Tag: Goldman Sachs

  • Apple Luncurkan Fitur Paylater Tanpa Pihak Ketiga

    Jakarta | Apple Inc. meluncurkan fitur paylater dan tidak menggunakan mitra pihak ketiga. Melalui anak usahanya, Apple Financing LLC, raksasa teknologi itu akan sepenuhnya mengawasi pemeriksaan kredit dan memutuskan persetujuan pinjaman untuk layanan paylater.

    “Bisnis Apple Financing LLC memiliki lisensi pinjaman negara yang diperlukan untuk menawarkan fitur tersebut,” ungkap pihak manajemen Apple seperti dilansir dari Bloomberg.

    Meski demikian, Apple tidak akan mengambil risiko terlalu besar. Transaksi Apple Pay Later akan dibatasi, tergantung pada riwayat kredit pengguna, dengan memungkinkan membagi biaya transaksi Apple Pay dalam empat kali cicilan selama enam minggu.

    Sebelumnya, layanan keuangan Apple memang telah didukung oleh pemroses kredit pihak ketiga dan bank. Salah satunya adalah Apple Card yang bergantung pada Goldman Sachs untuk pinjaman dan penilaian kredit.

    Selain mengambil pinjaman, pemeriksaan kredit, dan pengambilan keputusan, Apple sedang mengerjakan mesin pemrosesan pembayarannya sendiri yang pada akhirnya dapat menggantikan CoreCard Corp.

    Sumber daya Apple untuk proyek ini bisa dinilai cukup meyakinkan. Pasalnya, produsen iPhone ini memiliki hampir USD 200 miliar dalam bentuk tunai dan surat berharga, dan mencetak laba hampir USD 95 miliar selama tahun fiskal terakhir.[]

  • Mitra dan Direktur Pelaksana Goldman Sachs Bisa Liburan Tak Terbatas

    Jakarta | Goldman Sachs Group Inc. mengatakan kepada jajaran karyawan senior bahwa hari libur mereka tidak akan dibatasi. Setelah beroperasi selama 153 tahun, salah satu firma Wall Street ini sangat identik dengan jam kerja yang panjang dan budaya kerja keras.

    Sebelumnya, survei dari penasihat tunjangan karyawan Mercer menunjukkan bahwa waktu istirahat tanpa batas telah diadopsi secara lebih luas di pasar tenaga kerja yang ketat, setelah hanya diperuntukkan bagi segelintir perusahaan teknologi, seperti Netflix Inc. dan Twitter Inc.

    Perusahaan yang telah mengadopsi kebijakan itu mengatakan manfaat tersebut dapat meminimalkan kejenuhan dan menanamkan rasa percaya di antara para pekerja.

    Terkait hal itu, Goldman mengatakan, mitra dan direktur pelaksana tidak akan lagi memiliki jumlah hari libur yang ditetapkan mulai bulan ini. Mengutip The Wall Street Journal, Goldman juga mengharapkan seluruh karyawan untuk mengambil cuti kerja minimal tiga minggu setiap tahun.

    Goldman memiliki sekitar 400 mitra dan ribuan direktur pelaksana, dengan total lebih dari 45.000 karyawan.

    Bagi Goldman, keputusan ini menandai langkah terbaru dari serangkaian langkah yang telah dibuatnya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan perbankan, perdagangan dan transaksi sejak 2020.

    Goldman adalah salah satu bank yang lebih agresif untuk kembali bekerja secara langsung dan sebagian besar memiliki kantor penuh pada bulan Januari. Perusahaan seperti Goldman telah berlomba membawa pekerja kembali ke kantor dan mempekerjakan yang baru untuk mengikuti arus transaksi dan pasar yang hiruk pikuk.

    Pada November, Goldman telah mengumumkan cuti berbayar untuk keguguran, perluasan jumlah waktu yang dapat diambil karyawan untuk cuti berkabung, dan pengenalan cuti panjang yang tidak dibayar untuk karyawan lama.

    Perusahaan mengatakan keputusannya dirancang untuk lebih mendukung istirahat dan memulihkan tenaga bagi para pekerja.

    “Sebagai sebuah perusahaan, kami berkomitmen untuk memberikan manfaat dan penawaran yang berbeda kepada karyawan kami untuk mendukung kesejahteraan dan ketahanan,” kata Goldman dalam email yang mengumumkan kebijakan waktu istirahat baru, yang pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News.[]

  • Ekuitas Asia Hadapi Arus Keluar Asing Terbesar Dalam 2 Tahun Terakhir

    Jakarta | Ekuitas Asia menghadapi arus keluar asing terbesar di bulan Maret dalam dua tahun terakhir. Hal itu dipicu kekhawatiran atas inflasi yang lebih tinggi lantaran harga komoditas melonjak akibat perang Rusia-Ukraina.

    Menurut data Refinitiv, investor lintas batas menjual bersih ekuitas Asia senilai USD 16,23 miliar di Taiwan, India, Korea Selatan, Filipina, Vietnam, Indonesia dan Thailand pada bulan lalu. Angka itu menjadi arus keluar tertinggi sejak penjualan bersih sebesar USD 33,32 miliar pada bulan Maret 2020.

    Pada kuartal pertama 2022, investor asing menjual bersih ekuitas regional senilai USD 31,54 miliar, terbesar sejak kuartal pertama 2020.

    “Kekhawatiran investor tentang stagflasi baru-baru ini meningkat, didorong oleh angka inflasi yang terus tinggi dan ekspektasi bahwa perang Ukraina dan guncangan sisi penawaran yang menyertai minyak dan komoditas lainnya akan meningkatkan tekanan inflasi dan juga mengurangi pertumbuhan,” kata Goldman Sachs dalam sebuah laporan yang dikutip dari Reuters.

    Pialang mengatakan, ekuitas Asia berada pada risiko kuasi-stagflasi, ditandai dengan kenaikan inflasi dan pertumbuhan yang melambat.

    Bank Dunia pada Selasa (05/04/2022) memperkirakan, pertumbuhan 2022 di kawasan berkembang Asia Timur dan Pasifik (EAP), yang meliputi Tiongkok, hanya tumbuh 5%, lebih rendah dari perkiraan pada Oktober lalu yang 5,4%.[]