Tag: Minor International

  • Minor Hotels Luncurkan Layanan Kesehatan dari VLCC India

    Jakarta | Minor Hotels, cabang perhotelan Minor International (MINT), baru-baru ini meluncurkan layanan kesehatan baru dari VLCC, operator kecantikan dan kesehatan terbesar di India. MINT sendiri merupakan perusahaan perhotelan, restoran dan gaya hidup terbesar di Asia Pasifik.

    Dengan anggaran 20-30 juta baht, Avani+ Hua Hin yang populer di kalangan pasar India, adalah resor pertama yang menampilkan layanan dari VLCC. Perusahaan berencana meluncurkan layanan ini ke lokasi lain di Thailand dan luar negeri.

    Melansir Bangkok Post, Pendiri dan Ketua MINT William Heinecke mengatakan bahwa Minor Hotels berencana menambah produk kesehatan, makanan dan olahraga baru di 550 hotel di seluruh dunia. Perusahaan juga menargetkan bisa membuka 50 hotel baru selama tiga tahun.

    VLCC yang beroperasi di 12 negara di Asia, Timur Tengah dan Afrika Timur, akan mendukung tenaga kerja dan peralatan kesehatan dalam kemitraan dengan Minor Hotels.

    Minor Hotels juga bermitra dengan merek kesehatan Clinique La Prairie, Vivid by Verita Health dan RAKxa untuk memanfaatkan pasar kesehatan global senilai USD 1,1 triliun.

    Dengan tujuan memiliki lebih dari 100 penawaran kesehatan di propertinya dalam lima tahun, Heinecke mengatakan pendapatan dari segmen spa dan kesehatan diperkirakan mencapai 10% dari total pendapatan.[]

  • Minor International Desak Pemerintah Thailand Akhiri Pembatasan Perjalanan

    Jakarta | Perusahaan perhotelan, restoran dan gaya hidup terbesar di Asia Pasifik, Minor International (MINT) menyarankan agar pemerintah Thailand membatalkan semua pembatasan perjalanan Covid sebelum tanggal tentatif 1 Juni, untuk menyelamatkan ekonomi sebelum terlambat.

    “Penghapusan Thailand Pass di bawah skema Test and Go pada 1 Juni sudah terlambat. Kami percaya pencabutan semua pembatasan perjalanan harus segera dilakukan karena seluruh dunia sudah terbuka,” kata Pendiri dan Ketua MINT William Heinecke, seperti dikutip dari Bangkok Post.

    Pasalnya, menurut dia, banyak orang ingin mengunjungi Thailand selama Festival Songkran dan Paskah, namun terlalu banyak pembatasan bisa mengurungkan niat wisatawan.

    Heinecke juga mengatakan bahwa negara itu menderita lantaran pemerintah telah menghancurkan peluang pariwisata, menyebabkan banyak hotel mulai memberhentikan pekerja lagi setelah melihat kenaikan inflasi.

    Ia yakin tanpa aturan perjalanan, pariwisata Thailand akan bangkit kembali dalam waktu satu tahun. Bahkan, tanpa pasar Tiongkok, seperti yang terlihat di Maladewa, yang telah melampaui tingkat pra-pandemi.

    Heinecke melihat Arab Saudi, yang memulihkan hubungan dengan Thailand setelah putus selama 32 tahun, adalah pasar berkualitas dengan pembelanjaan tinggi yang dapat ditargetkan sektor ini.

    Kemudian segmen kesehatan memiliki potensi tinggi untuk menarik wisatawan dari Eropa dan Amerika, yang merupakan pasar utama bagi pariwisata Thailand saat ini.[]