Tag: Kampus

  • Menpora: Kampus UPI Penuhi Standar Desain Besar Olahraga Nasional

    peloporberita.com/ – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menilai, fasilitas olahraga yang ada di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memenuhi standar dalam implementasi Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Hal ini, diungkapkan Menpora saat meninjau kampus yang terletak di Bandung, Jawa Barat, Sabtu itu pada Sabtu, (05/03/2022).

    “Saya kira untuk start awal implementasi DBON, UPI sudah memenuhi standar dan apa yang masih kurang, kita akan coba lengkapi,” katanya.

    Menpora menjelaskan, kampus UPI menjadi salah satu sentra pembinaan talenta dari 10 daerah yang ada. Pemilihan ini didasari perguruan tinggi tersebut sudah memiliki laboratorium sport science.

    “Sekarang ini untuk prestasi olahraga tidak mungkin kita menghindarkan diri dari sport science. Tempat sport science paling tepat ada di perguruan tinggi,” ungkapnya.

    Pada pelaksanaan DBON ini, Menpora Amali menerangkan bahwa pelajar yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan direkrut. Proses perekrutan atlet ini tentunya yang memiliki talenta olahraga, terutama mengandalkan teknik dan akurasi.

    “Kita mulai dari yang kelas satu SMP. Kita fasilitasi. Tentu itu semua ada syarat yang ketat dan mereka nantinya benar-benar dalam satu training camp. Mereka akan dibina untuk bisa berprestasi dalam ajang Olimpiade,” tegasnya. []

  • Kemenko Marves Kawal Pembangunan Kampus UIII Depok

    peloporberita.com/ | Jakarta – Asisten Deputi Infrastruktur Dasar, Perkotaan, dan Sumber Daya Air, Deputi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rahman Hidayat melaksanakan kunjungan kerja ke Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) pada Kamis, 19 Agustus 2021 dalam rangka monitoring percepatan pembangunan

    Pembangunan Kampus UIII yang berlokasi di Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat ini merupakan bagian dari Perpres 109 tahun 2020 tentang percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) Nomor 201 Sektor Pendidikan.

    “Hari ini kami ingin melakukan sinkronisasi dan mengoordinasikan terkait pembangunan Kampus UIII dan diusahakan bisa akselerasi untuk penyelesaian permasalahan yang timbul selama pelaksanaan proyek. Untuk diketahui Kemenko Marves bersama-sama KSP melalui Delivery Assurance Unit (DAU) bertugas untuk menjalankan fungsi monitoring Proyek Strategis Nasional (PSN) per triwulan. Nah, di sini kami ingin mendengar progres fisik pekerjaan dan melihat kondisi di Kampus UIII,” tutur Asdep.

    “Kita ingin lihat progres PSN ini dan ada beberapa hal yang perlu disinkronkan. Kami pada kesempatan ini lebih banyak ingin mendapatkan masukan dan mohon untuk di-feeding apa saja yang perlu kami koordinasikan dengan kementerian terkait utamanya terkait aksesibilitas ataupun konektivitas. Kampus UIII merupakan PSN dan ini menjadi tupoksi Kami di Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi,” sambung Sesdep Lukijanto.

    Kampus UIII ini dibangun di atas lahan seluas 142 hektar. UIII merupakan perguruan tinggi yang berstandar internasional dan menjadi model pendidikan tinggi Islam terkemuka dunia dalam pengkajian keIslaman strategis yang berada di bawah tanggung jawab Menteri Agama.

    Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah Jakarta Metropolitan Kementerian PUPR, Mujurahid Hidayat menyampaikan bahwa pembangunan Kampus UIII akan dilaksanakan dalam tiga tahap bersama Kementerian Agama dan Kementerian PUPR.

    “Proyek ini ada tiga tahap, pertama dikerjakan Kementerian Agama adalah kawasan, gedung rektorat, gedung fakultas A, dan asrama putra, dan rumah professor lima unit. Kemudian tahap kedua oleh Kementerian PUPR mengerjakan student apartement, perpustakaan dan masjid. Tahap ketiga baru ditandatangani kontraknya pada bulan Juli 2021. Kita berharap yang dua paket ini, gedung perpustakaan, masjid, dan student apartment ini akan selesai bulan akhir Agustus 2021 ini,” tegas Mujurahid.

    Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Prof. Dr. Komaruddin Hidayat menyampaikan telah bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara, Pratikno membahas terkait tujuan dan program dalam pembangunan UIII.

    “Saya sebelumnya sudah bertemu dengan Mas Pratikno, katanya kampus ini sangat dekat dengan Kemenlu karena ini merupakan kampus diplomasi, kampus kultural, dan intelektual. Bahkan kampus ini bisa menjadi proyek dunia yang berada di Indonesia. Hal ini karena hanya Indonesia yang sah untuk mendidik Islam moderat dan pluralisme,” tandas Komaruddin.

    “Kita ingin melatih pemuda-pemuda dari daerah konflik belajar ke Indonesia yang sangat beragam dan plural. Indonesia berhasil dalam membangun semangat kebangsaan, persatuan dan kerukunan. Memang visi kampus UIII ini internasional, untuk melatih dan mengeksplorasi agama yang lebih moderat, inklusif, dan lebih damai,” sambungnya.

    Usai melaksanakan rapat koordinasi bersama, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi gedung-gedung di kawasan Kampus UIII, seperti perpustakaan, gedung fakultas A, Masjid, rumah professor/dosen, hingga meninjau gedung asrama mahasiswa yang sudah siap ditempati.

    UIII sendiri telah mendapatkan rekomendasi pembukaan empat Program Studi Magister dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang tertuang dalam surat Direktur Dewan Eksekutif tanggal 8 Juni 2021 Nomor 1234/BAN-PT/LL/2021 Hal Pemenuhan Syarat Minimum Akreditasi untuk pembukaan Program Studi Baru.

    Empat Program Studi yang memperoleh rekomendasi yaitu Program Studi Magister Studi Islam, Program Studi Magister Ilmu Ekonomi, Program Studi Magister Ilmu Politik, dan Program Studi Magister Ilmu Pendidikan.

    Rektor UIII menyampaikan bahwa perkuliahan mahasiswa baru pada semester ganjil tahun ajaran 2021/2022 akan dilaksanakan mulai akhir bulan September 2021 secara daring.

    Diharapkan pada semester genap pada bulan Februari tahun 2022, kawasan Kampus UIII sudah siap melaksanakan kuliah tatap muka. UIII juga membuka program beasiswa untuk mahasiswa atau UIII Scholarship. Pendaftaran beasiswa ini sudah dibuka pada 7 Juni lalu dan mencapai 1009 pendaftar dari 59 negara.[]

  • Gus Halim Beberkan Peran Kampus dalam Membangun Desa

    peloporberita.com/ | Jakarta – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar membawakan Orasi Ilmiah bertema "Kampus Membangun Desa" secara virtual dalam acara Dies Natalis ke-20 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) belum lama ini.

    "Kami menyaksikan, Universitas Trunojoyo Madura memiliki komitmen yang besar terhadap pembangunan masyarakat, khususnya masyarakat Madura, dengan segala potensi, kekayaan budaya lokal yang dimiliki," tutur Gus Halim panggilan akrab Kemendes PDTT berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Sabtu, 31 Juli 2021.

    Menurutnyam dengan pendekatan Klaster, sebagai kampus umum negeri pertama di Madura, UTM telah memilih strategi yang tepat untuk menjadi melting point berbagai problem sosial ekonomi Madura, untuk bangkit bersama, secara sistematis, terukur dan tentu monumental.

    “Masa depan Indonesia bergantung pada masa depan desa-desa di seluruh Indonesia. Obor besar di Jakarta tidak akan mampu menerangi seantero Indonesia, karenanya dibutuhkan nyala lilin dari Desa-Desa seluruh Indonesia.”

    Oleh sebab itul, momentum Dies Natalis ini, harus menjadi salah satu etape besar UTM, menjadi thinktank Madura, dan memastikan potensi Madura menjadi berkah bagi peningkatan daya saing Madura. Tentu, dengan menjadikan Tridharma UTM Berbasis masyarakat, berbasis Desa, berbasis Madura.

    Gus Halim menjelaskan, Desa juga miliki berbagai permasalahan, diantaranya kendala administrasi pemerintahan, kepemimpinan desa yang lemah, rendahnya inisiatif pembangunan dari desa, lemahnya inovasi desa, sampai dengan rendahnya kualitas SDM di desa. Kekurangan jumlah pendamping desa juga turut membuat percepatan pembangunan desa kurang optimal.

    “Disinilah kampus harus mengambil peran untuk terjun langsung ke desa dengan melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi berbasis masyarakat, berkontribusi langsung terhadap kebangkitan ekonomi Desa serta Kemaslahatan warga Desa,” tegas Doktor Honoris Causa dari UNY ini.

    Abdul Halim Iskandar

    Dibutuhkan jembatan yang menghubungkan perguruan tinggi sebagai wadah penyubur invensi dan inovasi, dengan desa-desa yang mendambakan inovasi guna mengakselerasi kemajuan.

    Tepat pada titik inilah Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi mengambil peran strategis, yaitu turut aktif menggalang kerja sama trilateral: perguruan tinggi, Kementerian, dan desa.

    “Telah terbentuk Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides) sebagai wahana perkumpulan berbagai perguruan tinggi yang memiliki konsentrasi pada kemajuan desa-desa, termasuk didalamnya Universitas Trunojoyo Madura,” sebut Halim Iskandar.

    Ia menerangkan bahwa Pertides memiliki makna penting untuk menggalang teknologi tepat guna, yang berpotensi mengakselerasi laju kemajuan desa. Sedangkan Kampus membangun Desa harus diaplikasikan menjadi Kampus Masuk Desa, dan Desa Masuk Kampus.

    Selain itu, Kampus harus berperan dalam pencapaian SDGs Desa dengan cara menjadi pusat unggulan (center of excellence) di bidang keilmuan sesuai dengan kompetensi intinya (core competence), mengarusutamakan SDGs Desa dalam proses pendidikan/pengajaran, menjadi mitra desa, pemerintah pusat dan daerah serta pemangku kepentingan lainnya dalam melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan SDGs Desa.

    “Kampus memiliki peran strategis dalam menyiapkan dan melahirkan calon pemimpin masa depan, kader-kader penggerak pembangunan, penggerak perubahan dan kebangkitan ekonomi desa,” ucap Halim Iskandar.

    Gus Halim lebih lanjut merinci, berbagai konsep pembangunan desa yang lahir dari kampus harus diuji coba langsung kepada masyarakat binaan kampus, atau sebagai lokasi praktik dan pengabdian mahasiswa dari tingkat pertama sampai tingkat akhir. Dalam waktu yang pendek, ini dapat berupa KKN tematik. Untuk waktu yang lebih lama dan mendalam bisa menjadi topik skripsi, tesis dan disertasi.

    Bahkan menurutnya, Perguruan tinggi juga harus bersiap untuk merekognisi pembelajaran lampau bagi Kepala Desa, Perangkat Desa, dan Pendamping Desa, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang membuka penyandingan, penyetaraan pengalaman, dan pengintegrasian kerja di desa ke dalam institusi pendidikan.

    Peraturan Menristek Dikti Nomor 26 tahun 2016 menunjukkan, penyetaraan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Wujudnya adalah pengakuan capaian pembelajaran, yang diperoleh dari pengalaman kerja sebagai kredit kuliah dalam pendidikan formal.

    Bagi Kepala Desa, Perangkat Desa, dan Pendamping Desa, bukti capaian pembelajaran dapat berupa dokumen peraturan desa tentang APBDes, anggaran pro perempuan, kegiatan bagi keluarga miskin, laporan keuangan, hasil audit kabupaten, serta sertifikat juara, penghargaan sampai surat keterangan koordinator antar desa selevel kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional.

    Dengan demikian, RPL sarjana akan dapat ditempuh oleh 44.767 kepala desa, 46.983 sekretaris desa, 31.147 pengurus Bumdes, dan 8.241 pendamping desa yang merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas.

    Adapun RPL pascasarjana akan terbuka bagi 19.441 kepala desa, 24.470 sekretaris desa, 15.477 pengurus BUM Desa, dan 26.977 pendamping desa yang telah lulus diploma dan sarjana.

    “Sebagai Menteri Desa PDTT, saya ingin menegaskan, bahwa, perguruan tinggi jangan hanya mengejar status masyhur di kancah Internasional. Tapi, Kampus harus memberikan kemaslahatan untuk manusia,” ungkap Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.

    Upaya dan pengabdian masyarakat kampus, harus berdampak pada kebangkitan dan kejahteraan masyarakat desa. Karena, sejatinya, kampus hadir untuk desa.

    “Masa depan Indonesia bergantung pada masa depan desa-desa di seluruh Indonesia. Obor besar di Jakarta tidak akan mampu menerangi seantero Indonesia, karenanya dibutuhkan nyala lilin dari Desa-Desa seluruh Indonesia,” ujar Gus Halim. []