Tag: invasi

  • Tiongkok Luncurkan Kapal Induk Ketiga Ketika Ketegangan dengan AS Meningkat

    Jakarta | Tiongkok meluncurkan kapal induk ketiganya pada Jumat (17/06/2022), yang pertama dirancang dan dibangun seluruhnya di negara itu, menandai kemajuan militer besar bagi negara adidaya Asia itu.

    Pengumuman itu muncul ketika ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) telah meningkat signifikan dalam beberapa pekan terakhir, akibat perang pedang Beijing terhadap Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri, yang dipandangnya sebagai provinsi yang memisahkan diri untuk direbut secara paksa, jika perlu.

    Diluncurkan di galangan kapal Shanghai, Fujian secara teknis lebih maju dibanding kapal induk Tiongkok lainnya. Namun, Fujian akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai kapasitas operasional, lantaran Kementerian Pertahanan Tiongkok belum mengumumkan tanggal untuk masuk ke layanan.

    “Layanan dan uji tambat akan dilakukan sesuai rencana setelah kapal diluncurkan,” lapor China Central Television (CCTV).

    Dua kapal induk Tiongkok lainnya yang sudah beroperasi adalah Liaoning yang ditugaskan pada 2012, dan Shandong yang memasuki layanan pada 2019. Berbeda dengan Fujian, mereka menggunakan platform gaya lompat ski untuk meluncurkan pesawat dan tidak memiliki sistem peluncur ketapel.

    Menurut majalah pertahanan Janes, saat ini AS memiliki kapal induk paling banyak yang beroperasi di 11 kapal, diikuti oleh Tiongkok dan Inggris masing-masing dua kapal.

    Kapal perang Tiongkok telah berulang kali berlayar melalui selat yang memisahkan pulau itu dari daratan, dan menggunakan jet tempur untuk mengusir patroli kebebasan navigasi dari AS dan sekutunya.

    Pekan lalu, Menteri Pertahanan Tiongkok Wei Fenghe memperingatkan rekannya dari AS bahwa Beijing akan tidak ragu memulai perang, jika Taiwan mendeklarasikan kemerdekaan.[]

  • Invasi Rusia Membuat Industri Pertanian Ukraina Kehilangan USD 4,3 Miliar

    Jakarta | Sejak Rusia melancarkan serangan militernya pada 24 Februari 2022 hingga kini, kerugian industri pertanian Ukraina diprediksi telah mencapai USD 4,3 miliar. Tak hanya pertanian, invasi Rusia juga telah menghancurkan mesin dan peternakan. Menurut perkiraan para peneliti, ada sekitar 5,7 juta unggas yang mati.

    Berdasarkan laporan Kyiv School of Economics, sebagian besar kerusakan berasal dari polusi akibat ranjau dan tanaman yang tidak dipanen. Tak hanya itu, gandum senilai USD 613 juta telah dicuri dari sejumlah wilayah di Ukraina dan dikirim ke Rusia.

    “Ekonomi Ukraina diproyeksikan berkontraksi sebesar 45% dan puluhan juta di seluruh dunia terancam kelaparan karena terganggunya ekspor biji-bijian dari Ukraina dan berlanjutnya kerusakan pada sektor pertanian pangannya,” tulis laporan itu, seperti dikutip Bloomberg.

    Bloomberg mencatat bahwa harga pangan global mendekati rekor tertinggi, dengan jutaan ton biji-bijian dan minyak sayur tertahan di Ukraina. Seperti diketahui, pasukan Rusia melakukan blokade terhadap pelabuhan, sehingga menghambat ekspor Ukraina.

    Akhirnya, eksportir biji-bijian Ukraina terpaksa membuat rute ekspor baru melalui Laut Baltik, namun laju penjualan masih jauh dari kecepatan normal. Ukraina pun diprediksi akan kehabisan ruang untuk menyimpan hasil panen yang akan datang.[]

  • Rusia Tambah Dana Darurat Hingga USD 9,5 Miliar

    Jakarta | Rusia menambah dana darurat hingga USD 9,5 miliar atau setara Rp 138,35 triliun untuk melindungi perekonomian nasional dan mengantisipasi dampak sanksi barat.

    “Dana tersebut akan digunakan sebagian untuk melaksanakan langkah-langkah stimulus yang bertujuan untuk memastikan stabilitas pembangunan ekonomi di tengah kendala eksternal,” kata pemerintah Rusia dikutip dari Reuters.

    Rusia memperoleh dana tambahan itu dari keuntungan yang dihasilkan dari ekspor minyak dan gas. Disebutkan bahwa bisnis tersebut menghasilkan ratusan juta dolar per hari dan mengalir ke anggaran negara, meski di tengah berlakunya sanksi Barat.

    Seperti diketahui, sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari, negara-negara Barat pun memberlakukan paket sanksi yang sangat berat terhadap Rusia. Salah satunya adalah membekukan sekitar setengah atau USD 300 miliar cadangan emas dan mata uang asing bank sentral.

    Sebelumnya, Rusia mengarahkan keuntungan minyak dan gas ke dalam kekayaan negara senilai USD 198 miliar. Ini merupakan peti perang yang dimaksudkan untuk mendanai proyek-proyek investasi besar.

    Dana darurat itu berbentuk uang kas sehingga dinilai lebih fleksibel dan memungkinkan pemerintah menutup defisit negara.

    Rusia siap menghadapi resesi terbesar lebih dari dua dekade karena menghadapi disintegrasi secara penuh sejak 30 tahun masa investasi yang dapat menghapus keuntungan ekonomi selama 15 tahun.[]

  • Krisis Pangan, PBB Desak Pembebasan Gandum Ukraina

    Jakarta | Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa krisis pangan global yang berkembang dapat berlangsung bertahun-tahun jika dibiarkan, karena Bank Dunia mengumumkan tambahan USD 12 miliar dalam pendanaan untuk mengurangi dampaknya yang menghancurkan.

    Kerawanan pangan melonjak akibat suhu yang memanas, pandemi corona, dan invasi Rusia ke Ukraina, yang telah menyebabkan kelangkaan biji-bijian dan pupuk.

    Pada pertemuan besar PBB di New York tentang ketahanan pangan global, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengatakan perang itu mengancam akan membuat puluhan juta orang terjerumus ke dalam kerawanan pangan.

    Dia juga mengatakan bahwa apa yang bisa terjadi selanjutnya adalah malnutrisi, kelaparan massal dan kelaparan, dalam krisis yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun, saat dia dan yang lainnya mendesak Rusia melepaskan ekspor biji-bijian Ukraina. Rusia dan Ukraina sendiri menghasilkan 30% dari pasokan gandum global.

    Invasi Moskow ke Ukraina dan sanksi ekonomi internasional terhadap Rusia telah mengganggu pasokan pupuk, gandum, dan komoditas lain dari kedua negara, mendorong harga makanan dan bahan bakar, terutama di negara berkembang.

    Sebelum invasi Rusia pada 24 Februari 2022, Ukraina dipandang sebagai lumbung roti dunia, mengekspor 4,5 juta ton hasil pertanian per bulan melalui pelabuhannya atau setara 12% gandum di dunia, 15% jagungnya, dan setengah minyak bunga mataharinya.

    Namun dengan pelabuhan Odessa, Chornomorsk dan lainnya terputus dari dunia oleh kapal perang Rusia, maka pasokan hanya dapat melakukan perjalanan di rute darat padat yang jauh kurang efisien.

    “Mari kita perjelas: tidak ada solusi efektif untuk krisis pangan tanpa mengintegrasikan kembali produksi pangan Ukraina,” kata Guterres seperti dikutip dari AFP.

    Rusia adalah pemasok pupuk dan gas utama dunia. Pupuk tidak dikenakan sanksi Barat, namun penjualan telah terganggu oleh tindakan yang diambil terhadap sistem keuangan Rusia, sementara Moskow juga membatasi ekspor.

    Guterres juga mengatakan makanan dan pupuk Rusia harus memiliki akses penuh dan tidak terbatas ke pasar dunia.[]

  • Pakar Disinformasi: TikTok Sedang Alami Perang yang Buruk

    Jakarta | Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari 2022, sejumlah video dan informasi dengan cepat berseliweran di media sosial, terutama TikTok.

    Namun, sejumlah pakar disinformasi menilai, perang Rusia-Ukraina dengan cepat memposisikan TikTok sebagai sumber informasi paling salah, berkat jumlah penggunanya yang sangat besar dan pemfilteran konten yang minimal.

    Jurnalis di tim disinformasi BBC Shayan Sardarizadeh mengatakan kepada AFP bahwa TikTok sedang mengalami perang yang sangat buruk. Dia pun menegaskan belum pernah melihat platform lain dengan begitu banyak konten palsu.

    Menurutnya yang paling mengganggu adalah streaming langsung yang palsu, di mana pengguna berpura-pura berada di tanah di Ukraina, padahal sebenarnya menggunakan rekaman dari konflik lain atau bahkan video game, kemudian meminta uang untuk mendukung pelaporan mereka.

    Selain itu, para pakar juga menyoroti hal khusus terhadap TikTok, terutama usia penggunanya. Di Amerika Serikat misalnya, sepertiga pengguna TikTok berusia 19 tahun atau lebih muda.

    Kemudian, Anastasiya Zhyrmont dari Access Now, yang merupakan sebuah kelompok advokasi, mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa perang datang sebagai kejutan.

    “Konflik ini telah meningkat sejak 2014 dan masalah propaganda Kremlin dan informasi yang salah telah diangkat dengan TikTok jauh sebelum invasi,” katanya.

    Zhyrmont menilai, masalahnya mungkin terletak pada kurangnya moderator konten berbahasa Ukraina, sehingga lebih sulit bagi TikTok untuk menemukan informasi palsu.

    Menanggapi hal itu, pihak TikTok mengatakan bahwa mereka memiliki penerjemah bahasa Rusia dan Ukraina, namun tidak menyebutkan jumlahnya. TikTok juga mengatakan telah menambahkan sumber daya yang secara khusus berfokus pada perang, tanpa menjelaskan lebih rinci. []

  • Ramai-ramai Perusahaan Otomotif Beri Bantuan untuk Ukraina

    peloporberita.com/ | Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung sejak 24 Februari 2022 hingga saat ini. Jumlah korban diperkirakan telah mencapai sekitar 15.000 orang dan total kerugian akibat kerusakan properti diprediksi mencapai USD 119 miliar.

    Sebagai bentuk dukungan menghadapi invasi Rusia, Honda Motor pun berencana mengirimkan donasi senilai total 1 juta Euro atau sekitar Rp 15,7 miliar kepada penduduk Ukraina.

    Melalui palang merah Jepang, Honda memberikan bantuannya itu dalam bentuk makanan, pakaian, obat-obatan dan juga sumbangan dana bagi warga Ukraina yang menjadi korban perang atau yang berada di pengungsian.

    “Honda dengan tulus menyampaikan semoga situasi darurat itu segera berakhir secepat mungkin dan perdamaian hadir di seluruh dunia,” kata juru bicara Honda, seperti dikutip dari media otomotif Eropa, Visordown.

    Honda bukan satu-satunya perusahaan otomotif yang menyumbang untuk Ukraina.

    Sebelumnya, Porsche telah mendonasikan 1 juta Euro kepada dua organisasi. Sebanyak 750.000 Euro dari dana itu disumbangkan ke UN Refugee Aid. Sedangkan sisanya disalurkan ke Ferry Porsche Foundation, yang berfokus pada anak-anak dan dewasa muda.

    Demikian juga Mercedes-Benz dan Stellantis yang masing-masing menyumbangkan 1 juta Euro untuk Ukraina.

    Tak ketinggalan, Ford turut memberikan donasi senilai USD 100.000 atau sekitar Rp 1,44 miliar ke Global Giving Ukraine Relief Fund, sekaligus mengumumkan penangguhan operasional di Rusia.[]

  • PBB: 2,5 Juta Orang Telah Meninggalkan Ukraina

    peloporberita.com/ | Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations (UN) menyatakan bahwa sekitar 2,5 juta orang telah meninggalkan Ukraina, sejak Rusia melancarkan invasinya pada 24 Februari 2022.

    Tak hanya itu, serangan Rusia ini juga disebut telah membuat dua juta orang lainnya terpaksa  menjadi pengungsi di dalam Ukraina.

    “Jutaan orang terpaksa meninggalkan rumah mereka oleh perang yang tidak masuk akal ini,” kata Kepala Badan Pengungsi PBB Filippo Grandi melalui akun Twitter.

    Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi atau United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) memprediksi, empat juta orang pada akhirnya akan berusaha meninggalkan Ukraina saat perang berlanjut.

    Namun, lembaga itu mengatakan bahwa mengingat skala eksodus dalam waktu kurang dari tiga minggu, tidak mengherankan jika angka itu terlampaui.

    “Sangat mungkin bahwa angka perencanaan empat juta dapat direvisi,” kata juru bicara UNHCR Matthew Saltmarsh yang dilansir dari Bangkok Post.

    Sebelum Rusia menyerbu, lebih dari 37 juta orang tinggal di wilayah Ukraina di bawah kendali pemerintah pusat di Kyiv. Kini, lebih dari setengah dari mereka yang melarikan diri telah pergi ke Polandia.

    Pemerintah telah mendirikan pusat penerimaan dan badan amal telah memobilisasi dalam upaya bantuan besar-besaran, dibantu oleh sekitar 1,5 juta orang Ukraina yang sudah tinggal di negara anggota Uni Eropa.

    “UNHCR mengulangi seruannya untuk perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil. Kami berkomitmen untuk tinggal dan memberikan bantuan kapan dan di mana akses dan keamanan memungkinkan,” tegas Saltmarsh.[]

  • Malaysia Butuh USD 6,7 Miliar untuk Subsidi Minyak Tahun Ini

    peloporberita.com/ | Menteri Keuangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz memprediksi, tagihan subsidi minyak Malaysia tahun ini bisa melonjak lebih dari dua kali lipat, menjadi 28 miliar ringgit atau setara USD 6,7 miliar (Rp 95,6 triliun dengan kurs 14.200 per dolar).

    Hal itu bisa terjadi jika harga minyak mentah tetap pada tingkat yang tinggi, setelah invasi Rusia ke Ukraina.

    Tengku Zafrul mengatakan kepada parlemen bahwa pada Januari, pemerintah sudah mulai meningkatkan subsidi hingga 2 miliar ringgit untuk subsidi bensin, solar dan bahan bakar gas cair. Angka itu meningkat sepuluh kali lipat dari bulan yang sama tahun lalu.

    Melansir Bangkok Post, sepanjang tahun lalu Malaysia telah menghabiskan 11 miliar ringgit untuk subsidi minyak bumi.

    Tengku Zafrul mengatakan, saat ini pemerintah Malaysia sedang mengkaji mekanisme subsidi untuk memastikan bantuan tersebut tepat sasaran, lantaran harga barang-barang bersubsidi lainnya seperti minyak goreng, juga akan naik.

    “Pemerintah tidak bisa meminjam untuk membiayai pengeluaran operasional seperti biaya subsidi. Jadi, kenaikan subsidi perlu diimbangi dengan tambahan pendapatan dan penghematan biaya,” tegas Tengku Zafrul.

    Rusia menyerang Ukraina sejak 24 Februari 2022. Salah satu upaya Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meredam invasi tersebut adalah tidak lagi mendesak keanggotaan NATO untuk Ukraina. Seperti diketahui, ini merupakan salah satu alasan utama invasi Rusia.

    Melansir AFP, Zelensky juga mengaku terbuka untuk berkompromi tentang status dua wilayah separatis Ukraina yang telah diakui Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai negara merdeka, sesaat sebelum invasi dimulai.[]

  • IMF Bakal Alirkan Dana Darurat USD 1,4 Miliar untuk Ukraina

    peloporberita.com/ | Dewan Eksekutif Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) telah menyetujui pemberian dana darurat kepada Ukraina sebesar USD 1,4 miliar.

    “Invasi militer Rusia ke Ukraina bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan dan ekonomi besar-besaran. Kebutuhan pembiayaan besar, mendesak dan bisa meningkat secara signifikan seiring perang berlanjut,” kata Direktur pelaksana IMF Kristalina Georgieva yang dikutip dari Reuters.

    IMF sangat menyadari bahwa perang telah memberi dampak yang sangat serius. Dalam 13 hari terjadi migrasi lebih dari 2 juta orang dari Ukraina, ini menunjukkan adanya masalah sosial dan ekonomi yang berat. Selain itu, hancurnya banyak infrastruktur juga sangat berdampak terhadap aktivitas Ukraina.

    Program bantuan di bawah Instrumen Pembiayaan Cepat atau Rapid Financing Instrument (RFI) IMF dipercaya akan membantu mendanai kebutuhan pengeluaran mendesak dalam jangka pendek, sambil membantu mengkatalisasi pembiayaan dari mitra lain.

    Tak hanya IMF, Bank Dunia juga sudah menyetujui paket pinjaman dan hibah senilai USD 723 juta untuk Ukraina. Paket itu termasuk tambahan pinjaman USD 350 juta untuk pinjaman sebelumnya, ditambah sekitar USD 139 juta melalui jaminan dari Belanda dan Swedia.

    Selain itu juga mencakup USD 134 juta dalam bentuk hibah dari Inggris, Denmark, Latvia, Lithuania dan Islandia sebagai bagian dari dana perwalian yang akan terus menerima kontribusi hibah atas nama Ukraina. Sedangkan, Jepang menyediakan pembiayaan paralel sebesar USD 100 juta.[]

  • Analis: Invasi Rusia Bawa Berkah Bagi Penghasil Komoditas, Termasuk Indonesia

    peloporberita.com/ | Invasi Rusia ke Ukraina tampaknya membawa berkah tersendiri bagi negara-negara penghasil komoditas, seperti Indonesia, Tiongkok, Australia dan Malaysia. Kenaikan harga komoditas dijadikan umpan bagi para spekulan untuk menjatuhkan negara-negara yang notabene memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

    “Yang membuat harga komoditas mengalami kenaikan bukan disebabkan oleh Rusia menginvasi Ukraina, namun sanksi yang berlebihan dilakukan oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Inggris terhadap Rusia dan Belarusia,” kata Direktur PT. TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, dalam keterangan tertulisnya pada Senin, (07/03/2022).

    Pasca-sanksi ekonomi diterapkan, lanjut Ibrahim, maka para spekulan di berbagai negara melakukan aksi beli yang tidak terbatas, membuat lonjakan harga komoditas yang tak wajar dan ini sebenarnya menjadi serangan telak bagi negara-negara yang memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

    Menurut Ibrahim, tanpa adanya ikut campur pihak ketiga, harga komoditas tidak mungkin mengalami lonjakan yang signifikan. Apalagi, sekutu Rusia yaitu Tiongkok yang kemungkinan akan mengikuti jejak Rusia, melakukan invasi terhadap Taiwan. Ini semua dampak AS, NATO dan Inggris yang terlalu gegabah dalam memberikan sanksi ekonomi.

    “Di samping itu, dengan lonjakan harga yang terus naik, Bank Sentral Amerika (The Fed) dalam pertemuan di tanggal 15 Maret 2022, kemungkinan akan menahan suku bunga sampai perang benar-benar sudah berhenti,” ujarnya.

    Dampak dari sanksi tersebut membuat harga-harga komoditas, seperti minyak mentah, emas, gas alam dan batu bara mengalami kenaikan yang tidak wajar.

    Ibrahim memprediksi, harga emas dalam hitungan Maret 2022 bisa menyentuh USD 2.150 per troy ounce/logam mulia Rp 1.150.000 per gram, minyak mentah WTI bisa menyentuh USD 200 per barel, batu bara USD 600 per ton, gas alam USD 5.500, dan Bitcoin bisa tembus USD 45.000 per koin.[]