peloporberita.com/ | Jakarta – Legenda Boogeyman diceritakan sejak beberapa abad yang lalu. Cerita Boogeyman, kerap dijadikan dongeng malam untuk menakuti anak-anak supaya mereka berkelakuan baik. Boogeyman, dikenal dengan nama yang berbeda-beda di tiap Wilayah, seperti El Coco, Krampus, Old Hag dan Baba Yaga.
Boogeyman atau Bogieman, merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris “bogge” yang berarti hobgoblin, sebuah legenda yang berasal dari Skotlandia. Boogeyman dilaporkan, sudah muncul sejak tahun 1500-an. Namun, konsepnya sudah ada jauh sebelum masa itu.
Boogeyman juga kerap dihubungkan dengan kata “bugbear” yang dulu digunakan untuk menggambarkan goblin atau orang-orangan sawah yang konon suka memburu dan memakan anak kecil.
Ilustrasi Boogeyman. (Foto:Pelopor.id/ iStock)
Konon hantu Boogeyman yang diceritakan di Amerika Serikat, sering hadir di tengah kegelapan, bersembunyi di lemari dan di bawah tempat tidur. Sedangkan di tempat lain seperti Eropa, Karibia, dan bagian dari India dan Asia, makhluk itu diyakini tidak hanya mengintai dan menakut-nakuti anak-anak, tetapi juga menculik dan membawa mereka dalam karung untuk dimakan bersama.
Di Washington D.C, Boogeyman pernah dikaitkan dengan seseorang bernama Albert Fishwho. Pria kelahiran tahun 1870 itu, disebut-sebut sebagai salah satu pembunuh paling mengerikan hingga kini.
Reputasi buruk Albert, ia dapatkan di usia 20 tahun lantaran menculik anak lelaki dan melecehkan mereka, termasuk memakannya. Kejahatannya terus berlanjut hingga pada 16 Januari 1936, pengadilan menjatuhkannya hukuman mati dengan kursi listrik.
Sejak itulah, Manifestasi fisik Boogeyman berakhir namun mitos dan legendanya tetap melekat hingga kini. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Idul Adha yang juga disebut Hari Raya Kurban, tidak terlepas dari kisah Nabi Ibrahim, seperti dikutip dari muslim.or.id.
Setelah melalui penantian sangat panjang, Nabi Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang anak, yang diberi nama Ismail, dan kemudian menjadi salah satu nabi bagi umat Islam. Pada 8 Zulhijjah, Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih anaknya, yang saat itu sudah beranjak remaja. Kemudian, Ibrahim merenungi makna mimpinya dan momen itu diabadikan sebagai hari Tarwiyah dalam Islam.
Akhirnya, Nabi Ibrahim sadar bahwa ia mendapatkan wahyu dari Allah, berupa perintah untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim pun mematuhi perintah tersebut, meski harus mengorbankan anak kandungnya yang sudah sangat lama ia nantikan. Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan wahyu tersebut, Nabi Ismail juga langsung mematuhi perintah itu. Ibrahim memutuskan akan menyembelih Ismail pada 10 Dzulhijjah.
Sesaat sebelum penyembelihan, setan muncul dengan bisikan sesatnya, agar Nabi Ibrahim mengurungkan niatnya tersebut. Namun karena iman dan tekad Nabi Ibrahim sudah sangat bulat, maka ia mengambil batu dan melemparkannya kepada setan. Peristiwa itu hingga kini diabadikan dengan istilah ‘lempar jumrah’, dan menjadi salah satu rangkaian saat melakukan ibadah Umrah.
Setelah Ibrahim berhasil mengusir setan, mereka berdua menuju sebuah tanah lapang dengan pedang yang sudah diasah dengan sangat tajam agar Nabi Ismail tidak merasa kesakitan saat disembelih. Lalu, Nabi Ibrahim mengikat kedua kaki dan tangan Ismail. Anehnya, pedang itu selalu terpental, hingga Nabi Ismail meminta agar talinya dilepaskan sebagai tanda kepasrahan atas perintah Allah.
Melihat ketakwaan mereka, Allah kemudian mengganti Nabi Ismail dengan kambing. Itulah asal-muasal sunah kurban yang dilaksanakan umat Islam setiap Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Idul Adha juga disebut sebagai Lebaran Haji, karena sejak 9 Dzulhijah, umat Islam yang menunaikan ibadah Haji sedang melaksanakan ritual haji yang paling utama, yaitu wukuf di Padang Arafah.
Wukuf adalah ritual haji yang mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan aktivitasnya sejenak agar dapat merenungkan diri, seperti yang dilakukan Ibrahim setelah menerima perintah dari Allah untuk mengorbankan anaknya. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunnahkan untuk melakukan ibadah puasa Arafah ditanggal yang sama, 9 Dzulhijah. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Kisah hantu Kuchisake-onna merupakan urban legend asal Jepang. Hantu ini diceritakan berwujud seorang wanita yang bermulut robek. Konon, Wanita ini menutupi mulutnya dengan masker operasi dan sering muncul di jalan-jalan yang sepi.
Onna meneror mangsanya dengan bertanya kepada orang yang ditemui apakah dirinya cantik? Bila orang itu menjawab tidak atau ketakutan melihat wujud seramnya maka ia akan membunuhnya. Bahkan beberapa sekolah pada akhir tahun 1970-an, menyarankan agar murid-muridnya pulang secara berkelompok atau ditemani guru agar selamat dari keganasan hantu ini.
Menurut cerita masyarakat, sebelum meninggal, Onna adalah seorang wanita muda cantik yang hidup pada zaman Heian (sekitar 1185 M). Kemungkinan Onna adalah seorang istri atau selir samurai pada zaman itu. Namun kecantikan membuat Kuchisake-onna sombong serta sering berselingkuh di belakang suaminya.
Ilustrasi hantu Kuchisake-onna atau hantu mulut sobek asal Jepang. (sumber: Pelopor/Darktale)
Mengetaui sang istri berkhianat, sang suami sangat marah dan merasa sakit hati. Kemudian ia menyerang Onna dan membelah mulutnya dari kuping ke kuping. Setelah merobek mulut istrinya, sang suami berkata “Sekarang siapa yang akan berkata kamu cantik?”. Nah, setelah meninggal, Onna dikisahkan menjadi hantu si mulut sobek dari Jepang.
Dalam versi lainnya, Kuchisake-onna diceritakan sebagai seorang wanita korban gagal operasi. Konon saat operasi wajah, sang dokter memakai minyak rambut dengan bau yang menusuk. bau itu, sangat mengganggu Onna dan membuatnya tidak bisa tenang. Sehingga sang dokter secara tidak sengaja memotong mulutnya hingga robek.
Karena kesakitan, Onna menyerang balik dokter tersebut hingga tewas. Atas peristiwa tersebut, Onna menjadi buronan masyarakat sekitar dan dibunuh oleh para penduduk kota sehingga menjadi hantu penasaran.
Kuchisake-onna bergentayangan di kota pada malam hari, terutama ketika sedang berkabut. Bila bertemu seseorang di jalan yang sepi, ia akan bertanya, Apakah saya cantik? Bila dijawab “ya”, ia akan membuka maskernya dan bertanya lagi, Bahkan bila seperti ini? Pada saat itu, bila si korban menjawab tidak, maka ia akan dibunuh tanpa ampun dengan senjata tajam.
Bila si korban tetap menjawab ya, Onna akan gembira dan membebaskannya, namun ada juga yang mengatakan meski korban tetap mengatakan ya, Onna akan mengikuti sampai ke rumah dan membunuh korbannya tepat di depan pintu rumah si korban.
Bila korbannya wanita, Onna akan merobek mulut korbannya hingga serupa dengannya. tetapi bila korbannya anak-anak, ia akan memakannya.[]
peloporberita.com/ | Dr. H. Wahidin Halim adalah seorang pengusaha Indonesia dan politikus Partai Demokrat yang menjabat sebagai Gubernur Banten sejak 12 Mei 2017.
Ia lahir pada 14 Agustus 1954, di Pinang, Tangerang, Banten. Ia adalah putra ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Djiran Bahruji dan Siti Rohana. Ayahnya berprofesi sebagai guru SD di Poris Plawad, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga.
Wahidin menikah dengan Hj. Niniek Nur’aini dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Luky Winiastri, Nesya Sabrina dan M. Fadhlin Akbar.
Wahidin kecil memulai pendidikan di SD Negeri Pinang Tangerang dan lulus pada tahun 1966. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Persiapan Negeri Ciledug (SMP 3) Tangerang dan SMA Pribadi Tangerang (SMA 1) Tangerang.
Semasa mudanya, Wahidin setiap hari berjalan kaki saat SD dan SMP, serta bersepeda saat SMA, dengan jarak sekitar 9 Kilometer sekali tempuh. Bakat dan aktivitas sosialnya juga sudah terlihat sejak kecil. Ia pernah menjadi juara pidato tingkat anak-anak di desanya, dan ini menjadi awal kehadirannya di tengah masyarakat.
Setelah lulus SMA pada tahun 1972, Wahidin berhasil masuk ke universitas terbaik di negeri ini, yaitu Universitas Indonesia mengambil jurusan FISIP Administrasi Negara dan lulus pada tahun 1982.
Kemudian ia melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Padjadjaran – Institut Ilmu Pemerintahan Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan, dan Universitas Satyagama – Program Pasca Sarjana Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan yang lulus pada 2009.
Tidak berhenti sampai disitu, Wahidin kembali melanjutkan pendidikannya di Universitas Padjadjaran Program Doktoral Program Studi Ilmu Pemerintahan (S3) dan lulus pada tahun 2011.
Ia juga pernah menerima berbagai penghargaan, seperti Piala Citra Bhakti Abdi Negara dari presiden SBY untuk pelayanan publik terbaik Tingkat Nasional tahun 2006, Lencana Dharma Bhakti bidang Kepramukaan Tingkat Nasional dari Presiden SBY tahun 2006, Men’s Obsession Award dari majalah bisnis untuk bidang pemerintahan dan pelayanan publik Tingkat Nasional tahun 2006 dan Pelayanan Publik terbaik kantor KPMP Tingkat Nasional tahun 2003-2004. []
Pengalaman Kerja
Kepala Desa Pinang Kabupaten Tangerang Tahun 1978
Lurah Pinang Kotif Tangerang Tahun 1981
Kasubdin Pajak Kotif Tangerang Tahun 1988
Sekretaris Kotif Tangerang Tahun 1988
Kabag. Pembangunan Kotif Tangerang Tahun 1991
Camat Tigaraksa Kabupaten Tangerang Tahun 1993
Camat Ciputat Kabupaten Tangerang Tahun 1995
Kepala Dinas Kebersihan Kabupaten Tangerang Tahun 1997
Asisten Tata Praja Kabupaten Tangerang Tahun 1998
Sekretaris Daerah Kota Tangerang Tahun 2003
Walikota Tangerang Tahun 2003 – 2008
Walikota Tangerang Tahun 2008 – 2013
Anggota DPR/ MPR RI/ Wakil ketua Komisi II Tahun 2014 – 2019
Pengalaman Organisasi
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Tahun 1974
Ketua Asrama Daksinapati UI Tahun 1975
Ketua Yayasan Kemanusiaan Nurani Kami Tahun 1977
Ketua KNPI Tangerang Tahun 1983
Ketua AMPI Tangerang Tahun 1986
Ketua IPSI Tangerang Tahun 1998
Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Wilayah III Tahun 2005
Ketua Umum PERSIKOTA Tahun 2007
Penasehat Majelis Nasional KAHMI Tahun 2008
Mustasyar NU Kota Tangerang Tahun 2002
Prestasi dan Penghargaan
Piala Citra Bhakti Abdi Negara dari presiden SBY untuk pelayanan publik terbaik Tingkat Nasional tahun 2006
Lencana Dharma Bhakti bidang Kepramukaan Tingkat Nasional dari Presiden SBY tahun 2006
Men’s Obsession Award dari majalah bisnis untuk bidang pemerintahan dan pelayanan publik Tingkat Nasional tahun 2006
Pelayanan Publik terbaik kantor KPMP Tingkat Nasional tahun 2003-2004
Upakarti Madya I Tingkat Nasional dari Wapres tahun 2011
Penghargaan Kinerja Otonomi Daerah Terbaik Tingkat Nasional 2012
Innovative Government AwardTingkat Nasional 2012
Chitra Pelayanan Prima Kesehatan Tingkat Nasional (Puskesmas Sukasari)
Pelayanan Kesehatan Tingkat Provinsi Provinsi
Ksatria Bhakti Husada Kartika Tingkat Nasional 2010
Kota Sehat Swasti Saba Padapa Tingkat Nasional 2011
Kepala Daerah yang menerima Penghargaan Pengelolaan Keuangan Terbaik Se-Indonesia dengan Predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama 7 kali berturut-turut sejak tahun 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013. Dan ditetapkan sebagai satu-satunya Pemerintahan Daerah yang memiliki prestasi tersebut.
Pengelolaan Perumahan terbaik Tingkat Nasional tahun 2007-2008
Pengelolaan Website Pemda terbaik Tingkat Nasional tahun 2008 versi majalah Warta Ekonomi
Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) terbaik se-indonesia dalam kategori jumlah paket dan pagu anggaran terbesar periode Januari s.d April 2011
penghargaan Information and Communication Technology(ICT) Tingkat Nasional tahun 2011 dari menteri Kominfo RI, sebagai Pemerintah daerah yang memiliki komitmen dalam membangun sistem Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Penghargaan E-Procurement AwardTingkat Nasional tahun 2012 Kategori User Support performance.
Lencana Bhakti bidang Pendidikan Tingkat Nasional dari presiden SBY tahun 2007 atas usaha Pemkot dalam meningkatkan pendidikan di Kota Tangerang dengan anggaran APBD mencapai 48 % diatas rata-rata nasional yang hanya 20%.
Kelulusan Terbaik se-Banten Empat tahun berturut-turut dengan index kelulusan mencapai 99 %
Rangking ke-3 Kelulusan UN SMA/SMK/MA tingkat Nasional Tahun 2010
Piagam Langit Biru Kota, adipura tahun 2008 atas upaya Pemkot meningkatkan kualitas udara Tingkat Nasional 2008-2009
Best Effort untuk Program Adipura 2008-2009
Piala Adipura untuk kategori kota metropolitan Tingkat Nasional tahun 2010
Penghargaan Kota Terbersih urutan ke 3 untuk kategori kota metropolitan Tingkat Nasional tahun 2011
Penghargaan Sarana Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) dari Kementrian Lingkungan Hidup, atas eksistensi dan konsistensi dalam pengelolaan lingkungan hidup di kota metropolitan Tingkat Nasional tahun 2011
Penghargaan Adiwiyata diraih SMPN 13, untuk Sekolah berbudaya lingkungan terbaik se-Indonesia tahun 2011
Piala Adipura untuk kategori Kota Metropolitan terbersih Se-Indonesia tahun 2012
Piala Adipura untuk kategori Kota Metropolitan terbersih Se-Indonesia tahun 2013
Penghargaan Amal Bhakti dari Kementerian Agama RI Atas Kepedulian Pemkot Tangerang Terhadap Perkembangan Pendidikan Agama di Daerahnya, tahun 2009
Penghargaan Bidang Ekonomi Kreatif Penghargaan Baksyacaraka Tingkat Nasional tahun 2012
Tokoh revolusi Kuba, Che Ernesto Guevara, lahir pada 14 Juni 1928 di Rosario, Santa Fe, Argentina. Dia adalah anak tertua dari lima bersaudara. Di usia muda, dia diperkenalkan dengan banyak perspektif politik kiri, sehingga meninggalkan pengaruh yang dalam bagi dirinya. Sejak muda, ia telah membaca karya-karya berbagai revolusioner dan pemimpin politik dunia, seperti Karl Marx, William Faulkner, Emilio Salgari, dan Albert Camus.
Che Guevara merupakan aktivis politik legendaris, yang mengabdikan hidupnya untuk meruntuhkan imperialisme dan mendirikan sosialisme. Perlawanan tanpa henti menjadikannya simbol pemberontakan dan revolusi. Sepanjang hidupnya, Guevara bekerja di berbagai bidang, mulai dari dokter, penulis, pemimpin gerilya, diplomat, dan ahli teori militer.
Guevara memulai petualangannya menjelajahi dunia dengan menyusuri Amerika Latin menggunakan sepeda motornya pada tahun 1950. Selama di perjalanan, dia dibuat bingung oleh eksploitasi yang kejam terhadap orang miskin.
Tapi, di saat yang sama, dia juga kagum pada keramahan yang masih ditunjukkan oleh orang-orang yang “putus asa” dalam kemiskinan, sehingga menumbuhkan tekad pembebasannya. Ia melihat Amerika Latin sebagai persatuan Hispanik Amerika, dengan kesamaan entitas kebudayaan dan ekonomi, yang membutuhkan strategi pembebasan untuk mengakhiri penderitaan.
Setelah menyelesaikan studi pada Juni 1953, Guevara segera melanjutkan petualangannya dan pergi ke Guatemala. Di sana, ia bertemu Jacobo Arbenz yang baru terpilih sebagai presiden secara demokratis dua tahun sebelumnya. Guevara melihat Arbenz melakukan revolusi dengan menggagas reformasi agraria, dan memutus sistem latifundia yang menekankan kepemilikan tunggal lahan tanah yang luas.
United Fruit Company, perusahaan buah milik Amerika di Guatemala, terkena dampak kebijakan Presiden Arbenz. Hingga akhirnya, kudeta atas Arbenz terjadi pada 1954 oleh sayap kanan Armas, dengan dukungan CIA.
Kejadian ini menjadi titik balik bagaimana Guevara melihat Amerika tidak menyukai model pemerintahan yang berhaluan kiri dan progresif, yang sedang berjuang memperbaiki ketimpangan sosial ekonomi di Amerika Latin. Sejak itu, ia melihat sosialisme harus diwujudkan lewat revolusi bersenjata, untuk mengusir para imperialis.
Lalu Guevara meninggalkan Guatemala, dan bertolak ke Meksiko. Di sana, ia bertemu Fidel dan Raul Castro, kakak beradik tahanan politik yang sedang mempersiapkan penggulingan diktator Fulgencio Batista di Kuba. Guevara kemudian bergabung dalam Gerakan 26 Juli, yang memulai serangan ke Kuba melawan tentara Batista. Memulai kerja revolusionernya dengan menjadi dokter medis bagi para gerilyawan, Guevara akhirnya ikut mengangkat senjata.
Tembok bergambar Che Guevara. (Foto: Pelopor/freeimages.com)
Pada 1959, Che Guevara bersama duo Castro, Raul dan Fidel, berhasil memenangkan Revolusi Kuba, dengan menumbangkan rezim Batista. Atas keberhasilan itu, Che diangkat menjadi menteri untuk menjalankan roda-roda hasil revolusinya, dan Fidel Castro ditunjuk sebagai presiden. Semasa itu, ia berkeliling dunia sebagai duta Kuba mengunjungi negara-negara dunia ketiga, termasuk ke Indonesia menemui Soekarno.
Guevara kemudian meletakkan segala jabatannya di Kuba pada 1965, untuk masuk ke negara-negara berkembang dan menyebarkan revolusi. Salah satunya adalah Kongo, ia melatih pasukan pemberontak agar bisa berperang gerilya, tapi mengalami kegagalan karena terpecahnya perjuangan dan faktor-faktor lain.
Karena telah berpamitan dengan Kuba, ia enggan kembali dan akhirnya memilih tinggal di Praha selama enam bulan. Namun, pada 1966, Guevara diam-diam kembali lagi ke Kuba, dan melanjutkan perjalanan ke Bolivia, memimpin pasukan memberontak terhadap pemerintahan René Barrientos Ortuno.
National Security Archive melaporkan, Félix Rodríguez, seorang eksil Kuba dari rezim Batista, menjadi bagian dari divisi kegiatan khusus CIA, yang punya andil dalam penangkapan Che Guevara.
Pada 8 Oktober 1967, pasukan Bolivia menyerbu dengan kekuatan Seribu 800 tentara. Pertempuran itu membuat Guevara terluka dan menjadi tawanan. Rodríguez sebenarnya tidak menginginkan Guevara mati, karena perintah CIA adalah menangkapnya hidup-hidup. Namun perintah eksekusi mati datang dari Presiden Bolivia, agar Guevara tidak melarikan diri dari penjara, dan mencegah publik Bolivia menjadi simpatisan Guevara jika ia menjalani serangkaian sidang di pengadilan terbuka.
Seorang sersan tentara Bolivia, Mario Teran, secara pribadi meminta agar dirinya yang menembak Guevara, karena ketiga rekannya tewas dalam baku tembak dengan gerilyawan Guevara. Namun Rodríguez berpesan untuk tidak menembaknya di kepala, agar terlihat Guevara tewas dalam sebuah pertempuran. Pada 9 Oktober 1967, Che Guevara dieksekusi mati di sebuah desa di Bolivia. []
peloporberita.com/ | Jakarta – Ba Chuan atau biasa disebut Peh Cun adalah salah satu tradisi etnis Tionghoa, yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 kalender Lunar. Tradisi ini juga biasa disebut dengan hari Bacang atau Bakcang, yang biasanya dirayakan dengan festival makan bakcang dan balap perahu naga. Tahun ini, hari Bakcang jatuh pada tanggal 14 Juni 2021.
Tidak hanya etnis Tionghoa yang merayakan hari bacang, Google pun turut memeriahkannya. Coba Anda ketik ‘peh cun’ di kolom pencarian Google, lalu akan muncul gambar pernak-pernik bacang dan naga dengan warna yang cerah dan meriah.
Ilustrasi Bacang. (Foto:Pelopor/Bumbu Ibunda)
Di belahan dunia bagian barat, festival hari bacang juga dikenal sebagai Festival Perahu Naga atau Festival Dumpling. Ada juga yang menyebut Double Kelima Festival karena diadakan pada hari 5 dan bulan 5 kalender lunar. Selain itu, hari Bacang juga dikenal dengan sebutan Festival Extreme Yang, karena berdasarkan metafisika China, hari Bacang adalah hari ketika energi yang keluar adalah energi terkuat. Lantas, bagaimana sejarah hari Bacang? Ada beberapa kisah di balik hari Bacang.
Hari Bacang dilatarbelakangi dengan sejarah tokoh bernama Qu Yuan, sarjana patriotik dan menteri di negara Chu, yang pandai bekerjasama secara diplomatik dengan kerajaan lain demi melawan agresi negara Qin. Hal ini membuat dirinya disukai oleh banyak kalangan.
Suatu hari, ia difitnah telah melakukan korupsi dan dibuang ke pengasingan pada tahun 278 SM. Saat diasingkan, ia mendengar bahwa pasukan Qin menyerbu Ying, ibukota negara Chu. Ia kemudian menulis puisi untuk Ying, lalu menenggelamkan diri di Sungai Miluo.
Ritual bunuh diri itu dilakukan untuk memprotes korupsi yang menyebabkan jatuhnya negara Chu. Banyak penduduk desa yang pergi mencari tubuhnya di sungai menggunakan perahu, sambil menggebuh drum untuk menakuti ikan dan roh jahat agar tubuh Qu Yuan tidak diganggu.
Mereka juga melempar bungkus beras ke dalam sungai, sebagai persembahan untuk roh Qu Yuan. Inilah awal mula munculnya tradisi makan kue beras dan balap perahu naga muncul. Bacang melambangkan nasi atau beras bungkus yang dilempar ke sungai. Bacang dibungkus dengan daun membentuk runcing seperti tanduk sapi, di mana keempat sisinya melambangkan arti dan harapan baik.
Kisah lainnya adalah Qu Yuan atau Kut Goan, nama yang dikenal oleh peranakan keturunan Hokkian di Indonesia, adalah penasihat kaisar kerajaan Chu. Ia menasihati raja Chu agar bergabung dengan 5 kerajaan lain untuk menghadapi kerajaan Qin. Namun, raja tidak menuruti nasihat Qu Yuan, bahkan menyingkirkan penasihatnya itu.
Selama pengasingannya, Qu Yuan sangat sedih hingga berakhir bunuh diri di sungai Miluo pada bulan 5 tanggal 5. Kemudian, penduduk yang bersimpati kepada Qu Yuan beramai-ramai mencari jenazahnya di sungai dengan menggunakan banyak perahu, tetapi tidak menemukannya.
Karena khawatir jasad Qu Yuan dimakan ikan, udang, dan hewan lainnya, maka mereka memberi makan hewan air tersebut dengan bacang. Versi cerita lain mengatakan bahwa bacang yang dibungkus dengan daun bambu yang berbulu halus dan memiliki sudut-sudut lancip untuk mencegah hewan air memakan bacang yang akan diberikan kepada Qu Yuan. []
Jakarta – Kisah Hantu La Sayona, merupakan urban legend asal Venezuela. La Sayonasering dijuluki sebagai hantu pembantai para pria hidung belang lantaran hantu wanita ini, dikisahkan muncul hanya untuk menggoda pria yang memiliki hubungan cinta di luar pernikahan mereka lalu menghabisinya.
Nama “Sayona” sendiri diambil dari kain yang dipakai sang hantu. Modelnya seperti gaun putih panjang mirip dengan pakaian abad pertengahan.
Urban legend La Sayona, dimulai pada abad ke-19 dari sebuah desa yang dihuni oleh seorang wanita petani muda paling cantik di desa tersebut bernama Casilda seperti dikutip peloporberita.com/ dari berbagai sumber. Kecantikan Casilda, menjadi dambaan setiap lelaki yang ada di wilayah tersebut saat itu.
Hantu La Sayona, sering diceritakan menyamar sebagai wanita, lalu merayu pria-pria tukang selingkuh hingga mereka tergoda.
Sebagai seorang wanita cantik, hidup Casilda pun bisa dikatakan bahagia. Ia memiliki suami yang hebat dan seorang bayi laki-laki. Casilda biasa mandi dan berenang di sungai tepatnya di sebuah hutan dekat tempat tinggalnya tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Suatu hari, ada seorang warga desa yang diam-diam suka kepada Casilda mengikutinya ke hutan tempat dia biasa mandi dan melihatnya berenang sambil telanjang. Sejak saat itu, pria tersebut suka mengintip Casilda yang sedang mandi. Saat terpergok, lelaki itu malah mengelak dan memberikan informasi palsu kepada Casilda bahwa suaminya telah berselingkuh dengan ibu kandungnya sendiri.
Mendengar kabar tersebut, Casilda kembali kerumah dan mendapati suaminya sedang tidur bersama anaknya. Tetapi, karena terbakar api amarah, Casilda langsung membakar rumahnya. Menyadari ada kebakaran, penduduk desa beramai-ramai menghampiri rumah tersebut dan berusaha memadamkan api diiringi suara jeritan suami dan anak Casilda yang masih berada didalam rumah.
Ilustrasi hantu La Sayona. (Foto:Sintetizador)
Setelah membakar anak dan suaminya hidup-hidup, Casilda mendatangi rumah ibunya. Setibanya di sana, dia mendapati ibunya sedang berada di teras rumah dan Casilda langsung menyerang Ibunya dengan parang. Ia, juga menusuk perut perempuan yang melahirkannya itu dengan pisau hingga tewas.
Sebelum kematiannya, ibu Casilda mengutuknya dengan mengatakan bahwa setelah ajalnya tiba, dia harus membalaskan dendam semua wanita dengan membunuh suami mereka yang tidak setia. Kutukan sang Ibu, lantas membuat Casilda bergentayangan setelah kematiannya untuk membunuh para pria hidung belang yang suka berselingkuh dan dijuluki La Sayona alias Sang Algojo dari Venezuela.
Hantu La Sayona, sering diceritakan menyamar sebagai wanita, lalu merayu pria-pria tukang selingkuh hingga mereka tergoda.Setelah pria hidung belang itu tergoda, La Sayona lantas berubah menjadi wujud aslinya, lalu seketika mencabik–cabik dan membunuh pria hidung belang itu. Kabarnya, La Sayona telah memutilasi banyak pria di Venezuela.
Dalam kisah lain versi tersebut diceritakan bahwa La Sayona kerap muncul di hadapan para pria yang bekerja di hutan. Dia memanipulasi korbannya dengan menampilkan diri sebagai wanita cantik, atau orang yang dicintai. La Sayona lalu memikatnya kemudian membawanya ke dalam hutan untuk bisa menghabisi pria tersebut dan setelah itu meninggalkan tubuh mereka untuk ditemukan oleh orang lain. ***