Tag: Metaverse

  • Lirik Metaverse, Korea Investment Corp Tingkatkan Investasi di Silicon Valley

    peloporberita.com/ | Korea Investment Corp (KIC) berencana meningkatkan investasinya hingga USD 200 miliar di perusahaan rintisan Silicon Valley. Langkah itu dilakukan lantaran KIC melihat ke metaverse dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang bisa mempercepat ekspansinya dalam aset alternatif.

    Chief Executive Officer (CEO) KIC Seoungho Jin melihat aset alternatif akan menyumbang sekitar 25% dari portofolio KIC pada 2025, dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 17%. Dengan begitu, aset yang dikelola pun akan bertambah jadi USD 300 miliar.

    Meski sejumlah investor mengatakan Silicon Valley sudah jenuh, ia mengaku tetap optimistis.

    “Masih ada banyak peluang bagus, jika Anda mengejarnya dengan penuh semangat,” kata Seoungho Jin, dilansir dari Bloomberg.

    Selain meningkatkan aset, KIC juga ingin membuat manajemen risiko lebih canggih dan proses pengambilan keputusan lebih transparan.

    Pada tahun ini, Seoungho Jin juga akan menambah jumlah karyawan di hedge fund di San Francisco untuk mengeksplorasi investasi di bidang teknologi, kesehatan dan usaha hijau di Silicon Valley.

    “KIC juga akan memasukkan lebih banyak uang ke saham teknologi, sambil mengevaluasi peluang di saham keuangan, yang mungkin mendapat manfaat dari suku bunga yang lebih tinggi,” imbuh Seoungho Jin. []

  • Penjualan Properti di Metaverse Diprediksi Tembus USD 1 Miliar Tahun Ini

    peloporberita.com/ | Data MetaMetric Solutions menunjukkan, penjualan real estate di metaverse (meta semesta) sepanjang tahun lalu mencapai USD 501 juta atau sekitar Rp 7,16 triliun (kurs Rp14.300 per USD).

    Sedangkan untuk tahun ini, MetaMetric Solutions memprediksi penjualan properti di metaverse bisa tumbuh hingga dua kali lipat dari tahun lalu, menjadi USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,3 triliun.

    CEO Republic Realm Janine Yorio mengatakan memang ada risiko besar dalam berinvestasi properti di metaverse, namun potensi imbalannya besar. Republic Realm adalah firma penasihat sekaligus investor real estate metaverse.

    Mengutip CNBC.com, Republic Realm telah mengeluarkan USD 4,3 juta untuk tanah di platform real estate metaverse terbesar. Saat ini, Republic Realm sedang mengembangkan 100 pulau, yang disebut dengan kepulauan fantasi.

    Tercatat, penjualan hari pertama berhasil memasarkan 90 pulau senilai USD 15 ribu. Kini, beberapa pulau terdaftar dijual kembali, dengan harga lebih dari USD 100 ribu.

    Untuk diketahui, Metaverse adalah konsep dunia virtual di mana seseorang dapat membuat dan menjelajah dengan pengguna internet lainnya dalam bentuk avatar dirinya sendiri.

    Dirangkum dari akun Instagram resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, orang-orang dapat bekerja, bertemu, bermain di metaverse dengan menggunakan headset realitas virtual, kacamata augmented reality atau perangkat lainnya. []

  • Apple Perluas Aplikasi AR dan Membesarkan Bisnis Metaverse

    peloporberita.com/ | Perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Apple Inc, memperluas aplikasi augmented reality (AR) untuk membesarkan bisnis metaverse. Langkah inipun mendorong respon investor yang kuat terhadap saham Apple. Apalagi, perusahaan tersebut juga telah memiliki 14.000 aplikasi AR di App Store.

    “Kami melihat banyak potensi di lingkup ini dan akan berinvestasi sesuai dengan potensinya,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Apple Tim Cook, seperti dilansir dari Reuters.

    Perangkat AR dapat membuka banyak peluang untuk menumbuhkan langganan. Penawaran yang ada untuk latihan kebugaran dan konten video dapat menjadi lebih menarik melalui pengalaman AR yang imersif.

    Seiring dengan pertumbuhan layanan dan pelanggan, margin laba kotor Apple pun berhasil melonjak lebih dari 40%.

    Analis Counterpoint Research Neil Shah mengatakan bahwa layanan terkait Metaverse, seperti aplikasi AR, dapat membalikkan campuran pendapatan Apple.

    “Ada keuntungan signifikan untuk bisnis layanan Apple yang berpotensi melintasi iPhone dalam lima tahun ke depan,” ujar Shah.

    Pendapatan layanan Apple melonjak 24% menjadi USD 19,5 miliar pada kuartal terakhir tahun lalu. Pencapaian ini melampaui perkiraan analis sebesar USD 18,6 miliar.

    Analis Apple Ming-Chi Kuo dan Bloomberg sempat melaporkan bahwa Apple berencana memperkenalkan headset AR pada tahun ini atau tahun depan, yang kemudian diaplikasikan ke produk kacamata. Namun, Apple sendiri belum mengungkapkan secara terbuka tentang rencana ini. []

  • Kembangkan Metaverse, Microsoft Beli Activision Blizzard Rp 982 Triliun

    peloporberita.com/ – Microsoft setuju untuk membeli Activision Blizzard dalam kesepakatan senilai USD 68,7 miliar, atau setara Rp 982 triliun demi kembangkan Metaverse.

    Kesepakatan ini seperti dilansir dari Aljazeera, Rabu (19/1/2022), menjadi yang terbesar di sepanjang sejarah industri gim, sekaligus menjadikan Microsoft perusahaan teknologi terbesar ketiga di dunia setelah Tencent dan Sony.

    Activision Blizzard merupakan rumah produksi bagi sejumlah game paling populer di dunia termasuk Call of Duty, World of Warcraft, Candy Crush, dan Guitar Hero, dan masih banyak lagi. Sedangkan Microsoft sendiri merupakan perusahaan pengembang konsol game Xbox.

    Melalui kesepakatan ini, Activision dapat membantu Microsoft mempersiapkan Metaverse serta memperluas penawarannya sendiri untuk konsol game Xbox dan mendorongnya ke pasar yang lebih besar.

    Langkah Microsoft ini, juga sejalan dengan langkah perusahaan- perusahaan multinasional AS, di mana mereka bersiap-siap mendirikan ruang virtual di Metaverse. []

  • Dentsu Luncurkan Bitaverse, Marketplace Metaverse Pertama di Indonesia

    peloporberita.com/ – Dentsu Indonesia akan meluncurkan marketplace metaverse based miliknya yang diberi nama Bitaverse. Dentsu Indonesia mengklaim, Bitaverse merupakan mixed reality marketplace pertama di Indonesia. Di Bitaverse, sebuah merek dapat memiliki, membangun, dan menjual barang dagangan virtual bersama dengan produk nyata mereka.

    CEO of dentsu Indonesia dan Singapura Prakash Kamdar dalam keterangan tertulisnya mengatakan, untuk tahap awal ia optimistis, klien-klien Dentsu selama ini akan bergabung di Bitaverse.

    Selain itu, Bitaverse juga akan mengintegrasikan virtual word dan virtual event. Serta akan terus meningkatkan kapabilitas creative, media, and customer experience management (CXM) dan meluncurkan solusi inovatif baik untuk incumbent maupun start-up.

    Marketpace metaverse, lanjut Prakash, akan menjadi kebutuhan di masa datang. Apalagi melihat tren pada 2022 yang dipicu oleh pandemi Covid-19. Dimana perubahan gaya hidup terkait pandemi terus berlanjut, terutama eCommerce, live commerce, gaming, dan eHealth. Metaverse sendiri akan berakselerasi dan Web 3.0 kemungkinan akan mengikuti.

    Sementara CEO dan Creative Dentsu Indonesia Wisnu Satya Putra menyampaikan, pengembangan Bitaverse akan dilakukan bulan depan dan bisa berjalan secara penuh di akhir tahun 2022.

    “Tapi kita tidak mau hanya sekadar menjadi metaverse market saja. Kita ingin mengintegrasikan berbagai virtual world, virtual world bazaar, virtual world event. Jadi kita bisa berinteraksi secara langsung,” tegas Wisnu. []

  • Facebook Mengubah Nama Menjadi Meta

    peloporberita.com/ | Jakarta – CEO Facebook Mark Zuckerberg telah mengumumkan bahwa Facebook berganti nama menjadi Meta. Nama baru yang menaungi induk perusahaan Facebook, WhatsApp, Instagram, yang semula bernama Facebook Inc tersebut kini berganti nama menjadi Meta.

    Perubahan nama itu diumumkan Zuckerberg dalam konferensi tahunan Connect yang digelar pada Kamis, 28 Oktober 2021 waktu Amerika Serikat atau Jumat, 29 Oktober 2021 dini hari waktu Indonesia.

    Perubahan nama itu menurut Zuckerberg dilakukan untuk mencerminkan tujuan besar yang tengah dibangun perusahaan. Diketahui, Facebook saat ini memang tengah gencar menggaungkan istilah Metaverse yang menggabungkan dunia nyata dengan virtual.

    “Untuk mencerminkan siapa kami dan apa yang kami bangun. Seiring berjalannya waktu, saya harap kami terlihat sebagai perusahaan Metaverse,” ujar Zuckerberg.

    Kendati demikian, perubahan nama ini tidak berlaku dan tidak memengaruhi nama produk media sosial yang ada di bawah Meta. Nama Facebook masih akan tetap digunakan untuk jejaring sosial besutannya, begitu pula dengan Instagram, WhatsApp, dkk.

    “Saat ini, merek kami terkait erat dengan satu produk sehingga tidak mungkin mewakili semua yang kami lakukan hari ini, apalagi di masa depan,” kata Zuckerberg.

    Selain itu, Facebook juga memastikan bahwa struktur perusahaan tidak akan berubah dan akan tetap seperti sebelumnya. Sebagai catatan, perubahan nama ini mirip dengan yang dilakukan oleh Google beberapa tahun lalu.

    Kala itu, Google melakukan restrukturisasi dengan mendirikan Alphabet sebagai perusahaan dengan kedudukan yang lebih tinggi dan menjadi induk Google serta perusahaan besar lainnya.[]

    Baca juga: Sejumlah Alasan Facebook Ganti Nama Jadi Meta 

    Baca juga: Facebook Bakal Rekrut 10.000 Pekerja untuk Kembangkan Metaverse