Tag: ikan

  • KKP Segel 4,7 Ton Ikan Impor Ilegal Asal Tiongkok dan Malaysia

    Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyegel 4,748 ton ikan impor ilegal asal Tiongkok dan Malaysia yang tidak dilengkapi dengan persyaratan impor sesuai ketentuan di Batam-Kepulauan Riau. Hal ini, demi memastikan kegiatan impor produk perikanan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan sehingga tidak merugikan nelayan dan industri perikanan dalam negeri.

    Direktur Jenderal PSDKP Laksamana Muda TNI Adin Nurawaluddin, yang memimpin langsung operasi pengawasan importasi ikan di Batam menjelaskan, bahwa ditemukan sebanyak 4,25 ton ikan makarel asal Tiongkok di Cold Storage PT. SLA dan 498 kg ikan bawal emas asal Malaysia di PT. ATN. Ia juga menyebut bahwa kedua komoditas perikanan tersebut masuk ke Indonesia tanpa dilengkapi Persetujuan Impor (PI) dan Sertifikat Kesehatan Ikan (Health Certificate).

    “Indikasinya produk ini masuk secara ilegal, dan sudah ada yang beredar di masyarakat,” tutur Adin berdasarkan keterangan tertulis yang dikutip Senin, (06/06/2022).

    Adin juga memastikan bahwa 4,748 ton ikan impor ilegal tersebut saat ini dalam pengawasan jajaran Pangkalan PSDKP Batam, bahkan telah dilakukan penyegelan. Hal tersebut merupakan upaya menghentikan dan mencegah agar ikan ilegal tersebut tidak beredar di masyarakat.

    “Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang kepada kami, seluruhnya sudah kami segel sebagai upaya melindungi masyarakat dari komoditas perikanan yang masuk tidak sesuai ketentuan”, pungkas Adin.

    Terkait temuan tersebut, Adin menegaskan bahwa kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di bidang importasi komoditas perikanan mengedepankan perlindungan industri perikanan dalam negeri dan menjaga stabilitas harga ikan untuk nelayan. Oleh sebab itu, praktik impor komoditas perikanan ilegal ini akan diusut sampai ke akar-akarnya.

    KKP Segel 4,7 Ton Ikan Impor Ilegal Asal Tiongkok dan Malaysia

    “Sesuai dengan arahan Bapak Menteri Trenggono, kami akan tindak lanjuti temuan ini agar tidak mengganggu iklim usaha perikanan dalam negeri,” sebut Adin.

    Lebih lanjut Adin menjelaskan bahwa pihaknya saat ini terus mendalami kasus tersebut. Adin menengarai praktik importasi komoditas perikanan secara ilegal ini telah berlangsung lama.

    [irp]

    “Sedang kami dalami posisi kasusnya dan tidak menutup kemungkinan kami akan kembangkan lebih lanjut”, terang Adin.

    Sebagaimana diketahui, kebijakan impor komoditas perikanan memang dilaksanakan secara ketat untuk melindungi industri dalam negeri dan nelayan Indonesia.

    Sebelumnya Menteri Trenggono juga menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 tahun 2021 yang salah satunya mengatur Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) termasuk bagi usaha importasi komoditas perikanan. []

    [irp]

  • Pedagang Ikan Depok dan Bogor Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran

    Jakarta – Pedagang ikan di sejumlah pasar di Depok dan Bogor kebanjiran pesanan jelang Lebaran. Hal ini terungkap dari pantauan lapangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) pada Kamis (28/04/2022).

    Edi, salah satu pedagang ikan pindang di Pasar Agung Depok mengaku penjualannya bisa mencapai 20-30 kg/hari. “Jualannya ikan pindang cakalang dan bandeng, harga masih terjangkau seperti pindang cakalang Rp30.000,” tutur Edi saat ditemui tim dari Ditjen PDSPKP yang dipimpin oleh Direktur Logistik, Berny A.Subki di lapak dagangannya.

    Penuturan serupa diucapkan oleh para pedagang Pasar Musi Baru Depok hingga Pasar Baru Bogor serta Pasar Anyar Bogor. Rata-rata kenaikan permintaan ikan di pasar tersebut mencapai 20-30 persen menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, terutama untuk produk udang dan cumi.

    Pasokan ikan di pasar wilayah Bogor dan Depok sendiri berasal dari Muara Angke dan Muara Baru, terutama komoditas ikan laut. Sedangkan komoditas air tawar dipasok dari Parung, Bogor dan beberapa daerah di sekitar Jawa Barat.

    Ilustrasi Pedagang Ikan. (Foto: KKP)

    “Kami bisa pastikan kalau dari pasokan sangat mencukupi menjelang Hari Raya Idul Fitri,” tegas Artati Widiarti, Direktur Jenderal PDSPKP usai menerima laporan hasil pemantauan sejumlah pasar.

    Selain mengecek ketersediaan stok, Artati menyebut KKP ingin memonitor harga ikan di pasar tradisional. Meski terdapat kenaikan, sekitar Rp5.000-8.000 per kg untuk ikan laut, dan Rp2.000-5.000 per kg untuk ikan air tawar, menurutnya hal tersebut masih dalam batas yang wajar mengingat banyaknya ragam pilihan ikan dan tingginya permintaan.

    Pemantauan harga dan pasokan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan stok ikan dengan harga yang terjangkau serta kesiapan pasar tradisional dalam menjual produk-produk perikanan segar dan olahan dengan mutu yang baik. []

    [irp]

  • Bazar Ramadan 2022 KKP Sukses, Pedagang Pulang dengan Tersenyum

    Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sukses menggelar “Bazar Ramadhan 2022” pada tanggal 7 dan 8 April di parkiran dan lobi Gedung Mina Bahari (GMB) III. Acara ini, berhasil menarik animo para pegawai yang berkantor di Jalan Medan Merdeka dan sekitarnya.

    Johan, Pemilik UMKM Rumah Abon, Bandung, mengaku berhasil menjual banyak produk selama 2 hari kegiatan bazar. Dagangannya berupa abon, udang krispi, teri dan krupuk, terjual hingga 134 pack. “Alhamdulillah, bisa pulang ke Bandung sambil senyum ini,” tutur Johan Sabtu, (09/04/2022)

    Sementara Tinuk Rahayu, pemilik UMKM Batandu Abadi Indramayu mengaku meraup omzet yang menggembirakan dari jualan udang dan ikan segar selama 2 hari. Awalnya ia sempat pesimistis, namun dia justru kaget saat dagangannya sudah habis sekitar pukul 09.00 WIB saat hari pertama. Bahkan di hari kedua, 150 kg udang segar yang dia bawa dari Indramayu ludes terjual.

    “Sempat tidak yakin pas mau berangkat bawa 70 kg udang, tapi ternyata jualan sudah habis bahkan sebelum dibuka sama Bu Menteri. Jadi langsung ngirim lagi,” ungkapnya sambil tertawa.

    Hal yang sama disampaikan Kismi Sardiman, Pemilik UMKM Hanada Bogor yang menyampaikan hampir semua jualannya yang berupa aneka krupuk dan baby fish diborong oleh pembeli. “Semoga ini bukan terakhir dan bisa dilaksanakan secara rutin,” harap Kismi.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan, kegiatan tersebut bisa jadi momentum setelah lama vakum akibat pandemi Covid-19. Melalui kegiatan ini, Ia mengajak masyarakat, khususnya para pegawai di sekitar KKP bangga dengan produk Indonesia atau produk UMKM.

    “Setelah lama tidak ada bazar, 2 tahun vakum, 2022 ini Insya Allah (pandemi) sudah melandai, kondisi sudah membaik, kita bisa gerakkan kembali UMKM kita,” ucap Menteri Trenggono, usai berbelanja di “Bazar Ramadhan 2022”, Kamis lalu (07/04/2022).

    Bazar Ramadhan 2022" pada 7-8 April di parkiran dan lobi Gedung Mina Bahari (GMB) III. (Foto: Humas KKP)
    Bazar Ramadhan 2022″ pada 7-8 April di parkiran dan lobi Gedung Mina Bahari (GMB) III. (Foto: Humas KKP)

    Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti mendorong dinas perikanan di daerah untuk menggelar kegiatan serupa. “Ini terbukti efektif, UMKM kita senyum, masyarakat juga senang berbelanja. Semoga teman-teman dinas di daerah juga rutin menggelar bazar UMKM,” tegas Artati.

    Sebanyak 39 produk ikan segar dan olahan dijual dengan harga terjangkau pada bazar kali ini. Kegiatan makin berwarna dengan hadirnya produk pakaian hingga kerajinan dari mutiara laut. “Total ada 53 UMKM yang kita undang untuk berjualan secara gratis selama dua hari,” jelas Artati.

    Selanjutnya, tak menutup kemungkinan kegiatan ini akan digelar secara rutin dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Terlebih sebelum pandemi, KKP selalu mengadakan bazar di pekan kedua setiap bulan. []

  • KKP Dorong Ekspor dengan Peningkatan Mutu Pengolahan Ikan

    peloporberita.com/ – Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Artati Widiarti mengatakan, pihaknya akan dorong pemenuhan mutu dan standar produk untuk peningkatan ekspor melalui pencapaian 10.500 sertifikat Good Manufacturing Practices pada Unit Pengolahan Ikan.

    “(Langkah ini) mendukung kebijakan dan program penangkapan ikan terukur, pembangunan Kampung Nelayan Maju, pembangunan kampung budidaya berbasis kearifan lokal, dan pengembangan budidaya berbasis komoditas unggulan ekspor,” tuturnya di Jakarta, Kamis (03/03/2022).

    Artati juga melaporkan capaian kegiatan hingga Januari 2022 seperti terkait Komponen Infrastruktur Mutu, yaitu 2 dari 3 Lembaga Sertifikasi IndoGAP yang ada saat ini telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dan siap untuk melaksanakan sertifikasi IndoGAP.

    Selain itu, juga telah tersusun naskah final Peraturan Menteri tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian yang siap disahkan oleh Menteri yang menaungi BSN. Selain itu, Peta Jalan Pembangunan Laboratorium Metrologi Biologi Indonesia sudah selesai disusun, dan akan diintegrasikan ke dalam Rencana Strategi BSN.

    Bahkan saat ini, 3 Laboratorium di bawah KKP dan Kementerian Perindustrian siap diakreditasi menjadi Produsen Bahan Acuan Mikrobiologi pertama di Indonesia, sementara 2 Laboratorium di bawah Ditjen Perikanan Budidaya KKP siap diakreditasi menjadi Penyedia Pengujian Profisiensi.

    “31 SNI telah direvisi, dan SOP audit/inspeksi jarak jauh telah dilaksanakan untuk sertifikasi GMP dan HACCP,” tegas Artati.

    Terkait Komponen Pemenuhan Standar bagi UMKM, yaitu telah tersedia 15 SOP perikanan budidaya yang sesuai dengan Kode Etik dalam Perikanan Budidaya yang Bertanggung Jawab (CCRF FAO), serta terdapat SNI dan beberapa Standar Internasional yang telah selesai diujicobakan.

    Sementara sekarang, sedang dilakukan di antaranya sosialisasi untuk mencapai target implementasi oleh 2.500 pembudidaya ikan se-Indonesia, dilakukan transformasi 7 SOP ke dalam modul pelatihan, dilakukan digitalisasi SOP menjadi media ajar penyuluh, dilakukan blended learning di Politeknik AUP Jakarta, serta telah terbentuk 7 mitra program dan 80 UMKM pengolah yang mendapatkan sertifikat GMP.

    “Sebagai contoh, sekitar 26,5% nilai ekspor UPI di Tarakan yang saat ini menjadi mitra penerima kegiatan GQSP mengalami peningkatan, karena terjadinya penambahan pasar baru,” ungkapnya.

    Dari komponen Budaya Mutu, yaitu tersusunnya 5 rekomendasi kebijakan bidang mutu yang telah diadopsi oleh KKP, tersedianya 46 laboratorium perikanan yang terdaftar di jejaring laboratorium internasional, serta lebih dari 10.000 peserta telah dilatih atau mengikuti kegiatan awareness campaign, baik perwakilan dari pembina mutu, inspektur mutu, maupun penyuluh perikanan.

    Guna mencapai target peningkatan ekspor udang 250% di 2024, situs web dan branding udang Indonesia telah diluncurkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan dan Duta Besar Swiss untuk Indonesia.

    “Tentu dengan semua yang kita lakukan tersebut, kita berharap tidak ada lagi penolakan produk kelautan dan perikanan Indonesia di pasar internasional,” pungkasnya. []

  • KKP Kecewa Warga Konsumsi Hiu Paus Terdampar di Cianjur

    peloporberita.com/ | Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menerima laporan penyalahgunaan pemanfaatan jenis biota dilindungi. Sebelumnya, dilaporkan bahwa pada Minggu (26/09/2021) sekitar pukul 11.00 WIB telah ditemukan ikan Hiu Paus terdampar di Pantai Cirarangan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat.

    Biota laut yang diperkirakan berukuran panjang 4-6 meter dengan bobot mencapai 1,5-2 ton ini, ditemukan oleh warga sekitar dalam kondisi sudah mati. Ironisnya, ikan tersebut dipotong-potong dan dikonsumsi oleh warga sekitar. KKP sangat menyayangkan tindakan tersebut, mengingat Hiu Paus adalah biota laut yang dilindungi penuh oleh negara.

    Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Pamuji Lestari sangat menyesalkan tindakan warga dan menilai sebagai bentuk penyalahgunaan pemanfaatan biota laut yang dilindungi.

    Baca juga: Klaster Tambak KKP di Cidaun Kembali Panen Udang Vaname

    “Hiu Paus adalah biota laut yang dilindungi penuh oleh negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 tahun 2013 tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus, sehingga segala bentuk pemanfaatan yang bersifat ekstraktif terhadap Hiu Paus, termasuk pemanfaatan bagian-bagian tubuhnya, dilarang secara hukum,” katanya.

    Ia juga menegaskan bahwa pelaku bisa dikenakan pasal pidana. “Ancaman terhadap penyalahgunaan pemanfaatan ikan dilindungi cukup serius, pelaku bisa dikenakan pasal pidana sesuai aturan UU Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 21 Ayat 2, Kami tidak ingin kejadian serupa terulang kembali,” tegas Tari.

    Baca juga: KKP Hadirkan Layanan Elektronik Perjanjian Kerja Laut

    Lebih lanjut, Tari mengungkapkan pihaknya telah menurunkan petugas ke lapangan untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, dan segera melaksanakan sosialisasi kepada warga terkait perlindungan jenis ikan.

    Sementara itu, Kepala Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan (LPSPL) Serang Syarif Iwan Taruna Alkadri menyampaikan, saat ini KKP telah berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) PPI Jayanti Cidaun, Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur, dan sesuai Berita Acara Kejadian Hiu Paus Terdampar di Pantai Cirarangan Sindangbarang Nomor 523/75/UPTDPPI/BAK/IX/2021, diketahui bahwa melalui informasi warga, kejadian bermula sekitar pukul 11.00 WIB hiu paus terlihat terombang-ambing oleh gelombang pasang di sekitar perairan Pantai Cirarangan Sindangbarang.

    Baca juga: KKP dan UNAIR Kerja Sama Pengelolaan Jenis Ikan Dilindungi

    Kemudian sekitar pukul 14.00 WIB, warga melihat tubuh ikan mengarah mendekati Pantai Cirarangan dan terdampar karena kondisi air sudah mengarah gelombang surut. Dengan ketidaktahuannya, masyarakat sekitar berbondong-bondong memburu ikan yang dilindungi tersebut, kemudian memotong-motong dan mengambil dagingnya untuk dikonsumsi. Diduga, ikan itu tersesat karena keluar dari kawanan Hiu Paus lainnya.

    “Saat ini, tim UPTD PPI Jayanti Cidaun telah melakukan beberapa langkah penanganan seperti menyusun informasi dan laporan kepada Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kabupaten Cianjur dan Dinas terkait lainnya melalui UPTD Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Wilayah Selatan Provinsi Jawa Barat sebagai bahan tindak lanjut. Lalu berkoordinasi dengan KKP melalui LPSPL Serang, dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat di lokasi kejadian tentang ikan dilindungi dan risiko yang mungkin terjadi apabila dikemudian hari terjadi lagi hal serupa,” jelas Iwan.

    Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmennya untuk selalu memastikan kelestarian biota laut yang dilindungi dan keberlanjutan populasinya untuk kesejahteraan bangsa dan generasi yang akan datang. Pasalnya, spesies ini adalah biota laut yang terancam punah dan statusnya telah dilindungi penuh secara nasional dan internasional. []

  • Mengetahui Budidaya Ikan Bubara

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) mendorong peningkatan produktivitas budidaya ikan bubara (Caranx sp) untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. Ikan laut yang dikenal dengan sebutan ikan kuwe ini, memiliki serapan pasar yang cukup tinggi lantaran kelezatan rasanya.

    “Melalui kegiatan perekayasaan yang cukup panjang, ikan bubara telah berhasil dibenihkan secara massal oleh tim teknis BPBL Ambon sejak tahun 2018, setelah sebelumnya kebutuhan akan ikan bubara di pasar hanya dipenuhi oleh hasil tangkapan dari alam,” tutur Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Tb Haeru Rahayu berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/ Jumat, 17 September 2021.

    “Ikan bubara ini juga memiliki harga jual yang cukup tinggi. Seperti di Kota Ambon yang mencapai Rp 65 ribu – Rp 80 ribu per kg untuk size ikan 2-3 ekor per kg.”

    Pada tahun 2020 BPBL Ambon juga berhasil memproduksi calon induk ikan bubara sebanyak 149 ekor lalu menyebarkan bantuan sebanyak 23 ribu ekor benih ikan bubara kepada pembudidaya di wilayah kerjanya.

    Ikan bubara, merupakan komoditas perikanan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena sangat digemari khususnya oleh masyarakat Indonesia Timur. Sebab, hampir semua restoran yang ada di wilayah timur menyajikan ikan bubara sebagai menu khas sebab rasanya yang dikenal lezat.

    Tebe sapaan Tb Haeru menjelaskan, selain mengembangkan teknik pembenihan untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi, BPBL Ambon juga menyempurnakan teknologi pembesaran ikan bubara di Karamba Jaring Apung (KJA).

    Ikan Bubara
    Ikan Bubara. (Foto: peloporberita.com/KKP)

    “Dukungan dalam bentuk bantuan benih maupun pendampingan teknologi kepada pembudidaya akan terus kami dorong agar lebih banyak pembudidaya yang merasakan manfaat ekonomi dari ikan bubara,” sebut Tebe.

    Hariyano, perekayasa Ahli Madya BPBL Ambon yang telah berkecimpung dalam kegiatan budidaya ikan bubara sejak tahun 2008 menerangkan, ikan bubara menjadi salah satu komoditas favorit pembudidaya KJA di Maluku sebab laju pertumbuhannya yang cepat yakni hanya membutuhkan waktu 5-6 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi.

    Selain itu, ikan ini juga tahan penyakit, mudah diberi pakan dan tingkat kelangsungan hidupnya tinggi hingga mencapai 90%.

    “Ikan bubara ini juga memiliki harga jual yang cukup tinggi. Seperti di Kota Ambon yang mencapai Rp 65 ribu – Rp 80 ribu per kg untuk size ikan 2-3 ekor per kg. Harga jual ini juga cukup stabil bahkan tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak tahun lalu sehingga semakin banyak pembudidaya yang melirik peluang usaha pembesaran ikan bubara di KJA ini,” ungkap Hariyano.

    Kualitas perairan yang baik, menjadi salah satu kunci dalam usaha pembesaran ikan bubara dan Provinsi Maluku dianugerahi kondisi perairan yang cocok untuk memaksimalkan pertumbuhan ikan bubara.

    Hal ini, menyebabkan kegiatan pembesaran ikan bubara di KJA berkembang dengan cepat di Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat, Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara.

    “Apalagi dengan daya serap pasar yang tinggi, masyarakat menilai pembesaran ikan Bubara ini cukup menjanjikan sebagai diversifikasi komoditas selain kerapu yang juga mereka budidayakan di KJA walaupun saat ini pemasaran ikan bubara masih berfokus pada pasar lokal karena sifat ikan bubara yang merupakan ikan pelagis sehingga cukup sulit untuk dapat dikirimkan dalam jumlah yang besar,” tegasnya.

    Sementara salah satu tantangan yang dihadapi dalam pembesaran ikan bubara menurut Hariyano adalah harus ekstra hati-hati saat bersentuhan langsung dengan ikan tersebut. Jika tidak, dapat melukai ikan yang bisa mengakibatkan kematian.

    Untuk mengatasi hal tersebut, Hariyano menganjurkan kepada pembudidaya untuk dapat menggunakan jaring khusus yang terbuat dari kain untuk meminimalisir dampak yang ditimbulkan.

    “Kami mengupayakan agar teknologi terkait budidaya ikan bubara dapat makin dikuasai sehingga produksinya semakin meningkat dan semakin banyak pembudidaya yang menguasai teknik budidaya ikan ini,” tandas Yano.

    Atas jasanya dalam mengembangkan teknologi pembesaran ikan bubara di KJA sebagai model usaha berbasis teknologi sederhana di kawasan Maluku, Hariyano dianugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Joko Widodo.

    Ia dinilai aktif dalam berbagai uji coba untuk memperoleh teknologi budidaya yang baik dari segi penggunaan wadah, jumlah padat tebar, jenis pakan yang digunakan, frekuensi pemberian pakan, dosis pakan yang ideal, teknik transportasi, teknik grading, teknik pergantian jaring dan lain sebagainya.

    Selajutnya, Ketua Kelompok Waiheru Sejahtera, Mansir, yang merupakan salah seorang pembudidaya ikan di Teluk Ambon menyetujui bahwa ikan bubara menjadi salah satu komoditas yang disukai oleh pembudidaya KJA di Teluk Ambon karena permintaan pasar yang tinggi terutama di Kota Ambon serta tingkat kelulushidupan yang tinggi mencapai hingga 90%.

    “Tingginya permintaan pasar masih belum dapat dipenuhi oleh kami pembudidaya di Teluk Ambon, sehingga area pengembangan masih terbuka sangat luas, apalagi ikan bubara juga memiliki harga jual yang cukup bagus,” ucap Mansir.

    Dari usaha budidaya ikan bubara yang digeluti, kelompok yang beranggotakan 10 orang dan telah melakukan usaha budidaya sejak tahun 2010 ini, bisa menghasilkan omzet hingga Rp100 juta per siklus dengan melakukan penebaran benih sebanyak 15 – 17 ribu ekor dan masa pemeliharaan selama 7-8 bulan. Dari omzet tersebut, masing masing anggota dapat mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp3-4 juta per bulan.

    “Beberapa kendala yang kami hadapi dalam budidaya ikan bubara adalah kenaikan harga pakan di musim tertentu dan perubahan cuaca ekstrim yang terlalu panas atau hujan yang terlalu sering. Selain itu proses penyortiran juga memiliki peran penting agar tidak menghambat pertumbuhan ikan yang lebih kecil,” papar Mansir.

    Mansir juga menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh KKP maupun Dinas Perikanan setempat kepada para kelompok pembudidaya di Teluk Ambon dengan menyalurkan bantuan berupa sarana dan prasarana budidaya, benih maupun pakan ikan.

    “Kami juga berharap BPBL Ambon dapat memproduksi benih secara kontinu agar kegiatan budidaya ikan bubara yang kami lakukan dapat berkelanjutan,” tandas Mansir.

    Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan perikanan budidaya merupakan subsektor perikanan yang terus digenjot produktivitasnya.

    Untuk mencapai peningkatan produksi dan kualitas komoditas yang dihasilkan, Menteri Trenggono menjalankan tiga program terobosan KKP 2021-2024 di mana dua di antaranya berkaitan dengan perikanan budidaya.

    Program terobosan tersebut meliputi pengembangan perikanan budidaya untuk peningkatan ekspor yang didukung riset kelautan dan perikanan, serta pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya di wilayah pedalaman, pesisir dan laut berbasis kearifan lokal serta terintegrasi dari hulu sampai hilir guna menumbuhkan perekonomian masyarakat. []

  • KKP dan UNAIR Kerja Sama Pengelolaan Jenis Ikan Dilindungi

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut belum lama ini melakukan perjanjian kerja sama dalam konservasi khususnya jenis ikan yang dilindungi dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR).

    Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso berharap, penandatanganan kerja sama akan memperkuat KKP dalam pengelolaan jenis ikan dilindungi khususnya di wilayah kerja BPSPL Denpasar yang meliputi Provinsi Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

    “Kehadiran tim dokter FKH UNAIR akan sangat membantu KKP dalam penanganan jenis ikan dilindungi.”

    “Tenaga ahli, khususnya dokter hewan yang dimiliki UNAIR akan sangat membantu KKP dalam pengelolaan perlindungan dan pelestarian jenis ikan,” tutur Yudi berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Sabtu, 12 September 2021.

    Dekan Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR Mirni Lamid sangat mengapresiasi kerja sama konservasi ini.

    “Dengan kerja sama ini, harapan ke depan dapat lebih mengembangkan lagi keilmuan dan praktik baik dosen maupun mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR dalam pengelolaan, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan jenis ikan yang dilindungi,” ungkap Mirni.

    Sementara Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Community Development UNAIR Profesor Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan, kerja sama tersebut tidak hanya menjadi rutinitas sehari-hari namun diperlukan terobosan atau inovasi baru yang dapat menjaga kelestarian wilayah pesisir, laut serta isinya.

    Kemudian Plt. Direktur Pengelolaan Ruang Laut Pamuji Lestari dalam keterangannya di Jakarta menjelaskan kerja sama ini menjadi landasan bagi kedua pihak untuk memperkuat sinergi dan mengimplementasikan ruang lingkup kerja sama yang telah disepakati dalam pengelolaan, perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan jenis ikan yang dilindungi.

    “Kehadiran tim dokter FKH UNAIR akan sangat membantu KKP dalam penanganan jenis ikan dilindungi sehingga KKP akan semakin kuat dalam pelaksanaan perlindungan jenis ikan dilindungi. Terlebih lagi beberapa waktu lalu banyak kejadian mamalia laut yang terdampar di perairan Indonesia,” tegas Tari.

    Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono selalu mengingatkan bahwa pengelolaan perlindungan dan pelestarian jenis ikan menjadi tugas bersama semua pihak. Karenanya, kerja sama dengan pihak-pihak terkait sangat diperlukan untuk memperkuat KKP dalam melaksanakan tugasnya.

    Hal ini tertuang pula dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 65 Tahun 2016 tentang Pedoman Kerja Sama dan Penyusunan Perjanjian Lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan. []

  • Mengenal Lele Mutiara “Bermutu Tiada Tara”

    peloporberita.com/ | Jakarta –  Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) selaku Unit Eselon I Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), berperan merealisasikan kampung perikanan budidaya dengan mengembangkan beragam kampung perikanan. Salah satunya Kampung Lele di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat sejak Juni 2021.

    Karawang, merupakan daerah potensial dalam mengembangkan budidaya perikanan. Tercatat pada tahun 2018, Karawang memiliki 18.275,00 hektare tambak, 1.088,80 hektare kolam air tenang, serta 148 unit kolam jaring apung.

    Hal ini, menunjukkan bahwa Karawang bukan hanya Kota Industri, tetapi juga memiliki potensi perikanan budidaya dengan penghasilan yang cukup besar, dengan keuntungan berkisar antara Rp5 juta sampai Rp13 juta dalam berbudidaya lele.

    Meski demikian, bukan sembarang lele yang dibudidayakan di Kampung Lele Desa Sumurgede, melainkan lele Mutiara (Bermutu Tiada Tara) yang merupakan strain unggulan hasil penelitian Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI).

    Proses pemuliaan lele Mutiara telah dilakukan sejak tahun 2015 dengan melewati serangkaian uji coba. Lele Mutiara dihasilkan dari seleksi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia yakni, lele Mesir, lele Phyton, lele Sangkuriang, dan lele Dumbo.

    Lele Mesir, yang merupakan lele hibah dari mantan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat, memiliki keunggulan berupa daya tahan yang kuat terhadap penyakit dan lingkungan serta keseragaman ukurannya yang tinggi, namun pertumbuhan dan fekunditasnya relatif rendah.

    Lele Phyton merupakan koleksi dari Model Pembenihan Ikan Lele (MPIL) Mojokerto, memiliki keunggulan berupa pertumbuhannya yang cepat dan bagus serta efisiensi pakan yang tinggi, namun tingkat keseragamannya rendah, sifat kanibalismenya tinggi, dan lebih rentan terhadap penyakit.

    Sedangkan lele Sangkuriang yang merupakan koleksi dari Balai Pengembangan Budidaya Air tawar (BPBAT) Cijengkol memiliki keunggulan berupa fekunditas yang tinggi dan daya adaptasinya terhadap lingkungan budidaya yang baik, namun rentan terhadap penyakit serta tingkat pertumbuhannya yang relatif rendah.

    Baca juga: Menteri Trenggono Pastikan Laut Indonesia Bebas Cantrang

    Sementara lele Dumbo yang diperoleh dari pembenih lokal, merupakan populasi pelengkap dengan performa moderat. Dari keunggulan masing-masing tersebut didapatkan 1 strain baru (lele Mutiara) hasil persilangan empat strain tersebut selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan.

    Lele Mutiara ini pun telah dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 77/KEPMEN-KP/2015. Keunggulan dari lele Mutiara adalah:

    1. Laju pertumbuhan tinggi berkisar 10-40 persen lebih tinggi daripada jenis lain.
    2. Lama pemeliharaan singkat, dimana pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari.
    3. Keseragaman ukuran relatif tinggi, tahap produksi benih diperoleh 80-90 persen benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80 persen.
    4. Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah, antara 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.

    Selain itu, Lele Mutiara juga memiliki daya tahan yang relatif tinggi terhadap penyakit dengan sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70 persen pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik). Ikan unggulan ini juga memiliki produktivitas relatif tinggi pada tahap pembesaran, mencapai 20-70 persen lebih tinggi daripada benih-benih strain lain.

    Dari hasil uji lapang juga menunjukkan hasil yg konsisten (stabil). Benih lele Mutiara memiliki performa pertumbuhan dan parameter-parameter produktivitas yg selalu lebih tinggi (unggul) serta keuntungan usaha 2-9 kali lipat daripada benih-benih pembandingnya, sehingga sesuai untuk digunakan dalam usaha pembesaran di berbagai lokasi dan sistem pembesaran. []

  • Resep Tumis Ikan Kembung Bumbu Kuning

    peloporberita.com/ | Jakarta – Ikan bisa diolah menjadi makanan yang banyak sekali macamnya, bukan cuma digoreng atau dijadikan dibakar. Bunda bisa mengolah ikan mejadi sup atau dengan mengukusnya menjadi lauk yang lezat. Selain itu, berikut resep tumis ikan kembung bumbu kuning yang bisa menjadi rekomendasi menu masakan Anda.

    Bahan:

    Bumbu halus:

    • 10 butir bawang merah
    • 3 siung bawang putih
    • 5 cm kunyit
    • 3 cm jahe
    • 12 buah cabe rawit (sesuai selera)

    Cara Membuat :

    1. Lumuri ikan dengan air jeruk dan garam
    2. Diamkan sebentar lalu goreng hingga matang, sisihkan.
    3. Tumis bumbu halus, daun jeruk dan cabe merah keriting hingga matang.
    4. Tambahkan ikan, aduk rata, tuangkan air, bubuhi garam dan gula,masak hingga bumbu meresap.
    5. Sesaat sebelum diangkat taburi daun bawang, aduk rata, koreksi rasa kemudian angkat.

    Tumis ikan kembung bumbu kuning siap disajikan dan disantap bersama keluarga atau orang terkasih Anda, silahkan mencoba.[]

  • KKP Gelar Pelatihan Camilan Olahan Ikan di 34 Provinsi

    peloporberita.com/ | Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) mengadakan Pelatihan Pembuatan Fishchocoral. Difasilitasi Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Ambon, pelatihan full online ini diikuti sebanyak 468 peserta dari 33 Provinsi di Indonesia.

    Dalam kegiatan ini, para pelatih mendemonstrasikan secara langsung cara membuat fishchocoral, yang merupakan inovasi camilan berbahan dasar ikan dan cokelat yang diolah dalam bentuk terumbu karang.

    “Pelatihan ini, menjadi salah satu upaya diversifikasi produk olahan ikan yaitu memperkenalkan fish snack.”

    Kepala BRSDM KP, Sjarief Widjaja yang ditemui secara terpisah menyampaikan, bahwa pelatihan ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan usaha.

    “Di tengah pandemi Covid-19 yang terus melonjak, untuk meningkatkan konsumsi ikan, lewat pelatihan ini, peserta dapat memanfaatkan pelatihan dengan baik sehingga ke depannya dapat menjadi salah satu alternatif peluang usaha dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha,” tutur Sjarief berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Jumat, 16 Juli 2021.

    Meningkatkan konsumsi ikan, salah satunya dapat dilakukan dengan membuat inovasi pada olahan makanan, salah satunya mengembangkan produk bergizi berbahan dasar ikan.

    KKP
    Camilan Olahan Ikan. (Foto:Pelopor/KKP)

    Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP), Lilly Aprilia Pregiwati memuji terobosan baru gagasan BP3 Ambon dalam mengombinasikan ikan dengan cokelat menjadi camilan yang menarik.

    “Terobosan untuk membuat snack fishchocoral berbahan baku ikan, dibalut dengan cokelat dan dibentuk seperti terumbu karang ini sangat menarik sehingga orang-orang jadi tertarik untuk menggeluti atau memproduksi makanan dari ikan. Hal ini, juga bisa membuat anak-anak semakin suka ikan,” sebut Lilly.

    Kepala Sub Koordinator Pelatihan BP3 Ambon, Ekadasa Priantara menanggapi, camilan cokelat merupakan hidangan yang hampir disukai banyak kalangan, terlebih anak-anak.

    “Cokelat banyak disukai anak-anak dan jika dibuat menjadi camilan yang dicampur dengan ikan mereka sulit menolak, karena rasanya manis dan gurih. Lewat pelatihan ini, menjadi salah satu upaya diversifikasi produk olahan ikan yaitu memperkenalkan fish snack,” tandas Ekadasa.

    Kegiatan ini, mendapat respon positif dari salah satu peserta, Siti Anisyah. Dia mengatakan, pelatihan ini dapat bermanfaat untuk ditularkan ke masyarakat.

    “Pelatihan Pembuatan Fishchocoral kali ini sangat luar biasa, bermanfaat sekali ilmunya untuk ditularkan ke masyarakat khususnya pelaku utama perikanan,” ucap Siti.

    Harapannya, melalui pelatihan ini dapat tumbuh pelaku usaha baru dan mampu moving forward pada masa new normal. Hal ini tentunya membutuhkan peran penyuluh dalam membantu proses pemasaran dengan memanfaatkan peluang bisnis secara online.

    Dalam kesempatan yang sama KKP juga mengadakan kegiatan Pelatihan Teknik Perbaikan Jaring dengan Bahan Polyethylene (PE), yang difasilitasi oleh BP3 Tegal secara full online.

    Dalam kegiatan ini, pelatih mendemonstrasikan cara menjurai jaring dengan benang PE, cara pemotongan dan teknik perbaikan jaring kepada 465 peserta dari 34 Provinsi di Indonesia. Pelatihan diharapkan dapat menekan fenomena ghost fishing (alat penangkapan ikan yang dibuang, hilang, atau ditinggalkan di laut) yang merusak lingkungan, serta dapat menjadi alternatif nelayan dalam menekan biaya kerusakan maupun perbaikan alat tangkap dalam kegiatan usahanya. []