Tag: Garam

  • Petani Garam Curhat ke Moeldoko, Ada Apa?

    peloporberita.com/ – Petani garam, mencurahkan isi hati (curhat) kepada Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) H. Moeldoko. Isi curhatan tersebut, mulai dari kebijakan harga eceran tertinggi (HET), impor garam, hingga abrasi. Hal ini, terjadi belum lama ini saat Moeldoko mengunjungi Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.

    “Stok garam lokal tidak sepenuhnya memenuhi kriteria atau kualitas yang diinginkan sektor industri, sehingga kita mengimpor.”

    Dihadapan Moeldoko, salah seorang petani garam setempat, Ismail Marzuki (32) menyampaikan bahwa harga garam pernah anjlok hingga di bawah Rp100 per kilogram (kg) dan membuat petani menangis.

    “Sekarang lagi Rp500 per kilo akan tetapi kesulitan produksi karena cuaca. Maka dari itu, perlu ada kebijakan HET garam,” curhat Ismail.

    Menanggapi hal ini, Moeldoko menyampaikan bahwa dirinya akan mengupayakan adanya HET garam.

    “Saya belum bisa menyampaikan ini di sini, karena ini kewenangan ini ada di Kementerian Perdagangan. Nanti akan saya sampaikan kepada beliau pada Kementerian Perdagangan untuk hal ini,” tutur Moeldoko.

    Sementara soal impor garam, Moeldoko menjelaskan bahwa kebutuhan di tahun ini mencapai kurang lebih 4,665 juta ton, di mana 3,077 juta ton merupakan kebutuhan industri.

    “Sedangkan yang dihasilkan garam lokal pada tahun lalu hanyalah 1,5 juta ton. Masih kurang dan jauh dari target. Di sisi lain stok garam lokal tidak sepenuhnya memenuhi kriteria atau kualitas yang diinginkan sektor industri, sehingga kita mengimpor,” ungkapnya.

    Selanjutnya masalah abrasi yang mengancam tambak garam, Moeldoko mengaku akan membicarakannya dengan Kementerian kelautan. Terkait ini, menurutnya sudah ada rencana seperti revitalisasi bibir pantai dan peralihan petani garam ke budidaya ikan nila salin.

    “Di sisi lain kondisi bibir pantai di kawasan pantura mengalami kemunduran dan berbagai tantangan. Makanya, upaya kementrian di antaranya adalah budidaya nila salin, yang termasuk komoditas unggul yang memiliki nilai cukup tinggi,” sebut KSP.

    Petani garam lainnya, Casman menanggapi ucapan KSP Morldoko. Soal peralihan menuju budidaya ikan nila salin, dirinya akan mengikuti aturan pemerintah.

    “Ya, saya ngikut saja. Sebenarnya, dulu sudah pernah budidaya udang tapi bangkrut. Ragu, karena dari kecil sudah jadi petani garam. Tapi kalau keputusan pemerintah seperti itu ya saya pribadi ikut saja,” ucapnya. []

  • Program Sentra Ekonomi Garam Rakyat KKP Tunjukkan Hasil

    peloporberita.com/ | Jakarta –  Program Sentra Ekonomi Garam Rakyat (SEGAR) yang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) sejak tahun 2020, mulai menunjukkan hasil.

    Keberadaan Gudang Garam Nasional (GGN) dan washing plant (alat pencuci garam) mampu memberikan nilai tambah bagi para petambak utamanya dalam meningkatkan pendapatan masyarakat petambak garam.

    “Bila harga kurang wajar, kami punya beberapa Gudang Garam Rakyat (GGR) dengan kapasitas tampung 100 ton.”

    Hal ini, diungkapkan Plt. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi saat bersama KKP meninjau lokasi GGN dan washing plant di Desa Krangkeng belum lama ini.

    “Sejak washing plant beroperasi, harga garam yang sebelumnya berkisar antara Rp400 hingga Rp500 per kilogram, setelah diolah dan dikelola oleh koperasi kini harganya berkisar antara Rp1.800 hingga Rp1.900 per kilogram. Ini berdampak besar bagi perekonomian para petambak dan akan dirasakan saat musim panen raya,” tutur Edi berdasarkan keterangan tertulis yang diterima peloporberita.com/, Selasa, 31 Agustus 2021.

    Edi menambahkan tahun 2011 rata-rata produksi garam rakyat di Indramyu sekitar 60 ton per hektare per musim, namun sejak KKP mendampingi kini produktivitasnya mencapai 130 ton per hektare per musim.

    “Bila harga kurang wajar, kami punya beberapa Gudang Garam Rakyat (GGR) dengan kapasitas tampung 100 ton. Lalu ada juga 2 GGN bantuan KKP yang berkapasitas tampung masing-masing 2.000 ton, sehingga bahan baku garam untuk diolah dengan washing plant akan selalu tersedia,” ungkapnya.

    Sentra Ekonomi Garam Rakyat KKP

    Sementara Plt. Direktur Jenderal PRL,Pamuji Lestari, saat meninjau ke lokasi GGN dan washing plant di Indramayu menjelaskan pembangunan garam rakyat melalui sentra ekonomi garam rakyat merupakan program KKP untuk memberdayakan petambak garam.

    Program yang dilakukan di Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat merupakan konsep pengembangan garam dari hulu ke hilir, mulai pra produksi, produksi, pasca produksi hingga pemasarannya.

    “Washing plant di sini merupakan salah satu dari 7 washing plant yang dibangun KKP melalui dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2020. Melalui washing plant, kualitas garam mampu ditingkatkan kadar NaCl nya hingga 97% dan warnanya lebih putih,” tegas Tari.

    Selain meninjau lokasi GGN dan washing plant di Kabupaten Indramayu, Tari juga menyempatkan diri untuk menyambangi washing plant di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Tari pun menegaskan, KKP terus berkomitmen untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan kualitas garam rakyat diiringi dengan pembinaan ke masyarakat.

    “Kita harapkan ini bisa terus berlanjut, tidak hanya di Indramayu tapi juga di beberapa lokasi lainnya sejalan dengan instruksi Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono untuk terus meningkatkan kesejahteraan petambak garam dan meningkatkan Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGaR),” tandasnya. []