Tag: Nestle

  • Nestlé Buka Pabrik Purina PetCare Senilai Rp 2,1 Triliun

    Jakarta | Produsen barang konsumen Nestlé membuka pabrik Nestlé Purina PetCare di kawasan industri Amata, Rayong, Thailand. Investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan pabrik baru itu mencapai 5 miliar baht atau sekitar Rp 2,1 triliun.

    Peresmian pabrik ini menandai tonggak sejarah bagi Nestlé dalam memproduksi makanan hewan peliharaan basah berkualitas tinggi untuk pasar domestik dan internasional. Ekspansi ini juga mengikuti tren global yang telah melihat lebih banyak keluarga memiliki hewan peliharaan, sehingga terjadi peningkatan permintaan makanan hewan peliharaan premium.

    “Rayong adalah lokasi strategis yang ideal. Thailand menawarkan akses mudah ke bahan baku berkualitas tinggi dan secara logistik nyaman untuk memasok produk di seluruh AOA (Asia, Oseania dan Afrika), terutama kawasan Asean,” kata ketua dan kepala eksekutif Nestlé Indochina Victor Seah, seperti dikutip dari Bangkok Post.

    “Dengan investasi 5 miliar baht, pabrik Purina yang baru memperkuat komitmen jangka panjang Nestlé untuk melakukan bisnis di Thailand sekaligus menciptakan peluang kerja yang berkualitas bagi masyarakat setempat,” lanjutnya.

    Pabrik Rayong yang baru akan meningkatkan kehadiran Nestlé Purina PetCare di segmen produk makanan kucing basah satu porsi, kategori prioritas bagi perusahaan.

    Rencananya, Nestlé akan menjadikan pabrik baru ini sebagai fondasi untuk lini produk makanan sekali saji kucing basah, baik untuk pasar Thailand maupun di seluruh pasar utama di AOA, termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru.

    “Negara pertama yang kami fokuskan untuk ekspor adalah Jepang, pasar utama yang sangat terkenal dengan standar tinggi dan persyaratan untuk kualitas produk terbaik,” kata chief executive Nestlé Purina PetCare Asia, Oceania and Africa Jean Grunenwald.

    Sebelumnya, Nestlé telah membuka pabrik Purina PetCare pertama di kawasan industri Amata pada 2010, yang memproduksi makanan anjing dan kucing kering.[]

  • Tanggapi Pidato Zelensky, Nestle: Kami Tidak Untung di Rusia

    Jakarta | Produsen makanan asal Swiss, Nestle menegaskan bahwa mereka tidak meraih keuntungan di Rusia. Juru bicara Nestle menyebutkan bahwa pihaknya sangat banyak mengurangi kegiatan bisnis di Rusia, setelah adanya invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

    “Kami telah menangguhkan semua impor dan ekspor, kecuali untuk produk vital,” kata juru bicara Nestle kepada AFP.

    Nestle mengumumkan penangguhan pengiriman produk tertentu ke Rusia, termasuk Nespresso, pada 11 Maret 2022. Namun, penangguhan itu tidak berlaku untuk kebutuhan tertentu, seperti makanan bayi dan sereal.

    Pernyataan ini diungkapkan Nestle setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh perusahaan itu masih melakukan bisnis seperti biasa di Rusia.

    Dalam pidato yang disiarkan langsung ke rapat umum di luar parlemen Swiss di Bern pada akhir pekan lalu, Zelensky mendesak perusahaan-perusahaan Swiss untuk berhenti melakukan bisnis di Rusia. Ia pun memilih Nestle dan slogan “makanan enak, kehidupan yang baik”.

    “Bisnis bekerja di Rusia meskipun anak-anak kita sekarat dan kota-kota kita dihancurkan,” kata Zelensky.

    Sebelumnya, CEO Nestle Mark Schneider juga telah mengungkapkan kekecewaannya terkait invasi Rusia ke Ukraina.

    “Kami berkomitmen untuk membantu tim kami dan keluarga mereka menavigasi situasi ini, yang kami tahu telah membawa tantangan yang tak terbayangkan bagi keamanan dan kesejahteraan mereka, serta kesehatan mental dan emosional mereka,” tulis Schneider di akun resmi Instagram Nestle.

    Nestle pun mencocokkan donasi karyawan ke Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah atau International Federation of Red Cross Societies (IFRC) hingga 1 juta Swiss Franc.

    Sumbangan IFRC akan membantu menyediakan tempat berlindung, barang-barang bantuan dasar, dan pasokan medis kepada orang-orang yang membutuhkan di wilayah tersebut. Ini merupakan tambahan dari sumbangan makanan dan produk kami yang signifikan di lapangan, dan kami tidak akan berhenti di situ.[]

  • Serangan Rusia ke Ukraina Bikin Coca-cola dan Nestlé Tutup Pabrik

    peloporberita.com/ – Akibat serangan Rusia kepada Ukraina, banyak perusahaan menutup pabriknya seperti Mondelez, Carlsberg, Nestlé hingga Coca Cola. Para perusahaan itu menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinannya atas ketegangan yang terjadi serta mengambil langkah untuk keamanan para karyawannya.

    Coca-cola
    Produsen minuman berkarbonasi Coca-Cola menutup pabriknya di Ukraina, dan meminta staf di negara tersebut untuk tetap di rumah. Perusahaan ini juga menyampaikan bahwa merekan akan terus meninjau kondisi ini dalam beberapa hari mendatang seperti dikutip dari Reuters.

    Nestlé
    Nestlé menyatakan telah menutup sementara pabrik, gudang, dan rantai pasokannya di Ukraina dan telah merekomendasikan karyawannya untuk tinggal di rumah. Juru bicara perusahaan juga menyampaikan bahwa mereka akan terus berkomitmen untuk terus melayani masyarakat lokal dan memiliki rencana darurat untuk memastikan perusahaan dapat memulai kembali pasokan setelah kondisi aman.

    ArcelorMittal
    Pabrikan baja itu, melalui cuitan di Twitter menyampaikan bahwa mereka sangat prihatin tentang situasi di Ukraina dan telah membuat rencana agar karyawannya tetap aman. Perusahaan sedang memperlambat produksi ke level minimum hingga menghentikan penambangan bawah tanah.

    Carlsberg
    Pembuat bir terbesar kedua di Ukraina yang memiliki pangsa pasar 31% ini, telah menghentikan operasi di dua pabrik birnya di Kyiv dan kota selatan Zaporizhzhya. Perusahaan ini telah memutuskan untuk mengambil inisiatif di Ukraina untuk menjaga keselamatan karyawan dengan menyuruh mereka untuk tinggal di rumah. Selain kedua pabrik tadi, Carlsberg juga memiliki tempat pembuatan bir ketiga di Ukraina tepatnya di kota barat Lviv.

    Mondelez
    Mondelez International menyatakan, bakal menutup pabriknya di Ukraina jika ketegangan negara itu dengan Rusia meningkat dan menjadi terlalu berbahaya. CEO Dirk Van de Put menegaskan, langkah tersebut diambilnya untuk memastikan para karyawan tetap aman.

    Van de Put juga mengatakan, Mondelez memiliki bisnis besar di kedua negara dan akan menutup pabrik mereka jika kondisi menjadi berbahaya. Mondelez memproduksi merek lokal seperti biskuit Jubilee dan cokelat Korona di kedua negara yang sedang bertikai itu. Selain itu, mereka juga turut menjual biskuit Oreo, cokelat, dan permen karet. []

  • Imbangi Biaya Operasional, Nestle Naikkan Harga Jual KitKat

    peloporberita.com/ – Nestle, produsen makanan dan minuman multinasional mengumumkan kemungkinan naiknya harga cokelat KitKat pada tahun 2022 ini akibat meningkatnya biaya produksi barang.

    Nestle mengaku, sebelumnya mereka telah menaikkan harga sebesar 3 koma 1 persen pada kuartal IV-2021 untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional. Menurut Nestle, asumsi yang aman bahwa kenaikan biaya input untuk 2022 akan lebih tinggi dari 2021.

    “Adalah asumsi yang aman bahwa kenaikan biaya input kami untuk 2022 akan lebih tinggi dari 2021. Itu adalah sesuatu yang harus kami renungkan dalam penetapan harga kami. Hampir tidak ada perusahaan yang bebas dari inflasi sekarang,” tutur CEO Nestle Mark Schneider dikutip dari BBC, Jumat,(18/02/2022)

    Sementara Reckitt Benckiser, produsen kondom Durex mengumumkan bahwa alat kontrasepsi buatannya itu akan naik. Namun mereka berharap sebagian besar kenaikan dapat ditekan.

    Biaya Reckitt naik 11% pada 2021. Meski demikian, tidak berarti harga kondom akan naik dengan persentase sebesar itu. Sebab, perusahaan memiliki cara untuk mengurangi dan mengelola harga.

    “Kami peduli dengan daya saing merek kami,” ungkap Kepala Eksekutif Reckitt Benckiser, Laxman Narasimhan.

    Perusahaan barang konsumen sebelumnya telah memperingatkan kenaikan harga untuk produk akibat kenaikan biaya bahan baku, energi dan tenaga kerja. Ini akan meningkatkan tekanan pada rumah tangga yang menghadapi krisis biaya hidup.

    Berdasarkan data terbaru, inflasi mencapai level tertinggi selama 30 tahun sebesar 5,5% pada tahun ini hingga Januari 2022. Bank of England sendiri memperkirakan bahwa biaya hidup dapat mencapai lebih dari 7% pada musim semi, jauh di atas target inflasi 2%.

    Sementara biaya gas dan listrik akan meningkat pada bulan April ketika batas harga energi baru yang lebih tinggi diperkenalkan. Pada saat yang sama, perusahaan, staf mereka dan wiraswasta akan membayar 1,25 lebih banyak dalam pound untuk Asuransi Nasional. []

  • Nestle Akan Tutup Pabrik, Ratusan Karyawan Jadi Pengangguran

    peloporberita.com/ | Produsen makanan dan minuman asal Swiss, Nestle akan menutup pabrik makanan manis di Fawdon, Newcastle, Inggris, pada tahun depan. Selanjutnya, Nestle mengalihkan produksi ke sejumlah negara lain, seperti Fruit Pastilles di Republik Ceko dan Toffee Crisps di Polandia.

    Serikat pekerja GMB dan Unite mengecam dan menyatakan rencana itu tidak dapat diterima. Pasalnya, keputusan ini akan membuat 474 karyawan Nestle kehilangan pekerjaan. Selain itu, pabrik Fawdon juga terbilang masih menghasilkan keuntungan bagi Nestle.

    Dalam beberapa tahun terakhir, pabrik tersebut telah menghasilkan sejumlah produk populer seperti Rolos, Munchies dan Matchmakers.

    “GMB dan Unite sekarang akan berbicara dengan anggota di Fawdon dan mencari tahu apa yang ingin mereka lakukan selanjutnya. Kami akan memberi mereka dukungan dan sumber daya apa pun yang mereka butuhkan untuk melawan ini,” kata GMB National Officer Ross Murdoch, dikutip dari BBC.

    Demikian juga National Officer for Unite Joe Clarke mengaku kecewa lantaran proposal alternatif untuk menjaga pabrik Fawdon tetap terbuka telah ditolak. Clarke mengaku pihaknya sedang mencari informasi lebih lanjut sehubungan dengan proposal tersebut.

    “Kami akan melakukan dialog tentang langkah selanjutnya dalam waktu dekat,” ujar Clarke.

    Hingga saat ini, Nestle tercatat telah mempekerjakan lebih dari 8.000 orang di Inggris dan Irlandia di 18 lokasi, termasuk 14 pabrik. []

    Baca juga: Nestle Kurangi Kepemilikan Saham di L’Oreal

  • Nestle Kurangi Kepemilikan Saham di L’Oreal

    peloporberita.com/ – Nestle mengumumkan akan mengurangi kepemilikan sahamnya di L’Oreal menjadi sekitar 20 persen dengan menjual saham senilai 10 miliar dolar Amerika, atau setara 143 triliun rupiah.

    Sebelumnya Nestle menguasai 23 koma 3 persen saham L’Oreal. Sementara itu, L’Oreal, akan membeli kembali saham yang mewakili 4 persen dari modalnya dan membatalkannya paling lambat pada 29 Agustus.

    Kepemilikan pembuat Nescafe di raksasa kecantikan tersebut telah menjadi subjek pengawasan ketat selama bertahun-tahun. Dilansir dari Reuters, Nestle tetap mempertahankan minatnya baik finansial dan strategis, bahkan ketika investor aktivis Third Point mendesak pelepasan pada pertengahan 2017 silam.

    Baca juga : 

    L’Oreal, yang membayar 400 euro per saham mengatakan kesepakatan itu akan memiliki efek accretive pada pendapatan per saham perusahaan lebih dari 4 persen dalam setahun penuh. Perusahaan kecantikan itu membayar dengan uang tunai dan utang.

    Sebelumnya, pada Oktober 2019 Nestle juga telah menutup penjualan bisnis kesehatan kulitnya seharga 10,2 miliar Swiss franc . Ini merupakan langkah Nestle untuk mengurangi paparan bisnis yang berkinerja buruk.[]