Tag: minyak

  • India dan Tiongkok Kini Jadi Pembeli Utama Minyak Rusia

    Jakarta | India dan Tiongkok kini menjadi pembeli utama minyak Rusia, ketika negara itu sedang berjuang menghadapi sanksi dari Barat akibat melancarkan invasi ke Ukraina.

    Saat ini, Rusia menjual minyaknya dengan harga diskon USD 30 hingga USD 35 per barel. Harga itu lebih murah dari minyak mentah Brent dan minyak internasional lainnya yang kini diperdagangkan sekitar USD 120 per barel.

    Perusahaan data komoditas Kpler mencatat, sepanjang tahun ini, India telah menghabiskan hampir 60 juta barel minyak Rusia.

    “Orang-orang menyadari bahwa India adalah pusat penyulingan, menerimanya dengan harga yang begitu murah, memurnikannya dan mengirimkannya sebagai produk bersih karena mereka dapat membuat margin yang kuat untuk itu,” ungkap analis utama Kpler Matt Smith seperti dikutip dari AP News.

    Centre for Research on Energy and Clean Air yang berbasis di Finlandia menyebutkan, ada sekitar 30 kapal tanker Rusia yang memuat minyak mentah menuju pantai India, menurunkan sekitar 430.000 barel per hari pada Mei lalu. Jumlah itu meningkat dari periode Januari-Maret yang hanya 60.000 barel.

    Demikian juga dengan Tiongkok yang telah menambah pembeliannya atas minyak Rusia. Tahun lalu, Tiongkok telah menjadi pembeli tunggal terbesar minyak Rusia, dengan rata-rata mencapai 1,6 juta barel per hari.

    Negara tersebut meningkatkan impornya tahun ini, setidaknya dapat membantu Pemerintah Rusia mencatat surplus transaksi hingga USD 96 miliar dari Januari-April.

    Kpler menilai, minyak mentah mengalir lebih lancar ke Asia lantaran pengiriman minyak Ural ke sebagian besar Eropa telah dipotong. India pun telah menjadi pembeli utama, yang disusul Tiongkok. Laporan pelacakan kapal menunjukkan Turki adalah tujuan utama berikutnya.[]

  • OPEC+ Setujui Peningkatan Produksi Minyak Hingga 50%

    Jakarta | OPEC+ akan meningkatkan ukuran kenaikan pasokan minyaknya sekitar 50%, tunduk pada tekanan berbulan-bulan dari konsumen utama, termasuk Amerika Serikat (AS), untuk membantu meringankan dampak tingginya harga energi.

    Menurut delegasi yang tak ingin disebutkan namanya, para menteri sepakat pada Kamis (02/06/2022) bahwa kelompok tersebut harus menambahkan 648.000 barel minyak per hari ke pasar pada Juli dan Agustus, naik dari 432.000 barel per hari dalam beberapa bulan terakhir.

    Kenaikan akan dibagi secara proporsional antara anggota dengan cara biasa, kata delegasi seperti dilansir dari Bloomberg. Negara-negara yang belum mampu menaikkan produksi, seperti Angola, Nigeria dan Rusia, masih akan mendapat alokasi kuota yang lebih tinggi.

    Hal itu bisa berarti bahwa peningkatan pasokan sebenarnya lebih kecil dari angka resmi, seperti yang sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

    Peningkatan pasokan tambahan dari OPEC+ mungkin akan datang dari beberapa negara. Hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memiliki volume kapasitas cadangan signifikan yang dapat ditingkatkan dengan cepat. Banyak anggota lain telah berjuang untuk mencapai target output mereka selama berbulan-bulan.

    Produksi Rusia telah turun signifikan sejak invasi ke Ukraina dengan kombinasi sanksi barat, kesulitan pengiriman dan penolakan dari sejumlah pelanggan tradisional. Menurut Badan Energi Internasional, produksinya 1,3 juta barel per hari di bawah target OPEC+ pada April.

    OPEC+ adalah kelompok dari 24 negara penghasil minyak, terdiri dari 13 anggota OPEC dan 11 anggota non-OPEC lainnya.

    Negara-negara yang tergabung dalam OPEC adalah Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Venezuela, Aljazair, Angola, Kongo, Guinea Khatulistiwa, Gabon, Libya, Nigeria, UEA.

    OPEC+ termasuk Azerbaijan, Bahrain, Brunei Darussalam, Kazakhstan, Malaysia, Meksiko, Oman, Filipina, Rusia, Sudan dan Sudan Selatan.[]

  • Tekanan Ekspor Rusia Dapat Dorong Harga Minyak ke Level USD 150

    Jakarta | Bank of America (BofA) Global Research menyebutkan, harga patokan global minyak mentah Brent bisa naik melewati USD 150 per barel, jika ada kontraksi tajam dalam ekspor minyak Rusia.

    Harga minyak sudah melonjak setelah invasi Rusia ke Ukraina pada akhir Februari, dan saat ini berada di bawah USD 120 per barel.

    “Dengan target Brent USD 120 kami sekarang di depan mata, kami percaya bahwa kontraksi tajam dalam ekspor minyak Rusia dapat mendorong Brent melewati USD 150,” tulis analis bank seperti dikutip dari Reuters.

    Komisi Eropa telah mengusulkan embargo minyak terhadap Rusia, meskipun pembicaraan sejauh ini gagal menghasilkan terobosan, dengan Hongaria memveto langkah tersebut.

    BofA memperkirakan harga Brent rata-rata USD 104,48 per barel untuk tahun 2022, dan sebesar USD 100 tahun depan.

    Para analis tidak memperkirakan pemulihan permintaan minyak ke tingkat sebelum Covid tahun ini, lantaran masalah pasokan terus berlanjut.

    “Peningkatan harga minyak sebesar USD 30 yang didorong oleh pasokan tahun ini memangkas 1,5 juta barel per hari dari permintaan, mencegah pemulihan ke tingkat sebelum Covid,” kata analis bank.

    Sebelum pandemi, permintaan minyak global pada 2019, rata-rata di bawah 100 juta barel per hari.

    Para analis juga mengatakan bahwa permintaan minyak dapat mendekati tingkat pra-pandemi tahun depan, jika produksi cairan (minyak) Rusia mendekati 10 juta barel per hari dan pasokan dari aliansi OPEC+, yang mencakup Rusia, meningkat.

    Harga minyak berada di jalur kenaikan mingguan pada Jumat, didukung oleh prospek pasar yang ketat akibat meningkatnya konsumsi bensin di Amerika Serikat saat musim mengemudi musim panas dimulai, dan kemungkinan larangan Uni Eropa terhadap minyak Rusia.[]

  • Banpu Akuisisi Aset Exxon Mobil Senilai USD 750 Juta

    Jakarta | Konglomerat energi non-minyak yang terdaftar di SET, Banpu, terus mengembangkan bisnis gasnya di Amerika Serikat (AS) dengan mengakuisisi aset baru di ladang serpih Barnett dari Exxon Mobil Corporation senilai USD 750 juta.

    BKV Corporation, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Banpu, baru-baru ini menandatangani kesepakatan untuk membeli bisnis gas alam dan gas midstream dari XTO Energy Inc dan Barnett Gathering Llc, dua anak perusahaan Exxon Mobil. Transaksi tersebut dijadwalkan selesai pada Juni.

    Sebelumnya, Banpu mengakuisisi bisnis gas di ladang serpih Barnett Texas dan ladang serpih Marcellus di Pennsylvania, dengan kapasitas produksi gabungan 700 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

    Aset baru dengan kapasitas produksi gas 225 MMSCFD ini akan membawa total produksi gas Banpu di AS menjadi lebih dari 900 MMSCFD. Mengutip Bangkok Post, Banpu memang sangat ingin mengembangkan dan mengoperasikan bisnis gas di AS.

    Lengan pembangkit listrik perusahaan Banpu Power Plc (BPP) sebelumnya mengumumkan akan mencari peluang bisnis baru di sana, di bawah rencananya menjadikan AS rumah kedua untuk ekspansi bisnis energi.

    Langkah tersebut dilakukan setelah BPP menyelesaikan kesepakatan pembelian saham senilai USD 430 juta untuk mengakuisisi pabrik Temple 1 di Texas.[]

  • Otoritas Listrik Thailand Siapkan Belanja Modal Rp 107 Triliun

    Jakarta | Otoritas Listrik Provinsi atau The Provincial Electricity Authority (PEA), cabang distribusi tenaga negara, berencana mengalokasikan belanja modal senilai 253 miliar baht (Rp 107,8 triliun) selama 10 tahun ke depan.

    Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk berbagai proyek, mulai dari meteran pintar hingga kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) untuk membantu pemerintah mencapai target netralitas karbonnya pada 2050.

    Proyek PEA mencakup respons permintaan dan sistem manajemen energi (44 miliar baht), proyek jaringan mikro dan prosumer (20,6 miliar baht), sistem penyimpanan energi (103 miliar baht), infrastruktur pengisian EV (2,8 miliar baht) dan modernisasi jaringan ( 82,5 miliar baht).

    Melansir Bangkok Post, Sabtu (23/04/2022), Gubernur PEA Supachai Ek-Un mengatakan, tahap pertama anggaran senilai 8 miliar baht telah disetujui oleh Kantor Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional.

    Dana tersebut dialokasikan untuk respon permintaan dan proyek sistem manajemen energi yang memasang meteran pintar di Kota Pattaya, untuk membantu rumah tangga mengelola konsumsi listrik dan mengurangi tagihan listrik dengan lebih baik. PEA telah memasang hingga 100.000 meter dan berencana menambah 50.000 meter tahun depan.

    Kemudian, PEA berencana mendorong proyek EV dengan membaginya menjadi dua fase. Pertama adalah perluasan jaringan fasilitas pengisian EV secara nasional, kemudian kedua adalah manajemen lalu lintas untuk EV yang menggunakan infrastrukturnya.

    PEA optimistis industri EV di Thailand akan tumbuh pesat, salah satunya dipicu oleh melonjaknya harga minyak.

    Proyek utama lainnya yang didukung oleh anggaran belanja modal 10 tahun termasuk pengembangan sistem penyimpanan energi untuk mengatasi keluaran listrik yang terputus-putus dari sumber terbarukan.[]

  • Dihapus dari New York, CNOOC Bakal IPO di Bursa Shanghai

    Jakarta | Perusahaan minyak lepas pantai terbesar di Tiongkok, CNOOC Ltd, akan menggelar penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa Shanghai.

    Aksi itu ditargetkan bisa menghasilkan 28,08 miliar yuan atau sekitar USD 4,41 miliar, dan jika tercapai, ini akan menjadi IPO terbesar ke-11 di Tiongkok daratan. Melansir Reuters, rencananya hasil IPO itu akan digunakan untuk menambah permodalan CNOOC dan juga mendanai satu proyek gas dan tujuh ladang minyak di Tiongkok dan luar negeri.

    CNOOC berusaha mengambil keuntungan dari melonjaknya harga minyak global akibat perang Rusia-Ukraina mendorong harga energi yang sudah tinggi. CNOOC menargetkan laba kuartal pertama tahun ini bisa melonjak 62%-89% dari tahun sebelumnya, setelah mencatat rekor laba dan produksi pada 2021.

    CNOOC memutuskan listing di Bursa Shanghai, setelah namanya dihapus dari Bursa Efek New York pada Oktober lalu, pasca pemerintah Amerika Serikat (AS) memasukkannya dalam daftar hitam perdagangan akibat diduga memiliki koneksi ke militer Tiongkok.

    Dua kompetitornya yang didukung oleh negara, yaitu PetroChina dan Sinopec sudah lebih dulu melantai di Bursa Shanghai.[]

  • Atasi Sanksi Barat, Rusia Tingkatkan Dana Cadangan Pengeluaran Darurat

    Jakarta | Rusia meningkatkan dana cadangannya untuk pengeluaran darurat sebesar 273,4 miliar rubel atau setara USD 3,52 miliar. Langkah itu untuk memastikan stabilitas ekonomi, mengingat saat ini Rusia dilanda sanksi-sanksi dari Barat atas invasinya ke Ukraina.

    “Dana tersebut antara lain akan digunakan untuk melaksanakan langkah-langkah yang bertujuan untuk memastikan stabilitas ekonomi dalam kaitannya dengan sanksi eksternal,” kata pemerintahan Vladimir Putin dalam sebuah pernyataan yang dilansir dari Reuters.

    Pemerintahan Putin menjelaskan, sumber utama peningkatan dana cadangan adalah 271,6 miliar rubel dalam pendapatan energi tambahan yang diterima pada kuartal pertama tahun ini, lantaran harga minyak dan gas naik sebagai tanggapan terhadap pemulihan dari dampak pandemi dan konflik Rusia-Ukraina.

    Dana cadangan pemerintah adalah bantalan kas yang akan digunakan untuk pengeluaran tak terduga yang tidak diproyeksikan dalam APBN. Tahun lalu, dana cadangan itu digunakan untuk pembayaran sosial satu kali dan juga untuk mengatasi dampak pandemi.

    Sanksi dari negara-negara Barat telah membuat Rusia terputus dari sistem keuangan global dan saluran pasokan. Tak hanya itu, Barat juga bergerak ke larangan penuh energi dari Rusia, untuk melucuti sumber pendapatan terbesar negara itu. Rusia memasok sekitar 40% dari konsumsi gas alam Uni Eropa, yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari USD 400 juta per hari.[]

  • Tiongkok Diam-diam Membeli Minyak Mentah Rusia yang Murah

    Jakarta | Penyulingan minyak Tiongkok disebut sedang bernegosiasi secara pribadi di bawah radar dengan para pedagang minyak mentah Rusia yang murah, lantaran pasokan negara itu terus meresap ke pasar. Berbeda dengan India yang telah mengeluarkan sejumlah tender untuk membeli minyak mentah Ural andalan Rusia di antara kelas lainnya.

    Sebagian besar pembeli menghindari minyak mentah Rusia setelah invasinya ke Ukraina, lantaran khawatir reputasi mereka akan rusak atau terkena sanksi. Sementara penyulingan independen Tiongkok, yang merupakan seperempat dari kapasitas pemrosesan negara dan sebagian besar berbasis di Shandong, membeli sejumlah minyak ESPO yang dimuat di pelabuhan timur Rusia Kozmino, menurut para pedagang seperti dikutip dari Bloomberg.

    ESPO disukai lantaran dapat dikirim ke pelabuhan mereka yang lebih kecil, yang tidak dapat menurunkan muatan kapal yang lebih besar, dari jarak yang lebih pendek sehingga menghemat biaya.

    Perdagangan minyak Rusia sebagian besar telah bergeser dari mata publik, setelah invasi ke Ukraina. Pembeli dan penjual yang bersedia, dipaksa terlibat dalam negosiasi pribadi setelah sejumlah tender menarik tawarannya. Shell Plc mendapat kritik keras setelah pembelian Ural tidak lama setelah perang dimulai.

    Minyak mentah Rusia lainnya, Sokol, juga mengalir ke India. Menurut para pedagang, Indian Oil Corp yang dikelola negara dan Hindustan Petroleum Corp membeli beberapa pemuatan Sokol pada Mei dari ONGC Videsh Ltd, mitra ekuitas dalam proyek Sakhalin-I. Kargo dimuat dari terminal De-Kastri. Namun, Hindustan Petroleum dan ONGC menolak berkomentar.

    Berdasarkan data Bloomberg, India sejauh ini telah membeli setidaknya 13 juta barel Ural sejak akhir Februari.[]

  • Mumpung Diskon, India Borong Minyak Rusia

    peloporberita.com/ – Pemerintah India memutuskan untuk membeli minyak dengan harga diskon dari Rusia, ditengah gejolak sanksi ekonomi negara-negara barat yang mencakup sector energy.

    Disebutkan, perusahaan kilang minyak India, Indian Oil Corp (IOC), membeli 3 juta barel minyak Ural Rusia, melalui Vitol sebagai perantara untuk pengiriman bulan Mei mendatang.

    Menurut sumber, IOC tidak melihat adanya masalah dalam membayar kargo karena minyak sebagai komoditas tidak dilarang dan tidak berurusan dengan entitas yang terkena sanksi. Adapun diskon yang diberikan Vitol sebesar US$ 20 – US$ 25 per barel atas harga minyak Brent.

    “Rusia menawarkan minyak dan komoditas lainnya dengan diskon besar. Kami akan dengan senang hati menerimanya. Kami memiliki beberapa masalah seperti kapal tanker, asuransi, dan campuran minyak yang harus diselesaikan. Setelah kami memilikinya, kami akan mengambil tawaran diskon,” ucap pejabat pemerintah India.

    India sendiri, tidak mendukung serangan Rusia terhadap Ukraina. Namun pemerintah New Delhi secara konsisten meminta semua pemangku kepentingan untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina melalui jalan dialog, serta memilih untuk menyatakan abstain dalam semua resolusi PBB melawan Rusia.

    Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki menilai, keputusan India untuk membeli minyak Rusia tidak akan melanggar sanksi AS. Tetapi, ia mengingatkan bahwa negara mana pun bisa mematuhi sanksi yang telah diberikan dan direkomendasikan negaranya.

    “Pesan kami kepada negara mana pun adalah tetap mematuhi sanksi yang telah kami berikan dan rekomendasikan,” tutur Psaki dilansir dari the Economic Times Rabu, (16/03/2022).

    Sementara anggota Kongres India-Amerika Ami Bera menyatakan, ia kecewa atas laporan bahwa India sedang mempertimbangkan untuk membeli minyak Rusia dengan harga diskon besar-besaran.

    “Jika laporan tersebut akurat dan India membuat keputusan untuk membeli minyak Rusia dengan harga diskon, New Delhi berarti memilih untuk berpihak pada Vladimir Putin, pada momen penting dalam sejarah ketika negara-negara di seluruh dunia bersatu untuk mendukung rakyat Ukraina dan menentang serangan mematikan Rusia,” tandasnya. []

  • Malaysia Butuh USD 6,7 Miliar untuk Subsidi Minyak Tahun Ini

    peloporberita.com/ | Menteri Keuangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz memprediksi, tagihan subsidi minyak Malaysia tahun ini bisa melonjak lebih dari dua kali lipat, menjadi 28 miliar ringgit atau setara USD 6,7 miliar (Rp 95,6 triliun dengan kurs 14.200 per dolar).

    Hal itu bisa terjadi jika harga minyak mentah tetap pada tingkat yang tinggi, setelah invasi Rusia ke Ukraina.

    Tengku Zafrul mengatakan kepada parlemen bahwa pada Januari, pemerintah sudah mulai meningkatkan subsidi hingga 2 miliar ringgit untuk subsidi bensin, solar dan bahan bakar gas cair. Angka itu meningkat sepuluh kali lipat dari bulan yang sama tahun lalu.

    Melansir Bangkok Post, sepanjang tahun lalu Malaysia telah menghabiskan 11 miliar ringgit untuk subsidi minyak bumi.

    Tengku Zafrul mengatakan, saat ini pemerintah Malaysia sedang mengkaji mekanisme subsidi untuk memastikan bantuan tersebut tepat sasaran, lantaran harga barang-barang bersubsidi lainnya seperti minyak goreng, juga akan naik.

    “Pemerintah tidak bisa meminjam untuk membiayai pengeluaran operasional seperti biaya subsidi. Jadi, kenaikan subsidi perlu diimbangi dengan tambahan pendapatan dan penghematan biaya,” tegas Tengku Zafrul.

    Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Salah satu upaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meredam invasi tersebut adalah tidak lagi mendesak keanggotaan NATO untuk Ukraina. Seperti diketahui, ini merupakan salah satu alasan utama invasi Rusia.

    Melansir AFP, Zelensky juga mengaku terbuka untuk berkompromi tentang status dua wilayah separatis Ukraina yang telah diakui Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai negara merdeka, sesaat sebelum invasi dimulai.[]