Tag: Orangutan

  • Sandiaga Uno Dicegat Orang Utan Saat Kunjungi Destinasi Wisata Bukit Lawang

    Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, menceritakan bahwa dirinya dicegat orang utan ketika berkunjung ke destinasi wisata Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Kamis (14/04/2022). Menurutnya orang utan jantan tersebut tiba-tiba saja muncul dari tengah hutan dan menghampirinya.

    “Tadi saya sempat menemukan suatu sensasi yang luar biasa. Memang saya sempat dilarang oleh Pak Bupati untuk ke atas karena makan waktu tapi Allah menggerakkan langkah saya. Ternyata sampai di sana saya bertemu dengan orang utan,” tutur Sandiaga.

    Sandiaga mengungkapkan, orang utan tersebut diperkirakan berusia sekitar 20 tahun yang menghampiri seakan-akan menyambut kedatangannya. Namun, Menparekraf tidak ingin mendekati orang utan tersebut dan lebih memilih untuk melihat orang utan itu dari jauh saja.

    “Kita maunya menjaga kelestarian alam dan itu menjadi suatu pengalaman tersendiri. Ini menjadi sebuah cerita,” ungkap Sandiaga.

    Orang utan itu ternyata belum memiliki nama, sehingga ia bertanya ke Anggota Komisi X DPR RI, Djohar Arifin Husin yang turut dalam kunjungan ini untuk memberikan nama bagi orang utan liar itu.

    [irp]

    “Saya usulkan namanya Si Alang, Aset Langka,” ungkap Djohar memberi nama. Sandiaga pun setuju dan mengapresiasi nama yang diberikan Djohar kepada orang utan tersebut.

    Sandiaga Uno Dicegat Orang Utan Saat Kunjungi Destinasi Wisata Bukit Lawang
    Sandiaga Uno Dicegat Orang Utan Saat Kunjungi Destinasi Wisata Bukit Lawang. (Foto:kemenparekraf)

    Sementara mengenai destinasi wisata Bukit Lawang yang menghadirkan konsep wisata berbasis alam dan berkelanjutan, menurut Menparekraf merupakan konsep ekowisata terbaik dan harus ditingkatkan.

    “Bukan hanya planet, people, and profit tapi juga peace and partnership,” tegas Sandiaga.

    Oleh sebab itu, Sandiaga mengajak pihak-pihak terkait untuk bergotong royong membangun ekowisata yang mampu mendatangkan kesejahteraan dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat Langkat.

    “Kolaborasi ini harus menghadirkan ekowisata tingkat dunia,” tandasnya. []

    [irp]

  • Hari Orangutan Sedunia, KLHK Lepasliarkan Sun Ghou Kong

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE)  bersama Frankfrurt Zoological Society (FZS) melepasliarkan seekor orangutan di Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT).

    Dalam Program Konservasi Satwa Liar dan Habitatnya ini, mereka melepasliarkan Sun Ghou Kong, Orangutan sumatera (Pongo abelii) jantan berumur 16 tahun dari Simalingkar-Sumatera Utara.

    Sun Ghou Kong, dilepasliarkan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan bertepatan pada Hari Orangutan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 19 Agustus setiap tahunnya.

    “Harapan kedepannya, Orangutan sumatera Sun Ghou Kong dapat bertahan hidup dan hidup harmonis dengan alam, mampu berkembangbiak guna kelangsungan populasi mereka di alam dan menyelamatkan satwa ini dari ambang kepunahan.”

    Pelepasliaran Orangutan di TNBT, sudah dimulai sejak tahun 2001 melalui Program Reintroduksi Orangutan Sumatera (PROS). Pelepasliaran Orangutan di TNBT merupakan salah satu kegiatan dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP).

    Orangutan sendiri merupakan salah satu spesies kera besar yang keberadaannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan dan kesehatan ekosistem. Orangutan sumatera merupakan satwa yang dilindungi dan masuk dalam redlist IUCN dengan status Critically endangered/ Kritis.

    Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Fifin Arfiana Jogasara menyampaikan bahwa Orangutan yang dilepasliarkan adalah hasil rehabilitasi pasca satwa tersebut diserahkan oleh masyarakat.

    Individu orangutan sitaan dibawa ke stasiun rehabilitasi di Sumatran Orangutan Rehabilitation Center (SORC) Sungai Pengian dan sebagian di Orangutan Open Sactuary (OOS) Danau Alo. Kedua stasiun ini menjadi tempat singgah sementara dimana orangutan akan diajarkan untuk mencari makan dan bertahan hidup di alam.

    “Orangutan sumatera Sun Ghou Kong, pertama kali tiba di Stasiun SORC Sungai Pengian pada 27 Februari 2011 sekitar umur 5 (lima) tahun dan dilepasliarkan pada 29 Januari 2012 (7 tahun) di Hulu Sungai Belantik kawasan penyangga TNBT,” tutur Fifin.

    “Berdasarkan riwayat pelepasliaran, Orangutan Sun Ghou Kong telah dilepas sebanyak 5 (lima) kali dan berhasil dijumpai berulang kali di lokasi yang sama, jadi dapat dikatakan Orangutan Sun Ghou Kong telah menguasai daerah jelajahnya,” sambungnya.

    Sementara itu, lokasi pelepasliaran Orangutan Sun Ghou Kong yang dipilih adalah area baru dan belum dikenali yang berada di Sungai Tulang, Wilayah Kerja Resort Lahai SPTN Wilayah II Belilas. Untuk mencapai lokasi ini, tim release harus menempuh jarak 2-3 km dan membutuhkan waktu tempuh 4-5 jam berjalan kaki, dengan memikul beban kandang dan Orangutan seberat kurang lebih 120 kg.

    Pelepasliaran dilakukan secara bersama yang melibatkan beberapa pihak yaitu Balai TNBT, Balai KSDA Jambi, FZS, Polsek Batang Cenaku, Pemerintah Kecamatan Batang Cenaku dan Desa Sipang. Untuk memikul kandang yang berisi Orangutan Sun Ghou Kong serta melibatkan masyarakat setempat.

    Dipilihnya lokasi baru ini diharapkan dapat mendorong Orangutan Sun Ghou Kong untuk mengeksplore habitat yang berbeda dan kembali liar di alam. Berdasarkan pantauan dari awal pelepasliaran, Orangutan Sun Ghou Kong masuk kategori Orangutan yang cukup pintar, terbukti dari hasil analisis data harian pencapaian makan lebih dari 40% dengan didominasi memakan buah hutan serta Body Condition Score (BCS) terbilang stabil yaitu score 3, dimana score tersebut adalah ideal tubuh orangutan yang berada di alam liar.

    “Harapan kedepannya, Orangutan sumatera Sun Ghou Kong dapat bertahan hidup dan hidup harmonis dengan alam, mampu berkembangbiak guna kelangsungan populasi mereka di alam dan menyelamatkan satwa ini dari ambang kepunahan,” ungkap Fifin. []