Tag: Desa Wisata

  • Sandiaga Uno Dukung Cisaat Subang Masuk Jaringan Desa Wisata

    peloporberita.com/ – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mendorong Desa Cisaat, Subang, Jawa Barat, untuk masuk ke dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta) melalui partisipasi di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

    Hal ini disampaikan Menparekeraf saat mengunjungi Desa Cisaat Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (5/3/2022). Menurutnya, desa wisata Cisaat adalah desa yang memiliki potensi daya tarik alam, budaya, dan produk ekonomi kreatif.

    “Kami mendukung Desa Cisaat ini menjadi desa wisata yang masuk dalam Jadesta bersama 100 desa wisata lainnya/ Insya Allah Kabupaten Subang akan menjadi JAWARA (Jaya, Istimewa, dan Juara). ADWI 2022 masih dibuka pendaftarannya sampai 31 Maret 2022,” tutur Menparekraf.

    Ia juga mengapresiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa yang memiliki slogan “Datang sebagai tamu, pulang membawa ilmu” yang sudah mengambil peran untuk membangun potensi desa.

    “Potensi Desa Cisaat yang bisa dikembangkan adalah potensi buah nanas, wisata edukasi susu sapi perah, dan satu program yang memiliki unsur keberlanjutan energi baru dan terbarukan yaitu produk arang dari kayu mahoni yang sudah diekspor,” ungkap Sandiaga.

    Menparekraf memaparkan, pada tahun 2016 desa ini sudah ditetapkan oleh Bupati Subang sebagai desa wisata. Desa Wisata Cisaat juga menjadi desa wisata edukasi yang sudah didatangi 1.254 wisatawan pada 2016 dan pada tahun 2019 meningkat menjadi 1.850 wisatawan.

    “Subang ini destinasi yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan Jakarta dan menawarkan potensi yang menarik bagi wisatawan. Yang bisa diunggulkan adalah wisata edukasinya karena lain dari pada yang lain. Saya harapkan ini menjadi best practice bagi desa wisata lain,” tandas Sandiaga Uno. []

  • Kemendes PDTT Gelar Lomba Promosi Desa Wisata Berhadiah Rp 1 Miliar

    peloporberita.com/ – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, menggelar Lomba Promosi Desa Wisata secara virtual via aplikasi Desa Wisata Nusantara yang berhadiah total Rp1 Miliar. Hal ini ia sampaikannya saat memberikan arahan terkait Promosi Desa Wisata Nusantara yang Mendapatkan 10 Like Tertinggi Periode Februari 2022.

    “Lomba ini akan ada hadiah uang dari Kemendes PDTT yang bisa digunakan untuk menambah modal desa wisata. Makanya, kita adakan lomba ini, supaya ada semangat kompetisi. Dan nanti yang banyak likenya pada pertengahan juni nanti kita akan kasih hadiah,” tutur Gus Halim panggilan akrabnya secara virtual pada Jumat (25/2/2022).

    Lomba yang diikuti Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan BUM Desa Bersama yang mengelola wisata desa atau yang bekerjasama dengan pihak ketiga ini, mempertandingkan jumlah like terbanyak yang akan diumumkan pada bulan Juni dan November 2022.

    Hingga saat ini, sebanyak 964 desa wisata telah mendaftar untuk promosi, dan sebanyak 541 desa wisata yang dikelola BUM Desa telah mulai berlomba dalam mempromosikan daya tarik wisatanya masing-masing.

    Gus Halim juga menegaskan aplikasi desa wisata nusantara dibuat untuk kepentingan warga desa dan untuk mempercepat pemulihan ekonomi di tngkat desa melalui desa wisata. Semua biaya pembuatan dan operasional aplikasi ini, ditanggung Kemendes PDTT. Oleh karenanya, pengelola desa wisata tak perlu mengeluarkan uang untuk memasukkan profil desa wisata mereka.

    “Proses pemulihan ekonomi yang paling cepat itu ternyata salah satunya adalah wisata. Peluang yang sangat bagus ini, mari kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin mempromosikan desa wisata kita masing-masing,” kata Doktor Honoris Causa dari UNY ini.

    Promosi Desa Wisata Nusantara, setiap bulannya akan diumumkan oleh Kemendes PDTT diikuti rekomendasi perbaikan dari fotografer atau traveler. Adapun pada Periode Februari 2022 ini terdapat 10 desa wisata yang memiliki like tertinggi yakni:

    1. Taman Wisata Menanti Laburan di Desa Padang Panjang Kalsel (6.445 like)
    2. Mini Ranch Sapi di Desa Cibeureum Jawa Barat (5.231 like)
    3. Wisata Mangrove Kedatim di Desa Kebun Dadap Timur Jawa Timur (4.546 like)
    4. Wisata Teba Majalangu di Desa Kesiman Kertalangu Bali (4.424 like)
    5. Embung Tali Asmoro di Desa Asembu Mulya Sulawesi Tenggara (3.606 like).
    6. Obyek Wisata Pesona Ngiroboyo di Desa Sendang Jawa Timur (3.514 like)
    7. Kawasan Wisata Pantai Menung di Desa Kayu besi Kepulauan Bangka Belitung (2.728 like)
    8.Taman Mergayas Gumiwang di Desa Gumiwang Jawa Tengah (2.647 like)
    9. Desa Wisata Religius Bubohu Bongo di Desa Bongo Gorontalo (2.516 like)
    10. Desa Wisata Cipta Karya di Desa Cipta Karya Kalimantan Barat (2.441 like).[]

  • Menko Airlangga: ADWI Dorong Pengembangan Desa Wisata

    peloporberita.com/ – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Lomba Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, dapat mendorong pengembangan desa-desa wisata di Indonesia. Hal ini disampaikan Menko Airlangga saat memberikan sambutan mewakili Presiden Joko Widodo di acara “Malam ADWI 2021” yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    “Atas nama Bapak Presiden, saya mengapresiasi penyelenggaraan Malam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 sebagai momentum mendorong geliat pengembangan desa wisata khususnya dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional,” tuturnya, Selasa, (7/12/2021).

    Menurut Menko Airlangga, ADWI dapat menjadi wahana promosi potensi desa wisata di Indonesia bagi wisatawan domestik dan mancangera, serta dapat memotivasi Pemerintah Desa dan Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia untuk dapat mengembangkan desa-desa wisata baru sebagai pengungkit perekonomian desa dan daerah, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

    Pada ajang ADWI 2021 ini, 1.831 desa wisata dari 34 provinsi di seluruh Indonesia telah berpartisipasi mendaftar dan menjadi peserta. Dari jumlah tersebut, tersaring 50 besar desa wisata terbaik yang meraih penghargaan pada malam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 dalam mewujudkan desa wisata berkelas dunia, berdaya saing, dan berkelanjutan.

    Menko Airlangga juga menyampaikan bahwa sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara, peningkatan penerimaan devisa dari sektor pariwisata, penyerapan tenaga kerja pariwisata, dan kenaikan indeks daya saing pariwisata indonesia di ranah global.

    ”Saya juga mendorong agar pengembangan desa wisata untuk terus disinergikan dengan upaya pengembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas termasuk 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) sehingga dapat semakin memperluas manfaat ekonomi pengembangan destinasi pariwisata bagi masyarakat lokal,” tandasnya.

    Selain Menko Airlangga, perhelatan Malam ADWI 2021 dihadiri antara lain Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Budie Arie Setiadi, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria, para Bupati dan Wakil Bupati, serta para Kepala Desa dan Pejabat Setempat dari 50 Desa Wisata. []

  • Gus Halim Siapkan Lomba Promosi Desa Wisata Berhadiah 1 Miliar

    peloporberita.com/ – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar menyiapkan lomba promosi desa wisata dengan total hadiahnya lebih dari Rp1 Miliar. Tujuan lomba ini, agar seluruh desa berlomba-lomba memberikan promosi terbaik bagi desa wisatanya.

    “Seluruh desa dapat mengikuti lomba ini. Siapkan promosi sekreatif mungkin, hadiahnya 1 miliar lebih. Untuk ketentuannya akan segera dipublikasikan,” tutur Gus Halim panggilan akrabnya dalam kunjungan ke Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (6/12/2021).

    “Saya berharap dari desa nantinya muncul virtual tour, video atau film pendek yang menarik tentang desanya. Inovasi ini penting untuk promosi yang berkelanjutan terkait potensi wisata desa kita.”

    Menurutnya, salah satu aspek yang mempengaruhi cepat atau lambatnya perkembangan desa wisata adalah aspek promosi. Sementara promosi terbaik adalah dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat desa untuk bersama-sama membuat konten-konten kreatif terkait potensi pariwisata di lingkungan sekitarnya. Namun, Kreatifitas tersebut tidak boleh keluar dari akar budaya sebagaimana tujuan SDGs Desa ke-18.

    Gus Halim
    Gus Halim Siapkan Lomba Promosi Desa Wisata Berhadiah 1 Miliar. (Foto:Pelopor.id/Kemendes PDTT)

    “Wisata itu yang penting promosinya. Kalau promosinya bagus, orang juga pasti tertarik. Dan promosi terbaik adalah partisipasi semua masyarakat luas, termasuk kreatifitas para millennial. Saya berharap dari desa nantinya muncul virtual tour, video atau film pendek yang menarik tentang desanya. Inovasi ini penting untuk promosi yang berkelanjutan terkait potensi wisata desa kita,” ungkap Mendes PDTT.

    Baca juga : 

    Kunjungan Gus Halim ke NTT, adalah dalam rangka Peresmian Bantuan Pembangunan Sarana dan Prasarana Pendukung Pengembangan Objek Wisata Tahun 2021 Desa Wae Lolos dan Sano di Manggarai Barat serta Desa Nanga Mbaur dan Desa Compang Ndeijeng di Kabupaten Manggarai Timur.

    Masing-masing desa tersebut, mendapatkan bantuan sebesar 600 Juta Rupiah. Beberapa fasilitas yang berhasil dibangun di desa Wae Lolos dari bantuan tersebut adalah toilet di desa wisata, kolam air panas, dan gazebo. []

  • UNWTO Nobatkan Nglanggeran Yogyakarta Sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia

    peloporberita.com/ – UNWTO pada Kamis, (2/11/2021), menobatkan Desa Nglanggeran asal Gunungkidul Yogyakarta sebagai desa wisata terbaik di dunia dalam ajang Best Tourism Villages 2021.

    Nglanggeran, juga terpilih diantara 2 desa lainnya yang menjadi wakil Indonesia di ajang internasional tersebut seperti Desa Wisata Tete Batu di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Desa Wae Rebo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta
    Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta. (Foto:Pelopor.id/IG CatatanWisata)

    “Semoga kesuksesan ini akan menginspirasikan banyak desa – desa wisata lain di Indonesia untuk terus berbenah menjadi yang terbaik,” tutur Pengamat Pariwisata Nasional Taufan Rahmadi mengomentari kemenangan Desa Nglanggeran pada Kamis, (2/12/2021).

    Baca juga :

    Sebelumnnya Desa Wisata Nglanggeran telah memperoleh pengakuan sebagai destinasi wisata unggulan dan meraih berbagai penghargaan antara lain :

    1. Juara 1 Penyelamat Lingkungan Seleksi Kalpataru 2009 Propinsi DIY.
    2. CIPTA Award dari Kemenbudpar RI Tahun 2011
    3. UKM Terbaik Lomba Wirausaha Inovatif Berbasis Lingkungan dan Sosial oleh INOTEK dan PT. Sampoerna.Tbk Tahun 2015.
    4.Desa Wisata Terbaik Asean konsep CBT Tahun 2017
    5.Pemenang ASTA (Asean Sustainable Tourism Award) Tahun 2018.

    Tak berhenti disitu , Desa Wisata Nglanggeran juga berhasil memenuhi konsep pengembangan kawasan dengan tiga unsur utama di dalamnya yaitu Geodiversity, Biodiversity dan Culturaldiversity. Yang lebih membanggakan, Gunung Api Purba Nglanggeran menjadi salah satu Geosite di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark yan yang diakui ditingkat dunia. []

  • 10 Destinasi Wisata Lombok yang Wajib Dikunjungi

    peloporberita.com/ | Lombok bukan nama yang asing untuk kita. Potensi wisatanya luar biasa, sehingga menjadi destinasi yang sedang aktif didorong pemerintah dalam 10 destinasi wisata baru Indonesia. Baru-baru ini, tim redaksi peloporberita.com/ mendapat kesempatan menelusuri Lombok secara langsung dan ini adalah rekomendasi tempat wisata bagi Anda yang berkunjung ke Lombok.

    1. Pantai Batu Rudal

    Pantai ini cukup sulit digapai, sekitar satu jam dari sentral kuta. Namun, perjalanan maupun pantainya sendiri memberikan pengalaman tersendiri. Sepanjang perjalanan, kita disuguhi dengan pemandangan bukit-bukit kecil di kanan kiri jalan. Kemudian tantangan paling seru dalam menggapai Pantai Batu Rudal adalah perjalanan yang sulit dengan menjajaki batu-batu tepian pantai yang akan mengundang adrenalin. Anda harus extra hati-hati dalam perjalanan ini.

    Pantai Batu Rudal. (Foto: Pelopor/Ist.)

    2. Pantai Semeti

    Kalau merasa tidak sanggup menjalani tantangan ke Pantai Batu Rudal, Anda bisa lanjut ke Pantai Semeti. Meski jalanan masih off road, tetapi hal itu terbayarkan begitu tiba di tepi pantai karena pantainya sangat cantik dengan berpasir putih. Kanan kiri adalah susunan batu-batu dan di depannya ada bukit-bukit cantik yang membuat pantai ini seperti pantai pribadi yang dipagari bukit-bukit.

    Pantai Semeti. (Foto: Pelopor/Ist.)

    3. Pantai Telawas

    Sebelum Semeti, di sebelah kiri jika melihat bangunan berpanel surya dan ada tangganya, silahkan mengikuti tangga tersebut dan Anda akan berjumpa dengan Pantai Telawas. Mirip juga dengan Pantai Semeti, Telawas akan melengkapi pengalaman wisata Anda ke pantai nan cantik.

    Pantai Telawas. (Foto: Pelopor/Ist.)

    4. Pantai Selong Belanak

    Pantai ini sudah sangat populer. Banyak aktivitas sudah terjadi di sana, selain nelayan, ada juga restoran seafood maupun kelapa di sekitar pantai. Perahu-perahu juga ditawarkan kepada pengunjung yang ingin mengarungi pantai. Selain perahu juga tampak banyak peselancar. Mirip Semeti, Pantai Selong Belanak yang cantik berpasir putih ini, juga dikelilingi bukit-bukit menawan.

    Pantai Selong Belanak. (Foto: Pelopor/Ist.)

    5. Pantai Pawon

    Pantai berpasir putih dan masih sepi ini disebut rawan tsunami. Pantai ini bisa dikatakan versi kecilnya Selong Belanak, hanya saja tidak digunakan untuk berselancar dan masih banyak nelayan lokal beserta keluarga nelayan di sekitar pantai.

    Pantai Pawon. (Foto: Pelopor/Ist.)

    6. Sembalun

    Jika Anda tidak tahan dengan udara panas atau memang lebih menyukai udara dingin, Lombok juga memiliki Kawasan wisata gunung. Gunung Rinjani memiliki anak-anak gunung maupun kaki gunung yang menghampar di sekelilingnya. Sembalun adalah tempat yang sangat populer dengan ketinggian sekitar 1.000 MDPL. Sembalun menawarkan berbagai restoran, kebun stroberi dan kebun kopi untuk dikunjungi sambil menikmati hidangan yang tersedia di berbagai restoran sekitarnya.

    Sembalun. (Foto: Pelopor/Ist.)

    7. Desa Wisata Tetebatu

    Desa wisata ini sangat terkenal dengan keindahan alam dan kesejukannya. Bukan hanya di Indonesia, namun juga di Eropa, khususnya Belanda. Desa Tetebatu memiliki pemandangan terasering sawah dengan latar belakang puncak Gunung Rinjani, sehingga ketika dipandang bagaikan lukisan alam yang indah. Selain sawah dan ladangnya, Tetebatu juga memiliki air terjun dan beberapa desa penyangga di sekitarnya yang akan melengkapi alternatif desa wisata bagi pengunjung.

    Desa Tetebatu. (Foto: Pelopor/Ist.)

    8. Air Terjun Benang Kelambu

    Air terjun ini termasuk geopark kaki Gunung Rinjani. Benang Kelambu merupakan air terjun yang berasal dari mata air murni dengan tatanan halus bagai benang, yang bersalur merata menutupi hamparan tanaman hijau dengan tinggi sekitar 700 meter. Berdekatan dengan Benang Kelambu, ada air terjun Stokel yang berasal dari sungai kaki Gunung Rinjani.

    Air Terjun Benang Kelambu. (Foto: Pelopor/Ist.)

    9. Bukit Merese

    Bukit cantik, tempat banyak orang mengabadikan sunrise maupun sunset yang sangat cantik, menghadirkan pemandangan 360 derajat akan keindahan pantai-pantai yang mengelilinginya. Jika ada waktu, mampir juga ke Tanjung Aan yang merupakan pantai di bawah bukit Merese.

    Bukit Merese. (Foto: Pelopor/Ist.)

    10. Pantai dan Sirkuit Mandalika

    Pantai dan sirkuit ini adalah paket yang harus dikunjungi, berdekatan dan saling mendukung ketenarannya. Pantai yang sudah terkenal cantik, landai dan dikelilingi bukit hijau maupun bukit berbatuan ini, sekarang juga bersandingan dengan sirkuit balap international. Mandalika yang sesungguhnya berasal dari nama Putri Mandalika yang merupakan legenda di Lombok.

    Pantai dan Sirkuit Mandalika. (Foto: Pelopor/Ist.)

    []

  • Mengintip Kondisi Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu

    peloporberita.com/ | Lombok – Kawasan wisata Tete Batu yang kini dikenal dengan nama Desa Wisata Tete Batu, ternyata sudah menjadi kawasan wisata yang populer di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara sekitar tahun 1990-an. Tete Batu, dengan mudah saja menarik perhatian lantaran keindahan alamnya yang membuat peancong terkagum-kagum.

    Tete Batu yang terus mendulang kepopuleran, tentu berimbas pada berbagai industri pariwisata yang mendukungnya seperti penginapan (homestay), souvenir industri rumahan dan transportasi, bahkan sebagai motivator berdirinya desa-desa wisata lain di sekitarnya.

    “Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini.”

    Salah satu tempat yang namanya begitu mencuat adalah sebuah penginapan bernama Wisma dr. Soedjono yang memang berlokasi tepat di Tete Batu. Wisma Soedjono, merupakan wisma peninggalan seorang tokoh nasional yang punya peran strategis dalam mengentaskan wabah penyakit kolera di Lombok Timur yakni, dr. Soedjono.

    “Wisma dr Soedjono di Tete Batu ini dibangun oleh dokter pertama yang ada di Lombok Timur, yakni bapak mertua saya, dr. Soedjono,” tutur Hj. Surdini Soeweno yang merupakan istri dari Raden Soeweno, anak dari dr Soedjono dalam wawancara kepada media belum lama ini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Ardi)

    Konon, bangunan wisma berarsitektur Eropa itu awalnya ditempati dr. Soedjono bersama istrinya. Namun sepeninggal beliau, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertamanya dr. Soedjono yakni Raden Soeweno.

    Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya masih banyak kerabatnya yang ingin berkunjung ke wisma tersebut. Mereka pun datang dan menginap di rumah itu sekaligus mengenang kembali masa-masa bersama yang dilewati dengan sang dokter.

    Baca juga :

    Nah, keturunan dr. Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun sekitar tahun 1970-an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesanggrahan sang dokter. Upaya pengembangan kemudian kembali dilakukan sekitar tahun 1980-an.

    Kesaksian Hj. Surdini Soeweno

    Menurut Hj. Surdini Soeweno yang juga sempat menjabat sebagai Kepala Desa Tete Batu ini, sejarah keberadaan Wisma dr. Soedjono ini sudah sama tuanya dengan keberadaan pemerintah Kabupaten Lombok Timur, bahkan mungkin sejak sebelum itu, yakni pada saat Indonesia masih dijajah pemerintah Kolonial Belanda.

    “Cerita singkatnya, pada saat dr. Soedjono bertugas di Kabupaten Lombok Timur, dia membangun sebuah rumah yang berada di kawasan Tete Batu ini sebagai tempat peristirahatan bersama teman-teman dan para tamu dari luar negeri. Rumah yang dibangun di kawasan obyek wisata ini tidak begitu luas, hanya memiliki empat unit kamar, satu ruang tamu, lobby, dan satu ruang makan,” sebut Hj. Surdini.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Foto hitam putih di dinding Wisma dr. Soedjono Desa Wisata Tete Batu. (Foto: peloporberita.com/Tantri Lestari)

    Oleh sebab itu, ketika kita memasuki bangunan bersejarah yang sekarang telah beralihfungsi menjadi Wisma dr. Soedjono ini, mata kita langsung akan dibawa mengenang ke masa lalu, yaitu pada zaman Belanda. Bagaimana tidak, nyaris seluruh hiasan kamar yang ada dirumah ini, baik foto-foto yang rata-rata berwarna hitam putih, dan benda-benda lainnya adalah peninggalan masa lalu sang tuan rumah.

    "Keberadaan dr. Soedjono di Tete Batu tak hanya sekedar untuk urusan kesehatan saja, karena semasa hidupnya dr. Soedjono juga sering menunjukkan kepeduliannya kepada pendidikan, seni dan budaya di Tete Batu ini. Beliau bahkan pernah suatu saat memberikan alat musik gamelan kepada beberapa sanggar seni agar kesenian Tete Batu tetap terjaga sekaligus memberikan aktivitas positif kepada anak muda di sini," jelas Hj. Surdini.

    Setelah pendiri Wisma dr. Soedjono meninggal dunia, putranya yang bernama Raden Soeweno datang kembali ke Lombok bersama istrinya, Hj. Surdini Soeweno, yang kemudian melanjutkan serta mewarisi untuk merintis kembali usaha penginapan di Tete Batu.

    Profil Wisma dr. Soedjono

    Berdasarkan pernyataan dari Hj. Surdini, saat ini jumlah kamar yang ada di Wisma dr. Soedjono ada sebanyak 30 kamar, dengan harga masing-masing kamar berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp250 ribu, tergantung pada fasilitas dan luas dari kamar itu sendiri.

    Dan jika bicara fasilitas, bahkan Wisma dr. Soedjono ini tak kalah dibanding penginapan modern, karena ternyata juga memiliki kolam renang yang cukup besar dan biasanya digunakan oleh para tamu yang menginap.

    Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu
    Ruangan di dalam Wisma dr. Soedjono di Desa Wisata Tete Batu. (Foto:Pelopor.id/Ardi)

    Namun bencana gempa bumi yang sempat melanda Lombok pada tahun 2018 lalu berdampak negatif terhadap bisnis penginapan Wisma dr. Soedjono lantaran ada beberapa bangunan yang rusak sebagai imbas dari goncangan gempa dan hingga saat ini dikarenakan kondisi pandemi yang masih berlarut-larut serta proses perbaikan yang belum berjalan maka Wisma dr. Soedjono belum dibuka lagi untuk masyarakat umum menginap.

    Baca juga : 

    “Karena kondisi bangunan yang rusak karena gempa, ditambah lagi pandemi Covid-19 ini, Wisma dr. Seodjono sementara tutup dulu untuk umum. Sambil anak saya juga sedang mempersiapkan proyek positif untuk Wisma ini nantinya. jadi, sementara kita hanya terbuka untuk menyambut tamu yang ingin melihat wisma dari dekat serta usaha Cafe yang kami jalankan,” sebut Hj. Surdini.

    Semoga kondisi segera membaik dan Wisma dr. Soedjono sebagai landmark pariwisata di Desa Wisata Tete Batu segera mendapatkan perhatian yang selayaknya dari pemerintah daerah sehingga kondisinya bisa pulih kembali, sekaligus bisa berfungsi lagi sebagai penginapan bersejarah yang harus diakui juga menjadi magnet pariwisata di Tete Batu.[]

  • Transformasi Desa Kembang Kuning Lombok Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

    peloporberita.com/ | Lombok – Desa Kembang Kuning terletak di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2017 lalu, Desa Wisata ini dikukuhkan sebagai Desa Wisata Terbaik menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.

    Desa yang terletak di lereng Gunung Rinjani itu memiliki beragam potensi atraksi seni dan budaya, kearifan lokal, serta keramah-tamahan masyarakat. Desa Desa Kembang Kuning, berjarak 85 kilometer arah timur Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB.

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis.”

    Namun, proses beralihnya Desa tersebut menjadi sebuah Desa Wisata tidak mudah. Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip menceritakan bahwa dulu ada keraguan dari masyarakat untuk menerima sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan mereka.

    Baca juga : 

    “Kembang Kuning diawali masyarakat ragu menerima pariwisata karena negatif seperti narkoba dan minuman beralkohol dan lain sebagainya,” tutur Musanip dihadapan wartawan, Senin, (22/11/2021)

    Melanjutkan ceritanya, Musanip mengatakan bahwa 30 tahun yang lalu turis sudah lalu lalang di Desa Kembang Kuning, tetapi untuk menjadikan itu sebagai sebuah sumber penghasilan terjadi baru-baru ini.

    “(Dulu) kalau (Wisatawan) mengunjungi Tetebatu, kami (Desa Kembang Kuning) dilewati saja. Namun setelah 2014, peralihan metode online ke offiline kita mulai go digital mereka datang.” Ungkapnya.

    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip
    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip (Kiri). (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Market pasar Desa Kembang Kuning sendiri adalah wisatawan asal Eropa. Mulai dari 2014 itulah mereka mulai menawarkan produk destinasi atau paket wisata. Musanip menyebut, dengan Metode digital Desa Wisata Kembang Kuning bisa mengikuti ritme perkembangan jaman.

    “Barulah setelah memulai pemasaran secara online 2 sampai 3 bulan (kemudian) hampir setiap harinya ada tamu yang datang,” tegas Musanip.

    Adapun di Desa Kembang Kuning ini terdapat sebanyak 14 homestay dengan tarif bervariasi, yakni berkisar Rp150.000-Rp600.000 perhari.

    Desa Wisata Kembang Kuning

    Kedepannya, Musanip berharap Desa Kembang Kuning bisa menjadi desa terbersih dengan sistem yang memungkinkan produk-produk bisa terkelola dan terorganisir.

    Dia juga ingin, semua produk yang beredar di desa wisata ini memiliki akses satu pintu dan saling bekerjasama sehingga harganya bisa lebih murah. Selain itu, inovasi masalah pengelolaan sampah juga penting dan Desa Kembang Kuning perlu dikuatkan dengan masterplan.

    Baca juga : 

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis. Setiap gubuk dibangun dengan rapi dengan awik-awik. Perkembangan terlalu cepat, apalagi permasalahannya banyak orang luar punya banyak lahan disini,” tandas Musanip.

    NTB PROV

    Tak hanya menawarkan panorama sawah yang menawan di bawah perbukitan Gunung Rinjani, Desa Kembang Kuning juga menawarkan beraneka aktifitas sehari-hari warganya. Seperti proses pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan minyak kelapa.

    Selain itu, wisatawan juga dimanjakan dengan beraneka destinasi air terjun yang letaknya tak jauh dari Desa Kembang Kuning. Seperti Air terjun Ulem – ulem, Air terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. []

  • Mengenal Ombak Food, Salah Satu UKM di Desa Wisata Bonjeruk

    peloporberita.com/ – Lombok | Usaha Kecil Menengah (UKM) Ombak Food berdiri sejak 2017, yang berawal dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, Bonjeruk telah bertransformasi menjadi sebuah desa wisata yang unik dan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

    Pendiri Ombak Food Yosi Eka Kurniawati mengatakan bahwa usahanya berjalan dengan penuh perjuangan sejak awal berdiri pada 2017, karena setahun kemudian terjadi gempa bumi di Lombok. “2018 sudah mulai dikenal waktu itu, terus gempa, terus stop dulu, habis itu bangkit lagi pelan-pelan saya ikut kompetisi, dari situ mulai dikenal, mulai berkembang, terus pandemi lagi awal 2020,” ujarnya kepada wartawan di Desa Wisata Bonjeruk, Lombok, Senin (22/11/2021).

    Kemudian, Yosi mencoba inovasi produk saat pandemi dengan tujuan membuat orang penasaran, salah satunya adalah stik plecing kangkung. Ia pun memasarkannya lewat WhatsApp Group, serta media sosial Instagram @ombakfood dan Facebook Ombak Food. Strategi ini diakuinya berhasil membuat Ombak Food semakin dikenal, bahkan sampai di luar NTB, seperti Bali, Lampung dan Batam.

    Selain stik plecing kangkung, beberapa produk andalan Ombak Food adalah Jaje Ragi, Stik Daun Kelor, Stik Duri Ikan, Stik Buah Naga dan masih banyak lagi. Harga jualnya berkisar Rp 7.500 – Rp 30.000.

    Ombak Food juga ikut berpartisipasi dalam NTB Expo 2021 di ajang balap motor World Superbike (WSBK) 2021 yang berlangsung pada 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika. Yosi mengatakan, tidak ada satu pun produknya yang terjual pada hari pertama. “Terus saya coba untuk gimana caranya supaya ada daya tariknya pembeli mau datang. Akhirnya saya jual es, jual nasi, kopi untuk pelengkapnya. Karena setelah itu kan orang maunya nyemil gitu,” lanjutnya.

    Tidak hanya itu, ia juga memutuskan untuk berjualan lebih pagi, sehingga para panitia dan pekerja di WSBK bisa sarapan di stand Ombak Food sebelum acara dimulai. Strategi itu pun berhasil membuat stand Ombak Food semakin ramai dihari kedua dan ketiga WSBK. []

    Baca juga: Nikmatnya Nasi Ayam Merangkat, Kuliner Khas Desa Wisata Bonjeruk Lombok

  • Nikmatnya Nasi Ayam Merangkat, Kuliner Khas Desa Wisata Bonjeruk Lombok

    peloporberita.com/ – Lombok | Sektor pariwisata nasional perlahan mulai bangkit setelah mati suri akibat pandemi, termasuk di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain keindahan alam, kuliner tradisional juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan ke Lombok. Seperti halnya yang dilakukan Desa Wisata Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, yang menawarkan kuliner Nasi Ayam Merangkat.

    Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Bonjeruk Usman mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada wilayah lain yang memasarkan Nasi Ayam Merangkat. “Di Lombok baru hanya ada di dua tempat di Bonjeruk (yang memasarkan Nasi Ayam Merangkat),” ujarnya kepada awak media, Senin (22/11/2021).

    Usman menjelaskan, merangkat adalah upacara prosesi di malam hari untuk menyambut kedatangan calon pengantin wanita yang baru saja tiba setelah “dilarikan” oleh calon pengantin pria. Makanan ini khusus disajikan kepada pengantin. Sedangkan masyarakat yang hadir akan mendapat dalam bentuk porsi. Biasanya ada telur yang dipecahkan sebagai tanda makan merangkat sudah bisa dimulai.

    “Prinsip kami adalah kami ingin memperkenalkan kuliner khas Bonjeruk yang tidak hanya didapat pada saat upacara merangkat, tapi bisa didapat setiap harinya di Pasar Bambu Desa Wisata Bonjeruk,” kata Usman.

    Ia mengingatkan bahwa ayam yang dipakai dalam masakan ini harus ayam kampung dan berusia tiga bulan supaya tulangnya lunak. “Bumbunya yang membedakan dengan kuliner Lombok lainnya adalah semuanya serba mentah dan ada daun limau. Kemudian menggunakan minyak kelapa, bukan minyak goreng,” tambahnya.

    Selain itu, Usman juga mengatakan, Nasi Ayam Merangkat harus pedas, untuk mengantisipasi ketika ayamnya sedikit tapi masyarakatnya banyak yang datang. Bagi yang tidak kuat makan pedas, maka bisa dinetralisir dengan sayur bening kelor.

    Mengingat Bonjeruk adalah desa wisata, Usman mengatakan saat ini tim pengelola Pasar Bambu Bonjeruk mengkombinasikan Nasi Ayam Merangkat dengan makanan khas Lombok lainnya, seperti beberok dan dendeng. Pokdarwis Bonjeruk memasarkan paket Nasi Ayam Merangkat dengan harga Rp 130.000 yang bisa disantap untuk tiga orang. []

    Baca juga: Berkah World Superbike Sampai ke Desa Wisata Bon Jeruk