Tag: Evergrande

  • Pemerintah Tiongkok Lakukan Intervensi Terhadap Masalah Evergrande

    peloporberita.com/ | Perusahaan properti Tiongkok, Evergrande mengalami masalah gagal bayar utang, sehingga mendorong pemerintah melakukan intervensi.

    Salah satunya terlihat dari keputusan bank sentral yang akan mengalirkan dana sebesar USD 188 miliar atau sekitar Rp 2.688 triliun (kurs Rp 14.300/USD). Kebijakan itu diambil untuk mencegah terjadinya keruntuhan di sektor real estat Tiongkok.

    Selain itu, pemerintah daerah di Guangdong, yang merupakan markas Evergrande, telah menyatakan akan mengirim sejumlah petugas ke perusahaan tersebut, untuk mengawasi manajemen risiko dan memperkuat kendali internal.

    Sejatinya, sejumlah analis telah memperingati bahwa keruntuhan Evergrande tidak hanya memicu risiko untuk pasar properti Tiongkok, tapi juga sistem keuangan yang lebih luas. Mengingat besarnya pengaruh perusahaan Evergrande di Negeri Tirai Bambu.

    Melansir dari CNN, Evergrande memiliki sekitar 200.000 karyawan, meraup lebih dari USD 110 miliar atau sekitar Rp 1.573 triliun dalam penjualan tahun lalu, dan memiliki lebih dari 1.300 pengembangan di lebih dari 280 kota di Tiongkok.

    Pada awal pekan ini, Evergrande juga telah mengumumkan akan membentuk komite manajemen risiko, termasuk perwakilan pemerintah, untuk mengurangi dan menghilangkan risiko di masa depan.

    Dampak masalah Evergrande memang tidak bisa dianggap remeh. Pasalnya, sektor real estat dan industri terkait adalah salah satu sektor terbesar di Tiongkok, menyumbang sebanyak 30% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu. []

    Baca juga: Susul Evergrande, Pengembang Sunshine 100 China Gagal Bayar Obligasi

  • Susul Evergrande, Pengembang Sunshine 100 China Gagal Bayar Obligasi

    peloporberita.com/ | Kabar buruk kembali melanda industri properti China, setelah Sunshine 100 China Holdings Ltd mengungkapkan telah gagal membayar obligasi senilai USD 170 juta. Sebelumnya, kasus serupa dialami oleh Evergrande Group yang merupakan salah satu pengembang properti di Negeri Tirai Bambu.

    Dalam pengajuan laporan gagal bayar, Sunshine 100 menyatakan perusahaan tidak dapat membayar kembali pokok dan bunga obligasi sebesar 10,5% yang jatuh tempo pada 5 Desember.

    “Karena masalah likuiditas yang timbul dari dampak buruk dari sejumlah faktor, termasuk lingkungan makroekonomi dan industri real estat,” jelas Sunshine 100, seperti dikutip dari Reuters.

    Baca juga: Evergrande Jual Saham Perusahaan Streaming untuk Cicil Utang

    Pengumuman ini muncul beberapa hari setelah Evergrande menyatakan tidak ada jaminan akan memiliki cukup dana untuk memenuhi pembayaran utang. Kejadian ini kembali menunjukkan bahwa sejumlah developer di China terus berjuang membayar utangnya, bahkan ketika pemerintah mulai melonggarkan pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan normal pendanaan pengembang.

    Sebelumnya, China memperketat pembatasan real estat di awal tahun ini, yang kemudian berdampak pada kondisi finansial Evergrande dan beberapa pengembang properti lain.

    Terkait hal itu, regulator China sejak Oktober mendesak bank melonggarkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan normal pengembang, dan memungkinkan lebih banyak perusahaan real estat menerbitkan obligasi di pasar domestik. []

    Baca juga: Krisis Keuangan Evergrande Ancam Perekonomian Tiongkok

  • Evergrande Jual Saham Perusahaan Streaming untuk Cicil Utang

    peloporberita.com/ | Evergrande, pengembang properti asal China, telah menjual seluruh sahamnya di perusahaan streaming film dan televisi HengTen senilai US$ 273 juta, atau setara Rp 3,87 triliun (nilai kurs Rp 14.200).

    Evergrande pun akan membukukan kerugian lebih dari US$ 1 miliar dari penjualan sisa 18% sahamnya di HengTen ini, seperti dikutip dari BBC, Jumat (19/11/2021).

    Evergrande menempuh langkah itu untuk memenuhi pembayaran bunga atas pinjamannya. Seperti diketahui, saat ini Evergrande tercatat memiliki utang sekitar US$ 300 miliar (Rp 4.260 triliun).

    Baca juga: Evergrande Bayar Bunga Dua Obligasi

    Sebelumnya, Evergrande telah menjual 5,7% saham di HengTen pada pekan lalu dan menghasilkan sekitar US$ 145 juta. Transaksi itu dilakukan sehari sebelum batas waktu pembayaran bunga sebesar US$ 148 juta.

    Evergrande mulai memiliki saham mayoritas di HengTen pada awal tahun ini, namun perusahaan properti ini terpaksa menjual sahamnya sebagai salah satu upaya mengumpulkan uang demi melunasi utangnya.

    Dengan lepasnya Evergrande, maka pemegang saham mayoritas HengTen lainnya saat ini adalah raksasa teknologi China, Tencent. Sebelumnya, mereka telah membeli 7% saham ‘Netflix’ China ini dari Evergrande pada Juli lalu dengan nilai transaksi sekitar US$ 266 juta. []

  • China Kalahkan AS Sebagai Negara Terkaya di Dunia

    peloporberita.com/ | Perusahaan konsultan McKinsey & Co menobatkan China sebagai negara terkaya dunia, dengan menggenggam satu per tiga kekayaan dunia atau setara US$ 120 triliun, selama kurun waktu 2000-2020. China berhasil mengalahkan Amerika Serikat (AS) yang selama periode itu hanya berhasil menggandakan kekayaannya menjadi US$90 triliun.

    Sedangkan secara global, kekayaan dunia mencapai US$ 514 triliun pada 2020, naik pesat dari tahun 2000 yang saat itu hanya US$ 156 triliun. Angka itu berasal dari neraca keuangan nasional 10 negara yang mewakili kekayaan 60 persen dunia, seperti dikutip dari The Straits Times.

    McKinsey Global Institute mencatat, 68 persen dari kekayaan bersih global disimpan dalam bentuk real estate. Selain itu juga dicatat kekayaan tak berwujud seperti kekayaan intelektual dan paten.

    McKinsey menilai, melonjaknya kekayaan bersih selama dua dekade terakhir melampaui peningkatan produk domestik bruto (PDB) global. Salah satunya dipicu oleh kenaikan harga properti yang disokong penurunan suku bunga.

    Lonjakan nilai real estate membuat kepemilikan rumah tidak terjangkau bagi kebanyakan orang dan meningkatkan risiko krisis keuangan seperti yang melanda AS pada 2008. McKinsey khawatir China akan mengalami masalah serupa terkait utang pengembang properti, terutama yang saat ini melanda Evergrande Group.

    Seperti diketahui, Evergrande berada di ambang kebangkrutan lantaran memiliki utang sedikitnya US$ 300 miliar, atau sekitar Rp 4.260 triliun. Dalam sejarah manusia, belum ada perusahaan di dunia yang memiliki utang sebesar itu. []

    Baca juga: Profil Xu Jiayin, Pendiri Evergrande yang Berada di Ambang Kebangkrutan

  • Evergrande Bayar Bunga Dua Obligasi

    peloporberita.com/ – Raksasa properti Tiongkok, Evergrande Group yang tersandung masalah gagal bayar atau default obligasi korporasi, hari rabu pekan lalu dikabarkan telah melakukan pembayaran bunga untuk dua obligasinya.

    Informasi tersebut disampaikan oleh salah seorang pemegang obligasi korporasi Evergrande, yang sekaligus menjadi sinyal Evergrande Group terhindar dari default.

    Evergrande

    Disebutkan, Clearstream, sebagai perusahaan penyedia layanan pasca-perdagangan milik Deutsche Börse AG, telah menerima pembayaran bunga jatuh tempo atas obligasi yang diterbitkan oleh Evergrande.

    Baca juga :

    Tercatat, Evergrande berutang pembayaran bunga dari tiga obligasinya dengan total nilai 150 juta dolar amerika, dengan waktu pembayaran hari Rabu pekan lalu. []

  • Profil Xu Jiayin, Pendiri Evergrande yang Berada di Ambang Kebangkrutan

    peloporberita.com/ | Salah satu orang terkaya di China, Xu Jiayin, kini berada di ambang kebangkrutan. Ia adalah direktur sekaligus pendiri Evergrande, perusahaan properti asal China yang memiliki utang sedikitnya USD 300 miliar, atau sekitar Rp 4.260 triliun. Dalam sejarah manusia, belum ada perusahaan di dunia yang memiliki utang sebesar itu.

    Berdasarkan laporan tahunan perusahaan yang dirilis pada 2019, Evergrande tercatat sudah mengembangkan 876 proyek di lahan seluas 293 juta meter persegi, yang tersebar di seluruh provinsi di China. Namun, langkah Evergrande yang gencar berekspansi malah berakibat membengkaknya utang perusahaan.

    Banyak pihak khawatir jika Evergrande gagal membayar bunga dan utangnya USD 300 miliar, maka ambruknya pengembang properti ini dapat memicu kekacauan keuangan global. Salah satunya adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang turut mewaspadai kasus gagal bayar Evergrande. Mengingat, China adalah salah satu mitra dagang dan tujuan ekspor Indonesia, bersama Amerika Serikat dan Jepang. Ia mengungkapkan hal itu dalam konferensi pers APBN Kita, pada Kamis (23/09/2021).

    Baca juga: Profil Xi Jinping yang Sering Mencekal Perusahaan Teknologi China

    Profil Xu Jiayin

    Lantas seperti apa sosok pendiri Evergrande?

    Xu Jiayin adalah salah satu orang yang terkaya di China. Bahkan, pada 2017, dia pernah menggeser Jack Ma dari posisi orang terkaya di China, dengan nilai kekayaan pada saat itu sebesar USD 43 miliar.

    Xu Jiayin yang juga dikenal dengan nama Hui Ka Yan, lahir pada tahun 1958 di Provinsi Henan, China. Dikutip dari media pemerintah setempat, ayah Xu Jiayin adalah anggota Tentara Revolusioner dan ikut bertempur melawan Jepang, sedangkan ibunya meninggal saat ia masih kecil.

    Sebelum menjadi konglomerat, Xu Jiayin pernah menjadi pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian pada awal 1970-an, ia berhasil diterima di Institut Besi dan Baja Wuhan, lembaga pendidikan yang sekarang bernama Universitas Sains dan Teknologi Wuhan. Sambil menempuh pendidikan, Xu Jiayin tetap menjadi pekerja kasar.

    Baca juga: Profil Pengusaha Bambang Trihatmodjo yang Tetap Romantis dengan Mayangsari

    Setelah lulus, ia bekerja di pabrik besi dan baja selama beberapa tahun, sebelum mendirikan Evergrande pada 1996. Seiring dengan bertumbuhnya perekonomian China, Evergrande juga berkembang pesat. Pada 2018, Brand Finance bahkan menempatkan Evergrande sebagai perusahaan real estate dengan nilai terbesar di dunia.

    Di luar sektor properti, Evergrande menjadi pembicaraan, ketika membeli klub sepak bola di Guangzhou senilai USD 15 juta pada 2010, dan empat tahun kemudian ia menjual sahamnya di klub tersebut ke perusahaan e-commerce, Alibaba, seharga USD 192 juta. []

  • Krisis Keuangan Evergrande Ancam Perekonomian Tiongkok

    peloporberita.com/ | Jakarta – Krisis keuangan yang dialami raksasa property Evergrande menjadi ancaman bagi perekonomian Tiongkok.

    Sebab, bakal memicu efek domino sekaligus menjadi sentimen buruk bagi beberapa proyek properti lainnya.

    Tercatat, Evergrande terancaman mengalami gagal bayar senilai 300 miliar dolar amerika.

    Baca juga : China Batasi Anak di Bawah Umur Main Video Game 3 Jam Seminggu

    Mantan penasehat Bank Rakyat Tiongkok, Li Daokui menyebutkan, efek domino akan dirasakan oleh para supplier bahan bangunan.

    Seperti contohnya suplier cat hingga baja dan lainnya, lantaran Evergrande kesulitan membayar kewajibannya.

    Selain itu, dampak luasnya ke ekonomi Tiongkok akan di rasakan oleh pengembang property lainnya.

    Sehingga, memperlambat pembangunan banyak proyek, dan bakal berujung negative dipasar property. []