Tag: Demo

  • Ade Armando Jadi Korban Kekerasan Aksi Demo 11 April

    Jakarta | Ade Armando menjadi korban aksi kekerasan sekumpulan massa yang diduga bukan dari kelompok mahasiswa yang berdemo hari ini, Senin (11/04/2022). Seperti dilansir dari Antara, Ade Armando dianiaya hingga tersungkur ke aspal, bahkan celana panjangnya pun dilucuti.

    Dalam foto yang beredar di media sosial, terlihat wajah Ade Armando sudah babak belur. Ia juga terlihat memakai kaus hitam bertuliskan ‘Pergerakan Indonesia untuk Semua’. Ade Armando tampak sudah diamankan oleh sejumlah polisi.

    Sebelumnya juga beredar video dan terlihat Ade Armando cekcok dengan emak-emak pendemo. Dalam video itu, terdengar Ade diteriaki ‘buzzer’, munafik, pengkhianat, hingga penjilat.

    Ade Armando adalah pegiat media sosial dan akademikus Indonesia. Ia mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Ia juga dikenal sebagai pendukung Jokowi.

    Seperti diketahui, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) hari ini menggelar aksi 11 April di depan gedung DPR, yang awalnya direncanakan berlangsung di depan Istana. Ade Armando pun datang ke lokasi demo.

    Dalam aksi itu, para pendemo mengutarakan sejumlah tuntutan, antara lain menolak penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden, kenaikan harga bahan pokok dan Undang-Undang Cipta Kerja.[]

  • Jeritan Rakyat Kazakhstan Saat Demo: ‘Negara Seperti Perusahaan Swasta Milik Keluarga Nazarbayevs’

    peloporberita.com/ – Rakyat Kazakhstan yang berunjuk rasa pada tahun baru lalu berteriak: “Pak Tua, sudah lah!”. Rupanya teriakan ini, bukan ditujukan kepada Presiden Kassym-Jomart Tokayev. Tokoh berusia 68 tahun yang pada akhir pekan lalu memerintahkan tembak di tempat kepada para perusuh.

    Ternyata, teriakan tersebut di alamatkan kepada Nursultan Nazarbayev, pria berusia 81 tahun yang menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada Tokayev pada 2019 setelah lebih dari seperempat abad berkuasa.

    Demo BBM Ricuh, Presiden Kazakhstan Tetapkan Masa Darurat-Bubarkan Kabinet

    Sejak Kazakhstan jatuh ke dalam kekacauan pekan lalu atau saat rakyat menggeruduk kantor walikota Almaty, Nazarbayev belum kelihatan di muka umum. Pada saat pasukan keamanan bentrok dengan pengunjuk rasa dan polisi. Adapun aksi demonstrasi saat itu menolak kenaikan harga gas elpiji untuk bahan bakar mobil.

    Kini, bagi sebagian besar penduduk Almaty, kota terbesar di negara Muslim Asia Tengah kaya minyak yang dihuni 1,8 juta jiwa itu, Nazarbayev dianggap sebagai penghasut dan pemecah belah. Sebelumnya, ia memandang dirinya sebagai sosok pemersatu bangsa.

    “Kazakhstan sudah seperti menjadi perusahaan swasta milik keluarga Nazarbayevs!” seru Saule, warga Almaty berusia 58 tahun di lokasi kerusuhan seperti dikutip dari AFP.

    Militer Kazakhstan dan pasukan dari Organisasi Pakta Keamanan Kolektif (CSTO) yang dipimpin Rusia, telah mengamankan objek-objek vital sejak pecahnya kerusuhan. Sementara di kota lainnya, yakni Taldykorgan, para pengunjuk rasa menumbangkan patung Nazarbayev yang dulunya disebut sebagai bukti kemurkaan rakyat Kazakhstan. []

  • Polda Metro Jaya Bakal Buat Taman Demokrasi, Fungsinya?

    peloporberita.com/ –  Kapolda Metro Jaya, Irjen. Pol. Mohammad Fadil Imran, bakal membangun tempat yang dinamakan Taman Demokrasi. Fungsinya, untuk mengurangi aksi unjuk rasa dan memfasilitasi para demonstran.

    “Di tahun 2022, Polda Metro Jaya akan menghadirkan Taman Demokrasi. Ini semua untuk meningkatkan indeks demokrasi di ibu kota,” tutur Fadil Imran saat acara rilis akhir tahun Polda Metro Jaya, Kamis (30/12/2021).

    “Jadi, mereka yang ingin melakukan unjuk rasa perlu mendapatkan tempat dan ruang. Kami akan FGD (Forum Group Discussion) dan siapkan ruang,” sambungnya.

    Mantan Kapolda Jawa Timur itu, juga membeberkan bahwa pihaknya telah memilih sejumlah lokasi untuk dijadikan Taman Demokrasi. Fadil Imran berharap, melalui Taman Demokrasi, dapat tercipta kondisi yang aman untuk warga Jakarta.

    “Ada beberapa titik yang disepakati, mereka yang mau unjuk rasa ya silakan disana. Di masa pandemi ini, semoga tercipta Jakarta yang damai, adem, serta bisa saling menhargai kebebasan berpendapat,” tegasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Kapolda kemudian mengungkap terdapat 1.261 aksi demonstrasi yang terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Paling banyak terjadi pada bulan Maret 2021.

    “Isu yang turut menjadi sorotan ialah unjuk rasa, sebanyak 1.261 aksi terjadi di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Terendah di Juli, tertinggi di Maret. Karena Juli itu terjadi peningkatan Covid-19,” tandas Jenderal Bintang Dua tersebut. []

  • Polisi yang Banting Mahasiswa di Tangerang Akan Disanksi Tegas

    peloporberita.com/ | Aksi polisi banting mahasiswa saat mengamankan demo mahasiswa di Pemkab Tangerang, Banten, Rabu (13/10/2021) lalu, menuai berbagai kecaman dari masyarakat. Brigadir NP sebagai pelaku ‘smackdown‘ terhadap mahasiswa M. Faris Amrullah (21), kini diproses secara kode etik di Polda Banten. Pihak kepolisian memastikan Brigadir NP akan disanksi tegas.

    “Oknum Brigadir NP diinformasikan mulai kemarin malam sampai dengan hari ini masih menjalani rangkaian pemeriksaan oleh Bidpropam Polda Banten,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Wahyu Sri Bintoro dalam keterangannya, Kamis (14/10/2021).

    Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan juga menyatakan, aksi ‘smackdown‘ Brigadir NP sama sekali tidak sesuai dengan standard operating procedure (SOP) pengamanan unjuk rasa. Ia mengatakan hal itu dalam jumpa pers di gedung Bareskrim Polri, Kamis (14/10/2021).

    Baca juga: Keterangan Polisi Soal Penggerebekan Sindikat Pinjol yang Ancam Keselamatan Warga

    Sedangkan korban, M. Faris, saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit di bawah pengawasan kepolisian.

    Faris sudah dirontgen toraks di RS Harapan Mulya, Tangerang dan hasilnya menyatakan Faris tidak mengalami fraktur atau cedera serius akibat insiden tersebut. Kombes Wahyu mengaku sudah mendapatkan hasil rontgen sejak Rabu (13/10/2021). Ia juga mengatakan pihaknya bertanggung jawab atas kondisi kesehatan Faris pascakejadian tersebut dan kesehatan Faris akan dicek secara berkala.

    Faris sendiri mengaku kondisinya masih mengalami nyeri di beberapa bagian tubuhnya setelah dibanting polisi. “Masih nyeri, khususnya bagian pundak, leher, sama kepala,” kata Faris, seperti dikutip dari detikcom, Kamis (14/10/2021).

    Terlihat dari video yang viral di media sosial bahwa Faris sempat mengalami kejang-kejang hingga pingsan, setelah dibanting ala ‘smackdown‘ ke aspal oleh polisi, saat melakukan aksi demo di depan Pemkab Tangerang, Rabu (13/10/2021). []

  • Polisi: Ajakan Aksi Demo Jokowi End Game Hoaks

    peloporberita.com/ | Jakarta – Polisi menyebut seruan demo ‘Jokowi End Game’ hoax, dan akan mencari pelaku yang menyebarkannya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyampaikan bahwa tidak ada massa yang turun ke jalan berkaitan dengan seruan tersebut.

    “Sampai saat ini belum ada aksi sama sekali,” tutur Kombes Yusri di Jakarta, Sabtu, 24 Juli 2021.

    Sebelumnya di media sosial tersebar seruan demo ‘Jokowi End Game’. Seruan itu berupa poster yang berisikan pada hari ini akan dilakukan aksi long march dari Glodok ke Istana Merdeka.

    “Bisa dilakukan dengan audiensi atau dilakukan dalam bentuk FGD online.”

    Meski begitu, polisi sudah membuat penyekatan di Perempatan Ketapang untuk menutup akses ke Glodok, demi mengantisipasi demo ini. Sedangkan untuk pengendara yang ingin melintasi Jalan Gajah Mada dan Jalan Sukarjo Wiryopranoto ke arah Glodok terpaksa harus memutar balik kendaraannya.

    Raden Prabowo Argo Yuwono
    Kadiv Humas Polri, Irjen. Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono. (Foto:Pelopor.id/Polri)

    Polri, juga telah mengimbau masyarakat agar tidak terhasut dengan ajakan rencana aksi unjuk rasa melalui medsos itu. Mengingat, aksi tersebut berpotensi terjadi kerumunan dan akan menambah penularan Covid-19, melihat angka penularan covid-19 masih sangat tinggi.

    Sementara Kadiv Humas Polri, Irjen. Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangannya menyampaikan kepada masyarakat untuk melaksanakan penyampaian aspirasi secara daring.

    “Bisa dilakukan dengan audiensi atau dilakukan dalam bentuk FGD online,” tegas juru bicara Polri tersebut. []