investasi dan modal kerja.

    Acara Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengolahan Minyak Goreng Oleh Koperasi: Tantangan dan Peluang yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, (17/05/2022). (Foto:Pelopor.id/KemenKopUKM)
    Acara Focus Group Discussion (FGD) bertema Pengolahan Minyak Goreng Oleh Koperasi: Tantangan dan Peluang yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa, (17/05/2022). (Foto:Pelopor.id/KemenKopUKM)

    Dalam kesempatan yang sama juga Zabadi menegaskan perlu adanya komitmen bersama (dalam bentuk kesepakatan) untuk pengembangan minyak sawit milik rakyat.

    “Ujungnya, kita dapat merumuskan model bisnis produksi minyak goreng oleh koperasi,” tegas Zabadi.

    Sementara itu, Deputi Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN Zakiyah menegaskan bahwa pihaknya akan mendukung koperasi dan UMK dalam menghadirkan produk berkualitas dengan pertimbangan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

    “Kita dukung program KemenkopUKM dalam mendorong koperasi, juga usaha mikro dan kecil, memiliki industri minyak goreng sawit sendiri,” kata Zakiyah.

    Ia juga menjelaskan, sebelum diwajibkan SNI, harus terpenuhi dulu hasil analisa riset dan adanya teknologi yang sudah memungkinkan.

    “Kita memiliki program Bina UMK dimana ada pendampingan bagi UMK untuk mendapatkan SNI,” ungkap Zakiyah.

    Untuk itu, Zakiyah mengajak seluruh stakeholder untuk berkolaborasi dalam penerapan standarisasi bagi UMK dengan proses yang simpel dan mudah. Ada kemudahan SNI untuk UMK risiko rendah. Mulai dari komitmen diaplikasi OSS-BKPM, aplikasi OSS, hingga Monev Online.

    “BSN siap bekerjasama untuk menghasilkan standarisasi minyak goreng merah,” tandas Zakiyah.

    Pabrik Rp100 Miliar

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Apkasindo Kawali Tarigan menjelaskan bahwa dengan luas lahan kelapa sawit di Indonesia milik petani swadaya dan koperasi sebesar 42% dari total 16 juta hektar, sangat memungkinkan koperasi memiliki industri pengolahan minyak sawit sendiri.

    “Andai kita memiliki pabrik sendiri, cukup dengan kapasitas produksi 15 ton/jam. Bahkan, yang ada di Pelalawan Riau, kapasitasnya sudah mencapai 30 ton/jam, dengan luas lahan sebesar 7000 hektar,” ulas Kawali.

    Dengan begitu, lanjut Kawali, petani swadaya tidak lagi bergantung pada keberadaan pabrik-pabrik minyak sawit milik korporat besar.

    “Banyak potensi yang bisa kita kembangkan, sehingga petani juga bisa naik kelas, tidak lagi bergantung pada pabrik minyak goreng yang ada,” sebut Kawali.

    Oleh sebab itu, Apkasindo sangat mendukung koperasi memiliki pabrik dan refinary hingga penyuplai minyak goreng.

    “Asosiasi siap membantu membangun pabrik di seluruh Indonesia, dengan modal kurang lebih sekitar Rp100 miliar,” ucap Kawali.

    [irp]

    Namun, untuk mewujudkan Minyak Goreng Sawit milik koperasi tersebut, masih ada beberapa kendala menghadang. Diantaranya, kebun masih berpencar-pencar, belum ada kepastian pasar, teknologi masih manual, modal usaha, hingga adanya tekanan korporasi besar terhadap petani.

    “Tapi, ada juga peluang besar yang bisa dimanfaatkan. Yakni, sudah ada Koperasi Apkasindo, bahan baku melimpah, dan kebun kelapa sawit ada di 22 provinsi di Indonesia,” tandas Kawali.

    FGD diikuti juga oleh Staf Khusus MenKopUKM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Riza Damanik, Deputi Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standarisasi Nasional BSN Zakiyah, Peneliti Utama Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Donald Siahaan.

    Selanjutnya ada Kepala Divisi pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit Helmi M, Kepala Departemen Mikro Sales Management BRI Komaryati Diat, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kawali Tarigan, Agus Ruli Ardiansyah (Serikat Petani Indonesia), dan Jarot Wahyu Wibowo (Direktur Pengembangan Usaha LPDB-KUMKM).

    Sedangkan yang hadir secara online adalah Peneliti Utama Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementan RI Prof Agus Pakpahan dan Ketua Kelompok Peneliti dan Manajer Inovasi OPSTP PPKS Frisda Panjaitan. []

    [irp]

  • Aktivitas Pabrik Tiongkok Anjlok ke Level Terendah

    Jakarta | Aktivitas pabrik Tiongkok pada bulan April tercatat turun ke level terendah dalam lebih dari dua tahun terakhir. Hal itu terutama dipicu oleh kerusakan ekonomi akibat penguncian atau lockdown dan pembatasan ketat Covid-19 serta meningkatnya kekhawatiran tentang gangguan lebih lanjut pada rantai pasokan global.

    Berdasarkan data Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS), indeks manajer pembelian manufaktur resmi pada April turun menjadi 47,4 poin, dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,5. Angka itu hampir sesuai dengan prediksi rata-rata ekonom Bloomberg.

    Wabah virus corona yang terbaru memang memaksa sejumlah perusahaan untuk mengurangi atau bahkan menghentikan produksi.

    Ahli statistik senior NBS Zhao Qinghe mengatakan bahwa aktivitas di industri jasa Tiongkok turun tajam akibat dampak parah dari wabah Covid. Melansir Bloomberg News, kegiatan usaha di 19 dari 21 sektor jasa yang disurvei, termasuk transportasi udara, akomodasi dan katering, mengalami kontraksi.

    Beijing berada di bawah tekanan yang meningkat untuk mendorong pertumbuhan karena wabah Covid-19 dan pembatasan di banyak kota melumpuhkan sebagian besar ekonominya, yang terbesar kedua di dunia.

    Banyak pabrikan telah mencoba untuk tetap beroperasi dengan menggunakan apa yang disebut sistem loop tertutup, di mana para pekerja tinggal di lokasi dan diuji secara teratur. Namun aktivitas masih terhambat oleh pembatasan mobilitas yang panjang, termasuk di Shanghai, di mana sebagian besar penduduk telah dikunci selama sebulan.

    Kemacetan logistik telah menyebabkan kekurangan suku cadang dan membuat perpindahan orang dan barang di dalam negeri dan lintas batas menjadi sulit. Pengeluaran konsumen juga turun lantaran orang-orang tinggal di rumah, secara sukarela atau tidak.[]

  • Serangan Rusia ke Ukraina Bikin Coca-cola dan Nestlé Tutup Pabrik

    peloporberita.com/ – Akibat serangan Rusia kepada Ukraina, banyak perusahaan menutup pabriknya seperti Mondelez, Carlsberg, Nestlé hingga Coca Cola. Para perusahaan itu menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinannya atas ketegangan yang terjadi serta mengambil langkah untuk keamanan para karyawannya.

    Coca-cola
    Produsen minuman berkarbonasi Coca-Cola menutup pabriknya di Ukraina, dan meminta staf di negara tersebut untuk tetap di rumah. Perusahaan ini juga menyampaikan bahwa merekan akan terus meninjau kondisi ini dalam beberapa hari mendatang seperti dikutip dari Reuters.

    Nestlé
    Nestlé menyatakan telah menutup sementara pabrik, gudang, dan rantai pasokannya di Ukraina dan telah merekomendasikan karyawannya untuk tinggal di rumah. Juru bicara perusahaan juga menyampaikan bahwa mereka akan terus berkomitmen untuk terus melayani masyarakat lokal dan memiliki rencana darurat untuk memastikan perusahaan dapat memulai kembali pasokan setelah kondisi aman.

    ArcelorMittal
    Pabrikan baja itu, melalui cuitan di Twitter menyampaikan bahwa mereka sangat prihatin tentang situasi di Ukraina dan telah membuat rencana agar karyawannya tetap aman. Perusahaan sedang memperlambat produksi ke level minimum hingga menghentikan penambangan bawah tanah.

    Carlsberg
    Pembuat bir terbesar kedua di Ukraina yang memiliki pangsa pasar 31% ini, telah menghentikan operasi di dua pabrik birnya di Kyiv dan kota selatan Zaporizhzhya. Perusahaan ini telah memutuskan untuk mengambil inisiatif di Ukraina untuk menjaga keselamatan karyawan dengan menyuruh mereka untuk tinggal di rumah. Selain kedua pabrik tadi, Carlsberg juga memiliki tempat pembuatan bir ketiga di Ukraina tepatnya di kota barat Lviv.

    Mondelez
    Mondelez International menyatakan, bakal menutup pabriknya di Ukraina jika ketegangan negara itu dengan Rusia meningkat dan menjadi terlalu berbahaya. CEO Dirk Van de Put menegaskan, langkah tersebut diambilnya untuk memastikan para karyawan tetap aman.

    Van de Put juga mengatakan, Mondelez memiliki bisnis besar di kedua negara dan akan menutup pabrik mereka jika kondisi menjadi berbahaya. Mondelez memproduksi merek lokal seperti biskuit Jubilee dan cokelat Korona di kedua negara yang sedang bertikai itu. Selain itu, mereka juga turut menjual biskuit Oreo, cokelat, dan permen karet. []

  • Tesla Digugat Kasus Rasisme dan Pelecehan di Pabrik California

    peloporberita.com/ – Tesla digugat atas tudingan rasisme dan pelecehan di lingkungan kerja pabrik di California. Gugatan ini diajukan oleh badan hak sipil, California Department of Fair Employment and Housing yang mengaku telah menerima ratusan keluhan dari para pekerja di pabrik Tesla di California.

    “Kami menemukan bukti bahwa pabrik Fremont Tesla adalah tempat kerja yang dipisahkan secara rasial di mana pekerja kulit hitam menjadi sasaran hinaan rasial dan diskriminasi dalam tugas pekerjaan, disiplin, gaji, dan promosi yang menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat,” tutur Direktur California Department of Fair Employment and Housing, Kevin Kish seperti dilansir dari CNN, Jumat (11/2/2022).

    Ratusan keluhan itu dikumpulkan selama hampir 10 tahun. Dimana dalam gugatan dijelaskan bahwa para pekerja mendengar hinaan rasial sepanjang hari bahkan melihat grafiti rasis di toilet, tempat kerja, dan meja makan siang.

    Sementara Tesla menyatakan pada Selasa (8/2/2022) bahwa mereka menentang semua bentuk diskriminasi dan pelecehan seraya mengatakan berkomitmen untuk menyediakan tempat kerja yang aman, hormat, adil dan inklusif.

    Meski demikian, ini bukan satu-satunya kasus rasis yang menimpa Tesla. Gugatan ini juga sebelumnya telah diajukan juga oleh seorang pekerja wanita kulit hitam yang bekerja di pabrik Tesla di Lathrop, California. Dia bernama Kaylen Barker yang mengajukan gugatan pekan lalu menuduh Tesla mentolerir tindakan rasisme yang merajalela.

    Perusahaan, yang dipimpin miliarder Elon Musk itu pada Desember 2021 lalu, juga berhadapan dengan gugatan enam wanita, yang menuduh budaya pelecehan seksual di pabrik dan fasilitas Tesla lainnya. []

  • Volvo Cars dan Northvolt Bangun Pabrik Baterai Mobil Listrik di Swedia

    peloporberita.com/ – Produsen otomotif, Volvo Cars bersama Northvolt, membangun pabrik baterai baru untuk mobil listrik di Gothenburg, Swedia. Kerjasama ini, kabarnya untuk melengkapi fasilitas pusat R&D serta untuk menjadi pemasok utama komponen baterai untuk Volvo dan Polestar.

    Pabrik baterai baru itu, akan dibuka secara resmi pada 2025 dengan investasi sekitar US$3,3 miliar. Pabrik Volvo dan Northvolt ini, akan mengedepankan energi terbarukan dan ditenagai oleh energi bebas fosil yang berfokus mendorong kapasitas energi terbarukan di wilayah tersebut.

    Volvo
    Logo Volvo. (Foto:Pelopor.id/Wikipedia)

    Fasilitas itu, akan memiliki kapasitas produksi sel tahunan hingga 50 gWh, yang akan memasok kebutuhan baterai sekitar 500 ribu kendaraan per tahun yang digunakan kedua perusahaan tersebut.

    Volvo Cars memilih lokasi pabrik di kota kelahirannya lantaran ketersediaan akses ke energi, keterampilan, dan infrastruktur yang bebas fosil seperti dilansir dari Reuters. Pabrik baru itu, akan membuat sel baterai yang dikembangkan secara khusus untuk dipasang di mobil listrik Volvo dan Polestar serta akan memperkerjakan hingga 3 ribu pekerja.

    Northvolt sendiri memang terkenal sebagai pengembang dan produsen kendaraan listik. Kerjasama pembangunan pabrik dengan Volvo menjadikannya perusahaan Eropa pertama yang merancang dan memproduksi baterai di Eropa.

    Sebagian besar saham Northvolt dipegang oleh Volkswagen. Sementara Gigafactory milik Northvolt yang ada di kota Skelleftea, Swedia, juga melakukan perakitan sel baterai pertamanya pada akhir Desember. Perusahaan ini, telah menerima kontrak senilai lebih dari US$30 miliar dari BMW, Fluence, Scania, Volkswagen, Volvo Cars, dan Polestar. []

  • Foxconn Investasi US$ 8 Miliar di Sektor Kendaraan Listrik RI

    peloporberita.com/ – Perusahaan kontrak manufaktur asal Taiwan, Hon Hai Precision Industry Co Ltd (Foxconn), akan membenamkan investasi hingga US$ 8 miliar di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Hal ini disampaikan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (31/1/2022).

    Bahlil menjelaskan, pihaknya datang langsung ke Taiwan untuk mengejar rencana investasi Foxconn yang tidak juga terealisasi. Hasilnya pada pekan lalu, mereka berhasil meneken nota kesepahaman dengan Foxconn dan mitranya, yakni Gogoro Inc, PT Industri Baterai Indonesia (IBC), dan PT Indika Energy Tbk.

    “Foxconn akan masuk ke Batang, akan lakukan investasi di mobil listrik, baterai listrik, motor listrik, dan akan membangun pabrik sparepart telekomunikasi dengan mengembangkan pabriknya dari negara lain di Indonesia,” tutur Bahlil.

    Menteri Investasi BKPM menjelaskan, berdasarkan nota kesepahaman yang telah diteken, Foxconn bersama Gogoro, IBC, dan Indika akan menjajaki kerja sama investasi ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang komprehensif di Indonesia, mulai dari pembuatan baterai listrik termasuk sel baterai, modul baterai, dan baterai, hingga ke pengembangan industri kendaraan listrik roda empat, roda dua, dan bus listrik (EBus).

    Sementara lingkup kerja samanya mencakup pengembangan industri penunjang EV yang meliputi energy storage system (ESS), stasiun penukaran baterai, fasilitas daur ulang baterai, serta riset dan pengembangan di bidang baterai elektrik dan EV. []