Tag: Bonjeruk

  • Transformasi Desa Kembang Kuning Lombok Jadi Desa Wisata Kelas Dunia

    peloporberita.com/ | Lombok – Desa Kembang Kuning terletak di wilayah Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahun 2017 lalu, Desa Wisata ini dikukuhkan sebagai Desa Wisata Terbaik menurut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Republik Indonesia.

    Desa yang terletak di lereng Gunung Rinjani itu memiliki beragam potensi atraksi seni dan budaya, kearifan lokal, serta keramah-tamahan masyarakat. Desa Desa Kembang Kuning, berjarak 85 kilometer arah timur Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB.

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis.”

    Namun, proses beralihnya Desa tersebut menjadi sebuah Desa Wisata tidak mudah. Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip menceritakan bahwa dulu ada keraguan dari masyarakat untuk menerima sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan mereka.

    Baca juga : 

    “Kembang Kuning diawali masyarakat ragu menerima pariwisata karena negatif seperti narkoba dan minuman beralkohol dan lain sebagainya,” tutur Musanip dihadapan wartawan, Senin, (22/11/2021)

    Melanjutkan ceritanya, Musanip mengatakan bahwa 30 tahun yang lalu turis sudah lalu lalang di Desa Kembang Kuning, tetapi untuk menjadikan itu sebagai sebuah sumber penghasilan terjadi baru-baru ini.

    “(Dulu) kalau (Wisatawan) mengunjungi Tetebatu, kami (Desa Kembang Kuning) dilewati saja. Namun setelah 2014, peralihan metode online ke offiline kita mulai go digital mereka datang.” Ungkapnya.

    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip
    Ketua Pokdarwis Desa kembang kuning, Musanip (Kiri). (Foto:Pelopor.id/Tantri Lestari)

    Market pasar Desa Kembang Kuning sendiri adalah wisatawan asal Eropa. Mulai dari 2014 itulah mereka mulai menawarkan produk destinasi atau paket wisata. Musanip menyebut, dengan Metode digital Desa Wisata Kembang Kuning bisa mengikuti ritme perkembangan jaman.

    “Barulah setelah memulai pemasaran secara online 2 sampai 3 bulan (kemudian) hampir setiap harinya ada tamu yang datang,” tegas Musanip.

    Adapun di Desa Kembang Kuning ini terdapat sebanyak 14 homestay dengan tarif bervariasi, yakni berkisar Rp150.000-Rp600.000 perhari.

    Desa Wisata Kembang Kuning

    Kedepannya, Musanip berharap Desa Kembang Kuning bisa menjadi desa terbersih dengan sistem yang memungkinkan produk-produk bisa terkelola dan terorganisir.

    Dia juga ingin, semua produk yang beredar di desa wisata ini memiliki akses satu pintu dan saling bekerjasama sehingga harganya bisa lebih murah. Selain itu, inovasi masalah pengelolaan sampah juga penting dan Desa Kembang Kuning perlu dikuatkan dengan masterplan.

    Baca juga : 

    “Desa kami kecil sehingga kalau area hijau terus dibangun maka akan habis. Setiap gubuk dibangun dengan rapi dengan awik-awik. Perkembangan terlalu cepat, apalagi permasalahannya banyak orang luar punya banyak lahan disini,” tandas Musanip.

    NTB PROV

    Tak hanya menawarkan panorama sawah yang menawan di bawah perbukitan Gunung Rinjani, Desa Kembang Kuning juga menawarkan beraneka aktifitas sehari-hari warganya. Seperti proses pembuatan kopi secara tradisional dan pembuatan minyak kelapa.

    Selain itu, wisatawan juga dimanjakan dengan beraneka destinasi air terjun yang letaknya tak jauh dari Desa Kembang Kuning. Seperti Air terjun Ulem – ulem, Air terjun Burung Walet, Air Terjun Kokok Duren, Air Terjun Seme Deye dan Air terjun Jeruk Manis. []

  • Mengenal Ombak Food, Salah Satu UKM di Desa Wisata Bonjeruk

    peloporberita.com/ – Lombok | Usaha Kecil Menengah (UKM) Ombak Food berdiri sejak 2017, yang berawal dari program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat ini, Bonjeruk telah bertransformasi menjadi sebuah desa wisata yang unik dan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.

    Pendiri Ombak Food Yosi Eka Kurniawati mengatakan bahwa usahanya berjalan dengan penuh perjuangan sejak awal berdiri pada 2017, karena setahun kemudian terjadi gempa bumi di Lombok. “2018 sudah mulai dikenal waktu itu, terus gempa, terus stop dulu, habis itu bangkit lagi pelan-pelan saya ikut kompetisi, dari situ mulai dikenal, mulai berkembang, terus pandemi lagi awal 2020,” ujarnya kepada wartawan di Desa Wisata Bonjeruk, Lombok, Senin (22/11/2021).

    Kemudian, Yosi mencoba inovasi produk saat pandemi dengan tujuan membuat orang penasaran, salah satunya adalah stik plecing kangkung. Ia pun memasarkannya lewat WhatsApp Group, serta media sosial Instagram @ombakfood dan Facebook Ombak Food. Strategi ini diakuinya berhasil membuat Ombak Food semakin dikenal, bahkan sampai di luar NTB, seperti Bali, Lampung dan Batam.

    Selain stik plecing kangkung, beberapa produk andalan Ombak Food adalah Jaje Ragi, Stik Daun Kelor, Stik Duri Ikan, Stik Buah Naga dan masih banyak lagi. Harga jualnya berkisar Rp 7.500 – Rp 30.000.

    Ombak Food juga ikut berpartisipasi dalam NTB Expo 2021 di ajang balap motor World Superbike (WSBK) 2021 yang berlangsung pada 19-21 November 2021 di Sirkuit Mandalika. Yosi mengatakan, tidak ada satu pun produknya yang terjual pada hari pertama. “Terus saya coba untuk gimana caranya supaya ada daya tariknya pembeli mau datang. Akhirnya saya jual es, jual nasi, kopi untuk pelengkapnya. Karena setelah itu kan orang maunya nyemil gitu,” lanjutnya.

    Tidak hanya itu, ia juga memutuskan untuk berjualan lebih pagi, sehingga para panitia dan pekerja di WSBK bisa sarapan di stand Ombak Food sebelum acara dimulai. Strategi itu pun berhasil membuat stand Ombak Food semakin ramai dihari kedua dan ketiga WSBK. []

    Baca juga: Nikmatnya Nasi Ayam Merangkat, Kuliner Khas Desa Wisata Bonjeruk Lombok