Kategori: Opini

  • Ketika Penegak Hukum Mencari Perlindungan Hukum

    Oleh: Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gerry Hukubun

    Jakarta | Pada mulanya banyak yang tertawa ada lima orang jaksa penegak hukum sedang mencari perlindungan hukum, mereka dicibir seolah menolak pensiun, namun saya mengamati apa yg mereka tempuh adalah sudah tepat untuk menguji suatu ketentuan yang dirasakan diskriminatif melalui Judicial Review di Mahkamah Konstitusi.

    Dari pengamatan saya, kelima jaksa tersebut mungkin bisa mewakili suara hati mayoritas para jaksa fungsional diberbagai tempat tugasnya yang lebih banyak diam, seolah menanti apa keputusan nanti.

    Mereka memohon keadilan atas hadirnya Undang-Undang (UU) Kejaksaan Nomor 11 Tahun 2021 yang diundangkan tanggal 31 Desember 2021 bagai petir disiang bolong langsung menyambar mereka yang sedang berkarya diujung masa pengabdian jelang 60 tahun, tiba-tiba langsung diberhentikan dua tahun lebih cepat dari yang seharusnya. Sementara UU baru memberikan toleransi kepada jaksa lain yang lebih tua dari mereka, masih bisa bekerja dan mendapatkan gaji dan tunjangan lain sesuai dengan UU yang lama.

    Bukan saja kerugian ekonomis bagi mereka, namun kerugian konstitusional yang nyata sedang mereka perjuangkan. Betapa tidak, dalam UU yang lama terdapat penghargaan dari pemerintah dan pembuat UU Kejaksaan tahun 2004 memberikan batas usia pensiun jaksa 62 tahun, sedangkan PNS lain masih 58 dan 60 tahun.

    Kondisi yang sebaliknya, ketika UU baru Nomor 11 tahun 2021 menegaskan jaksa adalah jabatan fungsional, batas usia pensiun mereka malah diturunkan menjadi 60 tahun, sementara usia pensiun jabatan fungsional lain seperti widyaiswara, peneliti, auditor malah 65 tahun, bahkan panitera pada Mahkamah Agung (MA) malah 67 tahun.

    Maka tidaklah berlebihan jika mereka mohon kesetaraan dengan pengadilan, mengingat kejaksaan pengadilan diatur dalam rumpun yang sama dalam konstitusi yaitu tentang kekuasaan kehakiman disaat hakim biasa dapat bekerja sampai dengan usia 65 tahun di pengadilan negeri, hakim tinggi sampai 67 tahun dan hakim agung sampai 70 tahun di MA, sementara jaksa malah diturunkan menjadi 60 tahun tampaknya tidak adil bagi mereka, tidak ada perlindungan kesetaraan yang nyata bagi jaksa.

    Saya selaku politisi mengharapkan agar hakim konstitusi berpihak kepada pihak-pihak yang mencari keadilan. Tentunya, negara harus memberikan rasa aman dan perlindungan bagi para penegak hukum agar mereka juga bertindak dengan rasa keadilan atas dukungan masyarakat di pundak mereka.[]

  • Hari Raya Nyepi 2022, Tahun Baru Saka 1944, Momentum Introspeksi Diri yang Indah

    peloporberita.com/ – Hari Nyepi adalah hari suci bagi umat Hindu untuk melaksanakan Catur Brata Nyepi pada perayaan Tahun Baru Saka yang berdasarkan perhitungan kalender Hindu, Kamis 3 Maret 2022. Rahina Nyepi Çaka 1944 yang bermakna melakukan introspeksi diri yang dilakukan selama satu hari total 24 jam.

    Sehingga dengan cara menyepi itu memiliki kesematan untuk mematut-matut diri atau introspeksi hingga kemudian mampu melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas hidup lebih baik dan memberi banyak manfaat bagi banyak orang.

    Karena itu, hal-hal yang dilarang saat pelaksanaan Nyepi itu diantaranya adalah amati geni, tidak menyalakan api, amati karya, tidak bekerja, amati lelungan tidak bepergian, dan amati lelanguan tidak melakukan kegiatan hiburan.

    Hari Raya Nyepi sebagai momentum introspeksi diri sungguh sangat diperlukan untuk memperbaiki dan menakar kembali kedalaman dari laku spiritual untuk terus mendekatkan diri kepada Tuhan, ungkap Eko Sriyanto Gangendu ketika diminta pendapat selaku tokoh spiritual Indonesia tentang hakekat atau makna dari Hari Raya Nyepi yang tengah dirayakan oleh umat Hindu di Indonesia.

    Sebagai momentum mematut-matut diri atau introspeksi diri, maka perayaan hari Nyepi menjadi semacam upaya memutar ulang apa-apa saja yang pernah dilakukan sebelumnya dengan cara melakukan koreksi atau berpikir serius dan cermat untuk direnungkan. Mulai dari karakter diri, perilaku, emosi, serta motifipasi yang ada pada diri sendiri, perlu dibenahi atau disempurnakan.

    Sehingga dengan begitu, dapat melihat jejak langkah secara jernih dan terang jauh ke belakang – untuk kemudian melangkah lebuh jauh ke masa depan — yang berkaitan dengan perilaku dan perbuatan kita. Sehingga kesalahan yang sekiranya perlu diperbaiki atau ditingkatkan kualitasnya, bukan cuma sebatas untuk diri pribadi, tetapi juga perbuatan atau apa saja yang kita lakukan itu untuk orang banyak.

    Jadi essensi dari perayaan Nyepi, tandas Eko Sriyanto Galgendu adalah memaknai pencarian atau pemantapan jati diri yang lebih berifat spiritual, karena memang tidak keluar dari perenungan terhadap keberdaan dari jati diri dengan laku mengendalikan api-api yang ada dalam diri, seperti api kemarahan, api dengki, dan api ketamakan dan kerakusan, apalagi gterhadap hak-hak milik orang lain.

    Menurut Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) seperti yang dipublikasikan oleh Kompas.com, 25 Maret 2020, hari suci atau hari raya Nyepi merupakan hari yang diperingati secara istimewa berdasarkan keyakinan umat Hindu setiap tahun, yaitu sehari setelah Tileming Sasih Kesanga.

    Lalu berdasarkan sejarah tahun Saka itu lahir dari India. Ketika itu, di India masih banyak memiliki suku bangsa seperti suku bangsa Saka (Scythia), suku bangsa Pahlawa (Parthia), suku bangsa Yueh-chi, suku bangsa Yawana, dan suku bangsa Malawa. Syahdan, saat itu sesame suku bangsa di India, masih ada ada semacam hasrat untuk saling menundukan yang satu oleh yang lain, hingga tidak mengherankan jadi silih berganti bagi yang satu dapat menguasai suku bangsa yang lain.

    Lalu sejarah pun mencatat, Suku Saka mengalami masa kejayaan dan kedigdayaannya, sehingga mampu mengalahkan dan menundukkan suku bangsa yang lain. Meski begitu, Suku Saka pun sempat terdesak oleh suku bangsa India lainnya. Dengan begitu maka lahirlah strategi baru untuk perjuangan politik dan militer guna dijadikan strategi perjuangan dalam bentuk kebudayaan.

    Kemudian pada tahun 78 Masehi, ada seorang dari Dinasti Kusana bernama Raja Kaniska naik tahta. Raja Kaniska merupakan raja yang bijaksana. Maka pada hari Minma, tepatnya pada 21 Maret 79 Masehi, saat Purnama Waisak kebetulan berlangsung gerhana bulan.

    Inilah yang kemudian menjadi semacam patokan untuk metetapkan sebagai panchanga atau kalender sistem Saka. Tonggak sejaran ini menjadi miliki Suku Saka, karena mampu mengatasi permusuhan yang terjadi di antara para suku bangsa di India ketika itu.

    Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan –persatuan dan kesatuan—hingga menjadi semacam tonggak sejarah untuk hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional mereka.

    Karenanya, beragam sapaan dan ucapan yang simpatik dan menggugah hati, banyak dilantunkan. Seperti misalnya “Selamat Hari Raya Nyepi. Semoga tahun ini dan tahun-tahun berikutnya Anda selalu mendapatkan Anda dan semua keluarga melimpah dan hari-hari Anda pun penuh makna. Dan juga, semoga amal baik selalu menyertaimu dan keluarga”.

    Atau, selamat merayakan hari raya Nyepi untukmu dan keluarga. Semoga perjalanan hidup kita semuam semakin lebih baik, dan tahun ini dapat memperoleh banyak pencapaian yang menyenangkan dan menggembirakan. Semoga kehidupanmu selalu diberi kedamaian dan sepanjang hidup selalu diberi ketenangan jiwa. Atau, bisa juga kita mengucapkan selamat menjalankan Catur Brata Penyepian,

    Tahun Baru Saka 1944, kata Eko Sriyanto Galgendu yang cukup banyak dan mumpuni memahami dan mendalami budaya maupun tradisi Hindu maupun Budha di Indonesia. Karena memang tokoh spiritual Indonesia ini juga menjabat Ketua Forum Lintas Agama di Indonesia sejak beberapa tahun silam. Dia pun menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Nyepi 2022, Tahun Baru Saka 1944 bagi umat Hindu yang melaksanakannya. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan. []

     

    Artikel opini ini ditulis oleh Jacob Ereste, Jurnalis senior sekaligus Dewan Pangarah di Atlantika Institute Nusantara.

  • Akbar Faizal: Di Dunia Politik, Kata Sering Kehilangan Makna

    peloporberita.com/ | Politikus Akbar Faizal mengatakan bahwa di dunia politik, kata-kata sering menjadi kehilangan makna.

    Menurutnya, banyak kata yang terlontar ke publik oleh seorang politikus, namun ternyata orang tersebut tidak disiplin dengan perkataannya, sangat mudah melupakan apa yang baru saja diungkapkan. Selain itu, dari sisi kualitas kata, sering juga terlontar kalimat-kalimat yang tidak layak di ruang publik.

    “Ketika saya masih di parlemen itu, saya jujur Ger ya, sering sekali menderita mendengarkan bahasa dari banyak…yang menyebut dirinya politisi, tetapi dengan kualitas bahasa yang menurut saya sangat tidak layak untuk ruang-ruang konstitusi,” ungkap Akbar Faizal dalam wawancara di YouTube Channel “Energi Kata Gerry Hukubun” yang dikutip Selasa, (22/02/2022).

    Menurut pria yang dijuluki macan parlemen ini, publik bukan hanya sekali dua kali mendengar kalimat-kalimat yang sebenarnya hanya cocok untuk kebun binatang, tetapi kemudian terlontar di ruang konstitusi.

    Politikus Akbar Faizal. (Foto: peloporberita.com/YouTube Channel “Energi Kata Gerry Hukubun”)

    “Pada titik seperti itu saya menderita, Ger. Karena masa politik saya tidak seperti itu,” katanya kepada Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gerry Hukubun.

    Akbar Faizal menilai, sistem rekrutmen partai di Indonesia bermasalah, sehingga orang yang direkrut sebagai politisi menjadi tidak terukur. Dampaknya adalah kata-kata menjadi kehilangan makna.

    Pendiri lembaga riset “Negara Institut” ini mengatakan, seharusnya kita bisa mengelola Indonesia dengan kehormatan yang harus dimulai dari kata dan diksi, harus dimulai dari bersatunya kata dan kalimat dengan tujuan yang kita bangun tentang Indonesia.[]

  • Tiga Shio ini Bakal Cuan Besar di Tahun Macan Air

    peloporberita.com/ – Tahun baru Imlek 2573 pada tahun Macan Air kali ini akan tiba tanggal 1 Februari 2022. Masyarakat Tionghoa setiap pergantian tahun baru Imlek akan membawa peruntungan baru yang dibaca melalui ramalan dengan berpegang pada astrologi China yang disebut ‘shio’. Nah, tiga shio diprediksi mendapatkan nasib baik dalam hal finansial di Tahun Macan Air 2022 mendatang seperti dikutip dari sonora sebagai berikut:

    1. Shio Naga

    https: img.okezone.com content 2020 02 06 612 2164330 shio-naga-jadi-kombinasi-pasangan-yang-paling-serasi-bagi-shio-kelinci-wtdDI5O9fm.jpg

    Tahun 2022 yang merupakan tahun Macan Air merupakan waktu terbaik bagi yang bershio Naga. Kali ini, banyak sekali peluang-peluang yang hadir untuk menyenangkan shio tersebut. Orang-orang yang bershio Naga patut bersyukur pada tahun ini, meski mereka memang selalu beruntung sejak lahir. Hal itu lantaran pada tahun 2022 ini, Naga akan mendapatkan kesempatan emas untuk mendulang kekayaan.

    2. Shio Anjing

    shio anjing selama 2021

    Shio Anjing diramalkan akan beruntung pada tahun Macan Air. Shio Anjing, akan dikelilingi dengan perubahan-perubahan yang justru membawanya pada level kemerdekaan. Orang-orang yang bershio Anjing cenderung mudah menyesuaikan diri dengan keadaan, meski butuh sedikit penyesuaian. Tetapi, shio Anjing harus tetap percaya diri dan mengontrol apa yang sedang dilakukan.

    3. Shio Kuda

    Shio Kuda, Tahun Lahir 1978, 1990, 2002 dan 2014

    Shio Kuda juga akan mendapatkan peluang emas kekayaan pada tahun Macan Air. Peluang ini, bukan semata-mata karena keberuntungan, tetapi buah dari kerja keras mereka selama ini. Kuda ada baiknya membagikan sedikit rezeki untuk orang-orang yang membutuhkan pada momen Imlek mendatang. Berbagi, tidak akan mengurangi rezeki Shio Kuda yang jauh lebih dari cukup. []

  • Jacob Ereste : Potensi Wisata Alam, Budaya, Spiritual dan Religi di Tanah Air

    peloporberita.com/ – Obyek wisata alam yang mulai mengarah pada budaya dan wisata spiritual, diharap terus berkembang seperti obyek wisata Desa Kali Adem, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Beberapa tempat wisata di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah semakin oke setelah selesainya pembangunan Bundaran Simpang Lima PB VI yang kini menjadi ikon Kecamatan Selo sebagai destinasi wisata yang dapat ikut memperkuat wisata budaya, wisata spiritual dan wisata religius untuk mendekatkan semua orang kepada Sang Pencipta jagat raya dan seisinya.

    Ekspresi yang tampil dari Agama Jawa dalam paparan Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum., diakui sebagai fenomena yang juga sulit dijangkau oleh akal sehat. Fenomena dari Agama Jawa yang dominan bersandar pada kepercayan serta ritus sungguh mengesankan pada Budhisme yang menjadi awal keyakinan manusia Jawa pada pra sejarah di nusantara.

    Baca juga :

    Selain itu, sinkritisme pun sudah terjadi jauh sebelum orang banyak mengenal tentang sinkritisme itu kemudian. Karenanya, Agama Jawa dapat dipastikan bukan Budhisme, karena Budhisme sendiri berbeda dengan Agama Jawa.

    Syahdan, konsepsi Budhisme sendiri meyakini dirinya sebagai tatanan moralitas tanpa Tuhan. Atau Ethiesme tanpa hakekat. Maka itu dalam Vhihara Buddha dominan memiliki pandangan Sang Buddha itu sebagai Tuhan dengan Candi yang menjadi tempat pemujaan.

    Menurut Profesor Suwardi Endraswara, keyakinan serupa ini merupakan ciri dari Buddha Utara. Dalam keyakinan Buddha Selatan tetap percaya bahwa Sang Buddha itu adalah manusia yang memiliki kelebihan agak berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.

    Baca juga :

    Jadi dalam Agama Jawa jelas meyakini adanya Tuhan yang acap disebut dalam istilah Tan Kena Kinaya Ngapa. Dan Agama Jawa bukan pula Islam maupun Hindu. Namun, cukup meyakinkan dalam pemahaman theosofi adalah konsepsi yang lahir dari Agama Jawa. Yaitu suatu keyakinan terhadap Tuhan yang berdasarkan cinta terhadap kebijaksanaan, yang sering pula disebut Ngudi Kasampurnaning Hurip Nggayuh Kamardhikan.

    Theosofi yang bersandar pada monistik dan pantaistik meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu ada dan menjadi cahaya dalam setiap diri manusia serta jagat raya dan seisinya. Namun masalahnya, kedalaman dari pemahaman itu menjadi sangat tergantung pada masing-masing orang yang mau mengeksplorasi potensi atau energi Ketuhanan yang ada dalam dirinya masing-masing.

    Agaknya, atas pemahaman seperti itu logika spiritual dalam perspektif Islam menjadi sangat relevan dengan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia dibanding dengan makhluk Tuhan lainnya. Demikian pula hakikat dari khalifatullah yang diturunkan ke bumi untuk menjadi bagian dari pelalu serta penjaga wujud dari rachmatan lil alamin.

    Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi. (Foto: Pelopor/Antara)

    Potensi wisata alam, wisata budaya, wisata spiritual dan wisata religius di Indonesia dapat dimaksimalkan dengan contoh seperti wahyu yang dinikmati oleh umat Islam di Arab Saudi. Dari ibadah haji dan umrah saja, telah menjadi sumber devisa yang dasyat nilainya. Belum lagi nilai non materi yang bisa ditangguk dari kunjungan bangsa-bangsa di dunia yang berduyun-duyun datang ke negeri Arab Saudi itu.

    Belajar dari kemajuan bangsa Arab yang bisa menikmati devisa dari berbagai negara itu, wajar saja bila Eko Sriyanto Galgendu selaku penggagas sekaligus pelaku dari gerakan kebangkitan kesadaran spiritual di Indonesia untuk bangsa-bangsa di dunia mengidokan posisi dari Candi Borobudur dapat menjadi pusat spiritual bangsa-bangsa di dunia, sekaligus obyek wisata religius bagi mereka yang ingin pula menjalani laku spiritual khususnya bagi Ummat Hindu dan Buddha dari berbagai manca negara.

    Borobudur
    Candi Borobudur. (Foto: peloporberita.com/Wonderin.id)

    Karena itu, tata kelola dari candi-candi yang ada di Indonesia serta situs sejarah yang berserakan di tanah air kita, mulai dari Candi Muara Takus dan Muara Tebo hingga situs yang berserakan di Lampung Timur, perlu dan patut dikelola hingga dapat menjadi sumber devisa bagi negara.

    Baca juga : 

    Kecuali impak bawaan dari bergulirnya ekonomi di daerah setempat, perluasan dari khasanah budaya dan pemahaman serta kesadaran dari pendalaman spiritualitas warga bangsa Indonesia pun diharap bisa meningkat.

    Jika dalam laku spiritual itu bisa konsisten patuh pada etika, moral dan akhlak yang terpimpin serta terjaga dengan baik, maka perbaikan pada tata masyarakat menuju bangsa yang kuat dan rangguh pasti akan berkontribusi pada tata negara yang baik dan benar untuk menjalankan amanah rakyat.

    Karena konsep dasar dari tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah agar kehidupan rakyat yang makmur dan adil, seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan batang tubuhnya yang merinci segenap kesejahtera rakyat dalam arti luas.

    Hingga dalam rumusannya Bung Karno adalah Trisakti. Atau mandiri dalam ekonomi, berdaulat secara politik dan berkepribadian dalam budaya. Atau yang lebih gagah lagi seperti Nawacita yang digagas Presiden Joko Widodo, meski belum sempat juga direalisasikan sampai sekarang. []

    Banten, 1-4 November 2021 oleh Jacob Ereste