Jakarta | Koleksi Macklowe yang terkenal, subjek dari pertempuran perceraian pahit antara pengembang properti New York dan mantan istrinya, menjadi koleksi seni termahal yang pernah dijual di lelang pada awal pekan ini.
Melansir AFP, rumah lelang Sotheby’s menjual karya kedua dari koleksi tersebut seharga USD 246,1 juta, sehingga total nilai kelompok lukisan menjadi USD 922,2 juta. Angka itu melebihi penjualan koleksi Rockefeller pada 2018 senilai USD 835,1 juta, jumlah tertinggi yang pernah dibuat oleh satu koleksi pribadi di lelang.
Di antara yang paling menarik dari penjualan koleksi Macklowe adalah “Untitled” karya Mark Rothko yang terjual USD 48 juta dan “Seestück” karya Gerhard Richter, yang terjual seharga USD 30,2 juta. Kemudian “Self Portrait” Andy Warhol terjual USD 18,7 juta, sementara “Untitled” karya Willem de Kooning terjual USD 17,8 juta.
Sotheby’s memenangkan hak untuk menjual karya Macklowe pada bulan September lalu. Setelah itu, Sotheby’s berhasil 35 lukisan pada November seharga USD 676,1 juta, sebelum menjual 30 sisanya pada awal pekan ini.
Sotheby’s menggambarkan lukisan-lukisan itu sebagai koleksi seni modern dan kontemporer paling signifikan yang pernah muncul di pasar.
Selama proses perceraian, Harry Macklowe dan mantan istrinya Linda tidak dapat menyepakati berapa nilai koleksi besar itu. Seorang hakim New York memutuskan pada tahun 2018 bahwa mereka harus menjual semua 65 karya dan membagi keuntungannya.[]
peloporberita.com/ | Jakarta – Yun Artified Community Art Center kembali mengadakan pameran seni rupa kontemporer,kali ini menghadirkan karya-karya seniman Guo Peng, yang bertemakan “INK TRANSFORM”. Pameran ini dijadwalkan mulai tanggal 20 November 2021, dan berakhir pada 19 Desember 2021.
Dalam proses berkarya, seniman Guo Peng mengeksplorasi sisi kreativitasnya dengan menghasilkan karya-karya yang syarat dengan nilai oriental tradisional yang ia warisi namun tetap mengikuti konteks global dengan menyajikan unsur-unsur karya visual kontemporer. Karya-karya yang dihasilkan oleh seniman Guo Peng berisikan gabungan unsur multikultur Asia, yang terlihat pada karyanya ketika menggambarkan lansekap kehidupan lokal atau bentuk modern di Kota besar.
Dalam perjalanan dirinya, seniman Guo Peng telah mengalami perubahan cara pandang terhadap politik, sosial dan budaya. Dengan perubahan yang dialami oleh dirinya dalam kehidupan nyata, hal ini terlihat dari cara ia mengeksplorasi bentuk Bahasa lukisannya, terlihat jelas jika ia memiliki perubahan karakteristik spiritual.
Kurator pameran, Dr. Lim Poh Teck, Art Critics, Curator Peking University President, Nanyang Academy of Fine Arts Alumni Association dalam catatan kuratorialnya menjelaskan “Lukisan Guo Peng menunjukkan kognisi tradisi Asia Tenggara dalam bentuk kehidupan modern yang merupakan cermin kehidupan, budaya dan emosinya.
Jika dilihat dari cara bereksplorasi artistiknya, Guo Peng menerjemahkan konsep lukisan dari lanskap kehidupan tradisional, kemudian secara bertahap menuju kedalam bentuk penciptaan yang memadukan Bahasa seni Timur dan Barat, mengeksplorasi perpaduan tradisional dan modern.
Pameran Lukisan Guo Peng selama sebulan (19 November-20 Desember 2021). (Foto: Pelopor/Yun Artified Community Art Center).
Selain itu, makna mendalam dari eksplorasi yang ia lakukan adalah ketika menafsirkan karakteristik budaya peradaban kuno Asia Tenggara, hal ini lah yang disebut dengan Bahasa INK yang ditampilkan oleh Guo Peng dalam eksplorasi Lukisannya. Ink Transform merupakan spirit INK yang terpancar dari lubuk hati Guo Peng.
Pada pameran ini salah satu karya “Vine” merupakan karya yang mengungkapkan suasana hati dan pikiran Guo Peng dalam proses penciptaan, ia berharap dapat membangun “ruang”dalam karya ini melalui eksplorasi “INK” nya. Melalui karya ini, ia mencoba mengekspresikan individualitas dan kebebasan ideologi dari bentuk Bahasa lukisan yang dibuat.
Karya abstrak lanskap yang dibuat dengan Teknik freehand, menggambarkan “skenario” yaitu kehidupan local, sedangkan sapuan kuasnya (stroke) menafsirkan harapan dan emosi dalam kehidupan. Karya Lanskap yang diungkapkan dalam pameran Ink Transform ini juga merupakan “image” dalam pikiran Guo Peng, ia mengeksplorasi “artistic conception” dalam lukisannya.
Seri lukisan Guo Peng yang ditampilkan kali ini merupakan karya yang menunjukan kepeduliannya terhadap alam dan ruang. Tema penciptaan menunjukan gambaran kehidupan yang beragam, karya “imaginary of landscape” menjelaskan hubungan antara INK (tinta) dan ruang, dan menunjukan kekayaan INK (tinta) itu sendiri, menunjukan pengembangan dunia INK (tinta) dengan konsep artistik baru sejak Dinasti Song, Yuan, Ming dan Qing. Untuk mengeksplorasi hal baru dalam hidup, ia cermat mengekspresikan dalam lukisan tradisional, dan integrasi bentuk lukisan kontemporer untuk membangun Bahasa INK yang unik.
Sebagai pendiri dan pengelola Yun Artified Community Art Center, Yince Djuwija, dengan semangat menjelaskan bahwa proses kreatif Guo Peng akan memberikan inspirasi dan referensi menarik bagi para pemerhati seni dan juga pelajar. Tidak hanya itu pameran ini juga diharapkan dapat membuka cakrawala baru, dan memberikan kontribusi bagi penciptaan seni di Asia Tenggara. Khususnya dapat memberikan inspirasi dan menambah vitalitas di dunia seni dibawah kesuraman epidemi.
Salah satu lukisan karya Guo Peng.(Foto: Pelopor/Yun Artified Community Art Center).
Sosok seniman Guo Peng
Lahir di Kota Pi Zhou, Provinsi Jiang Su, Cina, pada 1980 Guo Peng lulus pada tahun 2004 dari sekolah School of Fine Arts Nanjing Normal University. Pada tahun yang sama, ia pun mengadakan pameran kaligrafi dan pameran tunggal. Ia merupakan seniman dari Jiang su Imperial Art Academy pada tahun 2005, gaya artistiknya dipengaruhi oleh maestro seni China, Bada Shanren, Qi Baishi dan Lin Fengmian.
2010 merupakan tahun titik balik bagi perjalanan seni Guo Peng. Saat ia mencoba menjauh dari interaksi sosial dan membiarkan dirinya cukup waktu untuk berfikir tentang iman, kehidupan dan seni dalam keadaan dan pikiran yang lebih tenang. Sejak itu, ia mulai memperhatikan gaya lukisan yang berbeda di Asia Tenggara. Memadukan gaya asli Indonesia dengan impresionisme Barat, Ekspresionisme abstrak dan seni kontemporer, visinya mulai meluas dan pemikiran artistiknya menjadi lebih aktif.
Ia sangat memperhatikan karya dari seniman Asia tenggara, yaitu lukisan dari seniman Chen Wan-His, Cheong Soo Pieng, ia juga mengamati hasil karya affandi, seniman kontemporer Zhou Chunya, Cai Guo-Qiang, Xu Bing, pelukis China di Perancis seperti Zao Wou-ki, Chu The-Chun dan pelukis Jepang Yayoi Kusama.
Tentunya kita tidak akan melihat kemiripan karya-karya tersebut dalam karya Guo Peng, namun terkadang ia merasa melihat keanehan muncul dalam sapuan kuasnya yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Ketika ia memutuskan untuk berhenti mengajar seni pada tahun 2021, ternyata momen ini menjadi sebuah transformasi besar bagi dirinya karena disaat itu pula Yun Artified Community Art Center merencanakan untuk mengadakan pameran lukisan tinta China dan akhirnya mengajak Guo Peng.[]
peloporberita.com/ – Dalam sebuah acara lelang di Paris, salinan lukisan Mona Lisa terjual seharga 210 ribu euro atau sekitar 3 koma 4 miliar rupiah pada Selasa waktu setempat. Harga ini, lantaran salinan lukisan tersebut dinilai sangat mirip dengan lukisan asli karya Leonardo Da Vinci.
Rumah lelang Artcurial sebelumnya memperkirakan salinan lukisan Mona Lisa tersebut berasal dari tahun 1600-an. Lukisan ini seperti dikutip dari The Straits Times, mulanya ditargetkan laku seharga 150 ribu euro, namun nyatanya terjual lebih dari itu.
Sementara Karya asli lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci kini disimpan di museum Louvre Paris. Raja Prancis Francois I membeli lukisan tersebut pada tahun 1518.
Mona Lisa adalah lukisan minyak di atas kayu poplar yang dibuat oleh Leonardo da Vinci pada abad ke-16. Lukisan ini merupakan salah satu mahakarya lukis paling terkenal di dunia. Lukisan setengah badan tersebut, menggambarkan seorang wanita dengan ekspresi enigmatik atau misterius.
Seorang kolektor Eropa, pada bulan Juni 2021 lalu juga telah membeli salinan Mona Lisa lainnya yang berasal dari abad ke-17 seharga 2 koma 9 juta euro di Christie Paris. Harga ini, termasuk rekor penjualan untuk reproduksi dari mahakarya Mona Lisa. []