Tag: Negara Berkembang

  • Mendag Lutfi: Negara Maju Terapkan Standar Ganda, WTO Tidak Berkutik

    Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) bisa menjadi solusi nyata bagi perekonomian dunia yang tengah dilanda inflasi tinggi saat ini.

    Kondisi tersebut khususnya diakibatkan oleh hambatan perdagangan dunia yang disebabkan proteksionisme dan perang dagang, serta tidak berfungsinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagaimana mestinya.

    “Ketika negara-negara yang sudah maju menerapkan standar ganda, WTO justru tidak berkutik,” ucap Mendag Lutfi mengejutkan panelis lainnya.

    Adapun standar ganda yang dimaksud Mendag Lutfi adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia, ketika mereka kurang diuntungkan posisi dagangnya terhadap suatu negara tertentu, misalnya Tiongkok.

    RCEP sendiri, berpotensi memperbaiki tata niaga perdagangan dunia. Dari yang sebelumnya berbasis akumulasi dan konsentrasi kemakmuran, menuju tata niaga baru yang meratakan kemakmuran dan menciptakan kesejahteraan bersama.

    Hal ini disampaikan Mendag dalam panel diskusi World Economic Forum bertema “The Biggest Trade Deal in the World” dikutip Sabtu, (28/05/2022). Menurut Mendag Lutfi, bila dievaluasi secara jujur, kondisi tersebut akibat dari kompetisi atau persaingan bebas yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro.

    “Oleh karena itulah tata niaga dunia yang baru harus berbasis kolaborasi yang bermanfaat tanpa adanya diskriminasi atau bersifat inklusif. Bila seluruh dunia sibuk berkolaborasi maka tidak ada ruang untuk kompetisi yang sering kali berujung kepada konflik antarnegara,” tuturnya.

    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi
    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam panel diskusi “The Biggest Trade Deal in the World” di Davos, 26 Mei 2022. (Foto:Pelopor.id/Kemendag)

    RCEP sebagai perjanjian perdagangan bebas terbesar di dunia diikuti oleh kesepuluh negara ASEAN ditambah Australia, Selandia Baru, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. RCEP adalah kerja sama perekonomian pertama di dunia yang memiliki Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sama-sama menjadi anggota.

    “Perdagangan bebas tidak harus berdasarkan persaingan bebas. Melainkan bisa juga dicapai melalui kolaborasi yang nondiskriminatif atau inklusif. Sudah ada bukti keberhasilannya yaitu ASEAN,” tandas Mendag Lutfi.

    Ia menjelaskan, model komunitas ekonomi bersama yang inklusif dan kolaboratif sudah dibuktikan keberhasilannya oleh ASEAN yang saat ini merupakan perekonomian terbesar kelima di dunia dengan total produk domestik bruto (PDB) mencapai USD 3,3 triliun dan total populasi masyarakatnya 630 juta orang.

    [irp]

    Padahal kesepuluh negara ASEAN memiliki latar belakang, bentuk pemerintahan, bahkan sistem perekonomian yang sangat beragam.

    “Di belahan dunia lain justru menciptakan pertentangan bahkan perang dingin, di ASEAN kami merajutnya menjadi persatuan, kesejahteraan bersama, dan kolaborasi untuk berperan lebih bagi perekonomian dunia,” sebut Mendag Lutfi.

    Sepuluh negara ASEAN tersebut, terdiri atas satu kerajaan (absolute monarchy), dua pemerintahan junta militer, dua negara komunis, dan lima demokrasi dengan rasa lokal yang kuat.

    “Lewat RCEP, kami berharap struktur dan model ASEAN yang terbukti relevan dan berhasil akan menjadi contoh yang diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia,” pungkas Mendag Lutfi. []

    [irp]

  • Mendag Lutfi di WEF 2022: Bahaya Kalau Beberapa Negara Maju Berkelompok Membenarkan Standar Ganda

    Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, tingginya harga komoditas dunia saat ini adalah peluang bagi para petani di negara-negara berkembang besar seperti Indonesia, India, Brasil dan Tiongkok untuk menikmati keuntungan lebih.

    “Ini ekuilibrium baru dalam perdagangan komoditas pangan dunia. Jangan dirusak dengan menyalahkan salah satu negara misalnya Tiongkok karena posisi dagang yang kurang menguntungkan. Bahaya kalau beberapa negara maju berkelompok untuk membenarkan standar ganda,” tuturnya dalam panel diskusi World Economic Forum bertema “The Biggest Trade Deal in the World” dilansir Sabtu, (28/05/2022).

    Mendag Lutfi menjelaskan, standar ganda yang dimaksud adalah negara-negara yang sudah maju menyalahkan dan mengganggu perdagangan bebas dunia, ketika mereka kurang diuntungkan posisi dagangnya terhadap suatu negara tertentu, misalnya Tiongkok.

    Padahal lanjut Mendag, dahulu ketika posisi dagang mereka diuntungkan sehingga petani di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang makmur, semua negara berkembang dipaksa membuka pasar mereka.

    “Harus ada kebersamaan dan kesetaraan kesempatan dalam perdagangan bebas dunia,” tegas Mendag Lutfi.

    Dalam kesempatan yang sama, CEO Suntory Holdings, salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia asal Jepang, Tak Miinami menyatakan pesimis dengan situasi perdagangan dunia saat ini.

    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam panel diskusi “The Biggest Trade Deal in the World” di Davos, 26 Mei 2022.
    Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam panel diskusi “The Biggest Trade Deal in the World” di Davos, 26 Mei 2022. (Foto:Pelopor.id/Kemendag)

    Khususnya lantaran Tiongkok saat ini menutup pasarnya karena kebijakan Zero-Covid yang diterapkan Presiden China Xi Jin Ping. Sehingga Tiongkok, menurutnya, perlu dibatasi perannya dalam perdagangan dunia.

    Mendag Lutfi pun, menyayangkan pandangan tersebut apalagi mengingat Jepang sudah merasakan menjadi negara maju. Menurut Mendag, dunia harus mengakui fakta bahwa ketika Tiongkok mulai mendominasi perdagangan dunia, dampak positifnya dapat dirasakan seluruh masyarakat dunia dengan harga barang-barang yang semakin terjangkau.

    “Kami di Indonesia sangat merasakan betul manfaatnya. Apalagi Tiongkok juga menjadi sumber utama transfer teknologi bagi negara-negara berkembang saat ini,” ungkap Mendag Lutfi.

    [irp]

    Padahal, lanjut Mendag, Tiongkok baru bergabung dengan WTO di tahun 2001. Namun manfaatnya jauh lebih terasa dibandingkan empat puluh tahun lebih sejak perdagangan dunia didominasi oleh kapitalisme Barat.

    “Biarkan harga pangan tinggi saat ini menjadi sinyal agar petani dan peternak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia meningkatkan produksi, sehingga nantinya harga akan turun dengan sendirinya karena pasokan melimpah,” tandas Mendag Lutfi. []

    [irp]