Kategori: Otomotif

  • Mercedes-Benz Bakal Kehilangan US$ 2,2 Miliar Bila Asetnya Dinasionalisasi Rusia

    peloporberita.com/ – Produsen otomotif asal Jerman Mercedes-Benz, bakal kehilangan aset senilai US$2,2 miliar (Rp31,5 triliun) di Rusia jika negara tersebut memberlakukan nasionalisasi perusahaan asing terkait invasinya terhadap Ukraina.

    Di Rusia, Mercedes-Benz memiliki seribu karyawan yang bekerja memproduksi sedan E-Class dan SUV di pabriknya di kota Esipovo, 40 kilometer arah barat laut dari Moscow. Pembukaan pabrik itu pada April 2019, secara seremonial dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin. Ini merupakan pabrik asing pertama yang dibuka di Rusia setalah bertahun-tahun.

    Kala itu Putin mengatakan, mengatakan pabrik tersebut akan memproduksi 25 ribu unit mobil per tahun. Sedangkan investasi yang digelontorkan Mercedes-Benz saat itu dikatakan di bawah US$300 juta (Rp4,2 triliun).

    Sebelumnya, seorang anggota senior partai berkuasa Rusia mengusulkan untuk menasionalisasi pabrik-pabrik milik asing yang menutup operasi di negara tersebut.

    “Rusia Bersatu mengusulkan menasionalisasi pabrik produksi perusahaan yang mengumumkan keluarnya mereka dan penutupan produksi di Rusia selama operasi khusus di Ukraina,” kata sekretaris dewan umum partai yang berkuasa Andrei Turchak dikutip dari situs web Rusia Bersatu, Senin, (14/03/2022)

    “Ini adalah tindakan ekstrem, tetapi kami tidak akan mentolerir ditusuk dari belakang, dan kami akan melindungi orang-orang kami. Ini adalah perang nyata, bukan melawan Rusia secara keseluruhan, tetapi melawan warga negara kita. Kami akan mengambil tindakan pembalasan yang keras, bertindak sesuai dengan hukum perang,” sambung Turchak. []

  • Kantor Pusatnya Digerebek Kementerian Transportasi Jepang, Saham Hino Motors Anjlok 17%

    peloporberita.com/ – Kementerian transportasi Jepang pada Senin (07/03/2022) menggerebek kantor pusat produsen truk Hino di Tokyo terkait dugaan kecurangan data emisi. Akibatnya, saham Hino anjlok 17 persen hingga batas maksimal harian di bawah aturan bursa Tokyo.

    Saham mereka, juga turun tajam pada Jumat (04/03/2022) lalu ketika laporan penyimpangan pertama kali muncul. Saat itu, Hino Motors Jepang, anak perusahaan dari Toyota Motor Corp mengakui telah menyerahkan data emisi dan penghematan bahan bakar yang palsu kepada otoritas transportasi.

    Berdasarkan laporan Kyodo, penggunaan data palsu ini telah berlangsung setidaknya sejak 2016, dengan penjualan Hino mencapai setidaknya 115.526 kendaraan dengan mesin yang disertifikasi oleh pemerintah berdasarkan data yang palsu.

    Hino menyatakan, telah menemukan ‘kesalahan’ terkait pemalsuan data performa mesin untuk sertifikasi emisi knalpot dan juga masalah performa mesin. Hino mengaku, telah melakukan penyelidikan internal terhadap inspeksi pra-pengiriman kendaraan untuk pasar domestik setelah menemukan malpraktik dalam sertifikasi mesin yang diproduksi untuk Amerika Utara.

    Beberapa mesin yang sedang diselidiki telah digunakan dalam bus yang diproduksi oleh perusahaan induknya serta Isuzu Motors Ltd., anak perusahaan Toyota lainnya yang berspesialisasi dalam kendaraan komersial.

    Kejadian ini, menjadikan Hino sebagai merek terbaru dari serangkaian produsen Jepang yang terlibat kecurangan uji emisi. Sebelumnya, pemerintah Jepang mengatakan Mazda Motor Corp, Suzuki Motor Corp, dan Yamaha Motor Co menguji kendaraan secara tidak benar untuk penghematan bahan bakar dan emisi pada 2018. Subaru Corp dan Nissan Motor juga telah berada di bawah pengawasan untuk alasan yang sama pada tahun sebelumnya.

    Seorang juru bicara Hino mengonfirmasi pejabat kementerian telah mengunjungi kantor perusahaan tersebut, tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.

    Hino kini telah menangguhkan penjualan tiga model mesin serta kendaraan di Jepang. Disebutkan pula, bahwa sekitar 115.500 kendaraan di Jepang diyakini dilengkapi model mesin yang memiliki data emisi palsu atau masalah efisiensi bahan bakar. Angka tersebut, hampir dua kali lipat dari jumlah kendaraan Hino yang dijual di Jepang dalam 12 bulan tahun fiskal, berakhir Maret 2021.

    Awal mula kecurigaan atas keakuratan data emisi pembuat mobil dimulai pada 2015 ketika Volkswagen AG Jerman mengaku menginstal perangkat lunak rahasia di banyak mobil diesel di Amerika Serikat untuk menipu tes emisi gas buang. []

  • Ford Jual Bisnis Sepeda Listrik dan Skuternya ke TIER Mobility

    peloporberita.com/ – Ford, Produsen mobil asal Amerika Serikat, resmi menjual unit bisnis dari perusahaan Spin mereka ke perusahaan TIER Mobility. TIER menyebut perusahaannya sebagai penyedia mobilitas mikro terkemuka di Eropa dan mengatakan akuisisi tersebut menumbuhkan jejak global mereka serta akan hadir pada pasar Amerika Utara.

    CEO Tier Mobility, Lawrence Leuschner mengatakan, akuisisi TIER atas Spin dan masuknya mereka ke pasar Amerika Utara merupakan tonggak besar dalam misinya untuk mengubah mobilitas untuk kebaikan.

    “Kami sangat antusias untuk mendukung warga di kota-kota dan komunitas di seluruh Amerika Utara untuk beralih dari mobil ke solusi mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan yang sangat dibutuhkan untuk mendekarbonisasi kota-kota di seluruh dunia,” tutur Leuschner dikutip dari CarsCoops Jumat, (4/03/2022).

    Ford mengakuisisi Spin pada 2018 dan membantu memperluas area layanan perusahaan serta armada sepeda listrik dan skuter. Spin memiliki 50 ribu kendaraan dan sekarang akan ditambahkan ke armada TIER untuk menambah jumlah total kendaraan mereka hingga 300 ribu.

    TIER juga akan hadir di lebih dari 520 kota di 21 negara, yang menjadikan mereka sebagai operator mikromobilitas multimoda terbesar secara global dalam hal jumlah kota dan kendaraan. []

  • Toyota Recall 18 Ribu GR Yaris, ini Penyebabnya

    peloporberita.com/ – Produsen kendaraan asal Jepang, Toyota melakukan kampanye perbaikan atau recall terhadap 18.490 unit kendaraan yang salah satunya adalah model Toyota GR Yaris. Car Expert melaporkan, recall ini dilakukan oleh Toyota Australia untuk kendaraan yang diproduksi antara Mei 2020 hingga Agustus 2021.

    Penyebabnya, kendaraan-kendaraan tersebut terdeteksi mengalami masalah sensor gelombang milimeter (sensor radar) dan kamera di mobil. Radar dan kamera itu sendiri berfungsi untuk mendeteksi kendaraan atau objek yang ada di depan. Akibatnya, fitur Pre-Collision System (PCS) tidak bisa berfungsi dengan baik dan harus segera diperbaiki.

    “Sensor radar yang digunakan oleh teknologi pre-collision system (PCS) mungkin tidak dapat dibaca dengan benar pada kendaraan. Akibatnya, PCS mungkin tidak beroperasi dan indikator peringatan kepada pengemudi tidak bekerja,” sebut Toyota dalam sebuah pernyataan.

    Bila tak segera ditangani, masalah ini juga bisa merembet ke fitur lainnya yang berhubungan, seperti Dynamic Radar Cruise Control (DRCC). Terkait masalah yang cukup serius ini, Toyota meminta para konsumen untuk membawa mobilnya ke bengkel resmi untuk segera diperbaiki dan konsumen tidak perlu mengeluarkan biaya untuk melakukan perbaikan.

    Di sisi lain, ada Audi-Volkswagen Korea, Honda Korea, Renault Samsung Motors dan Yamaha Sports Korea yang akan menarik hampir 50 ribu kendaraan untuk memperbaiki komponen yang rusak. Ini adalah recall terbaru dari serangkaian penarikan oleh produsen mobil yang beroperasi di Korea Selatan akibat masalah dengan komponen kendaraan.

    Empat perusahaan itu, menarik kendaraan dengan 21 model berbeda. Hal tersebut termasuk masalah pada perangkat lunak pada sistem roda kemudi di SUV XM3 Renault Samsung, masalah perangkat lunak pada sistem kontrol airbag di Audi A4 40 TFSI Premium, dan sistem pendingin oli yang salah di sepeda motor Honda CBR seribu RR-R. []

  • Rantai Pasok Terganggu Perang, Pabrik Toyota di Rusia Setop Produksi

    peloporberita.com/ – Toyota Motor menghentikan operasi pabriknya di Saint Petersburg Rusia mulai tanggal 4 Maret besok, dan menghentikan impor kendaraan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Hal ini lantaran perang Rusia-Ukraina telah menyebabkan mereka kesulitan mendapatkan suku cadang di tengah sanksi terhadap negara tersebut.

    Tercatat, pabrik di Saint Petersburg memproduksi sekitar 80 ribu mobil Toyota, guna memasok pasar Rusia dan wilayah sekitarnya. Angka itu, hanya sebagian kecil dari 10,5 juta kendaraan yang dibuat di seluruh dunia oleh grup Jepang tersebut.

    Juru bicara Toyota mengatakan, pabrik di Saint Petersburg mempekerjakan sekitar 2 ribu 600 orang terpaksa dihentikan, lantaran pasokan suku cadang untuk produksi, sementara ini terkendala situasi keamanan.

    Untuk itu, Toyota akan memastikan keselamatan tim, staf penjualan, hingga mitra rantai pasokannya.

    “Sebagai perusahaan yang beroperasi di Ukraina dan Rusia, prioritas kami dalam menangani krisis ini adalah memastikan keselamatan semua anggota tim, staf retail, dan mitra rantai pasokan kami.”Kami juga memantau perkembangan global dan akan membuat keputusan yang diperlukan sesuai kebutuhan,” tulis Toyota dalam sebuah pernyataan. []

  • Ford Motor Pisahkan Bisnis Mobil Listrik dan Konvensional

    peloporberita.com/ – Produsen Mobil asal Amerika Serikat, Ford Motor, mengubah strategi bisnisnya dengan memisahkan unit bisnis kendaraan listrik dan mobil biasa yang konvensional. Untuk unit Produksi kendaraan listrik dinamakan Ford Model e-division. Sedangkan yang menangani mobil konvensional dinamakan Ford Blue division.

    Langkah Ford ini, merupakan bagian dari upayanya mempercepat pengembangan kendaraan listrik terhubung. Kedua unit bisnis tersebut, masing-masing akan mempunyai pemimpin eksekutif yang berbeda dan melaporkan hasil keuangan mereka sendiri.

    Meski demikian, keduanya akan tetap saling mendukung Ford Pro yang didedikasikan untuk menghadirkan toko serba ada untuk pelanggan komersial dan pemerintah. Kedua perusahaan itu, juga akan tetap berkantor pusat di negara bagian yang terletak di barat tengah Amerika, yakni Michigan.

    Para eksekutif mengatakan, Ford Model e-division akan meraih manfaat dari akses ke penguasaan teknologi permobilan, sementara bisnis mobil konvensionalnya akan menuai hasil dari inovasi teknologi yang lebih baru. Sementara sebuah sumber di Wall Street memperkirakan, Ford akan memilih untuk tidak menawarkan salah satu bisnisnya itu melalui penawaran umum perdana.[]

     

  • Volkswagen Siapkan IPO Porsche, Dananya untuk Transformasi Bisnis

    peloporberita.com/ – Grup otomotif asal Jerman, Volkswagen mengumumkan akan melakukan uji kelayakan soal potensi IPO salah satu anak usahanya, Porsche. Langkah ini, demi mempercepat transformasi bisnis grup tersebut untuk menjadi pemain utama mobil tanpa emisi dan mobil swakemudi.

    “Porsche AG akan mendapatkan lebih banyak kebebasan berwirausaha dan pada saat yang sama terus mendapat manfaat dari sinergi kelompok,” tutur CEO Volkswagen AG Herbert Diess yang dikutip Senin, (28/02/2022).

    Dalam rangka IPO, modal saham Porsche direncanakan akan dibagi menjadi 50 persen saham preferen dan 50 persen saham biasa. Sebanyak 25 persen saham preferen akan ditempatkan di pasar sebagai bagian dari kemungkinan penawaran umum perdana.

    Porsche Automobil Holding akan mengakuisisi 25 persen ditambah satu saham biasa di Porsche dari Volkswagen dengan harga penempatan saham preferen ditambah premi 7 setengah persen. Hal ini tidak dimaksudkan untuk mencatatkan saham biasa di pasar saham.

    Porsche
    Logo Porsche. (Foto:Pelopor.id/Ist)

    Volkswagen, akan dapat menggunakan hasil dari IPO potensial Porsche untuk mempercepat transformasi industri dan teknologi Grup Volkswagen. Termasuk berinvestasi dalam mengubah kapasitas produksi globalnya menjadi kendaraan listrik.

    Jika IPO ini berhasil, Volkswagen akan mengusulkan kepada pemegang saham untuk membagikan dividen khusus sebesar 49 persen dari total pendapatan kotor dari penempatan saham preferen dan penjualan saham biasa. []

  • 1,7 Juta Mobil Honda Diinvestigasi Akibat Masalah Rem

    peloporberita.com/ – Badan Keselamatan Jalan Raya Amerika Serikat, NHTSA menginvestigasi sekitar 1 koma 7 juta kendaraan Honda yang memiliki masalah pada pengaktifan sistem pengereman darurat otomatis di kendaraan Honda Accord 2018-2019 dan SUV Honda CR-V 2017-2019.

    NHTSA menerima total 278 pengaduan. Dalam enam kasus yang dilaporkan, terdapat sebuah insiden tabrakan yang melibatkan cedera ringan seperti dilansir dari CarsCoops, Jumat (25/2/2022).

    Banyak laporan datang dari para pengguna yang menyatakan bahwa sistem pengeraman ini, dapat bekerja kapan saja meski dalam kecepatan tinggi meski tidak ada penghalang apa-apa di depan.

    Parahnya, itu terjadi tanpa adanya peringatan terlebih dahulu, sehingga bisa berbahaya bagi pengemudi maupun penumpang.

    Seorang konsumen Honda yang enggan namanya disebutkan mengatakan, dalam 6 bulan terakhir terjadi dua kali (pengereman otomatis mendadak), ketika mengemudi di jalan pedesaan.

    “Tanda rem di dasbor menyala tiba-tiba dan kecepatan berkurang, setelah pedal rem ya diinjak mobil kembali ke kecepatan normal. Padahal saat kejadian kondisi jalan bersih tanpa pengalang,” sebutnya. []

  • Lamborghini Recall 4.796 Huracan Gegara Lampu Depan

    peloporberita.com/ – Lamborghini dikabarkan akan menarik kembali dari peredaran atau recall terhadap 4.796 Huracan akibat pemasangan sekrup lampu depan yang tidak benar. Pabrikan supercar asal Italia itu mengatakan, kejadian ini murni berasal dari kesalahan yang disebabkan oleh manusia. Kesalahan itu terungkap selama audit internal rutin pada tahun 2020.

    Pada tanggal 26 Februari 2020, mereka resmi menetapkan Lamborghini Huracan memiliki masalah pada bagian penutup sekrup penyetelan horisontal lampu depan yang tidak sesuai Standar Keamanan Federal. Kemudian pada 4 Maret 2020, mereka memberi tahu Badan Keselamatan Jalan Raya Amerika Serikat atau National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) tentang masalah ini.

    Setelah hampir dua tahun barulah NHTSA memutuskan penarikan tersebut. Adapun ketika Lamborghini memberitahukan masalah itu, bersamaan dengan perusahaan tersebut mengajukan petisi “Inconsequential Noncompliance” ke lembaga resmi Amerika Serikat itu dengan alasannya, kesalahan yang ada di pemasangan lampu depan tidak membahayakan.

    Sebab, lampu depan tetap berfungsi normal. Bahkan Lamborghini mengatakan, ketiadaan penutup justru akan memudahkan pemilik mobil mengatur posisi lampu sesuai keinginan. Jadi, ketika tidak sesuai mereka tinggal mengaturnya kembali sendiri.

    Nah, dua tahun berselang, NHTSA punya pendapat lain. Mereka mengatakan Lamborghini Huracan tidak dilengkapi dengan kelengkapan Vehicle Headlamp Aiming Device (VHAD) atau pengatur posisi lampu manual. Sehingga klaim bahwa pemilik mobil dapat mengatur sendiri posisi lampu tidak akan dapat dilakukan. Sementara pada Lamborghini Huracan memang tidak ada fitur VHAD.

    NHTSA pun memastikan, tidak adanya penutup sekrup justru membuat lampu depan mobil menerangi objek di depan mobil dengan tidak stabil. Ini, menyilaukan pengendara atau pengguna jalan lain dan membuat berkurangnya jarak pandang di salah satu sisi jalan serta berkurangnya jarak pandang di jalan bahkan meningkatkan risiko kecelakaan.

    Oleh sebab itu, NHTSA memerintahkan Lamborghini segera melakukan perbaikan dan memasang penutup sekrup lampu depan Huracan. Carscoops melaporkan, bahwa pemilik mobil yang terlibat recall tidak akan dikenakan biaya. []

  • Hyundai dan KIA Motors Bangun Laboratorium Keselamatan, Fungsinya?

    peloporberita.com/ – Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai dan KIA Motors membangun laboratorium keselamatan bernama ‘Safety Test and Investigation Laboratory’ di Michigan, Amerika Serikat. Fasilitas konsekuensi dari tingginya jumlah mobil Hyundai dan KIA yang kena recall itu, bernilai US$50 juta, atau setara Rp714,7 miliar.

    Safety Test and Investigation Laboratory, akan bekerja secara penuh Tahun 2023 mendatang yang dilengkapi dengan berbagai sistem pengujian. Mulai dari trek pengujian khusus, laboratorium baterai voltase tinggi hingga ruangan investigasi kecelakaan.

    “Fasilitas itu selaras dengan komitmen Hyundai pada keselamatan berkendaraan, upaya pencegahan tabrakan yang melibatkan mobil, serta keselamatan dari pengguna,” ungkap Hyundai lewat keterangan tertulis.

    Badan Keselamatan Jalan Raya Amerika Serikat atau National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) AS, pada 2020 memerintahkan Hyundai dan KIA untuk membangun fasilitas khusus untuk pengujian mobil senilai US$25 juta atau sekitar Rp357,3 miliar. Perintah ini, lantaran angka penarikan kembali mobil-mobil mereka di Amerika Serikat sangat tinggi mencapai 1,6 juta unit.

    Penarikan itu terjadi pada mobil-mobil produksi 2010 hingga 2015. Kedua perusahaan mematuhi perintah itu dan langsung membangun fasilitas yang nilainya dua kali lipat dari keinginan NHTSA. []