Tag: Industri 4.0

  • Enam Tren di Dunia Kerja Industri 4.0

    Jakarta — Dunia Kerja industri 4.0 tak hanya menuntut kita untuk menjadi lebih cekatan dan adaptif, melainkan juga mengubah tatanan dan sistem yang sudah ada, termasuk lingkungan kerja. Banyak perusahaan yang harus memprioritaskan efisiensi, personalisasi, dan fleksibilitas ke dalam SOP mereka. Dari sekian banyak prioritas, berikut enam tren dunia kerja masa depan versi SAP:

    1. Tenaga kerja hybrid
    Situasi pandemi memaksa banyak tenaga kerja untuk berekspansi cepat dan mengimplementasikan sistem kerja hybrid. Tren ini kemudian mendorong banyak perusahaan untuk membentuk tim berbasis fungsi dan keterampilan tertentu agar penyelesaian pekerjaan pun tidak harus selalu terpusat di satu tempat.

    2. Artificial intelligence (AI) di tempat kerja
    Dengan melakukan otomatisasi terhadap tugas yang berulang, maka perusahaan dapat meminimalisir kesalahan dan waktu untuk menyelesaikannya. Karyawan pun akan lebih fokus pada pemecahan masalah dan tugas-tugas kreatif lainnya. Keberadaan teknologi AI memudahkan perusahaan untuk menganalisis dan menafsirkan Big Data sambil memberikan analisa lain yang akurat.

    3. Inklusivitas dan keberagaman pekerja
    Penciptaan lingkungan kerja yang inklusif dan beragam telah terbukti berhasil meningkatkan tingkat produktivitas inovasi, kesuksesan dan tingkat kepuasan karyawan secara umum. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey, perusahaan AS dengan tingkat keberagaman latar belakang pekerja terbanyak terbukti 36% lebih unggul dari pesaing mereka.

    [irp]

    Managing Director SAP Indonesia Andreas Diantoro mengatakan, untuk dapat menarik dan mempertahankan karyawan yang produktif dan kompeten, perusahaan juga perlu menghargai dan mendukung usaha karyawannya. Pemberdayaan teknologi dan solusi termutakhir dapat membantu mereka untuk bekerja dengan lebih efisien dan percaya diri.

    “Banyak perusahaan yang sudah mengadaptasi ‘tren kerja masa depan,’ yang menggunakan ide-ide inovatif dan pemanfaatan solusi-solusi yang dapat mentransformasi lingkungan kerja, tenaga kerja, dan kualitas pekerjaan itu sendiri,” tuturnya berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip Selasa, (14/06/2022).

    4. Angkatan kerja multi generasi
    Hingga saat ini, tren dan budaya kerja yang diterapkan merupakan lingkungan yang diciptakan oleh generasi baby boomer. Ke depannya, semakin banyak perusahaan yang akan melihat percampuran generasi angkatan kerja.

    [irp]

    Heterogenitas inilah yang kemudian akan menciptakan berbagai tren yang mengharuskan perusahaan untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan yang berbeda jauh antar generasi. Fenomena ini juga akan mendorong pergerakan yang lebih cepat dalam angkatan kerja.

    Untuk itu, perusahaan harus memberikan kesempatan bagi karyawan mereka untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan pribadi serta merencanakan karir dengan baik. Kini, banyak teknologi HR modern dan AI yang dapat mendukung program pengembangan pribadi yang juga dapat memetakan kebutuhan dari masing-masing angkatan kerja.

    5. Pelatihan dan peningkatan skill pekerja
    Implementasi AI dan teknologi digital teraktual membutuhkan pelatihan khusus. Maka dari itu, perusahaan perlu mengadakan pelatihan rutin yang dapat meningkatkan kemampuan karyawan mereka untuk menggunakan teknologi tersebut.

    Penggunaan AI dan teknologi baru ini juga kemudian akan membuka pintu bagi berbagai macam inovasi di tempat kerja kelak. Misalnya, memanfaatkan bot untuk membentuk lingkungan kerja yang imersif dan personal sesuai dengan kemampuan dan kenyamanan setiap penggunanya.

    6. Mengedepankan kesejahteraan dan keterlibatan karyawan
    Sebuah survei di tahun 2020 yang dilakukan terhadap 17.000 karyawan yang tersebar di 20 industri berbeda menunjukkan bahwa meningkatkan keterlibatan karyawan di tempat kerja merupakan faktor terpenting untuk dapat membangun sebuah bisnis yang kokoh dan berperforma tinggi. []

    [irp]

    INAYA UMPAN PANCING

  • Menko Airlangga: Hadapi era Industri 4.0, Insinyur Teknik Industri Harus Beradaptasi

    peloporberita.com/ – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, para insinyur Teknik Industri harus beradaptasi demi menghadapi era Industri 4.0. Hal ini disampaikannya secara virtual pada acara Puncak 50 Tahun Dies Natalis Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB)

    “Sebagaimana kita harus beradaptasi di masa pandemi, para insinyur Teknik Industri juga harus beradaptasi menghadapi era Industri 4.0 yang ditandai dengan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan layanan konsumen secara global,” tutur Menko Airlangga dikutip Minggu, (16/01/2022).

    Ia menegaskan, salah satu yang menjadi fokus pengembangan Pemerintah yakni industri sektor kesehatan. Industri kesehatan termasuk di dalamnya industri farmasi, merupakan salah satu sektor yang sangat diutamakan terutama dalam kondisi pandemi saat ini.

    Dalam rangka meningkatkan daya saing Indonesia dalam sektor industri, Pemerintah juga mendorong terjadinya transformasi berbasis digital untuk menopang perkembangan industri kesehatan.

    Transformasi tersebut dapat berperan dalam memudahkan proses distribusi, penguatan jejaring kesehatan, mengefektifkan proses administrasi, dan mendukung performa yang lebih efektif serta efisien.

    Menko Airlangga juga menerangkan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga tahun 2021, Indonesia memiliki 241 industri manufaktur farmasi, 17 industri bahan baku farmasi, 132 industri kesehatan tradisional, dan 18 industri produk ekstraksi alam.

    Berbagai industri tersebut telah mengekspor produk farmasi dan alat kesehatan ke berbagai negara di dunia antara lain Amerika Serikat, Inggris, Vietnam, Belanda, Singapura, dan Korea Selatan.

    “Dalam mendukung upaya pengembangan industri kesehatan, Pemerintah telah menyusun Peta Jalan dengan tujuan untuk meningkatkan produksi bahan baku berteknologi tinggi,” tegas Menko Airlangga.

    Pemerintah juga telah mendorong munculnya riset dan inovasi melalui Pendanaan Riset Inovatif Produktif yang dikelola oleh LPDP untuk para akademisi, serta menyediakan insentif Super Deduction Tax untuk para technopreneur yang melakukan kegiatan Litbang. Berbagai kebijakan ini dapat dimanfaatkan agar sektor industri nasional dapat melahirkan inovasi-inovasi yang diciptakan insinyur Teknik Industri.

    Tujuan jangka panjang dari upaya ini adalah untuk mencapai kemandirian industri kesehatan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menurunkan ketergantungan pada bahan impor.

    “Dengan terus meningkatkan kemampuan teknikal, manajerial, komunikasi, dan memperkaya skill-set, saya yakin para Insinyur Teknik Industri mampu bersaing secara global dan memberikan sumbangsih besar bagi bangsa” tandas Menko Airlangga.[]