Tag: Alibaba

  • China Denda Perusahaan Teknologi Hingga Miliaran Rupiah

    peloporberita.com/ | Pemerintahan Xi Jinping menjatuhkan denda terhadap sejumlah perusahaan teknologi di negaranya, termasuk Alibaba dan Tencent. Seperti diketahui, belakangan ini China memang sedang memperketat pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan raksasa di negaranya.

    Berdasarkan laporan dari CNN, disebutkan bahwa Alibaba, Tencent, Baidu dan sejumlah perusahaan lain didenda oleh otoritas China selama akhir pekan akibat dianggap melanggar undang-undang antitrust.

    Baca juga: Festival Belanja Online 11.11 di China Picu Praktik Dagang Tak Sehat

    Kali ini, Administrasi Regulasi Pasar (SAMR) selaku pihak otoritas China mendaftarkan setidaknya 43 pelanggaran terpisah, dengan sejumlah pelanggaran berasal dari tahun-tahun sebelumnya. Perusahaan yang terlibat dalam pelanggaran itu akan didenda sebesar 500.000 yuan atau USD 78.000 atau sekitar Rp 1,1 miliar (kurs Rp 14.200).

    “Kasus-kasus yang diumumkan kali ini adalah semua transaksi yang seharusnya dinyatakan, tetapi tidak dinyatakan di masa lalu,” ujar SAMR dalam pernyataannya.

    Baca juga: TikTok Tegaskan Tidak Beri Data Pengguna AS ke Pemerintah China

    Setelah kabar ini diberitakan, saham Alibaba, Tencent (Tcehy), Baidu (Bidu) dan sejumlah perusahaan lainnya mengalami penurunan di bursa efek Hong Kong. Saham Baidu jatuh paling rendah hingga turun 2,1%, sedangkan saham Tencent merosot 0,3%, dan saham Alibaba turun 1,6%. []

    Baca juga: China Kalahkan AS Sebagai Negara Terkaya di Dunia

  • Festival Belanja Online 11.11 di China Picu Praktik Dagang Tak Sehat

    peloporberita.com/ | Tren hari belanja online nasional (harbolnas) pada 11 November (11.11) tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara lain, salah satunya China.

    Harbolnas pertama kali dipopulerkan oleh perusahaan e-commerce Alibaba Group di China pada tahun 2009, yaitu mengajak pengguna internet belanja secara online dengan diskon besar-besaran selama sehari. Sejak itu, tanggal cantik pun menjadi festival penjualan online terbesar di dunia, mengalahkan Cyber Monday di Amerika Serikat.

    Festival harbolnas ini pun disebut mampu mendatangkan omzet hingga 540,3 miliar yuan selama harbolnas berlangsung di Negeri Tirai Bambu.

    Meski demikian, koran pemerintah China, Securities Daily, mengecam praktik harbolnas yang dianggap seperti “penyembahan terhadap omzet”.

    Baca juga: Realme 11.11 Salebration Hadirkan Produk Terbaru

    “Ibadah pemujaan terhadap omzet ini tidak hanya tak berkelanjutan dalam pertumbuhan digital tapi juga memicu kekacauan,” tulis Securities Daily seperti dikutip Reuters pada Jumat (12/11/2021).

    Bahkan, festival harbolnas dinilai turut memicu praktik dagang tidak sehat, seperti pengiriman pesan spam terhadap para pengguna hingga mendorong pedagang memalsukan diskon, supaya produknya laku terjual di berbagai e-commerce.

    Melihat hal itu, Securities Daily berharap, festival harbolnas selanjutnya dapat digunakan berbagai platform e-commerce dan bisnis untuk menampilkan pencapaian inovatif.

    China melalui surat kabar itu menilai, fokus dan tujuan festival belanja online ini harusnya lebih ke arah persaingan dalam bidang sains dan teknologi. []

  • Alibaba Ikut Mendanai Ninja Van

    peloporberita.com/ | Jakarta – Perusahaan asal Tiongkok, Alibaba group holding turut serta dalam putaran pendanaan seri E untuk startup logistic asal Singapura, Ninja Van.

    “Dana tersebut akan dialokasikan untuk infrastruktur dan sistem teknologi.”

    Nilai pendanaan tersebut mencapai 578 juta dolar amerika, yang sekaligus menjadi indikator meluasnya ekspansi Alibaba Group dipasar asia tenggara.

    “Dana tersebut akan dialokasikan untuk infrastruktur dan sistem teknologi yang akan mendukung struktur biaya jangka panjang yang berkelanjutan,” tulis Ninja Van dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters selasa, 28 September 2021.

    Langkah ini dilakukan ditengah menguatnya tekanan dari regulator Tiongkok terhadap raksasa-raksasa teknologi dinegaranya sendiri.

    Akibat menguatnya tekanan, Alibaba Group justru semakin agresif memperkuat bisnisnya di luar Tiongkok, khususnya dipasar Asia Tenggara melalui berbagai manuver.

    Di sisi lain, Ninja Van memastikan, putaran pendanaan terbarunya, membuat valuasi perusahaan naik menjadi lebih dari satu miliar dolar amerika. []

  • Profil Xu Jiayin, Pendiri Evergrande yang Berada di Ambang Kebangkrutan

    peloporberita.com/ | Salah satu orang terkaya di China, Xu Jiayin, kini berada di ambang kebangkrutan. Ia adalah direktur sekaligus pendiri Evergrande, perusahaan properti asal China yang memiliki utang sedikitnya USD 300 miliar, atau sekitar Rp 4.260 triliun. Dalam sejarah manusia, belum ada perusahaan di dunia yang memiliki utang sebesar itu.

    Berdasarkan laporan tahunan perusahaan yang dirilis pada 2019, Evergrande tercatat sudah mengembangkan 876 proyek di lahan seluas 293 juta meter persegi, yang tersebar di seluruh provinsi di China. Namun, langkah Evergrande yang gencar berekspansi malah berakibat membengkaknya utang perusahaan.

    Banyak pihak khawatir jika Evergrande gagal membayar bunga dan utangnya USD 300 miliar, maka ambruknya pengembang properti ini dapat memicu kekacauan keuangan global. Salah satunya adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang turut mewaspadai kasus gagal bayar Evergrande. Mengingat, China adalah salah satu mitra dagang dan tujuan ekspor Indonesia, bersama Amerika Serikat dan Jepang. Ia mengungkapkan hal itu dalam konferensi pers APBN Kita, pada Kamis (23/09/2021).

    Baca juga: Profil Xi Jinping yang Sering Mencekal Perusahaan Teknologi China

    Profil Xu Jiayin

    Lantas seperti apa sosok pendiri Evergrande?

    Xu Jiayin adalah salah satu orang yang terkaya di China. Bahkan, pada 2017, dia pernah menggeser Jack Ma dari posisi orang terkaya di China, dengan nilai kekayaan pada saat itu sebesar USD 43 miliar.

    Xu Jiayin yang juga dikenal dengan nama Hui Ka Yan, lahir pada tahun 1958 di Provinsi Henan, China. Dikutip dari media pemerintah setempat, ayah Xu Jiayin adalah anggota Tentara Revolusioner dan ikut bertempur melawan Jepang, sedangkan ibunya meninggal saat ia masih kecil.

    Sebelum menjadi konglomerat, Xu Jiayin pernah menjadi pekerja kasar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian pada awal 1970-an, ia berhasil diterima di Institut Besi dan Baja Wuhan, lembaga pendidikan yang sekarang bernama Universitas Sains dan Teknologi Wuhan. Sambil menempuh pendidikan, Xu Jiayin tetap menjadi pekerja kasar.

    Baca juga: Profil Pengusaha Bambang Trihatmodjo yang Tetap Romantis dengan Mayangsari

    Setelah lulus, ia bekerja di pabrik besi dan baja selama beberapa tahun, sebelum mendirikan Evergrande pada 1996. Seiring dengan bertumbuhnya perekonomian China, Evergrande juga berkembang pesat. Pada 2018, Brand Finance bahkan menempatkan Evergrande sebagai perusahaan real estate dengan nilai terbesar di dunia.

    Di luar sektor properti, Evergrande menjadi pembicaraan, ketika membeli klub sepak bola di Guangzhou senilai USD 15 juta pada 2010, dan empat tahun kemudian ia menjual sahamnya di klub tersebut ke perusahaan e-commerce, Alibaba, seharga USD 192 juta. []

  • Profil Xi Jinping yang Sering Mencekal Perusahaan Teknologi China

    peloporberita.com/ | Melesatnya ekonomi China tentunya didukung oleh kesuksesan para raksasa teknologi China, seperti Ant Group, Alibaba, Tencent dan lain-lain. Namun belakangan, Pemerintah China di bawah kepemimpinan Xi Jinping seolah-olah mencekal perusahaan-perusahaan itu. 

    Seperti halnya Jack Ma. Selain tidak pernah muncul lagi, perusahaannya Ant Group dan Alibaba, juga seperti dibatasi ruang geraknya. Belum lama ini, aplikasi raksasa taksi online Didi Chuxing juga dihapus dari toko online. Tidak hanya itu, saham Tencent terpangkas cukup signifikan, setelah media pemerintah China, Xinhua, menyebut game online sebagai narkoba elektronik.

    Sejumlah alasannya adalah penyalahgunaan data, terlalu memonopoli dan makin besarnya kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Namun ada juga yang berpendapat, razia itu karena para pentolan teknologi terlalu populer, hingga mengalahkan Presiden Xi Jinping.

    Baca juga: Raih Medali Emas Pertama Olimpiade Tokyo, Penembak Asal China Kalungkan Sendiri Mendalinya

    Baca juga: China Dilanda Banjir Bandang, Provinsi Henan Paling Terdampak

    Profil Xi Jinping

    Xi Jinping lahir di Beijing, China, pada 15 Juni 1953. Ayahnya adalah salah satu pendiri gerakan gerilya komunis di Shaanxi dan mantan Wakil Perdana Menteri. Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Watak China di Era Baru, dimasukkan dalam konstitusi Partai Komunis pada kongres partai di Beijing, 24 Oktober 2017, oleh peserta dengan suara bulat sehingga membuatnya menjadi pemimpin China terkuat setelah Mao Zedong.

    Xi Jinping pertama kali memutuskan terjun ke politik saat ia masih 18 tahun, dengan bergabung menjadi anggota Liga Pemuda Komunis. Ia mendapat banyak penolakan karena ayahnya pernah dipenjara, namun Xi akhirnya resmi menjadi anggota penuh Partai Komunis saat berumur 21 tahun. Karier politik Xi Jinping pun makin melejit berkat bantuan koneksi ayahnya. 

    Ketika didaulat sebagai ketua Partai Komunis sekaligus pemimpin China, Xi Jinping fokus pada konsolidasi kekuasaan. Maka tak heran jika ada orang yang dianggap mengancam atau merusak persatuan partai akan disingkirkan. Xi Jinping juga mendeklarasikan pemerintahannya untuk perang melawan korupsi. []